Chapter 5: Ekspedisi Besar Luar Dinding

Pasukan Pengintai bergerak dengan cepat segera setelah keluar dari dinding Rose, tempat yang masih merupakan wilayah aman, wilayah manusia dan memasuki wilayah para Titan. Segera setelah meninggalkan dinding, mereka langsung dapat melihat satu Titan berukuran 10 meter yang muncul dari bagian depan kiri dari pasukan. Hinata yang baru pertama kali melihat Titan cukup terkejut melihat bahwa raksasa itu memiliki bentuk tubuh seperti manusia yang telanjang tanpa menggunakan pakaian. Titan itu juga terlihat tidak memiliki alat kelamin dan memiliki ukuran tubuh yang tidak seimbang. Melihat ke samping, Levi yang berada satu tim dengan Hinata menjelaskan.

"Itulah yang disebut Titan. Kebanyakan dari mereka memangsa manusia, padahal mereka tidak memiliki sistem pencernaan dan tidak akan mati tanpa makanan dan minuman. Sampai sekarang belum diketahui dengan jelas apa maksud mereka memangsa manusia." Jelasnya dengan nada datar sambil memperhatikan Titan itu yang semakin mendekat.

Hinata yang mendengar penjelasan Levi hanya mengangguk dan bergumam pelan.

"Hai, aku mengerti, kapten. Terima kasih atas penjelasannya." Katanya kepada Levi sambil melihat Titan itu tanpa memandang ke arah Levi.

Levi yang mendengarnya hanya diam, sedangkan Eren yang mendengar percakapan mereka cukup terkejut, terutama setelah mendengar Levi menjelaskan perihal Titan kepada Hinata, anggota timnya dan merupakan seorang anggota Pasukan Pengintai. Padahal, Hinata seharusnya sudah mengetahui perihal Titan dan tahu resiko apa yang akan dihadapinya sebelum bergabung dengan Pasukan Pengintai. Tetapi ia lebih memilih untuk tidak berkomentar dan terus melanjutkan perjalanannya.

Setelah melihat kemunculan satu Titan yang berukuran cukup besar itu, pasukan pendukung dari Pasukan Pengintai yang tidak ikut dalam ekspedisi itu menghadapi Titan itu dan membunuhnya dengan menebas bagian belakang leher Titan tersebut. Hinata yang melihat Titan itu sudah tidak bergerak hanya mengangguk dan terus mengikuti pergerakan pasukan.

Setelah Titan tadi dibunuh dan pasukan yang mengikuti ekspedisi melewati kota tua yang sudah ditinggalkan setelah keluar dari dinding tadi, Erwin segera memerintahkan pasukannya untuk menempati bagian dari strategi yang sudah disusunnya.

"Pergi menuju formasi pemanduan panjang." Perintahnya. Para pasukan pun mulai berpencar dan menempati posisinya masing-masing. Baris depan akan menyebar, tetapi tetap dengan jarak yang dapat terlihat. Mikasa berada di barisan 3-3, yang merupakan penyampai informasi. Baris 5-tengah yang merupakan posisi tim Levi merupakan tim siaga, mereka berada di bagian tengah barisan, dan terletak agak belakang, sehingga posisi mereka merupakan posisi yang aman bila terjadi serangan. Baris 2-5 yang berada di dekat pinggir formasi juga merupakan penyampai informasi.

Setelah pasukan menyebar dan membentuk formasi yang sudah direncanakan sebelumnya, pasukan yang merupakan bagian terluar dari formasi akan memberikan sinyal dengan menembakkan asap merah jika mereka bertemu Titan, kemudian pasukan yang melihatnya akan menembakkan pistol dengan asap berwarna merah juga, lalu, setelah Erwin melihat sinyal tersebut, ia akan menembakkan sinyal asap berwarna hijau untuk mengubah rute yang diambil, dan menjauhi tempat Titan itu terlihat, sehingga dapat mengurangi kemungkinan bertempur dengan para Titan.

Armin yang berlari sendiri dengan seekor kuda cadangan merasa ada sesuatu yang janggal. Setelah asap merah ditembakkan, belum ada satu Titan pun yang terlihat. Setelah melihat sinyal asap merah yang sudah ditembakkan agak memudar, ia melihat ada sebuah sinyal berupa tembakkan asap berwarna hitam, tang merupakan tanda terlihatnya Titan abnormal. Titan abnormal sendiri adalah Titan yang lebih sering mengabaikan manusia, dari pada memakan manusia seperti para Titan pada umumnya.

Setelah melihat asap hitam itu, Armin segera menembakkan sinyal dengan warna asap yang sama, hitam. Setelah beberapa saat, Titan abnormal itu muncul keluar dari dalam hutan dan berlari melewati prajurit yang berada di dekatnya. Dua orang prajurit yang dilewati Titan itu mengejar dan kemudian membunuh Titan tersebut.

"Sys, kau capai lehernya, aku akan menghentikannya." Kata salah satu prajurit itu kepada temannya, yang bernama Ness. ia adalah kapten dalam regu tersebut.

"Oke." Balas temannya kepadanya.

Ness yang tadi memberi perintah meningkatkan kecepatan kudanya dan mendekati Titan tersebut. Setelah cukup dekat, ia memegang pedang baja dikedua lengannya dan berdiri di atas kudanya. Ia kemudian menembakkan 3D manuvernya ke arah kaki Titan tersebut dan menebas kakinya sehingga Titan itu terjatuh.

"Sekarang, Sys." Katanya setelah agak menjauh dari Titan yang sudah terjatuh itu. Temannya pun melompat ke bagian di atas leher belakang Titan tersebut dan menebasnya. Membunuhnya seketika. Setelah berhasil membunuh Titan tadi, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Tetapi dari kejauhan, Armin melihat ada sesosok Titan lainnya yang berlari mendekat ke arah mereka. Titan itu bergerak dengan cepat ke arah Armin dan dua prajurit tersebut.

Setelah melihat tatapan Armin yang terlihat kaget ke arah belakang mereka, mereka pun menengok ke arah belakangnya.

"Lagi?" tanya Sys setelah melihat bahwa ada sesosok Titan yang kembali muncul dan berlari dengan cepat ke arah mereka.

"Apa yang dilakukan oleh sayap kanan?" tanya Ness menanggapi.

"Seandainya dia mengabaikan mereka dan langsung ke sini, pasti dia abnormal yang lain." Tanggap Sys kembali.

"Oh, baiklah. Sys, kita lakukan lagi." Kata Ness kembali.

"Ya." Balas Sys sambil menoleh ke arah Ness.

"Tapi kita sungguh tidak beruntung, harus menangani dua sekaligus." Kata Ness melanjutkan sedikit mengeluh.

"Kupikir dia adalah kelas 14 meter yang terakhir. Yang ini pasti kuat." Sambungnya sambil melihat ke arah Sys.

Saat mereka menengok ke arah belakang kembali, mereka dikejutkan melihat bahwa Titan itu sudah berada tepat di belakang mereka. Titan itu hampir menginjak mereka jika mereka tidak segera menghindar. Armin yang melihat bahwa Titan itu sudah semakin mendekat kembali menembakkan sinyal dengan asap berwarna hitam. Titan itu bergerak menuju ke arah Armin.

Ness yang melihatnya segera memberi perintah.

"Jangan biarkan dia mendekati Arlert." Serunya.

"Hai." Jawab Sys.

Sys kemudian menembakkan 3D manuvernya ke arah tengkuk Titan itu, hanya untuk tertangkap. Ness kemudian juga ikut mencoba menyerang Titan itu, hanya untuk dibanting dengan keras ke tanah. Menyebabkan ia tewas seketika. Armin yang melihatnya hanya terbelalak. Titan itu kemudian berhenti berlari sesaat setelah membubuh kedua prajurit tadi.

Titan itu kemudian kembali berlari ke arah Armin. Armin yang melihatnya kembali mendekat ke arahnya segera berlari menjauh menunggangi kudanya. Armin kemudian bergumam dalam pelariannya.

"Bukan, sama sekali bukan. Dia bukan abnormal, dia pintar. Seperti Titan Kolosal, atau Armored Titan, atau Eren. Manusia dalam tubuh Titan. Tapi siapa? Kenapa?" Gumamnya sambil berlari menjauhi Titan tersebut.

"Gawat, apa yang harus kulakukan? Aku juga akan mati. Aku akan terbunuh." Lanjutnya setelah Titan itu semakin mendekat.

Ia kemudian melepaskan pegangannya pada kuda cadangan yang dibawanya.

"Maju. Lari." Serunya setelah melepaskan kuda itu, hanya untuk melihat bahwa kudanya itu hampir terinjak Titan tersebut dan sedikit terpental.

Setelah itu, Titan yang sudah berada tepat di belakangnya itu mengangkat kakinya sedikit lebar, seperti akan menginjak Armin. Armin mendongak melihat ke atas, ke arah Titan tersebut. 'Dia.. tidak, mereka.. apa yang mereka inginkan?' pikirnya. Kemudian ia melihat Titan itu melompat ke arahnya, bersiap menginjaknya.

Sementara itu, di daerah prajurit di bagian sayap kanan, terlihat banyak sisa-sisa bagian tubuh manusia dan beberapa Titan yang berkumpul. Terlihat seorang prajurit masih hidup dan bergumam sementara sesosok Titan mengangkatnya. Bersiap untuk menikmati santapannya.

"Seseorang, katakanlah. Katakanlah bahwa pasukan sayap kanan telah dimusnahkan. Seorang Titan wanita membawa banyak pasukan Titan. Apa ada seseorang disana?" gumamnya sebelum dimakan oleh Titan yang mengangkatnya.

Kembali pada Armin yang akan diinjak oleh Titan wanita tadi, namun selamat dari injakkannya, hanya saja ia terpental dari kudanya karena guncangan dan menabrak kaki Titan itu. Ia kemudian menutupi wajahnya dengan tudung Pasukan Pengintai yang dikenakannya dan seluruh pasukan sebagai seragam. Ia berusaha berdiri, tetapi terhenti saat Titan itu berjongkok dan membuka tudungnya. Armin yang kaget dengan perilaku Titan itu mendongak dan melihat ke arah Titan wanita itu yang juga sedang melihat ke arahnya. Titan itu memperhatikan Armin sesaat sebelum kemudian berdiri kembali. Ia kemudian kembali berlari meninggalkan Armin yang masih bertahan di posisinya menatap ke arahnya dengan kaget.

"Dia tidak ingin membunuhku? Kenapa? Dia membuka tudungku. Untuk.. untuk melihat wajahku." Gumamnya sambil memegang wajahnya.

"Armin." Panggil seseorang dari arah samping.

"Reiner." Balas Armin saat mengalihkan pandangannya dan melihat orang yang telah memanggilnya. Ia menemukan seorang pria dengan badan agak besar berambut pirang datang ke arahnya dengan menunggangi kuda dan membawa seekor kuda kosong lainnya.

"Hei, kau bisa berdiri?" tanya Reiner setelah berhenti di dekat Armin.

"Kau takkan bisa kembali ke dinding kecuali dengan menunggangi kuda. Cepat." Lanjutnya.

"Hm." Jawab Armin sambil mengangguk sebelum berdiri. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan berlari ke arah Titan wanita yang tadi hampir membunuh Armin itu.

"Aku melihat sinyal pertanda abnormal. Apa dia yang berada di depan kita itu?" tanya Reiner setelah mereka berhasil menyusul Titan tadi dan berlari di belakangnya dalam jarak yang cukup jauh.

"Dia bukan abnormal.. Dia adalah manusia dalam tubuh Titan."Jawab Armin menjelaskan.

"Apa itu?" tanya Reiner terkejut.

"Aa.. Tunggu sebentar, kita harus menyampaikan sinyal darurat." Kata Armin sambil mengambil pistol asap.

Tetapi, sebelum Armin sempat melakukannya, Jean datang dari arah belakang dan menembakkan sinyal asap sebelum Armin dapat melakukannya.

Armin dan Reiner mengalihkan pandangannya ke arah belakang, melihat Jean datang ke arah mereka.

"Tunggu, kurasa Jean sudah melakukannya." Kata Reiner sebelum Armin sempat menembakkan sinyal asap.

Mereka kemudian mendengar suara tembakkan kembali dan melihat ke arah kanan. Mereka melihat di sana terdapat banyak tembakkan sinyal asap.

"Dia datang dari sayap kanan. Apa seberbahaya inikah?" tanya Reiner yang melihat sinyal asap itu.

Jean yang sudah menyamakan posisinya agar sejajar dengan Armin dan Reiner kemudian berbicara.

"Sepertinya pasukan sayap kanan sudah dimusnahkan oleh para Titan, dengan jumlah yang besar. Aku tidak tahu kenapa. Tapi ada banyak sekali yang cepat. Untuk saat ini kita harus lari. Karena menyerbu itu sudah tidak mungkin." Jelasnya memperingatkan.

"Kita telah kalah. Dan jika kita tidak hati-hati, kita juga akan hancur." Lanjutnya kemudian.

"Titan itu datang dari arah yang sama." Kata Armin.

"Jangan-jangan.. Apakah dia yang memandu para Titan itu?" Serunya kaget.

"Dia?" tanya Jean setelah melihat Titan di depan mereka dengan nada bingung.

"Kenapa ada Titan disana? Abnormal?" Tanyanya lagi saat melihat Titan yang berlari di depan mereka itu.

"Tidak, tapi manusia dalam tubuh Titan. Seseorang dengan kemampuan yang sama dengan Eren." Jawab Armin.

"Apa?" tanya Jean kaget mendengar penjelasan Armin.

"Bagaimana menurutmu Armin?" tanya Reiner setelahnya.

"Titan hanya memakan manusia, dan kita terbunuh dalam prosesnya. Membunuh kita bukanlah satu-satunya tujuan mereka. Tetapi saat Sys mencapai titik lemahnya, ia dihancurkan dan dibanting ke tanah. Dia lebih suka membunuhnya ketimbang memakannya. Sifatnya berbeda dengan Titan lain. Saat Titan Kolosal dan Titan Armor menghancurkan dinding, pasti dialah yang membawa pasukan Titan." Jelas Armin mengungkapkan pendapatnya.

"Tujuan mereka pastinya untuk menyerang seluruh umat manusia." Lanjutnya, kemudian terdiam sejenak.

"Tidak, mungkin tidak. Kurasa dia sedang mencari begitu orang yang dia cari adalah.. Mungkinkah dia mencari Eren?" lanjutnya lagi.

"Eren?" tanya Reiner setelah mendengar perkataan Armin.

"Eren bersama pasukan Levi yang berada di sayap kanan." Lanjutnya.

Armin dan Jean yang mendengarnya langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah Reiner, kaget dengan perkataannya.

"Sayap kanan?" tanya Jean memastikan.

"Rencana yang mereka katakan padaku, Eren ditempatkan di sayap kiri." Kata Jean kembali.

"Aku justru diberitahu dia ada di garis depan kanan." Kata Armin ikut menanggapi.

"Tunggu, tidak mungkin dia ada di garis depan." Katanya lagi memberikan pendapat.

"Jadi, dimana dia?" tanya Reiner cukup penasaran.

"Pastinya di tempat teraman dalam formasi. Yang berarti di tengah atau tengah belakang." Jawab Armin menjelaskan.

"Armin, tidak ada waktu untuk berfikir. Peluru asap tidak dapat memastikan seberapa berbahayanya dia. Pada saat ini, kita harus mengabaikan perintah. Kalau tidak, formasinya akan kacau balau." Sela Jean sambil tetap berlari mengikuti dari arah belakang Titan wanita itu.

"Apa yang kau katakan?" Reiner kembali menanggapi.

"Dengan kata lain, sejauh ini kita masih bisa mengalihkan perhatiannya. Kita mungkin bisa memberi waktu untuk mundur. Mungkin.. saja.." Jelas Jean.

Armin dan Reiner yang mendengar penjelasan Jean kembali sedikit terkejut.

"Um.. dia benar benar pintar. Untuknya, kita mungkin hanya serangga pengganggu. Dia hanya akan menginjak kita."kata Armin menanggapi.

"Benarkah? Haha.. Menakutkan sekali." Tanggap Jean kemudian.

"Oi. Apa kau benar-benar Jean? Jean yang kukenal hanya orang yang mementingkan dirinya sendiri." tanya Reiner yang merasa sikap Jean berbeda dengan yang biasanya.

"Jangan salah, aku hanya tidak mau menjadi tulang hangus seperti yang kulihat, yang akan membuatku kecewa." Katanya sambil mengingat hari pembakaran mayat dari korban Titan saat merebut kembali Distrik Trost.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Dan ini adalah pekerjaan yang kupilih. Bantu aku." Katanya sedikit berteriak.

Armin yang melihat Jean yang seperti itu menelan ludah. Ia terkejut akan reaksi Jean yang berbeda dari biasanya itu. Ia kemudian mengenakan kembali tudungnya.

"Gunakan tudungmu, cepatlah, jadi wajahmu tidak terlihat olehnya. Kurasa, dia tidak akan membunuh kita sebelum tahu siapa kita." Kata Armin menjelaskan setelah mendapat tampilan bingung di wajah Jean.

"Oh, kau yakin kalau dia mengira kita adalah Eren, dia tidak akan membunuh kita? Yah, setidaknya aku lebih tenang. Berdoa saja dia memiliki penglihatan yang buruk." Kata Reiner menanggapi sambil mengenakan tudungnya untuk menutupi kepalanya.

"Armin, kau itu selalu memikirkan Eren yang membuatku sedikit jijik. Tapi kupikir itulah yang terbaik." Kata Jean sebelum mengenakan tudungnya juga.

Mereka bertiga kemudian mempercepat pacu pada kuda mereka sehingga mereka dapat menyamai kecepatan Titan wanita yang tadi sudah berada di depan itu. Titan itu berlari lebih lambat dari kecepatannya tadi. Jean yang merasa bahwa itu adalah kesempatan untuk menyerang, menembakkan tali peralatan manuver 3D nya ke arah kaki Titan itu. Tetapi Titan wanita itu sudah terlebih dahulu melihat Jean dan berhasil menghindar. Titan itu kemudian mengibaskan tangannya menciptakan angin cukup kencang untuk membuka tudung Jean yang sedang berada di tanah. Kemudian, Titan itu mengalihkan perhatiannya ke arah Armin yang berada di dekatnya. Ia mengayunkan tangannya dan melempar kuda yang Armin tunggangi, sedangkan Armin sedikit terpental dan jatuh di tanah. Jean yang melihatnya segera bangkit dan berlari ke arah Armin. Ia menembakkan alat manuver 3D nya dan mengenai bagian pundak kanan Titan itu, kemudian mengaktifkan pendorong gas untuk meningkatkan kecepatan dan Armin beserta mendekati Titan wanita tersebut.

"Armin." Serunya.

Titan itu mengalihkan perhatiannya setelah merasakan sesuatu menusuk tubuhnya. Ia kemudian bergerak memutar tubuhnya dan menghentakkan kaki agak keras. Cukup untuk melepas kait manuver 3D milik Jean yang menempel di tubuhnya. Melihat bahwa pengait peralatan manuver 3D nya terlepas, Jean kembali menembakkan pengait lainnya, dan berhasil menancap di bagian bawah pinggulnya. Titan itu kemudian kembali agak memutar tubuhnya dan berniat menyerang Jean dengan tangannya. Jean berhasil menghindar dan mencoba pergi ke arah belakang Titan itu dari jarak dekat, mencoba untuk memotong tengkuk Titan itu untuk membunuhnya. Titan wanita yang melihat bahwaa Jean sudah berada di belakangnya dan dapat membunuhnya segera menutupi titik lemahnya dengan satu tangan. Jean yang melihatnya cukup kaget dan hanya bisa menjaga agar tetap berada di belakang tubuh Titan itu.

"Jean." Teriak Reiner yang melihat usaha Jean.

Jean yang masih berada di udara tidak bisa mendarat. Titan wanita yang melihat kesempatan untuk menyerang itu mengepalkan tangannya dan bersiap untuk mengayunkannya ke arah Jean, untuk membunuhnya.

"Jean. Balaskan dendam mereka yang telah mati." Teriak Armin yang sedang berusaha berdiri sambil menunduk.

Tanpa disangka, Titan itu menghentikan ayunan lengannya untuk memukul Jean. Jean yang melihat pukulan Titan itu terhenti kembali dibuat kaget.

"Dia adalah.. Dialah yang membunuh semuanya. Dialah yang menghabisi sayap kanan. Balaskan dendaam mereka." Teriak Armin lagi yang masih terduduk di tanah sambil sedikit mendongak.

Titan itu hanya diam sambil tetap melindungi leher belakangnya dengan sebelah tangannya. Jean kemudian mendarat setelah cukup dekat dengan tanah dan mendarat di samping sebuah pohon. Ia kemudian sedikit bersembunyi di balik pohon itu. Suara langkah kuda mengalihkan perhatiannya dan ia melihat Reiner yang menunggangi kudanya dan memegang pedang baja dan penembak kait peralatan manuver 3D nya. Siap untuk menyerang.

"Dia membunuh melihat tubuhnya di telapak kakinya." Lanjut Armin memandang Titan itu.

Reiner yang sudah berada di dekat Titan itu menembakkan manuver 3D nya dan bergegas langsung ke arah belakang lehernya. Titan itu hanya menatapnya, kemudian, setelah Reiner tepat di samping kepalanya, ia menangkap Reiner dengan tangannya yang bebas. Titan itu kemudian melepas tengkuknya dan menekan dan meremas Reiner, berusaha menghancurkannya. Reiner kemudian tertutup sepenuhnya di genggaman tangan Titan tersebut dan terlihat darah yang muncrat darinya. Jean dan Armin menatap shock kejadian itu, hanya untuk melihat Reiner berhasil keluar dari cengkraman Titan itu dan memotong jari-jarinya dengan darah Titan yang menempel di dahinya yang segera menguap. Ia kemudian kembali menuju ke arah belakang Titan itu dan mengambil Armin yang berada di dekat Titan tersebut. Ia kemudian berlari menjauhi Titan yang masih terdiam itu sambil membawa Armin mengejar ketinggalannya dari Jean yang beberapa meter di depannya.

"Kita memberi banyak waktu, kan? Maka cepat pergi dari tempat bukan pemakan manusia, maka ia tidak akan mengejar kita." katanya sambil berlari.

Titan itu kemudian berdiri kembali dan berlari ke arah yang berbeda dengan Reiner dan Armin beserta Jean.

"Lihat, si wanita besar itu memutuskan untuk pulang." Kata reiner saat melihat Titan itu tidak mengejar mereka.

Armin yang berada dalam gendongan Reiner kaget melihat arah yang dituju Titan itu.

"'Tidak, kenapa? Dia langsung menuju belakang tengah.. dia.. langsung menuju Eren.'pikirnya.

Titan itu terus berlari ke berlawanan dari Reiner, Armin dan Jean. Sementara Reiner, Armin dan Jean berlari menjauh dan berlindung di dekat pepohonan agar tertutupi dari Titan lain jika kebetulan ada yang lewaat. Kuda milik Reiner kemudian menghampiri merekaa, sedangkan Jean masih mencoba memanggil kudanya dengan bersiul. Sementara itu, Reiner sedang membalut kepala Armin yang berdarah setelah terjatuh tadi.

"Harus ada seseorang yang ditinggalkan disini." Kata Reiner setelah selesai membalut kepala Arrmin.

Jean yang mendengarnya tersentak dan mengalihkan perhatiannya ke arah Reiner.

"Tunggu, menurut formasi,kita seharusnya berada di dekat beberapa pasukan, mungkin kita dapat menggunakan sinyal darurat agar mereka datang." Kata Armin menyarankan.

Jean pun segera menembakkan sinyal asap berwarna ungu yang merupakan sinyal darurat.

"Aku tidak yakin mereka akan repot-repot datang membantu kita."kata Jean setelahnya

"Kita akan menunggu tiga menit kedepan." Kata Reiner memberi solusi.

"Baiklah, aku yang akan tinggal, tetapi aku ingin kalian menyampaikan informasi yang aku ini kepada komandan Erwin." Kata Armin tersentak dan memperhatikan Armin.

Sedangkan Jean melihat ada beberapa sosok yang mendekat. Ia berusaha membentuk teropong dari tangannya agar penglihatannya lebih terfokus dan jelas. Setelah melihat sosok itu yang merupakan seseorang dengan membawa dua buah kuda kosong, Jean memberi tahu mereka.

"Oi, Armin. Sepertinya kau bisa memberitahu informasi itu sendiri. Ada seseorang yang mendekat, dan dia membawa dua kuda kosong bersamanya." Kata Jean.

Armin dan Reiner pun melihat ke arah pandangan Jean dan melihat sosok itu. Semakin lama, sosok itu semakin mendekat dan mereka dapat mengenali sosok itu.

"Bukankah itu.. Christa?" gumam Jean.

"Minna, daijoubu?" tanya Christa setelah mendekati mereka.

"Bukankah ini kudaku?" tanya Jeaan setelah melihat kudanya kembali bersama Christa.

"Kuda itu terlihat ketakukat dan berlari ke arahku." Jelas Christa.

"Apa kalian bertarung dengan Titan?" tanyanya kemudian.

Ia kemudian melihat Armin dan menyadari bahwa ada perban yang melilit kepalanya.

"Armin, perban dikepalamu itu? Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.

"Hm. Begitulah." Jawabnya.

"Syukurlah kau bersedia memutar dan memeriksa sinyal asap yang kami berikan." Kata Reiner berterima kasih.

"Kebetulan saja aku berada di dekat kalian, dan kuda Jean mengarah ke arahku." Jelas Christa.

"Sepertinya kuda itu menyukaimu karena kau memiliki aura yang baik. Kami terselamatkan." Kata Reiner menanggapi.

"Tapi, syukurlah. Kalian selamat." Balasnya.

"Baiklah, kita harus segera kembali ke formasi." Katanya lagi.

"Benar sekali, perintah mundur seharusnya segera dilakukan." Tanggap Jean.

Mereka pun memacu kuda mereka dan kembali kefoormasi. Tetapi mereka terkejut saat melihat bahwa perintah yang diambil hanya pergantian rute, bukan untuk mundur. Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan dan mengikuti instruksi yang ada.

Sementara itu, Levi yang melihat sinyal hijau memberikan perintah.

"Auruo, tembakkan sinyal." Perintahnya.

"Baik." Jawab Auruo.

Ia segera menembakkan sinyal asapberwarna hijau seperti pasukan lainnya. Sementara itu,Eren dan Hinata yang melihat sinyal itu merasakan perubahan formasi dari yang sebelumnya. Setelah itu, ada seorang praurit mendekat menunggangi kudanya memberikan laopran.

"Lapor. Melaporkan korban jiwa. Pasukan sayap kanan telah dihancurkan. Untuk selanjutnyya, kita akan maju tanpa pasukan sayap kanan. Tolong sampaikan pada pasukan bagian kiri." Lapornya.

Hinata dan Eren yang mendengarnya tersentak kaget dan melebarkan matanya. Sementara Levi memerintahkan Petra untuk memberikan informasi tersebut. Setelah Petra pergi, mereka melihat sinyal asap berwarna hitam yang berarti kemunculan Titan Abnormal dari arah kanan. Levi segera memerintahkan Eren untuk memberi sinyal dengan tembakkan asap dengan warna yang sama, hitam.


Tadaa. Chapter 4 update. Chapter 4 ini copy an persis dari salah satu episode di anime SnK, tapi ada sedikit pemotongan sama editan supaya lebih saran dan Kritiknya jika berkenan. Hope you like it :)