UPDATE…
Waktunya memang sangat lama…
Ini chapter 4 yang sudah lama nggak muncul-muncul…
Dan dengan ini, bagian saya selesai DX
INSECURE
Rate: M
Disclaimer: I don't own KH but I own this part XD
"Hah!" aku terbangun di pagi harinya. Kuperhatikan tubuhku tanpa pakaian selembar pun. Hanya ditutupi oleh selimut tipis. Aku menatap tanganku sendiri. Kemarin malam, aku dan Sora...
Wajahku merah mendadak.
Kami bercinta!
Oh, Tuhan.. Apa yang telah kami lakukan?
Apa yang telah aku lakukan?
Aku bersetubuh dengan kakakku sendiri?
Ya, ampun.. K-kenapa bisa jadi begini?
Tiba-tiba sepasang tangan melingkari pinggangku yang sedang duduk. Kutoleh pemilik tangan tersebut.
"Selamat pagi, sayangku." Sora tersenyum genit. Wajahku seketika memerah. Aku mengingat kejadian tadi malam.
Saat dia mendorong dan aku mengerang di bawahnya.
"Malam yang menakjubkan," katanya lagi.
Aku tidak menjawabnya melainkan segera turun dari kasur yang sempit dengan tubuh berbalut selimut. Sora telah memakai celana 3/4 nya kemarin jadi walaupun selimutnya kuambil, dia jadi tidak telanjang.
Aku menuju kamar mandi, membersihkan diriku dari sisa-sisa sperma yang menempel. Di kakiku selain terdapat sperma, juga terdapat darah. Oh, itu darahku. Tanda bahwa keperawananku telah diambil. Apakah tidak apa-apa aku dan Sora bercinta layaknya sepasang kekasih? Oh, apa aku sudah bilang padanya bahwa aku setuju jadi pacarnya? Aku sudah mengatakannya.
Aku tidak tahu harus bagaimana..
Setelah selesai membersihkan tubuh dari sisa-sisa sex malam lalu, aku segera menuju dapur. Aku harus membuat sarapan.
Namun aku berhenti saat mencium wangi mentega yang dipanaskan di penggorengan.
"Mentega. Siapa yang memasak?" gumamku. Aku kemudian cepat-cepat berlari ke dapur.
Ugh, sakit...
Akibat sex semalam, anusku sakit.
Mataku melebar sedetik melihat siapa yang sedang memasak.
"Oh, hai Roxas! Aku buatkan sarapan untukmu!" Sora berseru. Dia bertelanjang dada, hanya memakai celana sepanjang dibawah lutut. Aku berkedip canggung.
"Umm, iya.. K-kau bisa memasak?" kataku dengan nada aneh.
"Tentu saja, sayangku. Aku jago masak waktu SMP!"
"Oh, ya benar. Kau menang lomba makan cepat waktu SMP." aku tertawa pelan sambil jalan ke kursi yang ada.
"Hei, aku juga menang lomba mengkreasikan mi instan lho! Aku merebus mi instannya sendiri!" dia mengelak. Aku hanya tertawa pelan.
Tanpa disangka, Sora berhasil membuat sarapan untuk kami. Telur mata sapi dan sedikit daging. Wow, aku tidak menyangka dia bisa menggoreng telur dan daging. Sebelumnya, dia bahkan tidak bisa memecah kulit telur.
"Silakan, adikku sayang," katanya lembut, memberiku dua buah telur mata sapi di atas piring putih bersih. Dua telur itu diletakan di bagian atas seperti sepasang mata dan potongan daging di bawahnya dibentuk menyerupai mulut tersenyum.
"Terima kasih." aku mengambil garpu di samping piring yang sudah disiapkan tadi.
Sora duduk di sampingku setelah meletakan piringnya sendiri di meja. Saat aku hendak memasukan telur ke mulutku, tiba-tiba Sora mengecup pipiku.
"Ouh?" kataku kaku.
"Ciuman selamat pagi. Aku tidak sempat memberikannya tadi karena kau langsung lari ke kamar mandi," jawabnya jujur. Wajahku memerah lalu untuk menyembunyikan merahnya wajahku, aku cepat-cepat menyantap sarapanku tanpa merasakan apa-apa.
"Kau manis, Roxas." Sora kembali berkata. Aku makan makin cepat, hampir tersedak.
"Pelan-pelan, Roxy." Sora menasehatiku. "Bagaimana rasanya?"
"E-enak.." kataku tanpa melihatnya. Sebenarnya aku tidak merasakan apa-apa. Wajahku yang merah dan rasa panas di pipi telah menyamarkan rasa makanan di mulut.
"Aku senang kau menyukainya." dia meletakan tangan di kepalaku. "Aku mencintaimu, Roxas."
"A-a-aku j-j-ju..juga..."
Maafkan aku.
Kami berangkat sekolah bersama. Di bis, kami duduk bersebelahan di tempat duduk paling belakang. Bis sedang sepi karena suatu alasan tak jelas. Hanya ada sopir, kondektur, dan beberapa murid dari sekolah kami. Di tempat duduk itu, Sora merangkulku selayaknya sepasang kekasih. Kami berpisah jika ada orang melirik atau saat bis berhenti di pemberhentian berikutnya. Saat benar-benar tidak ada yang memperhatikan kami, Sora menciumku dan setelah itu, aku sangat malu. Tapi tidak bagi Sora.
Di sekolah kami jalan bersama ke kelas. Sora masih tetap merangkulku seolah dia ingin semua orang tahu kami berpacaran. Murid-murid melirik kami aneh. Baik yang perempuan maupun yang laki-laki.
"Hei, lihat! Mereka pacaran!"
"Eh? Jangan bodoh! Mereka kan bersaudara!"
Kami memang terkenal sebagai Strife Twins di sekolah.
"Tapi lihat itu! Yang rambut coklat merangkul yang rambut pirang! Mesra sekali!"
"Dasar mesum! Mereka kan sejenis!"
"Tapi lihatlah! Oh, manisnya.."
"Aku dengar mereka bermusuhan kemarin,"
"Eh, iya benar. Tapi sekarang mereka sudah baikan..dan pacaran!"
"Diam, ah! Aku bosan bicara denganmu."
Pembicaraan dua anak perempuan itu menyebalkan. Aku memberitahu Sora untuk melepas rangkulannya namun,
"Biar saja. Biar mereka tahu kita pacaran."
Astaga..
Aku tidak bisa melawannya..
Selama berjalan dan bertemu lebih banyak orang, lebih banyak sindiran datang. Aku malu. Aku sangat malu! Apalagi saat Sora memindah tangannya dari bahu ke pinggang. Semua berteriak kaget dan akulah yang paling malu.
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Di kelas, aku mendapat banyak pertanyaan dan begitu pula dengan Sora. Mulai dari yang ringan hingga yang berat seperti, "Kalian pacaran, ya?". Dan aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku dan Sora berada di kantin. Aku duduk di salah satu kursi, menunggu Sora yang sedang membelikanku segelas milkshake. Di depanku ada meja bundar dan tiga gadis. Yang rambut merah namanya Kairi, si ratu gosip. Yang rambut hitam namanya Xion, si atlet. Dan yang terakhir dan termanis namanya Namine, si ratu gula. Dia disebut ratu gula karena dia memang manis.
Yah, aku naksir pada Namine.
Siapapun pasti naksir padanya kecuali Sora.
Namine meliriku.
Ah, mata biru yang cantik.
Rambut pirang mirip boneka Barbie.
Kulit putih susu seperti artis Korea.
"Hai." aku melambai padanya sambil tersenyum aneh. Dia tersenyum padaku. Ah, manis sekali.
Tiba-tiba Sora datang bersama dua gelas milkshake.
"Roxy, ini milkshake melon seperti yang kau pesan!"
"Ah, iya!" aku hampir melompat dari kursiku. Aku segera mengalihkan pandang pada Sora. Dia duduk di depanku, menghalangi pandanganku dari Namine.
"Hmm, enak." Sora menyedot milkshake stroberinya. Aku mulai minum perlahan. Ugh, seandainya Sora bergeser sedikit, aku akan dapat melihat Namine.
Sora menyadari gerak-gerikku yang aneh kemudian bertanya,
"Ada apa?"
"Oh! T-tidak. Tidak ada apa-apa." aku segera lanjut minum. Aku sadar, wajahku merah.
"Gals, aku punya gosip baru!" tiba-tiba Kairi si ratu gosip berseru. Hei, dia mau menggosip dengan suara sekeras itu? Aneh.
"Apa? Apa?" balas Xion. Namine hanya diam. Padahal aku ingin mendengar suara merdunya.
"Kalian tahu kalau di sekolah kita ada pelacur?"
Apa?
"Benarkah? Oh, aku sudah dengar itu," kata Xion kecewa.
Sepertinya, Kairi ingin menggosip tentang aku dan Sora.
"Ini update terpanas, Xixy!"
"Oh, ya? Apa itu?" balas Xixy err, Xion.
"Tadi pagi aku melihatnya jalan dengan pacar barunya."
"Wow! Siapa?"
"Mereka bergandengan dan..oh, mesra banget!"
"Benarkah, Cairy?"
"Iya. Tapi anehnya, mereka bersaudara! Aku yakin sang adik merayu kakaknya dan menawarkan tidur gratis supaya bisa berbaikan dengan kakaknya. Kalian tahu kan, mereka bermusuhan sejak seminggu lalu?"
Ya, ampun. Aku tahu dia sedang membicarakan aku dan Sora. Separah itukah aku? Gadis ini menyebarkan berita yang sangat buruk.. Aku malu dan sedih.
Sora berdiri dan dengan gesit, mencapai meja Kairi.
BRAK!
Sora menggebrak meja di depan Kairi. Tiga gadis itu terlonjak di tempat.
Namine juga.
"Kotor sekali perkataanmu, bitch!"
"A-apa?" Kairi terlihat ketakutan.
"Siapa yang kau sebut dengan pelacur, hah?"
"B-bukankah k-kau yang bilang sendiri? Bahwa adikmu adalah..pelacur?" Kairi gemetar.
Sora menyipitkan matanya, "Aku? Aku bilang begitu? Huh, mana mungkin aku berkata demikian tentang adikku sendiri."
"T-tapi..."
"Sudah! Pergi sana dan jangan pernah berkata kotor tentang adikku lagi. Atau..." Sora menggerakan telunjuknya mengiris leher sambil menjulurkan lidah. Kairi tersentak dia berdiri dibarengi dengan dua temannya.
"Apaan sih? Ayo pergi!" Kairi menjauh diikuti Xion dan Namine. Sebelum pergi, Namine sempat mencuri pandang. Dia menatapku kecewa. Oh, hancurlah sudah kehidupan cintaku..
"Heh! Dasar tukang gosip. Berani sekali bicara begitu.." Sora kembali duduk.
"Sora," kataku lirih. "kemarin.."
"Aku akan menarik semua perkataanku tentangmu." Sora berwajah serius saat mengatakan itu. Rasanya, aku hampir menangis mendengarnya.
"Iya. Terima kasih," balasku tersenyum. Sora tersenyum juga padaku.
Jam istirahat belum berakhir. Sora membawaku kembali ke kelas, memaksa semua murid sekelas untuk masuk karena dia ingin mengumumkan sesuatu. Dia memang bukan ketua kelas tapi dia sering berorganisasi di sekolah.
Murid-murid berkumpul. Sora berdiri di atas meja serta merta mengajakku. Dia berpidato mirip pembina upacara di Senin pagi. Dia menarik seluruh kata-katanya di hari-hari yang lalu. Oh, manis sekali. Aku terharu.
"Dan kami sudah tidak bermusuhan. Jadi aku ingin kalian berhenti berpikir Roxas adalah..ini atau itu. Karena semua itu hanya karanganku saja. Aku mengarang itu semua agar Roxas marah karena aku ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun kami."
Seluruh kelas bergumam. Siapapun tahu kami ulang tahun di Bulan Agustus bukan November.
"Aku tahu kami ulang tahun di Bulan Agustus tapi waktu itu aku belum memberi hadiah padanya jadi aku berikan kemarin." Sora tertawa lebar. Seluruh kelas merengut tapi pada akhirnya mereka tertawa juga.
Bel berbunyi lagi, menandakan istirahat sudah berakhir, semuanya segera kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Aku menatap wajah Sora, Sora mengedipkan sebelah matanya, aku tersenyum, membuka sedikit mulutku untuk mengatakan..
"Terima kasih." dan dia jawab dengan senyum yang lebar, sebelum aku duduk di kursiku, Sora menarik tanganku, dia mengecup pipiku, beruntung tidak ada yang melihat apa yang sedang kami lakukan. Kubalas dengan mencium pipinya juga.
TBC
Akhir kata saya ucapkan, terima kasih banyak telah membaca dan me-review (jiah kok kayak perpisahan ya?) *dicincang
Bagian selanjutnya akan dilanjutkan oleh partner saya XD SoraVanRoxasVen
Prikitiew!
Da-dah, teman-teman XD
(dasar author gendeng. Author dicincang jadi bakso)
