Title: Once Upon a Misfit
Summary: North punya anak. Dan anaknya ini sedang jatuh cinta pada wanita yang bahkan keberadaannya mulai meragukan. Siapa yang kelabakan? Guardian tentu saja. Memangnya apa lagi guna mereka?
Pairing: Nick/Pitch. Yep.
Rate: T? Ga tau ya, kalo saia tiba-tiba mesum, bakalan ada M-nya.
Disclaimer: Kenapa harus saia tulisin? Kan udah jelas banget nih pilem atopun bukunya bukan yang saia.
Bacotan: Akhirnya! Siksaan UAS selesai! XD
Chapter baru ini adalah sebagai perayaan.
Enjoy~! XD
Nick berjalan memasuki pabrik mainan ayahnya dengan langkah agak lunglai. Bahkan sampai hari ini juga, dia masih belum bisa menemukan si cantik yang telah menawan hatinya itu. Apa sebaiknya dia meminta tolong pada Manny?
Sambil menghela napas, pemuda itu langsung berjalan ke arah beranda di ruang tamu agar bisa melihat bulan langsung dan mengobrol walaupun dia tahu paling-paling dia hanya akan berbicara sendirian.
Dia mendorong pintu ke beranda sambil mengucapkan salam pada Manny; "Manny, selamat ma…lam… wow…" sampai ketika sesuatu, atau tepatnya seseorang membuatnya berhenti.
Rambut panjang hitam bergelombang yang lebih indah dari langit malam bertaburan bintang, tubuh gemulai yang dibalut oleh gaun hitam anggun, mata sayu berwarna emas keperakan yang lebih indah dari berlian manapun…
"Kau…"
Wanita itu menoleh ke arahnya dan menyelipkan rambutnya yang diterpa angin malam yang lumayan kencang ke belakang telinganya.
"Selamat malam, Nicholas," sapa wanita itu dengan suara semanis madu.
"Hei! Apa-apaan ini?!" teriak Pitch sambil menghindari serangan demi serangan yang diarahkan padanya.
Tidak ada yang menjawab. Tooth tetap mencoba meninju wajahnya (seperti dulu), Sandy melecutkan cambuk dari pasirnya, Bunny melemparkan bumerang-bumerangnya tanpa henti, Jack mencoba untuk membekukan kakinya, dan North terus-menerus mencoba menebasnya dengan pedang.
Para Nightmare dengan gampang dikalahkan (tentu saja karena jumlah mereka juga lebih sedikit dibandingkan terakhir kali Pitch menggunakan mereka).
Ketika Nightmare terakhir kalah dan Pitch tersisa sendirian dikepung oleh para Guardian, dia hanya mengangkat tangannya tanda menyerah. Dan dia tidak protes ketika mereka menyeretnya ke Santoff Clausen.
Tapi dia sama sekali tidak menyangka North akan bersimpuh di kakinya sambil memohon agar dia mau membantunya.
"Kumohon, bertemulah dengan anakku, dan tolak dia, atau lakukan apapun agar dia melupakanmu!" pinta North.
"Hah?"
"Dia jatuh cinta pada sosokmu sebagai wanita!"
Walaupun hal itu agak memuakan bagi Pitch, dia tetap teguh pada pendiriannya. "Hm… bagaimana kalau… tidak?" balasnya. Lebih baik membiarkan anak North tergila-gila pada sosok yang tidak pernah ada—alias dirinya—daripada membantu Guardian.
"Kumohon, Pitch. Kau tega membiarkan pria tua ini bersujud di kakimu semalaman?" bujuk North lagi.
"Euh… kalau saja lupa, aku lebih tua darimu, North. Jauh lebih tua," balas Pitch sambil menggeliat tidak nyaman dalam lilitan tali di badannya. "Lagipula, aku baru tahu ada metode meminta tolong seperti ini," lanjutnya lagi sambil mendengus kesal karena dia sadar tali-tali itu tidak akan lepas.
"Ayolah, Pitch. Kau juga seorang ayah, kan?" bujuk Tooth sambil menatap mata Pitch dengan memelas.
"Kalau kau sedang bicara tentang Mother Nature, maka jawabanku akan tetap tidak."
"Dia bukan anakmu?"
"Bukan. Dia tidak sama dengan anak si Cossack ini," jawab Pitch sambil menunjuk North dengan kakinya. "Aku tidak pernah meminta siapapun untuk meminum obat mencurigakan hanya agar Seraphina bisa bertemu dengan pria yang dia sukai."
North memandangnya dengan kecewa.
"Apa kalian sudah selesai? Aku mau pulang sekarang."
Baru saja mereka akan melepaskan ikatan pada Pitch, bulan bersinar dengan sangat terang.
"Manny! Apa kabar, hah?" sapa North. Terlihat siluet Pitch di lantai. "Kau ingin bicara dengan Pitch."
Pitch mengerutkan dahinya. Untuk apa Man in the Moon berbicara dengannya?
"Ya, teman lama. Kau ingin bicara tentang?"
Bulan berpendar, meredup sedikit, berpendar lagi, dan begitu untuk beberapa saat.
"Tidak, tidak, ti-dak. Aku tidak mau melakukannya."
Berpendar dan meredup lagi.
"Aku tidak peduli!"
Meredup, berpendar, dan bersinar dengan sangat terang. "Akan kukabulkan satu permintaanmu? Kumohon?"
"Hah… baiklah. Akan kulakukan."
Sekali lagi sinar yang terang.
"Sebaiknya kau pegang janjimu."
Dan setelah bersinar dengan terang, bulan kembali seperti biasa.
Pitch berbalik kepada Guardian. "Panggil Spring atau Seraphina, atau mereka berdua sekalian. Dan suruh mereka membawa ramuan itu."
"Kau…"
"Selamat malam, Nicholas," sapa wanita itu dengan suara semanis madu.
Astaga. Wanita itu tahu namanya!
Nick langsung memeluk wanita berambut hitam—yang tidak dia sadari adalah Pitch—yang telah membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari itu. "Akhirnya aku bertemu denganmu," gumamnya. Dia barus saja akan mencium Pitch ketika Pitch mendorong pemuda itu dengan lembut. Dia menatap dalam-dalam mata biru Nick.
"Apapun yang kau lakukan, tolong tolak dia dengan lembut. Aku tidak tega melihatnya sakit hati."
Tangannya yang kurus dan pucat hinggap di pipi Nick dan yang satunya lagi di pundak si pemuda berambut cokelat. "Tidak bisa," ujarnya lirih.
"Kenapa?" tanya Nick dengan kecewa.
"Aku tidak mau."
"Kenapa kau tidak mau?"
Pitch berpaling dari Nick dan berjalan menjauhinya, tetapi Nick langsung menarik tangannya dan menariknya kembali ke dalam pelukan. Matanya tidak bisa fokus, dia berusaha untuk melihat kemana saja asal bukan pada anak North ini. "Kumohon, lepaskan aku."
"Kenapa kau tidak mau?" desak Nick. "Aku… aku mencintaimu. Sungguh! Kau cinta pertamaku, sejujurnya."
Pitch mendorong dada Nick, tetapi tidak bisa melepaskan dirinya (ada banyak bayangan untuknya kabur, tapi North sudah secara spesifik memintanya untuk tidak kabur begitu saja). "Aku hanya tidak mau. Semakin cepat kau lepaskan aku, semakin cepat kau sadar bahwa kau tidak pernah benar-benar mencintaiku," kata terakhir itu terasa masam di lidahnya.
"Tidak. Aku sungguh-sungguh walaupun aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya!"
Pitch mengerlingkan matanya. "Itu yang mereka semua katakan. Sungguh-sungguh mencintaiku. Lalu mereka pergi dan bahkan tidak tahan melihatku!"
"Aku tidak akan melakukan itu padamu! Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu."
Pitch semakin putus asa. Bukan hanya dia tidak bisa membuat Nick melupakannya, dia malah membuat Nick semakin tergila-gila padanya.
"Aku ini laki-laki," ujarnya ketika dia merasa ini semua semakin keterlaluan saja.
Si pemuda keturunan Rusia itu memandangnya sebentar, lalu tertawa pelan, dan makin lama semakin keras. "Oh, hahahaha… kau harus mencoba lebih baik dari itu. Tapi usaha yang bagus. Walaupun aku tetap tidak akan melepasmu."
"Aku tidak main-main!"
"Dan kau berharap aku percaya?"
"Aku…"
"Jangan sampai dia tahu kau adalah Pitch."
"Aku…"
"Kau mau?"
"Aku…"
"Kumohon, Pitch."
"Ah, persetan! Aku ini Pitch Black, sialan!" teriaknya dengan putus asa sambil mendorong Nick jauh-jauh dan mengangkat bayangan gelap di belakangnya lalu membentuk portal untuk para Nightmare. Pasir hitam dari kuda-kuda hitam bergelung di udara dan membentuk monster raksasa di belakangnya. "Kau lihat ini? Hanya Pitch Black yang bisa membuatnya, dan itu aku! Dan terakhir kali kuperiksa, Pitch Black itu sepenuhnya laki-laki! Kalau kau masih perlu bukti, aku bisa mendatangi kolong tempat tidurmu dan membuatmu menangis dan berteriak mencari ibumu sambil menghisap jari hanya dengan memberimu mimpi buruk!" teriaknya lagi sebelum menutup portal itu dan berlari ke dalamnya sebelum tertutup benar, meninggalkan Nick yang hanya bisa terpaku menatap tempat dimana Pitch tadi menghilang.
North dan Guardian yang lain langsung mendobrak pintu ke beranda dan hanya menemukan Nick yang terdiam. "Nick! Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Aku sumpah aku mendengar bunyi gemuruh tadi!" Tooth mencecernya dengan serunut pertanyaan.
"Yah…" panggil Nick pelan.
"Ya?"
"Aku… jatuh cinta pada Pitch Black," gumamnya.
North menunduk dan menghela napas. "Aku tahu, Nak…"
"Oh, ya ampun…" gumamnya lagi sambil berjalan melewati ayahnya, Jack, Bunny, Tooth, dan Sandy dengan langkah agak menyeret.
Pitch meminum segelas penawar dari Mother Nature dengan kesal.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!"
Dia tertawa kecil, miris mengingat itu. Di atasnya, bulan bersinar terang.
"Oh, diam kau. Apa maksudmu kerja bagus? Sedikit sarkasme, eh?"
Mother Nature memandang ayahnya dan untuk sesaat dia mengira ayahnya sudah gila. Tapi begitu dia melihat bulan berpendar, dia tahu Pitch hanya sedang berbicara pada Man in the Moon.
"Aku tetap tidak mengerti apa yang kau maksud dengan kerja bagus."
Pendaran bulan menjawabnya.
"Ya, Tsar, kau mengerti juga akhirnya. Aku mengacau. Kurasa ini berarti aku tidak mendapat permintaanku?"
Pendaran lagi.
"Hmm… sejujurnya, aku juga tidak tahu mau meminta apa."
Sinar terang, redup, lalu bulan kembali seperti biasa.
Pitch segera berdiri dan menjauhi aula besar dengan atap transparan itu. Dia mengantuk. Mother Nature memberinya baju untuk menggantikan gaun hitam yang masih dia pakai dan dia tidak pernah lebih bersyukur dari ini melihat jubah dan celana panjangnya.
Dia menghempaskan tubuhnya yang terasa begitu berat ke tempat tidur dan mulai merasa dia sedang tidur di sisi yang salah. Tapi dia terlalu malas untuk bangkit dan merayap ke kolong tempat tidur. Dia putuskan mungkin tidur di atas tempat tidur sesekali bukanlah ide yang buruk.
Kasur empuk dan selimut lembut yang hangat memanjakannya.
Tanpa sadar sebuah kalimat kabur dari mulutnya ketika dia tertidur.
"Kuharap kau bersungguh-sungguh mengatakannya."
End of Chapter 4
Tadah~! Akhirnya, siksaan UAS selesai dan saia bisa kembali kesini~!
Ada yang mau ikut merayakan dengan memberi ripiu? XD
Love and freedom
Shirasaka Konoe
