Author's Note : Fourth part of Game of Fate is literally direct continuity of the third part of story. I think, I'll make each post as a pair of connected story (although it doesn't mean that another part won't fit to each other at all). I honestly write the story based on the real episodes of BBC's Sherlock and bend the storyline a bit; fusing the flow with my own interpretation of their relationship, according to their 'remade' version of the past. So, I hope there'll still be many chances of surprises and twists in this story later on [sorry, it's kinda long (!=_=)a].
Continuing Sherlock and John's (another) first meeting at 221 B Baker Street. Mostly, revealing their one-sided hidden past. Hope you'll like it.
So please, enjoy
Disclaimer : Thank you for making such amazing story, Sir Arthur Conan Doyle-sama… for Warner Brother who has brought the legend into visual imaginary… and for BBC's version by Steven Moffat dan Mark Gatiss, for making it real in the 21st century…
Game of Fate - 4
Suatu malam, Watson mendengar pintu kamarnya diketuk lirih. Tiga kali dengan ritme yang monoton. Dengan melihat arah dan sudut bulan yang tampak dari balik jendela kaca, Watson bisa menebak kalau sekarang belum lagi pukul tiga.
Ketukan terdengar lagi. Kali ini sedikit lebih keras.
Watson melirik pintu kamarnya dengan kesal. Siapa yang berani membangunkannya dini hari buta seperti ini? Benar-benar mengganggu. Apa tidak ada kerjaan lain yang lebih berguna?
Ketukan terulang. Volumenya naik dari waktu ke waktu.
Watson merapatkan selimut. Angin musim gugur mulai membawa dingin yang keras setelah musim panas yang singkat tertinggal jauh di belakang. Diangkatnya bantal menutupi kedua telinga. Watson meringkuk makin dalam di kasurnya yang hangat, empuk, dan luas.
Pintu digedor.
"Demi Tuhan! Siapa itu?" Watson mengomel.
Ia menyingkap selimutnya dengan tidak rela kemudian menyelipkan kedua telapak kaki pada selop rumah. Matanya baru setengah terbuka. Semalam ia baru saja menangani pasien gawat darurat hingga tengah malam. Tubuhnya butuh istirahat. Namun sekarang, seseorang merecoki proses tidur sehatnya dengan begitu kurang ajar.
Terdengar bunyi 'klik' kasar saat Watson memutar kunci pada lubangnya. Ditekannya kenop sehingga pintu terayun membuka. Watson berdiri tegak sambil menodongkan moncong pistol pada sosok suram yang kini tengah berdiri terbungkuk di depan pintu kamarnya.
"Sekali lagi kau berani mengetuk pintu, kuledakkan kepalamu," Watson mendesis dengan setengah nyawa.
"Tenang saja. Kau sudah membukakan pintunya. Aku idiot kalau masih mengetuk," sebuah suara serak rendah menjawab.
"Aku tidak peduli apakah kau Sherlock Holmes atau Count Dracula sekalipun," Watson meneruskan peringatannya, "enyah kau dari kamarku sekarang atau akan kuledakkan…"
"Bodoh. Safety pistolmu masih terpasang, Watson," Holmes merepet lagi dengan santai.
Watson mengerjap dengan mata yang nyaris tak bisa dibuka karena terekat kuat oleh kantuk. Ia mencoba mengamati pistolnya dari dekat dan saat itulah Holmes merangsek masuk ke dalam kamar. Watson terlambat menyadarinya.
"Aku pakai kasurnya," ucap Holmes.
Beberapa persen lagi dari nyawa Watson mulai terkumpul. Dikerlingnya pistolnya sebentar. Seketika Watson sadar ia baru saja ditipu mentah-mentah oleh Holmes.
John Watson tidak pernah memasang safety pistolnya untuk berjaga-jaga semisal ia harus menggunakan pistol tersebut tiba-tiba. Kebiasaan baru yang tak aman ini ia dapatkan semenjak tinggal satu atap dengan detektif konsultan ugal-ugalan bernama Sherlock Holmes.
"Kau punya kamar sendiri, Holmes," Watson berkacak pinggang dengan jengkel, "kembali ke sana sekarang! Ini kamarku dan aku mau tidur."
"Aku juga mau tidur," Holmes menjawab cepat.
"Tidur di tempat tidurmu sendiri, Holmes! Di kamarmu!" Watson membentak.
"Kamarku sedang penuh gas karbon monoksida."
Kali ini Watson menurunkan pistolnya yang siaga. Alisnya berkerut. "Karbon monoksida, kau bilang? Bagaimana bisa?"
Holmes diam saja, tapi sekarang ia sudah memanjat naik ke tempat tidur sambil menempatkan diri dengan nyaman di balik selimut. Ia hempaskan kepalanya pada bantal bulu angsa Watson satu-satunya lalu mulai memejamkan mata.
Tiba-tiba Watson panik. Ia menggenggam erat gagang pistolnya yang kecil namun ampuh dengan waspada. "Holmes, apa yang terjadi? Seseorang mencoba membunuhmu? Jawab aku!"
Sekali lagi, Holmes tidak menyuarakan jawaban. Selimut ditariknya naik melewati batas kepalanya saat Watson menghampirinya dengan cemas.
"Katakan padaku yang sejujurnya, Holmes," Watson menuntut, "bagaimana bisa kamarmu dipenuhi gas CO? Kau bisa saja mati! Hey, Holmes, tolong jawab aku sekarang juga!"
"Berisik, Watson! Aku mau tidur," gerutu Holmes dari balik selimut.
Watson langsung mendesah dalam. Pasti begini lagi, hampir setiap saat. Meski selalu menikmatinya, terkadang Watson lelah juga punya rekan detektif seperti Holmes. Begitu banyak orang mengincarnya; beberapa datang minta bantuan, minta diajak main, minta jadi lawan tanding, minta wangsit, atau minta agar ia cepat mati. Karena tinggal se-flat, Watson terpaksa harus tahu semua orang-orang ini, apalagi ketika Holmes bersikeras memintanya sebagai asisten pribadi.
Mendadak Watson tersadar. "Tunggu," ia mulai menggaruk belakang kepala dengan bimbang, "karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau. Secara praktikal, gas CO tidak kasat indera. Bagaimana kau tahu di kamarmu ada banyak karbon monoksida?"
Sherlock menjawab dengan lenguhan malas.
John menatap tempat tidurnya yang kini telah penuh dengan bagian-bagian tubuh Holmes yang terentang. "Bagus, sekarang kau megokupasi seluruh kasurku. Aku tahu kau sedang dalam masalah, tapi kalau kau seperti ini, aku harus tidur dimana?"
Terdengar suara kuap. "Ada sofa, John."
Watson mengepalkan tangan menahan geram. Sejak pertama kali bertemu, Holmes yang dikenalnya memang selalu egois dan menyebalkan. Tapi, malam ini saja ia akan memaafkan kelakuan Holmes. Mungkin harinya memang benar-benar berat dan memaksanya untuk mengokupasi kasur milik orang lain.
Watson menyerah. Dicarinya selimut cadangan di lemari, kemudian ia berjalan gontai ke sofa. Berniat meneruskan tidur. Pada saat itulah, sebuah suara lirih terdengar dari balik selimut.
"… aku membuat eksperimen… lalu aku meledakkannya… salah formula… jadi sekarang kamarku penuh gas CO…"
Watson membeku di tempat. Kemarahan yang sempat menipis di hatinya tiba-tiba menggelegak. Kali ini, seperti gunung api yang siap meletus. Dihampirinya Holmes di ranjangnya. Watson menarik selimutnya dengan kekuatan dan kecepatan luar biasa hingga Holmes terbangun dengan kaget.
Watson tersenyum sambil menunjuk pada sofa. "Kau di sana, aku di sini. Gas monoksida itu ulahmu sendiri. Aku tak punya tanggung jawab menampungmu di sini. Ke sofa sekarang juga!"
Satu di antara malam-malam paling dingin datang di bulan Januari. John terbangun lagi oleh ketukan. Kali ini hanya dua kali. Lirih.
Mengingat pengalaman yang sudah-sudah, Watson telah bersiap jengkel bahkan sebelum matanya terbuka. Kalau hari-hari biasa, saat ini pasti sudah menjelang fajar. Namun, karena sekarang adalah salah satu hari dimana musim dingin terkutuk itu meraja, langit masih tampak sangat gelap. Terlalu gelap untuk ukuran cakrawala pukul setengah lima pagi.
Ketukan bergema lagi dalam ruangan yang senyap. Masih dua kali dengan volume yang masih sayup. Hanya saja, kali ini ada sepotong interval panjang antara kedua ketuk.
"Siapa?" Watson siaga, "kaukah itu, Holmes?"
Tidak ada jawaban. Tidak ada ketukan lagi.
Watson telah terjaga sepenuhnya. Ada yang tidak beres kali ini, hatinya berkata. Tangannya yang pucat segera meraih pistol dari dalam laci. Pistol yang sama yang sempat ia todongkan pada Holmes beberapa malam sebelumnya. Safety-nya telah Watson pastikan tak terpasang.
Terdengar bunyi sesuatu menubruk pintu kayu. Satu gaung benturan kemudian sunyi.
Watson menelan ludah. Perasaannya tidak tenang. Jangan-jangan kali ini ia kedatangan penyusup sungguhan. Tapi bagaimana mungkin ada penyusup yang mengincar-nya? Bagaimana mungkin orang-orang aneh itu mengincarnya terlebih dahulu alih-alih Holmes yang lebih populer? Apakah ia akan dijadikan sandera? Tapi Holmes tidak akan peduli, tentu saja.
Watson menggeleng cepat. Ia tidak mau mengada-ada di situasi semacam ini.
Dengan pistol siap di satu tangan, Watson memutar kunci pintu dengan tangan yang lain. Dengan hati-hati, ditekannya kenop pintu. Terdengar suara keriut samar. Watson bersiap.
Mendadak, sebuah daya menekan pintu, mendorongnya terbuka karena gaya berat. Watson tidak siap dengan serangan mendadak tersebut. Ia memilih melompat mundur, namun pada saat itu juga, sebuah sosok terhuyung ke arahnya.
Watson terlalu terkejut untuk bertindak. Sosok tersebut jatuh terjerembab ke lantai dengan bunyi debum keras. Debu partikelir teraduk acak di udara yang terpapar sinar bulan pucat. Watson terengah. Aliran darah di jantungnya masih begitu keras setelah terpompa banjir adrenalin.
Ketika senyap akhirnya kembali menguasai kamar, Watson mulai memberanikan diri untuk memeriksa keadaan. Debu-debu telah terendap kembali pada lantai, dimana seseorang kini tengah terbaring telungkup. Watson menatap sosok itu dengan curiga. Ia mengulurkan moncong senapan dan menyodokkannya pelan-pelan ke sisi tubuh sosok tersebut.
Sosok tersebut tidak bergerak.
Watson merapat ke salah satu sisi dinding untuk menyalakan lampu. Ketika seluruh ruangan telah tersibak oleh terang, ia baru berjongkok untuk memeriksa keadaan. Setelah lampu menyala, baru tampaklah oleh Watson bahwa sosok yang tertelungkup itu adalah seorang laki-laki dewasa. Ia mengenakan mantel gelap panjang yang basah. Di sekitar tubuhnya, air sedingin es meleleh-leleh, merembes ke celah-celah lantai kayu.
Dengan hati-hati, Watson membalik posisi tubuh pria tersebut. Sosoknya tidak terlihat asing. Kemudian ketika wajahnya tersingkap, Watson bisa merasakan nafasnya tertahan selama sepersekian detik.
"Mrs. Hudson!" ia langsung memanggil dengan sekuat tenaga.
Kurang dari lima menit kemudian, wanita paruh baya tersebut datang dengan tergopoh-gopoh. Ia masih dalam piama warna biru pucatnya yang biasa. Rambut pirangnya terkepang sederhana. Ia tidak menyalakan lampu saat naik ke lantai atas, namun di salah satu tangannya tergenggam senter.
"Sesuatu terjadi, dr. Watson?" tanyanya sambil terengah-engah panik.
Pintu kamar setengah terbuka. Mrs. Hudson mendorong daun pintunya hingga terbuka. Seketika itu juga ia terlonjak hingga nyaris jatuh terduduk.
"A... apa yang... sedang... Anda lakukan... dokter Watson?" tanyanya tanpa mampu menyembunyikan gagap.
Di hadapannya, sang dokter sedang memeluk Holmes erat-erat. Keduanya bertelanjang dada, memaparkan otot-otot yang pejal dan terlatih. Beberapa kali Watson menggosokkan telapak tangan ke punggung Holmes dengan kasar. Mrs. Hudson tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun gurat di wajah sang dokter menandakan situasi yang gawat.
"Mrs. Hudson, bisa tolong ambilkan semua selimut yang kita punya?" Watson berkata dengan gusar, "oh, kita juga memerlukan teh manis panas, Mrs. Hudson. Tidak, mungkin lima menit lagi, maksud saya, sebaiknya Anda terus memanaskannya di atas kompor karena mungkin Holmes belum bisa meminumnya sekarang. Yang paling penting saat ini adalah menjaganya agar tetap sadar."
Mrs. Hudson mengangguk patuh, namun ia tidak dapat menyembunyikan kebingungan sekaligus penasarannya. Dilihatnya Holmes terkulai di bahu Watson dengan tubuh menggigil hebat. Bahkan dari bibirnya yang terkatup, Mrs. Hudson bisa melihat bahwa gigi Holmes bergemerutuk. "Sebetulnya ada apa dengan Mr. Holmes?"
Watson cuma menggeleng tidak jelas. "Saya kurang yakin, Mrs. Hudson. Tahu-tahu ia sudah mengetuk pintu kamar saya pagi-pagi buta tadi. Dan saat pintu saya buka, ia langsung terjerembab nyaris tak sadarkan diri di lantai."
"Tapi saya tidak mendengar siapa pun masuk, Dokter."
Watson cuma melempar cengiran masam pada Mrs. Hudson sambil berkomentar rendah, "Kita tahu ini Holmes, Mrs. Hudson. Seharusnya Anda lebih mengenal dia daripada saya sendiri."
"Ah, tentu saja," Mrs. Hudson seperti baru tersadar kembali, "jadi bagaimana kondisinya?"
John akhirnya melepas pelukannya. Ia mengumpulkan tenaganya untuk memapah Holmes ke atas tempat tidur. "Entahlah. Saya menemukannya dalam keadaan basah kuyup, dini hari begini saat suhu di luar sedang minus," gumamnya dengan nada sedikit kesal, "saya rasa dia mengalami hipotermia. Dilihat dari denyut nadinya yang sangat lemah dan tekanan darahnya yang terus menurun, mungkin suhu tubuhnya cuma berkisar 33 derajat celcius saat baru saya temukan tadi."
Mrs. Hudson menatap sang dokter dengan ekspresi prihatin kemudian berbalik untuk mengambilkan segala yang diminta padanya. Sebelum menuruni anak tangga, Mrs. Hudson berbalik. "Anda sendiri jangan lupa untuk istirahat, dokter Watson. Sejak semalam, Anda belum benar-benar tidur. Anda tidak boleh ikut-ikutan sakit, karena saya tidak akan bisa merawat dua orang sekaligus," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Holmes mengernyit. Telinganya menangkan bunyi-bunyian menyebalkan yang teratur.
Suara apa ini? Ia membatin gusar.
Perlahan, Holmes membuka matanya. Berat sekali, seakan kedua kelopaknya telah direkatkan dengan lem super dari resin cemara. Seketika, cahaya terang membutakan matanya. Pukul berapa sekarang?
Holmes membiarkan matanya menjelajah. Perhatiannya langsung tertancap pada jendela-jendela yang terbuka lebar, membiarkan sinar matahari pucat melenggang masuk ke dalam ruangan. Tunggu, siapa yang membiarkan jendelanya terbuka sebegitu lebarnya?
Dengan hati-hati, Holmes mencoba bangun dari tempatnya rebah. Mendadak usahanya terhenti. Pertama-tama, lapisanan selimut telah membungkusnya rapat dan hangat. Kedua, ia merasa seakan baru saja dikocok dalam botol kimia saking pusingnya. Maka, Holmes memilih dengan cukup bijaksana untuk berbaring kembali.
Hidung Holmes mengendus-endus. Ada aroma aneh yang tercium di udara, namun bukan aroma yang dikenalnya. Jelas sekali, aroma memuakkan ini tidak datang dari ramuan-ramuan tersayangnya. Cuma aroma obat-obatan yang bisa membuat sensasi semacam ini.
Jadi, jendela yang terbuka lebar… kamar berbau obat… Holmes menoleh pelan-pelan. Segera, ia menemukan wajah Watson yang terlelap pulas, tidak sampai satu meter di sampingnya. Sebuah guling menghalangi pemandangan, menjadi pagar pembatas antara Holmes dan sang dokter di sisi lain kasur.
"Berhenti mendengkur, Watson," Holmes menggerutu, "berisik, tahu."
Dengkuran sang dokter terhenti sesaat. Dengan suara separau ember pecah, Watson menjawab, "Berhenti mengganggu, Holmes. Aku mau tidur."
Sebelum dengkuran Watson berkumandang kembali, Holmes melanjutkan, "Bagaimana aku bisa berada di sini?"
"Jangan tanya aku," Watson merepet tak jelas, "harusnya aku yang menanyakan itu padamu, Holmes."
"Kau menguburku dengan selimut, Watson."
"Hm…"
"Dan aku memakai pakaianmu."
"Aku tahu."
"Apa yang sudah terjadi selama aku tak sadar, Watson?"
"Aku mengganti pakaianmu."
"Cuma itu? Kau yakin?"
Terdengar suara kuap. Watson sekarang sudah duduk di tempat tidur dengan mata menyipit karena kantuk tak tertahankan. "Sekarang kau yang berisik, Holmes. Tidak bisakah kau membiarkanku tidur dengan tenang meski cuma sekali saja?"
"Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Holmes menatap Watson tajam dengan wajahnya yang sepucat hantu.
"Kau sempat hipotermia tadi, Holmes! Demi Tuhan," Watson menukas, "apa yang kau pikir akan aku lakukan untuk itu? Apa yang kau harap aku lakukan dalam kondisi seperti itu? Apa yang bisa kulakukan kalau kau tiba-tiba datang dengan dengan kondisi basah kuyup di tengah cuaca sedingin ini? Kau bahkan tidak pernah menceritakan padaku hal-hal aneh apa saja yang telah kau lakukan sampai kau jadi begini, Holmes!"
Holmes ingin ikut duduk tapi tidak bisa, maka ia cuma merengut pada Watson sambil merutuk, "Aku cuma penasaran karena aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam."
Watson mengusap matanya singkat. Ditepuknya guling yang dibaringkan tepat membelah kasur jadi dua. "Ini batasnya, Holmes. Kali ini saja aku membiarkanmu tidur di ranjangku. Kalau kau melakukannya lagi lain kali, akan kubunuh. Sekarang, kembalilah tidur. Aku lelah."
Holmes membuang muka. Sesuatu dalam kata-kata Watson seperti baru saja menonjoknya, tapi ia tidak begitu mengerti—atau, memilih untuk tidak mengerti—apa itu. Kemudian tak lama kemudian, Holmes sudah mendengar Watson mendengkur teratur lagi.
"Tunggu," John mengerjap kaku, "kau bilang dulu aku tidak keberatan kalau kita… eh…"
Sherlock balas mengerjap dengan ekspresi tak tertebak.
"Oh, Sherlock, kau tidak pernah memperkenalkan John padaku sebelumnya,"Mrs. Hudson memecah kecanggungan, "kenapa baru membawanya ke sini sekarang?"
Wanita itu menatap John penuh simpati lalu meremas salah satu sisi lengannya. "Pasti berat melaluinya dengan Sherlock bukan, John? Tolong dimaklumi, dia memang seperti itu."
John sudah membuka mulut untuk menjawab namun Mrs. Hudson telah berlalu ke dapur. Sebentar terdengar keluhannya atas kekacauan yang Sherlock buat dengan semua tabung-tabung eksperimen kimianya yang kaya warna.
John merasakan rahangnya mengeras. Diambilnya salah satu bantal kemudian ditatanya pada sofa. Sambil membuang nafas panjang yang penat, ia merebahkan diri untuk duduk.
"Tentang yang baru kau katakan tadi," ucap John sambil berdehem keras, "aku tidak mengerti."
"Aku juga tidak," Sherlock menukas cepat.
John sempat melihat gurat panik tak kentara dalam ekspresi pria itu. Ia seperti sedang berusaha keras menyembunyikannya. "Aku menemukan website-mu semalam, The Science of Deduction."
Sherlock menghadapkan wajahnya pada jendela yang terbuka pada jalanan di bawah. "Ada yang menarik perhatianmu?" ia bergumam kabur.
John mengembuskan nafas kuat-kuat. "Kau bilang kau bisa mengidentifikasi seorang desainer software dari dasinya dan seorang pilot dari jempol kirinya."
"Ya. Itu yang kulakukan."
"Dan kau bisa membaca karir militerku dari wajah dan kakiku, kalau begitu?"
"Dan tentang kakakmu dari ponselmu."
"Sungguh hanya dengan mengamati hal-hal seperti itu saja kau bisa tahu banyak tentangku?" tanya John masih kurang teryakinkan.
Sesaat Sherlock menoleh sedikit, memerlihatkan separuh wajahnya yang tersiram cahaya mentari muram. Dikerlingnya John dari sudut mata. "Katakan padaku, John," ucapnya datar, "apa kau percaya pada kehidupan lain di masa lalu dan masa depan?"
"Maksudmu… bahwa seseorang dapat terlahir beberapa kali?"
"Reinkarnasi, kata beberapa pakar. Beberapa yang lain lebih memilih istilah 'kelahiran kembali'," ujar Sherlock, "dan pada takdir… kau percayakah?"
John menyeringai kecil. "Awalnya kupikir kau orang yang logis."
"Memang," Sherlock menyahut, "aku hanya tanya pendapatmu, itu saja."
Terdengar suara denting sendok lgam beradu dengan beling. Sepertinya Mrs. Hudson sedang membuatkan teh. Aromanya mulai terbawa hingga ke ruang utama. Segar aroma bergamot menguar di udara.
"Earl grey,"Sherlock menyeletuk.
"Aku cuma percaya pada hari ini," John tiba-tiba berucap, "kita tidak bisa terjebak dalam masa lalu karena itu adalah beban. Dan, kita juga tidak bisa terlalu berharap ke masa depan karena itu juga beban. Kita memang dibentuk oleh masa lalu, tapi toh tidak ada lagi yang bisa kita ulang. Namun apa yang sekarang kita lakukan akan menentukan siapa kita di masa depan. Jadi, kalaupun ada kehidupan di masa lalu, kupikir semua itu tidak begitu penting lagi."
Wajah Sherlock mengeras. Ia membuang tatap lagi keluar jendela.
Tiba-tiba, John merasa bersalah, entah kenapa. Ditatapnya Sherlock yang hanya tampak dari sisi samping. Ekspresinya yang kaku membuat salah satu sisi hati John berkeriut.
"Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah?" tanyanya ragu.
Sherlock masih menatap jauh ke jalanan yang lengang di bawah. Ia tidak bicara selama beberapa waktu, seakan tengah berperang pada sesuatu dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang tak kasat mata. Hingga menit-menit lambat akhirnya berlalu, Sherlock belum juga menjawab. John bergerak-gerak gelisah di sofanya. Apakah Sherlock marah padanya?
John baru akan berdiri ketika Sherlock berbalik. Pria itu tersenyum singkat.
"Lupakan saja," katanya.
"Apanya?"
"Kata-kataku tadi," Sherlock melanjutkan, "lupakan saja."
John mengernyitkan alis.
"Aku suka melantur sendiri seperti tadi. Kadang tanpa alasan. Itu salah satu bagian terburukku yang lain selain biola," kata Sherlock, "kuharap kau tidak keberatan dengan itu."
Tanpa alasan yang jelas, John merasa lega. Sepotong senyum terkembang samat di bibirnya. "Oh, tentu saja tidak. Bukan masalah buatku. Sama sekali bukan."
"Semoga kita bisa menjadi flatmate yang kooperatif, John," Sherlock mengulurkan tangan dengan hangat.
John langsung menjabatnya dengan mantap. "Semoga," ucapnya senang.
Game of Fate 4 – END
