Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)

Cerita ini merupakan fanfiction, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun. I Love BTS :*

BTS Fanfiction

Polar Opposite

Hukum kutub yang berlawanan adalah tarik-menarik, bukan tolak menolak.

[4]

.

.

Area taman itu searah dengan jalan menuju ke rumahnya. Ah, benar. Paman Shin, dan putranya—Minjae sebenarnya adalah tetangganya. Tetangganya, dan juga keluarga dari sosok yang sedang dia hampiri saat ini.

Sosok yang sibuk menarik selimutnya sambil duduk di atas ayunan yang menggantung, tidak membiarkan ujung-ujungnya jatuh di tanah. Hoseok mendengus ringan, manusia macam apa yang membawa selimut tebal ke atas ayunan?

"Yo!"

Hoseok menyapanya, Kim Taehyung, dan hanya dihadiahi muka suntuk setengah mengantuk. Hoseok menaikkan alis, melihat pemandangan ini bukan lagi hal baru. Meskipun baru sekitar 3 atau 4 tahun Taehyung memutuskan tinggal dengan pamannya, pemandangan muka setengah sadar dengan kacamata tebal bertanggar terbalik di belakang kepala tidak lupa dengan bantal yang dipeluk seperti boneka beruang besar bukanlah hal yang baru. Percayalah, Taehyung sering terlihat begini bahkan ketika sarapan pagi. Hoseok tidak heran lagi.

Hoseok tidak heran—jika dia lupa status alpha yang bersemayam dalam diri Taehyung. Sosok penguasa, gagah berani, penakluk. Seperti Tuannya dulu sebelum meninggal, gambaran alpha selalu melekat sosok yang kuat dan berpengaruh di mata Hoseok. Pemandangan yang satu ini tentu membuat semua opininya jungkir balik.

Alpha macam apa yang tidur dengan selimut kesayangan, bantal besar, dan piyama di atas ayunan? Oh, sungguh. Hoseok hanya mampu berdecak. Ini masih mending. 12 tahun yang lalu, bocah ini bahkan masih membawa boneka beruang besarnya—sekarang berganti jadi bantal. Tidak elit katanya.

"Tidur di sini lagi?" Hoseok mengambil posisi di ayunan yang lain, duduk menghadap Taehyung yang menganggukinya malas. "Malam ini dingin, lho."

Ini belum benar-benar musim semi. Masih tersisa dingin dari musim yang lalu. Hoseok sempat berpikir sebelumnya apakah bocah ini akan nekat tidur di atas ayunan jika masalahnya datang saat salju turun. Bocah ini—Hoseok menganggapnya bocah karena usia mereka terpaut 3 tahun—sumpah tidak lelah membuat sekitarnya terheran.

"Ckck," Hoseok berdecak. Yang diajak bicara hanya bergerak merapikan posisi, tidak benar-benar minat memberikan tanggapan. "Hmm… aku tidak menyangka kau akan nekat di cuaca yang dingin juga."

Hoseok mengusap hidungnya yang dingin. Setelah ini dia mau mandi pakai air hangat, minum susu coklat, lalu lembur lagi. Ah, sebenarnya ingin tidur sampai pagi, tapi apalah daya. Dia harus menyelesaikan semuanya sebelum besok pagi. Dia masih punya tanggung jawab lain, harus selesai karena setelah itu juga masih harus mengurusi Tuan Yoongi.

Ah, benar… Hoseok menoleh pada Taehyung yang mengusal pada selimut dan bantalnya. "Kau tidak ingin bertanya sesuatu? Habis ini aku mau mandi, mau lembur juga."

Hoseok menarik sudut bibirnya ketika mata mengantuk itu menatapnya. Taehyung merapikan selimutnya, lalu duduk lebih tegak ke arah Hoseok di atas ayunannya. Hoseok tersenyum lagi, "Katakan, apa yang ingin kau tanyakan."

"Hyung…" Hoseok melihat mata alpha itu seperti tertarik, namun bergerak ke sana-ke mari. Seperti ragu, tapi Hoseok masih menunggu. "Itu tadi tuanmu?"

"Hmm?" Hoseok tersenyum lagi. Ah, ingatannya berputar pada kejadian di mana Tuannya bersama Taehyung tadi sore. Sebuah kejadian yang hampir membuatnya terkena serangan jantung. "Maksudmu, Tuan Yoongi?"

"Ah, jadi dia tuanmu…"

Hoseok melihat helaan napas itu, membuatnya mau tidak mau mengerutkan kening. Dia penasaran pada sesuatu. Taehyung kemudian bertanya lagi.

"Dia yang sering kamu ceritakan itukah?"

Hoseok bekerja pada keluarga Min. Jelas, segala masalah tentang pekerjaannya jika dia ceritakan pasti akan membahas tentang tuannya juga. Hoseok mengangguk, lalu melihat Taehyung menghela lagi.

"Yang disebut sebagai tuan muda Min itu? Jadi, dia omega?"

"Memangnya kenapa?" Hoseok mengangkat sebelah alisnya. Sungguh, dia masih penasaran akan sesuatu. Akan tetapi, sepertinya nada bertanya Hoseok membuat Taehyung sedikit terhenyak.

Taehyung hanya menggeleng saja. Tangannya bergerak memeluk bantalnya lebih erat.

Hoseok melihatnya, lalu menghela napas. Pikirannya berputar ulang pada kejadian tadi sore. Dia penasaran, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang dia lewatkan?

"Hei, sebenarnya apa yang terjadi tadi sore? Kenapa kau bisa berada di sana juga?"

"Apa Tuan besarmu yang memintamu bertanya padaku?"

Hoseok seketika menoleh, mengerut tak suka, lalu mendengus lagi. "Taehyung, jangan berburuk sangka padaku. Aku memang bekerja pada mereka, tapi kau juga sudah seperti adikku sendiri."

Hoseok jadi berpikir, apakah cara bertanyanya itu salah? Ah, kenapa Taehyung jadi sesensitif ini?

"Kau tahu, aku juga manusia yang punya rasa penasaran. Aku menyaksikan alpha dan omega yang aku kenal tiba-tiba berdekatan seperti tadi. Padahal sebelumnya, kalian bahkan belum pernah berinteraksi. Kamu pikir aku tidak akan penasaran? Tidak perlu membawa nama tuan Min untukku menanyakan semua ini padamu, bocah."

Hoseok menghela napas sejenak, tersenyum tipis pada Taehyung yang termenung. "Kalian berdua sama berharganya bagiku. Aku melindungi tuanku, tapi juga tidak ingin melukaimu. Kau adalah adikku, Tae. Aih, kenapa jadi jauh sekali bahasanku! Sudah, ceritakan saja apa yang terjadi!"

"Hm… Tapi aku tidak menyakitinya, hyung…" Hoseok masih menatap. Dilihatnya mata malas yang menatap abstrak tanah-tanah di sekitar ayunan mereka. "Aku tidak merusaknya."

"Aku tahu Taehyung, aku tidak marah padamu. Kau tidak perlu seperti merasa bersalah." Hoseok menghela napasnya. "Ceritakan saja apa adanya. Lagipula, tidak ada yang melarang seorang alpha untuk bertemu dengan seorang omega."

"Kau tahu itu terlarang, hyung," sahut Taehyung cepat. "Terlarang—jika omega yang belum ditandai sedang heat didatangi alpha. Kita tahu itu terlarang."

Hoseok termenung, Taehyung ada benarnya. Jadi, inilah alasan mengapa Taehyung bersikap seperti tadi. Hoseok melihat Taehyung dengan berbagai opini, kenapa dia bisa lupa satu hal penting ini?

"Tapi, kau unik, Tae." Hoseok terlalu terbiasa pada kejadian tidak biasa yang dialami Taehyung—mungkin karena hal ini, baginya tidak masalah jika Taehyung bertemu omega yang heat. "Aku tahu, kau tidak mudah terpengaruh. Yah, meskipun aku masih sering terkejut, tapi kau tidak mudah dipengaruhi heat seorang omega."

Dan hari ini terjadi lagi, seorang alpha yang bahkan tidak menggoreskan cakar pada kulit lembut omega yang heat. Seorang alpha bernama Kim Taehyung, tetangganya yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Hoseok tertawa pelan menyadari semua ini.

Lain halnya dengan Hoseok, Taehyung justru terdiam dengan pikiran yang berputar sangat cepat. Semua ucapan Hoseok adalah benar karena hal ini terjadi berulang kali sejak rut pertamanya dimulai. Berulang kali, dan hari ini sukses membuatnya gundah setengah mati.

Untuk kasus hari ini, pernyataan Hoseok adalah salah. Hari ini dia terpengaruh. Terpengaruh bahkan membuatnya menangis tanpa suara di kamar mandi. Taehyung masih ingat betapa sakit dadanya ketika Yoongi—sosok yang dipapah Hoseok berjalan semakin jauh. Mati-matian Taehyung tidak berubah shift untuk mengejar Yoongi dan menculiknya pergi. Mati-matian, dan dia berakhir sekarat di kamar mandi.

Taehyung pulang terlambat hari ini karena berusaha menenangkan alphanya yang sakit hati. Sakit, mungkin karena dia gagal bahagia hari ini. Taehyung keheranan ketika menyadari kalau alphanya sudah begitu terpengaruh pada omega manja yang dia tenangkan sore tadi. Alphanya mulanya begitu tenang, seperti sosok berwibawa, hingga akhirnya liar dan mengamuk ketika ditinggal pergi.

Hari ini dia terpengaruh, dan Hoseok salah. Tentu saja dia mudah terpengaruh, Yoongi adalah omeganya. Mate yang ditakdirkan untuknya. Hoseok tidak tahu ini, dan Taehyung tidak ingin memberitahu.

Dia sudah cukup pusing, sumpah dia tidak siap menerima kenyataan ini. Dia bertemu omeganya, yang ternyata seorang pewaris—putra mahkota sebuah keluarga yang sangat kaya. Seorang pria yang hidupnya disegani, dan Taehyung mungkin akan menjadi ancaman jika memberitahu takdirnya ini.

Berurusan dengan keluarga kaya bukanlah perkara mudah, apalagi untuk orang biasa sepertinya ini. Biasa, belum punya tabungan yang banyak, oh impiannya untuk hidup sederhana mendekati sirna. Taehyung pusing memikirkan apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini.

"Aku mencium bau omega, lalu aku bertemu dia. Keadaannya sungguh memprihatinkan, dia hampir hiperventilasi waktu aku datang." Taehyung tidak menatap Hoseok, memilih memandang abstrak apa yang ada di depannya. "Aku membantunya bernapas lebih tenang, aku juga yang menyuntikkan suppressant."

Taehyung mendongak ketika mendengar Hoseok berdecak. Ekspresinya seperti tidak menyangka, dan kini lelaki itu bahkan tertawa. "Kau luar biasa, Tae."

"Apa kau tidak ingin bergerak lebih jauh? Dia pasti begitu menggodamu bukan? Aku pikir semua alpha akan begitu."

"Kalau boleh jujur, ya. Memang semua omega yang heat akan begitu, bukan? Tapi, tadi… kupikir Yoongi cenderung menolak? Dia tidak merangkak ke arahku. Dia menahan diri, makanya jadi hiperventilasi."

Gumaman Hoseok membuat Taehyung menoleh kali ini. Pria usia 3 tahun lebih tua darinya itu menjapit dagu dengan telunjuk dan ibu jari. Tampak berpikir keras, Taehyung hanya terdiam menunggu tanggapannya.

"Tuan Yoongi memang sosok yang punya harga diri yang tinggi. Kau tahu? Dia pandai bela diri. Kalau dia tidak sedang heat, mungkin kepalamu sudah dipuntir karena berani sedekat itu seperti tadi."

Taehyung terdiam, ah jadi memang sosok omega itu sikapnya keras makanya tidak mau begitu saja takluk pada heatnya sendiri. Tapi, ngomong-ngomong soal dipuntir oleh omega, apa iya Yoongi bisa melakukan itu padanya? Taehyung adalah matenya. Sekuat apapun omega, mereka tidak akan mampu melawan kekuatan matenya sendiri.

Duh, memikirkan hal ini jadi membuat dadanya bergemuruh aneh. Dia bertemu omeganya. Bakal calon yang akan menemani masa depannya. Aduh, Taehyung jadi malu sendiri. Dia berusaha setengah mati tidak tersenyum sendiri karena Hoseok masih di sini.

"Hari ini dia memaksakan masuk karena ada pre-test, oh aku tidak menduga akan ada kelas gabungan. Tuan Yoongi meminta kami tidak bertingkah selama berada di dalam kelas, dia percaya teman-teman sekelasnya akan melakukan sesuatu untuk melindunginya jika heatnya bertambah. Dia benar-benar sosok yang dihormati, kau tahu?"

"Begitukah?"

Hoseok mengangguk, lanjut bercerita lagi. Dia bercerita bagaimana Yoongi sehari-harinya. Gambaran sosok yang keras kepala, namun disukai banyak pihak jadi dominasi ceritanya. Keras dan tegas seperti ciri dari keluarga Min, dan berhati mulia—membuatnya mudah dicintai meski lekat dengan image dingin.

"Besok dia tidak masuk, mungkin sembilan hari kemudian dia tidak masuk."

"Eh? Kok lama sekali?" Hoseok tertawa kemudian, sementara Taehyung masih menatapnya dengan ekspresi tak percaya.

"Ya, dia memang omega dengan heat yang lama. Siklusnya teratur, tapi heatnya sepuluh hari. Oh, aku selalu terjaga untuk menjaga kamarnya dari serangan alpha manapun sepuluh hari itu."

"B-bagaimana bisa dia melalui itu semua?"

Taehyung melihat Hoseok tersenyum tipis, mengatakan kalau itulah Tuannya. Keras kepala, dari dulu ditawari 'teman' alpha yang siap menolongnya setiap heat tidak mau. Yoongi selalu tersiksa setiap heat, hanya diredakan suppressant saja. Oh, relung hati Taehyung jadi nyeri.

"Ah, aku pulang dulu ya? Sudah larut, kamu pulang saja juga. Malam ini dingin, sumpah. Selimutmu tidak akan membantu banyak."

Hoseok berhasil mengajak Taehyung kembali. Mereka berdua kemudian beriringan berjalan ke rumah masing-masing. Hoseok masih beberapa kali berceloteh, hobinya memang begini jika di luar tugas sebagai butler yang penuh karisma, sementara Taehyung hanya terdiam sepanjang perjalanan.

Taehyung diam, mendengar alphanya melenguh sedih. Menyadari betapa lama heat Yoongi membuatnya khawatir setengah mati. Yoongi selama ini tersiksa, karena perilaku keras kepalanya juga. Yoongi tidak mau disentuh alpha—hei padahal kalau heat mau pakai teman sex saja tidak dilarang lho.

Apalagi Yoongi orang kaya, jika terjadi sesuatu dengan teman sexnya kan bisa diurus segera. Ada uang, ada kuasa.

Sekarang, bagaimana kondisinya coba? Sepuluh hari, dia sudah sangat tersiksa. Apalagi untuk season ini? Omega manja itu sudah tahu siapa alphanya.

.

-Polar Opposite-

.

Tidak tahan lagi. Yoongi rasanya seperti mau mati. Sejak awal heat sampai usianya sebanyak ini, dia tidak pernah sebegitu frustasi seperti sekarang ini.

Dia frustasi, bahkan tak tanggung-tanggung berteriak kesakitan untuk heat kali ini. Ini baru hari ketiga, masih sisa tujuh hari lagi. Oh, sungguh gila. Dia ingin gigit lidahnya sendiri saja. Supaya cepat mati, daripada sekarat seperti sekarang ini.

Heat panjang memang menyiksanya, tapi kejadian ini bukan hanya terjadi padanya di dunia ini. Ada banyak omega dalam penelitian tertentu yang memang punya heat hingga sepuluh hari. Tambahan siksaan selama tiga hari, demi apapun—heat tanpa sentuhan itu adalah siksaan terkejam di dunia ini.

Bertahun-tahun, Yoongi selalu seperti ini setiap siklusnya tiba. Dia berhasil. Dia selalu optimistis, tidak seperti hari ini. Dia frustasi, dia depresi. Kalau dulu, omeganya akan gelisah meminta dibuahi siapa saja. Sekarang, omeganya berganti cerita. Omeganya memanggil alphanya. Melolong mencari alpha yang dia temui di kampusnya. Tidak mau yang lain, maunya dia.

Sumpah! Yoongi tidak tahan lagi!

Maka, dia selanjutnya menghubungi Seokjin dengan kondisi tubuhnya yang masih gemetaran. Peluhnya keluar tidak berhenti, sementara lubangnya berkedut berkali-kali.

"Yoongi?"

"Hyung, ngh—bantu aku keluar. Hnh…" Yoongi mencoba meneraturkan napas, tapi serangannya selalu datang dan pergi. "A-aku mau pergi. Bantu aku kabur… nnhh—"

Yoongi mencoba menahan lenguhan. Sel-selnya yang heat mudah sekali membuatnya gamang. Tangannya ingin menjamah, memanjakan dirinya sendiri. Suara Seokjin di seberang terdengar terkejut dan khawatir.

"T-tapi… Yoongi."

"Aku akan baik-baik saja, nnh—ikuti arahanku, hyung. Dan hmh… jangan beritahu Mamaku." Yoongi kemudian menjelaskan rencana kaburnya. Susah payah, tapi dia berhasil membuat Seokjin memahami semuanya. Panggilannya berakhir tepat ketika pintunya diketuk. Seorang maid bernama Wendy datang membawakan suppressant yang harus diminum secara teratur sebagai terapi.

"Terima kasih, Wendy."

"Sama-sama, Tuan."

"Oh! A-aku mau tidur setelah ini. Tolong jangan ada yang menggangguku, atau masuk ke kamarku, uh—h."

Wendy kemudian mengiyakan sebelum undur diri. Ketika pintu ditutup, Yoongi segera bergegas. Hari ini Mamanya sedang ada rapat. Hoseok, butler beta terdekatnya juga kebetulan menggantikan sekretaris Mama jadi tidak ikut berjaga. Semua rencana ini jadi lebih mudah.

Yoongi membuka laci, mengambil suppressant darurat simpanannya, mengenakan pakaian tertutup dan masker, lalu menyiapkan operasi kaburnya.

Aku harus bertemu dengannya.

.

-Polar Opposite-

.

Kelas pagi selesai lebih cepat. Ini bahkan belum siang, dan anak-anak regular B terpaksa kembali pulang karena kelas berikutnya adalah kelas malam. Taehyung berjalan gontai setelah turun dari halte menuju ke rumahnya tanpa memperhatikan sekitar. Jalanan perkampungan di dekat rumah yang cukup sepi karena semua orang sedang pergi bekerja. Jika saja aroma itu tidak menampar hidungnya, Taehyung tidak akan tersentak. Taehyung berbalik dengan cepat.

"Y-yoongi?!"

"Yo! Alpha." Taehyung terbelalak. Sebuah mobil yang ternyata sejak tadi mengikutinya memunculkan Yoongi yang kini menyapanya, berdiri kepayahan dengan coat tebalnya.

"A-a-apa yang kamu lakukan disini?!" Gagap, Taehyung bahkan tidak bisa mengkondisikan suaranya untuk tidak meninggi. Matanya reflek menatap sekitar, was-was jika ada aroma Yoongi mengundang kerumunan alpha. "YAK! K-KAMU MAU NGAPAIN?!"

Taehyung terkejut setengah mati, reflek memukul mundur kakinya ketika Yoongi berjalan mendekati. Setiap langkahnya, mereka berdua meringis—sama-sama merasakan nyeri di relung hati. Sama-sama sakit, namun Taehyung masih tetap mundur setiap Yoongi melangkah lagi.

"Y-yoongi?"
"Berhentihh.. Bodoh, uh—k ini sakit, sialan." Yoongi terengah, menumpu pada lututnya sembari memicing pada Taehyung yang masih dengan ekspresi terkejutnya. Taehyung reflek berhenti bergerak. Matanya sempurna menatap Yoongi yang sudah tidak karuan. "J-jangan mundur. Aih, sial! Turuti aku saja bisa tidak sih?! Nghh—"

Yoongi mengerang, kali ini reflek membuat Taehyung berlari dan meraih bahunya.

Dan ketika tangan Taehyung mencengkramnya, gelombang itu bergejolak dengan jelas. Seperti aliran besar yang membuat Yoongi dan Taehyung sama-sama mendapat ruang terbuka, setelah terjebak pada ruangan pengap dan menyesakkan.

"Y-yoongi?"

Taehyung menampar kesadarannya lagi. Dihadapkannya tubuh Yoongi sehingga dia bisa mengamati lebih jelas. Namun demikian, Yoongi pun menarik kendali diri. Dia meminta wajah Taehyung sedikit menjauh, meskipun tidak kuasa membuat cengkraman si alpha untuk lepas dari bahunya. "J-jangan terlalu dekat."

"E-eh?"

Yoongi menarik napas dalam, kemudian mengumpulkan kekuatan untuk balas menatap Taehyung. Taehyung masih menatapnya khawatir, tidak peduli aroma omega ini hampir menguasai system pengendali dirinya.

"S-siapa namamu?"

Taehyung mengerjap, matanya menatap heran omega yang gemetar di dekatnya itu. Mata sayunya terpatri dalam ingatan, Taehyung perlu menelan salivanya untuk menjawab pertanyaan. "Taehyung. N-namaku Kim Taehyung."

"Taehyung?" Shit! Seketika sengatan itu merambat cepat, membuat Taehyung dengan jelas merasakan jantungnya berdegup keterlaluan. Yoongi menghela namanya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan lenguhan, membuat Taehyung semakin tidak nyaman. "K-kita harus ke apartemenku. Sekarang. D-dengan mobil itu."

"A-apa?!"

Shoot! Taehyung meninggi, membuat Yoongi reflek mengerut karena takut dan terkejut. Ah, ini yang terjadi jika omega memerintah alpha. Taehyung kemudian terhenyak, segera sadar kalau nadanya membuat Yoongi menciut. "O-oh, sorry."

Yoongi mengangguk, kini Taehyung meraih bahunya untuk disandarkan. Taehyung merasakan seluruh selnya menegang, kaku, seperti ingin pecah sebentar lagi. Dia berduel semakin sengit, memperebutkan kendali diri—sama seperti yang Yoongi lakukan.

Kemudian, dia mendengar lenguhan Yoongi, Taehyung segera menunduk. Yoongi kini menggumam lemah, "K-kumohon.."

Taehyung sama sekali tidak tahu apa maksud semua ini. Pikirannya mencoba menampik mimpi buruk yang mungkin dia lakukan di apartemen yang diminta Yoongi. Sungguh, Taehyung tidak berani. Namun demikian, memisahkan diri dari posisi sedekat ini juga sama seperti bunuh diri. Taehyung semakin dalam ambang batasnya, begitupun Yoongi.

Ketika Taehyung memberikan tubuhnya untuk bersandar tadi, sepenuhnya Yoongi pasrah. Pasrah, jika nanti Taehyung menolak dan membuatnya sekarat di tempatnya berdiri kali ini.

Dan sungguh, helaan napas itu membuat jantungnya semakin berlari. Jantungnya dan jantung ruh omeganya yang cemas pada respon alpha ini. Yoongi cemas, tanpa sadar menggigit bibir bawahnya hingga tercium bau anyir. Cemas, namun seketika merasa terbang ketika tubuhnya tidak lagi menapak.

Tubuhnya diangkat, diturunkan pada kursi belakang. Namun demikian, cengkraman itu tidak terlepas, dan ketika pintu tertutup—Yoongi sadar kalau alpha ini tengah duduk di sebelahnya.

"Sudah?"

Suara Seokjin terdengar, membuat rona kemerahan terasa merambat panas dari wajah hingga ke belakang kepala. Yoongi mencoba mengangkat kepalanya, seketika terasa ingin cepat-cepat bersandar lagi.

"P-parkir dekat pintu darurat. Kau tahu tempatnya kan, hyungh…"

Suaranya serak-parau, membuat Taehyung reflek meremas lengan Yoongi yang terjauh, dan memejamkan matanya. Suara alphanya yang melolong terdengar jelas, Yoongi mungkin juga dengar. Taehyung hanya bisa mematung sepanjang perjalanan.

Yoongi pun tak jauh berbeda, hanya diam dan bergerak tak nyaman ketika gelombangnya melonjak naik. Hanya ketika dia melenguh, dia akan bergerak sedikit, membuat posisinya semakin dekat hingga menepel pada Taehyung, dan yang Taehyung lakukan adalah menggeram pelan untuk menenangkannya.

Mereka berdua sama-sama menahan diri, meskipun sebagian dari sadarnya sudah dipenuhi kabut penuh sensasi. Mereka berdua dalam dunia mereka sendiri, tidak peduli pada Seokjin yang merona melihat interaksi sepasang alpha-omega yang ada di kursi belakangnya.

Aih… Aku tidak tahan. Namjoon, hiks.. aku mau Namjoon juga. T.T

.

.

-TBC-


Mind to Review?

Halo, saya kembali. Tidak bisa menjanjikan update cepat karena sedang ada tanggungan :" Stay safe! Ada gempa :" Doakan target laporan saya selesai segera /\-

Sorry for typo (s), I don't have a personal editor kkk..


Selamat datang di keabsurdanku yang lain..

Salam

Sugar sister!