Title: Colorblind
Summary: Hidupmu terasa hitam putih dan tidak butuh lama sebelum kau juga hanya bisa melihat duniamu hitam putih.
Pairing: North/Pitch Black
Rate: T
Disclaimer: Bukan yang saia~!
Bacotan: Mulai lelah dengan kembali bermunculannya hoax dan artikel-artikel fake positivity yang isinya menyarankan orang-orang dengan mental illness cukup hidup sehat teratur dan makan yang sehat dan ga perlu berobat dan terapi. Like whaaat…? (Tidakkah mereka sadar "hidup sehat makan sehat" yang mereka anjurkan itu justru malah makin bikin susah lol? Orang depresi mau bangun dari tempat tidur ajah susahnya setengah mati kok disuruh lari?)
Colorblind—Counting Crows
Taffy stuck, tongue tied
Stuttered shook and uptight
Pull me out from inside
I am ready, I am ready
I am ready, I am fine
Hidupmu terasa hitam putih dan tidak butuh lama sebelum kau juga hanya bisa melihat duniamu hitam putih.
Kau berharap kau setidaknya punya awal cerita yang menarik, tapi tidak. Awal ceritamu dimulai dengan terbaring di kursi panjang untuk ketiga kalinya tahun ini, dengan seorang psikiater pirang melontarkan pertanyaan demi pertanyaan untuk mendalami pikiranmu yang digerogoti oleh penyakit akibat undian genetik yang tidak adil.
"Bipolar tipe I," kakakmu bergumam mengulangmu saat menjemputmu seusai terapi. Tangannya pucat dari menggenggam setir kuat-kuat, suaranya bergetar, dipenuhi entah rasa kasihan pada diri sendiri atau dirimu.
"Dokter Sanderson menganjurkan segera memulai terapi."
"Apa… apa ada resep yang harus kita tebus sekarang?"
Kau mengangguk kaku, tidak berani menoleh ke samping, tidak berani bertemu mata hitam kakakmu di kursi kemudi. Tidak sekarang, tidak di jalan, dan tidak saat di rumah ketika kau terbangun oleh isakan Seraphina yang menangisi bingkai logam berisi foto orangtua kalian sendirian di kamarnya.
"Mama…" desaunya pilu dan penuh rindu, memanggil-manggil sosok pelindung kalian yang telah pergi lima tahun lalu karena penyakit yang sama denganmu.
Ibumu, diberkatilah jiwanya, bunuh diri dalam satu episode depresinya, tanpa peringatan, tanpa tanda-tanda. Hanya meninggalkan kecupan selamat malam sebelum keesokan paginya tetangga kalian mengetuk pintu sambil menangis.
Mengunci diri dalam mobil dan menghirup asap knalpot, katanya. Tidak sebaiknya dilihat, katanya.
Malamnya, ayahmu pulang, masih dengan seragam militer dan wajah lelah, memeluk kedua anaknya yang menangis sambil mencoba kuat sebelum akhirnya runtuh juga.
Di hari pemakaman, hanya beberapa dari keluarga ibumu yang datang. Pakaian hitam rapi dan topi hitam bercadar.
Turut berduka cita, kata mereka. Sayang sekali dia tidak akan istirahat tenang, kata mereka lagi. Bunuh diri adalah dosa, dia sudah pasti masuk neraka.
Upacara melayat itu tidak berlangsung lama. Tidak setelah kau mengamuk, berteriak, dan melempar kepala salah satu paman dan satu sepupumu dengan vas bunga dan hanya berhenti ketika setidaknya lima orang berhasil menahanmu. Seminggu kemudian kau mendapat telepon dari nenekmu yang hanya memaki dan mencecar.
Anak pelacur, jerit wanita tua itu, kakakmu paling-paling akan bernasib sama dengan ibunya. Hamil di luar nikah dan bunuh diri lantas masuk neraka.
Kau ingat kau tertawa mendengar itu. "Kau yang akan pertama tahu kalau kau bertemu kami disitu, jalang tua," balasmu sebelum membanting telepon.
Beberapa bulan setelahnya, kau semakin jarang ke rumah ibadah sebelum akhirnya sama sekali tidak. Tuhan tidak bisa menolongmu.
Tidak sampai sebulan kemudian, kakak dan ayahmu juga.
Bipolar, sahut mahasiswa sebangkumu seusai kelas pertamamu semester itu, bukan padamu tapi pada gadis berambut biru yang duduk di sampingnya. Kedua mahasiswa itu tergelak keras, seakan-akan ada yang lucu.
Gadis itu membalas sambil tertawa; pacarnya terlalu manis, alasannya. Dia hanya tahan marah selama satu menit sebelum kembali baikan, katanya.
Makanya, tambah pemuda berkemeja putih itu, gadis ini terlalu bipolar.
Lalu tawa lagi, sebelum pertanyaan melayang padamu. Ya kan, gadis rambut biru ini bipolar, tanya mahasiswa itu.
Kau tidak berpikir panjang ketika kau balas bertanya; "Tipe apa?"
Mereka terlihat bingung.
Kau mengulang pertanyaan; "Tipe yang mana?"
Tawa canggung mereka membuatmu sadar. Tidak, mereka tidak berbicara tentang bipolar yang 'itu'. Kau menepuk kepalamu sambil berseru; "Oh, maksudmu bipolar?" Berpura-pura bodoh, berpura-pura seperti kata-kata mereka tidak mengirismu hidup-hidup.
"Iya," jawabmu berat pada akhirnya. Mahasiswa itu—yang namanya tidak kau ingat itu—bipolar sekali. Mulutmu tertawa setelah itu, tetapi tidak hatimu.
Malamnya Seraphina menenangkanmu meskipun dirinya sendiri tersedu-sedan melihat goresan merah di pergelangan tanganmu.
Seraphina akhirnya menikah, setelah dua tahun menunda dengan alasan lebih penting menjagamu daripada menikah saat itu. Pernikahannya tidak berlangsung lama. Cerai, karena Seraphina lebih sering di rumah kalian daripada rumah suaminya untuk mengurusmu dan rupanya itu menyebabkan kecemburuan sosial (hahah, lucu, kau bisa bercanda sekarang).
Kata mantan suami kakakmu kau sakit. Telunjuk yang mengarah padamu belum pernah terlihat semenghina ini. Kau rusak, tambahnya.
"Dia memang sakit," jawab Seraphina membelanya, "tapi bukan berarti dia rusak."
Tidak, bantah pria marah itu, dirimu rusak, sakit jiwa, gila. Tidak ada orang normal yang butuh menelan obat tiap hari untuk hidup stabil, tambahnya, dirimu ketergantungan obat.
Memalukan, cercaannya masih berlanjut, nama baik keluarganya bisa rusak kalau ketahuan dia menikah dengan wanita dengan riwayat penyakit jiwa di keluarganya dan Seraphina seharusnya berterima kasih dia masih mau menikahinya.
Seraphina tidak pernah mengangkat tangan untuk menampar suaminya, tidak perlu. Kau sudah terlebih dahulu menyiram teh yang sebelumnya terlupakan selama sejam ke wajah pria itu. Sedikit menyesal cairan itu tidak lagi panas, tapi kau memutuskan kau sedang tidak ingin dituntut ke pengadilan.
"Keluar!" teriakmu, "keluar dan tidak usah ke rumah ini lagi kalau hanya untuk bikin ribut!"
Baiklah, jawabnya. Dia akan mendinginkan kepalanya dan menjemput Seraphina ketika sudah lebih baikan.
Tapi Seraphina tidak berpikiran seperti itu. "Tidak usah," desisnya sebelum meminta cerai saat itu juga.
Oh, Sera sayang, pikirmu, pernikahannya tidak akan hancur kalau saja Seraphina tidak terlalu peduli pada dirimu.
"Aku tidak apa-apa, dear," ujar Seraphina masih berlinang air mata. "Dia memang brengsek."
"Maaf."
"Bukan salahmu."
"Aku rusak."
Seraphina tersenyum di balik air matanya, jemari lentiknya mengusap pipimu. "Tidak ada yang salah denganmu."
Kau nyaris percaya untuk sesaat.
Hubungan pertamamu tidak berjalan baik dan tidak berakhir baik. Kau tidak cukup mencoba, katanya, dia lelah dengan mengurusimu tiap kali kau tidak merasa ingin bangun dan dia muak dengan suasana hatimu yang terlalu cepat berubah.
"Sekali lagi," tawarmu, "Kali ini sambil aku menjalankan terapi."
Kau tidak perlu terapi, balasnya, kau yang mengendalikan hidupmu sendiri. Kau hanya perlu berpikir positif!
"Tidak, aku butuh obatku."
Wanita itu berteriak, histeris. Kalau begitu tidak, bentaknya, dia tidak ingin pacaran dengan orang ketergantungan obat.
Kau hanya memandangnya datar dan mengangkat bahumu dan pergi meninggalkannya. Kau rusak, katanya terakhir kali sebelum kau melewati pintunya.
Kau tertawa pelan. Kau sudah tahu itu, dia tidak perlu mengingatkanmu.
Ayahmu akhirnya pensiun dari militer dan rumahmu menjadi sedikit lebih ramai. Seraphina selalu mengeluh dia bau rokok, tetapi tetap membelikannya sekotak batang racun itu tiap minggu.
Lalu dia menemukan sedikit ketenangan dengan mengonsumsi bir, dan tidak lama kemudian wiski. Ayahmu bukanlah tipe pemabuk yang kasar dan berbahaya; hal paling berbahaya yang pernah dia lakukan selagi mabuk adalah nyaris meminum air toilet karena dia merasa dirinya adalah saudara Aster, kucingmu, yang terpisah saat masih bayi.
Mukanya merah tiap kali kau mengingatkannya.
Tidak kau ataupun Seraphina memaksanya untuk berhenti, dan tidak butuh waktu lama sebelum kau mengikuti kebiasaannya. Ketika dia berhenti—demi kebaikanmu tetapi dia tidak akan membebanimu dengan mengakui itu, kau beralih ke rokok.
Seraphina berhenti membelikan rokok dan ayahmu tidak protes.
Hubungan kedua dan ketigamu juga tidak berjalan dan berakhir baik, dan setelah itu kau memutuskan untuk tidak berurusan dengan cinta dulu.
Mungkin generasimu terlalu banyak dicekoki novel-novel dan drama romansa yang tidak masuk akal.
Kau tidak perlu obatmu, kata mereka, kau baik-baik saja tanpanya. Mereka lebih suka dirimu yang sesungguhnya.
Masalahnya, kau yang sesungguhnya adalah kau dengan hormon yang seimbang. Dengan obat.
Kau rusak dan mereka kasihan padamu, kata mereka.
"Simpan kasihanmu untuk pacar berikutmu. Semoga penis seukuran jarimu bisa memuaskannya," balasmu datar sambil melangkah keluar meninggalkan pria dengan harga diri yang hancur berantakan.
Ketika akhirnya kau lepas dari hubunganmu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun kau mengunjungi psikiatermu yang langsung menerimamu dengan tangan terbuka. Dokter Sanderson tidak terdengar senang dengan ceritamu tentang tidak mengonsumsi obat-obatmu, tetapi berusaha profesional dengan pendapatnya.
"Ini resepmu, Tuan Black," katanya di akhir sesi sambil menyodorkan secarik kertas yang menentukan kelangsungan dan kualitas hidupmu. "Aku senang kau memutuskan untuk melanjutkan terapimu."
Apoteker yang bekerja di tempat kau menebus obatmu terlihat senang dan lega melihatmu. "Kau sudah lama tidak kesini! Aku sedikit khawatir. Bagaimana hidup?"
"Aku baik-baik saja, Toothy, hanya sedikit patah hati."
Senyumnya sedikit menghilang dari wajahnya. Dia selalu cepat dalam mengambil kesimpulan. "Oh, kau butuh tempat curhat? Aku selesai tugas sepuluh menit lagi."
Kau menolak. "Mungkin nanti, Tooth. Aku sedikit lelah hari ini."
Dia mengangguk, lalu buru-buru ke satu rak setelah memberi isyarat menyuruhmu menunggu sebentar, kembali dengan sebungkus permen kenyal rasa apel di tangannya. "Traktiranku," katanya sambil tersenyum cerah, "jangan lupa sikat gigi setelahnya, tapi."
"Terima kasih, dear."
Malam itu kau meminum obat tidurmu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dan tertidur lelap untuk pertama kalinya sejak hubungan pertamamu mulai.
Orang yang paling bersemangat dengan kau melamar kerja adalah ayahmu, sementara Seraphina cemas setengah mati.
"Kau sudah menyiapkan jasmu? Ijazah? CV?"
"Sudah, sudah, dan sudah."
"Baiklah, kau tidur jam sembilan malam ini."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi. Jam sembilan."
Tidak ada gunanya membantah.
Wawancara kerjamu sedikit menegangkan. Sedikit. Hanya cukup untuk membuatmu mau melompat dari puncak menara Eiffel.
"Anda yakin penyakit Anda tidak akan menghalangi pekerjaan, Tuan Black?"
Kenapa selalu penyakitmu yang dipermasalahkan?
"Saya terapi secara teratur. Saya yakin saya bisa bekerja seoptimal mungkin."
Pria itu mengangguk, tetapi kau tidak tahu apa arti anggukan itu. Anggukan yang artinya, ya kau tidak akan bekerja disini atau berarti ya, kurasa kau cukup baik untuk bisa mulai bekerja nanti sepuluh tahun lagi.
Bulan berikutnya, kau menerima surat bahwa kau diterima mengajar literatur di perguruan tinggi. Kau kira kau akan lebih senang, tetapi kabar dari Seraphina mengalahkanmu telak.
"Jack melamarku."
Itu bagus. Jack baik, meskipun sedikit jahil dan lebih muda sepuluh tahun dari Seraphina. Kau suka Jack, dia orang yang tepat.
Kau merasa membeli sampanye sedikit terlalu berlebihan, tetapi kau terlalu senang untuk peduli. Terlebih ketika Seraphina menambahkan; "Dan aku akan punya anak."
Dua botol sampanye, kalau begitu.
"Aku sedang tidak bisa minum alkohol, love," keluh kakakmu sambil tertawa.
"Bagaimana kalau kita mabuk soda dan pizza saja?" balas ayahmu. Kau setuju. Pizza selalu baik. "Dengan nanas."
"Tanpa nanas," balasmu.
"Tanpa nanas, mengerti."
Pertama kali kau bertemu Nicholas adalah di pernikahan Seraphina. Kesan pertamamu? Dia adalah pria ribut berlogat Rusia yang tidak mengerti konsep ruang pribadi.
"Wine?" tawarnya.
"Tidak, terima kasih."
Setidaknya Nicholas cukup mengerti dengan kata 'tidak'.
Kedua kalinya adalah ketika dia mengantarkan Jack dari tempat kerjanya saat keponakanmu lahir. Jack tidak bisa tidak panik. Melahirkan di usia Seraphina cukup berisiko, kata dokternya. Nicholas diam disitu dan seharian menenangkan Jack yang terkena serangan panik. Untungnya yang terburuk tidak terjadi.
Keponakanmu lahir dengan baik-baik saja, rambut merahnya sangat mirip dengan milik ibumu. Seraphina menamainya Katherine. Nama ibumu.
"Dia kecil sekali," gumam Nicholas sambil menyentuh tangan mungil Katherine dengan telunjuknya yang langsung digenggam bayi kecil itu, membuat posisi kalian sedikit canggung karena Katherine berada dalam gendonganmu setelah Seraphina dan Jack menawarkan menggendongnya. Katherine tidak terlihat senang ketika dia menarik telunjuknya, dan Nicholas merasa tangisan bayi di tengah malam dalam rumah sakit tidaklah baik.
Kalian diam dalam posisi canggung itu selama sejam.
Kali ketiga adalah saat kau menebus obatmu dan merasa pria berambut cokelat yang sedang mengobrol dengan Tooth itu terlihat sangat familiar.
"North?"
"Pitchiner! Kebetulan sekali! Sedang apa?"
"Menebus obatku."
Nicholas tidak bertanya lebih jauh, hanya mengangguk. Lalu kau menyadari lengannya yang digips.
"Apa yang terjadi padamu, dear?"
"Oh, biasalah. Ditabrak mobil."
"Itu bukan masalah biasa, Nicholas," balas Tooth sambil merengut. "Terlebih tidak dalam bidang pekerjaanmu dan tidak kalau karena mengejar copet."
"Ah, detail kecil."
Sekarang kau jadi lebih penasaran dengan pekerjaannya daripada pada nasib copet itu. Mulutmu sudah terlebih dahulu bersuara sebelum pikiranmu selesai berpikir; kau menawarkan untuk mengantarkannya pulang. Menunggu bus dengan keadaannya pasti tidak menyenangkan. Apalagi di tengah musim dingin begini.
Dia menerima tawaranmu dengan sangat senang hati. Mungkin terlalu senang sampai-sampai dia membelikanmu tiga keping kue dengan serpihan coklat dari toko kue di depan rumahnya. "Ini sangat enak. Cobalah."
Kau berterima kasih dan dia membalas dialah yang harus berterima kasih.
Sesampainya di rumah, nyaris ada perang dunia ketiga ketika kalian berempat sadar akan ada dua orang yang harus berbagi kue. Kau mengalah, sambil berharap pengorbananmu cukup untuk menjaga kedamaian antara ayahmu, Seraphina, dan Jack.
Dan mungkin kau sedikit berharap kau sekarang punya alasan untuk meminta Nicholas menemanimu ke toko itu lagi.
Rumahmu bukanlah lokasi yang ideal, kau sadari. Menilai essai ditemani oleh bunyi kerincingan bayi bukanlah suasana kerja yang kondusif, terlebih ketika bunyi kerincing itu jauh lebih menarik daripada menyisir ejaan-ejaan kata yang salah dan kesalahan tatabahasa yang tidak masuk akal. Juga, sedikit tidak enak rasanya ketika kau mengalami disosiasi saat sedang menambah volume televisi dan tidak menyadarinya sampai tangisan Katherine terdengar. Atau ketika kau mengalami disfungsi eksekutif dan tidak mempunyai tekad untuk bangun dari tempat tidurmu, atau ketika kau duduk termenung padahal kau tahu kau harus segera mematiikan kompor agar siulan teko di atasnya berhenti, atau ketika episode depresimu datang dan kau merasa tidak berguna dan nyaris semua penghuni rumahmu harus menghentikan kegiatan mereka untuk memastikan kau tidak akan mencoba hal-hal yang membahayakan nyawamu.
Dan tentu saja masalah perjalanan yang cukup jauh antara rumah dan universitas tempat kau mengajar cukup menyiksamu yang tidak punya waktu tidur teratur.
Kau menceritakan masalahmu, dan setelah sedikit tawar-menawar, akhirnya mereka membiarkanmu pindah.
"Minta tolong North yang mencarikan saja, dia punya banyak kenalan agen bangunan. Kau mau nomornya?" kata Jack.
Kau tidak yakin kau pernah menekan tombol telepon secepat ini sejak obsesimu dengan belanja di televisi berakhir.
Entah bagaimana caranya, Seraphina meyakinkanmu untuk punya teman sekamar, dan entah bagaimana caranya pula Nicholas berakhir menawarkan dirinya.
"Aku tidak ingin menyusahkanmu, Nicholas."
"Tidak, sudah berpikir untuk pindah sejak setahun lalu. Aku butuh suasana baru."
"Bukan. Kau harus tahu, aku bipolar."
"Terapi dan obat?"
"Rutin. Terkadang lupa minum obat. Tapi rutin. Ya."
"Aku tidak memaksa kalau kau tetap tidak mau, tapi kau tidak perlu merasa kau akan menyusahkan karena penyakitmu. Pertimbangkan saja lagi."
Setelah seminggu penuh pertimbangan—ditemani seloyang puding coklat untuk menghilangkan kantuk (sebenarnya tidak, kau hanya mencari pembenaran), kau menerima tawaran Nicholas. Dan mengajaknya membahas tempat baru kalian di toko kue depan rumahnya (kau tidak bisa menyangkal kau ketagihan).
"Lalu bagaimana dengan rumahmu yang sekarang? Bukan kontrakan, kan?"
"Temanku Aster akan tinggal disini."
Kau tersedak oleh kuemu ketika tertawa. Nicholas hanya memandangmu lucu sambil menawarkan air.
"Ada apa?"
"Kucingku," jawabmu, "Kucingku namanya Aster."
Kalian menemukan apartemen yang cukup baik, tanpa jam malam, cukup luas, cukup terjangkau, dan air hangat. Juga tenang dan cukup dekat ke tempat kerja kalian berdua. Dan peliharaan diizinkan. Itu penting.
Begitu barang-barang kalian selesai dipindahkan dan ditata ulang akhir minggu itu, kau memutuskan kau mau memelihara kucing baru lagi karena ayahmu terlalu sayang pada Aster dan kau tidak tega memisahkan mereka. Kalian secepat mungkin mengadopsi seekor kucing abu-abu berbulu panjang yang ada di penampungan binatang di sebelah apartemen.
Kalian namai dia Aster III. Jack meledak dengan tawa mengetahui hal itu.
Ketika Nicholas mengatakan dia menyukaimu, kau sedikit takut rutinitas kalian akan berubah. Kau takut dia akan mencoba merubah dirimu. Kau nyaris menolak.
"Aku rusak," katamu.
"Tidak ada yang salah denganmu."
"Aku kecanduan obat."
"Kau membutuhkan obat."
"Apa kau akan mencoba menghentikanku minum obat?"
"Tentu saja tidak."
Kau tidak menolaknya.
Tidak banyak yang berubah setelah lima tahun.
Bangun tidur dan langsung bersiap masih sulit untukmu, tetapi ucapan selamat pagi dan aroma seduhan kopi membuatnya sedikit lebih mudah.
Tidak ada mainan dengan kerincingan untuk Aster III, dan dia cukup baik untuk tidak menjatuhkan barang-barang dari rak. Satu-satunya bunyi yang bisa memecah konsentrasimu—yang sangat sulit dimulai, ya Tuhan—adalah bunyi pintu terbuka ketika Nicholas pulang, dan kau sungguh tidak keberatan dengan itu.
Kau masih merasa seperti tiran di hari-hari manik dan seperti sampah di hari-hari depresi, tapi kau melaluinya, meskipun terkadang butuh sogokan kue kering sebelum kau mau membuka mulutmu dan menelan obatmu.
Terkadang kau masih memandang kosong ke televisi tanpa tahu apa yang kau lihat, terkadang kau mengelus Aster III dan tidak sadar kau hanya mengelus udara kosong selama sepuluh menit setelah dia pergi. Kau masih kesulitan beranjak dari sofa ke tempat tidur dan menghabiskan berjam-jam menonton ikon yang melayang-layang di layarmu sampai Nicholas bertanya; "Besok mengajar?"
"Uh… kuliah. Jam sepuluh."
"Pulang?"
"Lima."
"Mau kubelikan kue dari Lunanoff?"
"Uh-huh."
Semuanya tidak berubah 180 derajat. Kau tetap membutuhkan obatmu seumur hidup dan Nicholas tetap membutuhkanmu untuk membantunya mengatur keuangan toko mainannya (tidak pernah kau bayangkan). Kalian berdua punya cela masing-masing. Tidak masalah. Semua orang bercela, beberapa lebih banyak dari yang lain. Meskipun itu tidak menghentikanmu berangan seandainya kau tidak seperti ini, seandainya kau lebih baik dari ini.
"Mungkin kalau kau berhenti menghak milik selimut kita dan membiarkanku kedinginan tengah malam, Pitchiner, tapi kurasa selain itu tidak ada yang salah denganmu."
Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kau melihat duniamu tidak sehitam putih yang kau sangka.
Colorblind—End
Yeehaw. Jadinya panjang beud, hahah. Eniwei, ripiu?
