Sanggama adalah candu baru bagi Shoto.
Satu malam itu benar-benar menjungkir-balikkan akal sehat.
Selama dua belas hari ia menikahi Izuku, ia tidak pernah menyangka istrinya tersebut bisa begitu menggairahkan. Caranya mengedip perlahan ketika lelah, halus kulitnya, harum tubuhnya, bulir keringatnya, lenguhan nikmatnya, rintihan sakitnya; semua itu membuat Shoto begitu tergila-gila dengan Izuku. Ia bahkan kini mencium Izuku setiap bangun tidur, memeluknya sebelum pergi kerja dan menyetubuhinya sebelum tidur. Pun senyum Izuku semakin murah kepadanya, cerah merona setiap kali Shoto menunduk dan memberikan belaian sayang di kening atau belahan payudara Izuku menggunakan batang hidungnya yang mungil. Kemarin mereka adalah sepasang orang asing, kini mereka adalah pengantin baru yang tidak bisa berhenti saling menyentuh.
Beberapa pekan ini juga, Shoto dan Izuku selalu makan malam di luar. Alasannya, Izuku akan berlama-lama duduk di sebuah cafe atau restoran sambil mengetik naskah. Kadang dengan bergelas-gelas jus buah segar atau peach ice tea. Ia bilang perkembangan naskahnya lumayan menjanjikan. Shoto hanya bisa mengulum senyum dan memberikan dukungan semampunya.
"Ah, akhir pekan ini Shoto makan sendiri nggak apa, kan?" tanya Izuku. "Aku mau ketemu Iida dan Ochako."
"Iida?" Shoto mengangkat muka dari spaghetti yang ia makan. "Siapa itu?"
"Teman kuliahku. Ochako sebetulnya namanya Uraraka. Tapi mereka menikah. Kami bertiga selalu satu section waktu praktikum."
"Memang jurusan sastra ada praktikumnya?" tanya Shoto.
"Ah? Aku kan tidak kuliah sastra. Aku ini lulusan diploma tiga Vokasi Seni Kuliner di Akademi Pariwisata Fukurodani."
Shoto tersedak segumpal pasta yang tengah ia berusaha telan sebelumnya. Beberapa batuk kecil, sampai akhirnya ia bisa minum untuk meredakan shock ringan yang ia dapat. Izuku hanya menatap suaminya dengan pandangan heran dan sweatdrop imajiner.
"Aku belum cerita, ya?"
Shoto menggeleng. "Aku hampir tidak mengenalmu. Aku cuma tahu tentang pekerjaanmu yang sekarang, alamat orangtuamu dan nama orangtuamu. Itu saja."
"Oke, oke." Izuku tertawa hambar. "Uhm...apalagi yang kau ingin tahu?"
"Umm..." Shoto menandaskan suapan terakhir makanannya sebelum berkata lambat-lambat. "Tanggal lahirmu."
"15 Juli 1985."
"Bohong." Shoto menyembur kasar. "Mana sini lihat KTP-mu."
Izuku menyerahkan dompetnya, dan membiarkan Shoto membuktikannya sendiri. Dengan tinggi yang bahkan kurang dari 160cm ditambah wajah manis menggemaskan, sungguh ajaib ternyata istri yang ia nikahi ini tujuh tahun lebih tua!
"Aku merasa bocah..." Shoto membenamkan wajahnya ke kedua lipatan sikunya yang terlipat di meja. "Kuso..."
"Kupikir kau sudah tahu. Kan di pencatatan sipil kita tandatangan surat nikah." Izuku tertawa. "Iya. Jadi, bulan lalu umurku sudah 32."
Shoto mendengus. "Terus, setelah itu kenapa nggak jadi chef? Jujur saja, kariermu nggak nyambung."
"Jadi chef itu..." Izuku menyeruput minumannya dengan tidak selera. "Bahaya. Apalagi perempuan. Saat masuk tahun pertama, kami sudah diperingkatkan sama dosen kalau perempuan yang bekerja di industri kitchen itu rawan. Makanya, mahasiswa laki-laki di kelas kami diwajibkan menjaga mahasiswinya. Tapi, kalau di dunia nyata kan tidak begitu."
"Aku lihat di TV juga banyakan laki-laki, sih. Tapi kayaknya lebih ke arah endurasi kerja."
"Salah satunya." Izuku mendadak muram. "Aku muak kerja di kitchen industri. Gajinya besar, tetapi dibandingan dengan kerja 27 hari dalam sebulan, dari jam 7 pagi hingga 10 malam, ditambah kasus sekuhara...kurasa aku lebih baik berhenti saja."
"Kenapa tidak lapor ke HRD?" tanya Shoto.
"Percuma saja." Izuku menggeleng. "Tidak ada bukti. Tekanan sosial juga lebih tinggi kalau aku melapor. Dan juga, bercandaan vulgar sebenarnya dianggap biasa. Jadi, yang kuanggap sekuhara bisa saja dialibikan sebagai bercanda."
"Tapi..." Shoto mengerenyit. "Itu keterlaluan."
"Memang." Izuku mengulum senyum. "Makanya aku berhenti. Menyakitkan memang membuang cita-cita. Tapi, setidaknya pekerjaanku yang sekarang meminimalisir resiko seperti itu."
Shoto merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Pantas saja Izuku tidak pernah cerita banyak tentang masa lalunya. Ia hanya sering menceritakan masa sekarang, pengalamannya bertemu editor, acara TV, segalanya yang ringan dan terkesan tidak penting. Ternyata itu semua demi mengubur dalam kenangan pedih yang ia ingin sekali lupakan. Shoto berdiri, berpindah duduk di sebelah Izuku dan membenamkan tubuh Izuku ke dalam pelukannya. Ia gemetar, entah kenapa ia merasa ingin menangis. Helai hijau berombak itu ia belai dengan penuh kasih, kecupan di puncak kepala di berikan dengan begitu lembut.
"Shoto?" Izuku balas memeluknya.
"Ada aku." Katanya dengan parau. "Izuku. Ada aku sekarang."
Izuku mengusap-usap punggung Shoto. "Sankyuu. Sekarang lepas dulu, ya. Ini kan tempat umum."
Shoto melepaskan pelukannya dengan canggung.
"Ah, iya. Aku butuh bantuanmu." Izuku menunjukkan naskah ketikannya. "Ini buat dikirim ke Monoma-san. Tentang dark mystery. Aku butuh desain rumah yang seperti ini. Coba baca."
Shoto memicingkan mata, membaca paragraf yang ditunjukkan Izuku di layar laptopnya.
Sousuke tidak pernah suka pada rumah gaya barat. Apalagi rumah kakeknya yang muram dan terabaikan. Bayangkan saja, rumah itu setinggi lima tingkat, dengan dua tingkat lantai bawah tanah. Lahannya 12 hektar, namun hanya 2 hektar yang digunakan sebagai bangunan rumah utama. Gerbangnya berupa jeruji baja setinggi 15 meter, berwarna hitam gelap dan berbentuk seperti pohon-pohon dedalu yang saling membelit satu sama lain. Halamannya ditanami pohon-pohon apel kerdil, tingginya mungkin tidak sampai 3 meter setiap pohon. Daunnya lebat dengan buah yang besar, seakan pohon-pohon itu merunduk menyentuh bumi.
Ayah kandung Sousuke pernah berusaha menjual rumah ini agar mereka bisa kaya raya. Sayangnya, tidak ada yang mau membeli karena harganya terlalu mahal. Kakeknya dulu pasti orang kaya. Atau...
'kakekmu itu ahli guna-guna!'
Ayah kandung Sousuke pernah bilang begitu. Lalu, ia tidak pernah berkabar lagi dengan dirinya sejak 10 tahun terakhir.
"Ini tentang apa?" tanya Shoto. "Menarik."
"Jadi, si tokoh utama bernama Matsumoto Sousuke. Orangtuanya sudah cerai sejak dia kecil, dan ayah kandungnya hilang begitu saja. Dia baru berusia 20 tahun, lalu mendapat warisan rumah besar dari kakeknya karena ayahnya hilang. Kakeknya adalah laki-laki menyeramkan yang kaya tidak jelas."
"Lalu?"
"Lalu ia ternyata dia memang mempraktekkan ilmu hitam." Jelas Izuku. "Ilmu hitamnya tidak serta-merta berefek seperti sihir di Harry Potter. Aku ingin mengangkat bahwa praktek ilmu hitam itu sendiri sudah membawa ketakutan."
Shoto tersenyum. "Keren."
"Aku jagonya bikin begini." Izuku menyeringai. "Makanya kalau disuruh menulis roman, aku payah banget."
"Kau pasti bisa." Shoto mengusap punggung Izuku.
"Hai." Izuku tersenyum. "Shoto, pesankan aku peach ice tea lagi, dong!"
"Terlalu banyak jarak. Paragraf yang tidak padat itu membuat tulisanmu tidak menyenangkan untuk dibaca. Terkesan berantakan. Caramu mengatur flow cerita beda banget sama karya-karya yang kemarin. Lagi baca apa?"
Izuku menunduk malu. "Eum...American Gods."
Monoma Neito menyilangkan kedua kakinya menjadi bersila, lalu menyibakkan poni pirangnya. "Pantas. Kau mencoba menggunakan gayanya Neil Gaiman meringankan cerita dengan deskripsi lingkungan sekitar dan potongan ingatan masa lalu si tokoh utama?"
"Uhm."
"Ini, nih! Jeleknya Midoriya Izuku!" nada suara Monoma meninggi. "Kejelekanmu yang paling fatal, adalah kau tidak percaya diri dengan tulisanmu sendiri! Payah! Penulis harus punya ciri khas dalam setiap tulisannya, bodoh!"
Izuku mengerenyit. "Aku jadi tidak pede karena ocehanmu, Monoma-san."
"Terus, salahku?! Salah nenekku?!" Monoma memasang wajah pongah yang begitu menjengkelkan. "Hey, wake up! Tugas editor itu mengedit, cintaku!"
Honenuki Juzo, salah satu penulis fiksi di FlashMight Publisher pernah mencekik Monoma karena suatu kasus: ia pernah menyuruh penulis itu merombak empat bab dalam semalam, dan hari berikutnya, si editor pirang menyebalkan itu malah memaki-maki Honenuki karena merombak empat bab yang sudah mereka sepakati.
Karena Izuku juga baru pertama kali bekerja dengan Monoma, ini adalah saran dari Honenuki sendiri.
Rule number one: ucapan Monoma itu plin-plan. Bukan karena dia bodoh, tetapi karena dia memang suka mengombang-ambingkan keadaan psikologis penulis.
"Jadi gimana?" tanya Izuku.
"Oke, sih..." Monoma membalik-balik lagi naskah Izuku, nampak mencari bagian mana yang harus dihias dengan pena laknat aneka warna dan tempelan sticky notes mungil, kebiasaannya saat melakukan revisi. "Aku suka kau mau mencantumkan denah rumah seram itu. Dan arsitektur serta tata ruangnya memang muram. Kalau aku jadi si Sousuke, aku nggak akan mau tinggal di situ."
Izuku tersenyum tipis.
"Kau nyontek di mana denah rumah sebagus ini?" Monoma tersenyum sinis. "Browsing rumah jaman dulu gaya gotik tapi berhantu, gitu?"
"Nggak." Balas Izuku pedas.
"Aku yang menggambarnya."
"Izuku, kenapa suaramu jadi begitu?" Monoma terperangah. "Seram..."
"Bukan aku." Izuku terkikik. Ia menunjuk pojok ruang tengah tempat Shoto tengah berkutat dengan cetak biru. "Itu."
Monoma melompat dari sofa tempatnya duduk, ketika melihat sosok Todoroki Shoto yang baru mengangkat muka dari drawing pad tempatnya menggambar. Ia menaikkan kacamata minus yang ia pakai dengan ujung pena mekanik yang tengah ia gunakan.
"Shoto, ini Monoma-san. Editorku di novel ini." ujar Izuku riang. "Monoma-san, ini suamiku. Todoroki Shoto."
"Yo." Jawab Shoto singkat. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Suamimu sejak tadi di situ?!" Monoma menunjuk-nujuk. "Nggak keliatan."
"Karena dudukmu membelakanginya, Monoma-san." Izuku tertawa.
Monoma menaruh naskahnya, lalu meminum jus delima botolan yang disuguhkan Izuku. "Suamimu mangaka?"
"Bukan. Dia arsitek." Ungkap Izuku. "Sekarang bekerja di perusahaan konstruksi commercial building. Sebelumnya, dia sempat bekerja sebagai interior consultant Kampachi Land."
"Hmmm..." Monoma mengangguk-angguk. "Tidak kerja?"
"Dia libur setiap hari selasa, sabtu dan minggu."
"Dia arsitek kepala, ya? Liburnya bisa tiga hari gitu."
Izuku mengangguk.
"Nee, Izuku! Laper, nih. Masak apaan, gitu?"
Sudut bibir Izuku berkedut. "Katanya tadi hanya sebentar dan nggak akan makan karena mau diajak istri makan di rumah keluarga Korea."
"Biarin aja, sih!" nada bicara Monoma meninggi. "Aku nggak doyan masakan Korea, tahu! Aku jarang makan dirumah, karena masakan istriku nggak enak. Habis gimana, dia separuh Korea, jadi makanannya kimchi dan hampir semuanya sayur! Mana enak, sih?!"
"Aku doyan makan sayur." Bantah Izuku. "Mau makan apa?"
"Nggak usah repot-repot." Monoma tertawa culas. "Unagidon atau Hayashi rice juga oke."
"Nggak usah repot-repot dari Hongkong!" sembur Izuku sambil tertawa. "Unadon nggak ada bahan. Kalau Hayashi rice aku bisa, sih."
Izuku beranjak ke dapur dan mulai memasak makan siang. Shoto menegakkan punggungnya dan mendesah lega, pekerjaannya selesai setengah untuk proyek minggu ini. Ia membuka pintu geser kaca samping yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman depan, lalu mengambil asbak. Todoroki Shoto merokok dengan acuh di depan pintu geser kaca samping.
"Hoy." Tegur Monoma. "Mana sopan santunmu? Ajak ngobrol tamu, dong."
Shoto hanya melirik malas.
"Ya sudah." Monoma menghempaskan dirinya ke sofa. "Kalian sudah berapa lama nikah?"
Shoto menghembuskan asap tebal dari mulutnya. "Satu setengah...tidak, dua bulan kurang."
"Sou...pengantin baru." Monoma mengusap dagunya. "Todoroki itu...apa kau ada hubungannya dengan Todoroki Enji? Si konglomerat itu?"
"Aku kebetulan lahir sebagai anaknya." Shoto membalas dingin. "Sisanya tidak ada hubungan apa-apa."
"Uuu, jutek banget..." Monoma mendecih. "Kau dan Izuku tampak tidak mesra."
Shoto tidak merespon. Ia menyulut sebatang rokok baru dengan sisa bara yang tersisa sebelum menjejalkan puntung rokok pertama ke dalam asbak. Monoma menyeringai sinis. Ia ingin tahu kenapa Izuku mau-maunya menikahi laki-laki yang secara harafiah seperti balok es tersebut.
"Tahu, tidak?" Monoma mencondongkan badannya. "Aku agak terkejut ternyata kau yang jadi suaminya Izuku, Todoroki-san. Soalnya, setahuku Izuku itu punya pacar."
Shoto melirik enggan. Ia nampak tidak tertarik sama sekali dengan Monoma.
"Pacarannya lama, lho. Dia bilang, dia menyukai si pacarnya itu dari SD. Mereka kan osananajimi. Lalu mereka jadian pas SMA. Mereka satu kampus bareng. Lalu Izuku tidak pernah cerita lagi soal si pacarnya itu. Lalu tahu-tahu menikahi anak konglomerat."
"Sok tahu." Shoto melengos. "Kudengar dari Izuku, kalau kau juga belum lama bekerja dengannya. Baru dua buku, kan?"
"Hey, hey! Itulah gunanya social media! Lagian, siapa sih yang nggak penasaran sama Izuku? Dia bagaikan delima merekah, bung! Cantik, seksi, misterius...lalu aku stalk semua social media yang dia punya. Tidak ada satu pun fotomu atau foto tentangmu."
Shoto terhenyak. Ia bukan manusia yang peka dengan social media. Mana tahu bahwa masa lalu seseorang bisa dilacak menggunakan teknologi seperti itu?
"Monoma-san." Shoto menghembuskan asap tipis. Wajahnya terlihat diselubungi kabut semi-transparan. "Berhentilah mengeruhkan rumah tangga orang."
"Ya sudah, kalau kau bilang begitu." Monoma membalas dengan nada yang agak tersinggung. "Todoroki-san, aku juga seorang suami. Sikapmu pada Izuku aneh, seperti masih setengah hati menikah dengannya. Padahal dari cara bicaranya, Izuku nampaknya begitu menghormatimu."
"Monoma-san, sudah jadi! Nasinya aku kasih banyak biar nggak bawel, nih~" Seru Izuku dari dapur sambil tertawa.
"Yooo~" Sahut Monoma. "Aku tidak bermaksud mengeruhkan. Aku tahu kalau mulutku memang menyebalkan. Tapi, aku hanya mau mencoba peduli."
Monoma berjalan ke ruang makan dan menikmati hidangan buatan Izuku dengan sukacita (meskipun katanya Hayashi rice buatan Izuku sedikit terlalu asin). Shoto berusaha membuat pikirannya ringan dan kosong, tanpa sadar rokoknya terbakar lebih cepat dibanding batang pertama tadi. Izuku menghampirinya dan mengajaknya makan siang bersama.
"Shoto, ayo ma—mm!"
Todoroki Shoto menjambak lengan istrinya dan mengulum bibir Izuku. Ia menciumnya dengan begitu kalap dan rakus, sebelum akhirnya melepaskannya perlahan-lahan. Izuku memandangi suaminya dengan tatapan bingung, lalu mengelus kedua pipi gembul Shoto.
"Apa Monoma-san mengganggumu?" tanya Izuku lembut.
Shoto hanya memandangi zamrud cemerlang itu. Ia mengerjapkan matanya cukup lama, seperti tengah menjernihkan pikirannya. Pandangannya kembali bertemu dengan paras manis Izuku, lalu ia mengecup kepalan tangan istrinya lembut.
"Izuku..." lirihnya. "Nanti malam kita marathon lagi, ya?"
a/n:
sekuhara:sexual harassement (pelecehan seksual).
chapter 4 update, ini semua karena author yang insomnia gara-gara jadwal semester akhir ini begitu cincay (jam 12 siang udah pulang, jadi kerjaannya tidur terus karena masih week-week awal). Oiya, aku suka sih sama Monoma, makanya aku masukin sebagai sidekick yang menyenangkan. Kapan lagi ketemu hero yang mulutnya kompor bin salty? XD dan disini aku menggambarkan Shoto adalah cowok super nggak peka yang lagi belajar kepo-kepoin istrinya. Dan juga, dari awal dia nggak kenal sama sekali sama Izuku, kan? Jadi jangan kaget jangan protes, karena semuanya itu HAK SAYA SEBAGAI AUTHOR HAHAHAHA /dibekuin shoto/
euhm...maksudnya bukan itu. Yah, pokoknya stay tune aja sama fic rekonsiliasi biar bisa saling memahami kayak shoto sama izuku /eaaa
sekian bacotan saya. See you on the next chapter~
