Disclaimer: Merlin belongs to Johnny Capps and Julian Murphy
.
.
CHAPTER 4
.
Dari jendela apartemen Merlin yang terletak di tingkat 3, sang raja disambut oleh pemandangan yang sama sekali asing baginya. Sejauh matanya memandang, tidak nampak satu benda pun yang ia kenal. Di tempatnya berdiri, nampak baginya beberapa ular besi yang amat besar sedang melintas hamparan salju, meliuk-liuk sambil sesekali menyerukan lengkingan yang memekakkan telinga.
Gedung-gedung di depannya pun tak kalah menarik perhatian Arthur. Mata birunya dengan seksama meneliti bentuk-bentuk bangunan beton yang berderet memanjang. Pemuda itu tidak habis pikir, kerajaan mana yang begitu berani membangun begitu banyak istana yang hampir seluruhnya terdiri dari kaca.
Arthur tersentak dan mengalihkan pandangannya saat mendengar suara bising berasal dari kereta-kereta berlapis besi yang dapat berjalan sendiri dengan kencang tanpa bantuan kuda. Susah payah ia berusaha mengatur napasnya yang mulai memburu dalam kegelisahan. Suara bergemuruh yang datang tiba-tiba dari atas apartemen Merlin membuat jantungnya berdegup semakin kencang. Ia mendongakkan kepala dan terperangah ketika seekor burung besi dengan ukuran dan warna mencolok melintas membelah langit.
Arthur terdiam cukup lama. Pikirannya mencoba mencari sesuatu yang masuk akal untuk menjelaskan apa yang ia saksikan itu. Tidak menemukan jawaban, ia memejamkan mata dan berharap semua ini hanyalah halusinasinya. Namun harapannya runtuh ketika melihat pemandangan yang sama saat ia membuka matanya kembali.
Seketika Arthur merasa linglung. Tangannya berusaha meraih gorden di samping jendela agar tubuhnya tidak terjatuh sementara kepalanya yang terasa berat ia sandarkan pada kaca di depannya.
Dengan perasaan pilu Merlin menatap punggung rajanya. Perlahan penyihir itu melangkah mendekati Arthur untuk menggapai punggung yang bergetar. "Jangan mendekat...," pinta Arthur sambil mengangkat tangannya.
"Katakan semua ini tidak nyata..." Suara yang keluar dari mulut laki-laki berambut pirang itu begitu parau hingga nyaris tak terdengar.
"Yang Mulia— "
"Katakan bahwa kau sedang bercanda," lanjut Arthur dengan suara yang kian meninggi. Merlin hanya bisa merunduk seraya menggigit bibir bawahnya. Tanpa disangka, Arthur memutar badannya dan mencengkeram kedua pundak Merlin.
"Katakan kau menciptakan semua ini memakai sihirmu! Katakan, Merlin!"
Arthur berteriak di depan wajah Merlin sambil mengguncang tubuh kurus itu dengan keras. Merlin terkesiap dan hanya bisa meringis menahan sakit. Tubuhnya menegang dan terbersit rasa takut di mimiknya.
"A-Arthur, kau... menyakitiku," keluhnya sambil berusaha melepaskan diri.
Alih-alih melonggarkan cengkeramannya, kedua tangan besar itu semakin menguatkan remasannya pada bahu Merlin. Masih dengan tatapan yang menusuk, Arthur mengguncang badan lemah itu sekali lagi. "Jawab aku, brengsek!"
Nafas Arthur memburu, menerpa wajah Merlin yang hanya berjarak 3 sentimeter. Pemuda berambut hitam kecoklatan itu berusaha memalingkan wajah, namun dengan cepat Arthur menangkap dagunya dan memaksa Merlin untuk menatap iris biru gelapnya. "Jawab—aku—Merlin!"
"Arthur, tolonglah berhenti menyakitiku! What do you want me to say? Aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin kau dengar. Ini bukan halusinasimu dan aku tidak menciptakan semua ini dengan sihir. Maafkan aku."
Mendengar jawaban gamblang itu mata indah Arthur meredup, seiring melemahnya cengkeraman pada pundak Merlin. Ia memejamkan mata erat-erat, menahan laju butiran bening yang sudah mengambang sedari tadi. Sambil menghela napas ia menempelkan keningnya yang kian berat di kening Merlin yang penuh keringat.
Lalu hening.
Merlin membiarkan rajanya yang terdiam menyandarkan keningnya di situ untuk larut dalam pikirannya sendiri selama beberapa waktu. Dinikmatinya hembusan demi hembusan napas Arthur yang lembut bermain di hidungnya.
"Kalau begitu katakan... " Suara Arthur memecah keheningan. "Tahun berapa ini?" lanjutnya seraya melangkah mundur.
"Eh... t-tahun 2014, Yang Mulia," sahut Merlin sambil memijat bahunya. Sakit masih dapat ia rasakan dan ia tahu cengkraman tadi pasti akan meninggalkan memar di kulitnya, namun Merlin mencoba tidak menghiraukannya.
Arthur menurunkan pandangannya sejenak. Dengan ragu-ragu pemuda itu melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat tenggorokan Merlin tercekat. "Bisakah... bisakah kau mengantarku ke istana Camelot?"
Merlin membuka mulutnya, tetapi tak ada kata yang bisa keluar. Pemuda itu tak kuasa menjawab pertanyaan itu. Tak kuasa menjelaskan bahwa istananya yang megah dan kokoh telah di runtuhkan dan lenyap ratusan tahun lalu. Tidak berani mengatakan bahwa Camelot sudah tidak ada dan kini hanyalah menjadi sebuah legenda, dongeng sebelum tidur. Namun ia memaksakan diri, mendorong kata-katanya untuk keluar.
Penuturan Merlin yang terbata-bata terasa bak sebuah hantaman keras di kaki Arthur. Raja Camelot yang tidak dapat lagi menjaga kakinya untuk tetap berdiri, terkulai lemas duduk di karpet dengan punggung yang bersandar di dinding. "Ap-apa yang terjadi?" ucap Arthur.
Suaranya seraknya membuat Merlin merasa khawatir. "Kau mungkin haus, kuambilkan minum dulu ya?" Ia bersiap membalikkan badan saat Arthur mencegahnya.
"Aku tidak butuh minum. Aku hanya butuh jawabanmu... please, Merlin?"
Hati penyihir muda itu terenyuh melihat wajah dan mata Arthur yang memerah. Dengan senyum dipaksakan, ia menghampiri dan berjongkok di hadapan rajanya. Sambil menelan ludah, Merlin mulai menuturkan peristiwa yang terjadi di Camelot.
Menurut kabar yang ia dengar, saat raja Camelot yang paling bijaksana itu dinyatakan meninggal, seluruh kerajaan diliputi kesedihan teramat dalam. Leon dan Percival yang merasa bersalah tidak dapat menyelamatkan raja mereka, sering tak dapat berkonsentrasi saat menjalankan tugas mereka sebagai ksatria. Gaius sering membuat kesalahan saat mengobati orang-orang yang sakit. Rakyat pun merasa enggan bekerja di ladangnya.
Tetapi kesedihan mereka tidaklah berlangsung lama setelah Guinevere, sang istri diangkat menjadi ratu Camelot. Di bawah pemerintahan wanita yang memiliki wajah dan hati seorang malaikat itu, Camelot bertambah makmur.
Pajak kerajaan diturunkan hingga rakyatnya tidak lagi terbebani. Tanpa mempedulikan kasta, siapa saja yang mempunyai keahlian berperang dan siap mengabdi bisa menyandang ksatria Camelot. Peraturan pelarangan sihir pun dicabut. Para penyihir dapat hidup dengan tenang di kerajaan itu. Tidak ada lagi pengejaran dan pembantaian sadis. Tidak ada lagi pemberontakkan. Selama 50 tahun Camelot berjaya, bersinar terang di antara kerajaan-kerajaan lainnya.
Guinevere...
Senyum kecil mengembang dari bibir Arthur. Rasanya seperti baru kemarin ia memeluk tubuh istrinya, mencium harum rambutnya yang hitam bergelombang dan menikmati wajah indahnya. Betapa ia mencintai Guinevere, wanita kuat yang selalu berada di sisinya dan memberinya kekuatan saat Camelot direbut paksa oleh Morgana. Wanita yang selalu menemukan cara untuk memaafkannya kala ia membuat kesalahan.
"Apakah Guinevere sudah—" Suaranya kembali terdengar bergetar seiring senyum yang menghilang. Tamparan telak melayang di hati Arthur ketika Merlin memberikan sebuah anggukan.
"Dia meninggal dengan tenang dalam tidurnya diusia yang ke 80."
Tak ingin percaya, Arthur tak ingin mempercayai itu. Semenjak ia menyematkan cincin pernikahan di jari lentik Guinevere dan semenjak ia mengucap janji setia sehidup semati di depan semua orang, yang ia inginkan adalah menghabiskan sisa hidupnya bersama sang istri. Menjalani masa tua dan menghembuskan nafas terakhir bersama-sama.
"L-lalu... apa yang terjadi setelah Guinevere- meninggal?" tanya Arthur di balik tangannya yang menutupi bagian bawah wajahnya.
"Apa kau yakin kau mau mendengarnya?" ucap Merlin ragu-ragu. Tak sanggup berkata-kata, Arthur hanya menjawab dengan kedipan mata yang dalam.
Merlin mengusap peluh di wajahnya sebelum meneruskan. "Satu tahun setelah Guinevere meninggal, kekacauan demi kekacauan terjadi. Dengan tidak adanya penerus Pendragon, kerajaan Camelot bagai daging segar yang dilempar ke dalam kandang harimau yang kelaparan. Para petinggi yang setia tidak dapat lagi mempertahankan pemerintahan Guinevere. Semua saling berebut kekuasaan, saling cekal dan yang terparah—saling membunuh."
Merlin menghentikan kalimatnya sejenak untuk menghapus setitik airmata yang bernaung di sudut mata dengan ibu jarinya.
"Selama bertahun-tahun terjadi peperangan antara para petinggi, ksatria bahkan rakyat Camelot sendiri. Akibatnya pertahanan Camelot melemah, dan itu dimanfaatkan oleh kerajaan-kerajaan lain untuk merebut Camelot. Istana dan sekitarnya perlahan hancur, pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa. Dan— "
"Hentikan..."
"Arthur... ?"
"Just... stop it."
Kata demi kata yang Merlin lontarkan terasa seperti puluhan pedang buas menghujam, menusuk dan memelintir hati raja itu. Tangan besarnya bergeser menuju kedua matanya. Air di dalamnya telah siap mendongkrak kelopaknya yang sudah kian membengkak.
Arthur tidak bisa membayangkan kerajaan yang telah dibangun oleh leluhur-leluhurnya itu bisa hancur. Tidak pernah terlintas di benaknya kerajaan kebanggaan yang rela ia pertahankan sampai mati, lebur tertelan waktu.
Kekalutan akhirnya merobek pertahanan kuat di matanya. Bagai air bah yang menerjang bendungan rapuh, airmata Arthur akhirnya tumpah. Butiran bening berlomba keluar tanpa bisa ia cegah, mengalir deras turun membasahi wajahnya. Raja Camelot itu menangis sehebat-hebatnya. Pundaknya berguncang hebat diiringi raungan-raungan keras tak terkendali.
Merlin mengkerut melihat pemandangan itu. Lengkingan frustrasi Arthur serta pukulan yang bertubi-tubi menghantam lantai, membelah serta meremukkan hati sang penyihir hingga berkeping-keping. Belum pernah Merlin melihat rajanya menumpahkan kesedihannya sedemikian rupa. Saat Uther, sang ayah meninggal pun Arthur nampak begitu tegar.
Namun kini—dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan raja Camelot yang perkasa itu hancur di hadapannya. Dalam kebekuan tubuhnya, Merlin pun dapat merasakan aliran dingin meluncur di kedua pipinya.
"Arthur... kumohon berhentilah menyakiti tanganmu..."
Namun emosi Arthur yang meluap-luap seakan menulikan pendengarannya. Ia terus menghantam karpet yang basah terselimuti airmatanya.
Mata Merlin tiba-tiba membelalak tatkala melihat percikan-percikan cairan merah kental yang berasal dari buku-buku tangan Arthur, menetes di atas karpet. Khawatir sahabatnya itu akan menciderai diri lebih lanjut, ia menggenggam pergelangan sahabatnya dan segera menarik tubuh itu kedalam dekapannya.
Arthur yang lepas kendali meronta dengan keras, mencoba melepaskan diri. Dalam keadaan biasa, guncangan tubuh Arthur bisa membuatnya jatuh dan terpelanting. Entah apa yang kini memberinya kekuatan. Yang ia tahu saat itu adalah ia tidak ingin melepaskan Arthur lagi.
"Arthur, kumohon hentikan. Lampiaskan kemarahanmu padaku, jika itu bisa membuatmu tenang."
Mendengar perkataan itu, Arthur perlahan menghentikan perlawanannya. Kedua tangannya terhempas tanpa daya di sisi tubuhnya dan ia menenggelamkan wajahnya di pundak Merlin. Keteduhan aroma tubuh Merlin membius kemelut yang tengah mengusik akal sehatnya. Di bahu kurus itulah Arthur menguras seluruh airmatanya, menangis tanpa suara. Tidak ia pedulikan kemeja Merlin yang kuyub meresap tiap tetesan airmatanya, tidak ia pedulikan rambutnya yang acak-acakan, dan tidak pula ia pedulikan luka di tangannya.
"Kenapa... kenapa aku harus dibangkitkan kembali—jika semua yang kucintai sudah dirampas dariku?" bisik Arthur di sela isak tangisnya. Nada keputusasaan tertoreh di kalimatnya yang terdengar lirih.
"Kenapa aku selalu membuat keputusan yang salah? Jika saja waktu itu aku tidak menghukum mati Kara, kekasih Mordred, pasti semuanya akan—"
Belum selesai Arthur menuntaskan kalimatnya, seketika sang pemilik surai hitam kecoklatan mempererat dekapannya dengan gelisah. Perasaan pemuda itu mulai bercampur aduk tatkala mengingat kembali perkataan Kilgarrah, naga terakhir tentang Mordred. Iris biru terangnya berkilat sedih. Namun kehangatan sepasang tangan Arthur yang merengkuh punggung Merlin, menariknya kembali ke alam sadar.
"Merlin?" tanya Arthur yang kini telah membalas pelukan penyihir itu.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini—adalah kesalahanku."
Terbayang olehnya saat ia dan Morgana mencoba menyelamatkan seorang druid kecil berusia 13 tahun dari kejaran Uther dengan menyembunyikannya di kamar Morgana. Itulah pertama kalinya sang naga memberikan peringatan kepada Merlin.
Mordred tidak dapat dipercaya. Ada suatu ramalan kuno yang menuliskan bahwa pada waktunya, Arthur akan mati di tangan druid bermata abu-abu itu.
Namun Merlin memilih tidak mengindahkannya. Mereka akhirnya berhasil menyelundupkan Mordred kecil keluar dari Camelot dengan bantuan Arthur yang saat itu masih berstatus pangeran Camelot.
Belasan tahun kemudian takdir pun mempertemukan mereka kembali ketika Arthur telah menduduki tahta kerajaan Camelot. Tanpa mengetahui jati diri Mordred yang sebenarnya, Arthur mengangkat pemuda bersurai coklat itu menjadi salah satu ksatria kepercayaannya. Akan tetapi, tidak ada yang bisa merubah takdir yang telah ditentukan. Pada akhirnya raja Camelot itu tewas di tangan Mordred.
Perlahan Arthur melepaskan pelukannya seraya mencondongkan tubuhnya ke belakang. "Kau tahu Mordred akan membunuhku? Kau tahu—tapi kau tidak memberitahuku?"
Merlin merunduk, tak mampu memandang laki-laki yang berlutut di hadapannya. Sesungguhnya, berkali-kali Merlin mendapat kesempatan untuk menyingkirkan Mordred dengan tangannya sendiri, namun ia tidak punya keberanian untuk melakukannya. Merlin bukanlah seorang penyihir berdarah dingin yang mampu membunuh orang lain dengan mudah. Ia hanya bisa terus berharap ramalan itu salah.
Keinginanmu untuk mengubah seseorang menjadi baik adalah kelemahanmu. Kata-kata Kilgarrah tergiang di telinganya.
"Aku tidak sanggup. Kau begitu bangga padanya. Kau begitu mempercayai Mordred. Kau tidak mungkin akan mendengarkan dan percaya padaku jika waktu itu aku mengatakan Mordred akan mengkhianatimu."
Mata Arthur membulat saat mendengar kalimat itu. Dengan geram ia menarik rambut pirangnya ke belakang dan meremas kepalanya. "You idiot! Kenapa kau seenaknya membuat kesimpulan seperti itu?"
"We've fought many battles together. Kita pernah menghadapi peristiwa-peristiwa berbahaya bersama. Tak terhitung berapa kali kau sudah menyelamatkanku dan Camelot. Tidak pernahkah terlintas di pikiranmu yang dangkal itu bahwa kau satu-satunya orang yang bisa aku percaya?!"
Terkejut mendengar pernyataan itu, Merlin mengalihkan pandangannya dari karpet kebola mata sang raja Camelot. Ia dapat melihat kekecewaan tersirat di dalamnya. "A-aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya takut kau akan benci padaku dan mengusirku."
Kata-kata Merlin itu seolah mencungkil sekeping hati Arthur. Suaranya yang tadi sempat meninggi, kini berangsur-angsur melembut, namun perasaan sakit hati tergambar jelas di atas ucapannya "Aku tak percaya kau begitu picik. Tidakkah kau mengenalku sama sekali? Setelah apa yang kita lalui bersama, kau masih berpikir aku akan mampu mengusirmu?"
Bola mata indah Arthur mengamati Merlin yang kembali menunduk, seakan memohon jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tadi ia lontarkan. Namun jawaban yang ia harapkan tak kunjung terdengar. Dengan kecewa Arthur memalingkan wajahnya dan segera berdiri, beranjak menuju kamar Merlin.
"Arthur—"
Merlin meraih tangan Arthur untuk mencegahnya pergi. Pemilik tangan itu menghentikan langkahnya sebentar untuk berkata, "Jika saja kau mengatakan yang sebenarnya..mungkin Camelot masih—"
"Yang Mulia, maafkan aku... aku—"
Ditepisnya tangan Merlin dengan kasar hingga pemuda berambut hitam kecoklatan yang tengah berusaha bangkit itu terjatuh di atas kedua tangannya.
"Tinggalkan aku."
Usai mengucapkan dua kata yang dulu pernah menyayat hati Merlin itu, Arthur berlalu memasuki kamar.
BLAAMMM!
Usai membanting pintu, Arthur menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan kesal. Dasar bodoh, apa yang sebenarnya membuat dia merasa takut... memangnya aku ini begitu mengerikan hingga dia tidak berani berterus terang?
"Gaahh!" seru Arthur frustrasi seraya menutup wajahnya dengan bantal.
Di luar kamar, bantingan pintu yang keras tidak hanya menggetarkan kaca jendela namun juga hati Merlin.
Jika saja...
Jika saja aku menuruti apa yang Kilgarrah pinta, maka semua ini tidak akan terjadi. Karena ketidakberanianku, Mordred membelot. Karena keraguanku, Arthur kehilangan semuanya. Karena kesalahanku, teman-temanku yang harus menanggung akibatnya. Karena kelalaianku, Camelot runtuh.
Ya, semua ini karena aku...
Secara tiba-tiba rasa sakit yang tajam menusuk kepala Merlin.
"Arrgghh!" laki-laki itu mengerang tertahan. Di cengkeramnya kedua sisi keningnya untuk mengenyahkan balutan nyeri yang makin lama kian menyengat. Samar-samar bayangan semua orang yang ia sayangi saat berada di Camelot satu persatu hadir dalam pikirannya.
Aku mengecewakan mereka semua...
Sakit itu perlahan menjalar menuju dadanya dan menjamahi syaraf-syaraf yang ada di jantungnya. Dengan gemetar ia menggapai tepi meja makan dan mencoba mengangkat tubuh. Tapi kedua kakinya yang mati rasa membuat usaha itu sia-sia, Merlin kembali terjatuh di atas lututnya.
Sekonyong-konyong sebuah piring bergerak dengan sendirinya dan melayang menghantam dinding.
PRAANNNGG!
Belum sempat pecahan piring itu jatuh berserakan di karpet, beberapa gelas antik yang berada di atas rak meledak. Hancur tak bersisa.
Suara-suara itu mengusik pendengaran Arthur yang tengah berbaring telentang menghadap langit-langit. Penasaran, Arthur pun bangkit untuk melihat apa yang terjadi. Raja Camelot itu baru hendak membuka pintu, saat tiba-tiba lantai di bawahnya bergoyang dengan kencang.
.
.
To Be Continued...
