Disclaimer:
Persona Series adalah milik Atlus.
Catatan:
Uhm… well…
Screw that! Yeah! I know already! I'm Sorry for being so late, guys!
Balasan Untuk Reviewers:
Sp-CS: Bagus deh kalau sesuai harapan. Artinya saya berhasil sebagi penulis. Hahahaha.
Oh, mengenai Tendou Shouji, itu kesengajaan. Aku tahu kok kalau Sepicis… kalau kamu suka kamen rider. Bukankah Reizato juga terinspirasi dari Hidari Shoutaro ya? Hehehe.
Lanjutannya, aku gak tau kapan bisa memberikan kelanjutannya. Maaf untuk yang satu ini. T.T
Cindy: Maaf ya, upadate-nya lama. T.T
silgain: Minako jarang tampil karenmemanelum bagian dia untuk tampil. Hehehe.
Gekkoukan: Hm… untuk Ken, ada jawabannya di chapter ini. Dan untuk Aigis, kurasa memang sudah sepantasnya. Aigis pastinya mencoba lebih dekat setelah kejadian-kejadian sebelum dan setelah kematian Minato bukan? Dia sudah menjadi Android 'hidup' yang mengerti akan hal itu. Terakhir, Minato dan Naoto. Jelas aku menentukan mereka punya hubungan di masa lalu. Tapi jangan marah ya kalau mereka bukan kakak-adik. Bahkan… um… baca sendiri deh…
Dan untuk aksi, aku menambahkan sedikit di sini. Semoga kamu puas ya…
Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.
Second First Operation
By Byzan
Minato menguap berkali-kali. Dark-Hour ketiga berturut-turut dalam wujud Android-nya tentu membuat orang yang menulis tidur sebagai salah satu hobinya menjadi kewalahan. Dulu–sepuluh tahun lalu, Aigis pernah mengatakan kalau Anti-Shadow Weap–Android tidak memerlukan tidur. Yang mereka lakukan adalah mengisi tenaganya. Tapi, Fuuka, gadis jenius mesin itu, membuat Android semakin mirip dengan manusia. Dia membuat tidur adalah cara memproses makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh Android diubah menjadi tenaga. Memang, sampai saat ini porsi makan yang dibutuhkan Android tidak sama dengan manusia. Sekitar tiga kali porsi normal manusia. Jadi, bisa dibilang porsi satu hari makan Android adalah sembilan kali makan manusia normal.
Jadilah Minato memasak di dapur Asramanya makanan untuk tiga orang. Sama sekali bukan masalah. Minato memang suka makan, sekarang dia punya alasan lain selain suka makan, dia sekarang memang membutuhkannya. Meskipun dia sebenarnya tidak peduli dengan apa kata orang lain tentang porsi makannya yang dari dulu tidak normal. Hanya di rumah salah satu sepupunya sebelum dia pindah ke Iwatodai yang pernah membuatnya menahan diri untuk makan banyak. Karena hal-hal tertentu yang tidak mengenakkan.
Makan dalam kesendirian memang menyiksa. Setidaknya, Minato dulu hampir selalu makan pagi bersama. Sekarang dia hanya bias makan dengan bosan, tapi tetap menikmati. Bukan hanya orang lain, dirinya juga mengakui kalau masakan buatannya enak. Karena tidak ada teman ngobrol, dia memikirkan apa yang dilakukan temannya sekarang, hanya Yukari seorang yang tidak diketahuinya. Memikirkan Yukari membuatnya tidak nafsu makan. "Dasar, Stupei," Minato menghela napas, tersenyum rindu membayangkan Yukari yang mengucapkannya.
Minato menyelesaikan makannya dan mencuci piring yang digunakannya. Lalu menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi di sana. Setelahnya, Minato terduduk di sofa ruang duduk. "Sial!" umpat Minato pelan. Minato hampir tidak pernah mengumpat, hanya jika sedang sendiri atau bersama orang terdekatnya saja dia melakukannya. Itu pun dengan suara yang pelan dan jika sudah benar-benar kesal.
"Ini terlalu sepi," lanjut Minato kesal. Dia berdiri, dan mengambilheadset kesayangannya–yang hampir selalu menggantung di lehernya, kemudian melangkah menuju kamarnya untuk mengambil jaket hoodie biru gelap tanpa lengan miliknya. Berkeliaran di keramaian dengan kemungkinan dirinya dikenali dari warna rambutnya yang langka, adalah langkah yang tidak bagus. Terutama jika mereka yang melihatnya adalah orang tua yang tahu dirinya sudah mati dan memiliki jantung yang lemah. Minato teringat dengan Bunkichi dan Mitsuko, salah satu pasangan favoritnya. Ingin rasanya bertemu. Namun, kalaupun mereka masih hidup, Minato takut mereka terlalu terkejut. Kabar kematiannya mungkin saja sampai pada telinga mereka. Chihiro mengenal mereka melalui dirinya. Chihiro pasti tahu tentang kematiannya, dan menyampaikan hal itu pada mereka.
Dengan kaos lengan pendek biru yang merupakan warna favoritnya, dan celana hitam yang merupakan warna favorit keduanya, dia melangkah menuju Paulownia Mall. Sampai di sana, dia merenungkan teman-temannya kembali. Agaknya, meski masih belum ingin kembali berkumpul bersama temannya, rasa rindu pada mereka tetap saja menguasainya. Lagipula–
BRUK
Minato menabrak seorang wanita sehingga wanita tersebut jatuh terduduk. Minato dengan kekuatan Android-nya, hanya sedikit terhuyung ke belakang. Biasanya sih juga tidak jatuh. Minato hanya sangat menyukai kekuatan Android-nya, sehingga dia teringat akan hal itu di hampir setiap kesempatan–selama tiga hari ini tentu saja.
Sebagai lelaki yang baik, Mianto tentu saja menolong wanita itu. "Maaf, aku melamun," ujar Minato ramah sambil mengulurkan lengannya. Sementara kertas yang sedikit keluar dari map wanita itu sudah selesai dimasukkan kembali oleh wanita tersebut.
Wanita itu menerima uluran tangan Minato sambil tersenyum meminta maaf, "Tidak, aku juga melamun."
Mata bertemu mata, Minato menyadari siapa wanita yang ditabraknya. "Chihiro?" batin Minato. Wanita itu punnampak terkejut setelah melihat wajah dibalik jaket hoodie Minato, sepertinya wanita itu mengenalinya.
Minato mengambil langkah cepat. Saat wanita itu berdiri, Minato berujar, "Kau tidak apa 'kan? Baiklah, aku harus pergi." Minato langsung berbalik berlawanan dari wanita itu.
Tindakan bodoh menggunnakan suara aslinya, itu hanya akan terdengar seperti dirinya sepuluh tahun lalu. Wanita itu menahannya.
"Maaf, aku buru-buru," ucap Minato tanpa berbalik menatap wanita itu.
"Kalau buru-buru, seharusnya anda tidak berbalik arah 'kan?" balas wanita itu.
Minato menyadari kebodohannya(lagi). Minato tahu bahwa dia terlihat sedang mengalihkan diri dari wanita itu, jadi dia memilih berbalik menatap wajah wanita itu.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya wanita yang dicurigai Minato sebagai Chihiro tersebut. Wajahnya penuh kerinduan dan penasaran, sehingga terlihat sangat emosional. Dari dulu, Minato tidak tahan melihat wajah orang yang emosional seperti itu. Dia tidak bisa menolak ajakan orang yang memasang wajah seperti itu, terutama perempuan. Jadi dia hanya mengangguk menerima setelah pura-pura merenung wanita itu, mereka menuju Chagall Café.
Setelah duduk dan memesan minuman, mereka duduk dalam diam. Minato tidak ingin memulai pembicaraan, dia khawatir akan mengambil langkah yang salah. Sementara wanita itu menatap Minato dengan penuh minat. Hingga akhirnya saat pesanan mereka datang, dan mereka mulai meminum kopi masing-masing, wanita itu bersuara.
"Kau sangat sabar menghadapiku ya," wanita berambut coklat itu mencoba memulai.
Minato memberi tatapan bertanya. "Aku mengundangmu ke sini, dan meski aku diam, kau tetap menunggu. Aneh, tapi aku suka caramu itu," wanita itu menjawab.
"Entahlah, rasanya berdiam diri selalu membantu menenangkan diri," jawab Minato hampir tidak nyambung.
Hening beberapa saat, wanita itu kembali bersuara.
"Kau bisa melepas tudungyang kau kenakan," ucap wanita itu.
Minato mengulur waktu, entah apa gunanya. "Kita sama sekali belum berkenalan."
Wanita itu tersennyum. "Fushimi Chihiro, aku seorang pembuat komik. Namamu?"
"Ari…" Minato terdiam sesaat, "Arita Haru."
"Baiklah, Haru-kun. Boleh aku melihat keseluruhan dari kepalamu?" tanya Chihiro.
"Kenapa?" tanya Minato singkat.
"Wajahmu sangat mirip dengannya. Rambutmu sewarna dengannya. Kumohon, dengarkan keegoisanku, aku hanya ingin melihatnya lagi," jawab Chihiro memelas.
"Siapa 'dia' ini?" tanya Minato. Tahu bahwa Chihiro akan mengatakan bahwa dirinya mirip dengan teman baiknya.
"Cinta pertamaku," jawab Chihiro. Minato tidak terkejut mendengarnya.
"Dia sangat halus hatinya. Dia tidak pernah mencintaiku secara romantis. Tapi dia tetap memilih bersamaku ketika aku menginginkannya. Dia baru bisa mulai menolakku saat aku mengungkapkan bagaimana perasaanku padanya. Padahal sebelumnya dia selalu memperlakukanku dengan cara yang kubutuhkan atau kuinginkan. Kelihatannya dia jadi agak kejam, seperti mempermainkan hati wanita. Aku tahu bukan hanya aku wanita yang diperlakukan begitu. Tapi, kami semua pasti tahu tentangnya. Dia selalu memberikan segalanya untuk teman-temannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya lagi untuk berterima kasih padanya. Tapi dia meninggal di usia yang begitu muda. Mungkin seusiamu. Saat kami mendengar bahwa dia meninggal, seluruh teman seangkatan kami tidak ada yang tersenyum selama tiga hari di sekolahnya. Untuk beberapa orang bahkan sampai seminggu atau sebulan," ujar Chihiro panjang lebar.
Minato yang merasa bersalah, membuka tudung di kepalanya. Minato memperhatikan wajah wanita dewasa di hadapannya dengan kagum. Dia sama sekali tidak menyangka Chihiro bisa se-ekspresif itu.
"Kau benar-benar mirip dengannya." Air mata muncul di kedua pipi Chihiro.
"Kenapa kau bisa mengatakan semua hal ini pada orang yang baru kau temui?" tanya Minato penasaran.
"Kau mirip dengannya. Bahkan bersamamu aku merasa bersamanya. Jika bersamanya, aku bisa mengatakan apapun yang ingin kusembunyikan," jawab Chihiro tersenyum.
Minato merasakan adanya perasaan akrab. Perasaan luar biasa saat dirinya mencapai batas tertinggi sebuah Social Link. Dari kata-kata yang terdengar dalam hatinya, Arcana kali ini adalah Justice. Artinya mungkin dirinya telah sekali lagi memaksimalkan Arcana Justice. Dia tidak bisa menahan senyum dalam hatinya.
"Maafkan aku, karena menunjukkan wajahku," ucap Minato. Dia takut membuat Chihiro sedih.
"Tidak, aku hanya merindukannya. Terima kasih. Aku sudah memiliki cinta lain sekarang." Chihiro tersenyum dan menghapus air matanya.
"Begitukah?" Minato ikut tersenyum.
"Oh, pertemuan kita memberiku ide untuk membuat cerita," Chihiro mengeluarkan sebuah notes dari tasnya, "aku harus menulisnya sebelum aku lupa." Minato memperhatikannya dengan minat.
"Kekasih yang terpisah oleh waktu. Tokohnya terjebak dalam ruang tanpa waktu, kemudian sepuluh tahun setelahnya, tokoh tersebut berhasil keluar dari ruang itu, dan bertemu kembali dengan sosok kekasihnya yang sudah dewasa," Chihiro menulis sambil menggumamkannya, "Bagaimana menurutmu?" Chihiro menatap Minato.
"Pastikan aku yang membacanya pertama, okay?!" jawab Minato sambil tersenyum. Teringat bahwa kisah itu mungkin memang benar adanya.
"Oke. Alamatmu?" Chihiro bertanya penuh minat.
"Uh… aku akan minta nomor-mu yang bisa kuhubungi saja, nanti kuhubungi," jawab Minato. Tidak yakin bahwa dirinya akan memberi tahu alamat yang sama dengan 'Minato'.
"Oh, tentu." Chihiro mengeluarkan kartu namanya.
"Kurasa, itu untuk hari ini," ujar Minato sambil mulai berdiri dan mengeluarkan dompetnya.
"Oh, jangan khawatir, my treat," ucap Chihiro.
Minato tersenyum berterima kasih, "Sampai jumpa, kalau begitu."
"Ah… pembicaraan ini rahasia, ya?" ucap Chihiro.
Minato menjawab dengan senyum dan gerakan mengunci mulut dengan jari jempol dan dan telunjuknya.
Saat berbalik, dia ingin memberikan kesan 'Minato' pada wanta itu. Dia memasang kedua headset-nya di telinganya. Dan sebagai tambahan, dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya lalu mulai melangkah pergi. Di luar kafe, dia memasang tudungnya dan mulai berjalan lagi.
—X—
Minato sudah sampai di depan Asrama Iwatodai. Sesuai perjanjian, dia mengundang beberapa orang dari Strega Execution Squad untuk datang. Belum juga dia membuka pintu, datang tamu yang diundangnya. Yang pertama datang, tentu saja Aigis dan Fuuka. Disusul Ken bersama pacarnya, Maiko saat Minato baru membuka pintu untuk Aigis dan Fuuka. Beberapa saat setelah Minato duduk di sofa bersama temannya dalam diam, terdengar ketukan di pintu. Minato mengerang lelah, lalu membuka pintu.
Di depannya terpampang wajah yang hampir bertarung dengannya. Laki-laki berambut abu-abu keperakan. Dan sebagai pelengkap, wanita cantik yang memeluk lengan kiri laki-laki itu.
"Narukami Yu… dan Kujikawa Rise, benar?" tanya Minato.
"Kau Arisato Minato?" tanya Yu dengan terkejut, Rise pun terlihat sama terkejutnya.
"Surprise," ujar Minato pelan sambil tersenyum dan mempersilakan keduanya untuk masuk.
Keduanya masuk sambil selalu menatap Minato dengan penasaran. Yang ditatap hanya menunjukkan wajah tanpa emosi, tapi ada seulas senyum di wajah laki-laki berambut biru gelap itu.
Minato menutup pintu dan berbicara pada Aigis, "Kau yang meminta mereka datang secara terpisah, Ai-chan?"
Aigis agak bersemu. "Ya… kalau memang rahasia, tidak boleh mencolok bukan?"
Minato mengangguk. "Dimana yang lain?"
Aigis menunjuk pintu, dan terdengarlah bunyi ketukan. Minato memberi tatapan bertanya pada Aigis. "Android bisa melacak sesamanya selama memiliki data yang dilacaknya 'kan?"
Minato hanya bisa mengangguk. Dia tidak bisa melacak Android selain Aigis karena dia tidak punya data mereka sama sekali. Sedangkan mereka, bisa jadi punya data tentang Android Minato. Meski sedikit, akan berbahaya bagi misinya jika dirinya diketahui saat beraksi.
Minato membuka pintu, dan di hadapannya berjejer Android yangterlihat… sangat manusiawi, kecuali tiga binatang yang lain yang terlihat sangat hewan. Kalau Aigis tidak memberitahunya, mungkin Minato akan menganggap mereka manusia biasa.
Minato mempersilakan mereka masuk. Tidak ada yang tampak dikenalinya. Kecuali Android anjing yang entah bagaimana Minato tahu bahwa anjing itu Android. Bukannya Minato mengharapkannya, hanya rasanya Minato sudah memiliki hubungan khusus dengan mereka. Mungkin karena sesama Android.
Tiga Android wanita dan seorang Android laki-laki, seekor kucing, dan dua ekor anjing, yang satu terlihat seperti Koromaru, yang juga Android. Minato ingin sekali mengetahui karakter semua dari mereka lebih dari mengetahui nama mereka. Terbiasa dengan bersahabat dengan banyak orang, membuatnya tertarik dengan karakter-karakter orang-orang yang unik.
Setelah pertemuan yang tidak ramai, Aigis, Fuuka, Maiko, dan tiga Android wanita lainnya telah duduk. Sementara kelompok laki-laki lebih memilih untuk berdiri. Anjing dan kucing Android itu pun duduk dengan manis di depan Aigis.
"Jadi kau Arisato Minato yang telah menyegel Nyx, dan mencegah kejatuhan?" tanya seorang wanita Android berambut hitam.
"Dengan bantuan teman-temanku, ya," jawab Minato sambil memandang Aigis, Fuuka, Maiko, dan Ken dengan senyum penuh arti. Semua memandang balik Minato penuh arti. Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui karakter Minato. Bahkan rupanya saja baru bisa melihat sekarang. Sehingga, setiap apa yang diucapkan atau dilakukan oleh penyelamat dunia dengan mengorbankan nyawanya itu merupakan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk tentang sifatnya.
"Jadi, Minato-nii, apa yang ingin kita bicarakan?"tanya Maiko tidak sabar.
Minato tersenyum. "Aku lebih dulu ingin mengenal orang yang belum kukenal, Mai-chan." Maiko tersipu malu atas ketidak-sabarannya.
"Namaku Kurogami Sousei. Dan yang duduk di bangku dengan rambut hitam itu adikku, Kurogami Ai, Arisato-sama," ucap Android berambut hitam yang lebih tinggi dari Minato dengan formal.
Minato nampak tertegun dengan cara panggil cowok Android bernama Kurogami Sousei itu. Tidak pernah dia dipanggil dengan sebutan "sama" seperti itu. Bahkan tidak Igor ataupun Elizabeth.
"Baiklah, Kurogami-san," jawab Minato kaku. Yang lain tampak terkikik geli atas reaksi Minato.
Seorang Android cantik berambut panjang berwarna biru langit berdiri sambil tersenyum manis ke arah Minato. "Labrys." Hanya itu yang diucapkannya sebelum duduk kembali dengan tetap memasang wajah senyum. Senyumnya manis, namun masih terlihat hampa. Sepertinya emosi memang belum mendominasi mereka, persis seperti yang diucapkan Fuuka dan Aigis.
"Dia juga adikku, Minato-kun," ucap Aigis tersenyum gembira.
"Juga?" Tanya Minato.
"Metis juga adikku," tunjuk Aigis pada Android disebelahnya yang berambut hitam terang dan mata merah. Yang ditunjuk menunjukkan senyum yang lebih hidup dari Labrys, namun tetap belum sehidup Aigis.
"Ah, Minato-kun. Selamat bertemu lagi dengan Koro-chan. Sekarang dia memiliki teman, Shiguma dan Hakubi," Fuuka memeluk anjing putih yang dikenali Minato, dan menunjuk Shiguma, kucing yang berwarna belang putih-hitam dari kepala hingga ujung ekor seperti harimau serta Hakubi, anjing yang berwarna hitam kecuali bagian moncong dan kedua kaki di depannya.
"Koro-chan? Android? Dimana dia? Apakah dia sudah…" ucap Minato, tidak berani berspekulasi lebih lanjut.
Fuuka menggeleng. "Dia Koromaru yang kau ingat. Tubuhnya kami perkuat dengan mesin sehingga bisa berumur lebih panjang. Jangan marah, dia sendiri yang meminta hal ini."
"Benar," ucap Koromaru mengejutkan Minato.
"Kau membuatnya bisa bicara?" Tanya Minato pada Fuuka, tapi dia tetap menatap Koromaru.
Fuuka menggeleng. "Aku tidak mengetahui apa yang dikatakan Koromaru. Tetapi sesama Android yang saling mengenal dengan cukup baik, kalian bisa berkomunikasi. Aku sudah pernah memberitahumu 'kan? Dan kau juga sudah menggunakannya bersama Aigis." Fuuka mengingatkan.
Minato tidak lupa. "Hanya terkejut, aku tidak tahu kalau itu juga berlaku pada Koro-chan." Minato mengelus kepala Koromaru dengan gembira, yang dielus juga sama gembiranya.
"Jadi yang dimaksud tujuh Android selain Aigis, Koromaru termasuk di dalamnya?" tanya Minato pada Fuuka. Fuuka menjawab dengan anggukan.
"Senang berjumpa lagi," ucap Koromaru lagi sambil mendekatkan dirinya pada Minato yang dibalas dengan Minato dengan pelukan satu tangan. Minato tersenyum. Meski dia masih belum terbiasa dengan suara komunikasi Koromaru, tidak… kata suara tidak tepat. Karena pada dasarnya Koromaru tidak memiliki suara untuk bicara begini, yang dia tahu Koromaru mengatakan sesuatu, tapi tanpa ada suara yang seperti gambar-gambar dalam pikirannya, namun hampir mustahil melihat atau membaca gambar tersebut, tapi mudah dipahami. Minato sendiri masih bingung, tapi… yang penting adalah dia paham.
"Aww, Niichan tidak pernah memelukku, tapi bisa memeluk anjing dengan mudah," ujar Maiko pura-pura iri.
"Mai-chan!" seru Minato dan Ken. Keduanya berniat menegur, namun Ken mengucapkannya lebih keras.
"Kau 'kan kakakku." Maiko masih menatap Minato. Lalu menoleh pada Ken sambil berujar, "jadi Ken, berhenti cemburu."
Ada suara-suara yang menggoda pasangan baru itu sebagai respon dari ucapan Maiko. Maiko sepertinya tidak malu sedikit pun. Namun, Ken terlihat tersipu. Ken sepertinya masih malu-malu. Wajar saja sebenarnya, mengngat mereka baru saja berpacaran kemarin sore. Hal ini dengan mudahnya membuat ruangan menjadi lebih rileks, bahkan untuk para Android.
"Okay, enough for small talk," ucap Minato pada orang-orang disekitarnya sambil tersenyum. Semua yang memandangnya mulai memusatkan pikiran pada Minato, namun masih dengan santai karena mereka melihat Minato yang terlihat santai.
"Aku hanya meminta pada kalian, untuk tidak membeberkan penyamaranku saat aku membantu kalian," ucap Minato mash santai.
"Kau membantu kami?" tanya yang lain terkejut kecuali Maiko.
"Yup, kalian semua bisa mendeteksi keberadaanku. Jadi lebih aman mengatakan ini pada kalian dari awal," lanjut Minato.
"Tunggu, aku mengerti kalau para Android dan Fuuka-nee serta Rise-nee bisa mendeteksimu. Tapi bagaimana denganku dan Yu-niichan?"
"Kalian berdua sudah sangat dekat satu sama lain ya? Ngomong-ngomong, sejak kapan kau memanggilku 'Niichan'?" bukannya menjawab, Minato malah bertanya dengan agak tidak nyambung.
"Sejak… Minato-nii 'meninggal'. Tidak apa 'kan?" tanya Ken agak khawatir.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan itu kok, hanya ingin bertanya saja. Dan mengenai pertanyaan pertamamu tadi, aku mengundangmu hanya agar Mai-chan tidak perlu memiliki rahasia denganmu–"
"Minato-nii baik sekali deh," potong Maiko. Tapi Minato terus bicara seolah tidak ada yang memotongnya.
"–dan Narukami, aku perlu bicara dengannya, juga dengan Aigis," Minato mengakhiri kalimatnya dengan nada yang serius. Mendadak suasana agak menegang.
"Baiklah, dimana kita bicara?" tanya Aigis saat dia bangun dari duduknya.
Minato memperhatikan Yu, yang juga memperhatikannya dengan serius. "Kau memanggilku Narukami? Aneh sekali dipanggil begitu oleh orang yang terlihat lebih muda." Komentar Yu yang tidak nyambung sukses membuat suasana kembali rileks, bahkan lebih ke arah kacau saking anehnya balasan yang diberikan Yu.
Semua pandangan tiba-tiba terarah pada Minato yang tidak menimbulkan ekspresi apapun. Semua–hampir semua cemas, takut Minato marah karena ucapan yang terkesan tidak serius dari Yu. Apalagi Yu mengucapkannya tanpa ekspresi. Sementara Aigis, Fuuka, dan Ken tetap tersenyum, tahu persis seperti apa seorang Minato menanggapinya.
"Hmm… dalam umur, aku tetap lebih tua darimu," Minato menjawab pertanyaan Yu dengan tanpa ekspresi pula, membuat banyak diantara mereka terpaku. Bagaimana dua orang yang terlihat sama sekali berbeda bisa terlihat sangat sama. Secara fisik, mereka mudah sekali terlihat berbeda. Apalagi sosok Yu yang sudah dewasa. Hanya saja, cara mereka berbicara dan berekspresi–atau tidak berekspresi bisa terlihat sangat mirip, cukup mengagumkan bisa melihat kemiripan dalam diri Yu dan Minato.
Tanpa persetujuan, Minato dan Yu berjalan menuju tangga asrama. Aigis yang terkejut, hanya bisa mengikuti. Entah mengapa, dia merasa gugup dan begitu out of place. Dia terbiasa bersama Minato, begitu pula bersama Yu. Namun, ketika kedua orang yang baru saja memperlihatkan kalau mereka begitu mirip, Aigis merasa tidak cocok bersama mereka.
Minato berbalik sebentar, kemudian bertanya pada anggota Strega, "kalian menerima permintaanku tadi 'kan?"
Sousei menjawab, "kalau itu adalah persyaratan Arisato-sama untuk membantu kami, maka akan kupastikan kami menyutujuinya."
Tanpa membalas, Minato memberi senyum pada Sousei. Kemudian berbalik melangkah terus mengukuti Yu dan Aigis yang mengikutinya.
—X—
"Langsung saja. Sebagai Wild Card, kalian tahu tentang Social Link bukan? Seberapa kuat Social Link kalian?" tanya Minato begitu menutup pintu kamarnya.
"Aku sudah mencapai titik dimana aku bisa menggapai hal yang tidak mungkin," ucap Yu. Nadanya sama sekali tidak sombong. Meski memang terdengar agak menyombongkan diri.
Minato mengangguk puas dan menoleh pada Aigis, bertanya. "Rasanya aku belum mencapai hal itu. Tapi, jika Social Link memang sama setiap orangnya, menurut Yu-kun hanya satu yang belum kucapai kekuatan sesungguhnya. Sisanya kurasa sudah mencapai batas maksimal." Aigis menjawab dengan agak ragu.
"Arcana apa itu?" tanya Minato serius.
"Lovers," ucap Aigis dengan malu, wajah merahnya hanya membuatnya makin tampak manis.
"Itu Arcana 'tersulit'. Mungkin kami bahkan tidak bisa membantu meski ingin," ucap Minato. Bingung antara ingin membangkitkan semangat, atau malah menjatuhkan semangat.
"Aku sudah pernah mengucapkan itu. Tapi memang setiap orang akan menemukannya sendiri. Tidak perlu dibantu. Yang lebih penting, untuk apa kau menanyakan itu?" ucap Yu diakhiri dengan pertanyaan mendasar.
"Mengetahui seberapa kuat kalian. Aku hanya ingin mengetahui sebarapa siap kalian. Sejujurnya, mungkin hanya kita yang bisa mencegah kejatuhan sekali lagi," ucap Minato.
"Dan itu artinya mengorbankan nyawa?" tanya Aigis dan Yu bersamaan.
"Aku masih memikirkan cara supaya itu bisa dihindari," ucap Minato murung.
"Aku juga tidak ingin kalau bisa," ucap Yu. Aigis mengangguk, dia terlihat murung.
"Dan bagaimana denganmu sendiri?" Yu bertanya balik pada Minato, "seberapa siap kau menghadapi amukan dia yang tidak bisa mati itu? Seharusnya saat kau menyegelnya berarti kau telah mencapai hal yang sama denganku bukan?"
Minato agak terkejut, namun tetap berujar, "The Lovers, aku tidak bisa merasakan sedikitpun kekuatan dari Arcana itu."
"Tapi… 'dia' masih mencintaimu," ucap Aigis hati-hati.
"Itu tidak berarti dia Social Link-ku lagi bukan? Dan mungkin aku hanya perlu memaksimalkan beberapa Social Link lainnya," ucap Minato. Terlihat sekali dia mengucapkannya dengan pahit. Kedua lawan bicaranya hampir bisa merasakan kepahitan itu.
"Mungkin kalian berdua Social Link yang sama bagi yang lainnya," ucap Yu dengan sangat cool.
Aigis hanya bisa memasang wajah memerah memikirkan kemungkinan itu. Lain dengan Minato yang menjawabnya dengan tidak kalah cool. "Aigis sudah mendapat tempat sebagai Arcana Aeon. Kurasa bukan dia yang kucari." Terlepas dari ucapan Minato, Aigis tetap memikirkan Minato sebagai kemungkinan Arcana Lovers-nya. Karena dulu Minato adalah segalanya bagi Aigis, dia tidak pernah memikirkan hal lain selain Minato. Tapi semenjak dirinya 'hidup', dia memikirkan hidupnya dan juga bagaimana menjalaninya. Tapi, Minato tetap merupakan orang–hal yang paling dipikirkannya.
"Untuk saat ini, aku ingin mendengar strategi kalian dalam Operasi bulan Purnama kalian berikutnya," ucap Minato.
Aigis mengangguk. "Kami tidak pernah mencoba membunuh Shadowyang muncul saat bulan Purnama untuk mencegah kedatangan Nyx. Setidaknya kami tahu kalau kami membunuh mereka semua, Nyx akan bangkit. Jadi saat bualan Purnama, Shadow itu datang menyerang tempat kami. Mungkin dengan harapan bisa mati. Karena itu kami membuat semua orang selain mantan Anggota S.E.E.S. dan Invetgation Team menyebar ke seluruh kota untuk mengatasi Shadow-shadow kecil di sana."
"Akibatnya, aku tidak pernah diperbolehkan menyerang Shadow itu. Kau tahu kan, saat kau mencapai kekuatan 'itu' fisik maupun mental mencapai kemampuan yang sangat luar biasa? Saat aku menyerang Shadow itu pertama kalinya, Shadow itu dalam keadaan terbaiknya. Tapi dalam satu serangan itu, aku hampir membunuhnya dengan pedangku. Akibatnya, serangan itu malah menyusahkan operasi kami. Sekarang ini aku tetap diminta di sana untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," Yu menambahkan.
Sunyi. Semua menunggu apa yang akan diucapkan Minato, bahkan Minato sendiri menunggu dirinya mengucapkan sesuatu.
"Kita tidak akan mencapai manapun jika kita tidak membunuhnya. Pada operasi berikutnya, aku yang akan membunuhnya. Kita masih punya waktu untuk berpikir dan memaksimalkan kekuatan kita sebelum kita menghancurkan Shadow terakhir."
"Kami akan membantu," tawar Aigis. Aigis sudah pernah membicarakan ini dengan Yu. Dan meraka sama-sama setuju dengan pikiran Minato.
"Tidak, kalian bisa membongkar penyamaranku. Kemungkinan yang lain curiga bahwa kalian mengenalku akan makin mengarah padaku," tolak Minato halus.
"Jadi itu langkah kita berikutnya?" tanya Aigis bingung.
"Tidak ada yang spesial," Minato setuju dengan anggukan kecil, "kecuali kalian bisa mengantarkanku ke Velvet Room."
"Selama ini, kami tidak ke sana. Kami tidak bisa menemukannya di manapun. Mungkin akibat dari telah selesainya pencarian atas jawaban dari pertanyaan alasan hidup. Untungnya ada Persona Compendium, sehingga aku bisa membawa sendiri semua Persona yang bersedia kuajak," Aigis berujar.
"Lain denganku. Persona-ku berubah dari yang dulu kumiliki, menurut Rise-chan Dark Hour dan Midnight Channel memiliki aura yang berbeda, mungkin hal itu mempengaruhi bagaimana wujud Persona-ku. Untungnya meski berubah, Aigis mengenali mereka semua," ucap Yu.
"Persona-persona kita semua sama, kecuali Persona dari diri kita sendiri. Athena untukku, Izanagi-no-Okami untuk Yu-kun," tambah Aigis.
Cukup lama Minato merenung, sampai akhirnya Aigis sadar bahwa Minato mulai kembali pada kebiasaan lamanya. Melamun tanpa memikirkan hal yang jelas. Aigis mendekat ke arah Minato yang mengundang minat Yu untuk memperhatikan. Aigis menepuk pundak Minato, membuat Minato tersadar pada kebiasaannya.
"Ah! Maaf, Ai-chan, Narukami. Baiklah, sampai sini dulu obrolan kita. Pulanglah kapanpun kalian ingin pulang. Aku mengantuk," ucap Minato sambil berjalan gontai ke arah kasurnya. Sedetik setelah kepalanya bersentuhan dengan bantal, suara dengkuran langsung terdengar.
"Wow! Cepat sekali dia tertidur," puji Yu.
"Kau akan terkejut melihatnya di sekolah. Dia hampir selalu tidur di sepanjang pelajaran," ucap Aigis menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagian karena tingkah Minato, sebagian lainnya karena mendengar pujian Yu terhadap Minato dengan suaranya yang bernada kekaguman.
"Benarkah? Bagaimana dengan pelajarannya? Bukankah Mitsuru-san akan 'membunuhnya' karena nilainya yang jelek?" tanya Yu. Sama sekali tidak gentar saat menyebut nama Mitsuru dan siksaannya, yang merupakan ajaib bagi banyak orang.
"Itulah anehnya. Dia selalu menjadi juara seangkatan dalam setiap pelajaran. Sesuatu yang membuat semua orang –terutama Junpei, sangat iri karena keajaiban itu. Bahkan guru-guru menjadi ikut jengkel juga meskipun bangga. Mereka tidak bisa memarahinya karena dia tertidur di kelas mereka, sebab karena nilai Minato selalu sempurna," jawab Aigis. Sementara Yu terlihat makin mengagumi Minato. Sangat terlihat jelas dari tatapan matanya.
"Baiklah, ayo keluar. Dia pasti lelah karena terus-menerus membantu kita selama tiga malam ini," ajak Aigis sambil membuka kamar Minato.
—X—
Minako menguap tepat setelah pelajaran usai. Semalam adalah gilirannya untuk patroli keliling dan menghancurkan Shadow. Mood-nya sedang jelek tiga hari ini. Dan dia menyalahkan Minato karenanya. Semenjak dia datang, kakak-kakaknya selalu berbicara rahasia sambil menunggu Dark Hour. Sepertinya membicarakan Minato. Sosok penyelamat umat manusia itu memang dirahasiakan sejak dulu. Alasan mereka adalah, agar tidak ada yang mencoba menjadi dirinya. Tidak mengikuti tingkah lakunya, ataupun kebiasaannya. Sosok sehebat itu pasti akan mempengaruhi kami, anggota Strega.
Sekarang dirinya yang sudah bertemu dengan Minato, sama sekali tidak ingin mengikuti Minato. Dia merasa Minato sangat aneh. Terlepas dari obrolan mereka saat bertemu ada hal lain yang membuatnya berpikir demikian. Meski hawanya sangat nyaman, namun dia juga memiliki kesan misterius yang dalam. Orang yang biasa bersosialisasi dengan banyak orang seperti dirinya pun, pasti akan merasakan hal yang aneh dan tidak wajar. Terkesan berbahaya, namun juga terasa aman. Misterius, tapi juga sangat terbuka. Meski baru sebentar berbicara, Minako sudah mendapatkan kesan seperti itu dari Minato.
Dan lagi, selama lima hari terakhir, beredar rumor di kalangan kami bahwa ada sosok misterius yang membantu kami. Jika dihitung hari kemarin, sudah empat belas hari semenjak kemunculan Minato. Minako punya tebakan bagus bahwa Minato adalah dalang dari semua ini. Dan tentu saja menurutnya semua kakaknya memiliki tebakan yang sama. Meski mereka tidak berdiskusi dengan Minako, semua itu terlihat dari wajah ceria mereka. Ditambah lagi mereka sering bicara berbisik satu sama lain dan tersenyum saat ada yang membicarakan sosok yang bagi Minako tidak begitu misterius. Anggota Strega bilang bahwa sosok itu bergerak sangat cepat, sangat kuat, dan juga mengenakan pakaian serba hitam.
Minako hampir tidak percaya, karena itu hanya terdengar seperti khayalan anak-anak. Tapi deskripsinya cocok. Dan semalam, Minako melihatnya sendiri. Sosok manusia, dengan jubah hoodie hitam, membawa dua pedang satu tangan di pinggangnya, memakai masker hitam, baju hitam, celana hitam, dan sepatu hitam, sedang melaju sendirian di atas atap bangunan dan melompat ke bangunan lain. Dengan kemampuan Android, pastilah dirinya dapat melakukan hal malasdan kesal karena pikiran tentang Minato, dia beranjak pulang, tidak menuju tempat klub favoritnya. Tempat hampir semua anggota Strega yang bersekolah ke sana, bahkan untuk SD dan SMP ke tempat yang sama meski tidak akan bertarung melawan tingkat sekolah yang berbeda.
Malam ini adalah operasi yang penting. Meski kebanyakan dari kami akan berpatroli keliling kota, Shadow tidak akan terlalu banyak di sekitar kota. Hal tersebut dikarenakan ada satu entitas Shadow yang begitu kuat yang akan menyerang markas Strega. Minako tidak ingin membuang energi untuk operasi yang penting itu hanya demi kepuasannya dalam mengikuti kegiatan klub favoritnya tentu saja.
—X—
Minako sedang berkeliling di tengah kota. Saat itu adalah Dark Hour. Naginata kesukaannya disandangnya bersama dengan dua teman satu grup-nya. Kali ini yang menemaninya adalah Maiko dan Ken. Kebetulan yang sangat, seharusnya salah satu anggota Strega yang menemani Maiko dan dirinya. Namun, seorang dari mereka jatuh sakit. Jadi, Ken yang belakangan ini selalu bersama Maiko dapat menemani mereka. Sedangkan empat grup lainnya menyebar ke arah lain.
Rencananya selalu sama, lima grup berjumlah tiga orang berpencar ke seluruh kota. Dua tim Android berjumlah tiga ora ng–salah satunya anjing dan kucing, Shiguma dan Hakubi– ikut menyebar. Dua kelompok Persona-user terdahulu akan bertahan di tempat dimana 'Big' Shadow akan menyerang. Kali ini ada pengecualian, Ken diminta menemani Maiko, karena Maiko satu-satunya yang belum bisa memanggil Persona mengingat dia baru dua tahun di Strega, hal itu bisa dimaklumi. Ketika Miako masuk dalam Strega, Strega cukup kuat untuk melindungi Maiko. Sehingga hal yang harus memaksanya menarik pelatuk pistol yang diarahkan kepada kepalanya belum pernah terjadi.
"Lihat!" Minako berseru ketika melihat bayangan yang selama ini dicurigai sebagai Minato melesat di perempatan di depan kelompoknya.
"Biarkan saja, Minako," ujar Ken, tanda dia juga melihat apa yang dilihat Minako.
"Dia mengarah ke asrama kita. Akan ada sesuatu di asrama, Ken-senpai. Sebaiknya senpai kembali sekarang. Biasanya senpai selalu di sana 'kan?" ujar Minako.
"Tidak apa. Ada Yu-niichan di sana. Lagi pula kita seharusnya bersama 'kan?" kilah Maiko. Membantu kekasihnya.
"Tinggal lima blok lagi, aku bisa mengatasinya. Tidak ada Shadow yang begitu kuat di malam bulan purnama kecuali Shadow yang menyerang asrama kita. Akan berbahaya kalau sosok misterius itu mengancam," ucap Minako. Sebenarnya dia hanya ingin Ken mengucapkan bahwa sosok itu adalah Arisato Minato. Jadi dia terus membuat keadaan dimana Ken terpaksa mengucapkannya. Namun, hasilnya di luar dugaan.
"Kau yakin? Baiklah. Ayo, Maiko. Aku diperintahkan untuk bersamamu. Jadi kau harus ikut," ucap Ken seraya menarik lengan Maiko. Minako hanya terdiam melihatnya. Gagal sudah rencananya. Tapi dia tetap melaksanakan tugasnya, meski agak kesal karena rencananya gagal. Mengurus lima blok lagi sebelum kembali ke Asrama Strega.
"Ken-chan, kenapa kita meninggalkan Minako? Bukankah berbahaya sendirian begitu?" sembur Maiko saat sudah berada di luar jarak dengar Minako.
"Dia akan baik-baik saja. Dia kuat. Paling kuat diantara seluruh anggota Strega selain kami. Saat ini prioritas utama kita adalah menyimpan rahasia Minato-niichan. Aku tahu tadi dia agak memancing kita untuk bicara mengnai Minato-nii. Lagi pula, tidak ada salahnya kembali lebih awal," balas Ken.
Sementara Maiko diam. Membicarakan soal yang kekuatan adalah hal yang sensitif baginya. Dia tahu bahwa dirinya yang paling lemah. Saat ini, dia tidak ingin membicarakannya dengan Ken. Terutama saat dia sudah melihat asrama mereka dengan suara pertarungan yang cukup mengerikan.
—X—
Yu memperhatikan 'Big' Shadow di depan kawan-kawannya. Semenjak dua tahun lalu, semua Persona-user yang lama dikumpulkan dalam operasi karena kekuatan Shadow itu terus bertambah setiap pertemuan mereka. Yu sebenarnya lebih menginginkan Shadow itu dihabisi. Karena nantinya pasti Shadow-shadow berikutnya akan lebih kuat. Tidak ada yang tahu kemungkinan para Shadow 'bulan purnama' itu akan datang bersamaan. Jika sudah begitu, mungkin saja mereka bisa kalah. Bahkan saat ini, mereka cukup kewalahan. Apalagi mereka harus menahan diri untuk tidak menghabisi Shadow di hadapan mereka.
Kata 'Big' sebenarnya benar-benar tidak tepat untuk Shadow ini. Karena ukurannya relatif kecil. Mungkin hanya setinggi dirinya. Tapi kekuatannya memang sangat menakjubkan. Dia bisa membuat lima belas Persona-user berpengalaman ini kerepotan dengan kekuatannya. Tentu saja tanpa bantuan dirinya.
Topeng tanpa angka ada di bagian dadanya. Kepala Shadow itu agak terlihat tipis, seolah hanya wajahnya yang menempel pada lehernya. Lehernya hampir hanya berupa papan yang cukup tebal. Dari leher bagian bawah, ada sebuah tanduk yang mencuat samapi batas tengah mata putih pekat Shadow itu. Tangan kanannya memegang perisai bermotif lingkaran ditengahnya, terlihat cukup besar untuk melindungi seluruh tubuhnya. Tangan satunya memegang pedang yang terbilang aneh. Dengan panjang satu setengah meter, pedang itu memliki empat mata pedang, terlihat seperti pedang dua mata yang disatukan membentuk tanda plus. Dan di ujung pedang tersebut, empat ujung pada setiap mata pedang hitam itu mencuat ke atas, meninggalkan sebuah cekungan di tengah pedang tersebut. Selain itu, hanya ada kaki tanpa telapaknya sebagai penunjang berdirinya Shadow tersebut. Dengan ukruannya yang kecil, dia mendapatkan kecepatan. Dengan kecepatan itu, dia dapat dengan mudah menghindari serangan. Seorang Android mungkin dapat menyamai kecepatannya, namun Aigis bukan tipe petarung jarak dekat, akan sulit mengenainya jika Shadow itu dapat membaca gerakannya terlebih dahulu.
"Gerakan Shadow itu agak aneh, Senpai" ucap Rise pada seluruh anggota, sementara Fuuka sedang mengarahkan kelompok-kelompok yang berada di luar asrama dalam menghadapi Shadow. Pekerjaannya agak teringani mengingat saat Ken bilang bahwa dia akan menemani Maiko terus-menerus sampai Maiko bisa mengeluarkan Persona-nya, dia ilang bahwa dia tidak perlu dibimbing. Karena butuh konsentrasi lebih, Fuuka tinggal di dalam asrama.
"Apa, maksudnya?" tanya Mitsuru.
"Entahlah, seperti menunggu sesuatu. Mungkin celah. Biasanya Shadow ini akan menyerang dengan hampir tanpa berpikir," jawab Rise.
Saat itulah Shadow itu melompat begitu tinggi ke arah belakangnya, ke arah gerbang asrama. Di tengah udara, dia memutar badannya, membelakangi kami. Pedang terangkat, dan perisainya melindungi bagian tubuh belakangnya dengan tangan yang bisa bergerak sesuka hatinya. Yu membelalakkan mata, dia paham apa yang ditunggu Shadow itu. Dengan seganap tenaga, dia bangkit dari duduknya dan menghambur melewati teman-temannya yang lain. Dengan kecepatan tubuhnya yang menyamai Android berkat bantuan Izanagi-no-Okami dalam dirinya, kecepatan yang belum pernah dia perlihatkan pada siapapun di sini sekalipun, dia tetap tidak bisa mencapai tujuannya.
Maiko terlihat di depan gerbang, terkejut melihat apa yang menunggunya dia atas. Dia pikir pasti dirinya akan habis jika berhadapan dengan Big Shdaow itu. Ken dengan refleks mendorong Maiko ke arah samping. Dan bersiap menerima serangan balasan itu dengan tombaknya yang dibuat sebagai penahan pedang Shadow itu. Sebenarnya itu hal yang berbahaya. Menerima serangan dari udara–dengan seluruh kekuatan dan beban dari Shadow itu pada dirinya. Bisa saja tombak miliknya patah dan serangan itu tetap mengenai dirinya. Namun, dia tidak memiliki banyak pilihan karena serangan yang sudah akan menerpanya.
Saat itulah ada yang menarik seragamnya dari belakang. Membuat Ken agak kehilangan keseimbangan, meski dia bersyukur karenanya. Kemudian, sosok penariknya itu melingkarkan tangannya di perut Ken dan melemparnya ke arah Yu yang tadi mencoba menolong Ken dan Maiko. Lalu sosok itu melompat ke arah Maiko yang terjatuh. Memeluknya hanya demi melindungi gadis dari efek benturan pedang Shadow tersebut dengan tanah–yang merupakan angin yang cukup kencang. Kemudian dia menggendong Maiko dan dengan tidak wajarnya melompat ke arah Yu yang sudah menangkap Ken dengan tangannya.
"Nice move, Ken," bisik sosok itu saat menurunkan Maiko dari kedua tangannya, "now, back off. All of you." Tanpa menunggu perintah kedua, mereka menurut, mengetahui bahwa Minato adalah sosok itu. Jubah dan pakaian serba hitam menyelimutinya.
Semua terlalu terkejut melihat Yu dengan kecepatannya barusan. Juga karena kedatangan sosok yang tiba-tiba membantu Yu untuk menolong Ken dan Maiko. Apalagi melihat kecepatan gerakan sosok itu. Terlebih mantan anggotan Investigation Team yang sama sekali tidak memiliki ide tentang siapa dibalik sosok serba hitam itu.
"Berhenti!" perintah Yu pada semua anggota yang berniat maju, kembali ke medan pertempuran.
"Apa?! Kenapa?" tanya Junpei dengan berisik.
"Serahkan padanya. Mungkin dia mengetahui bagaimana cara menghadapi Shadow itu," jawab Yu dengan tenang tanpa berbalik menghadap Junpei.
"Kita juga tahu! Kita hanya perlu menyerang untuk menahannya," kali ini Yosuke yang bicara.
"Kalian yakin? Itu hanyalah cara yang kita pilih untuk mencegah kejatuhan. Mungkin, hanya mungkin, dia mengetahui cara untuk menghadapi Shadow itu dan mengetahui bagaimana menghadapi kejatuhan atau mencegahnya," balas Yu.
"Itu hanya kemungkinan, Narukami. Semua, bersiap menghadapi serangan berikutnya!" kali ini Mitsuru yang memimpin.
"Kalian hanya takut menghadapi kejatuhan!" kali ini Yu berbalik pada semua temannya. "Kalian tahu, jika orang ini memang ingin membunuh para Shadow dan melawan kejatuhan, aku akan bergabung dengannya. Bagiku itu lebih baik daripada bertarung bertahan seperti ini, dan melihat setiap paginya ada saja korban para Shadow."
"Ayo Aigis, kita akan membantunya jika dia terlihat membutuhkannya," ajak Yu. Aigis mengangguk dan berjalan menuju sisi Yu dengan mengarahkan salah satu senapan jarinya pada Shadow di depannya.
"Sangat meyakinkan, Yu-kun," bisik Aigis.
"Terima kasih," balas Yu berisik pula sambil menyiapkan pedangnya satu tangannya di tangan kanannya.
"Don't interfere until I ask you to," perintah Minato pada dua orang di belakangnya. Yu dan Aigis mengangguk tanpa peduli Minato melihatnya atau tidak.
Yang lain hanya diam terkejut mendengar pernyataan Yu yang terlihat agak beremosi. Bahakan orang-orang yang ikut berkumpul bersama dengan Minato. Dan lagi, Aigis yang dengan mudahnya dipilih, dan kemudian langsung menyetujui ajakan Yu. Pastilah mereka berdua sudah pernah membicarakan ini berdua. Aigis dan Yu memang sering terlihat dekat dan mengobrol secara pribadi. Setidaknya mereka tahu, bahwa hubungan itu disebabkan karena mereka sama-sama memiliki kemampuan spesial diantara yang lain.
Sekarang, arena pertarungan seolah menjadi milik Minato dan Shadow itu. Minato mengeluarkan kedua pedangnya dari pinggangnya. Lagi-lagi untuk menjauhkan perkiraan bahwa dirinya adalah Android Minato. Kemudian da memasang kuda-kuda menyerang. Sementara Shadow itu mempersiapkan kuda-kuda bertahan dan serangan balik. Kabar baiknya, Minato tahu itu.
Minato menyerang dengan kecepatan yang tidak berbeda dengan kecepatan Android manapun. Pedangnya lebih pendek dari pedang Shadow tersebut, jadi dia butuh menempel Shadow itu. Saat mencapai di hadapan Shadow itu, Minato menyayat perisai Shadow itu dengan pedang di tangan kirinya. Shadow itu merespon dengan tusukan dari bagian atas perisai tersebut yang mengarah pada kepala Minato. Minato tahu ini akan datang, jadi dia dengan mudah menepis pedang itu dengan pedangnya sendiri ke arah luar. Masih dengan pedang yang sama, Minato menusuk kepala Shadow.
Teriakan keras muncul entah dari mana. Sulit dijelaskan, karena Shadow itu tidak terlihat memiliki mulut. Shadow itu melompat mundur, sementara cairan hitam mulai keluar dari kepalanya. Darah Shadow. Minato bersiaga menghadapi amukan lawannya dengan posisi bertahan. Dua pedang disilangkan di depannya.
Sekarang giliran Shadow itu yang menyerang. Perisai tetap di depannya, dan tangan kirinya diangkat ke araha atas kirinya. Saat berada dalam jarak serang Shadow, Shadow itu mulai mengayunkan pedangnya. Dari pengalaman, Minato tahu ini akan terjadi. Jadi saat dia sudah berada dalam jarak serang, Minato melompat maju dan mengarahkan pedang kanannya ke arah perisai bagian kanan Shadow. Sepintas terlihat seperti kesalahan, karena dengan begitu, tidak ada yang akan menahan serangan Shadow itu jika dia menyerang dengan pedangnya. Tapi justru itu yang ditunggu Minato. Saat Shadow itu mengayunkan pedangnya, Minato menyentuhkan pedang kanannya dengan perisai bagian kanan Shadow itu, kemudian menarik dirinya dengan mendorong perisai itu dengan pedang kanannya tadi.
Saat pedang Shadow telah menancap di tanah, bagian kanan Shadow itu sangat terbuka bagi Minato. Dengan pedang kirinya, dia mulai menusuk tubuh Shadow tersebut. Namun, Minato agak lupa mempertimbangkan bagaimana kemampuan Shadow yang sesungguhnya.
Sebuah bola api muncul di depan Minato tetap saat pedangnya mencapi targetnya. Tidak menunggu detik berikutnya, bola api itu meledak. Membuat Minato terpental ke arah berlawanan. Shadow itu tidak menunggu Minato siap, dia langsung melompat ke arah Minato perisai di depannya, pedang diacungkan tinggi-tinggi, bersiap memberi pukulan pada Minato dengan pedangnya.
Saat dirinya masih berlutut dengan satu kaki, Minato menahan pukulan Shadow itu dengan kedua pedang yang disilangkan, namun tetap terlihat kurang cepat. Posisi itu bertahan cukup lama, karena pada dasarnya Shadow itu lebih kuat dari Minato.
Melihat itu, Yu mulai mendekat maju, tapi pundaknya ditahan oleh Aigis. Yu menoleh memberikan tatapan bertanya.
"Minato belum kalah. Jika dia dalam bahaya, dia akan segera meminta pertolongan pada kita. Dia bukan orang yang ingin terlihat kuat di hadapan orang untuk kepuasannya sendiri. Dia hanya akan berusahan dengan apapun yang dimilikinya sampai dia tidak memiliki apapun," Aigis berbisik. Yu tersenyum dan mengalah.
Minato berpikir keras tentang bagaimana meloloskan diri dari keadaan ini. Dia sudah pasrah untuk berdiri, kekuatan Shadow di depannya terlalu kuat. Jika dia menendang perisai Shadow itu dengan kaki yang berlutut, itu hanya akan membuatnya tidak seimbang sesaat dan pukulan Shadow itu tidak akan terelakkan. Melompat mundur hanya akan membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat dan Shadow itu akan menerjangnya lagi dengan perisainya. Dia akan terjatuh saat itu, dan mungkin dia tidak akan seberuntung tadi dalam menahan serangan berikutnya.
Dalam keadaan ini hanya dengan tenaga dia bisa memantulkan pukulan Shadow itu agar terlepas darinya. Dan untuk itu, hanya ada satu hal yang terpikirkan olehnya, kekuatan barunya sebagai Android.
"Remove the limiter. Limit, surpassed. Activate, Orgia Mode," gumam Minato pelan.
Belum menyentuh detik kedua setleah mengaktifkan Orgia Mode, Minato merasakan tubuhnya memanas. Lalu tanpa diminta, angin keluar dari dalam tubuhnya melalui lubang-lubang yang tiba-tiba terbuka dari tiap sendi tubuhnya. Angin yang keluar itu mengibarkan jubah hoodie miliknya. Bahkan anggota Strega pun ikut merasakan angin panas dari tubuh Minato.
Tanpa disadari, sebuha kata muncul dari mulut Minato dengan geraman pelan. "Star Burst…"
"Stream!" kata terakhir keluar bersamaan dengan dirinya memantulkan pedang Shadow tersebut. Lalu, insting Minato mulai mengambil alih. Dia menyerang perisai Shadow itu dengan niat menghancurkannya. Shadow itu tidak bisa berbuat banyak selain menahan serangan itu. Sementara Minato terus-menerus menyerang perisai di depannya.
Keadaan itu berlangsung lama. Dan Shadow itu terus terpukul mundur sedikit demi sedikit. Saat Shadow itu mencoba mengayunkan pedangnya, pedang manapun yang dalam keadaan bebas akan memantulkan pedang Shadow itu. Saat ini Minato merasakan sensasi yang agak mirip dengan dirinya saat memunculkan Shadow. Kuat, berkuasa, dan terus bisa melakukan lebih dari ini. Perbedaannya mungkin hanya keadaan panas yang keluar dari tubuhnya.
Dengan satu serangan terakhir, Minato memberikan serangan menyilang pada perisai Shadow itu. Hasilnya diluar perkiraan siapapun yang melihatnya. Kedua pedang Minato pecah bersamaan dengan pecahnya perisai yang sedari tadi diserang Minato.
Merasa unggul, Shadow itu mengayunkan pedangnya. Pada saat ini, Minato tidak memilik pilihan lain. Dia memutar tubuhnya demi membuat jubahnya menempel sesaat padanya, di saat itu, Minato mengeluarkan kedua pedang yang ada di dalam tangannya. Kemudian, langsung menahan pedang yang menyerangnya dengan pedang di kanannya. Membuat seluruh tubuh dari Shadow itu terekspos. Dengan satu teriakan khas Minato saat memberikan Finishing Blow, dia menusuk topeng khas Shadow yang ada di dada lawannya dengan tangan pedang kirinya yang masih bebas.
"ZIIYAA!"
Topeng itu retak tanpa bisa dicegah. Bersamaan dengan itu, suara kengerian terdengar dari arah Shadow tersebut. Shadow itu terbuyar menjadi kabut berwarna hitam dan merah darah. Tanda berakhirnya riwayat Shadow itu.
Dengan senyum puas dibalik syal yang melilit sebagaian wajahnya, Minato berujar, "Orgia Mode, Deactivate."
—X—
"Wow…" hanya itu suara yang terdengar dan dikeluarkan Junpei sesaat setelah Minato selesai bertarung.
"Tanpa Persona, dia…" kali ini Yosuke dengan nada tidak percaya.
Minato berniat langsung pergi dari tempat pertarungannya. Tapi…
DOR!
Sebuah tembakan meletus dari arah berlawanan dengan kelompok Strega. Tembakan itu mendarat di dekat kaki Minato. Saat menoleh, Minato mendapati sosok yang sudah lama tidak dilihatnya.
"Apa yang kau lakukan, Naoto?" tanya Yu pada sosok gadis berambut biru gelap panjang yang sedang mengacungkan pistolnya pada Minato.
Mengacuhkan pertenyaan Yu, Naoto menatap tajam pada Minato. "Alasan kenapa wajah para senpai pendiri Strega menjadi begitu cerah belakangan ini. Alasan mereka sering bertemu secara rahasia sebelum Dark Hour. Rambut berwarna senada denganku. Kau yang melompat kesana-kemari dengan kecepatan tidak normal itu. Orgia Mode di saat terahir itu hanya milik Android. Nama pahlawan yang sama dengan nama orang dari masa laluku itu. Suara khas yang keluar saat memberikan serangan terakhir itu. Aku tidak akan melupakannya. Orang yang paling kubenci dengan tatapan yang selalu seolah tidak ada yang terjadi di sekelilingmu itu. ITU KAU BUKAN, ARISATO MINATO?!"
Minato terdiam. Mempertimbangkan situasi. Dengan desahan berat hati. Dia membukan tudung di kepalanya, dan mencabut syal yang melilit wajahnya. Dia sudah memperkirakan bahwa ada kemungkinan ini akan terjadi.
"Hei, Nao-sama. Sesuai dengan yang kukatakan, kau akan tetap menjadi wanita yang cantik," sapa Minato dengan senyum tanpa emosi.
Bersambung
Bagaimana?
Maaf baru bisa update sekarang, minna-sama!
Hehehe. Maaf ya, akhirnya agak menggantung. Bagaimana sedikit aksinya? Aku minta pendapatnya ya.
Untuk kalian yang masih menanti tulisanku, kalian adalah yang terbaik.
Terima kasih, dan sampai jumpa di chapter berikutnya.
Akhir kata, Review, Please!
