mamoru.
Genre : Romance, and Drama
Pair : NamJin, KookJin, and slight TaeJin
Rate : M
Warning : Explicit, Smut and BrotherComplex
Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.
(part four: fake wedding)
Namjoon pernah membayangkan sebuah pernikahan sebelumnya. Ia menikah dengan seorang gadis cantik berambut panjang dan tinggi, gadis itu nampak mempesona saat ia mengenakan gaun putih sederhana dan sepatu convers high berwarna merah. Ya, menikah dengan sepatu sneakers tidak ada salahnya bukan? Di bayangan Namjoon, gadis itu nampak lugu namun sikapnya dewasa, ia berasal dari Gwangju atau Yeosu, kota besar di propinsi Jeolla. Namjoon dapat melihat senyum indahnya saat ia menyematkan cincin pernikahan bertahtakan satu berlian kecil diatasnya pada jari manis si gadis, lalu mencium keningnya saat pastor meresmikan status mereka sebagai suami-istri.
Dan disini 'lah ia sekarang, di dalam dunia nyata. Setelan jas yang ia kenakan memang tak jauh berbeda dalam bayangannya, kemeja putih, dasi kupu-kupu berwarna hitam, celana berbahan satin gelap dan jas yang berwarna senada hanya saja corak putih keabuan menghiasi kerahnya. Setelan jas yang ia kenakan dipesankan khusus oleh keluarganya, Namjoon merasa nyaman tapi juga risih saat memakainya, jas rancangan Dolce Gabbana ini harganya bisa membiayai kuliahnya selama enam semester penuh lengkap dengan ujian praktik lapangan, belum lagi jam tangan yang ia kenakan adalah jam tangan merk terkenal dari Swiss, Audemars Piguet, harganya bisa membeli tiga unit mobil Chevrolet keluaran terbaru, dan yang membuat Namjoon ingin menangis adalah, apa yang ia kenalan di seluruh tubuhnya bisa membeli satu unit apartemen baru impiannya di dekat kampus. Dan itu semua belum ia kalkulasikan dengan harga sepatu rancangan Allen Edmonds yang terpasang di kakinya.
Satu-satunya yang original dalam diri Namjoon adalah kacamata yang ia kenakan. Kacamata Armani hadiah ulang tahunnya dari Jimin di dua tahun yang lalu. Namjoon menatap wajahnya dalam pantulan cermin, rambutnya tersisir rapih ke belakang dengan riasan profesional yang menutupi guratan yang menurut mereka kurang sempurna di wajah Namjoon yang memang sudah tampan menjadi semakin menojol, bibirnya juga terpoles dengan bubuhan chapstick agar terlihat lembab dan lebih ranum kemerahan, mereka juga menambah goresan tegas pada matanya agar terlihat lebih elegan saat ia memandang, semua riasan pada dirinya membuat Namjoon nampak berbeda, tetapi masih dalam konteks yang natural. Namun ia merasa, yang ada di dalam pantulan cermin besar itu adalah Park Namjoon, bukannya Kim Namjoon.
"Yang menikah hari ini adalah kau Park Namjoon." Ucap Namjoon pada bayangannya sendiri, ia tersenyum miring, merasa sebagian dari dirinya masih bisa 'bebas' dari semua sandiwara yang akan segera ia lakoni. Diatas meja rias tergeletak selembar kertas tebal dengan tulisan tangan yang tersusun rapi, Namjoon membacanya, di dalam kertas putih gading itu tertulis janji pernikahannya dengan Kim Seokjin, janji yang disusun oleh entah siapa. Janji palsu yang ditulis untuk formalitas semata, Namjoon tak perlu menghafalnya, ia cukup membacanya di depan altar dengan suara lantang.
"Hyung kau di dalam?" Dua kalimat baru Namjoon baca, tetapi suara Jimin membuatnya meletakan lembaran kertas itu ke atas kasurnya, "Masuk 'lah Jimin." Jimin masuk ke dalam kamar mewahnya, ia dan keluarganya menginap di hotel dekat dengan gedung tempat mereka melangsungkan pernikahan yang terbilang sangat niat hanya untuk sebuah pernikahan palsu, "Apa kau gugup?" Namjoon memaksakan senyumnya saat ia melihat wajah berbinar dan lengkungan lebar di bibir Jimin, "Tidak terlalu." Namjoon ingat betul saat Jimin baru pulang dari camp musim gugurnya bersama dengan teman-teman dari club tari di kampusnya, ia mendatangi Namjoon, masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan berteriak tepat di wajah Namjoon yang kebingungan, "Hyung! Kau tak bilang padaku kalau kau punya pacar?!" Namjoon menjatuhkan earphone-nya, ia menggigit bibir bawahnya, "Akhir-akhir ini kau sibuk Jiminnie, jadi aku tak sempat bercerita padamu." Ia ingat, ia harus berpura-pura mencintai Seokjin pada semua orang, termasuk adiknya.
"Tapi kau akan menikah besok!!" Seruan Jimin semakin besar, tetapi ekspresi di wajahnya menggambarkan bahwa ia bahagia sekaligus... panik?
"Jangan-jangan..." Wajah Jimin memucat, "Kalian 'kecelakaan' saat melakukannya?" Namjoon ingin menepuk wajahnya saat Jimin mengatakan hal itu, adiknya menduga, ia menghamili Seokjin terlebih dahulu dan harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya. "Bukan, Jimin-ah, mana mungkin itu terjadi." Namjoon memang terkenal ceroboh, tapi mana mungkin ia menghamili anak orang sebelum menikahinya, "Aku hanya," Jimin membulatkan kedua bola matanya, ia menunggu, "aku merasa ia orang yang tepat, aku takut terlambat," Namjoon menelan ludah, ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya agar Jimin tidak melihat aktingnya yang menurutnya payah, "aku takut kalau aku tidak segera mengikatnya dalam hubungan yang serius ini, ia akan pergi." Sedikit mendramatisir tidak apa-apa kan? Lagi pula Namjoon merasa bahwa ia telah mengimprovisasi kemampuan aktingnya.
Mereka berdua terdiam cukup lama sebelum Jimin menyebut satu nama.
"Bagaimana dengan Sowon?" Satu nama yang keluar dari mulut Jimin mewakili pertanyaan yang jawabannya sudah Namjoon siapkan, "Aku sudah melupakannya." Namjoon sendiri tidak yakin, apa yang ia katakan benar adanya atau tidak, karena beberapa hari yang lalu ia berjumpa dengan wanita itu, hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabarnya. Tanya dalam benak Jimin belum terjawab dan hal itu terlihat dari raut wajahnya, "Aku juga tidak menjadikan Seokjin pelampiasan," Namjoon menelan ludah, "perasaanku tulus." Diantara seluruh orang di muka bumi, Jimin adalah orang yang paling tahu siapa dirinya, dan itu membuat Namjoon takut. "Hyung, aku tahu persis seperti apa perasaanmu pada Sowon." Namjoon masih dalam posisinya, duduk seraya mendongak menatap adiknya, tetapi ia tak mampu melihat mata Jimin yang seolah menyelami relung jiwanya, menelanjangi kebenaran dalam ucapannya, "Kau bahkan masih membawa jurnal itu kemana-mana."
Namjoon menoleh ke arah yang ditunjuk Jimin, diatas meja kerja itu, ada sebuah jurnal dengan sampul kulit lembu, sketsa bulan berwarna biru nampak menghiasi sampul depannya, jurnal itu terlihat lusuh di bagian ujungnya karena Namjoon selalu membawanya kemana-mana selama bertahun-tahun.
"Lirik-lirik lagu yang kau tulis di dalamnya," entah sejak kapan raut sumringah yang terpatri di wajah Jimin berubah masam, "semua terinspirasi dari perasaanmu pada Sowon." Jimin tahu semuanya, setiap detail dari penggalan hidup Namjoon dan hal itu membuatnya kesulitan untuk berbohong di depan adiknya ini. "Tapi," kini Namjoon menatap mata adiknya, wajah masamnya berganti dengan senyuman manis, "kalau dia pilihan yang tepat bagimu dan kau bahagia atas semua keputusan yang kau jalani kedepannya," Jimin meraih kedua tangan Namjoon untuk menggenggamnya dan membawanya ke depan dadanya sendiri, "aku turut bahagia, hyung."
Sekarang Namjoon merasa bersalah akan kebohongannya, seumur hidup ia belum pernah berbohong di depan Jimin, hingga saat ini. "Terima kasih Jimin-ah." Namun Namjoon membuat pengecualian, jika demi kebaikan Jimin, berbohong 'pun akan ia lakukan.
Memang sejak awal, ia melakukan ini semua demi Jimin.
"Hyung?" Namjoon tersadar dari kilas balik yang berputar dalam bekanya saat Jimin kembali memanggilnya, "Kau lupa memakai ini." Jimin menyematkan setangkai sweet pea berwarna violet di kerah jasnya, ia juga mengenakan bunga yang sama di setelan Burberry yang dikenakannya, "Thanks Jiminnie." Jimin membalasnya dengan senyuman sebelum seorang pelayan wanita datang untuk memberitahukan bahwa waktunya telah tiba.
mamoru.
Selama dua hari sebelum hari pernikahnnya dengan Seokjin, Namjoon sama sekali tidak bersua dengannya hingga hari ini, ia bersiap di sayap kiri gedung, terhalang oleh tembok diantara para tamu, sebelum akhirnya mereka bertemu di depan altar, kerumunan tamu undangan dan kerabat dekat nampak memenuhi kursi kayu eek yang telah dihias dengan bunga peony berwarna pink. Namjoon tahu, keluarga Park menyerahkan segala urusan tentang pernikahan ini pada keluarga Kim, dan tanpa ia sangka, mereka membuat pernikahan ini senyata mungkin
Ada orang tua angkatnya dan Jimin yang duduk dibarisan depan, dua baris di belakang mereka, ia bisa melihat Hoseok dan Yoongi yang terlihat mengantuk seperti biasa, dan yang membuat Namjoon menajamkan indera penglihatannya adalah, tak jauh dari mereka Sowon turut hadir, dengan gaun baby blue, warna favoritnya. Tentu saja ia datang, keluarga Sowon adalah kerabat keluarga Park sekaligus teman masa kecilnya dan Jimin, raut wajahnya yang cantik tampak tenang di samping tunangan dan ayahnya.
Bahu Namjoon tegak lurus saat pria paruh baya yang yang akan menikahkannya dengan Seokjin memberikan instruksi pada para tamu dan kerabat yang hadir disana untuk berdiri, dan menyambut pasangan yang akan mengucap janji satu sama lain. Dalam sekejap, Namjoon merasakan tangannya gemetar dan berkeringat, ia merogoh saku jasnya, dan nafasnya berhembus lega saat ia bisa merasakan halusnya beludru yang membungkus sebuah kotak kecil berisi cincin pernikahan yang sebentar lagi akan ia pasangkan di jari manis Seokjin. Lalu, bagaimana dengan Seokjin?
Nyanyian persembahan bagi sepasang insan yang akan segera resmi menikah bergema di dalam gedung itu, suasananya sangat nyata, membuat Namjoon hampir lupa bahwa pernikahan ini didasari oleh perjanjian yang dilakukan dengan sengaja oleh keluarganya. Ia melangkah dengan hati-hati, tatapannya lurus ke depan, hingga ia dapat melihat wajah calon mempelainya, Namjoon terdiam, mematung.
Di balik riasan yang membuat Seokjin nampak seperti boneka hidup, Namjoon tahu, ada sembab yang berusaha ditutupi. Apa Seokjin menangis?
Raut wajahnya terlihat biasa saja, senyum manis terpasang di bibirnya, kilauan dari matanya menandakan ia bahagia jika terlihat dari kejauhan, tetapi Namjoon saat ini berada tepat di hadapannya, ia dapat melihat dengan jelas warna kemerahan di telinga pria itu, serta sekilas pancaran kesedihan dari tatapannya sayunya yang berusaha Seokjin tutipi. Bagi mereka yang percaya, Seokjin seperti melihat Namjoon dengan penuh cinta, padahal ia sama sekali tidak memusatkan pandangannya pada pria yang lebih tinggi itu. Ia menerawang, jauh, entah kemana. Di hari pernikahan mereka, Seokjin tidak berada bersama Namjoon, benaknya pergi berkelana ke suatu tempat, meninggalkan Namjoon yang kini mengucap janjinya dengan suara gemetar yang samar, berbeda dengan Seokjin yang mengucapkan janji dengan biasa saja seakan tak ada apa-apa, seolah ia sudah terbiasa untuk berbohong.
Namjoon belum mengenal Seokjin, begitu juga dengan Seokjin yang belum mengenal Namjoon, mereka masih 'lah orang asing bagi satu sama lain. Mereka hanya berinteraksi sebanyak dua kali, dihitung dari saat menandatangani surat perjanjian, hingga hari ini, hari pernikahan ini. 'Yang menikah hari ini adalah Park Namjoon.' Satu kalimat itu melintas dalam benak Namjoon saat menatap langsung iris karamel milik pria yang akan resmi menjadi pendamping hidupnya (untuk sementara), Namjoon menyematkan cincin pernikahan mereka terlebih dahulu, dan Seokjin setelahnya. Ia termangu saat satu tetes air membasahi jemarinya yang kini telah terhias oleh simbol dari janji yang baru saja ia ucapkan.
Seokjin menangis.
"Kalian telah mengikat janji sehidup-semati di hadapan Tuhan," Namjoon masih bisa mendengar pria yang menikahkan mereka itu bicara, tapi seluruh inderanya hampir kelu sepenuhnya saat ia menatap wajah Seokjin, hanya setetes air mata yang jatuh, namun tetesan itu mewakili seluruh perasaannya, "-resmi menikah," kini kata-kata yang diucapkan pria berjubah putih itu terdengar putus-putus, pandangan sayu sarat akan kesedihan dari bola mata indah milik Seokjin seolah menenggelamkan Namjoon, seluruh tubuhnya seakan dikendalikan oleh Seokjin yang kian memandangnya dalam, seolah meminta untuk diselamatkan dari ratapan semu penuh harap, seakan meminta untuk segera dibebaskan, "silakan mencium-" Namjoon tak kuasa, tubuhnya lebih dahulu bertindak, logikanya hilang, dan benaknya bertumpu pada satu nama yang belum pernah hadir dalam memorinya tetapi sudah menguasai seluruh akal sehatnya.
Kim Seokjin
Pinggang mungil Seokjin dalam rengkuhannya, jemari kanannya menarik dagu itu agar mendongak. Namjoon dapat merasakan basah dan ranumnya bibir itu dalam tautan lembut yang dimulainya.
Strawberry.
Rasanya manis. Harumnya memikat.
Penuh dan lembut.
Namjoon memejamkan matanya, mematri sebuah gambaran dari bibir penuh dan lembut itu ke dalam memorinya.
Dia terkejut.
Dapat Namjoon rasakan, tubuh dalam rengkuhannya terpaku dan tegang, membuat seringainya muncul tannpa ia sadari disela ciuman itu.
Suara tepuk tangan?
Suara riuh tepuk tangan dan sorakan ucapan selamat yang bersahutan yang awalnya hanya sebuah dengungan kini semakin jelas terdengar di telinga Namjoon.
O-oh
Ciuman itu terlepas begitu saja. Namjoon terkejut pada dirinya sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya.
Kim Namjoon back to earth.
"Maaf." Bisik Namjoon, dan Seokjin tak menjawabnya, ia hanya memandang, ya, hanya memandang tak bergerak pria yang telah resmi menjadi suaminya.
"Selamat untuk Park Namjoon dan Kim Seokjin." Entah siapa yang mengucapkannya, tapi kata-kata itu membuat Namjoon membuat sanggahan untuk dirinya sendiri, bahwa yang mencium Kim Seokjin tadi adalah Park Namjoon, bukan Kim Namjoon.
Ia memutuskan untuk melupakan apa yang telah dirinya lakukan.
mamoru.
Social Butterfly adalah ungkapan yang pantas untuk disematkan pada pribadi Kim Seokjin. Setelah insiden di depan altar itu, kesedihan dalam pancaran matanya perlahan berkurang, memang masih ada, tapi berkurang dan hampir tak terlihat. Terbukti saat banyak orang yang mengerumuni mereka untuk mengucapkan selamat, wajah-wajah yang menyalami mereka tampak begitu asing bagi Namjoon, tetapi tidak dengan Seokjin.
"Temanmu banyak ya?" Itu adalah kalimat pertama yang Namjoon ucapkan setelah mereka resmi menikah. Ia tidak minum champagne, jika itu berkaitan dengan alkohol, Namjoon lebih nemilih makgeolli atau soju yang memiliki cita rasa manis, dari pada champagne atau jenis wine lain yang agak asam. "Mereka kollega Appa-ku, aku tidak diizinkan untuk memiliki teman." Namjoon sontak menoleh, Seokjin meletakan gelas champagne dalam genggamannya ke atas nampan yang dibawa oleh seorang pelayan, ia memasang senyum manis saat mengatakannya, dan itu terlihat sedikit menyedihkan dimata Namjoon, "Kau sudah terbiasa dengan hal itu?" Ia memutuskan untuk tak mengorek lebih jauh alasan dari kata-kata yang Seokjin ucapkan, Namjoon lebih tertarik pada 'senyumannya'.
"Apa?"
"Senyummu."
Seokjin tak mengerti, apa ada yang aneh pada senyumannya? Ia tampan, tersenyum atau tidak, seorang Kim Seokjin tetap mempesona, dan dunia mengakuinya, tapi sepertinya pria yang baru saja menerima status sebagai suaminya ini tidak beranggapan demikian.
"Lupakan." Namjoon mengalihkan pandangannya, ia menghiraukan rasa ingin tahunya dari 'senyum palsu' yang selalu Seokjin pasang sepanjang hari. "Kau mencari seseorang?" Tanpa menoleh pada pria di sampingnya, Namjoon menghela nafas pelan, ia menggeleng, "Tidak." Namjoon mencari keberadaan Sowon, dari sekian banyak tamu yang diundang, ia hanya mengenal Yoongi dan Hoseok yang sudah mengucapkan selamat padanya setengah jam lalu, "Apa kau mengundang mantan kekasihmu?" Kali ini Namjoon menoleh, dari mana Seokjin mendapat imajinasi tetang orang yang ia cari, 'mantan kekasih' bukan 'lah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok wanita yang ia cari, mungkin 'mantan seseorang yang kucintai tetapi tak dapat kumiliki' bisa digunakan walau lebih panjang dari pada dua kata itu.
"Tidak, aku hanya mengundang dua sahabatku tadi, Hoseok dan Yoongi." Namjoon sudah mengenalkan mereka pada Seokjin, dan diluar dugaan ia dapat akrab dengan mudah pada mereka, "Namjoon-ssi," akan aneh bagi orang lain saat mendengar sepasang kekasih yang baru menikah memanggil nama masing-masing dengan panggilan formal, untuk itu Namjoon memintanya, "Panggil saja aku Namjoon." Seokjin mengangguk sekali, ia melanjutkan, "baik, Namjoon-ah, aku harus ke toilet." Namjoon membuat gestur bahwa ia paham, tamu yang datang kian berkurang, matahari sudah tak terlihat lagi, namun beberapa orang memutuskan untuk tinggal, termasuk kedua sahabatnya yang kini mengobrol dengan adiknya, Jimin. Setelah Seokjin pergi, ia memutuskan untuk bergabung bersama mereka.
Sebenarnya Seokjin tidak benar-benar ke toilet, ia berdiri, terdiam di lorong sepi, ia sendirian untuk dua menit hingga seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. "Kau bilang kalau kau tidak akan datang," Seokjin menoleh, menatap wajah tampan adik sabungnya, "Jungkook-ah." Ia membiarkan kedua tangan Jungkook melingkar di pinggang rampingnya, "Eomma memaksaku." Bahu Seokjin turun ke bawah, ia tahu apa yang dirasakan Jungkook, menyaksikan orang yang kau cintai bersanding dengan orang lain pastilah menyakitkan. Seokjin mengerti jika Jungkook tidak ingin datang, tetapi ibunya memaksanya untuk melihat pernikahan Seokjin yang berarti juga memaksa Jungkook untuk menyerah pada perasaannya, dan itu menyakitinya. Seokjin tidak mau menyakiti adiknya.
"Maafkan aku." Jungkook mendongak saat Seokjin mengatakannya, ia menggeleng, "Itu bukan pertama kalinya aku melihatmu dicium pria lain." Seokjin menggigit bibir bawahnya, ia ingin melangkah mundur, untuk menjauh dari Jungkook, tetapi pemuda itu menahan gerakannya, "Hyung, aku harap aku yang berada diposisi lelaki itu."
'Menaruh rasa pada saudaramu sendiri adalah sebuah kesalahan besar!'
'Menjijikan!'
'Sadar 'lah Jungkook, dia kakakmu!'
'Seokjin, kau telah gagal menjadi seorang kakak untuk adikmu!'
'Kami harus memisahkan kalian.'
Teriakan dan cacian yang tak bisa Seokjin dan Jungkook lupakan. Dalam tiga belas bulan selama Seokjin menjalani pernikahan palsunya dengan Namjoon, mereka ingin melihat apa Jungkook bisa membuang perasaan cintanya karena sang kakak telah menikah dan menjadi milik orang lain, jika hal itu tidak berhasil, orang tua mereka akan bercerai, Jungkook dan ibunya akan pindah ke armenia, dan ayahnya serta Seokjin akan menetap di Korea.
Mereka tidak membicarakan hal ini pada Jungkook, hanya pada Seokjin. Dan Seokjin, dapat dengan jelas melihat luka dan kekecewaan di raut wajah orang tuanya saat mereka bicara padanya, terutama ayahnya. Seokjin sangat menyayangi sang ayah, sekarang beliau adalah satu-satunya keluarga kandung yang ia punya, ia tidak mau menjadi penyebab dari hilangnya sang ibu dari kehidupan ayahnya untuk kedua kalinya.
'Aku mengerti.'
Tetapi Seokjin juga mencintai Jungkook. Ia lebih baik mati dari pada harus menyakiti adiknya. Seokjin serba salah.
Derap langkah kaki membuat mereka memisahkan diri, dan sebisa mungkin bertindak sewajarnya. Seorang pelayan datang menghampiri mereka, untuk memberitahukan bahwa para tamu mulai menanyakan keberadaan mempelai satu lagi yang hilang. Seokjin menggenggam tangan Jungkook, ia menarik lembut tangan itu dan melangkah ke kerumunan yang telah menunggunya. Namjoon berdiri disana, dengan teman-teman dan adiknya, tertawa, tawanya begitu lepas, membuat Seokjin iri. Ia sudah lama tidak tertawa selepas itu.
Setelah menyalami beberapa tamu terakhir, mereka berkumpul, dalam satu lingkaran dengan jas yang tersampir di lengan dan dasi yang telah dilonggarkan. Jungkook mengekori langkah Seokjin, ia terdiam, kedua orang tua mereka telah pergi untuk mendiskusikan rencana kedepannya pada keluarga 'besan' mereka.
Senyuman Namjoon terpasang setia di wajahnya, ia tidak merasakan pegal, karena ia sudah biasa tersenyum, terlebih saat melihat Jimin bercanda dengan dua sahabatnya. Ia melirik Seokjin yang diam saja dengan adiknya, Jungkook. Namjoon sudah berkenalan dengan Jungkook tadi pagi saat mereka tak sengaja bertemu di parkiran gedung, pakaian yang 'adik iparnya' kenakan itu nampak sama seperti yang lain, tetapi warnanya serba hitam, orang awam akan mengira ia mendatangi sebuah seremoni dari pemakaman kerabatnya, 'Mungkin itu style-nya.' Pikir Namjoon, berusaha mengesampingkan rumor yang ada antara Seokjin dan Jungkook.
"Hyung, hari masih sore, ayo kita rayakan pernikahanmu dengan cara kita." Sore yang di maksud Jimin sebenarnya adalah malam, jam sembilan kurang dua puluh, tak terasa mereka telah mengobrol terlalu lama, para pelayan juga masih setia berkeliaran memanjakan mereka dengan sajian dan minuman yang disediakan, mereka belum akan beranjak sebelum sang tuan selesai. Jadwal Namjoon dan Seokjin setelah ini adalah pindah ke rumah baru, "Cara kita?" Seokjin akhirnya bicara lebih dahulu, sedari tadi, hanya Hoseok, Jimin san sesekali Yoongi yang berusaha mengajaknya bicara, "Ya, minum makgeolli dan bermain game tantangan." Seokjin terlihat tertarik, ia tersenyum tipis, "Sepertinya menarik, lakukan di rumah saja, aku akan memanggil sopir untuk membawa kita semua." Namjoon tidak tahu, kalau rumah yang di maksud Seokjin adalah rumah mereka.
mamoru.
"Taehyung akan bergabung dengan kita."
"Siapa Taehyung?"
"Temanku," Seokjin menjawab dengan kedua matanya yang masih fokus pada layar ponselnya, "aku mengundangnya ke," ia menjeda ucapannya, "pernikahan kita, tapi ia tidak bisa hadir karena harus syuting." Seokjin, Namjoon, Yoongi, Hoseok hingga Jungkook menoleh ke arah Jimin yang langsung menyambar ucapan Seokjin, ia hampir menjerit, "Kim Taehyung?!" Seokjin mengangguk cepat, makgeolli, bir san soju sudah tersaji di depan mereka, lengkap dengan cumi kering dan cemilan yang lain. Seokjin menyukai suasana ini, ramai, penuh dengan orang-orang yang hampir sebaya dengannya, yang mengobrol dengannya, dan bercanda ringan tanpa menyebutkan status ayahnya yang seorang CEO dan memuji kekayaannya, teman-teman barunya ini tidak seperti mereka, terima kasih pada Namjoon.
"Jin hyung berteman dekat dengan Kim Taehyung?" Terlihat dari binar wajahnya, Jimin sepertinya adalah fans Taehyung, ia mendekat pada Seokjin, untuk bertanya lebih jauh tentang kedekatannya pada aktor dan model tampan itu. Dan Namjoon melihatnya, tatapan sinis yang Jungkook layangkan pada Jimin, "Aku tidak mengerti selera anak jaman sekarang." Yoongi bicara, menatap datar pada Jimin yang masih dalam mode antusiasnya, "Hyung, kau bicara seperti kakek-kakek." Hoseok meledeknya seraya bersandar pada sandaran sofa berwarna merah marun itu. "Kalau aku kakek-kakek, kau abu jenazah." Hoseok menaikkan sebelah alisnya, ia protes, "Hyung, kau lebih tua dariku, kalau aku abu jenazah, kau batang pohon yang tumbuh dari tulang orang mati."
"Hei, hei, hei." Namjoon melerai mereka, Jimin berhenti dari pertanyaan terakhirnya 'Berapa ukuran sepatu Tae?' dan ikut melerai Yoongi dan Hoseok, "Sepasang kekasih tidak boleh bertengkar." Jungkook mendongak dari ponselnya dan Seokjin menahan tawa saat Hoseok dan Yoongi kompak berteriak, "Aku bukan kekasihnya!"
"Kalau kau bukan kekasihnya, Min Yoongi, kenapa kau duduk dipangkuan Hoseok hyung?" Kedua alis Jimin bergerak naik-turun, Namjoon menatapnya dengan pandangan aneh, Jungkook kembali pada layar ponselnya, Hoseok menanti jawaban Yoongi, dan Yoongi, yang sudah duduk dipangkuan Hoseok selama lebih dari lima menit itu masih setia pada posisinya, "Sofanya dingin," Yoongi menyendikkan bahunya, "dan disini hangat." Dari sini Jimin tersenyum miring, Namjoon merasakan rencana jahat yang dibuat adiknya, pantas saja, Namjoon selalu berandai, jika mereka hidup dalam dunia Harry Potter, Jimin pasti masuk Slyntherin.
"Hyung, kurasa suhu heater-nya kurang tinggi." Namjoon mencari remote heater-nya, suhu di luar minus dua derajat, dan di dalam yang harusnya hangat, malah terlihat sama saja. "Ah, ternyata sudah maksimum." Heater dalam ruangan mereka sudah dalam derajat maksimum, 40º, tetapi saat Namjoon melihat ponselnya, suhu dalam ruangan itu 19º. "Kita pasang perapian saja." Hoseok mengusulkan, di dekat mereka ada perapian lengkap dengan kayu bakar yang terusun rapi, "Tidak." Semua mata tertuju pada Jungkook, ia melirik Seokjin, kemudian menatap mereka (kecuali Seokjin) dengan tatapan dingin, sedingin suhu di luar, "Aku alergi debu perapian." Katanya asal.
"Ah, begitu."
Beberapa menit kemudian, Taehyung datang, membawa se-bucket bunga Hortensia biru dan sekotak hadiah dengan labbel Gucci dalam kemasannya, ia berucap maaf tak sempat datang ke acara pernikahan itu sebelum bergabung bersama Seokjin dan teman-teman barunya. Taehyung menatap Jungkook, yang balik menatapnya, hanya mereka berdua yang tahu, arti dari tatapan yang mereka lontarkan di balik punggung Seokjin.
"Apa itu enak?" Seokjin menatap aneh secangkir, bukan, semangkuk soju dan beer yang telah Jimin campurkan sambil tertawa sadis, "Karena semuanya telah berkumpul, kita lakukan pesta yang sesungguhnya." Mereka duduk melingkar diatas karpet berbulu domba yang hangat, Jimin meletakan mangkuk itu ditengah. "Permainan ini mirip truth or dare, masing-masing dari kalian akan mencabut sumpit ini, ada nomor di bawahnya, dan dia yang mencabut sumpit dengan ujung warna merah adalah rajanya, dan sang raja mendapat hak untuk menanyai atau menantang ke enam nomor yang sudah dipilih pemain lain, dan jika pemain yang terpilih tidak sanggup menerima pertanyaan atau tantangan dari raja, mereka akan dihukum meminum minuman ini." Seokjin samar-samar bisa melihat sepasang tanduk dikepala Jimin dan ekor tajam yang menjuntai di balik punggungnya.
Sebelum mereka memulai permainan ini, diam-diam Jimin mengirimkan pesan pada Seokjin dan Namjoon, Seokjin membisikan pesan itu pada Taehyung dan Jungkook, memaksa mereka untuk mengikuti permainan Jimin.
'Ayo kita buat Yoongi hyung dan Hoseok hyung berciuman."
Jungkook ikut permainan karena dipaksa Seokjin, ia tak bisa menolak permintaan sang kakak, dan Taehyung, meskipun belum kenal mereka sepenuhnya tetapi ia menganggap ini menarik dan ikut tersenyum licik seperti Jimin. Namjoon duduk disamping Hoseok dan Jimin di samping Yoongi, mereka akan mengintip nomor milik teman mereka itu agar siapa 'pun rajanya dapat memerintah mereka.
"Aku raja." Raja pertama adalah Jimin, Namjoon memberi kode padanya, Hoseok memiliki nomor 4 dan Jimin mengintip sumpit kayu milik Yoongi, senyumnya melebar, "Nomor satu dan empat, harus berciuman." Wajah Yoongi dan Hoseok berubah pucat, Taehyung yang duduk ditengah mereka berusaha menahan tawa, begitu juga Seokjin, bahkan Jungkook sudah meninggalkan ponselnya dan tanpa sadar ia juga menikmati 'permainan' ini. Yoongi dan Hoseok hanya bertatapan, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menenggak minuman beralkohol yang sudah diracik dengan sepenuh hati oleh Jimin. Penonton kecewa.
"Ah, sekarang aku." Taehyung raja selanjutnya, ia menerima sinyal dari Namjoon dan Jimin, "Nomor dua dan tiga harus kiss kiss." Ia membuat gerakan tangan yang menguncup dan menyatukannya seolah sedang berciuman, Hoseok minum untuk yang kedua kalinya, begitu juga Yoongi. Jimin kesal, kedua orang yang menjadi targetnya ternyata sangat tangguh, enam mangkuk besar sudah mereka habiskan, ia sendiri sudah merasa begitu mabuk, pandangannya agak kabur, tetapi ia berusaha untuk mengirim sinyal pada Seokjin yang kepalanya sudah hampir jatuh ke bahu adiknya.
"E-enam, ugh," Seokjin sudah tidak fokus, "dan tiga... cium." Jimin menggeram saat Yoongi dan Hoseok lagi-lagi meminum semangkuk, tidak, mereka sudah menggantinya dengan basin, satu basin minuman telah habis, "A-aku raja lagi." Jimin merasakan kepalanya yang berat, ia melirik Yoongi yang bersandar di sofa, dengan keadaan mengenaskan, ia tak bisa melihat dengan jelas nomor yang tertera di sumpit miliknya, Jimin menatap Namjoon, dan sama dengannya Namjoon menggeleng, Hoseok mengapit sumpitnya sendiri dibawah bokongnya, ia sendiri sudah nampak tak sadarkan diri.
"Sudahlah, nomor tiga dan satu, ciuman, hik-" Dan dengan demikian, Jimin bergabung dengan Hoseok dan Yoongi, ia jatuh tertidur dipangkuan kakaknya.
Tiga dan Satu?
"A-aku satu." Seokjin berkata dengan mata yang sudah setengah terbuka, ia sudah hampir jatuh terlentang. Dan didepannya, Taehyung merangkak maju ke arahnya, ia menangkup wajah Seokjin sebelum mencium bibirnya yang merah karena mabuk, tepat disampingnya, Jungkook melihat apa yang Taehyung lakukan, kedua matanya terbuka lebar, dan tak jauh dari Taehyung yang masih menempelkan bibirnya pada bibir Seokjin yang memejamkan matanya, Namjoon tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
next... (fake husband)
note :
Hallo~
Gara-gara Run!BTS eps. 58, jiwa KookJin shipper saya bangkit~ *ketawa jahad* Tapi tenang aja, NamJin still numero uno uwu
Bagaimana menurut kalian chapter ini? Silahkan tuliskan komentar kalian di kolom review uwu
massive thanks to :
AppleCaramelMacchiato
Cium online accepted uwu Mereka memang ditaktirkan bersatu, kalo sampai cerai, saya sebagai anak(?) akan menuntut mereka! AAUUWOO
AngAng13
th-thank you for loving my story, i can't stop smiling because of you, please be my wife *di-ruqiyah Yoongi* uwu Jungkook emang cinta bgt sama Jin, ga hanya di ff, di dunia nyata juga ngehahahaha Jin juga cinta ga yaaah ke JK? *smirk*
QnQueen
yes my Queen? fluff nya udah kerasa belum? tenang, konflik cinta segi rumit(?) ini cuma buat bumbu pelengkap aja kok, selanjutnya saya fokusin deh ke kehidupan rumah tangga mereka yang uwu dan owo hahahaha Saya anjurkan sama my Queen buat vote(?) NamJin soalnya cerita ini memang couple utamanya NamJin~
Guest
Terima kasih sudah penasaran uwu saya akan semangat demi kamu, iya, kamu~
rayvin2529
Can i call you rayvinnie? rayvinnie is cute, yeah, you're cute uwu jangan bimbang, sini peluk~ i hope you like this chapter darling uwu
dncrdng
Hmm... Jin juga cinta ga yah ke JK?~ mereka ga NC-an kok, cuma bercumbu kiw kiw~ *ceritanya siul*
Kimranum
omg yeeessss Jungkook-ah
Terima kasih banyak telah membaca dan meninggalkan review di cerita ini, i purple you guys so much~
Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
