Creating Love (Again?!)

Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Support Cast:

Kang Daesung

Tiffany Hwang

Genre: Romance, Drama, Family

Warning:Genderswitch! typo(s), gaje, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING^^

.

.

.

"Ya! Lepaskan!"

Jaejoong memberontak dan berusaha menarik tangannya, tapi percuma karena tenaganya sudah habis terkuras dan lagi kekuatan namja itu lebih besar darinya. Jaejoong terengah-engah sementara namja itu hanya menyeringai.

"Neo micheoseyo?! Ya! Turunkan aku!" Jaejoong menjerit histeris ketika namja itu mulai mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi. Ketakutan Jaejoong kini mulai menjalar. Astaga, namja gila ini sungguh mau menculiknya. Otte? Bagaimana kalau namja ini mau menjualnya? atau bahkan memperkosanya? ANDWEEEE!

.

.

CHAPTER 4

.

.

Yunho menatap yeoja yang tengah tertidur pulas itu dengan pikiran berkecamuk. Bingung, apa yang akan dia lakukan sekarang? Ingin sekali dia menangis memikirkan nasib sialnya. Dia sudah cukup pusing dengan urusan pekerjaan dan skandalnya dengan Tiffany, lalu kenapa sekarang mesti ditambah ini?

Beruntung tadi Jaejoong tertidur karena kelelahan ketika mereka dalam perjalanan pulang. Salah siapa dia berlari-lari padahal dia baru tersadar dari kecelakaannya? Gezzz...

Namja maskulin itu mendesah lalu memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikiran dan hatinya. Setelah merasa lebih baik Yunho kembali membuka mata dan memandang yeoja cantik di depannya. Tatapannya perlahan melembut. Dia menunduk lalu mencium kening Jaejoong.

"Jangan membuatku khawatir, Boo..."

Yunho menatap yeoja yang telah sah menjadi istrinya itu penuh sayang. Tangannya mengusap lembut pipi putih Jaejoong. Dia kembali mendekat lalu mengecup bibir pucat yang hampir tiga minggu terakhir ini tidak ia sentuh.

"Maafkan aku..."

Kemudian Yunho berdiri dari tempat duduknya dan beranjak ke kamar mandi. Dia butuh menyegarkan diri.

Baru dia akan membuka pintu, ponsel di sakunya bergetar. Dengan cepat Yunho menjawabnya begitu melihat nama Daesung, manajernyalah yang menelepon.

"Yeoboseo, hyung?"

"Ne, bagaimana keadaan istrimu? Dia baik-baik saja? Yoochun bilang dia hilang ingatan."

"Yah, dia baik-baik saja. Tapi ya begitulah.."

"Maksudmu dia sungguh hilang ingatan?"

"Ne."

"Aigo.. Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Entahlah hyung, aku bingung. Dokter bilang dia tidak tahu ini akan lama atau sebentar. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mencoba membuatnya ingat perlahan."

"Ne, kudoakan yang terbaik untuk kalian berdua."

"Gomawo, hyung."

"Cheonma. Aku juga mau minta maaf tadi tidak sempat menjenguk Jaejoong."

"Gwenchana. Aku bersyukur hyung memberiku izin untuk tidak ikut dalam penampilan hari ini. Apa yang hyung katakan pada manajemen?"

"Aku sudah menjelaskan pada mereka tentang keadaanmu. Kau tenang saja."

"Begitu.. lalu bagaimana penampilannya, apakah sukses?"

"Ne, walau begitu mendadak tapi semua berjalan lancar. Kami semua sedang berada di dalam van sekarang dan Kyuhyun terus merengek ingin mengunjungi Jaejoong. Apa boleh?"

"Sekarang?" Yunho menatap Jaejoong yang masih terlelap. Daesung bergumam mengiyakan. "Sepertinya sekarang tidak bisa hyung. Bagaimana kalau besok?"

"Begitu? Arraseo. Besok setelah dari SBS kita semua langsung kesana."

"Ne."

"Baiklah, jaga istrimu baik-baik ne. Dan jangan lupa jadwal syutingmu sore ini. Ini yang terakhir, berusahalah."

"Aku mengerti hyung."

.

..GJ..

.

Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya silau yang menyambutnya. Perlahan dia mendudukkan tubuhnya.

"Aw..." Jaejoong mengerang sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.

"Kau sudah sadar?"

Jaejoong menoleh. Mata besarnya membulat sempurna melihat pemandangan di depannya. Namja yang hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya itu menyeringai melihat reaksi Jaejoong.

"K-kau! Apa yang kau lakukan? Kau menculikku?!"

Jaejoong menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan menatap namja di depannya penuh antisipasi. Namja yang mengaku-ngaku sebagai Yunho.

Masih dengan seringaiannya, namja itu berjalan mendekati Jaejoong, membuat Jaejoong memundurkan tubuhnya dan semakin mengeratkan pegangannya pada selimut. Duk! Jaejoong panik ketika tubuhnya sudah membentur kepala ranjang sementara namja yang setengah telanjang- dia ulangi SETENGAH TELANJANG makin mendekat ke arahnya.

"Ya! Menjauh dariku! Jangan mendekat!" seru Jaejoong panik. Tak menghiraukan seruan Jaejoong, namja itu mulai menaiki ranjang dan menghimpit tubuh Jaejoong. Sekarang jarak wajah mereka hanya berkisar 10 cm. Bisa Jaejoong rasakan nafas hangat namja itu menerpa wajahnya.

"Ma-mau apa kau?" tanya Jaejoong gugup. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.

Namja itu tak menjawab. Dia menatap Jaejoong intens, membuat pipi Jaejoong mau tak mau merona. Namja itu menahan senyumnya melihat reaksi yeoja di depannya.

"Kau tahu, kau sangat cantik," ucap namja itu. Tangannya perlahan mengelus pipi mulus Jaejoong, membuat yeoja itu terkesiap dan dengan segera menepis tangan namja di depannya.

"Jangan menyentuhku!"

"Jangan menyentuhku?" ulang namja itu. Dia terkekeh. "Tak usah sok polos Jae. Kau bahkan selalu terbuai dengan semua sentuhanku."

Jaejoong mulai bergidig ngeri. Ottoke, sepertinya namja ini psikopat.

"A-aku tidak tahu apa maksudmu," kata Jaejoong berusaha tenang.

"Benarkah?" namja itu tampak tak percaya. "Hmm, apa kau lupa kalau kita adalah suami-istri? Tentu saja kau pernah merasakan sentuhanku kan, sayang?"

Oke, Jaejoong mulai emosi. Sepertinya namja ini benar-benar psikopat gila.

"Dengar ya ahjussie mesum, sudah kukatakan berulang kali kalau aku ini masih pelajar. P-E-L-A-J-A-R. Aku belum menikah dan aku bukan istrimu! Kurasa kepalamu terbentur sesuatu hingga jadi konslet begini. Apapun itu lebih baik sekarang kau antarkan aku pulang atau aku akan memanggil pol-hmmph~" Jaejoong membulatkan matanya saat dirasakannya sebuah benda kenyal meraup bibirnya. Namja itu menciumnya!

"Hmmpff!" Jaejoong berusaha memberontak dan menutup bibirnya rapat-rapat. Tapi namja itu tidak mau kalah, dia terus menekan tengkuk Jaejoong sementara tangan satunya lagi memeluk erat pinggang ramping yeoja itu. Dia menggigit bibir bawah Jaejoong, membuat Jaejoong mengerang dan membuka mulutnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, lidah namja itu langsung menerobos masuk, mengeksplor seluruh isi mulut Jaejoong.

Tubuh Jaejoong terasa lemas. Dia hanya pasrah dan membiarkan namja itu memperdalam ciuman mereka.

Setelah beberapa menit, namja itu melepaskan ciumannya. Dia menatap Jaejoong yang tampak terengah mengatur nafasnya. Wajahnya memerah karena kehabisan oksigen. Dengan lembut diusapnya sisa saliva di sekitar mulut Jaejoong.

Merasakan sebuah sentuhan, Jaejoong mendongak dan menemukan sepasang mata tengah menatapnya lembut. Deg. Dadanya berdesir. Kenapa ini, bukankah seharusnya dia menampar namja itu karena sudah menciumnya tanpa izin? Tapi kenapa tubuhnya terasa sulit untuk digerakkan. Matanya sepenuhnya terkunci oleh sepasang mata musang di depannya.

Namja itu lagi-lagi tersenyum melihat reaksi Jaejoong. Dia mencium kening Jaejoong lembut lalu perlahan bangkit dari tempat tidur.

Jaejoong masih mematung. Dia menyentuh bibirnya, kemudian keningnya. Seketika wajahnya memerah. It was her first kiss! Dan namja gila telah itu mencurinya! Tapi kenapa... Jaejoong meremas dadanya. Kenapa dadanya justru terasa hangat..?

Tidak! Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa pula dia harus merasakan perasaan ini pada namja yang telah menculiknya dan bahkan mau memperkosanya?

"Ya! Ahjuss-KYAAAAAAAA!" Jaejoong menjerit histeris. Dengan cepat dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa yang kau lakukan?! Cepat pakai bajumu!"

Begitu menoleh, Jaejoong langsung dihadapkan dengan pemandangan segar yang pasti dapat membuat setiap wanita mimisan. Bagaimana tidak, namja itu berdiri santai di sana tanpa mengenakan sehelai kainpun!

"Ya! Ahjussie mesum!"

Namja itu terkekeh. "Kenapa kau malu? Bukankah kita ini suami-istri? Kau bahkan sudah sering melihatku telanjang, yeobo," ucapnya dengan nada menggoda. Dia mulai mengenakan boxer dan pakaiannya satu persatu.

"Kau gila!"

Namja itu mengabaikannya. Dia menata rambutnya dengan gel di depan cermin kemudian menyemprotkan parfum mahal miliknya ke bagian-bagian tertentu di tubuhnya. Dia tersenyum puas ketika dirasanya penampilannya sudah sempurna.

"Nah," namja itu mendekati Jaejoong yang masih menutupi wajahnya, lalu menepuk bahunya. "Aku ada urusan sebentar. Kau jangan pergi kemana-mana, arraseo?"

Jaejoong tak menjawab. Namja itu tersenyum.

"Baiklah. Kuanggap itu sebagai 'iya'." Namja itu lalu berjalan ke arah pintu. "Dan ingat, jangan pernah kau coba-coba untuk kabur karena aku akan mengunci semua jendela dan pintu keluar." Usai berkata begitu, pintu kamar tertutup. Meninggalkan Jaejoong yang melemas pasrah mendengarnya.

"Omo.. kenapa jadi begini? Sebenarnya apa yang terjadi?" lirih Jaejoong. Ingin rasanya dia menangis. Bagaimana tidak, kronologi kejadian hari ini benar-benar membingungkannya.

Bukankah tadi pagi dia masih berada di sekolah, menemani Boram menyatakan perasaannya pada Yunho? Tapi kenapa tiba-tiba dia terbangun di rumah sakit, bertemu dengan orang-orang asing yang mengaku sebagai suami dan adiknya, mendapati rumahnya berubah, dan sekarang disekap di tempat ini?

That was non sense!

Sangat tidak masuk akal, bukan? Ck, dari tadi Jaejoong memang sudah curiga. Jelas-jelas ini adalah kasus penculikkan! Jaejoong bergegas bangun dari tempat tidur. Dia harus pergi dari tempat ini dan melapor polisi!

.

..GJ..

.

"Kau sedang menghafal bagianmu, oppa?"

Yunho tersentak saat sebuah suara menyapanya. Dia menoleh dan mendapati lawan mainnya, Tiffany, sudah duduk di sampingnya.

"Eh, y-yah begitulah." Yunho menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil melirik naskah yang dipegangnya. Tak mungkin dia mengatakan sedang melamunkan istrinya, kan. Walau sebenarnya itu yang sedang dilakukannya sedari tadi.

"Kudengar tadi oppa tidak ikut tampil di recording Music Core, kenapa?" tanya Tiffany penasaran. Dia mendekat. Tangannya memegang lengan Yunho.

"Ah, ta-tadi aku ada urusan penting." Dengan pelan Yunho menarik lengannya hingga pegangan Tiffany melepas. Entah kenapa dia jadi tidak nyaman berada di dekat hoobae-nya yang satu ini. Bagaimanapun juga dialah sumber petaka dalam hubungan rumah tangganya dengan Jaejoong.

Tanpa sepengetahuan Yunho, Tiffany tersenyum miris melihat penolakannya. Dia berdiri lalu mencoba berkata riang. "Hari ini kita hanya akan melakukan dua scene. Hwaiting, ne! Ini akan menjadi syuting terakhir kita."

Yunho hanya mengangguk. Tiffany tersenyum lalu melenggang pergi.

.

..GJ..

.

"Aigo~" Jaejoong mengacak rambutnya frustasi. Sudah hampir setengah jam dia mengelilingi rumah yang bisa dibilang besar ini tapi tetap tak menemukan satu celah pun untuk keluar. Ucapan namja tadi serius. Dia benar-benar mengunci seluruh jendela dan pintu keluar.

Lelah membuat dirinya lapar. Jaejoong baru sadar dia belum makan apapun dari tadi. Dia bergegas ke dapur dan mencari makanan. Karena tak ada makanan apapun selain bahan mentah, dia akhirnya memutuskan untuk membuat ramyun campur telur yang praktis.

Setelah kenyang, Jaejoong kembali ke kamar tempat dirinya tadi disekap. Dia berpikir untuk sementara pasrah pada keadaannya sekarang, karena bagaimanapun tidak ada yang bisa dilakukannya.

Jaejoong baru saja akan menghempaskan dirinya ke kasur ketika tiba-tiba sesuatu tertangkap penglihatannya. Tubuhnya seketika mematung. Matanya membelalak.

Tidak.. Tidak mungkin..

Jaejoong naik ke atas ranjang dan dengan tangan gemetar menyentuh sebuah foto yang tergantung di dinding di atas kepala ranjang. Sebuah foto pernikahan. Dimana seorang namja yang Jaejoong yakini sebagai namja gila tadi tengah tersenyum sambil merangkul pinggang seorang yeoja yang mirip dengan... dirinya.

Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memundurkan langkahnya. Tidak.. itu bukan dia.. yeoja di foto tadi terlihat lebih tua dan dewasa darinya, benar? Sementara dirinya hanyalah bocah ingusan berusia 16 tahun.

Ya, itu benar.

Jaejoong turun dari ranjang dan mulai mengamati seisi kamar. Hampir semua dinding dipenuhi oleh foto-foto mereka berdua. Mulai dari foto mereka sedang tersenyum, tertawa, berpelukan, berciuman, bahkan foto saat mereka masih sekolah.. tunggu, sekolah?!

Secepat kilat Jaejoong menyambar foto berpigura cokelat itu dari sebuah meja. Matanya melotot sempurna. Bagaimana tidak, sepasang kekasih berseragam SMA yang tengah berangkulan mesra dalam foto itu adalah dirinya dan... Jung Yunho.

Lutut Jaejoong terasa lemas. Ini.. tidak mungkin...

Jaejoong kembali meletakkan pigura itu di meja. Pikirannya mendadak kosong. Dengan linglung dia mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang mungkin bisa menegaskan situasinya sekarang.

Tatapannya lalu tertumbuk pada sekumpulan kertas bergambar yang menggantung di dinding. Dengan langkah berat Jaejoong berjalan mendekat. Tubuhnya hampir jatuh saat membaca tulisan di kalender itu.

November 2016

Jaejoong menutup mulutnya tak percaya. Rasa takut tiba-tiba datang menyergapnya. Dia berbalik dan berlari ke arah pintu yang ia yakini sebagai kamar mandi lalu menguncinya. Tubuhnya bergetar.

Ini pasti mimpi, pikirnya. Ya, ini pasti hanya mimpi atau halusinasi. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menyegarkan pikirannya.

Dengan tangan gemetar, Jaejoong membuka air keran di westafel dan membasuh wajahnya berulang kali. Deg. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Jantungnya berdebar keras. Perlahan, dia mengangkat wajahnya, menatap bayangannya di dalam cermin.

Hening.

"KYAAAAAAAAAAAAA!"

Dan semuanya gelap.

.

..GJ..

.

"Kau yakin kau akan pulang, hyung? Ayolah, ini pesta kesuksesan kita dan kau adalah bintangnya!" Lee Jinki, salah satu pemeran dalam drama yang dibintangi YunTif *hoekkk* tampak sedang membujuk seorang namja maskulin yang tengah berjalan tergesa-gesa sambil sesekali tersenyum pada staff yang dilewatinya.

"Tidak Jinki, ada suatu urusan penting yang menungguku di rumah."

"Oh ya? Apa itu pacarmu?"

"Kau tak perlu tahu."

Namja imut bermarga Lee itu mendesah kecewa.

Yunho berbalik. "Aku pergi, oke? Tolong sampaikan maafku pada yang lain." Yunho menepuk pundak Jinki lalu berlalu menuju tempat mobilnya diparkir. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari mereka tampak seorang wanita menatap punggung Yunho sendu.

Hari ini syuting drama berepisode 16 itu akhirnya berakhir. Para pemeran dan staff pun berencana akan merayakannya bersama di salah satu restauran yang sudah mereka booking. Sayang sepertinya mereka harus berpesta tanpa kehadiran sang bintang utama.

Yunho sebenarnya tak enak harus melewatkan pesta perayaan drama pertamanya. Tapi kekhawatirannya pada Jaejoong mengalahkan semua. Dia sedikit cemas meninggalkan Jajoong di rumah dalam keadaan seperti itu.

Brak!

Yunho membuka pintu dengan kasar setibanya dia di rumah. Dengan langkah panjang dia menuju kamarnya.

"Jae!" panggilnya. Dia menutup pintu kamar lalu meletakkan kunci mobilnya di meja nakas.

"Jae?" Mata Yunho membelalak begitu mendapati tak ada seorangpun dalam kamarnya. Jantungnya mulai berpacu. Secepat kilat Yunho keluar dari kamar dan berlari kesana kemari sepeti orang gila.

"Jaejoong-ah!" seru Yunho keras.

Dengan liar diperiksanya ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar tamu, kamar mandi, dan semua tempat yang terdapat di rumah itu sambil terus menyerukan nama sang istri, tapi hasilnya nihil. Yunho benar-benar panik sekarang.

"Ya Tuhan~" Kaki Yunho melemas. Matanya memanas. "Boo, dimana kau?" lirihnya. Dia kembali ke kamarnya, bermaksud mengambil kunci mobil agar dia bisa mencari Jaejoong di luar. Tapi seketika gerakannya terhenti begitu melihat sebuah pintu putih tak jauh darinya. Yunho terdiam.

"Mungkinkah..?"

Tergesa-gesa Yunho menghampiri pintu itu dan membukanya. Matanya membulat menemukan yeoja yang amat dicintainya tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi yang dingin.

"BOO!"

Dia meraih tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya. "Boo, gwenchanayo? Boo, bangun boo.. bangun!" Yunho menepuk-nepuk pipi Jaejoong, tapi tetap tak ada respon dari yeoja cantik itu. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Yunho. Dengan segera dia membawa Jaejoong ke kasur dan menidurkannya.

Usai menutup gorden jendela dan mematikan lampu, Yunho merebahkan tubuhnya di samping Jaejoong dan membawa yeoja itu ke dalam rengkuhannya. Dia mengecup kening Jaejoong penuh sayang. Setetes air mata turun membasahi pipinya.

"Berhenti membuatku khawatir, boo."

Yunho mendekap kepala Jaejoong ke dadanya, menghirup aroma lembut rambut sang istri sebelum perlahan kegelapan menyelimutinya.

.

.

.

To be continue...

Akhirnya setelah bertapa setahun lamanya dapet wangsit juga^^

Serius loh ni ff terakhir update satu tahun yang lalu ._.v Dan untuk itu aq mau ngucapin jeongmal mianhae buat para reader yang udah menunggu ff ini sejak lama. Sejujurnya aku pengin nglanjutin ini dari dulu, cuma aq stuk di tengah jalan. Beruntung sekarang udah ada pencerahan^^

Thanks to Allah SWT #sujud suyukur

Dan disini aku mau ngejawab secara general pertanyaan chingu2 sekalian:

- fanfic ini memang terinspirasi dari 18 vs 29

- Jae itu kerjanya...? nanti dijelasin

- soal nenek lampir itu di chap ini udah jelas kan yunho bener2 selingkuh apa ngga?

- awal mereka pacaran pe nikah ntar bakal aq sisipin flashback

- dan siwon, dia mank sengaja aq siapin buat jaema. Emang yunpa ja yg bisa deket ma cewek lain? *esmosi*

Oke, semoga chap ini memuaskan :D Kalau berkenan direview ya~

Oh ya, ni ff pertamaku di ffn loh xD *gak penting*