St. Petersburg, 24 Juli 1955..

Seminggu telah berlalu semenjak aksi pembantaian keluarga Pimenova. Apa yang sebelumnya ada, kini hilang untuk selamanya. Namun berita itu seakan masih membara di St. Petersburg. Orang-orang bicara dari mulut ke mulut, mengatakan bahwa ada seorang Pimenova yang berhasil melarikan diri di malam berdarah itu.

Begitulah rumornya, meski tak ada yang bisa memastikan kebenarannya.

Kemudian nun di suatu desa terpencil di Rusia, yang sekelilingnya dipenuhi pohon pinus, tinggal seorang pria dan gadis cantik bersurai madu keemasan. Mereka adalah Dimitri Byun dan Kristina. Ya, sang Pimenova yang hilangPutri Kristina. Mereka nyatanya selamat dari pembantaian itu setelah melarikan diri melalui jalan rahasia yang dihafal Dimitri. Kini keduanya tinggal di sebuah rumah kecil, jauh dari keramaian, di mana tak seorang pun tahu identitas asli mereka

Dimitri sengaja tak pernah mengizinkan Kristina keluar rumah untuk meminimalisir bahaya yang bisa saja muncul tanpa diduga. Apa pun yang terjadi, tak ada yang boleh tahu bahwa ada seorang Pimenova yang masih hidup. Pikirnya, biarlah orang-orang membuat beragam kabar burung, selama Kristina bisa hidup dengan tenang.

Dimitri semula berpikir Kristina akan sulit membiasakan diri dengan kehidupan sederhana mereka, terlebih sejak masih kecil gadis itu selalu dikelilingi kemewahan. Tapi ternyata perkiraannya salah. Buktinya dalam seminggu ini, Kristina mulai bisa membiasakan diri dengan kesederhanaan mereka, dan Dimitri tak bisa lebih bersyukur lagi. Meski pada malam hari, ada waktu ketika Kristina menangis karena teringat pembantaian keluarganya, dan Dimitri harus rela menahan rasa kantuk demi menenangkan gadis itu.

Tapi tidak apa.

Bagi Dimitri, Kristina adalah seseorang yang harus ia jaga serta lindungi dengan sepenuh hati.

"Ini Anda yang membuat, Tuan Putri?" tanya Dimitri saat dihidangkan borsch (sup campuran buah bit dan kubis merah) oleh Kristina ketika ia pulang ke rumah. Mata pria itu membulat kaget, menatap tak percaya hidangan sederhana yang masih hangat itu. Tentu saja kaget, pasalnya selama ini Dimitri yang selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk memasak.

"Hm, aku bosan berdiam diri terus." Kristina memainkan jemarinya, antara malu dan canggung. "Kau sudah bekerja begitu keras untukku, Dimitri, jadi kupikir mungkin aku bisa membuatkanmu sesuatu.."

Dimitri termangu, tak tahu harus merespon bagaimana. Seumur-umur ia bekerja untuk keluarga Pimenova, baru kali ini ia dimasakkan makanan oleh Kristina.

"K–kalau tidak enak, kau tak perlu memakannya."

"Tidak, Tuan Putri." Dimitri menggeleng tegas. "Saya pasti akan memakannya. Anda sudah membuatnya dengan susah payah, bukan? Saya yakin rasanya pasti enak." Sudut bibirnya mengembangkan senyuman manis, yang mana memunculkan rona tipis di pipi Kristina.

"B–berhentilah memanggilku 'Tuan Putri', Dimitri. Kita tidak lagi tinggal di istana. Kau bisa bicara tidak formal denganku, juga memanggilku 'Kristina'."

"Mana mungkin saya melakukannya, Tuan Putri. Anda tetaplah seorang Pimenova, dan saya adalah pelayan Anda. Akan sangat tidak sopan jika saya bicara tidak formal"

"Tapi aku yang merasa tidak nyaman." sela Kristina. Manik abunya menatap Dimitri dengan pandangan memohon. "Aku berhutang budi padamu, Dimitri. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk berterima kasih. Karenanya, kumohon.."

Dimitri terdiam. Sebenarnya ia ragu. Nalarnya masih ingin berpegang teguh pada pendiriannya, tapi hatinya tak tega melihat Kristina memohon seperti ini. Pelupuk mata gadis itu bahkan mulai digenangi airmata.

"Baiklah." Dimitri akhirnya mengalah. Jemarinya terulur pada pipi Kristina, mengelusnya lembut, sama lembutnya dengan senyuman yang ia beri pada gadis itu."Aku akan mencobanya, Kristina.."

Berikutnya adalah mata Kristina yang melengkung bak bulan sabit, tersenyum begitu cantik pada Dimitri.

.

.

.

###

Azova10 and parkayoung

presents

ENIGMA

Chapter 3 – Misunderstanding

Main Casts: Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Support Casts : Tiffany Hwang (SNSD), Kristina Pimenova, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Jongin, Jin Goo, Jennie Kim (BP), Irene Bae (RV), Park Haejin, Kim Hyorin (Sistar), Kim Jongdae, Kim Doyeon (IOI)

Genre : Romance, Drama, Crime/Action

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: FF ini terinspirasi dari film 'Anastasia'

###

.

.

.

Ekor mata Baekhyun melirik ke samping, tepatnya pada Chanyeol yang tak mengatakan sepatah kata semenjak menyuruhnya naik ke taksi. Ya, pada akhirnya Chanyeol mengantar Baekhyun pulang, padahal si mungil sudah menolak dengan alasan 'tahu cara pulang'. Tapi nyali Baekhyun seakan menciut ketika Chanyeol mendeliknya tajam. Alhasil, mereka berada dalam satu taksi sekarang.

Baekhyun berasumsi itu adalah efek dari kejadian di kedai makanan satu jam yang lalu. Ia masih ingat bagaimana Chanyeol memelintir tangan pria paruh baya itu dengan keras, dan sempat-sempatnya melayangkan bogem mentah sampai pria asing itu dibuat pingsan. Untung saja waktu itu Chanyeol bisa Baekhyun tarik keluar dari kedai sebelum beberapa orang di sana memanggil polisi.

Namun semenjak saat itu pula, Chanyeol menjadi pendiam. Baekhyun sudah berusaha mencairkan suasana, tapi selalu tak mendapat respon. Wajah pria tinggi itu masih ditekuk, tanpa satu kata keluar dari mulutnya. Baekhyun sebenarnya tak begitu mengerti kenapa Chanyeol semarah ini, bukankah pria tinggi itu yang meninggalkannya sendirian di dalam kedai? Seharusnya Baekhyun yang marah di sini.

"Aku masih tidak paham kenapa kau bersikukuh mengantarkanku pulang. Aku bisa pulang sendiri, kau tahu?" Baekhyun kembali membuka suara. Tapi masih tidak ada respon. Satu dengusan keluar dari celah bibir Baekhyun. "Hebat. Aku seperti orang bodoh yang mengajak bicara tiang listrik."

"Aku mendengarmu, bocah."

Baekhyun mencibir. "Kupikir kau sedang mogok bicara denganku."

Dan kembali tak direspon.

Baekhyun mengalihkan atensinya ke kaca mobil, menatap malam yang dipenuhi kendaraan juga cahaya lampu jalanan. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit. Sedikitnya Baekhyun bersyukur tadi sebelum pergi ke apartemen Chanyeol, Jongin mengizinkannya pulang di bawah pukul sepuluh malam, jadi ia tak perlu khawatir akan kena hukuman.

"Maaf."

Satu kata lirih dari Chanyeol lantas menggeser pandangan Baekhyun. Laki-laki mungil itu menatap si jangkung dengan dahi mengerut, agak ragu dengan pendengarannya sendiri.

"Jika saja aku tidak meninggalkanmu di kedai, kejadian itu pasti takkan terjadi. Maaf.."

Tapi ternyata tidak. Baekhyun tidak salah dengar. Chanyeol benar-benar mengatakan kata 'maaf' padanya. Dan pria tinggi itu bersungguh-sungguh, Baekhyun bisa melihatnya dari sorot mata yang ia tunjukkan saat ini.

"Uh.." Baekhyun memilin jaketnya, seketika merasa canggung. Ia sungguh tak menyangka Chanyeol akan meminta maaf padanya. "Kau tidak perlu minta maaf, Ahjussi. Kita berdua sama-sama tak menginginkan kejadian tadi. Itu adalah kecelakaan." Menggigit bibir bawahnya sesaat, lalu mencicit pelan, "Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kau telah menolongku. Terima kasih ya, Ahjussi.."

Demi Tuhan, Baekhyun malu sekali. Padahal beberapa saat yang lalu, ia mencak-mencak karena tak direspon Chanyeol. Tapi sekarang kenapa ia jadi salah tingkah begini? Mana matanya menolak membalas tatapan Chanyeol. Ugh, ini sama sekali bukan gayanya.

Bersamaan dengan itu, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan gang. Chanyeol dan Baekhyun sama-sama turun dari taksi. Sempat Baekhyun dengar Chanyeol berkata pada sang supir untuk menunggu sebentar.

"Masuklah, ini sudah malam."

"Hm." Baekhyun mengangguk patuh. Tanpa menunggu apa pun lagi, Baekhyun pun pergi meninggalkan Chanyeol. Namun baru beberapa langkah Baekhyun ambil, suara husky Chanyeol memanggil namanya.

"Baekhyun?"

Baekhyun menoleh. "Ya?"

Chanyeol melambaikan tangan padanya. Senyuman tipis tersemat di sudut bibirnya. "Selamat malam. Tidur yang nyenyak ya?"

Baekhyun terkejut mendengarnya. Samar-samar, ia bisa merasakan pipinya memanas. Beruntung lampu penerangan di gang yang ia lewati tak begitu terang. "S–selamat malam juga, Ahjussi." sahutnya cepat, lalu berlari kecil tanpa menoleh ke belakang.

Sementara di belakang sana, senyuman Chanyeol meluntur, berganti dengan ekspresi tak terbaca.

.

.

Chanyeol menghempaskan tubuhnya di ranjang setibanya ia di apartemennya. Memejamkan matanya sesaat, Chanyeol tiba-tiba terbayang akan kejadian di kedai. Bagaimana seorang pria asing melecehkan Baekhyun sampai si mungil dibuat ketakutan. Tanpa sadar, rahang Chanyeol mengeras, dan kedua tangannya mengepal kuat.

"Sialan."

Chanyeol kesal, tepatnya pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga Baekhyun. Padahal waktu itu Baekhyun bersamanya, tapi kenapa ia bisa begitu lengah? Terlambat sedikit saja, bisa dipastikan pria asing itu sudah menyeret Baekhyun ke hotel tanpa sepengetahuannya. Yang tadi itu benar-benar nyaris. Tapi tetap saja Chanyeol kesal.

Tersentak akan getaran ponselnya, Chanyeol pun membuka kelopak matanya. Diambilnya benda pipih itu di dalam saku celananya. Nama Jin Goo tertera di layar sentuh benda itu. Chanyeol mendengus pelan. Benar-benar tepat waktu—batinnya.

"Halo?" Chanyeol menjawab.

"Kenapa kau baru mengangkat teleponku, hah? Kau bahkan tak membalas pesanku."

Chanyeol merotasikan bola matanya bosan. "Kau terdengar seperti wanita yang menginterogasi kekasihnya karena sulit dihubungi, Hyung."

"Berhenti mengatakan hal aneh, Park Chanyeol. Cepat katakan kenapa kau tadi sulit dihubungi?"

"Aku tadi sedang bersamanya."

"Sungguh?" Jin Goo terdengar ragu di seberang sana.

"Kau ingin konfirmasi dari orangnya langsung?" tantang Chanyeol.

"Ck, baiklah, baiklah. Aku percaya. Omong-omong, bagaimana kabarnya?"

Chanyeol tak langsung menyahut, malah termenung untuk beberapa detik. "Dia..baik."

"Kenapa kau tak terdengar yakin?" tanya Jin Goo curiga.

"Dia baik-baik saja, Hyung. Aku selalu mengawasinya." Chanyeol berusaha meyakinkan Jin Goo, meski sebelah tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Pikirnya, Jin Goo tak perlu mengetahui kejadian tadi. Yang penting, mulai detik ini, Baekhyun akan ia awasi lebih ketat daripada sebelumnya.

"Baguslah, kalau begitu. Ya sudah, nanti–"

"Hyung." Chanyeol tiba-tiba menginterupsi.

"Kenapa?"

"Apa urusan di sana sudah beres?"

"Ya, hampir. Orang-orang Kremlin sudah mengurus surat pembatalan penyerahan hak waris Pimenova pada keluarga Grigoriev dan Golubev, sekarang mereka sedang mengurus sisanya. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?"

Chanyeol menggigit bibir bawahnya sesaat, tampak serius menimbang-nimbang sesuatu. "Ini hanya usulanku, Hyung. Bagaimana..jika kita percepat rencana kita?"

"Percepat bagaimana?"

"Aku akan membawanya ke Rusia dalam waktu dekat ini."

"Memangnya kau sudah jelaskan situasinya padanya?"

"Belum, tapi aku akan usahakan untuk mencari waktu yang tepat."

Jin Goo menghela napas panjang. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, "Baiklah. Tapi pastikan untuk tak melibatkan unsur paksaan, oke? Jelaskan semuanya secara perlahan, buat dia mengerti terlebih dahulu."

Chanyeol tersenyum puas. "Aku mengerti."

.

.

Baekhyun menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap rambut basahnya. Kedua tungkainya melangkah menuju jendela kamar yang belum ditutup, dan berdiri tepat di hadapannya. Baekhyun tak segera menutup jendela itu, hanya menatap kosong ke langit Seoul yang dihiasi terang bulan purnama.

Tak tahu kenapa, pikiran Baekhyun tiba-tiba terbawa pada sosok Chanyeol. Sikapnya yang berubah-ubah seharian ini meninggalkan kesan tersendiri dalam benak Baekhyun, terutama ketika si jangkung mengucapkan 'selamat malam' sebelum mereka berpisah. Well, bukan dalam artian buruk, tapi itu juga terdengar aneh.

Remaja berumur tujuh belas itu sedikit meringis kala angin malam menusuk kulit sensitifnya. Meski masih musim panas, tapi tetap saja angin malam itu terasa dingin baginya. Atau mungkinkah itu hanya dirinya? Entahlah.

Memutuskan kegiatannya, Baekhyun pun menutup jendela kamarnya, lalu menyibak gorden biru langit untuk menutupi jendela tersebut. Ia benar-benar ingin segera beristirahat. Namun baru saja duduk di pinggir ranjangnya, suara ketukan di pintu membuat Baekhyun kembali berdiri. Ia beranjak, hendak membuka pintu kamarnya.

"Jongin Hyung?"Baekhyun agak kaget. "Ada apa?"

"Kau mau tidur?"

"Ya, kenapa?"

Jongin menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada apa-apa. Tadinya kupikir kau sedang bersiap-siap untuk menari. Tapi kalau kau mau tidur, tidak apa kok."

"Oh, maaf." Baekhyun diam-diam memutar otaknya, mencari alasan yang masuk akal untuk ia gunakan. "Aku lelah sekali malam ini. Besok malam saja ya aku menarinya?"

"Aku mengerti." Jongin mengusuk gemas surai maroon Baekhyun yang setengah basah. "Memangnya tadi kau pergi ke mana saja?"

"Um..tadi aku hanya makan bersama teman di kedai pinggir jalan."

"Hanya itu?" Alis Jongin terangkat sebelah, tampak meragukan jawaban Baekhyun.

"Sebelumnya aku main video game di rumahnya."

Lamat-lamat Baekhyun menghela napas lega melihat Jongin yang tampak percaya pada ucapannya. Well, sebenarnya Baekhyun tak ingin berbohong begini, tapi menceritakan alasan di balik ia tak ingin menari malam ini, sepertinya itu juga bukan pilihan yang bijak. Selain akan kena damprat plus hukuman dari Jongin, pria berkulit tan itu pastilah murka jika sampai tahu kejadian di kedai tadi. Dan percayalah, Jongin itu sangat menyeramkan jika sedang naik pitam.

"Boleh aku pergi tidur sekarang?" pinta Baekhyun sembari menguap.

"Ya, tentu." Jongin mengusap puncak kepala Baekhyun, tersenyum padanya. "Selamat malam, Baek."

"Hm. Selamat malam juga, Hyung."

Lampu kamar Baekhyun pun dimatikan setelah Jongin keluar dari sana.

###

Pagi hari adalah salah satu momen menyenangkan bagi orang di dunia karena bisa dapatkan secara gratis. Burung-burung biru berkicau, udara segar yang belum terkontaminasi polusi, serta secangkir kopi hangat dengan beberapa irisan bacon. Benar-benar sebuah ketenangan sejati.

Baekhyun adalah salah satu penikmatnya. Namun pagi yang tenang itu menjadi tak keruan ketika indra pendengaran Baekhyun menangkap suara tak asing di lantai bawah. Sebuah suara husky yang asyik mengobrol dengan suara Jongin, cukup keras pula.

"Siapa itu?" gumam Baekhyun dengan suara serak khas baru bangun tidur. Dahinya mengernyit kebingungan.

Tak mendapatkan jawaban setelah beberapa detik berlalu, si mungil bermarga Kim itu pun memutuskan untuk turun ke bawah. Ia regangkan otot-ototnya terlebih dahulu, lalu berjalan perlahan menuruni tangga. Semakin jelas suara husky itu terdengar, semakin Baekhyun merasa tak asing dibuatnya. Ia yakin pernah mendengarnya beberapa kali, tapi kenapa ia tak bisa ingat siapa pemiliknya?

"Jongin Hyung?" Baekhyun memanggil Jongin begitu kakinya menapak di lantai satu. Sembari berjalan menuju sumber kebisingan, kepalanya celingukan mencari sosok berkulit tan itu. Tak membutuhkan waktu lama untuk menemukannya. Ternyata Jongin berada di meja bar, duduk bersama seorang pria bersurai ebony. Dan bukan sembarang pria, itu adalah Park Chanyeol. "Ahjussi?"

Merasa dipanggil oleh Baekhyun, Chanyeol pun menolehkan kepalanya ke belakang. Sudut bibirnya senantiasa menyunggingkan senyuman lebar, sementara tangan kanannya melambai kecil pada yang lebih muda. "Oh, good morning, Baekhyunnie! Tidurmu nyenyak?"

Bukannya menjawab pertanyaan itu, Baekhyun malah melongo di tempat. "Apa yang..kau lakukan di sini?" Ekor matanya melirik jam dingin di dekat meja bar. "Ini masih pukul tujuh pagi."

"Aku kebetulan lewat sini untuk mengurus sesuatu, kemudian aku terpikirkan mampir ke Attaboy sebentar."

"Pukul tujuh pagi?"

"Enam lewat empat puluh, lebih tepatnya."

Alis Baekhyun terangkat sebelah. Tak tahu kenapa, ia merasa aneh dengan alasan Chanyeol. Itu terdengar seperti mengada-ada.

"Tidak perlu kebingungan begitu, Baek. Beberapa orang memang suka bangun pagi untuk mengurus kesibukannya, tak seperti seseorang yang sibuk bergelung sampai pukul sepuluh jika tak segera dibangunkan."

Sindiran Jongin lantas meledakkan tawa Chanyeol. Tapi tidak dengan Baekhyun—pihak yang disindir. Si mungil bersurai maroon itu justru mengerucutkan bibirnya, dengan mata puppy menatap kesal dua pria tinggi di hadapannya.

"Aku sudah bangun kok setengah jam yang lalu!" bela Baekhyun, antara tak mau kalah dan menambah ekstra bumbu kebohongan.

"Aku mengecekmu dua puluh menit yang lalu, dan kulihat matamu belum ada tanda-tanda akan terbuka." balas Jongin, dan kembali mendatangkan tawa Chanyeol—kali ini lebih keras.

Sialan—Baekhyun mengumpat dengan pipi merona lucu. Laki-laki mungil itu tak membalas atau mengelak ledekan Jongin, justru mendekatinya dengan kaki menghentak, dan melayangkan tendangan keras tepat di tulang keringnya.

"AAKKH!" Jongin mengerang kesakitan. "Yak, Kim Baekhyun, kau–"

"Dasar Ahjussi hitam jelek!"

"APA KAU BILANG?! YAK!KEMARI KAU, BOCAH!"

Baekhyun tak mengindahkan Jongin, malah menjulurkan lidahnya, lalu kabur ke lantai dua secepat yang ia bisa.

.

.

Baekhyun itu punya mata khas pribumi Korea, sipit dengan lekungan manis ketika tersenyum. Pipinya termasuk berisi untuk seorang anak laki-laki di usia tujuh belas tahun dengan badan yang tak seberapa berisi seperti pipinya. Jadi ketika ia tersenyum, pipinya akan terdesak ke atas dan matanya akan semakin mengecil. Bukan hanya ketika tersenyum, saat ia memicing pun mata itu akan mengecil beserta alis yang bertarung sempurna—seperti saat ini misalnya.

Laki-laki mungil itu baru saja keluar dari pintu depan Attaboy setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, niatannya adalah membeli persediaan susu di minimarket terdekat. Namun kaki-kakinya langsung berhenti ketika melihat sosok tak asing tengah berdiri di depan pintu belakang Attaboy. Itu bukan Jongin yang pasti. Kulit Jongin dikenal eksotis dan dia tidak memiliki gaya berpakaian seperti ini; kemeja biru berkotak dengan lengan yang disingsingkan sebatas siku, serta jeans yang robek pada bagian lutut, dan sepatu converse hitam melindungi.

Well, tampak belakang saja Baekhyun sudah tahu itu siapa. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana surainya terbentuk dan telinganya yang lebih menonjol dari jenis telinga pada umumnya. Terlebih ia bertemu dengan sosok itu pukul tujuh pagi tadi.

"Ahjussi?" Baekhyun memanggil pria tinggi itu, membuatnya menoleh. "Sedang apa di sini?" tanyanya kemudian.

Daripada menjawab, Chanyeol justru mendekat dan menyodorkan Baekhyun satu permen lolipop yang ia ambil dari saku celana. "Untukmu."

Ragu-ragu tangan Baekhyun terjulur, menyambut pemberian itu dengan tautan alis yang jelas mengatakan ia memiliki kecurigaan. Bukan pada si lolipop, tapi pada kebaikan yang tiba-tiba terasa manis dari pria yang ia ketahui sebagai Ahjussi genit.

"Aku tidak meracuninya. Tenang saja." Chanyeol membuka bungkus lolipop itu, dan memasukkan secara paksa ke dalam mulut Baekhyun sebelum akhirnya berbalik arah untuk berjalan lebih dulu.

Ini aneh—batin Baekhyun. Dia jelas merasakannya dan dia butuh penjelasan yang logis. Bukan apa-apa, ia hanya takut jika setelah ini Chanyeol berniat menjualnya ke luar negeri. Atau parahnya, Chanyeol akan menculiknya dan mengambil seluruh organ tubuhnya untuk dijual pada mafia-mafia.

"Tunggu!" Baekhyun mencoba mengejar, berdiri tepat di hadapan Chanyeol dengan tangan membentang ke samping.

"Ya?"

Mata sipit Baekhyun memicing, telunjuk kanannya secara spontan mengarah tepat di depan mata Chanyeol dan bergerak ke kanan-kiri. "Jangan coba-coba menculikku atau menjual organ tubuhku pada orang lain ya!"

"Kau ini bicara apa?"

"Ahjussi, kau kira aku ini anak kecil yang akan percaya dengan lolipopmu ini?!" Lolipop itu Baekhyun keluarkan dari mulutnya, terang-terangan ia buang ke jalanan dengan cara yang sangat galak. "Aku sudah cukup dewasa untuk tahu maksud semua ini, jadi jangan coba-coba memengaruhiku!"

Hening.

Yang lebih tinggi hanya mengedipkan matanya sesekali, lalu tiba-tiba tertunduk lemah. Baekhyun mulai kebingungan pada situasi ini.

"Aku membeli lolipop ini dari seorang anak kecil. Dia menjual lolipop untuk membayar uang sekolahnya, tapi sekarang lolipop itu sudah terbuang ke tanah." Chanyeol berujar dengan lemah, berbeda dengan dia di waktu belakangan.

"A–Ahjussi.."

"Aku hanya ingin menolong anak itu, tapi tidak mau menyia-nyiakan apa yang ia jual."

"Eh? M–maaf.." Baekhyun merasa tak enak, terlebih setelah melihat Chanyeol yang mendadak melow.

"Kalau tidak mau, kau bisa memberikannya padaku. Jangan dibuang."

Langkahnya kembali terseok, berjalan dengan kepala tertunduk dan lemah terasa di tiap jangkanya. Baekhyun yang merasa semakin bersalah segera menyusul Chanyeol dan menggumamkan banyak kata 'maaf'.

"Ahjussi, maaf. Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak bermaksud buruk. Maafkan aku, Ahjussi.." Kini giliran Baekhyun yang merengek, berucap sedih sambil sesekali mengoyak lengan Chanyeol. "Ahjussi, aku tidak sengaja. Tolong, maafkan aku.." isaknya mulai terdengar, kepalanya tertunduk dengan sangat dalam sebagai bentuk penyesalan dari tindakannya tadi. Tapi tak lama, dagunya diangkat oleh sebuah tangan dengan urat-urat samar terlihat dan membawanya pada tautan mata lebih dalam.

"Dasar bocah." Chanyeol berdecih, sedikit mengusuk rambut Baekhyun dan menghapus sisa jejak airmata di pipi si mungil. "Aku maafkan kali ini, tapi lain kali kau tidak boleh seperti itu."

Baekhyun mengangguk, menghapus sisa lain airmatanya dengan punggung tangan.

"Sebagai tanda permintaan maafmu, kau harus menemaniku jalan-jalan."

"Eh? Ke mana?"

Chanyeol mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Kau tentukan tujuannya."

.

.

Ada sebuah taman kota yang selalu Baekhyun kunjungi ketika ia merasa ingin sendiri. Dia akan duduk di sebuah bangku di bawah pohon rindang, memejamkan mata dengan menengadahkan kepala ke atas, hanya menikmati tiap hiruk pikuk yang bertabrakkan dengan sejuknya udara di bawah pohon. Meski Seoul tak pernah kenal lelah dengan kesibukannya, masih ada tempat-tempat yang memiliki kenikmatan jasmani untuk sekedar menyegarkan pikiran dalam waktu singkat.

"Rasanya seperti di pegunungan." gumam Baekhyun kita ia sudah menempatkan diri di bangku itu. Senyumnya tertarik kecil ketika hatinya merasa lebih baik.

"Memangnya kau pernah ke gunung?"

"Membayangkan saja." Baekhyun menaikkan kakinya ke atas bangku, memeluk dengan meringkuk dan meletakkan dagunya tepat di atas lutut. "Kata orang-orang, udara di gunung itu sejuk. Sesekali aku ingin berkunjung ke sana."

"Mau kutemani?"

"Hm?"

"Pergi ke gunung. Kurasa itu bisa menyegarkan pikiran."

"Tidak, Ahjussi. Aku tidak bisa pergi ke gunung. Itu butuh waktu yang lama dan aku harus bekerja."

"Sebagai penari striptis di Attaboy?"

"Iya, apa lagi?"

"Baekhyun," Chanyeol memutar tubuhnya, sedikit serong untuk menghadap Baekhyun langsung, "Kau sadar, kan, usiamu masih terlalu kecil untuk menari di sana?"

Dengusan kecil terdengar dari bibir Baekhyun, dia melakukan hal yang sama dan menatap Chanyeol dengan tatapan jengah seperti yang selalu ia lakukan jika pembahasan usia sebagai seorang penari muncul.

"Ahjussi, bekerja itu tidak kenal usia."

"Tapi tidak dengan menari di klub."

"Aku hanya ingin membantu Jongin Hyung dan Eomma. Mereka membutuhkan uang untuk hidup." Baekhyun membela diri. Tapi malah disambut tautan alis Chanyeol.

"Mereka memaksamu untuk menari?"

"Asal kau tahu ya, hampir setiap hari si gelap Jongin Hyung itu selalu memikirkan cara agar aku berhenti menari. Jadi di sini tidak pernah ada paksaan karena aku sendiri yang menginginkannya."

"Tapi Baekhyun, kau itu masih muda, masih ada banyak cara untuk bekerja lebih layak daripada menari di klub. Atau jika tidak, kau bisa melanjutkan sekolahmu."

"Akan kulakukan suatu saat jika aku terkena amnesia." Baekhyun kembali mendengus. Pikirnya, Chanyeol terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya. "Kau tidak bodoh tentang definisi menolong yang kukatakan tadi, kan? Attaboy itu tempat bergantung Hyung dan Eomma-ku, dari sana mereka mencari uang untuk menyambung hidup. Jika klubramai, Eomma dan Jongin Hyung akan bisa hidup lebih baik. Jadi aku harus meramaikan klubagar Eomma dan Jongin Hyung bisa hidup semakin baik lagi."

Chanyeol menangkap nada jengah dari cara Baekhyun berbicara. Bahkan tautan alisnya yang semula biasa saja, kini berubah menukik dengan kerutan tidak simetris di dahinya. Tapi apa pun alasannya, Chanyeol tetap berpikir bahwa bekerja sebagai penari striptis bukanlah ide yang bagus, terutama jika itu adalah Baekhyun.

"Maksudku, aku tidak melarangmu untuk membantu Eomma-mu. Tapi pikirkan dirimu juga, jika nanti terjadi sesuatu yang tidak-tidak, ini akan membahayakan dirimu."

"Aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diriku sendiri." Suara Baekhyun semakin mendingin, "Hanya mereka yang aku punya, kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup sendiri di dunia ini. Jadi jangan pernah menasehatiku tentang hal-hal tidak penting. Aku sudah cukup dewasa untuk bisa menjaga diriku sendiri."

Tangan Chanyeol segera terulur untuk mencegah Baekhyun yang akan beranjak, menarik pergelangan tangannya dengan rapat agar tidak ada langkah pergi yang terbuat.

"Dewasa saja bukan berarti kau mampu."

Baekhyun menyentak cengkeraman tangan Chanyeol, menatap tidak suka pada pria yang lebih tinggi. "Tahu apa kau soal kedewasaankku?! Kau itu orang asing, baru bertemu denganku beberapa kali tapi bertingkah seakan paling tahu siapa aku! Sebaiknya hari ini menjadi terakhir kita bertemu. Aku muak padamu, Ahjussi!"

Chanyeol tak lagi menghentikan Baekhyun yang pergi dengan sungutan kesal tergambar jelas di wajahnya. Dia membiarkan Baekhyun pergi dengan langkah lebar-lebar, atau bahkan dengan perasaan sakit hati karena Chanyeol terlalu jauh mengurusi apa yang sudah menjadi keputusan Baekhyun.

Sebenarnya bukan seperti itu, Chanyeol hanya ingin Baekhyun terlindungi dari segala sesuatu yang membuatnya terancam oleh bahaya. Tapi Baekhyun memang belum mengerti hal itu, karena ia belum tahu hal yang sesungguhnya. Hingga pada akhirnya mereka mendapat kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka menjadi saling tak enak.

"Aku akan melindungimu."

.

.

Chanyeol merebahkan dirinya di sofa, memejamkan sejenak dua mata itu, mengenang bagaimana amarah Baekhyun mencapai puncak untuk pertama kali, dan itu karena dirinya. Tidak ada maksud apa-apa, Chanyeol hanya berniat melindungi, bukan mencegah niat baik Baekhyun membantu keluarganya. Tapi remaja itu menanggapinya dengan hal lain. Seperti teramat sensitif dengan pekerjaannya sehingga apa pun yang sudah ia putuskan untuk keluarganya tidak bisa diganggu gugat.

Sesekali Chanyeol menghembuskan napasnya kasar. Sesalnya masih bersarang karena telah membuat Baekhyun marah padanya. Bagaimanapun juga dia memang termasuk orang asing dalam hidup Baekhyun, masih belum mengerti bagaimana anak itu ingin menata hidupnya. Jadi ketika dia mengatakan pendapatnya tentang pekerjaan yang Baekhyun geluti saat ini, sudah barang tentu Baekhyun merasa tersinggung.

Baru saja Chanyeol bisa mendekat pada Baekhyun, mencoba mendalami tentang diri si mungil yang tidak pernah ada di lembaran-lembaran riwayat hidup yang dikirm Jin Goo, tapi semuanya berantakan karena Chanyeol terlalu protektif. Kini dia harus menanggung akibatnya, Baekhyun yang marah dan menolak bertemu.

Kiranya itu hanya gertakan semata, karena saat malam tiba dan Chanyeol kembali datang ke Attaboy, Baekhyun benar-benar membuang muka. Dia bahkan menghindari tatap mata yang Chanyeol buat dan lebih memilih pergi ke dapur. Bersama kesabarannya, Chanyeol menunggu Baekhyun keluar dan berniat untuk mengajaknya bicara. Tapi anak itu seperti hilang tak bersisa karena setelah masuk dapur, sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Bahkan ketika Chanyeol memeriksanya di dalam, tidak tampak keberadaan Baekhyun.

"Kutemui dia besok saja." ucap Chanyeol setelah satu hembusan napas ia buang.

###

Chanyeol sengaja datang pagi-pagi ke Sweet Bites, menumpukan keberuntungannya di tempat yang suka Baekhyun kunjungi. Tapi ketika lama duduk di sudut toko dengan segelas teh hangat manis di meja, Chanyeol tak melihat eksistensi Baekhyun. Remaja mungil itu seolah sengaja menutup semua aksesnya dan membatasi ruang gerak agar mereka tidak bertemu. Percaya atau tidak, Chanyeol mulai merasa penuh dengan rasa kecewanya karena Baekhyun benar-benar menjadikan pertemuan di taman kala itu sebagai pertemuan terakhir mereka.

Berlarut-larut dihindari Baekhyun begini membuat Chanyeol merasa kosong. Entahlah, dia merasa ada yang kurang ketika manik bulan sabit yang biasa terlihat manis itu kini berubah penuh kebencian. Mereka hanya berada pada masalah salah paham, tapi Baekhyun membuat semua itu seperti bom besar yang harus dihindari.

Tak membuahkan hasil apa pun, Chanyeol lalu memilih pulang ke apartemennya untuk berendam air hangat. Siapa tahu kekecewaannya bisa berbaur dengan isi bath-tub, atau dia akan meninggalkan kekecewaan itu di Sweet Bites yang tidak memberinya hasil baik dengan tidak menjadi satu tempat yang memunculkan Baekhyun.

Meski tanpa Chanyeol ketahui, ternyata ada sepasang sabit sayu yang menatap punggungnya menjauh dari balik tirai tempat pemanggangan roti.

.

.

"Dua gelas." Jongin merebut gelas berisi cairan berwarna kecoklatan itu dari tangan Baekhyun. Sudah cukup ia bersabar di gelas pertama dan habis sudah kesabaran itu ketika masuk di gelas kedua. "Cukup! Sekarang masuk ke kamarmu."

"Jangan gila." Baekhyun masih memiliki kesadarannya meski sebenarnya ini menjadi pertama kali dia mencicipi alkohol.

Beberapa saat yang lalu, Baekhyun diam-diam datang ke meja bar, sedikit berdebat dengan Jongdae hingga pada akhirnya dia menang karena kekeraskepalaannya. Dia mengambil botol hijau, berisi bir dengan kadar alkohol yang tidak terlalu besar untuk menuntaskan penatnya yang sudah menjamur.

Kata orang, alkohol itu pelarian terbaik ketika masalah tak segera bertemu penyelesaian. Maka demi membuktikan omongan itu, Baekhyun untuk pertama kali memberanikan diri mencobanya. Dari segi rasa tidak terlalu buruk meski masih asing di lidah, tapi sedikit banyak ia mulai merasa ringan pada pikirannya setelah segelas bir ia tenggak tanpa jeda.

Bisa dipastikan bahwa mulut Jongdae itu sangat tak terjaga. Dia pasti melapor pada Jongin yang kebetulan sibuk di tengah keramaian Attaboy untuk menghentikan gelas kedua Baekhyun. Padahal Baekhyun ingin menambah lagi isi gelas-gelas itu hingga perasaannya bisa lebih baik.

"Kau ini kenapa, Baek? Kenapa tiba-tiba minum?"

"Aku sudah dewasa. Aku sudah besar. Sudah pantas minum alkohol." Direbut kembali gelas itu hingga terjadi tarikan sengit antara Jongin dan Baekhyun. "Aku sudah dewasa, Hyung! Jadi, jangan ikut campur urusanku!"

Baekhyun sepenuhnya menang. Dia mengambil gelas itu dan meminum isinya dengan kasar, membuat pakaiannya jadi basah di bagian dada. Jongin hanya geleng-geleng kepala, mengacak rambutnya frustasi karena Baekhyun sudah mulai berani menyentuh alkohol.

"Baek—"

Ada satu tangan yang meraih cepat gelas di tangan Baekhyun dan menumpahkan sisa isinya ke lantai. Bukan milik Jongin, tapi milik seseorang dengan tubuh lebih menjulang tinggi dan rahang mengeras.

Park Chanyeol.

"Tck!" Baekhyun berdecih, berdiri dari tempatnya duduk dan mendorong telunjuknya pada dada Chanyeol dengan senyum sepihak. "Ada orang sok dewasa yang mencoba menghentikanku rupanya."

"Baekhyun." Jongin menengahi, tapi yang ia dapat hanya sergahan Baekhyun yang kala itu tenaganya terasa kuat. Jongin menatap Chanyeol penuh sesal. "Tolong maafkan Baekhyun. Dia hanya remaja labil."

"Apa kau bilang?!" Bola mata Baekhyun membesar, menyalak dengan rasa tersinggung yang teramat kuat. "Labil?! Cobalah untuk tahu jika kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dengan usia!"

"Dan kedewasaan seseorang tidak ditandai dengan meminum alkohol." Chanyeol bersuara, lebih dingin dengan mata tajam yang siap menguliti Baekhyun. Sudah cukup kesabarannya kali ini membiarkan Baekhyun mendiamkannya apabila akhir dari rasa sakit hati Baekhyun berakibat buruk. Baekhyun mengkonsumsi alkohol dan hilang sudah semua kesan manis yang selama ini melekat di dirinya. Laki-laki mungil itu menjadi pemarah, berani menyalak lebar, dan tidak peduli situasi yang bisa saja membuatnya celaka.

"Kau itu diam saja! Jangan banyak bicara, orang asing! Kembali sana ke tempatmu! Atau jika bisa, kau musnah saja dari bumi ini! Bumi bahkan tidak butuh orang sepertimu, Park Chanyeol!"

"Baekhyun, perhatikan kata-katamu!" Jongin kembali mencegah. Baekhyun seperti sudah terpengaruh dengan alkohol, bicaranya mulai melantur, dan Jongin mulai khawatir. "Sebaiknya kau kembali ke kamarmu."

"Aku tidak mau!" Tangan Jongin disentak begitu saja. "Akan kutunjukkan pada kalian bagaimana arti dewasa yang sesungguhnya!"

Langkah Baekhyun sedikit sempoyongan ketika dia mendekati lantai dansa. Dibukanya kemeja yang ia kenakan hingga menampilkan tubuh putih bersih tak berkain. Baekhyun juga membuka celananya, menyisakan celana dalam berwarna hitam ketat dan membuat selatan tubuhnya menonjol—meski tidak terlalu besar. Sebelum memasuki arena sebenarnya, Baekhyun membisikkan sesuatu pada DJ yang bertugas, setelah itu menyempatkan diri untuk melirik Chanyeol dan Jongin dengan seringaian tajam.

Kaki Baekhyun menapak di lantai dansa, memulai dengan meliukkan kecil tubuhnya hingga gemuruh tepuk tangan mulai terdengar. Jari-jari lentik itu sengaja Baekhyun jalankan di atas perut, berputar di sekitar dada dan berakhir dengan membawanya ke mulut untuk ia kulum secara seduktif. Riuh tepuk tangan semakin terdengar, bahkan yang semula hanya menikmati minuman di kursi masing-masing menjadi tertarik untuk mendekat ke panggung.

Sorot lampu hanya mengarah pada Baekhyun yang semakin liar menggerakkan tubuhnya. Ia bahkan mendekat pada tiang yang tersedia di sana, menyandarkan punggungnya lalu sengaja membuka lebar-lebar kakinya. Dia seperti kehilangan jiwa, liuk tubuhnya tak bisa dikendalikan barang sedetik saja dan membuat Chanyeol yang mengamati dari kejauhan hanya menggeram tertahan.

Bukan ini yang ia inginkan, bukan Baekhyun yang meliar hanya karena pembahasan seputar dewasa yang menyakiti hatinya.

Diam-diam Chanyeol mengepalkan tangan. Seseorang yang harus ia jaga, kini membuka diri untuk khalayak penuh sorot nafsu tak terkendali. Chanyeol merasa bodoh, terpaku pada tempatnya ketika Baekhyun semakin meliuk dan mengundang beberapa orang untuk naik ke panggung.

Tubuh laki-laki mungil itu disentuh, perutnya diraba, dan selatan tubuhnya hampir saja menjadi singgahan. Beruntung Baekhyun sedikit menghindar. Tapi dari itu semua, justru membuat beberapa orang semakin tertantang untuk menyentuh Baekhyun lebih jauh. Tidak peduli seberapa kuat Baekhyun menolak, tangan penuh nafsu itu terus menjamah Baekhyun. Tidak hanya satu, ada sekitar tiga pasang tangan yang mulai merebutkan tubuh Baekhyun.

"Sial!" Jongin mengambil langkah lebih dulu, mendekat pada kerumunan dekat panggung dan berusaha menarik Baekhyun yang kepayahan menolak sentuhan. "Hentikan! Hentikan!" Jongin terus berteriak, tapi tiga orang itu tak mendengarkan.

"Hyung, tolong aku!" teriak Baekhyun ketika tubuhnya ditarik-tarik. "Tolong, tolong jangan lakukan ini padaku!"

"Minggir semua!" Jongin yang murka melerai begitu saja kerumunan yang ada. Tapi dia kalah telak, nyatanya yang mengungkung Baekhyun berjumlah lebih banyak dan lebih kuat. "Jangan sentuh Baekhyun! Lepaskan dia!"

"Hyung, to—"

BUGH!

Satu terjatuh.

BUGH! BUGH!

Dua sekaligus terjatuh.

Tubuh Baekhyun sudah terlepas. Dia terduduk di lantai dansa dengan airmata yang sudah mengalir setelah perebutan nafsu itu. Sebuah kemeja tersampir di tubuhnya. Ketika Baekhyun melongok dengan airmata berderai, ia sudah melihat Jongin tak lagi mengenakan pakaiannya. Seketika tangis Baekhyun semakin pecah karena merasa sudah sangat hina. Sedangkan kerumunan di depannya menjadi parah, bukan karena seseorang melanjutkan pekerjaan Baekhyun, melainkan adegan pemukulan satu lawan tiga yang membuat beberapa orang menjerit.

Baekhyun bisa melihatnya, tubuh tinggi tak asing yang mengayunkan bogem mentah hingga tiga orang tadi tergeletak lemah. Chanyeol sangat brutal, tak memberi kesempatan lawannya waktu untuk sekedar mengelak apalagi membalas pukulannya.

"Sebaiknya kita ke kamarmu." kata Jongin, memapah tubuh Baekhyun yang lemah.

Belum sempat Baekhyun melangkahkan kakinya, seseorang lebih dulu menarik tubuh Baekhyun dan menggendongnya di pundak layaknya seseorang yang sedang memikul sekarung beras. Baekhyun dibawa pergi menuju luar kluboleh seseorang dengan rahang mengeras dan tangan yang terlihat memar setelah pemukulan itu.

Sadar dirinya dibawa pergi, Baekhyun berusaha memberontak. Ia mengayunkan kakinya dengan sisa tenaga yang ada dan memukul pundak itu. "Lepaskan aku, Ahjussi! Kau mau apa, hah?!"

"Diam atau aku akan memperkosamu!"

"LEPASKAN AKU!"

"KUBILANG DIAM!" Teriakan Chanyeol lebih lantang, tapi Baekhyun tak surut untuk memberontak hingga akhirnya ia diturunkan.

Baekhyun tak bisa merasa lega dulu, faktanya setelah dibawa pergi begitu saja hingga kini ada di lorong klub, ia terpojokkan di tembok dengan dua lengan memenjarakannya.

"Kau mau apa?" geram Baekhyun. Matanya sudah memicing dengan hatinya yang kacau balau.

"Aku sudah tidak tahan melihatmu. Kau sangat menjengkelkan dan aku tidak bisa hanya diam."

"Kau mau membunuhku?"

"Jika kau menginginkannya. Aku memiliki pistol di saku kanan dan pisau lipat di saku kiri. Pilih yang mana? Melubangi kepalamu yang berotak dungu atau merobeknya dengan pisau, lalu mengeluarkan semua isi kepalamu? Pilih yang mana, hah?!" Chanyeol terlihat sangat dingin, irisnya sangat berapi-api hingga dia tidak sadar sekarang Baekhyun hanya bertahan dengan sisa kekuatan di lututnya. "Apa kau puas sudah membuat dirimu terlihat begitu murah?! Apa kau puas disentuh dan hampir diperkosa seperti tadi?!"

"Jaga ucapanmu, Park Chanyeol!"

"Tck! Aku tidak menyangka kau bisa bertindak sangat murah!"

PLAK!

"Kubilang jaga ucapanmu!" Baekhyun menggeram, airmatanya kembali turun. Dia benar-benar telah kehilangan harga diri dengan ucapan Chanyeol. "Aku tidak serendah itu!"

"Lalu yang tadi apa?! Kau sudah tidak waras membuat tubuhmu disentuh dan dilihat banyak orang!"

"ITU KARENA AKU TIDAK SUKA DISEBUT ANAK KECIL!" Suara Baekhyun menggelegar, emosinya sudah pecah dan derai airmatanya semakin kuat mengucur. "Kalian selalu saja menganggapku anak kecil! Aku bosan! Jangan hanya karena aku masih berusia tujuh belas tahun, lantas kalian seenaknya melarangku melakukan ini-itu! Aku ingin bekerja, membantu Eomma yang sudah merawatku sejak kecil! Aku berhutang banyak pada Eomma! Aku ingin membalasnya! Tapi kenapa kalian selalu melarangku bekerja?! Kau dan Jongin Hyung, dua manusia yang tidak pernah mengerti bagaimana keinginanku untuk membalas budi pada Eomma-ku!"

Lutut Baekhyun sudah kehilangan tenaga, membuatnya terhuyung di lantai dengan tangisnya yang pecah. Hati Chanyeol teriris melihat Baekhyun dalam keadaan seperti ini. Dipeluknya tubuh mungil itu, menghantarkan kenyamanan yang ada di bidangnya dan mengelus lembut belakang kepala Baekhyun.

"Maaf. Maaf sudah membuatmu seperti ini.." ucap Chanyeol lemah.

"Aku hanya memiliki Eomma dan Jongin Hyung. Jika aku tidak membahagiakan mereka dan mereka suatu hari membenciku, aku harus berlari pada siapa?"

"Sudah, jangan menangis lagi. Ada aku di sini."

"Aku..aku–"

"Sekarang kembalilah ke kamarmu. Kemasi semua barangmu dan ikut aku."

Baekhyun menjauhkan tubuhnya, menatap ragu pada Chanyeol yang kini raut mukanya jauh lebih tenang. "K–ke mana?"

"Ikut aku ke Rusia."

"A–apa?"

TBC

A/N (Azova10): Setelah berembuk dengan Ayoung, kami putuskan untuk ganti rate FF ini menjadi M. Tapi ini bukan berarti bakal akan selalu ada NC ya, beberapa kata kasar/dewasa (untuk beberapa chapter ke depan) menjadi konsiderasi kami juga. NC insya Allah ada, tapi sepertinya masih sangat jauh. Last but not least, silakan dijamah kotak review-nya~

A/N (parkayoung): Salam hangat ter-CHANBAEK untuk kita semua! Muah! BEHAHAHAHAHAHAHAAHH!