Title : You're Drooling Over Me
Pairing : Hansoo
Summary : Kyungsoo tak dapat melepas pandangannya dari sunbae favoritnya.
Sore itu tim inti sepakbola selesai dengan latihan melelahkan mereka. Keringat dimana-mana dan baju mereka lengket semua. Secara bergilir mereka menggunakan kamar mandi sekolah karena akan terlalu lama jika menunggu sampai rumah.
Kyungsoo yang terakhir mendapatkan giliran menggunakannya. Ia perlahan, dengan langkah yang terseret-seret karena lelah, berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti ketika pintu kamar mandi terbuka menampakkan seorang pria yang baru selesai mandi keluar dari sana.
Kulitnya putih hingga membuat Kyungsoo merinding meliriknya, terlebih ia hanya memakai handuk untuk menutupi kemaluannya. Yang semula matanya pahit menjadi segar seperti di pagi hari yang cerah. "Oh, Kyungsoo-ya. Kau mau masuk?" Pria itu tidak lain adalah Luhan, ketua tim sepak bolanya.
Sangat susah dengan keadaan tegang seperti ini menjawab pertanyaan Luhan. Dengan susah payah ia menelan ludahnya, Kyungsoo hanya mengangguk malu. Luhan langsung menyingkir membari jalan kepada Kyungsoo.
Sedikit kecewa bagi Kyungsoo karena kesmpatan emasnya hampir menghilang. Dengan jelas ia bisa melihat punggung mulus Luhan yang semakin menjauh.
"Hyungnim!" Teriaknya gugup membuat Luhan membalikkan badannya. "Kau terlihat sangat penat." Kyungsoo memasang seringai serigalanya tanpa disengaja. Jujur saja jantungnya terasa berdebar-debar heboh, tangannya sampai berkeringat menggenggam handuk yang bergantung di lehernya. Sorot matanya lurus mengamati fitur Luhan, mulai dari atas, rambut yang basah menggairahkan, wajah tampan maskulinnya, leher yang lembut jika ia menempelkan bibirnya disana, badan yang lumayan berbentuk dan lihat! Dua puting kecil itu! Kyungsoo berhenti sebentar untuk mengalihkan pandangannya dan menelan ludah. Perut Luhan lebih dari lumayan bagi Kyungsoo, kemudian sepotong handuk yang melilit di pinggangnya, tangannya gatal ingin membukanya. Kyungsoo yakin pasti ada sesuatu yang panas, besar, dan..
"Kyungsoo-ya!" Luhan menemukan Kyungsoo melamun mengerikan. Liur sedikit terlihat di ujung bibir Kyungsoo. Ia mengambil handuk di leher Kyungsoo untuk mengusap bibir Kyungsoo. Jantung Kyungsoo semakin mengencang, celananya sempit berteriak meminta sentuhan Luhan.
Ia tidak bisa menahannya lagi. Segera saat Luhan menempelkan handuk pada bibirnya, Kyungsoo menerjang pria didepannya. Kedua tangan melingkar di leher luhan, jemarinya mencengkeram kuat pada rambut kepala. Nafasnya menggebu-gebu, ia lumat bibir Luhan panas sampai-sampai tidak sedikit saliva yang menetes kesana-kemari.
Luhan memebelalak tersentak kaget, tangannya reflek mencoba menjauhkan Kyungsoo yang menggila. Kyungsoo melawan Luhan, ia semakin tegang merasakan betapa kuatnya tangan Luhan saat itu. Seketika Kyungsoo berimajinasi betapa kuatnya tangan Luhan saat menggenggam pinggangnya agar lebih mudah memasukkan penisnya. Ia benar-benar menginginkan Luhan saat ini, dan ia harus mendapatkan Luhan saat ini juga.
Perlawanan Luhan menyusahkan aksi Kyungsoo. Maka dari itu, ia mendorong Luhan hingga punggungnya bertabrakan dengan dinding, mulutnya berlaih pada puting Luhan, menjilatinya penuh nafsu dan tanpa ampun. Perlakuan Kyungsoo kali ini memberikan efek bagi Luhan, ia mendesah namun masih berusaha melarikan diri. Kyungsoo berusaha semakin menyiksa Luhan dengan memainkan puting yang lain dengan jari telunjuknya. Dan benar pikir Kyungsoo, desahan Luhan berubah menjadi erangan meminta lebih, wajahnya memerah padam.
"Lucu sekali." Ujar Kyungsoo sambil masih memainkan puting Luhan. Sorot matanya mendongak bertatapan dengan Luhan. Terlintas pikiran untuk semakin menggoda Luhan. Ia menjulurkan lidahnya kemudian menempelkannya dengan ujung puting Luhan yang mengeras.
"Ah! Ah! Ah!" Semua terlihat salah dimata Luhan, tidak seharusnya ia terjebak Kyungsoo. Berkali-kali ia coba meluruskan akal sehatnya, sebisa mungkin melepaskan diri dari Kyungsoo. Tentu saja usahanya gagal mentah-mentah setelah Kyungsoo menarik handuk di pinggangnya, satu-satunya benda yang menempel di tubuhnya.
Dengan terburu-buru, Kyungsoo mendudukkan Luhan pada bangku di belakangnya. Sangat susah bagi Kyungsoo melepaskan pandangannya dari pemandangan indah tubuh telanjang Luhan. Penis Luhan terlihat semi tegang, paling tidak sejauh ini Kyungsoo berhasil membangunkan Luhan. Perlu sedikit usaha lagi, pikir Kyungsoo.
Kyungsoo sangat suka menggoda Luhan. Penis Luhan yang terbaring sedikit berdiri, ia jilati ringan menggunakan ujung lidahnya. Pelan-pelan dari kepalanya sampai ujung hingga wajahnya bertemu dengan rambut kemaluan Luhan. "Sssst." Luhan mengangkat kepalanya keenakan menahan agar tidak mengeluarkan suara, ia sudah tidak lagi melawan Kyungsoo yang hanya menyunggingkan senyuman sinis.
Dari sana Kyungsoo melanjutkan perjalanannya ke bawah hingga bertemu kedua bola Luhan. Ia memasukkan satu-satu bola Luhan secara bergantian, menyekungkan pipinya, kemudian melepaskan dengan suara plop yang terdengar penuh dosa di telinga merah Luhan. Kyungsoo melihat Luhan hanya mengadahkan kepalanya tidak berani menatap Kyungsoo. "Lihat aku, kau ingin aku segera menghisap penis besarmu bukan?" Kyungsoo tetap menggoda dengan menjilati pangkal penis Luhan.
Luhan tidak berani membiarkan pertahanannya runtuh begitu saja, ia menggigit bibir bawahnya supaya tidak menghasilkan desahan-desahan erotis. Akalnya berkata jangan sampai terjebak namun tubuhnya berkata lain. Perlahan ia membuka satu matanya, ia melihat Kyungsoo dengan tatapan innocentnya. Luhan benar-benar tidak percaya dibalik wajah tidak berdosa Kyungsoo terbaring sebuah sisi yang tidak disangka-sangka.
"Ayolah, tuntun aku. Aku tidak sabar dan ingin segera merasakanmu. Mmmh." Pinta Kyungsoo memelas, matanya semakin membesar. Dinding Luhan sudah sangat tipis setipis kertas. Tangannya gemetaran perlahan menuju kepala Kyungsoo. Jari-jarinya ia lilitkan diantara rambut pria kecil di selangkangannya itu.
Benar, pikir Kyungsoo. Tangan Luhan sangat besar dan kuat ia rasakan, ia menutup matanya menikmati setiap sentuhan Luhan. Luhan sendiri dengan susah payah menelan ludahnya. Tangannya turun melewati wajah lembut milik Kyungsoo, kemudian mengelus bibir Kyungsoo. Merah, lembut, tebal, menggoda, ia pikir Kyungsoo memang diciptakan untuk menghisap penis.
Kyungsoo membuka bibirnya bersiap dimasuki Luhan. Luhan benar menuntun kepala Kyungsoo, dengan sekali hap Kyungsoo berhasil memasukkan penis Luhan. Cukup dengan itu dapat membuat Luhan merinding sekujur tubuh. "Aaah! Aaah!"
Cengkeraman Luhan semakin keras begitu Kyungsoo menghisapnya keras. Sensasi ketika Kyungsoo menyekungkan pipinya, mengerang disela-selanya, terlalu berlebihan bagi Luhan. Ia bisa menembakkan isinya kapan saja. "Kau suka? Aku berani bertaruh kau akan lebih suka saat aku menelanmu dalam hingga menyentuh kerongkonganku." Luhan spontan mendesah keras saat Kyungsoo melakukan apa yang baru saja ia katakan. Kehangatan setiap inci mulut Kyungsoo meloloskan cairan precum Luhan. "Ya!" Teriak Kyungsoo bahagia. "Kau benar-benar terasa nikmat, Luhan! Mmmhh."
Tangan Luhan masih beristirahat di kepala Kyungsoo. Yang awalnya hanya mengelus-elus rambutnya kini berubah menjadi mencengkem sekaligus menuntun Kyungsoo agar menelannya lebih dalam dan lebih dalam lagi. "Ya Tuhan! Kau benar-ben-ar ahli dalam me-lakukannya!" Kyungsoo hanya tersenyum menampakkan gigi-giginya.
Luhan melepaskan Kyungsoo paksa, tampak ekspresi kecewa di wajahnya. Ia mendirikan tubuh Kyungsoo kemudian menyuruhnya membungkuk untuk menampakkan pantatnya. Ia menampari pantat Kyungsoo hingga merah. Penis Kyungsoo semakin berereksi karenanya. "Ya! Ya! Ahhh!" Kyungsoo reflek memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Tamparan Luhan terasa menyakitkan sekaligus benar-benar nikmat ia rasakan.
Kyungsoo yang menginginkan lebih hanya memundurkan pantatnya agar Luhan menjilatinya. Luhan melakukan apa yang Kyungsoo inginkan. Pria mungil tersebut terus bergidik geli karena lidah panas Luhan. Ia tidak bisa berhenti menyumpah-serapahi dirinya sendiri. Terlebih, Luhan yang memainkan penisnya dari belakang. Kenikmatan bertubi-tubi ia terima sehingga lututnya terasa begitu lemas.
"Aku suka kau menggodaku, Luhaaan." Luhan mengelus-elus pantat besar Kyungsoo. Sangat lembut membuatnya tidak ingin melepas tangannya. "Daripada lidah panasmu, aku lebih ingin merasakan milikmu, Luhan! Ayo Luhan! Isi aku dengan penis panjang dan besarmu!" Ia menggoyang-goyangkan pantatnya seolah mengundang Luhan segera datang.
Luhan sendiri juga tidak bisa menahan nafsunya sendiri. Kyungsoo terlalu menggoda, penisnya mengejang mengeluarkan precum yang menetes. Ia memosisikan dirinya di belakang Kyungsoo. Sedikit-sedikit ia balik menggoda pria mungil di depannya dengan menempelkan kepala penisnya pada pintu masuk Kyungsoo. Luhan langsung menyeringai seraya mendengar rintihan Kyungsoo.
"Nnggghhhh... Luhan!" Kyungsoo tidak bisa menahan dirinya dengan menggenggam erat tangan Luhan yang beristirahat di pinggangnya. Menggenggam kemudian meremasnya memerintah Luhan agar tidak bermain-main dengannya. Ia juga mencoba memundurkan pantatnya memasukkan penis Luhan paksa. Namun lagi-lagi Luhan tertawa dan menjauhkan penisnya.
"Wah, wah, wah, lihat siapa yang bersemangat?" Luhan menampar pantat Kyungsoo hingga kemerahan. Menghasilkan Kyungsoo yang menggigit bibir bawahnya menahan sakit dan spermanya yang bisa keluar kapan saja karena Luhan. Ia benar-benar tidak akan rela ejakulasi sebelum merasakan panjang Luhan.
Cukup bagi Luhan menggoda Kyungsoo. Ia sendiri juga tidak sabar ingin merasakan kehangatan Kyungsoo. Perlahan namun pasti ia memajukan penisnya hingga kepalanya berhasil masuk. Sesuai dengan perkiraannya, Kyungsoo pasti terasa sangat luar biasa. Ia mengadahkan kepalanya keenakan.
"Aaahhhh!" Teriak Kyungsoo ketika Luhan berhasil memasukkan setengah lebih penisnya. Panas perih sekaligus nikmat, ia sudah kehilangan akalnya. Luhan merasa sedikit kasihan karena ia tahu Kyungsoo pasti kesakitan karena kurang persiapan. Ia hanya tersenyum kemudian mulai bergerak.
Anus Kyungsoo terasa semakin nikmat disetiap tusukan Luhan. Keduanya merasa mati rasa dan hanya bisa merasakan nikmat saja saat ini. Mereka terus mendesah dan mengeranng tanpa henti, meneriakkan nama satu sama lain keras-keras. Dan mereka lupa bahwa mereka masih ada di lingkungan sekolah.
Kyungsoo yang sedari tadi membungkuk, menahan dirinya dengan berpegangan pada loker di depannya, mulai merasa lemas di lututnya. Mungkin sebentar lagi ia akan pingsan karena nafsunya dan kenikmatan yang tiada tara.
Begitu pula Luhan, ia juga merasakan apa yang Kyungsoo rasa. Dunia berputar-putar, pandangannya kabur, lututnya juga lemas. Samar-samar ia merasakan kegelian di pinggangnya tanda ia sudah semakin dekat. "Astaga! Bersiap-siaplah, Kyungsoo!" Tusukannya semakin cepat membabi buta, dan ketika sudah hampir benar-benar dekat ia berhenti kemudian membalikkan badan Kyungsoo.
Kyungsoo berlutut di depan Luhan dengan mulut menganga lebar. Luhan dengan segera memasukkan penisnya kedalam mulut Kyungsoo. Ia berteriak kencang saat muatannya mulai
keluar di mulut hangat Kyungsoo.
Kyungsoo sedikit tersedak karena tembakan tiba-tiba Luhan. Karena takut mengecewakan Luhan, ia sebisa mungkin mencoba menelan semua spermanya. "Anak yang baik." Puji Luhan sambil mengelus-elus rambut Kyungsoo.
Pria mungil itu mengadah bertatap mata dengan Luhan. Sementara mulutnya masih penuh dengan penis Luhan, ia tidak mau melepasnya. Luhan juga berlutut menyejajarkan tubuhnya dengan Kyungsoo, yang mana sangat kecewa karena Luhan melepaskan paksa penisnya. Bisa dilihat bahwa Kyungsoo benar-benar seorang cockslut. "Kau sangat suka penis, huh?" Tanyanya mengejek.
"Kau yang terbaik." Ujar Kyungsoo tersenyum.
"Jadi aku bukan yang pertama? Kau sudah sering melakukannya dengan pria lain?" Luhan semakin tidak menyangka bahwa Kyungsoo orang yang seperti itu. Pertanyaan Luhan hanya dijawab dengan seringai mengerikan oleh Kyungsoo. Ia menyambar bibir pria di depannya kesal. "Kau suka hukuman? Kurasa aku akan menghukummu karenanya."
Kyungsoo bersemangat mengangguk-anggukkan kepalanya.
(WHAT DO YOU THINK ABOUT DADDY KINK HUH?)
(AND WHAT DO YOU THINK ABOUT XIUSOO (KYUNGSOO!TOP) I LIKE THEM LITERALLY)
