Rate : T (Bisa saja nambah tergantung keadaan(?))

Genre : Magic, Adventure, Family, Friendship, Romance(mungkin), dan Action.

OC : Glow, Skyla. (akan ada lagi nanti)

Chapter : 3

Declaimer : BoBoiBoy milik Animonsta dan cerita ini hanya karya fiksi milik author.

Warning : OOC, OC, Typo(s), No aliens, No robot, Miss EYD dan kesalahan besar lainnya.

Happy Reading...

"Cinta yang abadi, tercipta dari kepercayaan kedua pasangan."

Lagi lagi gadis itu berbicara hal yang memuakkan. Gadis dengan hijab putih itu sedang mengucapkan hal hal yang ia sebut cinta. Nada suaranya benar benar di buat buat, dan tangannya mengayun diudara seperti membacakan sebait puisi.

"Kepercayaan muncul ketika pasangan saling memahami. Ah... Frase yang sangat indah."

"Ekspresimu mengerikan Yaya."

"Halilin chaaan... kau membuatku sakit."

"Berhenti berbuat aneh, Yaya!"

"Ara ara... baiklah Halilintar sama. Aku jadi befikir akan sangat sulit bagimu untuk mendapatkan pacar."

Tingkah buruknya berakhir dengan bentakan kesalku, dan aku kembali memutar bole mataku malas pada ucapan terakhirnya. Saat ini, hamparan rerumputan yang luas menyapu pandanganku. Cahaya matahari yang cerah, dan kolaborasi antara awan dan birunya langit begitu menarik perhatianku. Dengan earphone bervolume keras dikedua telingaku, aku menatap langit sembari memasukkan kedua tanganku ke saku celana.

"Tapi semua yang kukatakan itu benar loh, Halilintar,"

"..."

"Cinta, dan kepercayaan. Aku harap akan mendapatkannya darimu."

Yaya menatapku, dan tersenyum lembut di akhir kalimatnya. Aku bisa merasakan bahwa pipiku memiliki semburat merah yang tipis. Yaya tertawa ringan ketika melihat itu, dan kami kembali menikmati langit bersama.

OooOooO

Hal pertama yang masuk dalam penglihatanku adalah langit langit mobilku. Apa yang baru saja terjadi? Terakhir yang kuingat adalah tubuhku merasakan sakit, dan dadaku begitu sesak. Aku bisa merasakan bahwa mobil ini bergerak. Segera saja aku duduk, sembari memegangi dadaku. Dan tepat ketika aku terduduk, seorang Fairy kecil, bersurai hitam kemerahan terbang didepanku.

"Halilintar? Kau sudah bangun? Bagaimana tubuhmu?"

Dari ekspresinya itu menunjukkan bahwa ia sangat khawatir, bahkan masih ada sisa jejak air mata di pipinya. Apa aku membuat Glow khawatir dan menangis? Aku menghela nafas, dan mengusap kepalanya dengan jari telunjukku pelan.

"Aku sudah tak apa. Yang lebih penting, apa yang terjadi?"

Glow terdiam, dan tepat saat aku mengatakan itu seseorang dengan suara yang ceria menyahut dari kursi kemudi.

"Haiii... aku Taufan. Aku adalah sekutumu, jadi mohon jangan menyerangku. Aku membawa berkah angin, dan bisa kubilang... mobilmu bagus. Tapi suasananya benar benar suram."

Mendengar hal itu aku hanya mengangkat sebelah alisku, dan memberikan pandangan bertanya pada Glow. Saat pertama aku melihat Glow, kekhawatirannya semata mata hanya di tujukan padaku. Jadi kemungkinan besar orang yang menyebut dirinya bernama Taufan itu tidak menvjadi ancaman. Dan aku harus mengkonfirmasi itu pada Glow sebelum aku percaya bahwa dia sekutuku.

"Yahh... dia sekutumu. Kau tahu... dia yang menolongmu saat itu."

"Ya ampun. Kau benar benar membuatku terkejut. Saat aku mendapatkan seseorang sebagai sekutu, dan saat aku bertemu dengannya dia terkapar di jalan. Aku sudah mendengar semua cerita dari Glow. Kau benar benar keras kepala seperti Taufan. Aku juga sudah memarahi Glow untuk menahan dirinya agar tidak menuruti semua kemauanmu dan memaksakan tubuhmu. Kau harus mengerti tubuhmu masih manusia, ada pembatasan."

Seseorang menyahut didepanku. Ia juga terbang seperti Glow. Ia memiliki penampilan yang lebih dewasa dari Glow. Baju gaun yang berwarna biru langit, dan lebih terkesan lebih rapi dari pada Glow. Ia memiliki surai berwarna pirang lembut, dan dikuncir kuda. Sementara di punggunganya, terdapat sepasang sayap yang tak berwarna.

Dia benar benar aneh, dia sama sekali tak memperkenalkan dirinya. Tapi ia berbicara banyak sekali. Ia juga meletakkan tangannya di dahinya, dan berbicara sembari mendesah beberapa kali. Bisa kulihat Glow hanya menunjukkan ekspresi meminta maaf, dan pemuda bernama Taufan tadi menyahut menjelaskan.

"Yahh... dia memang punya mulut yang tajam. Tapi dia paling mengerti cara untuk khawatir. Fairy itu adalah Skyla, pemilik berkahku."

"Itu karena pemuda pemuda seperti kalian selalu berlebihan dalam menggunakan berkah kami. Kalian harus tahu, kalian juga memiliki batasan."

"Aku mengerti, Skyla nee-sama. Tapi Halilintar memerlukannya saat itu."

"Dari yang kulihat, jarak mobil, dan sumber ledakan cukup jauh. Artinya kalian berhasil mengelak, namun kalian kembali untuk menyerangnya, apa aku salah?"

Glow langsung menutup mulutnya dan tak bisa lagi membuat alasan. Yahh... aku juga tak tahu harus berkata apa karena itu benar. Kami memang sudah lolos, dan kami memilih kembali untuk menghadapi Rorea. Aku langsung menggunakan Skyla tanpa pelatihan, dan aku tak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada tubuhku. Oh... ini juga membuatku terkejut, Tapi ... Skyla ini kakak Glow?

Aku menatap tanganku sendiri. Dan Fairy bernama Skyla itu kembali duduk di dasbor, dengan menunpuk kedua kakinya.

"Oh... ini dimana? Dan jam berapa sekarang?"

"Kita berada di kota dekat bukit. Aku berencana untuk menemui sekutu kita yang lain. Bensin terisi penuh, dan sekarang sudah pukul 1 siang."

Skyla kembali menjelaskan padaku, dan ia kembali terbang ke jok penumpang sebelah kemudi. Ia mengangkat sekantung plastik dengan tubuh mungilnya dan mencoba membawanya kearahku, karena terlihat berat aku segera mengambilnya.

"Apa ini?"

"Kau belum makan sejak kemarin. Kami membelikanmu makanan. Sekarang makanlah!"

Perutku sudah keroncongan sejak tadi memang. Jadi tanpa basa basi, aku menyantap makananku di belakang. Taufan yang mengemudi didepan, berbicara sembari melirikku dari kaca.

"Kau kelihatan sangat kelaparan. Hihihi..."

"Diamlah, Taufan. Halilintar punya emosi diatas rata rata."

"Apa maksudmu mengucapkan itu, Glow?!"

"Hoo? Bukankah itu memang benar?"

"Hahaha... Beneran dia punya emosi diatas rata rata?"

"Kau bisa dihajar kalau berani menggodanya."

"Aku jadi tertarik."

"Taufan jangan mulai kebiasaan burukmu."

"Terserah kalian."

Mobil menjadi lebih ramai dengan percakapan ringan. Dari sisi ini, aku bisa melihat bahwa Taufan memiliki sifat yang mengerikan. Ia memiliki sifat yang sama menyebalkannya dengan Glow. Sementara Skyla sebagai kebalikannya, ia memiliki sifat lembut, dan sepertnya sangat cakap mengatur semuanya. Benar benar figur seorang kakak.

Sementara kami, lebih tepatnya Taufan, Glow, dan Skyla bercengkrama. Mobil terus meluncur enuju gunung dengan kecepatan tinggi. Aku juga sudah mendengar tentang asal usul Taufan. Ternyata ia adalah anak seorang pengusaha yang juga selalu ditinggal oleh ibunya yang merupakan single parent. Pada dasarnya Taufan tak sepertiku yang membuat onar, tapi ia sering bolos untuk bermain sketboard. Satu bulan yang lalu ia bertemu dengan Skyla. Sama dengan kasusku, Taufan menerima game ini dengan senang hati. Bahkan ia mengatakan 'Karena kufikir itu sangat menyenangkan.' dengan tertawa riang. Lalu akhirnya mereka berdua memulai pelatihan bersama. Taufan memiliki perkembangan yang bagus menurut Skyla, tapi adaptasi (dengan memaksakan tubuh) yang kulakukan lebih menakjubkan dari Taufan. Dan ia yakin aku akan segera mendapat kekuatan besar dengan cepat.

Aku tak memiliki minat untuk mengikuti pembicaraan mereka. Aku hanya menanyakan beberapa pertanyaan untuk mempermudahku menguasai berkahku. Dan ia berkata hanya ada satu cara, yaitu memperkuat tubuhku dengan latihan yang keras. Dan aku sudah tahu itu.

"Hey... Skyla. Apa itu desanya?"

Taufan menunjuk sebuah desa kecil, di lereng gunung. Kita masih harus menuruni gunung, tapi desa itu sudah terlihat dari atas.

"Ya itu desanya."

"Tapi ada yang aneh sepertinya."

"Aneh apa Halilintar?"

"Asap."

Ya... Samar sama aku melihat asap dari desa yang masih berjarak cukup jauh dari kami itu. Aku kembali menyipitkan mataku, dan mencoba melihatnya lebih jelas. Skyla segera melihat kearah jendela dan mencoba untuk melihatnya lebih jelas.

"Skyla gunakan saja deteksi udaramu."

"Jaraknya masih sangat jauh. Aku tak bisa mencapainya."

"Kalau begitu ayo segera kesana."

"Biar aku ambil alih kemudi."

Setelah mendapat persetujuan, mobil menepi, dan aku mengambil alih kemudi Taufan. Ia mengemudi dengan kecepatan rata rata, sedangkan aku mengemudi dengan kecepatan gila. Jadi setelah aku menyuruh Taufan menggunakan sabuk pengaman, Skyla segera masukke saku Taufan, setelah sebelumnya ia memprotes, dan Glow mengatakan cara mengemudi gilaku. Glow juga masuk ke sakuku, dan mobil meluncur dengan kecepatan tinggi ke desa.

OooOooO

Satu hal yang masuk kedalam pandanganku saat kami hampir sampai di desa adalah kehancuran. Seperti tak sedikitpun tersisa dari desa itu. Tenyata asap yang kulihat tadi adalah dari beberapa rumah penduduk desa yang terbakar. Tapi hasil dari penyerangan ini bukan dengan menggunakan api. Ada banyak batu batu cukup bersar di segala tempat.

Memarkirkan mobilku sembarangan, kami segera mendatangi desa itu. Desa itu dipenuhi oleh orang orang yang terluka, maupun luka parah, maupun ringan. Dan beberapa mayat dengan banyak luka seperti pukulan batu juga bergelempangan disana, ditemani oleh orang yang menagisinya disampingnya. Aku menggigit bibirku ketika melihatnya, ini mengingatkanku dengan Yaya.

[GROAAAARRR]

Raungan keras menggema di dalam hutan. Kami saling berpandangan, dan mengangguk setuju untuk mendatangi asal dari raungan itu. Kami berlari melewati desa, dan semakin kami mendekati raungan tadi.

Tepat saat kami keluar dari hutan, sebuah pohon terlempar kearah kami, yang dengan tepat waktu kami hintari. Sehingga pohon itu menabrak tanah di belakang kami. Dan kami langsung menatap kearah pelaku pelemparan,

Sebuah monter, tingginya sekitar 5 meter, dengan tangan besar, dan tubuh yang berasal dari bebatuan. Monter itu tengan mengayunkan pukulannya pada penduduk desa yang menyerangnya dengan tombak, dan pedang. Tapi monter itu seperti tak mendapatkan serangan terus menyerang para penduduk dengan tangannya.

"Tch... dia lepas kendali ya."

"Apa maksudmu Skyla nee-sama?"

"Pemilik berkah tanah lepas kendali bersama dengan pemiliknya. Ini kejadian yang sangat langka."

Ekspresi yang ditunjukkan Skyla, mengatakan bahwa ini bukan hal yang bagus. Tunggu? Pemilik berkah tanah? Maksudmu monter ini adalah sekutu kita yang lepas kendali? Yang benar saja? Akan merepotkan jika membawa orang yang mudah kendali di kelompok ini. Tapi jika aku melihat kemampuannya sekarang, itu kemampuan yang hebat.

"Apa yang kita lakukan, Skyla?"

"Dari kasus terakhir cara mengatasinya adalah dengan mengalahkannya. Tapi dilihat dari situasi sekarang mengalahkannya tidak akan mudah. Halilintar bukan di situasi dimana ia bisa bertarung. Angin melawan tanah itu tidak akan berguna."

Skyla menganalisa dengan hati hati. Memang benar, tubuhku masih tak bisa banyak di gunakan setelah serangan terakhirku tadi malam. Dan serangan angin tidak akan berdampak banyak pada tanah. Tanah dan batu ya?

Aku melihat monter itu dalam diam, dan tak berapa lama seseorang mendatangi kami. Ia mengguankana pakaian yang sama seperti porang orang tadi, dan tubuhnya juga terdapat banyak luka.

"Apa kalian juga pengguna kekuatan magis seperti Gempa?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Makhluk kecil itu, Gempa memiliki kekuatan magis dan dia berteman dengan makhluk kecil itu."

Ternyata begitu, ia mengenai kita dari Fairy yang kami bawa. Saat kami bingung tentang apa yang harus kami katakan, Skyla mengambil alih dan berbicara dengan cakap.

"Ya, kami adalah pengguna kekuatan magis. Kami bisa menyelamatkan desamu. Tapi tolong jelaskan apa yang terjadi."

"Sebelumnya biarkan aku memperkenalkan diri, aku adalah Bardo. Dan yang mengamuk disana adalah Gempa. Dia berubah secara tiba tiba dan mulai menyerang desa, setelah ia merasakan sakit yang hebat di dadanya. Begitu pula makhluk kecil itu. Tibatiba saja mereka bersinar, dan bergabung. Ada banyak korban, tapi kami berhasil mendesaknya sampai disini. Tapi kami tak bisa mengalahkannya."

"Baiklah kami akan mencoba mencari cara, jadi mohon evakuasi penduduk desa."

"Aku mengerti."

Setelah menerima perintah dari Skyla, pria tadi segera pergi dan mengevakuasi penduduk yang terluka.

"Sebaiknya kita meminta orang orang desa mundur. Jika tidak ini hanya akan menambah banyak korban."

"Aku mengerti. Glow mari bergabung lagi."

"Tapi Halilintar tubuhmu tidak kuat."

"Tubuhmu masih sangat lemah."

"Kau tak perlu memaksakan diri."

Aku menghela nafas melihat kekhawatran Glow, Skyla, dan Taufan. Bukannya aku menolak kekhawatiran mereka, tapi ini bukan saatnya mengkhawatirkan itu. Jika ini tetap dibiarkan desa akan hancur.

"Aku bisa mengatasi itu sementara."

"Huh... 2 menit. Kau harus mundur setelah 2 menit."

Melihat kesungguhanku akhirnya Skyla menyetujuiku dengan syarat. Tapi 2 menit? Apa yang bisa kulakukan dengan dua menit? Melawan makhluk itu tidak hanya memerlukan waktu 2 menit, tahu.

Seperti tahu bahwa aku akan membuat protes, Skyla mengangkat tangannya dan menunjukkan dua jarinya dengan wajah keras. Ia tak bisa dibantah, meski aku hanya melihatnya beberapa saat. Tapi aku tahu pasti, gadis ini tak bisa diganggu gugat keputusannya.

"Aku mengerti."

Akhirnya aku menyetujuinya setelah membuat desahan panjang. Aku akan menyelesaikan ini dalam 2 menit, tidak sebelum 2 menit. Ini akan berakhir sebelum itu.

"Akan kuberi tahu cara mengalahkannya tanpa membunuhnya. Serang kristalnya."

"Kristal di tangannya?"

"Tidak. Biasanya klistal itu akan berpindah tempat ketika pemiliknya kehilangan kendali."

"Jadi pertama kita harus menemukan kristal itu ya."

"Ya. Sekarang saatnya untuk menyerang."

"[Ya]"

Pertarungan dimulai dengan sinyal keyakinan dari Skyla. Aku dan Taufan segera berlari kearah monster tadi. Melihat kedatangan kami, monster itu segera mengalihkan perhatiannya pada kami. Ia memiliki tangan yang besar, dan kecepatannya juga lumayan untuk tubuhnya yang besar itu. Tapi aku lebih cepat dari itu.

Serangan pertama datang padaku, monster itu memukulkan tangan kanannya padaku yang dengan cepat aku hindari dengan melompat kekanan. Hasil dari pukulannya adalah kawah yang cukup besar, jika aku terkena serangan itu aku bisa hancur. Serangan dengan daya hancur yang besar, tapi itu takkan berguna jika tak mengenaiku.

"Glow, serang dia!"

"Dimengerti."

Menyetujui permintaanku, Glow segera naik keatas dan membuat tubuhnya bersinah kemerahan. Ia mengangkat tangan mungilnya keatas, dan membuat energi petir terkumpul disana.

"Rasakan ini."

Seperti cambuk, ia mengarahkan kekuatannya pada monter itu. Sebuahserangan telak pada kepalanya, asapmengepul dari serangan itu. Tapi tak berdampak apapun padanya. Sepertiyang kuduga serangan petir langsung pada batu itu tak berguna.

"Bebola Taufan."

Puluhan bola angin mengerang monter itu dari sisi samping. Itu adalah Taufan. Itu serangan yang cukup kuat. Sepertinya Ia dan Skyla sudah bergabung. Tapi aku tak bisa membuang waktu 2 menit sekarang. Glow terbang kearahku, sedangkan monster itu teralihkan perhatiannya pada Taufan yang terus menerus menyerangnya.

"Kita akan mencari dimana Kristal itu. Jadi kita serahkan pengalih perhatian pada mereka."

"Dimengerti."

Aku berlari mengitari monster itu, tapi aku sama sekali tak menemukan keberadaan kristal yang kucari. Ini percuma, meski perhatiannya teralhih pada Taufan, beberapa serangannya juga mengarah padaku.

Ini benar benar menyebalkan, monster batu ini benar benar seperti tanpa kelemahan. Aku benci mengakui ini, tapi rasanya aku benar benar tak berguna sekarang. Jika saja, aku lebih kuat. Kusso... Aku mengumpat dengan kesal dalam hatiku. Kami terus menenrus menyerang dengan segerap kemampuan kami,tapi pertarungan masih belum berakhir.

To Be Continued

Author Note

Yeeey... berjumpa lagi dengan saya. Arina nee-chan.

Ini cerita susah sekali, atau memang saya sudah kehilangan kemampuan menulis saya? Tapi ah sudahlah.

Entahlah tak ada yang bisa saya jelaskan. Yang pasti cerita ini akan menjadi beberapa part. So ini part pertama, lawan pertama sekutu terakhir di part ini. Mari tunggu kebangkutan sang tokoh utama. Halilintar, yang terus membawa dendamnya pada pembunuh Yaya. Plok plok... #dihajar

Sekali lagi maaf karena tidak bisa membalas review. Bow..

Okay intinya, saya meminta maaf atas keputusan sepihak saya. *bungkuk dalam dalam*

Itu karena saya tidak tahu bagaimana cara melanjutkannya. Saya benar benar mohon maaf.

Dan yang kedua, terimakasih banyak, saya benar benar berterimakasih pada dukungan yang kalian perikan di fic kecil saya. Saya benar benar senang.

Baiklah kita sampai di penghujung AN.

sampai jumpa di chapter depat semuanya. ^_^

Mohon reviewnya ^_^