HumanVampire's Love
Chapter 3
Author : Maulida NaraNaruHina
Genre : Romance / Fantasy
Rating : T
Hinata pulang dengan wajah gembira dan berseri-seri. Selama perjalanan dia terus mengusap lembut sapu tangan bermotif kodok dari Naruto. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Tak terasa langkah kakinya sudah membawa Hinata didepan rumah yang sederhana namun terkesan mewah. Perlahan dia masuk kedalam rumah, dari dapur terlihat ibunya sedang sibuk memasak serta ayahnya yang asik membaca koran meja makan yang letaknya tak jauh dari dapur. Hinata melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Kamar yang tak begitu luas namun tertata rapi nan indah layaknya kamar seorang putri raja. Kamar Hinata dominan bercat putih dan pink. Beberapa boneka panda dan teddy bear berjejer rapi di pojok ranjangnya. Bunga-bunga jenis mandevella sanderi berwarna merah orange yang merambat disekitar jendela membuat kamar Hinata semakin indah dan sejuk . Gadis itu meletakkan sapu tangan Naruto diranjang, lalu beralih mengambil tisu dimeja belajarnya. Hinata tak mau mengotori sapu tangan pemberian pria tampan yang bernama Naruto itu. Ia hanya ingin menyimpannya lalu jika bertemu lagi dengan Naruto, dia ingin sekali mengembalikannya.
Persaan ini akhirnya muncul kembali setelah sekian lama menghilang. Perasaan saat kau berdebar-debar jika bertemu dengan seorang pria. Meninggalnya Yohiko yang merupakan kekasihnya, membuat Hinata menutup hati untuk pria manapun karena dia sangat mencintai Yohiko. Melihat Naruto, membuat Hinata teringat akan sosok Yohiko. Dengan model rambut yang sama, warna juga hampir sama membuat dirinya mengingat kenangan-kenangan indah bersama Yohiko. Hinata berdiri dipinggi jendela, dia mencoba merasakan angin malam yang berhembus pelan, matanya melihat langit gelap berhiaskan bintang dan bulan bundar besar yang bersinar terang. Sepersekian detik mata Hinata terpaku kepada bulan, seolah dia melihat senyum dan wajah Naruto disana.
"Sudah saatnya aku bangkit, tak lagi terpuruk karena kepergianmu. Aku yakin Yohiko juga menginginkan aku untuk hidup bahagia. Benar kan Yohiko?".
Angin kemudian berhembus kencang, Hinata sudah tahu jawaban Yohiko dari angin yang berputar mengelilinginya. Walaupun Yohiko meninggal namun Hinata masih bisa merasakan kehadirannya. Mungkin Yohiko tak bisa pergi dengan tenang kalau keadaannya seperti ini, lagi pula Hinata masih tak merelakan kepergian Yohiko. Dan sekarang Yohiko bisa pergi dengan tenang karena Hinata tahu bagaimana dia harus tetap hidup. Suara berisik dan ramai terdengar dari depan pagar rumahnya. Ternyata kakaknya sudah pulang bersama tiga orang temannya, Deidara nee-chan, Tenten dan Karin. Neji beserta temannya mulai memasuki halaman rumah.
"Hinata-chan!" panggil seseorang dari bawah sambil melambaikan tangannya.
Hinata menghembuskan nafas pelan ketika melihat sosok pria berambut panjang berwarna kuning sibuk memanggilnya. Deidara adalah sosok pria yang ceria, cerewet namun perhatian. Dia selalu menghadiahkan sebuah patung yang terbuat dari tanah liat putih kepada dirinya. Seni tanah lihat Deidara memang luar biasa. Patung itu sangat mirip dengan dirinya. Hinata paham sekali atas perasaan Deidara terhadapnya, namun Hinata hanya menganggap Deidara kakak kedua setelah kakak kandungnya Neji. Sudah berkali-kali Hinata menolak secara halus ajakan deidara untuk kencan tapi sepertinya dia tak sama sekali tak peduli dengan sikap Hinata.
Ruang makan malam hari ini sangat ramai tak seperti biasanya. Kehadiran mereka membuat nuansa lebih berwarna. Deidara selalu cerewt dan ceria seperti biasanya, bahkan dia dengan berani merayu ibu Hinata didepan suaminya. Pertama kali Deidara bertindak seperti itu berhasil membuat ayahnya cemburu, namun lama kelamaan ayah Hinata sudah terbiasa. Deidara akan kesal jika reaksi ayah Hinata biasa aja.
"Wuahhh makanan ini terlihat enak sekali" celetuk Deidara. "Aku tahu ibu mertua adalah seorang wanita yang sangat pintar memasak, iya kan? hehe" guraunya.
"Ibu mertua? siapa yang ingin punya menantu cerewet sepertimu?" ujar Ayah Hinata dengan wajah santai sambil terus membaca koran.
"Ayah mertua jangan begitu. Jika ayah tak setuju denganku, aku yakin ibu mertua dan Neji akan selalu mendukungku. Iya kan Neji hehe?".
"Sampai kapanpun aku tak akan pernah merestuimu. Aku tak bisa membayangkan. Adikku yang lembut dan baik hati menikah dengan seorang pria blangsak sepertimu" jawab Neji enteng serta acuh.
"APAAA?! Ne-Neji kenapa kau begitu kejam padaku?!" ratap Deidara.
"Hahhahahaha, sudahlah kalian semua. Ayo makan malam" ucap Ibu Hinata sambil membawa beberapa makanan ke meja makan.
Neji dan Hinata menghela nafas panjang bersamaan. Lagi-lagi gurauan seperti ini selalu muncul dari mulut Deidara. Walaupun Deidara adalah sahabatnya, tapi dia tidak setuju jika adik kesayangannya haru menikah dengan cowok cerewet seperti Deidara. Lagipula dulu Deidara adalah seorang Playboy yang sering mempermainkan wanita. Sekeras apapun Deidara mengejar Hinata, Neji tak akan pernah merestuinya
"Deidara nee-chan, sinikan piringnya!. Aku ingin mengambilkan makanan untukmu".
"Hinata-chan" Deidara melongo memandang Hinata yang sikapnya tak lagi dingin kepadanya. Ini sungguh aneh baginya.
"Kenapa? tidak sepantasnya aku bersikap dingin kepada Deidara nee-chan bukan?
"Bukan begitu, aku benar-benar tersanjung sekali Hinata-chan".
Mata Neji beralih memandang Hinata, wajah Hinata terlihat berseri-seri dan bahagia. Wajah itu muncul kembali setelah hampir tiga tahun ekspresi itu menghilang. Neji jadi ingin tahu, hal apa yang bisa membuat keceriaan adiknya kembali lagi. Apapun itu, Neji sangat berterima kasih kepada seseorang atau apapun yang bisa mengembalikan jati diri Hinata dan bisa membuatnya lupa tentang Yohiko. Tak hanya Hinata yang berseri-seri namun Karin juga mengalami hal sama setiap kali dia melihat Neji. Hinata melihat jelas hal ini, sejujurnya dia kasihan melihat Karin karena Hinata tahu persis kepada siapa Hati kakaknya berpihak. Tak lain dan tak bukan adalah Tenten sahabatnya. Mereka berdua saling menyukai tapi gengsi untuk saling mengungkapkan. Sudah lama Tenten memendam perasaannya, tapi demi Karin yang juga sahabat kita, dia memilih untuk tidak mengungkapkan dan memperlihatkan sahabatnya.
Shikamaru, Naruto dan Kiba, Gaara dan Sakura, duduk santai didepan rumah mereka. Mereka memandang bintang-bintang yang menghiasi kegelapan dilangit malam. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali meratapi nasib mereka sendiri. Dulu mereka adalah seorang manusia namun pada suatu saat seklompotan vampir menggigit mereka dan dengan sendirinya mereka masuk kepemukiman ini. Kejadian ini sudah hampir lima puluh tahun yang lalu. Hal ini berawal ketika mereka akan mendaki lereng gunung Fuji, tapi dijalan dia dihadang oleh beberapa orang. Mereka pikir orang-orang itu juga merupakan pendaki, tapi perkiraan mereka salah. Saat itu terjadi begitu cepat, lalu jadilah mereka seperti ini. Sungguh ironis mengerikan. Jika Naruto tak bisa dikuasai sepenuhnya oleh nafsu vampir, namun tidak untuk keempat temann ya. Mereka sudah menikmati kehidupan seperti ini.
"Naruto, apa kau benar-benar masih ingin kembali menjadi manusia?" celetuk Gaara.
"Iya, aku ingin kembali seperti dulu. Aku ingin hidup seperti manusia" jawab Naruto
"Sebenarnya aku juga menginginkannya, tapi itu mustahil" Ucap Kiba nelangsa.
"Dulu saat kelompok vampir masih dibawah pimpinan Hashirama-sama, mereka selalu menghargai manusia bahkan dianjurkan untuk tidak menyakiti mereka, tapi peraturan itu berubah ketika Madara-sama memimpin kita. Para vampir menjadi semakin liar dan menakutkan" jelas Shikamaru panjang lebar.
"Benarkah? aku baru tahu cerita seperti itu?" tanya Naruto heran.
"Itu Karena kau bodoh jadi kau tak tahu tentang sejarah" Olok Gaara tanpa ekspresi.
"Hei, Gaara kau jangan pernah seperti Shikamaru yang selalu menyombongkan kepandaiannya. Walaupun aku bodoh tapi aku punya harga diri yang sangat tinggi". Naruto mengomel tidak karuan, ekspresinya terlihat jelek setiap kali dia marah.
"Hahahahahahahah" semua tertawa lepas ketika melihat Naruto bertingkah aneh. sifat bodohnya tak pernah hilang walaupun dia sudah menjadi vampir.
"Ehh~ kenapa kalian tertawa?".
"Itulah kenapa kami begitu menyukaimu Naruto, kau aneh, bodoh, jujur dan itulah alasan kami ingin terus berteman dan bersahabat denganmu".
Naruto tersenyum bahagia mendengar kalimat itu dari sahabatnya. Memang disini dia mempunyai sahabat tapi hati Naruto ingin kembali menjadi manusia bersama teman-temannya. Dia tak ingin terkurung dalam kehidupan seperti ini. Ada satu hal yang ingin ia lakukan dan dia ingin sekali teman-temannya ini membantunya.
"Jika kalian menganggapku sebagai sahabat. Apa kalian mau membantuku?" ucap Naruto tanpa ragu.
"Tentu saja karena kita sahabat. Kalau boleh tahu apa itu?!" jawab Kiba tanpa berfikir apa yang Naruto inginkan. Tak hanya Kiba, Shikamaru, Gaara, serta Sasuke yang sedaritadi mendengarkan pembicaraan bersedia membantu Naruto apapun itu.
"Aku ingin kita menyelinap ke istana Madara-sama dan menyelidiki organisasi Fuin". Mendengar ucapan Naruto, semua terdiam lalu bereaksi berlebihan.
"BAAAKKAAAA NARUTO, KAU MAU CARI MATI YA!" Teriak Kiba.
"Sudah aku duga akhirnya akan seperti ini' ucap Gaara datar.
"Aku akan membantumu Naruto" Sasuke tanpa berfikir bersedia membantu Naruto. Dia juga ingin tahu bagaimana organisasi itu berjalan. "Aku dengar selain mengumpulkan manusia-manusia berkekuatan khusus lalu dijadikan vampir, organisasi itu juga mengincar seorang gadis yang bisa mengendalikan Monster vampir penghisap darah Manusia yang disebut Nure-Onna.".
"Seorang Gadis? Apa kau tahu siapa gadis itu?" Naruto semakin bingung dengan ucapan Sasuke. Banyak sekali pertanyaan menari-nari di dalam pikirannya.
"Gadis yang bisa mengendalikan Nure-Onna, dia bernama Hinata Hyuga, salah satu penduduk dari kota Konoha" jawab Sakura.
