Warning: AU. OOC. Typo. ANOTHER HIGH-SCHOOL FIC FROM mysticahime. Not very keen on romance. Mostly friendship. DON'T LIKE DON'T READ. C&C is accepted. Reviews are received with open-hearted. Different POV in every chapter. NOT A CHARA BASHING FIC!
Disclaimer: I never own Naruto. All is Masashi Kishimoto's masterpiece. Just borrow the characters for my own fiction.
Enjoy.
.
.
.
.
mysticahime™
proudlypresents
another high-school fic
Inspired from dorama 'Dragonzakura'
© 2011
.
.
.
.
Don't be dubious to move forward
Don't be afraid to fight your way
'Cause you're not alone
We're all...
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
U N D E R T H E S A M E S K Y
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
.
.
.
.
Chapter 4: Chouji — Impossible
Seperti biasa, aku dan Shikamaru melarikan diri ke atap sekolah—berpura-pura tidak tahu bahwa bel pertanda istirahat selesai telah berbunyi hampir setengah jam yang lalu. Rutinitas ini telah terbentuk semenjak kami berdua cukup akrab di kelas dua.
"Guru baru itu merepotkan sekali."
Kulirik Shikamaru—si nanas itu tengah menyandarkan kepalanya pada kedua lengannya yang disilangkan, menahan beban tubuhnya. Sejak dulu, Shikamaru paling benci hal-hal merepotkan—yah, dia kan pemalas—dan tentu saja, 'menyelamatkan' Inuzuka Kiba termasuk dalam kategori hal-hal merepotkan itu. Mission impossible, bila kubilang. Hatake Kakashi itu benar-benar menjengkelkan. Aku heran, mengapa ia mau anak asosial macam Kiba tetap berada di kelas kami.
"Setuju." Kraus. Kukunyah keripik ubiku, menikmati sensasi asin dan manis yang menyebar dalam rongga mulutku. Ah, keripik memang cemilan nomor satu! "Kalau ia mau Inuzuka kembali ke kelas, seharusnya dia yang melakukan 'penyelamatan' itu."
—entah mengapa, aku merasa kami berdua terkesan meremehkan Kakashi dan misi 'penyelamatan' itu. Heh, 'penyelamatan'? Yang benar saja.
"Lebih baik tidak perlu ada misi seperti itu—" Shikamaru berbalik dan memunggungiku, mungkin berniat tidur, "—che, mendokusai."
"Tapi aku heran," kataku sambil terus mengunyah. Kraus. Kraus. "Kenapa ya, Inuzuka bersikap asosial seperti itu? —anti sosial juga, maksudku. Seharusnya, masa SMA adalah masa-masa kita memperbanyak teman, bukan?"
"..." Shikamaru terdiam, kemudian ia duduk bersila, menatap mataku. "Hei, Chouji. Memangnya kau pikir ada berapa banyak orang di sekolah ini? Tujuh—enam, kalau tidak menghitung Inuzuka sendiri."
Kraus. "Kau membenci Inuzuka, Shika?"
Shikamaru mengedikkan bahunya.
Percakapan kami selesai sampai di situ.
.
.
.
.
"Hei, bukankah itu Inuzuka?"
Shikamaru menoleh ke arah yang kutunjuk dengan ekspresi tidak rela. Jelas saja, aku memutar lehernya dengan paksa.
"Mana?" tanyanya dengan nada malas.
"Arah jam dua, di tepi sungai." Aku memberitahunya.
Inuzuka Kiba memang ada di sana, seorang diri—bila kau tidak menghitung anjing putihnya itu. Entah apa yang ia lakukan siang-siang begini di tepi sungai. Membolos? Sudah jelas, ia kan dikeluarkan oleh guru baru kami dari kelas.
"Aku tidak peduli." Shikamaru berusaha melepaskan dirinya dari pitingan lenganku. Aku bergeming, tetap tidak melepaskan Shikamaru.
"Ayo kita ke sana," ajakku seraya menunjuk Inuzuka dengan daguku. Aku sama sekali tidak memedulikan gerutuan Shikamaru, terus melangkah mendekati tepi sungai.
.
.
.
.
"Hei," aku menyapa Inuzuka ketika kami—aku dan Shikamaru—tiba di dekatnya. Pemuda berjaket itu menoleh sesaat kepadaku, kemudian kembali mengusap-usap moncong putih si anjing, sama sekali mengabaikan kami.
"Kami menyapamu!" kata Shikamaru ketus. Ia tampak jengkel sekali.
Inuzuka diam saja, sama sekali tidak berniat merespon aku maupun si nanas.
"Dasar asosial. Anti sosial. Maniak anjing." Shikamaru mengumpat pelan, membuang muka ke arah berlawanan.
"Apa mau kalian?" tanya Inuzuka. Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya, di atas rumput.
"Kami—aku," Shikamaru melirikku dengan ganas, seolah-olah tidak mau ikut terlibat, "—hanya ingin tahu mengapa kau, hmm, bersikap seperti ini."
"Tidak pedulian, seenaknya, dan membangkang?" tanyanya tanpa mau memandangku.
Kutatap Shikamaru, berharap ia mau ikut bicara. Shikamaru kembali mengedikkan bahunya.
Ayolah, pintaku lewat tatapan mata.
"Kira-kira begitu." Shikamaru luluh juga, ikut mengobrol dengan Inuzuka dan aku. Ia duduk di sisi lain Inuzuka. "Sangat merepotkan."
Rasa tersinggung terpancar dari mata Inuzuka yang gelap. "Tidak usah bicara padaku, kalau begitu." Pemuda itu kembali berkonsentrasi pada Akamaru-yang-sama-sekali-tidak-merah.
"Hei," aku buru-buru mencairkan suasana yang mulai memanas. "Jangan begitu, Inuzuka. Shika hanya bercanda, kok." Shikamaru mendelik kepadaku. "Aku ingin tahu, mengapa kau membawa Akamaru ke sekolah? Bukankah itu dilarang?"
Inuzuka mendengus. "Tidak ada yang merawatnya di rumah."
"Keluargamu?"
Inuzuka diam saja. Aku menghela napas.
"Baiklah kalau kau tidak mau bercerita kepada kami," tanganku berusaha membuka kantung keripik bayam yang sebenarnya merupakan cadangan makananku nanti malam. "Ngomong-ngomong, aku Akimichi Chouji."
"Aku tahu," jawab Inuzuka pendek. "Kita sekelas tiga tahun ini, Akimichi-san. Hanya ada tujuh siswa kelas tiga di SMA Konoha."
"Panggil saja aku Chouji," jawabku. Kraus. Kraus. "Jangan sungkan pada kami, kita sudah sekelas selama bertahun-tahun. Kita bisa berte—"
Kata-kataku berhenti ketika Inuzuka tiba-tiba mendelik.
"Mengapa kalian tiba-tiba sok akrab denganku? Mengapa tidak dari dulu-dulu?" Keningku mengernyit mendengar kata-katanya. "Menurutku, sok kenal dan sok akrab di tahun akhir sekolah menengah itu percuma. Setelah ujian semuanya akan berpisah, benar kan?"
Inuzuka berdiri dari posisi duduknya, Akamaru menyalak-nyalak garang. "Oh, atau mungkin kalian disuruh oleh guru sialan itu? Cih, siapa yang sudi kembali ke kelas? Jangan mimpi aku akan kembali ke sekolah itu la—"
BUAGH!
Sebelum aku menyadari kata-kata kasar itu ditujukan pada kami, kepalan tinju Shikamaru telah terlebih dahulu mencapai sisi wajah Inuzuka, membuatnya terdorong mundur beberapa langkah. Aku melongo.
Shikamaru? Memukul orang? Ckck, aku tidak percaya ini.
"Omae," wajah Shikamaru terlihat sangat marah ketika ia menarik kerah baju Inuzuka dan mendekatkan wajahnya. "Kau menyebalkan sekali! Memang benar, kami disuruh oleh guru baru itu untuk mengembalikanmu ke kelas, lalu kenapa? Memangnya kami dengan sukarela mendekatimu? Cih. Jangan bercanda, pecinta anjing!"
Uh. Oh. Oh.
"Shi-Shikamaru, jangan seperti itu," aku berusaha menenangkan si rambut kuncir yang sudah terpancing oleh amarah. Betul sekali, untuk orang yang tidak suka hal-hal merepotkan seperti ini, berusaha membujuk orang anti sosial dan asosial seperti Inuzuka akan sangat sangat sangat menyebalkan.
Wajah Inuzuka memucat, namun ia tidak mau menunjukkan kekagetannya. "Lalu, mengapa kau pura-pura peduli? Apa gunanya bagimu, heh, Nanas?"
BUAGH!
Satu tinjuan lagi dan bibir Inuzuka robek. Cairan berwarna merah segar mengalir dari sudut bibirnya. Kini, ia menatap Shikamaru dengan geram.
"Sebenarnya, apa maumu?" Kali ini, ia tampak benar-benar marah. Shikamaru juga. Baru kali ini kulihat ia memukul orang lebih dari satu kali. Inuzuka mendecih, menunggu jawaban Shikamaru.
"Aku hanya ingin perintah dari guru baru itu cepat selesai. Aku malas mendengarnya berceramah," jawaban Shikamaru di luar dugaanku—mungkin di luar dugaan Inuzuka juga. "Jujur saja, bila Chouji tidak mengajakku untuk mengobrol denganmu, aku sudah pulang dari tadi."
Kali ini, Inuzuka menatapku. "Apa maumu?"
Aku balas menatapnya. Oke, hari ini aku sedang tidak ingin marah-marah.
"Aku hanya ingin berteman denganmu." Kukatakan saja apa adanya. "Kita teman sekelas, mengapa kita harus bersikap seolah-olah bermusuhan? Apa ada yang salah dengan hal itu?"
"Che," Shikamaru membuang muka. Sebaliknya, Inuzuka menatapku dengan tatapan yang tak dapat dimengerti.
"Sungguh?" akhirnya ia berbicara. "Apa kau benar-benar ingin berteman denganku?"
Shikamaru berjalan mendekatiku, menggumamkan sesuatu seperti 'kurasa kau sudah sinting' dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar.
Kutatap kedua matanya. "Aku sungguh-sungguh."
Raut wajahnya berubah, kemudian mengeras lagi. "Kau pasti bercanda."
"Apa aku terlihat bercanda?"
Kini, wajah Inuzuka tampak tidak percaya. Benar-benar tidak percaya. Begitu pula Shimakaru yang memandangiku dengan aneh.
Hei, apa ada yang salah dengan kata-kataku barusan?
Sejenak, kami semua berdiam diri, tak ada satu pun di antara kami yang berbicara. Angin sepot-sepoi berhembus di udara, menggoyangkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar kaki-kaki kami berpijak.
"Ini pertama kalinya ada yang berkata seperti itu kepadaku," gumam Inuzuka. Ia memandangku. "Kau tahu mengapa aku bersikap asosial seperti ini?"
Aku menggeleng. Shikamaru juga—walau sepertinya Inuzuka lebih menujukan perkataan itu kepadaku. "Mengapa?"
Semburat merah muncul di kedua pipinya yang bertato. "Karena tidak ada yang mencoba mengerti diriku. Mereka semua tidak peduli kepadaku."
Mendapat firasat bahwa cerita Inuzuka akan cukup panjang, aku berinisiatif untuk duduk kembali di atas rumput (dan tentunya tak lupa dengan kantong keripikku). Shikamaru tetap berdiri. Inuzuka duduk di sebelahku—tidak terlalu dekat, namun tidak terlalu jauh juga.
"Orang-orang selalu menganggapku aneh," ia mengusap pelan kepala Akamaru-yang-sama-sekali-tidak-merah. "Mereka menganggapku anak gila yang hanya mau berteman dengan anjing. —jangan salahkan aku, orang-orang itu selalu menindasku."
Dan mengalirlah cerita Inuzuka mengenai masa kecilnya, di mana ia sering dilempari batu dan dikatai kampungan. Orang-orang bilang, tubuhnya berbau seperti anjing—mungkin disebabkan karena di sebelah rumahnya terdapat penampungan anjing liar, dan juga karena kenyataan bahwa keluarganya mengelola klinik hewan kecil di pinggir kota.
Ia tidak mempunyai teman seorang pun. Ke mana-mana, ia selalu bersama dengan Akamaru. Itu semua karena ia sama sekali tidak bisa mempercayai orang lain. Di matanya, semua orang mengucilkan dirinya. Karena itu, ia mulai menarik diri dari lingkungan sosial dan bertindak seenaknya—membalas perlakuan seenaknya yang diterimanya ketika maih kecil.
Sedikit banyak aku merasa simpati pada Inuzuka. Luka batin yang dideritanya bukanlah hal yang mudah untuk disembuhkan. Bersekolah di sekolah berlevel rendah pun sama sekali tidak membantu—malahan ia semakin membangkang karena tidak ada seorang pun di antara kami yang berusaha untuk peduli.
"Kurasa," aku mencoba bicara setelah Inuzuka selesai bercerita, "kau harus mulai membuka diri. Sedikit demi sedikit pun tak apa. Yang penting, kau harus tahu bahwa tidak semua orang seperti itu. Tidak semua anak di SMA Konoha bersikap tidak peduli padamu." Suaraku semakin serius. "Aku peduli padamu—" kutunjuk diriku, "Shikamaru peduli padamu—ah, jangan pikirkan yang barusan. Sebenarnya, itu caranya menunjukkan kepeduliannya."
Shikamaru tidak membantah. Bagaimanapun, ia lepas kontrol tadi. Dan ia tidak mungkin sembarangan memukul orang, aku mengenalnya.
"Maaf," gumam Inuzuka. "Maaf..."
Dapat kulihat, buliran air bening mengalir di pipinya. Inuzuka menangis?
"Apatis dan bertindak semaunya—aku memang bodoh." Ia terus mencucurkan air matanya, sesekali menggumamkan kata 'maaf'.
Aku dan Shikamaru berpandangan.
Ayo, katakan sesuatu. Kutatap matanya.
Aku? Ia sedikit membentangkan tangannya. Che, mendokusai...
Ayolah...
Shikamaru menghela napas. "Hei. Jangan cengeng seperti itu."
BUKAN ITU! Aku memelototinya dengan garang. Kulempar kantong keripikku yang sudah kosong. Bakano Shikamaru, jangan memperburuk suasana!
"Yang lalu biarlah berlalu," Shikamaru kembali berbicara. "Jangan hidup untuk masa lalu. Hiduplah untuk masa kini. Berjuanglah agar lebih baik di masa datang."
Inuzuka mendongak sambil mengelapkan wajahnya ke lengan jaketnya. Aku juga sedikit terperangah. Jarang sekali Shikamaru mengucapkan kata-kata bijak seperti itu.
"Maaf karena aku memukulmu tadi, tapi kau memang keterlaluan, sih." Shikamaru mengulurkan tangannya ke arah Inuzuka. Bibirnya sedikit tersenyum.
Aku berdiri dari posisi dudukku semula, ikut mengulurkan tangan ke arah Inuzuka. "Berteman?"
Ia menyambut tangan-tangan kami dengan tos ringan, lalu berdiri. Kali ini, cengiran lebar menghiasi wajah Inuzuka—ah, bukan.
Kiba.
●●●To be Continued●●●
Author's Bacot Area
Haiiiii :D *wajah tanpa dosa* Maaf-maaf-maaf beribu maaf karena lama ga update fic ini, padahal saya udah janji apdet cepet ;P dan maaf juga ga jadi double post, cukup manjangin dikit per-chapter. Hehe~
Gimana? Gimana? Gaje ya chapter ini? Apa friendship-nya kerasa? Saya sih jujur aja, nyengir-nyengir sendiri pas bikin Kiba nangis. OOC sekali kayaknya, tapi saya ga bisa nyampein wujud 'rasa terharu' dengan cara lain. Soriii~
Btw, apa kabar? *pertanyaan garing* Saya baru 'nemuin' lagi 'pegangan' saya di dunia literatur ;P
FYI, saya lagi kena Hallyu wave, nih! SUJUUUUU! *peluk majalah History of Super Junior* Jiah, OOT =w=
Balesan review~
Matsu makasih atas review-nya yang manis ya ^^ heee, yamappi itu ommu? TITIP SALAM! XDDD
NatsumiIzu Makasiiihhh XD Iya ya, pendek~ Chapter ini agak dipanjangin deh, hehehe :D makasih udah review yaaaa
nupY's miE schiffer d'caSsie makasih review-nya yaaa :D
shiro he? Iya ya, nama anjingnya Shinchan XD *digampol* ehh, emangnya ini siapa ya? #plak Iya sih, kependekan. Rencana apdet cepet malah molor lamaaaaa DX *curcol* maaf ya~! Makasih review-nya :D
vaneela haha, ga ada kata terlambat buat baca fic saya :D ini dia update-nya! Maaf lama~! Makasih review-nya :D
el Cierto not log in okeh, ini dia XD makasih udah review XD
Suki 'Suu' Foxie makasih udah suka diksi saya XD haha, iya nih, pendek bangeeettt~ lagi berusaha dipanjangin kok~ chaos-nya kerasa? Syukurlaaaahh XD cobain nonton deh! Yamappi-nya cakep banget! *ditendang Siwon* *tendang balik* *tunangan durhaka* makasih ya udah review XD
Yosh, yosh. Liburan udah di depan mata XD ngga ding, saya belom liburan sepenuhnya, paling ga sampe tanggal 2 Juni XP haha, makanya mungkin (sekali lagi) update-an bakal terbengkalai~ Saya kan ada jadwal ikutan turnya Suju XP *ngarep*
Betewe, kan bulan depan saya ultah *siapa yang nanya?* saya mau dong kalo ada yang berbaik hati bikinin birthday fic buat saya XP *siapa yang mau?* Nanti saya fave story deh~ *siapa yang butuh fave lo?*
Udah ah, saya emang ga bakat bikin ABA, malah nge-rambling ga jelas =w=
Sekian! Ada yang mau memberikan feedback? :D
Me ke aloha,
mysticahime™
Bandung, 24 Mei 2011, 11.09 p.m
