UCHIHA UZUMAKI NARUTO : UCHIHA MADARA NO MAGO
Desclaimer : Naruto bukan punya saya tapi milik Masashi Kishimoto
Genre : Adventure
Rating : T
Pairing : Naruto x Ino
Warning : Typo, Gaje, OOC, Live!MinaKushi, Strong!naru, dll.
Summary :
Bagaimana jadinya Uzumaki Naruto seorang anak jenius yang hanya memiliki sedikit cakra mengetahui jika dirinya adalah cucu dari sang hantu Uchiha yaitu Uchiha Madara dan ia dilatih olehnya
Selamat membaca
'
'
'
'
Semilir angin dingin marasuk kedalam pori-pori kulit membuat langit bertabur bintang nan indah dengan sebuah bulan yang kini telah menggantikan posisi matahari membuat suasana terasa sangat dingin. Di sebuah tebing dengan beberapa patung wajah manusia yang berjejer dipinggirnya terlihatlah seorang anak berambut hitam acak-acakan dengan mata biru seindah laut samudra yang menenangkan.
Konohagakure atau desa daun tersembunyi, sebuah desa besar yang disebut sebagai desa paling ramah daripada desa besar lainnya. Namun itu hanyalah anggapan orang luar saja, mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya ada didalam desa ini, bagi orang asing mereka menganggap desa ini sangatlah ramah bagaikan malaikat asalkan mereka tidak membuat masalah dan juga mengikuti peraturan yang ada.
Namun berbeda dengan orang yang mengetahui seperti apa sifat asli dari para penduduk desa ini, salah satunya adalah anak ini, mata biru sapphire bagaikan laut samudranya dengan tajam memandang kearah indahnya suasana malam dari desa yang berada dibawahnya.
IBLIS
Itulah yang ia lihat, baik warga biasa maupun shinobi mereka sama saja, memiliki sifat bagai malaikat untuk para pendatang sementara sifat iblis yang ditujukan kepadanya selaku bagian dari desa ini sendiri. Meskipun dia tidak pernah membuat masalah dan selalu mematuhi peraturan yang ada.
"Aku ucapkan terima kasih karena kau mau datang kesini Naruto-kun" sebuah suara yang terdengar dibelakang membuatnya menoleh kearah sumber suara itu yang ternyata seorang pria paruh baya berambut hitam dengan iris mata hitam bagai sebuah kegelapan tanpa batas memandang dengan lembut kearahnya bersama dengan seongok makhluk menyerupai tumbuhan dengan tubuh yang memiliki dua warna sekaligus, hitam dan putih.
Teringat kejadian seminggu lalu tepatnya saat ia sedang berlatih di salah satu training ground di desa ini.
Flashback on
Disebuah tempat yang bernama training ground tempat biasanya para ninja mengasah kemampuannya. tempat itu kini sangatlah sepi hanya menyisakan seorang anak yang sedang berlatih disana. Anak itu memiliki cirri-ciri berambut hitam, ia adalah Uzumaki Naruto.
Namun latihannya terhenti kala sebuah suara mengejutkannya.
"Sepertinya anda berlatih sangat keras ya, Naruto-sama" ucap sebuah makhluk dengan tubuh yang berbeda warna, sebelah hitam dan sebelahnya lagi berwarna putih yang tiba-tiba muncul di belakang anak itu. sehingga dengan reflex ia langsung membalikan badannya.
"Yo selamat malam Naruto-sama"
Shuut
Bukan sapaan balik yang diterima makhluk itu melainkan lemparan senjata tajamlah yang diterimanya, meski makhluk itu dapat dengan mudah menghindarinya.
"Siapa kau? Dan darimana kau mengetahui namaku?" anak itu langsung bersiaga tatkala ia tidak melihat hitai ate yang menjadi cirri khas dari seorang shinobi dari desa ini. Ia meyakini jika makhluk didepannya bukanlah makhluk sembarangan terbukti dengan datangnya yang tiba-tiba dan juga tidak menimbulkan suara membuat ia sangat waspada karenanya.
"Wah tadi itu sangat berbahaya loh Naruto-sama" namun perkataannya tidak ditanggapi oleh anak itu. merasa suasana akan menjadi sunyi jika ia tidak menjawab pertanyaan anak didepannya, makhluk itupun berkata.
"Kau tenang saja Naruto-sama aku tidak akan menyakitimu seperti kebanyakan orang, perkenalkan namaku Zetsu" makhluk tersebut memperkenalkan diri sebagai Zetsu dan juga menjawab pertanyaan Naruto yang secara tidak langsung ia mengetahuinya dari orang-orang.
"Zetsu?" Naruto terlihat bingung karena ia baru mendengar nama itu, dengan kata lain tebakannya memang benar, mahluk itu bukanlah bagian dari desa Konoha sehingga membuatnya meningkatkan kewaspadaannya meski seluruh tubuhnya kini mulai terlihat bergetar.
"Untuk apa kau menemuiku?" ucapnya karena makhluk itu terlihat sengaja menemuinya jadi Naruto sangat yakin jika makhluk bernama Zetsu itu pasti memiliki keperluan dengannya.
"Langsung ke intinya ya?. Baiklah aku kesini hanya untuk membertahumu sesuatu" ucap Zetsu
"Apa itu?"
"Apa kau mengetahui Uchiha Madara?"Tanya makhluk yang bernama Zetsu
"Tentu saja aku tahu, siapa yang tidak mengetahui salah satu orang yang mendapat gelar dewa Shinobi itu. Memangnya kenapa kau menanyakannya?" Naruto bingung kenapa makhluk itu menanyakan sesuatu yang ia yakin semua orang mengetahuinya terkecuali bayi tentunya.
"Lalu apa kau percaya jika Madara adalah keluargamu?"
"Hahaha ... Oh ayolah tentu saja aku tidak percaya. Sudahlah jangan berbelit-belit jadi apa tujuanmu datang menemuiku" ucap Naruto yang terlihat kesal dengan perkataan yang tekesan bertele-tele dari makhluk didepannya.
"Begitu ya. Hmm… baiklah aku akan langsung ke intinya 'kau adalah cucu dari Uchiha Madara'" ucap Zetsu dengan sedikit menekankan kata 'kau adalah cucu dari Uchiha Madara' membuat dengan cepat anak itu membalas pernyataannya.
"Pernyataan macam apa itu? tentu saja aku tidak akan percaya padamu, kau pikir aku adalah anak yang polos yang dapat kau bohongi dengan mudah, tentu saja tidak. Jika kau ingin menipu seseorang carilah yang lain" ucap Naruto yang mulai melangkahkan kakinya untuk menjauh dari tempat itu, karena hari yang sudah semakin larut ditambah kehadiran makhluk aneh bernama Zetsu itu membuat ia jadi malas melanjutkan latihannya.
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu percaya?" Tanyanya kepada Naruto yang kini sudah mulai menjauh dengannya.
"Mungkin dengan mendatangkan Uchiha Madara ke hadapanku" ucap Naruto asal tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Em … Baiklah aku akan mengatakan hal itu padanya."ucap Zetsu. Perkataan Zetsu membuat Naruto langsung menghentikan langkah dan membalikan tubuhnya untuk menatap makhluk hitam putih itu.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal ini padanya? Apa kau tidak tahu jika Uchiha Madara sudah lama meninggal saat pertarungannya dilembah kematian dengan Hashirama Senju" Naruto terkejut bagaimana bisa makhluk ini berkata dengan mudahnya jika dia akan menyampaikan perkataan ngasal yang ia katakan kepada orang yang telah mati sekitar puluhan tahun lalu.
"Naruto-sama kau jangan selalu percaya dengan apa yang belum pernah dilihat oleh matamu sendiri" ucap Zetsu
"Apa maksudmu?" Naruto bingung dengan perkataannya.
"Madara-sama sudah menduga jika kau akan mengatakan hal ini, jadi ia menyuruhku untuk memberimu pilihan, apa kau akan ikut dengannya untuk menjadi seorang yang sangat hebat atau kau akan tetap disini dan menjadi orang yang menyedihkan. Madara-sama akan datang tujuh hari dari sekarang di patung para hokage pada malam hari …"
"Kau belum menjawab pertanyaanku!"protes Naruto karena perkataan makhluk itu tidak menjawap pertanyaannya.
"Datanglah kesana pada hari itu. Pikirkanlah baik-baik Naruto-sama. Oh ya kuharap kau tidak memberi tahu siapapun tentang hal ini terutama monyet tua itu. Jaa nee" ujar Zetsu
"Tunggu!" namun perkataan Naruto dihiraukan oleh makhluk itu yang kini telah menghilang ditelan bumi.
Flashback Off
"Yo Naruto-sama kita bertemu lagi"ucap makhluk yang berada di samping pria paruh baya itu yang Naruto ketahui bernama Zetsu.
"Apa… kau Uchiha Madara?" makhluk itu tidak berbohong, ia menepati perkataannya dengan mempertemukan Naruto dengan Uchiha Madara dan jika dilihat, orang di samping makhluk itu sangatlah mirip dengan Uchiha Madara yang Naruto lihat dari foto yang berada di rumah Sandaime Hokage saat ia berkunjung kerumahnya, hanya saja yang membedakannya hanyalah wajah orang didepannya ini terlihat sedikit lebih tua membuatnya sedikit tidak mempercayainya, bagaimanapun jika Madara masihlah hidup seharusnya ia sudah sangat tua lebih tua dari apa yang ia lihat sekarang, sehingga membuatnya ingin memastikan dengan bertanya kearahnya..
"Hn … seperti yang kau katakan, namaku Uchiha Madara dan aku adalah kakekmu. Jika kau heran dengan bentuk fisikku maka aku memiliki cara sendiri untuk mengatasinya"ucap kakek tua itu.
Takut …
Tentu saja Naruto sangat takut, bagaimana tidak jika seorang Shinobi missing-nin yang paling ditakuti dan bahkan sudah dianggap meninggal oleh semua orang kini berdiri di hadapannya, ditambah aura menyeramkan yang kini Naruto rasakan darinya meski seharusnya ia tidak dapat merasakannya. Tapi saat ini Naruto harus membuang rasa takutnya karena ia tahu jika Madara tidak akan membahayakan nyawanya.
"Lihatkan Naruto-sama seperti kataku Madara-sama kakekmu masih hidup"
Sungguh ini seperti mimpi ia pikir makhluk itu hanya mengatakan omong kosong, ternyata ia mengatakan yang sebenarnya, jika Uchiha Madara masih hidup. Sekarang Naruto bingung apa yang akan ia lakukan, ia ingin menyangkal jika dirinya adalah cucu dari kakek tua itu, namun ia sedikit percaya dengan adanya Madara dihadapannya.
Naruto yakin dengan fisik yang hampir menyamai Uchiha Madara yang pernah ia lihat, pasti sangatlah sulit baginya untuk datang menemui Naruto yang notabenenya ada di desa Konoha, dan Naruto yakin jika tempat bersembunyi Madara pasti memiliki jarak yang lumayan atau bahkan sangat jauh dari sini. karena jika ia bersembunyi didaerah konoha ia pasti telah diketahui dari dulu oleh sensor klan Hyuuga ataupun klan lainnya.
Lagipula jikapun Madara berbohong dengan mengaku-ngaku sebagai kakeknya, apa yang akan ia dapatkan? Tentu saja tidak ada. Meskipun menyebalkan tapi Naruto akui jika dirinya tidak akan berguna bagi siapapun. Kenapa? Tentu saja saja apa yang bisa didapatkan orang hebat sekelas Madara darinya.
kekuatan?
Naruto tidak memilikinya cakra maupun kekuatan fisik yang ia miliki sangatlah lemah, atau mungkin sebagai sandera? untuk membalas perbuatan desa konoha terhadapnya dimasa lalu sehingga ia menjadikan Naruto sebagai sandra karena saat ini yang menjabat sebagai hokage adalah kedua orang tuanya.
Tentu saja Madara tidak akan melakukannya, Naruto yakin jika Madara sudah mengetahui jika kedua orang tuanya tidak akan memperdulikan dirinya meskipun ia dibunuh saat ini juga. Jadi apa yang bisa mrmbuat Naruto tidak percaya pada Madara.
"bagaimana nak, apakah kau sudah menentukan pilihanmu? Atau kau masih tidak percaya jika aku adalah kakekmu"ucap Madara
"Aku percaya" perkataanya membuat sebuah senyum terlukis di wajah pria paruh baya itu.
"Lalu apa keputusanmu? Kau tenang saja meskipun kau menolaknya aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu ataupun orang terdekatmu. Aku datang kesini hanya ingin membuatmu percaya jika aku adalah kakekmu dan aku masih hidup. Tapi jika kau menolaknya aku hanya mempunyai satu permintaan. 'jangan katakan pada siapapun jika aku masih hidup'. jika kau ikut denganku, aku berjanji jika aku akan menjadikanmu seorang Shinobi yang sangat hebat" ujarnya dengan suara yang terdengar datar.
"Jadi apa yang akan kau pilih tetap disini dan menjadi orang lemah atau ikut denganku dan menjadi orang yang sangat kuat" lanjutnya memberikan sebuah pilihan untuk Naruto.
"Aku yakin kau pasti mengetahui jika aku tidak memiliki aliran chakra ditambah kondisi fisikku yang sangat lemah, bagaimana kau dapat membuatku menjadi seorang ninja yang sangat hebat?" ucap Naruto meragukan perkataan dari orang di hadapannya.
"Hahaha … kau terlalu meremehkanku nak aku memilki banyak cara untuk mengatasi hal itu. aku akan mempertaruhkan gelarku sebagai Dewa Shinobi jika kau tidak menjadi seseorang yang ditakuti oleh semua orang. Jadi bagaimana?"
Sungguh Naruto ingin tahu sebenarnya apa saja yang bisa dilakukan oleh orang dihadapnnya ini sehingga ia bisa mengatakan hal itu. Naruto berpikir tentang langkah yang akan ia ambil selanjutnya, teringat dengan percakapannya dengan Sandaime Hokage lima hari lalu.
Flashback ON
Di sebuah ruangan yang cukup luas dengan interior serba putih, terlihatlah seorang kakek tua yang memakai jubah berwarna putih dan topi dengan tulisan 'HI' diatasnya sedang duduk di sebelah tempat tidur dengan seorang anak berambut hitam acak-acakan yang sedang berbaring diatasnya mereka adalah Sandaime Hokage dan Uzumaki Naruto.
"Jiji!" panggil anak itu kepada kakek tua yang berada dihadapnya.
"Ya?"
"Terkadang aku sedkit menyesal telah memilih pilihan ini, di usir dari keluarga hanya untuk meraih cita-cita namun aku tidak bisa meraihnya." Ujar anak itu dengan pandangan mata menerang kearah atap ruangan itu. Sementara kakek tua itu hanya diam karena ia yakin jika anak itu belum menyelesaikan perkataannya.
"Apa aku memang tidak pantas mengalami kebahagiaan, jiji?" lanjutnya dan bertanya kepada kakek tua di sampingnya.
"Tentu saja tidak, semua orang berhak mengalami kebahagian termasuk dirimu. Maaf Naruto-kun, seharusnya aku tidak pantas mengatakannya karena bagaimanapun akulah yang telah menyebabkanmu mengalami hal seperti ini." ucap kakek tua itu, ia merasa bersalah dengan keadaan yang menimpa anak itu sehingga membuatnya mengalami kesedihan. Naruto tahu jika orang disampingnya ini selalu menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi padanya selama ini, dan saat ini ia berniat membuat orang yang telah ia anggap kakek itu tidak merasakannya lagi.
"Tidak apa, aku juga sedikit senang, karenanya aku tidak perlu lagi melihat kedua orang tuaku yang selalu mengabaikanku" ucap Naruto ia melirik kearah Sandaime selama beberapa saat, kemudian ia melanjutkan kembali perkataannya.
"Jiji apakah kau akan marah jika suatu saat aku akan pergi ke arah jalur hitam?"
"Tentu saja aku akan marah, tapi jika memang itu adalah jalan terbaik bagimu aku akan tetap mendukungmu namun jika kau sudah melampaui batas aku berjanji akulah yang akan menghentikanmu saat itu" ucap Sandaime tidak pernah terlintas dalam pikirannya jika ia akan mengatakan hal itu pada anak yang telah ia anggap sebagai cucunya sendiri, tapi ia tidak bisa menyangkal jika memang suatu saat anak ini akan memilih jalur hitam karena penderitaan yang anak itu rasakan selama ini.
Sandaime bisa sedikit memakluminya karena anak ini begitu polos meski ia sangat jenius sehingga membuatnya seperti orang dewasa, tapi tetap saja ia adalah anak kecil bagaikan kertas polos yang bisa di beri tinta hitam kapan saja yang dapat mengubahnya. Sandaime berharap jika itu memang terjadi ia tidak akan pernah bertemu dengannya karena dirinya akan merasa sangat bersalah terhadap anak ini.
Sandaime bukanlah orang bodoh ia jenius sangat jenius malah saking jeniusnya bahkan ia dijuluki sang professor di desanya. Sandaime tahu jika Naruto yang tiba-tiba mengatakan hal ini pasti sudah memilih apa yang akan ia lakukan, namun ia sangat senang saat Naruto masih meminta persetujuannya meski dia tahu jika dirinya akan menolaknya, sehingga Sandaime akan mendukung apa yang akan dipilih oleh anak itu meski itu mengarah kearah yang tidak baik sekalipun, karena ia yakin jika anak jenius seperti naruto pasti sudah mengetahui konsekuensi dari pilihannya.
"Terima kasih jiji" ucap anak itu
Flashback OFF
Jujur saja meski Naruto sudah memutuskan pilihannya tetap saja ia merasa sangat sulit untuk meninggalkan teman dan juga orang yang telah menganggap dirinya seperti Sandaime, Shikamaru, Couji, Ayame … Naruko dan ino. Sungguh, sangat berat jika ia harus meninggalkan mereka semua apalagi Sandaime dan Ino yang telah bersamanya sejak kecil, mengingat mereka membuatnya sedikit ragu dengan pilihannya sendiri, tapi ia sudah menetapkannya.
Sementara pria paruh baya bernama Madara itu hanya menunggu, menunggu dalam diam. Tujuannya datang kesini untuk menepati janjinya dan memberitahu anak ini jika dirinya adalah kakeknya, bukan hanya itu ia juga berniat membawanya ketempat selama ini ia tinggal, tapi ia tidak ingin memaksa anak ini untuk ikut dengannya.
Jika Naruto tidak ikut dengannya Madara tidak masalah meski itu sama saja membuat usahanya selama ini menjadi percuma tapi asalkan cucunya ini bahagia ia tidak mempermasalahkannya. Terdengar spele memang namun baginya ini sangatlah penting, ia tidak mau melihat cucunya merasakan penderitaan seperti itu setiap hari sehingga ia melakukan semua ini.
"Aku… akan ikut denganmu" perkataan anak bernama Naruto itu membuat senyum kembali mengembang di wajah datarnya.
'
'
'
Di sebuah tempat dengan banyaknya anak-anak yang tengah duduk dengan tertib di bangkunya masing-masing dan juga seorang pria dewasa dengan bekas luka horizontal melintang di wajahnya berdiri didepan mereka semua, dengan sebuah kertas di tangannya pria itu menyebutkan nama satu persatu anak yang tertulis didalamnya.
Di bangku barisan ke dua terlihatlah seorang perempuan bersurai pirang pucat dengan iris biru seindah langit yang sangat indah, ia adalah Yamanaka Ino.
"Namikaze Menma"
"Ha'i"
"Namikaze Naruko"
"ha'i"
"Nara shikamaru"
"ha'i"
"Uzumaki Naruto"
"…"
mata biru langit itu memandang kearah satu-satunya kursi kosong yang ada di ruangan itu dalam diam.
"tidak ada sensei" ucapan dari anak yang berada di sebelah bangku itu menyadarkannya jika sang pemiliki kursi tidak hadir pada hari ini. Ini sudah yang kesekian kalinya penghuni kursi itu tidak hadir di kelas. ia tahu jika anak yang menjadi pemilik kursi itu tidak akan berani membolos meski dia sedang sakit sekalipun anak itu pasti akan hadir, kecuali jika terjadi sesuatu yang membuat si penghuni kursi tidak bisa bangkit dari tidurnya.
"Yamanaka Ino!" sebuah suara mengagetkannya sehingga dengan reflex ia langsung mengangkat tangannya dan merespon panggilan itu.
"ha-ha'i"
'
'
Sepulang dari akademi dia, Yamanaka Ino langsung bergegas menuju sebuah apartment yang berada dekat dengan rumah pemimpin ketiga desa ini. Setelah sampai disana ia melihat seorang perempuan berpostur pendek dengan surai pirang yang hampir sama dengan miliknya, hanya saja surai perempuan itu lebih terang beriris biru dan tak lupa dengan tiga pasang kumis kucing yang menghiasi pipinya sehingga membuatnya terlihat sangat imut, sedang berdiri di depan pintu sebuah apartemen tempat tujuannya saat ini, dia adalah Namikaze Naruko.
"Naruko?!" ucapnya kala ia telah berada cukup dekat dengan perempuan itu.
"Eh… Ino?!" ucap Naruko sedikit terkejut dengan panggilan Ino yang tiba-tiba.
"Sepertinya tujuan kita sama?" kata Ino dan di balas anggukan oleh perempuan dihadapannya. Naruto adalah anak yang dibenci oleh keluarganya sendiri bahkan ia sampai diusir akibat berusaha mencapai keinginannya, dan Naruko atau nama lengkanya Namikaze Naruko adalah salah satu keluarganya, ia adalah kakak perempuan dari Uzumaki Naruto, dan karena sebuah alasan mereka memiliki marga yang berbeda.
Ino sudah mengetahui jika dalam setahun ini Naruko memang sangat dekat dengan adiknya sama seperti dirinya perbedaannya hanya waktu, meski Naruko tidak menunjukannya secara terang-terangan di depan umum tapi ia sudah mengetahuinya karena Ino hampir selalu bersama dengan Naruto, sehingga ia tidak heran dengan keberadaan Naruko yang berada di depan apartemen Naruto saat ini.
Tok Tok Tok
Bunyi ketukan pintu yang dilakukan oleh Ino namun tidak ada respon dari dalam membuatnya melirik kearah perempuan yang berada disampingnya berharap Naruko mengetahui sesuatu karena sudah sampai sejak tadi.
"Pintu ini sudah ku ketuk beberapa kali namun tidak ada respon, pintunya juga tidak terkunci aku juga sudah masuk kedalam namun ia tidak ada, mungkin Naruto-kun sedang pergi keluar atau mungkin ada di rumah sakit seperti bisanya" kata Naruko kepada Ino. Naruko mengetakannya bukan tanpa alasan ia belakangan ini memang sering menjenguk adiknya Naruto bersama dengan Ino jika anak itu sedang berada di rumah sakit.
"Hm… Mungkin… Sebelum itu bagaimana kalau kita bertanya pada Sandaime Hokage, pasti ia mengetahui sesuatu?" kata Ino kepada Naruko yang kini tengah menatap kearah pintu apartemen dihadapannya. bukan tanpa alasan Ino mengatakan itu, Sandaime Hokage selalu mengetahui keberadaan Naruto dimanapun anak itu berada sehingga Sandaime adalah orang yang tepat untuk mengetahui tentang Naruto.
'
'
Sebuah ruangan dengan tumpukan kertas yang menggunung di dalamnya, terlihat dari balik tumpukan kertas itu seorang pria berambut kuning cerah dengan mata biru yang terlihat agak kusam tak lupa dengan garis berwana hitam yang menghiasi kantung matanya membuat semua orang yang melihat tahu jika ia telah terjaga semalaman, ia adalah Namikaza Minato yang sekarang menjabat sebagai Yondaime Hokage. Sementara tak jauh dari tempatnya berada terlihat seorang kakek tua yang memakai jubah putih tengah membaca sebuah buku yang berada digenggamannya dengan ekspresi aneh terpampang jelas di wajah rentanya.
Tok tok tok
Bunyi ketukan pintu menginterupsi keduanya, tidak mau membuat orang yang berada di balik pintu menunggu, salah satu dari mereka mempersilahkan masuk
"Masuk!"
cklek
"Permisi Yondaime-sama, Sandaime-sama" setelah pintu terbuka terlihatlah seorang anak kecil berambut pirang pucat dengan mata yang menyerupai warna langit masuk kedalam ruangan tak lupa mengucapkan permisi dan juga sedikit membungkukan badannya kepada dua orang terhormat di desa ini.
"Oh Ino-chan kah?. Kemarilah!" kata Sandaime menyuruh anak bernama Ino itu untuk menghampirinya karena ia tidak mau Minato sedikit terganggu dengan kehadiran anak itu, setelah itu ia menyuruh Ino untuk duduk di kursi yang berada disebelahnya.
"Ada apa Ino-chan?"
"Apa kau tau dimana Naruto-kun berada ji-san?" perkataan anak itu membuat orang yang kini sedang berada di balik kertas melirik kearah mereka berdua.
"Hm entahlah aku belum bertemu dengannya seharian ini, kupikir ia ke akademi tadi" ucap Sandaime dengan tangan yang berada di dagunya tanda ia sedang berpikir. Ia sudah terbiasa jika Ino datang menemuinya hanya untuk mengetahui keberadaan Naruto, dan saat ini ia sudah menebak jika Naruto tidak hadir di akademi sehingga membuatnya sedikit berpikir.
"Hari ini ia tidak masuk, makanya aku datang kesini" perkataan Ino memang terlihat agak kurang sopan untuk berbicara dengan orang terhormat seperti Sandaime, tapi mengingat ia begitu akrab dengan Naruto sehingga secara tidak langsung ia juga sangat akrab dengan Sandaime Hokage ditambah Sandaime yang juga menyuruhnya untuk tidak terlalu formal ketika berbicara dengannya, membuat Ino sudah terbiasa berbicara seperti ini kepada mantan pemimpin desa itu.
"Apa kau sudah pergi ke apartemennya?" Tanya Sandaime kepada Ino yang kini langsung menganggukan kepalanya, lalu anak itu berkata.
"Sudah dan aku juga sudah masuk kedalamnya karena tidak dikunci tapi ia tidak ada. Kupikir ia berada di rumah sakit lagi"
"Tidak, ia tidak berada dirumah sakit. Hah… mungkin lebih tepatnya belum"Sandaime menghela nafas karena jika memang Naruto tidak masuk akademi dan juga ia tidak berada di apartemennya, Sandaime yakin jika anak itu kini pasti sedang berlatih. Sandaime tidak menyangka jika tekad yang dimiliki anak itu sebesar ini sehingga masih mau berlatih meski dia sering sekali masuk rumah sakit karena latihannya. Sandaime memang melarangnya tapi jika Naruto yang masih memiliki pendirian yang kuat untuk menjadi seorang ninja yang hebat ia tidak bisa menghentikannya.
Sementara anak disampingnya bingung dengan perkataannya.
"Hahaha mungkin saat ini anak itu sedang berlatih di hutan. Lebih baik biarkan saja dia sekarang, aku akan menjemputnya nanti"
Mengerti dengan perkataan Sandaime iapun mulai pamit kepada dua orang kage itu lalu keluar dari sana. Setelah kepergian anak itu Sandaime melirik kearah Minato yang kini mulai mengerjakan tugasnya kembali.
'
'
Setelah keluar dari kantor hokage Ino menghampiri seorang anak perempuan yang memiliki cirri-ciri hampir sama dengannya, yaitu Naruko yang kini sedang berdiri di depan pintu masuk kantor hokage. Naruko tidak mau orang tuannya mengetahui jika dia sangatlah dekat dengan adiknya sehingga ia menunggu dan membiarkan Ino sendirian yang menemui Sandaime Hokage.
"Bagaimana Ino?" tanyanya kepada Ino yang kini sudah berada di hadapannya.
"Hah… Sayang sekali kata Sandaime, Naruto-kun mungkin sedang berlatih dan dia menyuruh kita untuk membiarkannya" ucap Ino memberitahukan kepada naruko apa yang tadi di ucapkan oleh Sandaime.
"Hm… Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Naruko
"Hehe bagaimana kalau kerumahku?" ajak Ino dan disetujui oleh Naruko karena ia memang sangat bosan berada dirumah sehingga ia menyetujui ajakan Ino.
'
'
'
Lima hari kemudian
Hari yang cerah dengan mentari yang kini sedang berada pada puncak kekuatan penuhnya menjadikan suasana panas membakar kulit pada siang hari ini, sehingga orang-orang lebih memilih bersantai dan berdiam diri dirumah mereka masing-masing untuk menghindari panasnya sinar mentari ini.
Namun di sebuah ruangan yang menjadi tempat bekerja orang paling dihormati di desa ini kini di isi oleh banyaknya lembaran kertas yang hampir memenuhi seluruh ruangan, disana juga terlihat seorang lelaki berambut kuning memakai jubah berwarna putih dengan tulisan 'YONDAIME' dibelakang jubah tersebut sedang membaca salah satu kertas yang ada di ruangan itu, dan seorang kakek tua berambut hitam memakai baju yang hampir sama dengan lelaki itu, yang membedakannya hanyalah sebuah tulisan yang berada di belakang jubah kakek tua itu bertuliskan 'SANDAIME', terlihat sedang melakukan hal yang sama dengan pria yang memakai jubah bertuliskan Yondaime, mereka adalah Yondaime Hokage atau Namikaze Minato dan Sandaime Hokage atau Hiruzen Sarutobi.
Mereka berdua terlihat sangat serius sekali dalam membaca semua kertas yang ada dihadapnnya, kertas itu berisi laporan setiap menit dari ninja yang telah mereka tugaskan untuk berjaga dan juga mencari seseorang. Mereka tidaklah membuang waktu dan juga bersantai sehingga kertas di ruangan itu sangatlah banyak, garis hitam lumayan tebal yang berada di bawah kelopak mata mereka membuktikan jika mereka terjaga selama lebih dari satu hari.
Ini semua berawal dari lima hari yang lalu saat salah satu dari mereka yaitu Sandaime atau Hiruzen mencari seseorang dan tidak dapat menemukannya, setelah dua hari pencariannyapun ia masih tidak bisa menemukannya sehingga membuatnya cemas, orang yang dicari adalah seorang anak yang bernama lengkap Uzumaki Naruto.
Anak itu telah menghilang tanpa jejak selama lima hari ini, ia telah menugaskan beberapa ninja berkelas anbu untuk mencarinya namun sampai saat ini belum membuahkan hasil, bukannya keberadaan anak itu yang ditemukan oleh para ninja suruhannya tapi sebuah bukti adanya penyusuplah yang di temukan oleh mereka, sehingga membuat pertahanan desa ini tambah diperketat dari sebelumnya dan hasilnya adalah dua orang inilah yang harus memeriksa laporan yang sangat banyak itu dengan teliti.
Cklek
Bunyi pintu yang terbuka menampakan seorang laki-laki dengan tumpukan kertas yang berada ditangannya, membuat dua orang yang berada diruangan itu menghela nafas lelah. Pria itu memiliki rambut hitam yang menyerupai buah nanas, ia adalah Nara Shikaku yang kini menjabat sebagai penasihat Hokage Keempat.
"Hah… Shikaku bisa bantu kami berdua memeriksa laporan ini?" ucap pria bersurai kuning kini menghela nafas dengan prustasi kepada orang yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Merepotkan bukankah seharusnya itu adalah pekerjaanmu, kau masih beruntung Sandaime hokage mau membantu"
"Tetap saja kami sangat kewalahan. Aku tidak menyangka dengan menyuruh mereka semua memberikan laporan setiap satu menit sekali dapat membuat kertas sebanyak ini" rengeknya kepada pria berambut model nanas itu.
Melihat keadaan kedua orang yang berada di ruangan itu terlihat sangat kelelahan ditambah dengan kelopak mata yang kini sangat hitam membuatnya merasa iba sehingga ia memutuskan untuk membantu mereka.
"Baiklah aku akan membantu, meski ini sangat merepotkan" perkataannya membuat ekspresi pria bersurai kuning itu langsung menjadi cerah.
"Arigato Shikaku kau memang yang terbaik" ucapnya sambil memberikan jempol kearah Shikaku.
'
'
'
Sementara ditempat yang sangat gelap dengan tanpa penerangan sedikitpun terdengar bunyi tiga langkah kaki yang menggema di seluruh tempat itu.
Tap Tap Tap
Ctik
Tak lama kemudian entah kenapa ruangan itu menjadi terang dengan banyaknya obor yang menyala dipinggir-pinggir tempat itu saat salah satu dari mereka bertiga ada yang menjentikan tangannya.
Membuat wujud ketiga sosok tersebut terlihat dengan jelas, yang pertama adalah seorang pria paruh baya bersurai hitam dengan iris yang sama dengan surai yang ia miliki yaitu hitam, di sebelah kirinya terdapat seorang atau seekor makhluk yang sangat aneh dengan tubuh yang berwarna hitam dan juga putih, kemudian di sebelah kanannya terdapat seorang anak kecil bersurai hitam dengan iris biru sapphire yang menyamai lautan. Mereka adalah Uchiha Madara, Zetsu dan Uzumaki Naruto yang kini telah sampai di tempat Madara selama ini bersembunyi.
Tak lama kemudian salah satu dari mereka yaitu pria paruh baya yang kita ketahui bernama Uchiha Madara berjalan menuju sebuah kursi yang terdapat sebuah patung yang sangat besar dibelakangnya.
"Selamat datang di tempatku cucuku" ucap Madara setelah ia duduk di kursi itu seakan kursi itu adalah sebuah singgasana untuk seorang raja. Sementara orang yang dipanggil cucuku oleh pria itu hanya diam dan menjawab.
"Terima kasih kakek"
'
'
'
TBC
'
'
'
Yo ketemu lagi dengan saya author bodoh dengan fict anehnya [yang menyedihkannya sampe di sebut diary huhuhu :'( ]. hehe tenang aja saya tidak masalah jika ada yang menganggapnya begitu.
Saya minta maaf yang sebesar-besarnya tentang chapter kemarin, saya baru nyadar klo chapter kemarin emang agak mirip ma chapter 2, itu semua karena kesalahan saya yang tidak membaca kembali chapter sebelumnya, jadi semoga para pembaca sekalian mau memaafkan kesalahan saya.
Terus ada banyak yang mengatakan pernah mambaca fict yang seperti ini, oke akan saya beritahu. Ini adalah fict dulu yang ane buat namun karena ane lupa semua alur ceritanya ane ubah lagi dan chapter 3 memang sama dengan yang dulu hanya diubah sedikit. Atau kalo memang ada di fict lain saya tidak tahu soalnya fict ini murni pemikiran saya meski ide ceritanya sangat mainstream.
-_- Hm… ane bingung mau mengatakan apalagi. baiklah langsung saja
Balasan Review
Xxx : hehe gomen ane lupa baca lagi chap sebelumnya. Tenang aja ane akan usahain kesalahan ini ngg bakal terjadi lagi
Dheafa10 : Makasih, ini udah up
Gabriel chan : pada chap ini sudah terjawab
Dark roselvet : ini dah next
Uzumaki sena : di chap ini sudah terjawab, haha tenang aja cap ini adalah akhir penderitaan Naruto di konoha
Zero0magic : maksih.
King : ini dah up
Teliti : hehe saya baru tahu setelah saya baca, ternyata emng agak mirip tapi fict ini adalah murni hasil pemiiran saya meski ide ceritanya udah mainstream jadi akan berbeda jauh dengan fict New Story of Naruto. Terima kasih sudah member tahu.
The dark king rises : akan saya usahakan
Troublesome Guy : naruto gray atau tidak hehe ikuti aja jalan ceritanya dan makasih buat sarannya.
Al : entahlah saya juga tidak tahu
Azs : ini dah lanjut
NamikazeMJ : di chap ini sudah terjawab, yap tentu saja naruto akan memilikinya. Akan saya usahakan fict ini tidak hiatus. Sama-sama
Mei lin : ini dah lanjut
'
'
Sebagian review sudah saya balas lewat PM. Oh ya satu lagi kemungkinan update chapter selanjutnya akan sedikit agak lama soalnya saya banyak urusan di dunia nyata. Hanya itu saja yang saya sampaikan.
Ditunggu reviewnya lagi minna-san
Saputra draneel out
