SOPHIS GALLERY

Pada Jum'at galeri seni yang terletak di distrik 218 Yeoksam-ro, Gangnam-gu, Seoul itu membuka sebuah pameran fotography yang cukup besar. Sebuah pameran yang menampilkan karya dari photographer terbaik di korea. Dari Lanscape yang membuat orang kagum, traditional food photograph yang paling banyak menarik perhatian, Siluet, sampai sebuah foto dengan objek manusia yang membuat penikmat seni sedikit berfikir. Di space kanan gedung itu adalah karya milik Ravi. Sebuah karya yang menampilkan puluhan flower boys yang sempurna.

Membuat audiens bisa melihat sudut pandangnya sebagai seorang gay adalah hal yang ingin ia tunjukan. Meski banyak dari pengunjung yang tak bisa mengerti dan mereka hanya bisa mengagumi keindahan seorang pria cantik saja. Ravi tak masalah, selama pengunjung masih bisa mengaguminya, karena memang begitulah perasaannya ketika melihat bottom di Cats Bar, Mengagumi mereka.

Ken tersenyum terkejut melihat banyaknya pengunjung pameran. Sebagai seorang pekerja prostitusi profesional ia tentu harus mengetahui beberapa tokoh-tokoh penting. Dari pemilik hotel terkenal, seorang manager dan entah kenapa ken juga melihat beberapa orang yang sering berkunjung ke Cats Bar.

'Dimana Ravi?'

Ken terus mencari, sampai di sisi kanan gedung beberapa orang menatap dan menunjuk Ken. Membuat pria manis itu mengerutkan kening karena takut ada yang salah dengan penampilannya. Ken mencoba untuk berjalan dengan percaya diri, Hingga ia melihat foto seseorang yang familiar.

'Bukankah itu Junior?,,, Dia kelihatan sangat Innocent.'

Ken tak bisa menyembunyuikan senyum dan rasa penasaran. Ia menatap papan keterangan dan alisnya naik. Itu karya Ravi. Sekilas suatu kata terngiang. Sebuah kata yang mengingatkannya akan keindahan sebuah subjek.

'Kau harus tau, Bahwa sebuah subjek bisa berubah menjadi objek yang indah.'

Ken kembali tersenyum, sedikit memperlihatkan giginya. Puas menatap foto Junior ia pindah pada hasil photography Ravi berikutnya. Kali ini adalah foto Jin yang sedang tersenyum seperti melihat seseorang dengan penuh cinta. Foto jin sangat mencerminkan pribadinya yang penuh kasih dan warna pink memang selalu pas dengan wajahnya yang cantik. Lalu sebelah foto Jin ada foto Yoongi yang sedang menatap sesuatu dengan pandangan gelap, ia tau persis ekspresi itu karena ia pernah mengalaminya. Tatapan kelam seorang Min Yoongi yang akan menghukum setiap kucing yang melakukan kesalahan. Foto Yoongi memang tak kalah bagus, tetapi bagi kucing b seperti dirinya, itu menjadi kesan yang menakutkan. Ken tak bisa lama-lama melihatnya dan ia yakin kucing di cats bar tak akan pernah bisa menatap Yoongi lama-lama, meskipun itu di dalam bentuk sebuah foto. Ken segera melangkah, melirik objek berikutnya, dan kali ini adalah objek yang sukses membuatnya tertawa kecil. Itu Kim Taehyung, Kucing trouble maker kelas gold yang terkenal jenaka itu. Sepertinya Ravi bukan hanaya memotret seseorang dengan indah tetapi setiap foto yang diambil Ravi juga mencerminkan pribadi orang tersebut, dan Ken bisa merasakannya langsung begitu melihat fotonya. Terlebih foto Kim Taehyung yang sedang tertawa memperlihatkan senyum perseginya, itu manis dan terlihat atractif. Entah bagaimana ia bisa menyimpulkan, tetapi sebuah devinisi muncul begitu saja ketika melihat hasil foto yang Ravi pamerkan.

"Ken!"

Panggil suara berat seseorang yang sangat Ken kenal. Ken tersenyum dan menoleh. "Ravi!"

Ken langsung memeluk sapa pria itu. "Ravi ini semua indah!,,, Kau benar! Suatu subjek bisa menjadi objek yang indah. Aku bisa melihatnya dari fotomu."

"Kau sudah melihat semuanya?"
"Belum! Aku baru sampai foto Kim Taehyung dan Barusan, Kau memamerkan foto Master Min. Apa itu mendapat persetujuan?"

"Aku mengundang orang-orang yang menjadi objek fotoku, tetapi mereka semua belum tau kalau aku memamerkan foto mereka."

"Jadi kau mengundang orang-orang cats bar? Pantas aku melihat beberapa pelanggan disana."

"Ya! Sebagian dari mereka aku juga yang mengundang."

Ken melangkah menuju foto berikutnya. Kali ini adah foto meja DJ dengan orang-orang menari di lantai dansa.

"Ini bukan foto satu orang tetapi, Tunggu!,,," Ken memperhatikannya seksama dan jelas sekali itu tangan DJ-Hope. ",,, Ini tangan DJ-Hope bukan?"

"Yup!"

Kerutan muncul di kening Ken, sebelumnya adalah foto-foto wajah dan ekspresi wajah seseorang yang di fokuskan tetapi kali ini, hanya tangan. Tak bisa menebak, ia kemudian bertanya. "Foto sebelumnya adalah foto wajah. Tapi kenapa DJ-Hope hanya tangannya saja? Aku tak mengerti maksudnya."

"Karyaku bukan untuk kau fikirkan tetapi dirasakan!. Coba kau perhatikan dan rasakan apa yang kau lihat dari foto ini."

Ken melihat lagi foto tersebut dan memperhatikannya lebih seksama. Sebuah meja DJ dan orang-orang menari, itu semua menyenangkan. Karena ia selalu tau DJ-Hope selalu bermain dengan musik yang menyenangkan.

"Menyenangkan?"

Ravi tersenyum mendengar devinisi yang ragu dari Ken. "Kau tau foto ini diambi dari sisi J-Hope bukan?"

"Ya!"

"Ini adalah apa yang J-Hope lihat. Ini adalah sudut pandang seorang DJ-Hpoe ketika dia sedang bekerja."

Ken membuka mulut dan mengangguk. "A~! Aku mengerti sekarang!,,," Ken memandang foto itu lagi. ",,, Jadi ini rasanya menjadi seorang Hoseok ketika sedang bekerja?."

"Kau memahaminya."

Ken mengangguk. "Bagaimana bisa kau membuat foto yang memiliki makna sedalam itu?! Kau memang sangat hebat."

Bersama Ravi, Ken menikmati setiap hasil foto pameran. Bukan hanya foto milik Ravi tetapi semua foto pameran yang ada disitu Ken melihatnya. Ravi selalu menjelaskan setiap foto yang Ken tak mengeri maksudnya. Tentang Juxtaposition dan semua pengertian tentang photography. Selalu ada makna dan pesan di dalam sebuah seni, hanya itu yang Ken tau. Tetapi bagaimana menangkap pesan itu, terkadang seniman hanya memberikan pesan pada orang yang mengerti dunia mereka. Orang yang masih awam seperti Ken tentu saja tak bisa membaca simbol maupun pesan dalam sebuah karya seni. Bahkan ketika Ken menjelaskan lebih dalam, itu justru membuatnya semakin tak mengerti. Sampai di foto terakhir yang memperlihatkan sebuah bukit ilalang ken merasa sedikit lega karena sungguh banyak dari foto-foto sebelumnya yang menggunakan teori semiotika yang membuatnya sakit kepala. Beruntung yang terakhir adalah foto landscape yang bisa ia nikmati.

"Pameran yang sangat indah! Tak terasa aku sudah ada di karya yang terakhir."

"Siapa bilang ini yang terakhir?"

Ken menatap Ravi terkesima. "Masih ada lagi? Apa di lantai atas?"

...

'Kau semakin terlihat cantik'

Sebuah teks pesan dari nomor tanpa nama itu muncul di ponsel Jimin. Sebuah pesan yang singkat tetapi berhasil mencuri rasa penasarannya. Ia memang sering mendengar kalimat ini setelah menjadi kucing milik Heechul, tetapi sebuah teks tanpa nama itu hal lain. Jika boleh ia percaya diri, ia berharap itu pesan dari Yoongi. Sebuah pesan singkat dan tanpa basa-basi seperti karakter Min Yoongi. Memikirkannya saja itu sudah membuat Jimin tersenyum. Tak ingin salah kira, Jimin membalas pesan tersebut.

'Terimakasih! Tetapi dengan siapa ini?'

Sebuah balasan ucapan terimakasih untuk pujian dan sebuah kalimat tanya untuk memastikan kalau itu Yoongi atau bukan. Lama Jimin menunggu tetapi balasan pesan belum juga muncul. Padahal ia berharap itu pesan dari Yoongi. Jimin menutup ponselnya dan memasukan ponsel pada saku celananya. Ia akan pergi ke dapur. Tapi selangkah ia keluar kamarnya, ia mendengar bunyi nada pesan dari ponselnya. Secepat kilat, Jimin membuka kunci dan salah! Bukan pesan dari nomor tadi, tetapi pesan dari Taehyung.

'Fotomu terpampang jelas di Sophis gallery. Kau sangat cantik dan aku melihat Yoongi-Hyung membelinya.'

'Yoongi-hyung membeli fotoku? Foto apa?'

'Pameran fotography milik Ravi. Bukankah kau juga di undang? Objek fotonya adalah orang-orang Cats bar. Bahkan ada foto Yoongi Hyung.'

Karena penasaran, Jimin segera berganti pakaian dan pergi. Hari ini Heechul lembur jadi ia tak bisa pergi bersama masternya. Ia hanya menelfon untuk meminta izin pergi. Lalu ketika mendapat izin, Jimin langsung berangkat dengan supir pribadinya.

...

Yongjae tersenyum menatap angka di dalam buku rekeningnya. Kerja kerasnya selama dua tahun menjadi pelayan di dua restoran membuahkan hasil. Ia bisa membeli tempat dan perabot untuk membuka cake shop sendiri. Hanya tinggal satu tahun lagi saja ia akan berhasil. Ia menjadi memiliki kekuatan lebih, tinggal sedikit lagi. Semangatnya semakin bertambah, dengan sigap Yongjae langsung berdiri tegap di depan pintu hotel begitu briving selesai, ia terlalu semangat hingga tak menyadari senyuman dari managernya.

"Dia yang paling banyak mendapatkan penghargaan karyawan terbaik bukan?"

Tanya manager pada supervisor. Sang supervisor melihat orang yang bossnya maksud dan ikut tersenyum.

"Yongjae memang rajin dan pekerja keras terutama demi mencapai mimpinya."

"Mimpi?"

"Ya, Yongjae memiliki mimpi untuk membuka cake shop."

"Cake shop?"

Sang manager mengangguk dan mengisyaratkan sang supervisor untuk kembali bekerja. Iapun kembali ke kantor dan mengumpulkan semua data mengenai Yongjae. Sudah seharusnya yongjae mendapatkan sebuah bonus maupun penghargaan, itu kewajibannya sebagai manager untuk memberikan hak pada setiap karyawan, terlebih karyawan terbaik dan entah bagaimana ia tiba-tiba saja terbayang bagaimana cara waiternya itu tersenyum.

'Dia manis juga'

Tanpa fikir panjang, ia menelfon bagian kasir depan. "Tolong suruh Choi Yongjae ke ruanganku setelah selesai jam kerja!"

'Baik sir'

...

Ravi hanya menjawab dengan senyuman dan menarik Ken ke tengah-tengah gedung.

"Apa kau tak penasaran kenapa aku tak memamerkan fotomu di deretan dinding?"

Ken menunduk, Ia tersenyum malu. Ia tak ingin jujur dan menanyakan hal tersebut langsung karena itu sama saja seperti mengatakan sebuah perasaan. Ken memang menyukai Ravi dan ken yakin Ravi juga menyukainya. Tetapi pekerjaan Ken tak bisa membuatnya berani melakukan suatu hubungan yang di sebut cinta. Terlebih pada orang yang hanya menyukainya tanpa memiliki keinginan untuk memiliki komitmen dan tanpa ingin memberikan sebuah pengorbanan materi untuknya. Terdengar matrealistis tapi begitulah kenyataannya dan kenyataan yang menjelaskan semuanya. Kenyataan bahwa dirinya hanyalah kucing yang memang diperuntukan untuk diperjual belikan. Menyadari fakta itu, Ken kembali memaksakan senyumnya.

"Ini mungkin bisa membuat lehermu sakit. Tapi lihatlah ke atas!"

Ken mendongak kemudian senyum palsunya memudar. Itu adalah foto-fotonya, ditata melingkar seperti sebuah lukisan atap. Semua close up dengan warna monokrom, bahkan ada foto Ken yang meneteskan air mata, entah kapan Ken mengambilnya.

"Apa kau selama ini menguntitku?,,, " Tanya Ken curiga, Karena sungguh beberapa foto disana adalah momen dimana Ken melakukan kebiasaannya di luar kerja. Dari tempat makan siang sampai ketika Ken masak di dapur apartmennya. ",,, Atau kau menyembunyikan kamera di rumahku?"

Pertanyaan Ken mendadak membuat Ravi tertawa. "Apa kau tak pernah menyadari kamera yang selalu aku arahkan padamu?"

"Aku fikir kau sedang melihat gallery kameramu bukan memfotoku."

"Lalu kapan aku menangis di depanmu? Bagaimana bisa aku mengeluarkan air mata seperti itu? Apa itu Photoshop?"

"Kau pernah makan dirumahku, Kau ingat? Saat aku memasak dan masakannya terlalu pedas untukmu."

Kali ini Ken menutup mulutnya menahan tawa, sungguh memori yang menyenangkan dimana Ravi masak untuknya. Tetapi yang membuatnya heran adalah, ekspresinya yang melankolis seolah ia sedang bersedih. Jika Ravi tak bilang itu fotonya ketika kepedasan, Ken sendiri pasti mengira itu fotonya ketika ia menangis karena sedih.

"Tapi,,, Bagaimana kau bisa mendapatkan fotoku seperti itu? Itu lebih mirip ekspresi menangis karena sedih bukan menangis karena kepedasan."

"Aku hanya penasaran bagaimana wajahmu ketika menangis, dan aku ingin saat kau menangis seperti itu kau akan berada di sampingku, mengatakan semua kesedihan yang selama ini kau tutupi."

Deg!

Senyum Ken tiba-tiba menghilang. Bagaimana bisa pria di depannya sangat mengerti dirinya hingga sedalam itu? Bagaimana Ravi bisa tau, bahwa selama ini Ken tersenyum karena terpaksa? Bagaimana Ravi tau, kalau selama ini ia hanya bisa menangis dalam hati. Tak ada yang tau, bahwa selama ini Ken menutupi kesedihannya karena pekerjaan yang ia geluti. Ken depresi, dan ia pergi ke dokter diam-diam. Ia berusaha terlihat kuat, karena ia tak ingin dikasihani.

"Lalu kenapa ada stampel Cats Bar disana?"

Tanya Ken mengalihkan perhatian, agar ia tak lagi terlihat menyedihkan. Ravi hanya tersenyum. "Aku mencintaimu Ken. Itulah kenapa aku melakukan ini."

Percayalah, siapa yang bisa menolak pernyataan cinta seseorang yang telah banyak menyentuh hatinya? Ken juga mencintai Ravi, Sangat. Tetapi apa yang bisa ia lakukan ketika hal yang paling ia takuti adalah rasa cintanya? Ia takut ia akan mencintai Ravi terlalu dalam sementara ia memiliki pekerjaan semacam 'itu'. Setinggi apapun kelasnya, Ken tetaplah lelaki penghibur.

"Ravi kau tau jika aku tak bisa melakukan suatu hubungan cinta."Seketika Ken sadar bahwa ia berada di tengah-tengah pusat perhatian, akan gawat jika master Min tau. "Bisa kita bicara di luar saja?"

Ken mencoba menarik tangan Ravi tetapi justru malah ia yang ditarik. "Kau tak jujur!"

"Ravi Kita bicara diluar!,,," Ken melihat wajah Ravi yang terlihat sakit hati, dan sungguh ia tak tega melihatnya. ",,, Aku mohon! Kita bisa bahas ini diluar jika kau memang serius."

Seseorang wanita datang mendekati Ravi, menginterupsi pernyataan cintanya.

"Mr. Ravi. Seseorang menginginkan foto Park Jimin segera! Dapatkah anda menandatangani berkas jual beli sekarang?!"

"Tolong tunggu sebentar!"

"Mr. Min Yoongi adalah vip tuan!"

Ken dan Ravi terkejut lalu saling tatap. Ken mendorong punggung Ravi menuju seorang crew pameran. Jika semua tentang Min Yoongi maka itu adalah prioritas. Ken tak ingin Yoongi akan mencari Ravi kemari dan melihat semuanya.

"Kita bisa bicara lagi nanti!"

Ravi mengangguk, mematuhi saran Ken karena memang itu yang terbaik. Ia juga tak ingin Ken mendapat masalah. Ravi melirik deretan karyanya dan kembali mengikuti crew menuju ruang vip. Disana Yoongi sedang duduk menatap lembaran kertas di atas meja. Yoongi menatap Ravi begitu ia duduk.

"Aku tak peduli siapapun yang kau foto, tetapi tidak dengan Park Jimin. Aku ingin kau mencopotnya sekarang juga."

Ravi dan beberapa crew saling lirik. Itu bukanlah situasi biasa dimana ia melihat sebuah karya diambil ketika baru dipajang.

"Apa 10 juta cukup untuk menyingkirkan foto itu?"

...

Baru saja Jimin tiba ia melihat fotonya di copot dari deretan instalasi. Disana ada juga Taehyung dan Ken yang terlihat serius membicarakan sesuatu. Jimin mendekati mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Ada apa sebenarnya?"

"Sepertinya ada seseorang yang cemburu melihat fotomu diperhatikan banyak orang." Olok-olokan Taehyung berhasil membuat Jimin mengerutkan kening. ",,,Yoongi Hyung baru saja membeli fotomu! Dia pasti terpesona dengan fotomu yang cantik."

'Kau semakin terlihat cantik'

Pesan itu, Jimin mengingatnya. Pesan yang ia baca sebelum ia kemari. Sebuah kalimat yang mengingatkannya pada cinta pertamanya. Pada perasaan hangat yang dulu pernah ia rasakan dari seorang Min Yoongi. Jimin mengingatnya, bagaimana cara Yoongi menatap dan mengusap rambutnya dengan penuh cinta dimatanya. Sebuah skinship sederhana yang membuatnya jatuh cinta.

"Kau harus mencarinya! Itu sudah jelas, dia masih sangaaatttt mencintaimu!"

Jimin memang ingin percaya dengan apa yang dikatakan temannya, tetapi ia masih sadar diri. Posisisnya sebagai incaran seorang predator gila diluar sana, membuatnya harus hati-hati dengan publikasi yang menyertakan data pribadinya yang sekarang. Jimin yakin Yoongi membeli fotonya hanya karena itu, tetapi satu sisi ia bersyukur karena Yoongi masih menjaganya hingga sekarang. Meskipun degan cara yang dingin dan tak mudah untuk dimengerti kebanyakan orang lain.

Perasaan cintanya pada Yoongi kini menjadi rindu yang membuat hatinya sesak. Ia mencintai tetapi tak dapat mengatakannya, ia merindukan Yoongi tetapi tak bisa melepaskannya. Sebuah cinta yang dibatasi oleh rasa tanggung jawab dan sebuah kontrak, membuat Jimin harus menjadi pungguk yang merindukan bulan. Ia ingin Min Yoongi yang mencintainya dengan penuh perhatian seperti dulu. Jimin terdiam di tengah-tengah gedung, terdiam menatap sebuah dinding kosong tempat dimana foto wajahnya ada disana sebelumnya. Ia menghela nafas.

'Hyung! Aku mencintaimu!'

...

Seorang pria dengan tuxedo berwarna navi menyesap champagne sambil menatap Jimin dari jauh, mengawasi pria manis itu dari balik kerumunan pengunjung.

"Kau memang pintar Min Yoongi, tetapi kau tak bisa menyembunyikannya seumur hidup dariku."

Senyumnya hilang ketika seorang pria yang ia maksud tiba-tiba datang mendekati bottom yang sudah lama di klaimnya. Tiba-tiba saja rasa champagnenya menjadi pahit dan fikiran jahat memenuhi otaknya, ingin sekali ia memecahkan gelasnya lalu menusuk pria berklit cokelat itu dengan potongan kaca agar ia bisa hidup bersama Jimin. Sebelum pria berkulit putih pucat itu muncul dikehidupan Jimin, Jimin adalah miliknya, Jimin hidup bahagia bersamanya. Melihat propertinya direbut, siapa yang bisa menerima. Terlebih dengan apa yang telah pria itu lakuakan pada Jimin. Sebuah pemikiran gila dengan menjual Jimin hanya untuk menjauhkan Jimin darinya. Pria pucat itu berfikir ia tak baik bagi Jimin tetapi nyatanya dia menjadikan Jimin seorang pelacur yang ditiduri lelaki lain.

Hatinya sakit, melihat mata Jimin. Ia bisa melihat derita dimata bottom itu. Ia tak pernah sekalipun melihat Jimin dengan mata yang berisi rasa sakit. Apa yang telah pria pucat itu rebut darinya? Yoongi merebut Jimin hanya untuk dijual dan ia sangat marah sekarang. Tetapi, ia harus berfikir, mencari jalan terbaik untuk menyingkirkan Pria kulit pucat itu dan merbut kembali Jimin.

"Kau hanyalah penipu, dasar brengsek."

...

Jimin masih melamun menatap dinding kosong, hingga ia bisa merasakan kehadiran seseorang. Jimin memegang punduknya, merasa lemas dan ingin bersimpu, itu perasaan buruk saat bersama masternya yang dulu. Rasa kelam yang dulu pernah menggerogoti jiwanya.

"Jimin!"

Jimin tersentak dan menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Dia Min Yoongi dan entah kenapa ia merasa buruk melihat mata pria yang sangat ia cintai. Ia sakit merasakan rasa rindu dan cinta yang tak pernah bisa ia dapatkan lagi. Seolah masa lalu membuatnya terpisah diantara pulau-pulau kosong yang tak berpenghuni.

"Bisa kita bicara berdua?"

Tanya Yoongi heran, ia ingin membicarakan mengenai kontraknya. Sejujurnya ia perlu meminta keputusan dari Jimin. Dulu Jimin sendiri yang meminta dan setuju berada di bawah menejemnya.

Jimin bersandar di kursi samping Yoongi tanpa berhenti menatap pria berkulit pucat itu, ia merasa haus ingin merasakan cinta darinya. Tetapi Yoongi hanya diam, menyadari tatapan Jimin tapi menghiraukannya, menampik rasa cinta yang selalu terpancar dari mata Jimin.

"Kita akan kemana?"

"Kantorku!"

"Weo?"

"Kau akan tau nanti!"

Selalu begitu, sifat dingin yang selalu melekat dalam diri Min Yoongi yang sekarang. Jimin selalu berfikir mungkin ini kesalahannya? Mungkinkah ini semua karena kontraknya dengan master kim. Ia tak tau, yang ia tau dulu Yoongi tak sedingin ini, dulu dia hangat. Pria paling hangat dan penuh kasih yang pernah ia temui. Jimin terus diam mengikuti kemana Yoongi akan membawanya. Dan saat Yoongi duduk di kursinya, Jimin ikut duduk di seberang meja kerja Min Yoongi.

"Entah aku harus meminta persetujuanmu atau tidak, tapi aku butuh,,,"

Yoongi memberikan Jimin map, sebuah map berisi pembebasan Jimin dan satu lagi adalah data-data dari orang-orang ternama.

" Heechul meminta pembebasanmu dan itu sama saja kau akan merilis idmu. Dimana kau tinggal orang akan dengan mudah mencarimu."

Seketika Jimin membeku. Ia tak berfikir kesana, ia lupa alasan mengapa ia menjadi kucing, ia lupa dengan semua masalahnya. Jimin bahkan tak bisa bicara. Bagaimana ia bisa melupakan masalah terbesar dalam hidupnya?

",,, Aku memberimu pilihan. Ingin tetap lari dengan mencari master baru, atau berurusan dengannya bersama kebebasanmu."

Jimin bingunng, ia merasa tak tau harus memilih yang mana. Ia ingin bebas tapi ia takut dengan masa lalunya, ia juga takut dengan master baru yang bisa membuatnya kembali jauh dari Yoongi.

"Aku tak bisa melindungimu kau tau."

Jimin menunduk, seketika ia ingin menangis. Meratapi nasib hidupnya yang ironis.

"Angkat kepalamu dan tatap aku!"

Jimin melakukannya. Dengan ragu ia mengangkat kepala dan menatap mata pria yang ia cintai.

"Aku ingin keputusanmu segera."

"Hyung~!"

Jimin tau ia tak bisa terus merepotkan Yoongi. Yoongi memiliki beban keluarga dan tanggung jawab terhadap Cats Bar. Ia tak bisa bergantung dan meminta Yoongi mati untuk dirinya. ia mencintai Yoongi dan membayangkan Yoongi pergi itu lebih mengerikan daripada jarak yang selama ini ia lihat. Yoongi tak seharusnya terus berkorban untuk Jimin. Yoongi Juga manusia dan manusia yang mengejarnya adalah iblis, oleh karena itu Yoongi tak mampu melawannya. Itu sama saja Jimin meminta Yoongi menyebrangi pulau dengan berenang.

"Aku akan mengantarmu pulang."

...

Kerutan pada kening Yongjae muncul ketika ia memandang pintu ruang manager dan memikirkan alasan mengapa managernya memanggil Yongjae ke kantornya. Dengan tiga kali ketukan, suara manager muda itu terdengar memintanya masuk.

"Selamat malam Mr. Kim. Apa anda memanggil saya?"

"Choi Yongjae!"

"Iya Mr. Kim?!"

"Apa kau memiki sertifikat keahlian mengenai patisserie?"

"Ya Sir. Saya memiliki beberapa."

"Bagus! Aku memintamu kemari ingin membicarakan mengenai produk restoran yang ingin aku buat."

Yongjae menegakan badannya tegang. "Maafkan saya Mr. Kim tetapi,, Bukankah,,"

"Membicarakan Food Product dengan fnb departement?,,," Yongjae mengangguk, dan entah mengapa itu terlihat manis. ",,, Aku membutuhkan pendapatmu mengenai cabang caffe baruku! Aku ingin membuat coffe shop, tapi aku sedikit bingung dengan konsepnya dan product patisserie yang paling diminati pasar."

Anggap saja Yugyeom sedang berpura-pura jadi orang bodoh. Dia lulusan master hospitality of restorant dan baru saja ia menanyakan konsep dan pasar sebuah coffe shop. Itu konyol tapi itulah nyatanya. ia sedang pura-pura bodoh untuk menarik perhatian pria manis di depannya dan sepertinya ia berhasil karena mendengar kata coffe Shop saja itu bisa membuat mata Yongjae berbinar-binar.

"French Patisserie adalah basic tetapi pasar asia lebih menyukai kue dengan tekstur lembut, manis dan indah. Seperti cupcake dan semacam opera."

"Apa kau tau banyak mengenai Patisserie?!"

"Saya hanya menyuakai bidang tersebut dan saya hanya belajar otodidak, jadi mungkin pengetahuan saya tak sebaik anda."

"Kalau begitu apa kau mau menjadi Chef Pastry di caffe baruku nanti?!"

Yongjae tercekat dengan apa yang baru saja managernya katakan. Antara percaya dan tidak percaya bossnya meminta ia menjadi chef pastry. Sebuah pekerjaan yang sejak dulu ia impikan.

'Apakah ini mimpi?'

"Mr. Kim Yugyeom! Im sorry?" Yongjae berani meminta bosnya mengulangi kalimat terakhir yang bosnya katakan, ia ingin memastikan kalau telinganya itu normal atau tidak. Menjadi chef bukanlah hal mudah, ia setidaknya harus sekolah dulu, dan tawaran itu bak fatamorgana mengingat latar belakang pendidikannya.

"Aku memberimu tawaran untuk menjadi chef pastry di caffe yang akan aku buat! Apa kau keberatan?"

Demi apapun Yongjae tak bermimpi! "Tentu saja saya bersedia sir!" dan Yongjae menerima tawaran itu begitu saja. Dalam otaknya, ia hanya berfikir tentang mimpinya dan kesempatan emas itu merupakan batu loncatan yang sangat bagus untuknya. Ia terlalu bahagia hingga tak menyadari motif dibalik rencana bosnya.

.

.

tbc

.

.

Maaf jarang update!

Di rumah ada monster-monster yang selalu recokin aku kalau lagi asyik nulis.

.

.

.

.