TAORIS! KRISTAO! FANTAO!
.|.
.|.
.|.
.|.
Halte itu terlihat sepi. Suhu udara yang dingin dibawah rata-rata membuat kebanyakan orang lebih memilih untuk diam di rumah atau tempat hangat lain yang sekiranya sudah dilengkapi penghangat ruangan. Terlebih hari sudah menunjukkan waktu petang dengan hanya beberapa kendaraan yang melintas.
Namun pemuda berambut hitam dengan lingkaran hitam seperti panda yang masih ada di sana itu tampak duduk dengan tenang. Tubuhnya dibalut jaket tebal dengan syal warna merah melilit cantik di leher jenjangnya. Sudut mata sesekali melirik ke ujung jalan seolah sedang menunggu sesuatu. Nafasnya mengepul hangat disertai kedua tangan saling bertautan untuk mencari sedikit kehangatan. Tidak jarang pemuda itu meniupi tangannya guna menghalau rasa dingin yang datang.
Wajahnya yang bisa digolongkan manis tampak sedikit pucat menandakan dia cukup lama berada di halte tersebut. Tapi dirinya yang memang keras kepala tetap bersikeras bertahan walau kaki dan punggungnya sedikit kram karena terlalu lama menggendong ransel sekolah yang tidak kecil ukurannya.
"Ukhh, kenapa bus-nya lama sekali? Tao kedinginan." gumamnya serak. Salahkan dirinya yang tidak mau dijemput Babanya dan lebih memilih naik bus yang sebenarnya tidak cocok dengan pribadinya yang terkenal manja. Entah apa yang merasuki otak polosnya hingga 1 minggu belakangan ini lebih memilih naik bus daripada naik mobil mewahnya. Membuat sang mama berteriak histeris dan panik berlebihan karena takut anak kesayangannya lecet. Terlalu berlebihan memang, maklum dia anak tunggal.
Cahaya samar-samar lampu sorot dari ujung jalan langsung membuat Zitao sumringah. Dia melompat berdiri dan melangkah ke pinggiran halte. Menunggu sebuah bus yang sebentar lagi berhenti disana. Mata hitamya seolah berkilat antusias dengan binar terang yang begitu mempesona siapapun. Tanpa sadar dia melompat-lompat kecil saat melihat bus berhenti tepat didepannya dengan pintu terbuka.
Zitao tanpa halangan langsung melangkah masuk dan mengedarkan pandangan ke seisi bus. Hanya ada beberapa penumpang.
Senyum manis seketika mengembang melihat pemandangan yang selalu ditunggu-tunggunya belakangan ini. Seorang pemuda berambut pirang yang duduk di pojok belakang dengan wajah menghadap jendela yang berembun. Sebuah earphone terpasang apik di kepalanya.
Pemuda tampan itu... Adalah alasan kenapa Zitao rela naik transportasi umum akhir-akhir ini. Pertama kali Zitao melihatnya adalah minggu lalu ketika dia terpaksa naik Bus saat pulang karena supir rumah tidak bisa menjemputnya. Waktu itu Zitao langsung terpesona pada pandangan pertama melihat pemuda pirang itu duduk di posisi yang sama seperti sekarang ini. Diam, tenang tapi begitu menjerat hatinya yang polos. Seolah dia memiliki magnet kuat yang menarik Zitao untuk mendekat.
Pemuda panda itu mengambil tempat duduk tidak jauh dari si pemuda, merasakan kehadirannya. Matanya terpejam rileks dengan hembusan nafas yang teratur. Berada di dekat pemuda itu cukup membuat Zitao nyaman dan merasa terlindungi.
Aneh memang. Zitao bahkan tidak tahu nama, umur, asal-usul, sifat dan kepribadiannya. Ditambah fakta dia orang baik atau tidak, Zitao belum mengetahuinya sama sekali. Tapi di relung hatinya yang paling dalam, dia yakin pemuda itu adalah sosok yang istimewa, terutama untuk hatinya.
Dan sekarang ini duduk dengan gelisah, Zitao menggigiti bibirnya sembari menelan ludah gugup. "Dia berjalan kesini." menoleh sedikit dan meliriknya melalui ekor mata, melihat bagaimana pemuda pirang itu melepas earphone dan mengalungkannya di leher. Setelah itu ia berdiri, merapikan bajunya lalu menatap kearah depan.
Zitao merasa jantungnya berdegup kencang saat menyadari si pemuda mulai melangkah untuk mendekati dirinya. Lebih tepatnya ia hanya sekedar lewat dan akan segera turun sebentar lagi. Sementara Zitao sendiri lebih memilih untuk meremas kedua tangannya pelan ketika si pemuda pirang -secara lambat- melewati tempat duduknya.
Pluk!
EH?
Zitao mengerjap lucu memandangi punggung tegap yang kini keberadannya sudah berada di luar Bus. Mengekori pergerakannya dengan rona merah tipis yang perlahan menjalar di kedua pipinya yang gembil. Kedua tangannya terlihat menggenggam sebuah kaleng minuman hangat yang diletakkan diatas pangkuan, meremasnya pelan. Sementara detak kehidupan miliknya semakin bertalu-talu hebat diiringi perasaan bahagia yang begitu membuncah.
Pemuda pirang nan tampan itu –
"Terima kasih."
…Memberinya minuman hangat.
.
.
.
.
Bus Stop © Harumi Shiba
.
.
.
.
Itu adalah kala terakhir Zitao melihatnya. Kejadian yang mendebarkan hatinya itu ternyata moment terakhir antara dirinya dan si pemuda pirang. Dan setelahnya, Zitao tidak pernah menemukan keberadaannya dimanapun. Hari-harinya dilewati begitu saja tanpa adanya dorongan membara seperti sebelumnya. Zitao berubah murung, sedikit pendiam dan kadang-kadang melamun. Terhitung ini sudah hari ke 10 semenjak pertemuan terakhir mereka. Dan selama itu pula Zitao seolah merasa semuanya hambar.
Tapi walaupun begitu Zitao yang lugu mencoba untuk terus bertahan dengan tetap menaiki bus sepulang sekolah seperti biasanya. Berharap jika ada suatu kesempatan dia bisa berjumpa lagi dengan si pemuda pirang.
Contohnya ya, seperti yang dilakukannya sekarang ini.
Zitao dengan tenang menunggu bus di halte dekat sekolah seperti sebelum-sebelumnya. Latihan wushu yang sering dilakoninya sepulang sekolah memaksa Zitao untuk pulang petang hampir setiap harinya. Tapi sungguh dia tidak keberatan sama sekali, terlebih dia juga memiliki tujuan tersendiri.
"Zitao, kami duluan ya?" dua orang teman seclub wushu melambai pelan dari dalam mobil saat melihat Zitao duduk di halte bus.
Pemuda panda itu mengangguk diiringi senyum kecil dengan kedua tangan memegang erat sebuah kaleng minum. Jaket tebal dan syal merah masih selalu setia melekat. Mulutnya berkali-kali menguap kecil pertanda mengantuk. Tapi ketika matanya menunduk mengamati kaleng minum di tangannya, Zitao langsung duduk tegak dan semangat kembali.
Dia melompat berdiri dengan tidak sabar saat melihat bus terlihat dari kejauhan. Dengan mantab dia melangkah dan berdiri di pinggiran halte. Tangannya makin erat memegang kaleng minum bahkan saat ini mendekapnya di dada. Seolah itu adalah harta berharga yang harus dia jaga.
'Semoga... Semoga, Ya tuhan...' batinnya berulang ketika memasuki pintu bus yang terbuka. Berharap keinginannya terealisasikan.
Tapi lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan untuk kesekian kali saat mendapati bangku pojok belakang kosong seperti hari-hari sebelumnya.
.
.
.
.
"Zii... Berhenti memandangi kaleng itu. Jujur, aku semakin hari semakin khawatir melihat tingkahmu seperti zombi yang sedang patah hati." Kyungsoo menatap sahabatnya cemas campur kesal. Pemuda yang satu meja dengannya itu terlihat menyedihkan karena sejak tadi diam dan terus melihat kaleng minuman yang diletakkan di atas meja kantin. Tanpa menyentuhnya sedikitpun, hanya menatapnya intens.
"Ya tuhan Zii, kuberitahu kau. Pemuda itu pasti sekarang sudah melupakanmu. Sempat mengingat keberadaanmu saja tidak. Terlebih kalian tidak pernah bertegur sapa. Jadi saranku, lupakan saja dia, Zii. Masih ada banyak orang lain di luar sana."
Zitao tidak mengerti kenapa sosok sekalem Kyungsoo bisa mengoceh sepanjang itu. Dia bahkan tidak pernah tahu pemuda pororo itu punya bakat pidato yang hebat.
"Soo-hyung bicara apa?"
Kyungsoo mendelik jengkel. Dia ingin sekali mencubiti Zitao tapi sayangnya dia tidak tega dengan raut polosnya. "Kau bahkan masih menyimpan minuman darinya hingga kini. Padahal itu sudah errr 2 minggu yang lalu? Demi kebaikanmu, Zii... Berhentilah sekarang sebelum kau jadi gila." lagi-lagi Zitao dibuat takjub dengan ocehan sahabatnya. Sejak kapan Kyungsoo secerewet ini?
Apa sejak Zitao patah hati?
"Belum 2 minggu hyung, Tao sudah menghitungnya dan hasilnya 12 hari. Kurang 2 hari lagi baru 2 minggu." jawabnya begitu polos namun terselip nada lesu didalamnya.
"Terserah."
Selain berubah cerewet, Kyungsoo juga sering marah-marah.
"Wahh... Ada minuman nganggur nih, buatku ya Zitao?" Jongin tiba-tiba datang dan menyerobot kaleng di atas meja.
"TIDAK BOLEH!"
Zitao dengan posesif langsung mendekap minuman itu di dada. Matanya yang seperti kucing mendelik lucu kearah Jongin.
"Dasar anak panda pelit." cibirnya lalu mengambil tempat duduk di samping Kyungsoo. Setelahnya ia menatap heran tingkah Zitao yang saat ini mengelap badan kaleng dengan tissue basah seolah takut akan lecet, meledak atau semacamnya. Mata pemuda itu kemudian beralih ke Kyungsoo dengan arti 'sahabat-pandamu-sudah-tidak-waras' yang langsung ditanggapi delikan tajam.
"Ya benar, dan kau sama tidak warasnya dengan Taozi. Hanya saja kau berada di level tinggi yang berbeda."
Jongin meringis pelan. Kyungsoo melengos tidak peduli.
"Emm Zii, bagaimana kalau nanti sore kita pulang bersama?" tuturnya hati-hati. Zitao melihat ke arahnya dengan kerutan dahi samar.
"Tapi soo-hyung tidak ada latihan vocal hari ini. Club musik sedang libur."
"Tidak masalah. Aku akan menunggumu."
Zitao semakin mengerutkan dahinya dengan kepala miring. Terlihat menggemaskan.
"Apa Mama yang meminta soo-hyung?"
"EH? Tidak-tidak. Bukan seperti itu."
"Tao tidak mau."
Setelah melempar delikan tajam yang lucu, Zitao beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh.
"Hmmm sudah kuduga, pasti gagal."
Jongin langsung mengkeret di tempat mendapat tatapan membunuh dari Kyungsoo.
.
.
.
.
Zitao memang anak yang cengeng. Terbukti dengan dia yang saat ini terisak pelan di tempat duduk favorite yang biasa dia duduki di bus. Matanya memerah dengan perasaan kecewa yang entah kenapa menjalar kuat di rongga dadanya. Dan lagi, untuk kesekian kalinya, dia mendapati bangku pojok belakang berpenghuni kosong tanpa penumpang yang selalu ditunggunya.
Seumur-umur Zitao tidak pernah merasa sesakit dan seperih ini, terlebih karena seseorang yang belum dia kenal. Dia tidak tahu kenapa harus menangisi 'dia' yang belum tentu memikirkannya balik. Perasaan sesak itu semakin menjadi saat mengingat hari ini adalah hari terakhir dia naik bus. Kedua orangtuanya sudah pada batas kesabaran untuk memperbolehkannya bertindak sesuka hati. Besok, dia tidak mungkin bisa naik transportasi umum ini lagi.
Yang artinya, dia tidak akan pernah punya kesempatan lain untuk menemukan pemuda itu. Karena hanya lewat bus inilah Zitao menaruh harapan besar agar mereka bisa bertemu. Tapi sepertinya itu hanya sekedar angan-angan belaka.
"Ukhh... " bibirnya bergetar pelan. Isakan kecil masih terdengar dengan kedua tangannya masih setia menggenggam erat kaleng minuman, benda yang akhir-akhir ini menjadi begitu berarti di hidupnya.
Bahkan jujur saja, penumpang lain banyak yang merasa iba dan kasian melihat pemandangan tersebut. Tak sedikit pula yang merasa penasaran, siapa atau apa yang menjadi penyebab pemuda mirip anak panda itu menangis terisak seperti sekarang ini. Orang itu pastilah orang sadis yang tidak tahu diri.
Ckitt
"AAAAAA..."
Bus direm mendadak. Membuat para penumpang melotot horror dan berteriak panik. Mereka mulai merutuki si pengemudi teledor yang saat ini langsung menoleh dengan tatapan minta maaf.
Di depan sana ada sebuah lamborghini merah yang nekat menghadang jalannya bus. Seorang pemuda tampan dengan stelan jas khas executive muda keluar dari dalam mobil. Tampilannya sedikit berantakan dengan dalaman kemeja putih yang bagian atasnya tidak terkancing rapi. Hot dan Sexy. Hingga banyak penumpang yang melihatnya langsung memekik heboh sendiri.
Pemuda berambut pirang yang diduga berumur sekitar 24 tahun-an itu berjalan mendekati bus dan dari tatapan mata menyuruh sang supir untuk membukakan pintu. Setelah pintu itu terbuka dengan suara decisan pelan, sang pemuda masuk lalu berdiri di tengah-tengah. Matanya yang tajam bergulir ke seluruh penjuru bus seolah mencari sesuatu.
"Kau..." tunjuknya pada Zitao yang langsung tersentak kaget dari acara menangisnya. "Anak panda," lanjutnya dengan suara baritone yang khas.
Zitao terbelalak syok di tempat duduknya. Tubuhnya membeku melihat pemandangan yang tersaji di depan sana. Orang itu, benarkah dia?
"Wanna hug me?" Mengetahui pemuda di depan sana membuka kedua tangannya lebar-lebar, Zitao tanpa berpikir dua kali langsung berdiri, berjalan cepat dan langsung menerjang tubuh kokohnya.
"Kau menghilang." bisiknya serak. Air mata mengalir turun melewati pipi sedikit chubby miliknya. Terharu dan juga merasa begitu bahagia bisa melihat pemuda impiannya sekali lagi.
"Maaf, aku sangat sibuk belakangan ini." semakin mengeratkan rengkuhannya dengan tangan mengusap punggungnya lembut kala menyadari Zitao bergetar dalam pelukannya.
"Hikkss... Tao begitu takut tidak bisa bertemu lagi."
Pemuda itu mengulum senyum tipis. Tidak sia-sia dia sudah bertindak ekstrim nan mendebarkan tadi.
"Miss you, little panda. Ada satu hal dan aku janji tidak akan pergi."
Zitao melepas pelukannya perlahan dan menatapnya intens dengan mata berair. Raut polos itu sungguh begitu menggemaskan.
"Bersedia menjadi teman kencanku?" tawarnya kemudian diikuti senyum tampan.
"Kencan? Eung~ apa itu? Tao tidak tahu."
-Jlebb
Pemuda itu seketika sweatdrop dengan ringisan pelan. Mencoba maklum dengan keluguan murni yang dimiliki Zitao, yang diketahui sudah tercetak jelas di paras menawannya.
"Jalan-jalan, bagaimana? Makan, shopping, pergi ke taman bermain lalu Kita bisa bercerita banyak hal dan mengenal dekat satu sama lain."
"Emmm! Tao mau."
.
.
.
.
Setelah beberapa saat...
"Anoo, nama gege siapa?"
"Wu Yifan. Simpanlah baik-baik di hatimu, Panda. Karena sebentar lagi pemilik nama itulah yang akan memilikimu sepenuhnya."
"Yifan-ge bicara apa?"
"..."
.
.
.
Dan lagi...
"Permisi anak muda. Bisa kalian lanjutkan adegan drama ini di tempat lain? Sungguh, aku tidak bermaksud untuk merusak moment indah ini. Tapi lihatlah, karena acara penuh haru kalian terjadi kemacetan panjang di belakang. Kau memotong jalan di tempat yang salah, anak muda."
.
.
.
.
.
.
.
.
FIN~
