Hanya para lady CLAMP yang memiliki semua karakter XXX HOLIC dan ceritanya.
Akiya Kazuki, trims, dukunganmu semangat untukku.
Yuharu Kouji, pertanyaanmu akan terjawab di chapter ini, sisanya bisa jadi pada chapter selanjutnya :D
slowly but surely
Enjoy it, my dears :D
xxXxx
4
Watanuki berjalan menuju loker sepatu, seperti biasanya, mengabaikan tatapan dan bisik-bisik yang berasal dari para murid yang berkumpul di sekitar pintu depan gedung sekolahnya. Ia membeku melihat tumpukan surat di dalam lokernya. Tidak diragukan lagi, dari tampilannya itu adalah surat cinta. Watanuki merasa senang, akhirnya musim seminya datang. Saatnya menjejakkan kaki ke dunia siswa populer! Mengambil mereka semua, ia membuka salah satu dan membacanya dengan cepat 'Dear Watanuki-san. Selama ini aku ragu mengutarakan perasaanku karena kukira kau berpacaran dengan Doumeki. Tapi jika tidak, aku senang jika kau mau bertemu denganku pulang sekolah nanti. Aku akan menunggumu di belakang gedung kesenian. Salam hangat, Fujisima Minoru.' Watanuki mengerutkan kening. Berpacaran dengan Doumeki? Fujisima Minoru, bukankah dia seorang siswa dari kelas Doumeki? Ia membaca surat yang lain dan menemukan nama-nama siswa di angkatannya.
Mulut Watanuki melongo. Apa mereka pikir dia gay? Apa yang membuat mereka berpikir dia gay? "Apa mereka pikir aku perempuan?" serunya.
"Aku juga penasaran," bisikan lembut terdengar disisinya saat Doumeki mengintip dari balik bahunya.
"Doumeki!"
"Penggemar?"
"Huh!" Watanuki melemparkan surat itu ke dada Doumeki, membiarkannya jatuh ke lantai. "Ini semua gara-gara kau!"
Doumeki mengambil salah satu yang sudah terbuka dan membacanya. Ia mengangkat sebelah alis, terlihat terkejut, "Hm... menarik."
"Ini sama sekali tidak menarik, ini malapetaka! Mereka mengira aku gay, dan lebih buruk lagi, mengira kita berpacaran?! Sekalipun aku gay, kau adalah orang terakhir dalam daftarku!"
Para murid berhenti menatap mereka dengan mata terbelalak.
"Jadi kau mengaku kalau kau gay?" simpulnya dengan nada monoton.
"Ap-AKU BUKAN GAY!"
"Hn. Kau akan membuat mereka patah hati."
"AKU TIDAK PEDULI. IDIOT. PERGI JAUH DARIKU! KAU HANYA MENCIPTAKAN RUMOR. AKU TIDAK MAU BERPACARAN DENGANMU!" sambil berseru Watanuki pergi dengan langkah marah.
Doumeki tersenyum miring, memperhatikan detail perkataan Watanuki, "Bukannya tidak bisa, huh, tapi tidak mau." Ia memandang amplop yang berceceran di lantai, senyum lenyap dari wajahnya. Ia mengumpulkannya, memandang ke arah para siswa dengan tatapan tajam, memastikan bahwa tindakannya dilihat, lalu merobek amplop-amplop itu dengan gerakan lambat, mengirimkan setiap sinyal dengan jelas. Lalu ia membuangnya ke tempat sampah, melancarkan pandangan menusuk pada para siswa yang diam-diam mengintip, membuat mereka lari terbirit-birit.
Semenjak insiden di loker sekolah, Watanuki merasa ada yang aneh dengan sikap teman-teman sekelasnya. Bukan pertama kali ia dipandang dengan mata tajam oleh sekelompok murid, tapi kali ini terasa sedikit berbeda. Sekelompok murid diam-diam memotretnya dengan kamera ponsel. Sekelompok siswi yang lain sering mengikutinya diam-diam dan tertawa geli saat melihatnya bersama Doumeki. Tapi kelompok siswi yang lain, selalu memandangnya dengan tatapan benci, dan tidak memakan waktu lama sampai fans Doumeki membentuk kelompok anti-Watanuki dan mulai mengganggu hidupnya.
Tidak ada pikiran lain dalam benaknya selain berjuang menyelesaikan ujian diantara urusan restoran yang padat. Ia bahkan tidak punya banyak waktu bermain seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Lagi pula tidak banyak teman yang akrab dengannya selain Himawari-chan yang sibuk dengan kegiatan osisnya dan seorang rival yang bertingkah seperti babysitter. Jadi, saat sekelompok siswi memanggilnya ke belakang gedung sekolah dan mengelilinginya seperti hyena lapar, Watanuki hanya tahu satu alasan.
Lagi pula ini bukan pertama kalinya.
Sebelum mereka sempat bicara, ia berkata sambil mengibaskan tangannya, "Aku mengerti. Kalian ingin aku menjahi Doumeki, kan?"
Salah satu dari mereka menarik Watanuki dan mendorongnya dengan kasar ke tembok. "Kau tidak menghiraukan peringatan kami."
"Kami melihatmu bicara dengannya."
"Kau datang saat pertandingannya."
Watanuki membetulkan letak kacamatanya, "Aku tidak bicara padanya. Dia yang bicara padaku! Dan asalkan kalian tahu, aku pergi hanya untuk mengantar Himawari-chan, bukan untuk mendukungnya!"
"Apa yang sebenarnya dia lihat dari orang sepertimu?"
Watanuki menghela napas, "Aku tidak tahu! Dia itu aneh, tidak masuk akal! Apa hanya aku yang menyadarinya?"
"Jangan bicara seperti itu tentang Doumeki!" salah satu dari mereka memukulkan tas tangan ke kepalanya. "Ingat! Ini peringatan terakhir!"
xxXxx
Watanuki baru saja keluar dari ruang kesehatan saat ia berpapasan dengan Doumeki. Tidak bisa benar-benar disebut berpapasan, karena tampaknya pemuda itu memang sengaja menunggunya. Mata emasnya berkilat saat ia bertanya, "Siapa kali ini?"
"Siapa apa?"
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak—" ia memotong perkataannya sendiri, menghela napas, "Siswi yang mana kali ini?"
"Aku tidak tahu. Mereka bukan dari kelasku."
Mata Doumeki berkilat, kedua alisnya menyatu dan bibirnya membentuk garis tipis, sementara kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Watanuki menelan ludah dengan susah, memandang ke arah lain saat ia berkata, "Jadi kau mengerti? Mulai sekarang jangan mengikutiku. Gadis-gadis itu tidak ingin aku berjalan bersamamu, dan aku tidak butuh ijin untuk tidak berjalan bersamamu!"
"Berengsek," umpat Doumeki saat Watanuki sudah pergi.
Saat makan siang, sama seperti biasanya mereka bertiga makan di bawah pohon sakura. Bedanya kali ini Watanuki mengambil tempat terjauh dari Doumeki dan sebisa mungkin tidak menghiraukannya, ia bahkan tidak berteriak-teriak atau melancarkan teriakan gila. Doumeki tidak senang karena itu menandakan Watanuki sedang serius mengacuhkannya. Doumeki membiarkan Watanuki berbuat sesukanya, tapi matanya tidak pernah lepas dari pemuda itu. Selain saat pelajaran, Doumeki mengikutinya diam-diam. Sampai ia melihat gerombolan siswi mulai mengganggu Watanuki lagi.
"Watanuki-san," salah satu gadis berkata. "Aku sudah sungguh-sungguh bersabar sejauh ini. Tapi sepertinya kau tidak mendengarkan peringatan kami? Kulihat kalian pulang bersama lagi."
"Aku mendengarkan, aku mendengarkan!" kata Watanuki sambil mengibaskan tangannya dan berjalan cepat menjauhi gerombolan itu. "Aku akan hidup dengan baik dan menjauhi Dou—"
Salah satu dari mereka mendorong Watanuki hingga terjatuh, "Sudah kubilang berhenti bicara seperti itu tentang Doumeki."
Watanuki menjilat bibirnya, merasakan darah segar dari kulitnya yang robek. Ia sama sekali tidak mengerti, mereka marah untuk seseorang yang sama sekali tidak mereka kenal. Ia tidak menyangka gadis-gadis ini mampu melakukan tindakan brutal, terlebih di tempat umum! Kemarahan mereka sudah di luar batas. Watanuki bisa merasakan tatapan ngeri dan bisikan berdengung dari para murid yang memperhatikan mereka. "Sudah kubilang, aku mendengarkan kalian, tapi bukan urusanku apa yang dilakukan Doumeki. Dia punya pikiran dan keputusannya sendiri. Jika kalian ingin dia menjauhiku, sebaiknya kalian bicara sendiri padanya dan aku akan berterima kasih ketika dia mau menjauhiku!" Celaka, sepertinya perkataan Watanuki malah menyulut api. Ia melihat kemarahan di mata mereka; tangan mereka terkepal dengan tas tangan siap untuk dipukulkan. Ia merasakan darahnya berdesir oleh ketakutan, lalu suara feminin berseru memecahkan keheningan sebelum badai.
"Kalian hentikan!" salah satu dari siswi yang melihat pertengkaran mereka maju dan berdiri diantara Watanuki dan fans Doumeki. "Sudah cukup kalian berbuat kasar. Tidak adil jika kalian hanya protes pada Watanuki-san karena Doumeki-san juga ikut terlibat." Lalu muncul gadis-gadis lainnya, mendukung pernyataan itu.
"Jangan ikut campur penghianat!"
"Kalian yang tidak mau melihat kenyataan!"
"Ya, Watanuki-san dan Doumeki-san adalah couple yang sempurna."
Watanuki berdiri tercenggang di tengah perang antar kelompok. Baiklah, jadi apa ini berubah menjadi perseteruan antara kelompok anti dan pendukung hubungannya dengan Doumeki? Hubungan terkutuk apa memangnya?
Watanuki maju, "Er... kalian, hentikan. Sepertinya ada kesalahpahaman—"
"Watanuki-san, kau seharusnya tidak diam saja diperlakukan seperti ini," salah satu siswi berseru, lalu kembali menyalak pada yang lain, "Kalian lebih baik berhenti bersikap kasar!"
"Lalu kenapa? Kalian mau apa?!"
Watanuki merasakan suasana semakin memanas. Ia tidak mau jadi ikan gepeng diantara perang kepentingan ini, tapi demi tuhan, ia juga tidak bisa membiarkan para gadis ini saling bunuh!
"Hentikan," suara monoton yang tajam, penuh peringatan, menyebabkan keheningan. Doumeki berjalan dengan langkah mantap, tampak misterius dan luar biasa tampan—Watanuki menggelengkan kepalanya.
Doumeki menyapukan pandangan pada mereka, lalu berakhir padanya. Mengerutkan alis saat melihat bibirnya yang berdarah. Tanpa peringatan ia meraih dagu Watanuki, menariknya supaya ia bisa lebih jelas melihat lukanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Hn," matanya berkilat, dahinya berkerut dan alisnya menyatu. Salah satu sisi bibirnya naik menunjukkan rasa tidak senang.
"Jangan memandangku seperti itu."
"Seperti apa?" nada suaranya monoton.
"Se—seperti jika kau marah."
"Aku tidak marah," Doumeki memang marah, tapi pada dirinya sendiri yang menyebabkan Watanuki mendapat perlakuan kasar. Tapi ia cenderung tidak ingin membuat Watanuki merasa terganggu, jadi dia hanya menjawabnya seperti biasa, "Aku tidak marah."
Sebagian siswi memandang adegan itu dengan senyuman, sebagian yang lain dengan pandangan marah. Tapi salah satu gadis dari kelompok anti-Watanuki berceletuk, "Mereka tampak manis..." kelihatan lebih pada menyampaikan fakta dari pada memanas-manasi teman-temannya.
Tanpa bicara apa-apa, Doumeki menarik Watanuki pergi. Untuk yang kesekian kalinya Watanuki tidak protes saat Doumeki menyelamatkannya. Mereka bersimpangan dengan perawat di ambang pintu ruang kesehatan, otomatis membuat hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Doumeki berbalik, mengangkat dagunya, dan tanpa peringatan mencium Watanuki dengan rakus. Gerakan tiba-tiba itu mengeluarkan semua udara di paru-parunya. Ia mendorong Doumeki, mencari kesempatan untuk menghirup udara, dan Doumeki mengambil kesempatan itu untuk menyusupkan lidahnya ke bibirnya yang terbuka, membawa ciuman mereka semakin dalam.
"Um!" Watanuki berusaha melawan, sungguh ia berusaha, tapi siapa yang sanggup melawan serangkaian otot yang menahannya? Ia bisa merasakan tangan-tangan Doumeki bergerak perlahan di punggungnya, menyusuri tulang belakangnya sebelum berhenti di tengkuknya, tangannya yang lain menangkup sebelah pantatnya, meremasnya. Watanuki berusaha melepaskan diri, ia mundur selangkah, Doumeki mengikutinya, bergerak rapat dan tidak memutus ciumannya. Kakinya membentur sisi tempat tidur dan mereka jatuh kesana. Doumeki menindihnya dengan kebulatan tekad yang luar biasa, sementara Watanuki hanya bisa menggeliat, mencoba mendorong tubuh pemanah yang keras, tapi hanya berakhir melingkarkan lengan-lengannya di sekeliling leher Doumeki.
"eng..." suara-suara asing keluar dari tenggorokannya sementara Doumeki terus mencicipi bibirnya seakan itu salah satu makanan favoritnya. Air liur mengalir di ujung bibirnya dan setelah detik-detik yang terasa seperti puluhan tahun, akhirnya Doumeki mengeluarkan lidahnya; air liur bagai jembatan diantara mereka. Watanuki mengambil napas terengah, begitu juga Doumeki. Tapi dia tampak sangat terkendali. Kebalikannya, Watanuki gemetaran dan merasa tulangnya berubah jadi bubur. Ia merasakan dilema, kesal dan bersyukur Doumeki masih mencengkeramnya, mata emasnya tampak dalam dan mendamba.
"Kau baik-baik saja?" katanya sambil menariknya duduk.
Watanuki menyentak kepalanya, memeluk tubuhnya yang gemetaran tak terkendali, "Baik-baik saja?! Setelah para fans bodohmu yang bertingkah seperti predator lapar dan pelecehan yang kau lakukan!" mata Doumeki berkilat, senyum mengejek muncul di mukanya, "Dan kau bahkan tidak tampak bersalah!"
"Itu hanya ciuman. Lagi pula aku sudah mendapatkan ciuman pertamamu," katanya dengan nada datar, hampir terdengar malas.
Watanuki merona "Itu bukan ciuman, ITU PELECEHAN SEXUAL!" menggertakkan gigi, "Kau membuat semuanya tambah runyam! Mereka akan mengira aku gay dan berpacaran denganmu!"
"Mereka sudah mengira begitu. Apa digosipkan berpacaran denganku sangat mengganggumu?"
Watanuki melebarkan mata, mengerjap, "Pertanyaan macam apa itu? TENTU SAJA ITU MENGANGGUKU, IDIOT!"
Doumeki melepaskan jarinya dari telinga, "Hn. Tapi, mereka tidak akan berani menganggumu lagi."
"Benar, dan seluruh sekolah, termasuk Himawari-chan mengira aku gay dan lebih buruk lagi, berpacaran denganmu, brengsek! Kau mencuri ciumanku lagi! Sekalipun aku tahu kau idiot, tapi tindakan bodohmu ini keterlaluan, kenapa kau menciumku!?"
"Bibirmu berdarah."
"APA?"
"Bibirmu berdarah jadi aku memberimu disinfektan."
"Dis-" Watanuki menggertakkan gigi dengan pipi semerah tomat. "Itu hanya untuk jari, idiot!" serunya sambil menunjukan jarinya. Doumeki menangkap pergelangan tangannya dan menempelkan jari-jari itu ke bibirnya. Mata emasnya berkilat, saat ia menjilatnya, menjilat jarinya!
"Oh," perawat berdiri diambang pintu dengan muka shock. Sang perawat membeku, Watanuki membeku, Doumeki tidak peduli. Lalu semburat merah menjalar di pipi wanita itu, "Uh... Silakan nikmati waktu kalian," katanya sambil membanting pintu. Lalu, mereka mendengar teriakan girang ala fangirl dari arah koridor.
Watanuki menurunkan kembali pandangannya pada jari yang berada di mulut Doumeki. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan Koi semetara pipinya memerah seperti tomat. Doumeki yang tidak pernah bisa dipahami pikirannya akhirnya melepaskan jarinya, dan berkata dengan polos, "Tapi jarimu tidak berdarah."
Watanuki menyentakkan kepalanya dan menjerit, "Aku tidak ingin kau menjilat jariku, idiot! AKU MEMBENCIMU DOUMEKI!"
xxXxx
"Watanuki-kun!" seru Himawari dengan wajah cemas dari bawah pohon sakura tempat biasa mereka makan siang bersama. "Apa kau baik-baik saja? Kudengar sekelompok gadis membuat masalah denganmu."
"Aku baik-baik saja, Himawari-chan."
Lalu pada Doumeki ia berkata, "Mereka tidak seharusnya memakai kekerasan! Hubungan kalian adalah urusan pribadi kalian, seharusnya fans bisa menghormati itu. Seandainya saja mereka tahu bahwa Doumeki-kun sangat beruntung mendapatkan Watanuki-kun! Watanuki-kun pintar memasak, juga hebat dalam urusan rumah tangga..."
Watanuki membeku sambil memegang sumpitnya. "Apa maksudmu, Himawari-chan. Kau tidak berpikir kalau kami... kami..." perasaan horor melingkupinya, oh, tidak, tidak, tidak.
Himawari tersenyum ceria, "Kalian berpacaran kan?"
"Kau salah, Himawari-chaaan~! Mana mungkin aku berpacaran dengan si bodoh ini! Aku bukan gay, dan kalau aku gay, aku tetap tidak akan berpacaran dengan Doumekiiiiiiii!"
"Berisik."
"Kau juga, bantu aku menyangkanya! Idiot, ini semua salahmu!"
"Tambah."
Himawari tertawa, "Kalian sungguh pasangan serasi!"
Sepanjang siang yang indah itu Watanuki berjuang keras meyakinkan Himawari bahwa mereka tidak berpacaran, tapi gadis itu sengaja mengabaikannya dan malah mengalihkan pembicaraan pada hal lain.
"Bagaimana ujianmu, Watanuki-kun?"
Watanuki mengeluh, "Uh... ujian ini membunuhku."
"Idiot."
"LIHAT SIAPA YANG BICARA?!"
Himawari-chan tertawa, "Aku juga kesulitan sewaktu ujian matematika."
"Kau dengar?" serunya sambil menjulurkan lidah.
"Bagaimana kalau kita belajar bersama?"
"Itu ide yang bagus sekali, Himawari-chan! Aku akan membuat cemilan dan kita bisa memakannya bersama-sama."
"Aku ingin mochi."
"Aku hanya membuatnya untuk Himawari-chan. Lagi pula tidak ada yang mengajakmu!"
"Doumeki-kun, apa kau keberatan jika kita belajar di tempatmu?"
"Tidak masalah."
"Himawari-chaaan..." Watanuki mengerang sambil menjambak rambutnya. "Kenapa, kenapa harus rumah Doumekiiiii!"
"Berisik," Doumeki menyumbat telinganya.
"Karena rumah Doumeki-kun kuil, rumahnya sangat besar dan nyaman dipakai tempat belajar."
"Uh..."
"Bagaimana jika nanti sore? Aku ada rapat osis sepulang sekolah, jadi aku bisa menyusul setelah itu."
"Tentu, Himawari-chan..." kata Watanuki, kembali ceria. Ia tidak peduli bahkan jika harus pergi ke neraka, atau yang lebih buruk, ke rumah Doumeki, demi Himawari-chan.
Seperti biasanya, Doumeki mengantarnya pulang. Setelah insiden waktu itu—Watanuki tidak ingin mengingatnya lagi—keadaan menjadi lebih tenang. Tidak ada lagi yang protes saat Doumeki mengikutinya seperti anjing doberman; tanpa ekspresi, penuh deteminasi, dan menusukkan tatapan tajam pada siapapun yang berusaha mendekatinya dengan cara yang tidak disukainya.
"Apa yang kau tunggu, pulanglah."
"Aku akan menemanimu, kau akan pergi ke rumahku, lagi pula."
Watanuki melancarkan tatapan marah. "Aku bisa berangkat sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu, dan aku bukan anak kecil!"
"Hn. Bahaya jalan sendirian."
Watanuki mendorong Doumeki keluar pagar. "Rumahmu dekat, hanya perlu beberapa menit. Berjalan kesana tidak akan membunuhku! Kau over protektif. Memangnya aku kekasihmu?! Aku bukan PEREMPUAN, IDIOT!"
Doumeki menurunkan tangannya dari telinga, mempertimbangkan sejenak, lalu mengangguk. "Jika kau tidak datang tepat waktu, aku akan datang menjemputmu."
"Memangnya kau ayahku! Pulang sana!" sambil berseru begitu, Watanuki berderap masuk ke dalam rumah.
"Ara... ara... baru pulang sudah marah-marah..."
"Salahkan Doumeki!"
"Memangnya Doumeki kenapa? Apa dia menciummu lagi?"
"Ap—KENAPA KAU BISA BERPIKIR BEGITU!" jaritnya.
"Jadi benar atau tidak?"
"BUKAN URUSANMU!"
"Jadi, benar karena kau tidak menyangkal."
"Akkhh!"
Kohane tertawa kecil di belakang Yuuko. Dengan muka merah padam, Watanuki bergegas menuju dapur. "Ara... ara... apa kau akan membuat sesuatu, Kimi-chan?"
"Uh... aku dan Himawari-chan akan belajar kelompok di rumah Doumeki. Kupikir aku akan membuat sedikit cemilan..."
"Kebetulan sekali!" seru Yuuko sambil berputar-putar senang. "Kau bisa mengambil sake pesananku pada Haruka!"
"Sake? Haruka?"
"Oh... jangan konyol, memangnya dari mana selama ini aku mendapatkan persediaan sake ku."
"Memangnya dari mana?"
"Tentu saja dari kakek Doumeki!"
"Ap—apa?"
"Dan juga, Haruka-san suka makan yaki gyoza, jangan lupa juga membuat kecapnya! Sisakan juga untukku!" Wanita itu menyentuh ujung hidung Watanuki sebelum berputar dan masuk ke dalam kamar dengan langkah mabuk.
"Yuuko-san~" keluh Watanuki, sepertinya dia akan berakhir dengan membuat banyak makanan.
xxXxx
Watanuki menelungkupkan diri di atas tatami, kelelahan. "Kau baik-baik saja, Kimihiro-kun?" tanya Kohane sambil merunduk menatapnya. Watanuki mendongak dan mengerang. "Aku baik-baik saja, Kohane-chan. Cuma kelelahan, siapa juga yang mencoba membuat yaki gyoza, mochi dan lain-lain di waktu bersamaan."
"Tapi kau berhasil membuatnya," katanya sambil mengamati kotak bekal di meja.
"Uh," Watanuki merapikan yukatanya dan mengangkat kotak bekal itu di atas kain sebelum mengikatnya menjadi furoshiki.
"Kurasa kau harus bergegas jika tidak ingin Doumeki-san menjemputmu."
Watanuki memandang jam dan mengumpat. "Aku pergi, Kohane-chan!"
"Ah!" Kohane membuka mulut, lalu menutupnya kembali sambil tersenyum, melihat pemuda yang dianggap kakaknya itu berlari pergi. "Tapi, Kimihiro-kun... kau lupa melepaskan celemekmu, dan yukata dengan celemek terlihat lucu sekali," ia tertawa diam-diam.
Watanuki berdiri terpaku di depan pintu masuk, diam-diam mengamati halaman kuil. Tanpa sadar mulutnya menga-nga, ia belum pernah masuk ke dalam kuil sebelumnya, sekalipun mereka bertetangga. Biasanya ia hanya pergi ke kuil saat memanjatkan doa tahun baru di kuil di puncak gunung. Takut-takut ia berjalan masuk.
"Oi," suara monoton itu membuatnya terlonjak.
"Aku punya nama, idiot, dan terakhir kali ku ingat, namaku bukan 'oi!'" Doumeki memakai gi dan hakama hitam, seperti pakaian itu sudah menjadi pakaian sehari-harinya, ia memegang sapu.
Mata Doumeki mengamati, "Apa kau sedang melawak?"
"Hah?"
Ia menujuk. "Celemek."
Watanuki menarik lepas celemeknya dengan wajah merah seperti tomat. "Ini salahmu, idiot! Jika kau tidak membuatku buru-buru, aku tidak akan terlihat konyol!"
"Kau selalu terlihat konyol."
"APA—"
"Masuk. Kau hanya akan mengganggu tetangga."
Watanuki menggigit bibirnya, berjuang untuk tidak menggigit Doumeki. Ia mengikuti pemuda itu dengan langkah marah dan tatapan yang mampu melubangi batok kepala.
Di dalam rumah, ia disambut oleh kakek dan nenek Doumeki.
"Kau pasti Kimihiro-kun?" sapa Haruka.
Watanuki mengerjapkan mata. Pria tua itu mirip Doumeki dalam banyak arti, tapi memiliki senyum hangat yang akan terlihat menjijikkan pada Doumeki. Rambut abu-abunya alih-alih membuatnya tampak tua, malah menonjolkan ketampanan masa mudanya yang masih tersisa. Mata emasnya mirip seperti Doumeki, tapi tampak seperti mengetahui hal-hal yang tersembunyi.
"Doumeki-san," sapanya.
"Haruka saja."
"Haruka-san," katanya sambil mengangguk sopan.
Nenek Doumeki maju dan menggenggam tangannya. "Senang sekali bisa bertemu denganmu, Kimihiro-kun. Shizuka banyak bercerita tentangmu, sebanyak yang bisa dilakukannya, tentunya. Kau tahu sendiri dia sedikit pendiam. Kau bisa memanggilku Fubuki," ia tampak anggun dalam balutan kimono tradisional.
"Fubuki-san," katanya sopan. Watanuki melemparkan pandangan heran pada Doumeki. Doumeki? Bercerita tentangnya? Kuharap dia tidak menceritakan hal aneh-aneh! Awas jika begitu, ia tidak akan mendapatkan makan siang selama sebulan!
"Ah... ini sedikit oleh-oleh, kudengar Haruka-san senang makan yaki gyoza?"
"Itu favoritku."
"Oh!" Fubuki-san melemparkan pandangan cepat pada cucunya. "Seperti yang kudengar, kau pandai memasak."
"Yang terbaik," sahut Doumeki, menjengkelkan karena terdengar bangga walau dalam wajah tanpa ekspresinya.
"Biarkan mereka, Fubuki. Mereka akan belajar kelompok," ada sesuatu dalam suara Haruka-san yang mencurigakan. Watanuki merundukkan tubuh dengan sopan, lalu mengikuti Doumeki menuju ruang belajarnya.
"Dia anak yang sangat sopan," komentar Fubuki.
Haruka mengangguk. "Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali saat ia masih kecil. Tapi aku tidak menyangka ia tumbuh menjadi pemuda berperawakan halus seperti itu."
Fubuki tertawa pelan, "Tidak heran Shizuka..."
Haruka mengangguk, menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya sebelum mengikuti istrinya menuju dapur, ada Yaki Gyoza menunggunya.
Sementara itu, di ruang belajar Doumeki, Watanuki mengeluarkan bukunya.
"Oi."
"Namaku bukan Oi!"
"Apa kau membuat mochi?" ia bertanya sambil menatap kotak bekal.
Watanuki menghela napas, "Kita bahkan belum mulai dan kau sudah ingin makan?! Lagi pula aku membuatnya khusus untuk Himawari-chan! Jadi sebaiknya kau menunggu Himawari-chan datang sebelum menyentuhkan jari-jarimu ke kotak bekal—apa kau mendengarkan?" Kimihiro memukul tangan Doumeki yang bergerak diam-diam.
"Mochi."
"Diam!" Watanuki berusaha mengabaikannya.
"Mochi," bisiknya di telinga Watanuki.
"Akhhh! Bisakah kau menjauh!"
"Kunogi tidak akan datang."
"Apa? Kenapa? Bagaimana kau bisa tahu?"
"Dia menelepon, tentu saja. Katanya dia masih ada urusan osis."
Watanuki mengerjap, "Tapi kau tidak punya ponsel."
"Tentu saja aku punya, idiot."
"Tapi kenapa Himawari-chan bilang kau tidak punya?"
"Mana aku tahu. Mochi."
Watanuki membuka kotak bekalnya sambil berpikir, apa diam-diam Himawari sengaja? Kenapa?
Doumeki membuka mulutnya dan Watanuki menyuapinya, membuat pemuda itu membelalak terkejut, tapi tetap mengunyah. Ia selalu berharap Himawari-chan suka padanya, tapi setelah rumor bahwa ia gay, dan berpacaran dengan Doumeki, gadis itu tampak tidak terganggu. Setelah dipikirkan kembali, dia malah kelihatan senang!
"Lagi."
Watanuki mengambil mochi yang lain dan menyuapkannya lagi pada Doumeki—saat itu Fubuki-san masuk ke dalam ruangan sambil membawa teh. Watanuki membeku, tersadar dengan apa yang dilakukannya. Doumeki menangkap tangannya, mengarahkan mochi ke dalam mulutnya dan mengigitnya besar-besar. Wajahnya merah padam, sementara Doumeki masih tidak merubah eskpresinya. Ia melemparkan pandangan garang pada Doumeki sambil berjuang menarik tangannya, tapi Doumeki tidak melepaskannya. Pada akhirnya, Doumeki melepaskannya setelah ia menjilat—menjilat—sisa-sisa selai di jari-jari Watanuki.
Fubuku-san meletakkan tehnya di depan mereka. Diam-diam Watanuki melirik, penasaran dengan reaksi nenek Doumeki, dan mendapati wanita itu sedang tersenyum misterius pada cucunya. Ia mengalihkan tatapannya dan bersirobok dengan mata emas Doumeki yang berkilat aneh. "Apa?" desisnya. Ia merasakan udara tiba-tiba menjadi berat.
Doumeki menyesap tehnya, tidak mengalihkan tatapannya.
"Nikmati tehnya, anak-anak," kata Fubuki-san sebelum pergi.
"Te-terima kasih, Fubuki-san," lalu ia menutup mukanya, mengerang dan bergelung seperti bola, "Oh tidak tidak tidak tidak tidak tidak—"
"Berisik."
Watanuki menoleh marah, "Nenekmu pasti berpikiran aneh-aneh! Apa yang sudah kulakukaaaan...!"
"Kau tidak perlu malu begitu, dia berpikiran terbuka pada gay."
"AKU BUKAN GAY!"
"Berisik, kapan kau akan mulai belajar."
"Kau yang membuatku tidak bisa konsentrasi!" Watanuki mengambil bukunya kembali, "Dan soal ini benar-benar membuat pusing!"
"Yang mana?"
"Ini—" Doumeki duduk tepat di belakangnya, melingkupinya dengan panas tubuhnya, seakan-akan Watanuki sedang berada di pangkuannya. Matanya melebar saat tangan Doumeki terjulur untuk membalik halamannya; gerakannya mengusap sepanjang lengan Watanuki dan mengirimkan aliran listrik di sepanjang tulang belakangnya. Sebelah tangannya dengan santai menyusup ke pinggangnya, mengusapnya hingga membuat Watanuki menggigil. "Doumeki," Watanuki mengernyit, mendengar suaranya sendiri memanggil nama rivalnya dengan cara yang aneh.
"Hm?" jari-jari itu tidak berhenti.
"Oh," bisiknya sambil mengigit bibir, "Perhatikan tanganmu! Dan kau terlalu dekat, Doumeki!" ia bisa merasakan wajah dan telinganya panas. Watanuki menjauh sambil memeluk dirinya sendiri, berusaha keras melenyapkan sensasi sentuhan itu. "Kenapa kau melakukan itu?"
"Melakukan apa?"
"Melakukan yang baru saja kau lakukan!" mukanya merah padam.
"Nyamuk."
"Apa?"
"Ada nyamuk disana."
Watanuki memandangnya dengan menga-nga, "Sekarang masih terlalu dingin untuk nyamuk! Kau pikir bisa membodohiku?"
"Kau memang idiot." Doumeki mengalihkan pandangannya kembali ke buku, "Kau bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan gampang dan salah menggunakan rumus."
"Eh?"
"Coba lihat," Doumeki menuliskan dengan cepat di sebelah jawaban Watanuki.
"Aku membencimu, Doumeki," bisiknya.
"Hn?"
"Kau menyelesaikannya dengan mudah!"
"Itu hanya karena kau terlalu bodoh."
"APA?! Kau baru saja menghinaku? Watanuki-sama?! Kau ingin aku tidak membuatkanmu bekal selama seminggu?"
Doumeki tersenyum miring, tidak menanggapi, "Coba selesaikan yang lain," katanya sambil menarik diri, memberikan ruang untuk Watanuki. Tak memakan waktu lama sampai mereka sibuk dengan soal masing-masing. Sudah berjam-jam saat Watanuki akhirnya mengeluh, "Uh... kenapa aku harus menghabiskan waktu berhargaku bersamamu... kenapa tidak bersama Himawari-chan saja..." ini tanda bagi Doumeki bahwa sudah waktunya menutup buku mereka.
"Kau mau kemana?"
"Hn. Tunggu disini."
Watanuki memutar bola matanya mendengar jawaban khas Doumeki yang tidak menjelaskan apa-apa. Ia menguap. Cuaca cukup bagus di luar, dan semilir angin yang masuk lewat pintu shogi terbuka membuatnya mengantuk. Watanuki merangkak mendekati beranda luar, dan membaringkan diri disana, menikmati semilir angin.
Saat Doumeki kembali sambil membawa potongan semangka, Watanuki sudah tertidur pulas. Selalu tanpa pertahanan diri, pikir Doumeki. Tidur di tempat seperti ini. Seharusnya ia lebih berhati-hati, tapi memang pertahanan diri secara alami tidak ada pada Watanuki. Doumeki mengangkat tubuh ramping itu dengan mudah, Ia bisa merasakan tulang dan kehangatan di balik yukatanya yang tipis.
"Ah... dia tertidur?" kata Haruka yang berpapasan dengannya di koridor.
"Hn."
"Kamar Kimihiro sudah dibersihkan."
Doumeki menatap kakeknya dengan pandangan berkilat.
"Sudah kubilang aku setuju dengan keputusanmu," Haruka menatap wajah tidur Watanuki, "Aku sangat menyukainya, begitu juga nenekmu, dan aku bertaruh juga Akane. Dia anak yang sangat menyenangkan."
"Watanuki belum mengetahuinya."
Haruka mengangguk. "Lakukan saja dengan perlahan. Toh, Yuuko sudah setuju."
Doumeki mengangguk dan membawa kekasihnya menuju bagian lain rumahnya yang terpisah.
xxXxx
Watanuki terbangun tiba-tiba. Terkejut saat melihat cahaya lampu kamar berada di tempat yang salah, lalu tersadar jika ia tidak tidur di kamarnya. "Kau bangun?" Doumeki masuk dan menggeser kembali pintu dibelakangnya.
"Aku ketiduran!"
"Seperti putri tidur."
"Apa?!"
"Menginaplah, aku sudah menelepon Yuuko-san."
"Kau tahu nomor telepon Yuuko?!"
"Kakekku tahu. Ayo, semuanya sudah menunggumu makan malam."
"Eh?"
"Ibuku ingin bertemu denganmu."
Tiba-tiba Watanuki merasa gugup. "Uh." Watanuki mengerutkan kening. Ia merasa seperti gadis yang akan menemui ibu mertuanya. Ibu mertua apaan!
Seluruh anggota keluarga Doumeki sudah berkumpul. Ibu, kakek dan neneknya. Mereka menyambutnya dengan hangat dan memberinya kursi di sebelah Doumeki. "Apa ayahmu masih bekerja?" bisik Watanuki.
Pandangan Doumeki menatapnya sekilas sebelum beralih kembali ke makan malamnya, "Orang tuaku bercerai."
"Oh!" Watanuki berkata dengan lebih lembut, "Maafkan aku."
"Hn."
"Tidak bisakah aku mengatakan sesuatu berupa kata-kata?!" desisnya.
"Idiot."
"Yang kumaksud bukan makian, tolol."
Tawa Haruka dan yang lain menyadarkan Watanuki jika mereka diperhatikan, pipinya merona. Doumeki hanya mendengus di belakangnya, mulai makan.
"Bahkan kalian bertengkar dengan akrab," komentar pria tua itu.
"Kami tidak akrab!" seru Watanuki lebih karena refleks. Wajahnya semakin merona.
"Idiot."
"Kimihiro-kun, aku senang sekali kita bisa bertemu. Sudah lama sekali aku ingin bertemu Kimihiro yang selalu diceritakan Shizuka!" ibu Doumeki tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya dan matanya membentuk senyum riang. Peringainya sama sekali tidak mirip Doumeki, seandainya Haruka-san tidak mirip Doumeki, Watanuki akan ragu dia bagian dari keluarga ini!
"Eh, Dou—Shizuka juga sering menceriakan tentangku pada anda, Doumeki-san?" ia melirik Doumeki dengan garang, "Kuharap dia tidak menceritakan hal aneh-aneh."
"Kau memang aneh."
Watanuki mendesis.
Ia tertawa, "Panggil saja Akane! Kau akan membuatku tampak tua dengan panggilan Doumeki, sementara kau memanggil yang lain dengan nama kecil mereka!"
"Ah. Ya, Akane-san."
"Jadi," ada nada geli dalam suaranya, "Kalian sering bertengkar seperti pertunjukan komedi?"
"Komedi? Uh... Hanya karena si bodoh ini selalu menggangguku."
"Sering bertengkar itu bagus," kata Haruka, "Itu menunjukkan kalian tidak khawatir akan menyakiti satu sama lain dan membuktikan jika kalian saling pecaya dan tahu kalian berharga bagi satu sama lain."
"Oh," Watanuki menggeliat. "Tapi kami tidak seakrab itu..." Watanuki menggeleng-gelengkan kepala. "Shizuka selalu membuatku marah-marah, dan kami menghabiskan waktu hanya untuk bertengkar," juga berbagi ciuman. Watanuki merona mendengar pikirannya sendiri. Ekspresinya tertangkap oleh yang lain, membuat mereka tersenyum lembut dan tertawa diam-diam.
Di sebelahnya, Doumeki mengamatinya dari sudut matanya. "Idiot."
"Nah, lihat, seperti itu. Dia tidak mengatakan apapun, lalu tiba-tiba memakiku," Watanuki mendesah, "Seandainya saja dia memiliki sedikit kepribadian anda, Haruka-san. Tidak hanya wajahnya."
"Oh, jadi kau menyadari kemiripan kami?!"
Watanuki mengangguk, tersenyum kecil.
"Oh, Haruka sewaktu muda mirip sekali dengan Shizuka, Kimihiro-kun," seru Fubuki. "Mereka seperti duplikat!"
"Bukankah itu membuatku akan jadi sepertimu saat tua?" kata Doumeki dengan ekspresi datarnya.
"Mana mungkin!" sembur Watanuki. Mukanya merah padam.
Doumeki menatapnya. "Aku juga akan dewasa, idot. Jangan samakan aku dengan kakekku."
"Ap-aku—aku tidak pernah membanding-bandingkan kalian!"
"Ya, kau melakukan itu."
"Ma... ma..." Haruka melerai, tawa kecil lolos dari bibirnya, "Kurasa rumah ini akan semakin hidup jika kau tinggal di tempat ini, Kimihiro-kun."
"Eh...?"
"Sering-seringlah datang kemari, aku senang jika kita bisa masak bersama, tentu jika aku tidak sibuk." kata Akane-san.
Selesai makan, Fubuki yang sudah memanaskan air menyuruhnya mandi. Doumeki mengambilkan yukata bersih miliknya. Keluar dari kamar mandi, ia menemukan Doumeki sedang mengamatinya sambil memakan sisa mochi. Akane duduk di ujung meja sambil minum teh, sedangkan Haruka di ruang sebelah, menonton TV bersama istrinya. Mata Doumeki membelalak melihat bagaimana kulit pucat, leher jenjang dan tubuh rampingnya terlihat dalam balutan yukata miliknya yang kebesaran. Tapi bukan itu yang menganggu Watanuki. "Kau!" salaknya, ia meraih wadah mochi dan mengamankannya, "Jangan makan cemilan sehabis makan malam. Aku tidak mengerti mengapa kau tidak mengalami obesitas karena kebiasaanmu!"
"Hn. Aku biasanya tidak makan cemilan saat malam."
"Lalu kenapa sekarang kau makan?" sebagai gantinya, Watanuki menyeduhkannya teh hijau. Doumeki meminumnya dengan bersyukur, itu terlihat dari matanya yang sedikit melebar dan ujung bibirnya yang sedikit naik ke atas. Sejak kapan ia mampu memilah ekspresi Doumeki?
"Itu karena kau membuatnya, idiot."
"Huh. Bukan berarti jika aku membuatnya, maka kau harus memakannya sekaligus. Kau bisa memakannya nanti, kau dengar, kenapa kau selalu menutup telingamu saat aku bicara padamu!"
"Berisik."
"Kalau kau tidak mau aku berisik berhenti bersikap bodoh—"
"Jika kau terus bicara, aku akan menciummu."
Watanuki terbelalak, membeku, dan terdengar suara tuk keras dari cangkir Akane-san yang kaget. "Kau!" pipinya memerah seperti tomat. "Berhenti bicara mesum!" jeritan Watanuki memecah keheningan malam.
Menahan rasa malunya, Watanuki pergi ke kamarnya. Doumeki berjalan tak jauh dibelakangnya. "Jangan mengikutiku!"
"Aku juga mau tidur."
Watanuki berputar, "Ini kamarmu?" melihat sekeliling, "Ini tidak terlihat seperti kamar mu."
"Hn, bukan memang," Doumeki berjalan ke sisi lain ruangan dan membuka pintu geser, "Disini kamarku."
"Oh." Lalu kengerian muncul di mukanya, "Bukankah itu berarti ini memang kamarmu? Itu hanya pintu geser yang memisahkannya!"
"Hn. Aku biasa menggunakan ruangan ini sebagai ruang rekreasi." Watanuki mengamati memang banyak rak-rak buku dan PS3. "Mulai sekarang kau bisa memakai ruangan ini jika berkunjung. Sedikit demi sedikit aku akan memindakan barang-barangku."
"Eh? Kenapa kau harus memindahkan barangmu?"
Mata Doumeki berkilat. "Aku senang saat kau memanggilku Shizuka."
"Huh!" muka Watanuki merona. "Itu hanya karena aneh rasanya saat aku memanggilmu Doumeki sementara aku memanggil kakekmu Haruka. Dan kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Tidurlah," sambil berkata begitu, ia menutup pintu geser.
"Doumeki! Lagi-lagi kau tidak menghiraukanku!"
Watanuki terduduk di futon. Agak bingung dengan pandangan misterius yang sering dilemparkan seluruh anggota Doumeki satu sama lain. Terlebih ia punya perasaan ini berhubungan dengannya.
Keesokan harinya, Watanuki bangun lebih awal dibandingkan yang lain. Ia tidak suka bangun setelah seseorang menyiapkan sarapan untuknya, terutama saat ia menjadi tamu. Sebagai balasan atas perlakuan baik keluarga Doumeki, Watanuki berinisiatif untuk menyiapkan sarapan. Bahan-bahan lengkap ada di lemari es, dan setelah membantu membereskan makan malam kemarin, ia tidak kesulitan menemukan peralatan yang dibutuhkannya.
Akane-san masuk ke dapur diikuti Haruka-san dan Fubuki-san, "Ah, selamat pagi, Kimihiro-kun."
"Selamat pagi. Ah, aku harap kalian tidak keberatan jika aku memasak untuk kalian?"
"Tentu saja tidak," sahut Haruka. "Masakanmu luar biasa."
Watanuki tersenyum tulus, "Terima kasih. Aku senang kau menikmatinya, Haruka-san."
"Kami semua menikmatinya, Kimihiro-kun," sahut Fubuki. Akane mengangguk setuju.
"Ah, selamat pagi, Shizuka," sapa Akane.
Doumeki dengan tampang mengantuk masuk ke dapur. Dia menguap sambil menggosok belakang kepalanya. Watanuki membelalakkan mata, untuk pertama kalinya melihat sisi lain Doumeki selain misterius, berwajah poker dan bermulut menyebalkan. Pemuda itu tampak santai, dan lebih manusiawi, dengan rambut acak-acakan dan kaos lusuh. Lebih mengejutkan lagi, ia menjawab salam sambil tersenyum pada ibunya. Senyum yang tulus, bukan senyum mengejek atau senyum miring!
"Pagi, Kimihiro," katanya sambil menghampirinya di konter dengan muka mengantuk, dan mengejutkan, sangat mengejutkan, saat pemuda itu melingkarkan lengannya ke pinggangnya, menariknya rapat dan mengecup ringan puncak kepalanya. Gerakan itu dilakukan dengan cepat, membuat Watanuki terhuyung saat ia melepaskannya.
"Ap-Dou—Shizuka! Apa yang kau lakukan!?"
"Sepertinya dia masih setengah tertidur?" kata Akane sambil melemparkan pandangan misterius itu lagi pada anggota keluarga yang lain. Doumeki hanya mendengus dan berjalan ke meja makan, mengambil teh.
"Kau bangun pagi sekali, Kimihiro-kun," kata Haruka.
"Ah, aku harus segera pulang sebelum berangkat sekolah."
"Ah... ya, tentu saja."
"Aku akan mengantarmu."
"Apa?! tidak. Kau tidak perlu mengantarku! Berhenti bersikap seperti itu, Shizuka! Aku bukan perempuan!"
"Oh, biarkan Shizuka mengantarmu, Kimihiro-kun."
"Tapi, Haruka-san~"
"Dia keras kepala. Dia tidak akan mendengarkan mu."
"Aku tidak bisa mengerti apa yang ada di otakmu, Shizuka!"
"Itu karena kau idiot!"
"Kau—"
Haruka kembali menikmati sarapannya dengan lahap. Seperti dugaannya, rumah mereka menjadi sangat hidup dengan adanya Kimihiro. Ia menantikan mendengarkan pertengkaran yang lucu ini setiap pagi. Sambil menyesap tehnya, Haruka membatin, Pilihan yang bagus Shizuka.
Next chapter coming soon
Di tunggu Review nya :D
