Ai no Ame Ga Furu
Bleach belong to : Tite Kubo
Story belong to : LR (me)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama, Melodrama, Humor, Family, Friendship, Poetry, Parody, Mystery, Angst, Suspense.
Pairing : IchigoxRukia (will show slight each other with other)
...
''Hahaha~ Kau kenal Rukia?'' tanya Hisagi.
''Tentu saja! Orang ini yang sudah menubrukkan segala apa pun yang bisa ditubrukkan padaku!'' ujar Rukia begitu kesal.
'Menubruk apa pun yang bisa ditubrukkan?' batin Ichigo.
Ichigo melirik cara berpakaian Rukia yang sempat familira baginya itu, ditambah lagi dengan ukuran tubuh yang jauh dari kata ideal untuk seorang gadis ataupun mahasiswa.
Tak lama kemudian, ''Kau kan gadis cebol yang tadi!'' teriak Ichigo balas menunjuk Rukia.
Gadis yang dipanggil 'cebol' oleh laki-laki yang menurutnya telah memberikan kesan buruk dihari pertamanya sebagai seorang mahasiswi diKarakura University itu pun tak terima dengan nama panggilan yang sangat menyindir dirinya barusan.
''A-Apa kau bilang?'' ketus Rukia.
''Sadis sekali kau Ichigo berkata begitu,'' ujar Ishida datar sambil memantau laptopnya yang baru saja dikirimi sebuah email. Tidak usah dibahas email dari siapa karena tidak terlalu penting.
''Apa? Memang benar kan dia cebol?'' tanggap Ichigo sambil menatap tajam Rukia yang terlihat masih kesal.
Dilihat seperti itu Rukia semakin tidak suka dengan tatapan tajam dari Ichigo yang seolah sangat meremehkan dirinya, ''Ish! Kau... dasar BUNTALAN ORANGE GILA!'' teriak Rukia begitu keras.
Dibandingkan dengan teriakkannya kepada Grimmjow, kedengarannya teriakkan yang kali ini jauh lebih besar. Hal itu dapat dibuktikan dari bagaimana cara seluruh mahasiswa Karakura yang tengah berada didalam ruangan kantin Indoor tersebut melirik kearah meja tempat berkumpul Ichigo dengan yang lain.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
''Wahahahahahahahahahahahaha!'' tawa mahasiswa satu kantin itu pun membahana.
''Apa katanya tadi? Buntalan orange? Hahahahaha~'' ujar salah satu mahasiswa yang tengah berada disana.
Tidak hanya mahasiswa yang tidak Ichigo kenal, bahkan teman-temannya sendiri yang sudah dekat dengannya itu pun ikut tertawa.
''Hahahaha~ Buntalan orange? Bahkan terfikirkan olehku untuk menggunakan hinaan seperti itu kepadamu saja tidak pernah Ichigo!'' ujar Ishida yang masih tertawa. Niat untuk membalas emailnya itu pun jadi tertunda karena kejadian yang tak diduga ini.
''Ugh! Diam kau!'' ketus Ichigo begitu marah dan... Malu...
Grimmjow yang masih asik tertawa sambil memegangi perutnya itu pun turut menggoda Ichigo, ''Hahahaha~ Baru kali ini aku melihat ada buntalan jeruk sedang marah-marah! Malu-malu lagi! Hahahaha~''
''Berisik kau!'' Ichigo semakin terlihat kesal, karena ucapan sang gadis pendek tadi-lah dirinya jadi dipermalukan.
''Dasar kau cewek pendek bodoh! Ini semua gara-gara kau!'' balas Ichigo lagi tak mau kalah.
Lagi-lagi diusik masalah tinggi badannya itu, membuat sang gadis bertambah emosi. Tak pernah semasa hidupnya ia dibuat sekesal ini oleh seseorang yang sama sekali belum pernah ia kenal sebelumnya.
''KAU INI ー'' baru saja Rukia akan membalas ejekkan selanjutnya yang telah terpintas didalam otak, tiba-tiba saja sebuah suara yang sangat ia kenal terlintas...
'Hitung sampai sepuluh tenangkan dirimu,' suara seorang perempuan yang sangat ia sayangi tengah memasuki otaknya.
Tak hanya itu, suara seorang laki-laki pun tengah terngiang ditelinganya, 'Kalau perasaanku sedang tidak enak biasanya aku akan memejamkan kedua mataku dan menarik nafas dalam-dalam, dengan begitu semuanya akan terasa sedikit lebih baik. Kau boleh mencobanya Rukia...'
''...'' Rukia terpaku ditempat. Perlahan menutup matanya dan menarik nafas begitu dalam sambil membatin, 'Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,'
Ichigo dengan teman-temannya melihat tingkah aneh Rukia saat itu. Pastinya terkecuali Grimmjow dan Kaien, lama mengenal Rukia bukan tidak mungkin tidak bisa menebak apa yang tengah Rukia lakukan sekarang.
'Tujuh, delapan, sembilan,'
''Hah! Sudah kalah yah? Atau sedang mencari ejekkan lain ha? Cebol!'' mulut Ichigo yang terdengar seperti perempuan itu mulai terbuka lagi.
'Sepuluh...' Rukia kembali menarik nafas begitu dalam kemudian membuka kedua matanya secara perlahan. Dan sosok yang pertama kali ia lihat tidak lain dan tidak bukan adalah, Ichigo Kurosaki.
Ichigo mengangkat kedua alisnya, melihat tatapan mata Rukia yang sama sekali tidak lagi terlihat emosi, marah ataupun tatapan kebencian lainnya yang biasanya akan ditunjukkan seseorang apabila sedang marah.
Masih pada posisinya semula yang tengah menatap Ichigo biasa sambil berdiri didepan meja dimana disana terdapat Ichigo, Hisagi, Ishida dan Orihime tengah berkumpul, Rukia berkata, ''Kaien, ayo makan es krimnya~''
''Ah? Oh! Iya ayo, kita makan disana saja yuk!'' ajak Kaien yang sudah berjalan menuju sebuah meja kosong dikantin itu.
Kaien juga sepertinya tidak mau mengganggu Rukia yang sudah bersusah payah menenangkan dirinya tadi. Jadi, dia memilih untuk menganggap seolah disana tidak terjadi apa-apa.
''Aku ikut!'' Grimmjow baru saja keluar dari barisan meja kumpul Ichigo dengan teman-temannya.
''Hei! Mau kemana? Disini masih ada beberapa bangku kosong kok! Kalian disini saja,'' Hisagi mencoba menahan ketiga manusia yang baru saja berjalan menjauh itu.
Kaien membalikkan tubuhnya, ''Tidak bisa, nanti yang ada malah bertengkar lagi.'' katanya datar.
''Tidak akan! Kalau bertengkar lagi biar aku beri 'buntalan orange' ini pelajaran!'' tutur Ishida dengan sebuah penekanan pada kata-kata 'Buntalan Orange' tadi.
Ichigo melirik Ishida dengan tampang juteknya. Tak mau ambil pusing, laki-laki itu ーIchigoー lebih memilih untuk diam dan menghabiskan makan siangnya yang sempat tertunda.
Kaien dan Grimmjow melihat kearah Rukia, seolah tengah meminta persetujuan gadis bertubuh mungil itu. Bagaimanapun juga mereka berdua sangat menghargai apapun itu keputusannya.
Sadar kedua mantan Senpainya itu tengah melihat kearahnya, Rukia hanya menanggapi dengan sebuah anggukkan kecil.
''Kau serius? Kalau semisalnya kau menerima tawaran itu hanya karena tidak enak pada mereka, lebih baik tidak usah.'' bisik Grimmjow ditelinga Rukia.
''Tidak kok, sungguh~'' jawab Rukia sembari tersenyum meyakinkan.
Grimmjow mencoba menatap dalam kedua mata Rukia, apa sedang berbohong atau tidak. Dan setelah meyakinkannya, jawabannya adalah tidak...
''Baiklah, ayo...'' ajak Grimmjow sembari menarik tangan Rukia pada genggamannya. Menuntun sang gadis manis beberapa langkah mendekati meja yang hampir setiap jam istirahat selalu ia tempati bersama dengan teman-teman sefakultasnya itu. Sepertinya memang sudah menjadi tempat favorite. Dan seolah sudah ada sebuah sticker ataupun lebel yang serupa tertempel dimeja itu bertuliskan 'Jangan ditempati/ VVIP Only', tidak pernah ada mahasiswa lain yang berani menduduki tempat itu.
''Heh Grimm! Jangan curi-curi kesempatan yah! Mentang-mentang kedua tanganku sedang membawa es krim!'' kata Kaien jutek ketika melihat aksi Grimmjow yang menggenggam pergelangan tangan Rukia begitu saja, tanpa ijin sang pemilik tangan tersebut.
''Masa bodo~ Lagipula siapa suruh memegangi es krim itu,'' jawab Grimmjow dengan senyum penuh kemenangan.
''Rukia kau bisa duduk disebelahku,'' ajak Orihime sambil mempersilahkan bangku kosong disebelahnya.
''Tidak! Rukia disampingku saja ー''
''Oh! Terimakasih yah Orihime~'' potong Rukia atas kata-kata Grimmjow. Jujur saja ia paling tidak enak jika harus menolak tawaran halus dari orang lain kepadanya.
''Rukia...!'' Grimmjow merasa sebal.
''Apa?'' saut Rukia datar seolah tak terjadi apa-apa dan tidak menebak maksud Grimmjow.
''Nah, ini es krim-mu Rukia!'' Kaien menyerobot satu lagi tempat kosong terakhir yang masih tersisa disebelah kiri Rukia.
Grimmjow tercekat melihat Kaien yang tiba-tiba saja menerobos dirinya untuk duduk disamping Rukia, ''Hei! Harusnya aku yang duduk disitu!''
''Masa sih? Tadi kan kau duduk disitu.'' kata Kaien sambil menunjuk satu kursi kosong didepannya, disamping deretan Ichigo.
''Tidak bisa! Pokoknya minggir!'' Grimmjow menarik-narik lengan Kaien agar mau pindah dan membiarkannya duduk disamping Rukia.
''Grimm berisik!'' Ichigo menatap Grimmjow kesal. Ia merasa acara makan siangnya sangat terganggu dengan suara Grimmjow.
''Apa? Kau mau berkelahi ー''
''Grimm! Sudah!'' bentak Rukia.
Baiklah, sepertinya Rukia sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Setelah dari tadi pagi mengalami pagi yang cukup berat, setidaknya siang ini bisa dilewati dengan lebih ringan. Tapi, kenyatannya malah sebaliknya...
Rukia begitu terengah-engah menarik-ulurkan nafasnya. Pancaran violet dimatanya yang dapat menghangatkan pandangan siapapun yang melihat, saat ini lebih meredup dari biasanya.
Tak mau membuat Rukia merasa kesal lebih jauh, laki-laki berperawakkan berandal itu memilih untuk diam, mengambil langkah menuju tempat kosong disebelah Ichigo untuk duduk, sambil menunjukkan expresi wajah yang begitu menyesal.
Baiklah, ini kesekian kalinya Ichigo dan yang lain melihat Grimmjow terlihat begitu patuh hanya kepada seorang gadis yang bahkan postur badan dan kekuatannya tak menyeimbangi Grimmjow. Mereka keheranan kenapa seorang Grimmjow yang terkenal galak dan keras kepala itu bisa tunduk begitu saja kepada Rukia.
''Maaf...'' ucap Grimmjow masih menyesal. Tak lupa tatapan matanya mengarah kepada Rukia.
''Kau ini kenapa sih? Tumben sekali terlihat aneh seperti itu...'' tutur Ichigo sambil mengaduk-ngaduk mie cup-nya yang sedaritadi terasa belum tercampur rata antara bumbu, air serta mie-nya itu sendiri.
Rukia tak merespon ucapan maaf Grimmjow. Sedangkan Grimmjow tak menjawab pertanyaan Ichigo. Mereka berdua masih sama-sama terhanyut dengan apa yang tengah mereka rasakan saat ini.
Rukia masih merasa kesal dengan setengah harinya yang hancur begitu saja dan jauh dari gambaran yang ia harapkan saat akan menjalani hari pertamanya sebagai mahasiswi.
Sedangkan Grimmjow? Dia merasa tidak enak karena sudah menjadi salah satu penyebab emosi Rukia yang keluar begitu saja, padahal sebelumnya Rukia sudah berusaha untuk menahan emosi itu didepan Ichigo.
''Makanlah ini, kau akan merasa lebih baik.'' Kaien menyodorkan es krim strawberry kesukaan Rukia didepan gadis yang masih asik bergelut dengan dirinya sendiri itu.
Seolah telah dibangunkan oleh Kaien, Rukia pun tersadar dari kediamannya, ''Ah? Hm~'' jawab Rukia dengan senyum yang dipaksakan.
Untuk kesekian kalinya walaupun Kaien menangkap senyum palsu dari Rukia itu tapi Kaien mencoba untuk tidak membahasnya, takut-takut Rukia nanti jadi semakin merasa telah menjadi orang yang buruk dihadapannya.
''Oh iya! Hei Hisagi! Kemarin kau bilang Ukitake-san mencariku kan? Tapi sewaktu aku datang dia bilang dia tidak menyuruhku datang menemuinya! Kau menipuku yah?''
Hisagi tertawa geli, ''Oh, itu! Hahaha~ Aku kan tidak bilang bahwa Ukitake-san menyuruhmu datang! Hahaha~'' jawabnya enteng.
''Apa maksudmu!'' tanya Grimmjow begitu kesal.
''Hahaha~ Aku kan hanya bilang Ukitake-san mencarimu, bukan menyuruhmu datang~ Yang menyuruhmu datang kan aku, tidak ingat?'' jelas Hisagi panjang lebar dengan sebuah cengiran besar terlukis diwajahnya kearah Grimmjow.
'Hhh~ Tadi Ukitake-san mencarimu.'
'Cih! Ya sudah temui Ukitake-san saja sana kalau ingin tahu! Sudah ah ini kan bukan urusanku,'
Satu persatu semua kata-kata Hisagi kemarin teringat dikepala Grimmjow ketika laki-laki yang terkenal jahil itu ーHisagiー menjelaskan maksudnya.
''Heiiiii! Hisagiiiii!'' seru Grimmjow yang murka dan telah mengepalkan tangan kanannya seolah siap meninju temannya itu.
''Grimm...'' lagi-lagi Rukia mencoba membuat Grimmjow menghilangkan kebiasaan buruknya yang sangat ringan tangan.
Grimmjow melirik Rukia, ''E-Eh? Hehehe~'' tinju yang tadi hampir saja melayang mau tak mau kini harus ditahan oleh seorang Grimmjow, ''Hhh~'' desahnya.
Ya, kembali... Hal itu membuat Ichigo dan teman-temannya terkecuali Kaien menjadi tercengang.
''Kau suka es krim Rukia?'' tanya Hisagi mencoba menghibur suasana hati Rukia, sekaligus menghilangkan suasana yang sempat sepi sedetik lalu.
Baru saja Rukia akan menyendok sendokkan es krim pertamanya tapi itu semua harus tertunda karena pertanyaan Hisagi, ''Hm? Iya, kau mau coba? Enak loh~'' tawar Rukia yang untuk sejenak sudah terlihat seperti Rukia yang biasa, hanya karena sebuah es krim.
''Ha? Boleh?'' tanya Hisagi berbasa-basi. Tentu saja, untuk menghilangkan kesan yang terlalu mengharapkan tawaran dari Rukia tadi, mau tak mau Hisagi memang harus bertanya demikian dulu.
''Tentu saja, ini~'' Rukia mengeruk sesendok es krim pada sendok digenggamannya.
''Eh! Tunggu dulu!'' Kaien dan Grimmjow menghentikan sebelah tangan Rukia yang tengah asik mengeruk es krim strawberry-nya itu.
''Eh? Ada apa?'' tanya Rukia sambil menatap Kaien dan Grimmjow begitu polos.
''Kau mau menyuapi dia?'' tanya Kaien.
''Dengan menggunakan sendokmu?'' sambung Grimmjow.
Rukia masih tetap pada dirinya yang semula, ''Iya... Kenapa?''
''Kau itu bodoh atau super bodoh sih? Mau menyuapi orang yang belum kau kenal dengan sendokmu. Kalau aku jadi kau, lebih baik aku berikan saja es krim-ku sekalian.'' ujar Ichigo enteng sambil mengunyah mie didalam mulutnya.
Lagi-lagi dibuat kesal Rukia tak mau kalah, ''Kau itu laki-laki atau perempuan sih? Mengomentari orang lain yang belum kau kenal dengan mulutmu yang tajam. Kalau aku jadi kau, aku akan menyekolahkan mulutku lagi diTK.'' Rukia berkata sedemikian juteknya, menatap laki-laki yang tengah asik menikmati makan siangnya itu begitu murka.
Mereka ーKaien, Grimmjow, Ishida, Hisagi dan Orihimeー yang mendengar kata-kata balasan dari Rukia untuk Ichigo itu langsung saja harus menahan tawa. Bagi mereka ini adalah sebuah moment yang paling langka dimana Ichigo Kurosaki bertengkar mulut dengan seorang wanita(?).
Tak usah heran... Sebagai satu-satunya anak laki-laki sekaligus pewaris tunggal Kurosaki Corp. Ichigo sangat terkenal seantero Karakura University. Banyak wanita mengidolakan, memuja, bahkan menginginkan pria yang terkenal dengan sikap dingin, cuek dan seenak jidatnya itu.
Beribu-ribu surat cinta sering sekali memenuhi loker miliknya ketika harus menaruh ataupun mengambil barang-barang miliknya disana. Entah sejak kapan hal itu berlangsung, tapi yang diyakini hal itu dimulai sebelum ia menjadi seorang mahasiswa Karakura University. Itu berarti sudah cukup lama Ichigo memendam kekesalannya terhadap ribuan surat cinta tersebut, termasuk dengan kata-kata didalam kertas yang selalu didominasi warna pink bergambar hati itu yang sukses membuatnya ilfeel. Yang lebih disayangkan, Ichigo tak pernah membalas satu pun dari surat cinta itu.
Tidak hanya wanitanya saja, bahkan laki-laki disana pun juga mengidolakan Ichigo. Tentu saja bukan homo... -_-''
Mereka mengidolakan Ichigo karena bagi mereka Ichigo itu adalah sosok Pria keren yang selalu mengikuti mode. Bersahabat dengan Ichigo pun tak pernah rugi, karena Ichigo sangat menjunjung tinggi yang namanya 'Persahabatan'...
'Laki-laki macam apa dia? Orang yang berattitude seperti ini bisa menjadi salah satu mahasiswa Karakura? Faktor keberuntungan atau main curang?' batin Rukia.
''Apa kau lihat-lihat?'' Ichigo memelototi Rukia yang ia rasa sedaritadi tengah melihat kearahnya.
''Ha? Percaya diri sekali kau, siapa juga yang melihatmu?'' ketus Rukia semakin sebal. Jantungnya berdetak cepat karena sebenarnya daritadi anak perempuan bermata lemon ini benar melihat kearah Ichigo.
''Tidak usah berkilah~ Aku tahu kok,'' Ichigo menyisir mie-nya kembali seraya melihat kearah Rukia dengan tatapan seperti tengah meledek.
Tak mau ambil pusing Rukia kembali melakukan aktivitasnya, memakan es krim.
''Tak jadi menyuapiku Rukia?'' lagi-lagi Rukia harus menghentikan kegiatannya hanya karena lontaran pertanyaan dari Hisagi.
''Kalau mau es krim beli sendiri saja! Jangan minta punya orang~'' kesal Kaien, ''Lagipula kan es krim itu aku yang belikan untuk Rukia! Jadi, kau harus memakannya sendirian mengerti?'' Kaien melirik judes Hisagi kemudian beralih menatap kedua mata Rukia yang berada disampingnya.
Duduk saling berdampingan tentunya membuat tatapan Kaien kepada Rukia jadi terlalu dekat. Dan tentunya lagi-lagi memunculkan semburat merah yang tertangkap oleh Kaien namun tak disadari Rukia.
''E-Eh? I-Iya...'' Rukia buru-buru membuang mukanya, menempatkan posisi kedua mata violet indah itu kepada objek es krim strawberry yang mulai meleleh sebagian.
''Hhh~'' desah Kaien agak kesal.
Ichigo yang sedaritadi terlihat asik menyantap mie cup-nya, tak sengaja menangkap perubahan air muka, tingkah serta rona merah disekitar kedua pipi Rukia. Beberapa menit setelah Ichigo menyadari hal itu pun Rukia melirik kearahnya malu-malu. Mungkin karena Rukia masih terbawa kejadian beberapa saat yang lalu.
Namun sepertinya Ichigo salah mengartikan tingkah Rukia saat ini...
'Anak ini... Sedari tadi memperhatikanku terus...' batin Ichigo sambil mengunyah sesuatu didalam mulutnya, 'Wajahnya... Memerah, apa jangan-jangan...?' Ichigo tersenyum licik, masih sambil menatap Rukia yang berada tepat dihadapannya.
''Eh?'' Rukia mengelus tengkuknya.
''Ada apa Rukia?'' tanya Kaien yang menyadari hal itu.
''Ah? T-Tidak... Hahaha~'' jawab Rukia sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangannya didepan Kaien.
Merasa yakin dengan jawaban Rukia, Kaien pun tak lagi mempermasalahkan.
'Ada apa ya? Atmosfir disekitar sini kok jadi terasa tidak enak sekali...' ucap Rukia dalam hati. Saat mengangkat kepalanya hendak menarik nafas panjang untuk relax, akhirnya ia menyadari mengapa perasaan tidak enak tiba-tiba saja mendatanginya.
Ichigo masih menatap Rukia sambil tersenyum aneh. Sedangkan Rukia menatap laki-laki dihadapannya begitu bingung.
''Apa kau lihat-lihat?'' tanya Rukia menantang.
'Hm... Aku pernah baca dibuku, saat lawan jenismu bertingkah laku aneh, itu tandanya dia sedang menarik perhatianmu. Tentu saja bisa disimpulkan dia... Me-Menyukaiku?' sepertinya Ichigo tengah sibuk bergelut dengan inner miliknya.
'Tunggu dulu! Ini kan baru pertama kali kita bertemu, kenapa dia bisa suka padaku?' Ichigo beralih menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar terlihat seperti orang yang tengah frustasi, 'Tapi coba lihat mukanya, memerah ketika melihat kearahku! Lagipula, aku kan tampan, setiap wanita yang melihatku pun langsung terpesona! Tidak salah lagi! Jadi, gadis ini ternyata suka padaku?'
Sanking tak sadarnya, saat ini wajah Ichigo terlihat seperti orang bodoh, senyum-senyum sendirian.
Rukia mengangkat sebelah alisnya seraya berkata, ''Hei! Kauー''
''Kurosaki, kau baik-baik saja?'' suaru lembut khas milik Orihime menempatkan kembali jiwa Ichigo kebumi.
''Ah? Iya! Tentu,'' jawab Ichigo sedikit nervous.
Merasa sedikit haus, buru-buru Ichigo mengambil jus jeruk miliknya didepan mata dan meminumnya begitu nafsu, ''Hmph! Uhuk! Uhuk!''
Entah karena terburu-buru ingin membasuh tenggorokannya yang kering atau karena sentakkan Orihime yang membangunkannya dari lamunan tadi, jus jeruk yang diminumnya menyembur seketika.
Jika harus dideskripsikan secara singkat, Rukia dan Ichigo duduk berhadapan dimeja itu. Maka sudah dapat ditebak kemana arah cairan berwarna orange itu menyembur...
''Ru-Rukia...'' gumam Orihime sangat kaget sambil menangkupkan sebelah tangannya didepan mulut.
Sulit dipercaya... Jangankan untuk Orihime, untuk Kaien, Grimmjow, Hisagi dan Ishida yang melihat kejadian itu saja sudah dapat dipastikan dendam kesumat apa yang akan disimpan oleh Rukia terhadap Ichigo, serta hujatan dan rutukkan apa yang akan diberikannya nanti.
''Eh? Hmph~ Wahahahahaha~''
Oh, bagus Ichigo. Sebenarnya iblis apakah yang merasuki dirimu sampai harus sebodoh ini? Bukannya minta maaf atas kesalahan yang baru saja diperbuat, dengan tanpa dosa malah menertawai Rukia begitu senang.
''Hahahaha~ Kau senang yah?'' kata Rukia terlihat tertawa lepas.
''Wahahaha~'' Ichigo masih nafsu mentertawai gadis yang baru saja tidak sengaja ia semburkan jus orange dari mulutnya itu, ''Apa ー Hahaha, apa kau bilang barusan? Tentu saja! Lihat ー Hahaha, betapa lucunya penampilanmu sekarang! Wahahahaha~'' ujar Ichigo.
Segelas jus orange milik Ishida yang masih terisi penuh dan letaknya tak jauh dari jangkauan Rukia, langsung ia raih begitu saja tanpa meminta ijin dari si-empunya. Dan beberapa detik kemudian Rukia menumpahkan segala isinya kearah Ichigo yang masih mentertawai dirinya.
Kontan kejadian ini semakin menjadi hal yang sangat membahayakan bagi mereka yang ada disana. Ichigo baru saja menyemburkan jus orange-nya didepan Rukia dan Rukia membalasnya dengan menumpahkan jus orange milik Ishida, lalu nanti apa lagi?
Haruskah laptop milik Ishida yang ada diatas meja dilemparkan oleh Ichigo kearah Rukia? Hingga nantinya Rukia akan membalas lagi dengan melempar segala apa yang ada diatas meja? sampai akhirnya meja itu terlihat kosong, bersih dan rapih tanpa harus ada yang merapihkan? Ataukah Rukia harus melempar meja serta bangku kantin itu kearah Ichigo? Oh, ayolah~ -_-''
''APA YANG KAU LAKUKAN?'' teriak Ichigo begitu murka didepan Rukia, ''KAU TIDAK TAHU INI BAJU MAHAL! DASAR ce-bol...''
Mungkin karena telah ditahan entah sedari kapan, saat ini kedua mata Rukia membendung cairan hangat, ''Begitukah caramu? Begitukah caramu meminta maaf saat sudah melakukan kesalahan?'' suara Rukia terdengar sedikit halus, kedua tangannya mengepal erat.
Ichigo masih terdiam ditempat walaupun tadi ia sempat kesal dengan apa yang telah diperbuat Rukia didepannya.
''Apakah seseorang harus membeli kata maaf dari seorang angkuh sepertimu terlebih dahulu?''
'Ini salah! Rukia tahan emosimu,' batin Rukia, ''Hhhhh~ Satu... Dua... Tig-ga... Hikz! Hhhh~ Em-pat...'' mencoba melakukan hal seperti biasanya untuk menghilangkan rasa kesal atau emosinya, yang ada malah kedua violet itu semakin berkaca-kaca. Mencoba mengikuti keegoisnya, Rukia masih berusaha menahan air mata itu tidak jatuh keluar.
''Rukia...'' gumam Kaien dan Grimmjow bersamaan.
Ichigo merasa menyesal sekarang, kedua matanya menatap Rukia begitu bersalah, kedua alisnya menyatu seiring dengan tatapan matanya itu.
''Argh!'' Grimmjow menggertakkan meja didepannya, ''Aku sudah tidak tahan! Kau keterlaluan Ichigo! Minta maaf!'' Grimmjow menarik leher baju milik Ichigo dengan kasar.
Ichigo sebagai laki-laki yang selalu ingin dihormati rasanya tak terima dengan perlakuan Grimmjow terhadapnya, hal ini terbukti dari cara Ichigo menatap Grimmjow sambil mencoba melepas cengkraman tangan Grimmjow dari bajunya.
''Lepaskan Grimm!'' ujar Ichigo tegas.
''Ichigo!'' kali ini Kaien yang berteriak marah. Kediamannya sedaritadi, bukan semata-mata tidak ingin membela Rukia, namun ia tahu dari dulu Rukia adalah seseorang yang tidak ingin melihat perkelahian atau semacamnya. Maka dari itulah Kaien terus menahan diri. Tapi yang namanya manusia, kesabaran itu ada batasnya bukan?
''Kalian itu kenapa sih? Ini urusanku dengannya! Sedaritadi aku perhatikan kalian selalu sibuk sendiri dengan anak ini!'' tak perduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan keriuhan mereka, Ichigo terus berbicara, ''Tidak sadar? Kalian itu terlihat seperti budak ー''
'PLAK!' sebuah tamparan keras dilayangkan Rukia kearah pipi Ichigo.
''KAU! ー''
'PLAK!' lagi-lagi Rukia menampar Ichigo, dipipi yang sebaliknya.
''APA-APAANー''
''Tamparan pertama aku berikan atas perbuatanmu yang tak mengenakkan bagiku. Tamparan kedua karena kau...'' Rukia mengepalkan kedua tangannya, menyisakan jari telunjuk yang melayang didepan wajah Ichigo, ''Telah menghina orang-orang yang berharga bagiku!''
Mendengar hal demikian membuat Ichigo terdiam. Kata-kata terakhir yang dilontarkan Rukia seolah menampar Ichigo untuk yang ketiga kalinya secara tak langsung.
Bagaimana tidak? Ichigo Kurosaki yang menjunjung tinggi sebuah 'Persahabatan' pada hari itu harus merendahkan martabatnya dengan kata-kata yang baru saja ia lontarkan kepada Kaien dan Grimmjow, sahabat yang memang dikenal beberapa tahun lalu namun sangat berarti bagi Ichigo.
Suasana yang sebelumnya sempat hening kini diramaikan dengan suara sepatu milik Rukia yang menggema disekitar kantin, meninggalkan ruangan itu kesuatu tempat.
Kaien yang sebelumnya sempat menatap Ichigo penuh kemarahan pun mengikuti langkah Rukia yang perlahan mulai menjauh.
Tak mau ketinggalan Grimmjow pun melakukan hal yang sama, tapi sebelum melangkah ia menatap Ichigo sinis dan berkata, ''Kali ini aku maafkan, tapi lain kali tidak akan aku biarkan kau jika menyakitinya lagi, ingat itu!''
'Tap!' suara layar laptop ditutup secara kasar, pemiliknya pun terlihat kesal, ''Kau memalukan,'' ucap Ishida datar dan beranjak pergi dari tempat dimana ia sedang berada.
Ichigo melirik Ishida yang baru saja pergi, ''Apa kau bilang tadi?''
''Sudahlah Ichigo! Apa kejadian tadi tidak cukup mempermalukan dirimu?'' ketus Hisagi, ''Kau... Hhh~'' Hisagi ikut meninggalkan Ichigo dan menyusul Ishida yang sudah berada jauh didepan mata.
''Cih!'' decih Ichigo sambil membuang muka, ''Kau tidak ikut pergi dan mengolok-olok aku Inoue?'' cetus Ichigo kasar.
Orihime meremas bagian ujung roknya, jujur saja ia merasa takut dengan sikap Ichigo yang seperti ini.
''Menurutku... Kurosaki itu orang yang baik...''
Ichigo melebarkan kedua matanya, untuk sesaat emosinya hilang entah kemana ketika mendengar sebaris kata-kata itu keluar dari mulut Orihime.
''Aku suka sifat dan sikap Kurosaki yang hangat seperti biasanya. Menurutku, itu sangat cocok dengan dirimu. Tapi, dibandingkan dengan sikapmu yang tadi... Aku sempat berfikir apa tadi itu benar dirimu? Kurosaki?'' Orihime berdiri perlahan dan tanpa menunggu jawaban dari Ichigo, ia memilih untuk menjauh dari tempat tersebut setelah sebelumnya memberikan senyuman hangat untuk seorang Ichigo Kurosaki.
...
''Rukia! Ayo buka!'' Kaien dan Grimmjow memanggil nama tersebut untuk kesekian kalinya agar yang dipanggil mau keluar dari tempat persembunyiannya semenjak lima menit yang lalu.
''Rukia kami tahu kau kesal, tapi apa harus mengunci diri ditempat seperti ini? Rukia!'' Kaien semakin berperasaan tidak enak.
''Rukia didalam?'' kedatangan Orihime cukup mengejutkan kedua laki-laki yang tengah berdiri didepan toilet perempuan itu yang sedaritadi terus menggedor sambil meneriakkan nama 'Rukia' terus-terusan.
Tak jarang beberapa pasang tatapan aneh dari orang-orang yang lewat disana memperhatikan mereka. Bahkan secara frontal seorang gadis telah mengatakan mereka berdua ''Orang gila,''.
''Begitulah!'' jawab Grimmjow sedikit ketus.
''Ah! Inoue bantulah kami! Bujuklah Rukia keluar!'' pinta Kaien dengan sangat.
...
''Kurang ajar! Laki-laki macam apa dia? Aku rasa orang tua-nya tidak pernah mengajarkan sopan santun!'' Rukia berujar pada pantulan dirinya dicermin toilet.
Suara gemericik air yang keluar dari keran disana terdengar begitu jelas. Kedua tangannya sedaritadi disibukkan untuk membasuh wajahnya karena telah tersiram jus orange milik 'buntalan orange' yang seolah telah menjadi kesialan baginya hari ini.
''Ini...'' sebuah tangan indah karena kuku hasil nail-art dan beberapa gelang feminin yang bergantung disana terlihat menyodorkan sapu tangan kearah Rukia.
Cukup kaget, Rukia mengalihkan pandangannya dari sapu tangan itu kearah sang pemilik.
''Orihime?'' Rukia tak terlalu menunjukkan keterkejutannya secara terang-terangan.
Orihime memberikan senyumannya dihadapan Rukia, ''Untuk mengeringkan wajahmu itu,''
Rukia tercekat, ''Oh! T-Terimakasih banyak!'' ujarnya sambil balas tersenyum.
''Soal tadi, aku harap kau mau menarik kata-katamu...'' kata Orihime yang kini bersandar diri pada dinding toilet.
''Menarik kata-kataku? Yang mana?'' tanya Rukia sedikit kebingungan. Seingatnya sedaritadi ia tidak mengucapkan sesuatu yang buruk dihadapan perempuan bertubuh semampai ini.
Orihime menatap kedua mata Rukia begitu lekat namun tak ada maksud mengintimidasi disana, ''Kedua orang tua Kurosaki itu sangat baik. Bahkan sejak Kurosaki kecil, kedua orang tuanya selalu mengajarkan hal yang baik kepada Kurosaki.''
''Lantas kenapa tadi dia bersikap seperti itu? Angkuh, sombong, arogan, semuanya~''
''Sejak hari itu, hari dimana Ayah dan Ibu Kurosaki telah disibukkan dengan dunia mereka. Ayahnya adalah seorang pengusaha dan pebisnis, investasi keluarga Kurosaki yang telah dirintis beberapa tahun terakhir tengah menuju kesuksesan hingga membuat ayahnya terlalu disibukkan dengan perusahaan itu sendiri. Sementara Ibunya yang paling dekat dengannya, akhir-akhir ini juga sedang disibukkan dengan kariernya sebagai aktris papan atas yang sedang naik daun.''
''Lalu?'' tanya Rukia yang tidak begitu antusias tapi sedikit penasaran.
''Ayahnya Kurosaki tiba-tiba saja terfikirkan untuk mengikut sertakan Kurosaki kedalam usaha yang sudah dirintas Ayahnya bertahun-tahun itu. Hal itu memang wajar karena Kurosaki adalah anak tunggal laki-laki mereka, tapi justru keinginan ayahnya itu bertolak belakang sekali dengan keinginan Kurosaki yang ingin menjadi seorang dokter ahli yang diakui atas kemampuannya sendiri.''
Rukia masih terlihat setia menunggu penjelasn selanjutnya yang akan dibongkar oleh Orihime. Secara tanpa sadar hal itu pun mengalihkan aktivitas Rukia untuk membersihkan dirinya yang terlihat sempurna berantakkan.
''Kau tahu kan anak laki-laki? Mereka selalu memendam segalanya sendirian. Yang aku tahu perasaan Kurosaki belakang ini, dia itu dalam posisi yang sangat terpojok. Mempertaruhkan antara cita-citanya atau keinginan ayahnya. Ibunya yang selalu menjadi tempatnya berbagi cerita pun seolah sangat jauh dari jangkauannya. Mungkin itu lah sebabnya sifat Kurosaki belakangan ini terlihat agak aneh, termasuk saat memperlakukanmu seperti tadi.'' tutup Orihime sebagai penjelasannya yang begitu panjang mengenai sahabat masa kecilnya itu.
Rukia masih terdiam, mencerna segala cerita panjang yang dituturkan Orihime. Mungkin terdengar sepele, akan tetapi memang benar bukan saat cita-cita dan impian kita telah didominasikan dengan kehendak orang lain yang berharga untukmu, itu terdengar dan terlihat menyebalkan bukan? Bahkan sangat menjadi beban tersendiri...
Ditambah lagi dengan hatimu yang penuh dengan keluh kesah harus terpaksa dipendam sendirian, karena tak punya orang kepercayaan lain untuk menceritakannya selain Ibu...
''Oh... Lalu, apa sebelumnya juga dia orang yang bisa meminta maaf?'' entah mengapa malah pertanyaan itu yang terlontar oleh Rukia. Cukup disesalinya tapi mau bagaimana lagi...
Orihime sedikit tertawa geli, ''Hm~ Tidak juga~''
''Hhh~ Bukannya sama saja itu sombong, arogan dan terlalu angkuh? Singkatnya tanpa segala ceritamu tadi, itu tidak menentukan sifatnya yang asli kan?''
''Kalau kau sudah mengenal Kurosaki lebih dekat, kau pasti akan tahu kenapa dan alasannya Rukia. Kurosaki tidak seburuk yang kau kira...'' lagi Orihime mencoba membela dan menghapus segala fikiran negative tentang Ichigo dimata Rukia.
...
''Hhh! Kenapa jadi begini?''
Saat ini Ichigo sedang duduk pada salah satu anak tangga yang terletak beberapa lantai jauhnya disalah satu gedung Karakura University.
''Sekarang aku terlihat seperti Ichigo Kurosaki yang buruk dimata orang banyak! Semua gara-gara si cebol itu!'' Ichigo masih terlihat asik menggeretu kesal sendirian. Meratapi bagaimana nasibnya setelah ini karena kejadian tadi.
''Tapi... Tadi dia menangis...'' Ichigo terdiam ketika teringat kejadian beberapa waktu lalu, ''Ugh! Kalau saja tadi aku bilang maaf! Pasti tidak akan begini jadinya!'' tutur Ichigo sambil mengexpresikan segala ucapannya dengan gerakkan nonverbal.
''Hhh~ Aku bisa gila!'' sehabis mengatakan hal demikian Ichigo menopangkan kepalanya pada sebelah tangan kanannya. Kedua mata yang terpejam, alis yang hampir saling menyatu serta dahi yang terlihat mengkerut seolah menunjukkan seberapa besarnya frustasi Ichigo yang amat sangat.
Merasa masih belum puas mengeluarkan segala amarahnya, kedua mata musim gugur yang menangkap objek tas selempang disampingnya itu langsung saja memerintahkan kedua tangannya untuk bekerja sama meluapkan emosinya.
Ichigo membanting-banting sebuah tas hitam besar disampingnya seraya berujar, ''Hhh~ Aku bisa gila! Bisa gila! Uuuuu!''
''Siapa yang gila? Ichigo?'' suara seorang perempuan berhasil mengagetkan Ichigo yang sedang bertingkah aneh.
''Eh? Ne-Nemu?'' buru-buru Ichigo bangun dari posisinya yang tengah terduduk. Memberikan salam dengan membungkuk hormat kepada perempuan tersebut.
''Ahahaha~ Jangan seformal itu Ichigo~ Harusnya aku yang membungkuk dan memberi salam pada anak laki-laki Kurosaki ini, Hm~'' ujar Nemu sambil tesenyum.
''Eh? Ja-Jangan berkata seperti itu Nemu,''
''Habis kau yang memulai~'' setelah berkata demikian nampaknya Nemu dapat melihat adanya kejanggalan pada wajah Ichigo, ''Ada masalah Ichigo?''
''Eh?'' kedua alis Ichigo terangkat seiring dengan nada bicaranya yang terdengar gugup, ''Bu-Bukan masalah besar~ Hehehe~''
Merasa belum mempercayai tingkah Ichigo, Nemu kembali berusaha meyakinkan laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai adik itu, ''Kau yakin? Jangan sampai menyesal nanti saat aku meninggalkanmu sendirian disini...''
Ichigo kembali terlihat bingung, ''Errr~ Kalau aku ceritakan, kau jangan berpikiran tentang aku yang negative yah?''
''Hm? Memangnya masalah apa sih? Lagipula apa pernah selama ini aku beranggapan yang negative tentang kau?'' ketus Nemu yang menunjukkan sedikit rasa kekesalannya.
''Ah~ Ma-Maaf Nemu. Jadi, begini...''
Akhirnya Ichigo menceritakan segala kejadiannya dari awal hingga akhir. Kejadian yang telah berhasil memperburuk sebagian Image-nya sebagai Ichigo Kurosaki yang jauh dari kata masalah, atau pun gosip-gosip miring tentang dirinya. Selang beberapa lama kemudian...
''Itu sih kau yang keterlaluan Ichigo!'' kata Nemu sekaligus menempeleng kepala Ichigo begitu gemas.
Ichigo yang disalahkan merasa tidak terima, ''Kok aku? Jelas-jelas perempuan itu yang salah, hanya karena aku tidak bilang maaf lalu seenaknya saja mempermalukan aku seperti itu~'' kembali Ichigo berkata demikian sembari menggerakkan seluruh anggota tubuhnya seolah mengikuti irama nada bicaranya.
''Bilang maaf dengan Meminta maaf itu berbeda Ichigo! Bilang maaf itu artinya kau hanya mengucapkannya saja! Sedangkan meminta maaf itu artinya kau menyesali perbuatanmu!'' jelas Nemu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Bagiku sama saja~ Bahkan yang lebih buruknya dia menamparku!'' Ichigo masih berusaha mendapatkan pembelaan atas dirinya.
''Dia menamparmu?''
''Iya! Dua kali! Dikiri dan dikanan!'' terang Ichigo sambil menunjukkan kedua pipi yang dimaksud.
''Hahahaha~''
''Hei! Kenapa tertawa? Kau senang yah?'' Ichigo terlihat marah-marah.
''Kau bodoh Ichigo. Kalau aku jadi perempuan itu, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama~''
''Ish! Kau iniー''
Nemu tengah menghiraukan kata-kata Ichigo, dirinya tengah disibukkan dengan aksi mengorek-ngorek isi tasnya mencari sesuatu.
''Hei dengarkan aku! Aku belum selesai, kau cari apa sih? HeーHEI! Apa yang kau lakukan Nemu?'' Ichigo terlihat begitu marah ketika ternyata Nemu telah menyiramkan air satu tutup botol kearah Ichigo.
''Kau marah kan?''
''Tentu saja!''
''Bagaimana dengan perempuan itu?''
Ichigo terdiam...
''Masih untung hanya aku siram dari tutup botolnya, coba aku siram dari mulutku aku ingin lihat reaksimu setelahnya...''
''Nemu...''
''Kau mengerti maksudku sekarang kan? Itu lebih memalukan daripada saat kau ditampar. Dan tamparan itu tidak akan pernah terjadi kalau kau meminta maaf lebih dulu padanya.''
Entah kenapa Ichigo merasa penjelasan Nemu memang ada benarnya. Tanpa berfikir panjang, Ichigo buru-buru mengambil tas miliknya yang sempat terbengkalai dan berlari menjauh, ''Terimakasih yah Nemu!''
Nemu yang masih dalam posisinya berdiri hanya melihat punggung Ichigo yang menjauh sembari tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
...
''Hhh~ Sendirian lagi, teman macam apa kau Toushiro! Meninggalkan aku seperti ini!'' tutur Rukia yang sedang berjalan sendirian menyusuri taman disekitar kampus.
Ya, memang seharusnya saat ini Rukia ada dikelas untuk mengikuti pelajaran mata kuliahnya. Tapi sayang, dosen yang seharusnya mengisi kelasnya itu tidak masuk karena ada hal. Hal apakah itu lebih baik tidak usah dibahas.
Rukia masih terus berjalan kecil disana, ditaman itu terdapat banyak pohon-pohon besar yang cukup rindang. Beberapa diantaranya tengah bersemi, memunculkan bunga-bunga kecil disetiap centi pucuk daunnya.
Angin musim semi berhembus begitu lembut, menyentuh lapisan kulit Rukia dengan halus. Langit yang sedaritadi berawan memberikan kesan ketenangan dan kedamaian yang tengah dicari Rukia sekarang.
Kali ini Rukia tengah mendudukkan dirinya dibawah salah satu pohon yang terlihat rimbun, ''Hhh~ Bagaimanapun, kelihatannya lebih asik masa-masa sekolah daripada kuliah...''
Seusai mengatakan hal tersebut entah kenapa Rukia jadi teringat masa-masa kecilnya yang sangat ia rindukan. Kedua matanya terbuka tapi tatapannya seolah menunjukkan seberapa besar kesedihan yang tengah ia rasakan.
''Rasanya aku mau menangis...'' ucap Rukia pelan, ''Hhh~ Kenapa jadi seperti ini!'' Rukia menyenderkan kepalanya secara kasar kearah pohon yang tengah menjadi tempat peneduhnya. Sembari terus menarik nafas panjang untuk membuat perasaan dihatinya menjadi lebih baik.
''Kenapa...'' sebelah tangan Rukia mengepal dan mencoba menepuk-nepuk dadanya pelan, seolah menetralisir sesuatu yang terasa sakit didalam hatinya. Tak lama kemudian ia mencoba memejamkan kedua matanya.
Entah Rukia sadar atau tidak, sejak Rukia mendudukkan dirinya dibawah pohon sebenarnya seseorang tengah memperhatikannya tidak jauh dari sana.
Merasa penasaran dengan apa yang tengah dilakukan Rukia hingga sempat terlihat tengah berbicara sendirian, seseorang yang tengah memperhatikan Rukia tadi mencoba mendekatkan diri. Dan begitu langkahnya kini sudah sejajar berhadapan dengan perempuan yang tengah tertidur itu, orang itu terus menatap Rukia. Tidak berani untuk memanggil atau membangunkan Rukia.
Tak lama kemudian, Rukia membuka perlahan kedua matanya. Sekilas kedua mata itu menangkap sesuatu dihadapannya, sepasang sepatu. Merasa penasaran, Rukia pun akhirnya menaikkan kedua anak matanya secara perlahan. Jelaslah sudah siapa yang tengah berada dihadapan Rukia sekarang.
Rukia tidak mau mengeluarkan suaranya, baginya laki-laki jangkung dihadapannya itu sudah cukup membuatnya menghabiskan
banyak kata-kata yang tidak perlu. Tapi, mereka terus saja bertatapan satu sama lain.
Merasa bosan dengan aksi saling menatap itu, laki-laki ini pun akhirnya mengangkat suara duluan, ''Hhh~ Biasanya aku tidak pernah bicara duluan pada seorang perempuan, kau tahu?''
Mendengar awal topik pembicaraan yang tidak begitu menyenangkan dari Ichigo, Rukia memilih memejamkan kedua matanya kembali.
''Hei! Aku sedang bicara padamu!''
''To the point saja! Mau apa?'' tanya Rukia yang masih menutup kedua matanya.
Ichigo merasa ia sedang diremehkan dari bagaimana cara Rukia berkomunikasi dengannya. Bukankah saat berkomunikasi dengan orang lain seharusnya kita menatap kearah lawan bicara? Setidaknya itu terlihat lebih sopan. Tapi, harap dimaklumi dengan suasana hati Rukia yang sekarang.
''Kau itu diajari orang tuamu sopan santun tidak sih? Saat bicara dengan orang lain tatap orang itu.'' Ichigo berjalan mendekat kearah Rukia.
''Jangan bawa-bawa orang tu...'' Rukia tidak melanjutkan kata-katanya sejenak, ''Cerminkan saja kata-katamu itu pada dirimu sendiri!'' ujar Rukia jutek, kedua matanya yang sempat tertutup kini menatap Ichigo tidak suka.
Ichigo cukup tersentak dengan reaksi Rukia tersebut, namun seperti biasa ia memilih untuk tetap stay cool.
''Aku perhatikan sedaritadi kau seperti sedang ada masalahー''
''Aku sudah bilang to the point saja,'' kata Rukia sedikit terdengar malas.
''Eh?'' Ichigo menggaruk-garuk bagian atas kepalanya sembari bertampang bingung, ''I-Itu... A-Aku... Aku mau minta... Minta ma... Ma...aaahh...''
''Apa?'' tutur kata Ichigo yang tidak jelas nampaknya berhasil membuat Rukia mengalihkan pandangannya untuk menatap Ichigo.
''Tadi kan sudah jelas!'' teriak Ichigo sambil mengepalkan sebelah tangannya dihadapan Rukia.
''Jelas rambutmu! Orang tuli saja tidak tahu kau bicara apa tadi!'' Rukia balas berteriak tidak mau kalah didepan Ichigo.
''Apa! Jangan bawa-bawa rambutku!'' Ichigo yang sedaritadi berdiri mencoba menjongkokkan dirinya dihadapan Rukia, ''Lagipula, orang tuli itu mana bisa mendengar! Dasar bodoh!'' tukas Ichigo yang masih kesal sambil mendorong kening Rukia dengan jari telunjuknya.
''Singkirkan jarimu yang kotor itu!'' Rukia berusaha menampik telunjuk Ichigo yang sudah terlanjur menyentuh kulit halus pada keningnya itu.
Ichigo menarik tangannya sembari beralih memperhatikan jari telunjuknya, ''Ko-Kotor?''
Melihat tampang bodoh dari Ichigo itu membuat Rukia menjadi sedikit terkekeh geli.
''Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?'' tanya Ichigo begitu penasaran.
Alih-alih tidak menjawab pertanyaan laki-laki orange dihadapannya, Rukia bangkit berdiri dan berpikir untuk meninggalkan tempat itu dan menjauh dari Ichigo.
''Tungu dulu! Mau kemana? Aku belum selesai bicara tahu!'' teriak Ichigo kesal.
Rukia membalikkan tubuhnya perlahan, ''Kalau begitu cepat katakan sekarang supaya aku bisa pergi, aku sedang ingin sendirian...''
Ichigo sedikit tersentak ketika Rukia mengatakan hal demikian.
''Aku minta ma... Maaa...'' kedua mata Ichigo terus saja dialihkan kekanan-kirinya, ''Hahhh~ Mengatakan hal begini saja kenapa susah sekali sih!'' ucap Ichigo, sebelah tangannya lagi-lagi mengepal didepan dahi dengan kedua mata yang tertutup.
Kembali Rukia hanya bisa terkekeh geli dengan tingkah laku Ichigo. Memang sebelumnya ia sempat kesal dengan laki-laki tersebut. Tetapi ketika beberapa detik yang lalu ia sudah bisa menebak apa yang hendak ingin dikatan Ichigo, rasa-rasanya Rukia sudah mendapatkan alasan mengapa Ichigo sulit sekali mengucapkan kata maaf. Ya, Ichigo itu termasuk orang yang gengsinya tinggi.
Setidaknya melihat usaha Ichigo untuk meminta maaf nampaknya sudah meyakinkan Rukia bahwa laki-laki itu serius menyesali perbuatannya.
''Ahahaha~'' Rukia tertawa sedikit garing.
Mendengar suara tawa yang tiba-tiba saja dari gadis dihadapannya, tentu saja menjadikan sebuah pertanyaan bagi Ichigo.
''Kenapa kau tertawa lagi? Memang ada sesuatu yang aneh yah diwajahku, ha? Atau sesuatu yang lain padaku?'' tanya Ichigo sambil menggunakan kedua tangannya untuk mengecek bagian wajah dan badannya.
Melihat hal demikian malah semakin membuat Rukia tertawa lepas, ''Ahahahahaha~ Gengsimu itu tinggi sekali yah hanya untuk minta maaf? Sampai harus menunjukkan hal-hal bodoh seperti barusan.''
''Eh! Apa kau bilang? Bodoh?'' tanya Ichigo kesal.
''Intinya kau mau minta maaf? Ya, aku maafkan. Aku juga minta maaf telah melemparkan jus kearahmu tadi, jangan kau masukkan kehati yah.'' tutur Rukia sembari tersenyum. Tanpa menunggu respon dari Ichigo, Rukia kembali melangkahkan kedua kakinya.
''Eh? Kau, secepat itu suasana hatimu berubah hanya dengan sebuah kata maaf? Wah! Hebat sekali!'' sambung Ichigo yang telah mensejajarkan langkahnya dengan gadis yang tingginya tak mencapai dagunya itu.
Rukia menoleh kearah Ichigo masih dengan tersenyum, ''Didunia ini banyak sekali kata-kata magic yang dapat merubah suasana hati seseorang hanya dalam sekejap, kau tahu?''
''Kata-kata magic? Maksudmu seperti... Aveda Kadavra?'' Ichigo mengayunkan tangannya seperti seorang penyihir didepan wajah Rukia.
Lagi-lagi Rukia kembali dibuat tertawa dengan ulah Ichigo, ''Hahaha~ Kalau kata-kata magic itu sih bisa membuat orang mati dikisah Harry Potter~''
Melihat gadis disampingnya itu tertawa membuat Ichigo sedikit lega, setidaknya perasaan bersalah yang sempat menghantui dirinya telah menghilang.
''Lalu, kata-kata magic apa yang kau maksud tadi itu?'' tanya Ichigo penasaran.
''Hmmm~'' Rukia menyilangkan kedua tangannya didepan dada seraya menerawang jauh keatas langit sambil berkata, ''Ada banyak. Tapi kata-kata magic yang paling indah itu adalah, maaf, terimakasih dan... Aku mencintaimu...'' jawab Rukia yang sudah menghentikan langkahnya sambil berdiri menghadap Ichigo dan seulas senyum manis terlukis disana.
'DEG!' kata-kata terakhir Rukia sukses membuat jantung Ichigo memompa kencang. Kata-kata tadi itu memang terdengar seperti sebuah pengakuan cinta seseorang. Tapi pada kenyataannya bukanlah seperti itu.
Ditambah lagi saat Rukia berdiri dihadapan Ichigo dengan memasang wajah yang begitu berbeda dari sebelum-sebelumnya. Wajah yang begitu polos, cantik dan... Manis...
Ichigo tidak pernah menyangka wajah Rukia secantik dan semanis pengelihatannya saat ini. Memang sedaritadi Ichigo tidak memperhatikan wajah Rukia secara seksama. Rasa penyesalan bahkan kembali muncul ketika teringat ia telah menyemburkan jus orange secara tidak sengaja tepat diwajah itu.
Masih dengan jantung Ichigo yang memompa begitu cepat, memicu aliran darah didalam tubuhnya mengalir begitu deras, mendadak merubah suhu tubuh Ichigo jadi terasa begitu hangat, hingga terakhir memunculkan semburat merah yang sangat ketara hampir diseluruh wajah maskulin laki-laki itu.
Perubahan air muka Ichigo yang begitu cepat nampaknya tertangkap oleh pengelihatan Rukia, ''Eh? Kau baik-baik saja? Wajahmu merah sekali! Kau sakit?'' Rukia menempelkan telapak tangannya disebelah pipi Ichigo.
Oh, bagus Rukia. Sepertinya kepintaranmu untuk detik ini tidak berlaku. Harusnya saat mengecek suhu tubuh seseorang itu kan menempelkan tanganmu dikeningnya bukan dipipinya. Ditambah lagi orang ini belum kau kenal, kau malah menempelkan telapak tanganmu seharusnya kan kau menggunakan punggung tanganmu. -_-''
Kulit halus milik Rukia yang telah bersentuhan lembut dengan kulit milik Ichigo nampaknya semakin memperparah keadan laki-laki berambut orange tersebut. Selain suhu tubuh yang semakin meningkat hangat, wajahnya pun semakin bertambah memerah sekarang.
Ichigo masih saja terus mematung ditempat, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Disentuh seorang perempuan tepat dipipi tidak pernah terjadi selama hidupnya.
Errr... Ralat! Tentu ada seorang perempuan yang pernah menyentuh pipinya begitu lembut, halus dan penuh kasih serta cinta. Penasaran? Tentu saja perempuan itu adalah Ibunya sendiri... -_-''
Sempat berada dialam bawah sadarnya, dia ーIchigo Kurosakiー akhirnya menempatkan kembali arwahnya sebagaimana mestinya berada, tentu saja dunia nyata.
Dengan pembawaan diri yang terlihat kaku serta canggung, Ichigo mencoba menampik segala perasaan yang tengah bergejolak didalam hatinya saat ini, ''E-Eh! A-Aku! Aku tidak apa-apa! Sungguh! Eh-Ehehehe~'' ucap Ichigo terbata-bata sambil mundur selangkah kebelakang. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus tengkuk dibelakang kepalanya, terlihat sekali Ichigo malu-malu.
''Kau yakin? Wajahmu benar-benar merahー''
''Aku yakin!'' sambar Ichigo. Dan saat itu Rukia hanya terdiam ditempat, ia cukup bingung.
''Errr~ Ah! Ma-Maksudku... Cu-Cuaca hari ini panas sekali dan biasanya kalau aku terkena sinar matahari kulitku memerah! Ya, semacam sensitif begitu... Ahahahaha~'' jelas Ichigo masih terdengar gagap dan salah tingkah.
'Wusss~' Sanking salah tingkahnya Ichigo tak sadar bahwa kebohongannya itu terbongkar begitu saja, ketika angin sejuk dimusim semi berhembus perlahan menyambar mereka berdua.
Tak hanya itu, Rukia pun mengalihkan pandangannya kearah langit, kedua matanya melirik sana-sini. Memang kata-kata Ichigo janggal baginya karena sedaritadi langit itu dalam kondisi berawan yang artinya, matahari tak nampak dibelahan manapun dan Ichigo... Ber-bo-hong...
''Kalau kau sakit jangan dipaksakan, lebih baik sekarang kau keruang kesehatan. Sini biar kutemani.'' Rukia menarik tangan Ichigo begitu saja. Dan tindakkan itu lagi-lagi membuat jantung Ichigo memompa 2x lebih cepat dari yang sebelumnya.
''Su-Sungguh aku tidak sakit! Lihat ini!'' Ichigo bertingkah seperti seorang binaragawan yang tengah memamerkan otot kedua tangannya, ''Aku sehat kan? Ini, lihat ini~'' kembali ia membuat sebuah gerakkan pemanasan untuk meyakinkan Rukia bahwa dia baik-baik saja. Selain itu juga Ichigo sepertinya mencoba menghilangkan perasaan aneh yang sedang ia rasakan sekarang.
Lagi-lagi disuguhkan tingkah konyol serta aneh dari Ichigo Kurosaki, mau tak mau membuat Rukia harus kembali tertawa geli, ''Hahahaha~ Kau itu lucu sekali~'' ucap Rukia disela-sela tawanya.
'Ma-Manis...' batin Ichigo yang melihat expresi wajah Rukia ketika tertawa lepas dihadapannya.
Merasa ada yang aneh dari tatapan Ichigo yang tiba-tiba terdiam, Rukia mencoba memanggil Ichigo dan hendak menepuk pundaknya, ''Hei? Kau baik-baik saー''
Namun sebelum tangan mungil itu sempat menyentuh puncak pundak kekar itu, Ichigo yang tersadar akan mendapat sentuhan yang kesekian kali dari Rukia mencoba menampik.
''A-A-A-Aku harus pergi! Sa-Sampai jumpa!'' Ichigo berlari begitu cepat, meninggalkan tempatnya semula yang terasa semakin tak membuatnya nyaman.
Ditambah lagi ia harus menjauh dari gadis itu untuk sementara waktu, gadis yang sukses membuatnya merasakan hal aneh, yang sama sekali belum pernah ia rasakan. Perasaan yang seolah membawamu terjun dari atas tebing namun jatuh disebuah gumpalan awan yang begitu lembut dan terasa manis. Ya, perasaan yang aneh tapi itu nyata...
''Kenapa dia? Dasar aneh...'' guman Rukia yang sekarang harus merasakan kesendiriannya lagi.
...
''Ibarat seorang tentara dimana senjata perangnya adalah air-gun, snipper dan semacamnya. Atau seorang Koki juru masak dimana senjata perangnya adalah pisau dan spatula. Atau lagi seorang Akuntan yang menganggap kalkulator adalah senjata perang utamanya. Maka seorang dokter pun memiliki senjata perang yang penting yakni, stetoskop.'' Ukitake-san dosen fakultas kedokteran tengah menceritakan sedikit peran penting seorang dokter sebelum masuk kedalam pelajaran yang akan dibahas.
''Saya sering melihat, beberapa dokter muda dibeberapa belahan dunia sering melupakan benda ditangan saya ini tidak tergantung disini.'' Ukitake mengalungkan sebuah stetoskop pada lehernya.
''Memang ini masalah sepele, tapi bukankah ini adalah lambang dan ciri khas seorang dokter? Lagi pula saat pasien datang hal yang pertama kita lakukan adalah memeriksa gejala penyakit mereka dengan alat ini... Bukan dengan pistol, spatula ataupun kalkulator~'' canda Ukitake disela-sela keseriusannya.
''Hahahaha~'' tawa pelan terdengar diruangan itu.
Sebuah ruang kelas dimana Ukitake sedang mengajar saat ini cukup luas. Namun dari luasnya ruangan itu hanya terdapat 30 murid terpilih dan salah satunya adalah Ichigo Kurosaki. Tentunya ada serta teman-temannya Kaien, Grimmjow, Ishida, Orihime dan Hisagi.
Biasanya disaat pelajaran seperti ini Ichigo tidak pernah mengalihkan pandangan dan pusat fikirannya kepada hal lain. Tapi sepertinya pengecualian untuk hari ini.
Sedaritadi kelas dimulai, Ichigo yang duduk dibaris tengah paling pojok jendela, terus saja menerawang jauh kelangit-langit jendela didekatnya itu.
Fikirannya? Sepertinya sedang memutar kembali kejadian beberapa waktu yang lalu, kejadian dimana dirinya sukses dibuat salah tingkah oleh seorang gadis manis bertubuh mungil dan bermata violet.
''Kurosaki...'' panggil Ukitake yang sebenarnya sudah sedaritadi menyadari tingkah Ichigo. Namun baru ditegur sekarang karena dirinya baru merasa terganggu saat ini. Mahasiswa yang tidak memperdulikan dosennya dikelas, tentu saja sangat menyebalkan dimata P3D = Partai Persatuan Para Dosen(?).
'Ada banyak. Tapi kata-kata magic yang paling indah itu adalah, maaf, terimakasih dan... Aku mencintaimu...'
'DEG!' lagi, jantung Ichigo berdetak kencang ketika teringat hal demikian. Ichigo memegangi dadanya dengan tangan kanannya, mencoba menekan detakkan jantung yang seolah terasa hampir copot.
'Hm~' Ichigo teringat akan senyuman tulus dari Rukia, 'Hahahaha~' juga suara tawa yang terdengar begitu lembut.
'Aku tidak menyangka gadis itu manis dan cantik,' batin Ichigo yang sepertinya tidak menyadari namanya telah dipanggil Ukitake.
''Kurosaki?'' lagi Ukitake memanggil nama Ichigo. Seluruh pandangan penghuni kelas pun kini tengah tertuju pada anak laki-laki berambut paling mencolok itu.
'Dia menyentuhku,' ujar Ichigo yang masih asik bergelut dengan batinnya, 'Saat dikantin juga wajahnya memerah ketika melihat kearahku...'
''Ehm!'' Ukitake berdehem nyaring, ''Kurosaki!''
Ichigo menampakkan senyumannya yang begitu terlihat bodoh, senyuman yang sangat dipertanyakan seluruh penghuni kelas ketika melihatnya.
'Tidak salah lagi, diaー''
''KUROSAKI!'' teriakkan Ukitake begitu membahana kelas. Selain mengagetkan si-empunya nama, pun juga mengagetkan seisi ruang kelas disitu.
Ichigo terlonjak kaget, mengarahkan pandangannya pada asal suara, Ukitake-san.
''Yo?'' jawab Ichigo reflek, sukses membuat ke-29 teman-temannya yang berada disana tertawa.
Ukitake menggeleng-gelengkan kepalanya, ''Yo? Apa itu jawaban sopan Kurosaki?''
''Eh? Ma-Maaf Ukitake-san. Aku, kelepasan... Hehehe~'' kembali seisi ruangan itu dipenuhi suara gelak tawa.
''Hhh~ Sekarang jawab pertanyaan dari ceritaku tadi, apa senjata yang paling penting yang kumaksud tadi, Kurosaki?''
''Senjata?'' guman Ichigo sedikit bingung. Mengalihkan pandangan pada Ishida yang duduk didepannya, tapi sayangnya Ishida tidak sedang melihat kearahnya.
Melirik Orihime dikejauhan karena duduk paling depan, samar-samar Ichigo melihat jawaban yang diberikan Orihime kapadanya.
Entah ada angin apa, tapi Ichigo mengalihkan pandangan kesebelah kanannya. Terlihat Hisagi yang sedaritadi melihat dirinya kemudian melebarkan kedua matanya karena tiba-tiba dipandang Ichigo. Sedetik kemudian barulah Hisagi mengerti apa maksud dari tatapan itu.
Hisagi pun mencoba membantu Ichigo dengan menggunakan bahasa nonverbal. Laki-laki bertato 69 itu merendahkan tangannya dibawah meja, membentukkan kedua tangannya seperti suatu benda, lalu ia gerakkan tangannya seketika, kemudian ia tiup ujung jari telunjuknya.
Kepintaran Ichigo pun langsung menangkap hal apa yang dimaksud Hisagi barusan. Dan tanpa mencurigai Hisagi, Ichigo yang malang menjawab, ''Senjata... Snipper Ukitake-san...'' begitu polosnya... -_-''
1 detik...
2 detik...
3 detik...
''Wahahahahahahahahaha~''
Suara tawa itu tentu membuat Ichigo bingung dan mencari jawaban lain, ''Shotgun?''
''Wahahahahahahahahaha~'' Suara tawa membahana 2x lipat dari sebelumnya.
''Apa? Rifle? Bull-pup? JackHammer? Pistol angin?''
''Wahahahahahahahahaha~''
''Apa-apaan dia, bodoh sekali~ Hahaha~'' ujar salah satu mahasiswa dikelas itu.
''Dasar si bodoh~ Hahaha~'' sambung yang lain.
''Hahaha~ Kau melawak Ichigo? Hahaha~'' saut Kaien yang duduk dibelakang Hisagi. Tidak hanya Kaien, teman-temannya yang lain pun tertawa begitu terpingkal-pingkal mendengar jawaban yang... Ya, kalian tahu... ^_^''
Begitulah... Suasana semakin riuh ketika suara gelak tawa tercampur dengan berbagai macam ejekkan dari teman-teman sefakultas Ichigo dikelas tersebut.
Hisagi, anak laki-laki yang sukses telah mengerjai Ichigo tadi nampaknya juga ikut tertawa lepas. Tanpa dosa ia tertawa diatas kebodohanー errr~ maksudnya penderitaan Ichigo... -_-''
Baru menyadari bahwa Hisagi telah mengerjainya, Ichigo pun melirik dan menatap Hisagi begitu kesal. Sedangkan yang dilihat masih saja terus tertawa dengan mengangkat kedua tangannya didepan Ichigo membentuk huruf V...
Ukitake kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menahan tawa yang sebenarnya sedaritadi sudah ingin ia keluarkan. Namun ia masih menjaga wibawanya didepan anak-anak didiknya itu.
''Se-Sebenarnya apa yang kau fikirkan sedaritadi Kurosaki?'' tanya Ukitake sedikit terbata-bata karena susah payah menahan tawanya agar tidak pecah.
''Ah! Ti-Tidak ada Ukitake-san!'' jawab Ichigo tegas.
''Datang keruanganku seusai kelas, mengerti?'' kata Ukitake yang masih bertampang datar.
''Ba-Baik Ukitake-san...'' jawab Ichigo sedikit lesu.
Sementara seisi ruang kelas itu masih ricuh dengan kegaduhan suara gelak tawa serta ejekkan terhadap Ichigo.
Ukitake-san mengambil salah satu bukunya yang terkapar diatas meja, berpura-pura membuka halaman buku dengan asal.
Buku itu diangkat sejajar menutupi wajah Ukitake, tak lama kemudian laki-laki paruh baya berambut putih panjang itu pun tertawa diam-diam karena merasa sudah tak bisa menahan lagi tawanya atas kelakuan Ichigo beberapa menit yang lalu...
''Ihihihihihihihi~''
...
''Hari ini saya mau memberi kalian beberapa materi baru yang penting tapi sayangnya tidak ada dibuku paket kalian. Untuk itu apa disini ada sukarelawan yang mau membantu saya mengambilkan buku ini diperpustakaan khusus?'' seorang laki-laki yang terlihat berwibawa berdiri didepan sebuah kelas dimana ia tengah mengajar, sambil menunjukkan sebuah buku yang ia maksudkan tadi.
Sudah berkata sedemikian panjang lebar, nampaknya tidak ada satu pun yang mau menunjukkan dirinya untuk melakukan apa yang telah dipinta laki-laki tadi didepan kelas.
Bahkan beberapa mahasiswa rajin dan terkenal pintar dikelas itu tak ada satu pun yang bersedia.
Sebuah tangan terangkat begitu saja disebuah meja baris belakang pojok kelas tersebut. Teman dekat disebelahnya hanya melirik sekilas.
''Ya? Kau... Kuchiki?'' tanya laki-laki yang berdiri didepan kelas tadi.
''Biar aku saja yang mengambilnya Aizen-san,'' Rukia mengajukan diri.
Aizen tesenyum tipis, ''Tolong yah...'' ujarnya sambil melihat kearah Rukia yang sudah maju beberapa langkah kedepan kelas.
Rukia mengangguk dan membalas senyum tipis itu sambil mengambil buku yang sempat dipegang oleh Aizen tadi.
''Perpustakaannya dilantai dua gedung ini, letaknya agak paling pojok. Temukan saja pintu berwarna hitam yang bentuknya paling berbeda sendiri disekitar ruangan itu, nah disitu perpustakaan khususnya.'' jelas Aizen sebelum Rukia pergi.
''Baik...''
...
''Pintu berwarna hitam paling pojok...'' gumam Rukia yang tengah berjalan kecil mencari ruangan yang dimaksud.
Rukia terus menelusuri ruangan itu, tak sadar bahwa jarak antara dirinya dan lift yang sempat ia naiki tadi kini telah menghilang dari pandangan. Itu berarti luas dari ruangan ini sangat memungkin Rukia bisa tersesat. Tapi, semoga saja tidak.
Langkah Rukia terhenti, ''Ah! Mungkin ini, pintunya juga berbeda seperti yang dikatakan Aizen-san tadi...'' Rukia memegang kenop pintu itu, kemudian mendorongnya sekuat tenaga.
Berhasil... Dan sekarang Rukia masuk kedalam ruangan itu, sepi...
Perpustakaan memang harusnya sepi, hanya saja aneh jika sebuah ruangan perpustakaan tidak terdapat penjaganya. Satu pun tanda-tanda kehidupan didalam ruangan itu saja tidak terlihat didalam ruangan luas yang dipenuhi rak-rak buku berjejer menjulang tinggi.
Tak mau berfikir panjang dan terlalu negatif, akhirnya Rukia memilih untuk kembali menggerakkan kedua kakinya kearah rak-rak buku diperpustakaan itu. Menyamakan buku yang ia pegang dengan beberapa buku disana.
'BRUK!' saat sedang berjalan tak sengaja Rukia menabrak sesuatu.
''AH!'' Rukia sedikit kaget, ''Box apa ini, Hhh~ Uhuk!'' Rukia membungkukkan badannya dan melihat tulisan yang tertera pada box berwarna coklat muda itu.
''World of Psychology, Hhh~ Ini dia! Hhh~'' sungguh keberuntungan Rukia tidak harus menyusuri rak-rak besar disana untuk mencari dan mencocokkan judul buku yang dimaksud Aizen.
''Hhh~ Bagaimana cara membawanya, Ugh! Hhh~ ini berat sekali...'' ujar Rukia.
Nafas Rukia yang sudah terengah-engah sebelum menemukan box buku itu sepertinya tak ia sadari...
''Hhh~ Hhh~ Bawa dengan apa yah? Hhh~'' Rukia terus mencari-cari akal untuk membawa box itu.
''Uhuk! Hhh~ Hhh~'' tiba-tiba saja sesuatu didalam tubuh Rukia bereaksi, membuat dirinya sedaritadi terus menarik nafas berat dan mulai terbatuk-batuk, ''Hhh~ Hhh~ Hhh~'' tubuh Rukia terasa begitu lemas, hingga akhirnya terhuyung jatuh kearah box buku tadi.
Seluruh tubuh Rukia mengeluarkan keringat dingin, sungguh aneh disaat musim semi yang menguarkan angin sejuk dan didalam ruangan yang tidak terlalu panas itu ーkarena terdapat air-conditionerー Rukia harus berkeringat dingin.
''Ce-laka! Ini... Hhh~'' Rukia mencari-cari sesuatu didalam kantung celana miliknya.
Masih terus mencari benda yang ia butuhkan sekarang, mencari begitu terburu-buru, ''Oh, iya! Aku... Hhh~ Kena-pa disaat begini... Uhuk! Hhh~'' Rukia melirik seluruh sudut didalam ruangan itu, mencoba menemukan penyebab mengapa tubuhnya harus kembali merasakan hal ini setelah sekian lama.
Matanya menetap pada beberapa titik objek disana, ''Itu yah... Hhh~'' gumam Rukia yang sudah semakin terengah-engah, ''Hhh~ Tou-shi-ro...'' akhirnya Rukia terjatuh pingsan disana, dengan kondisi yang sungguh membahayakan dirinya.
...
Sudah 30 menit semenjak kepergian Rukia dari kelas fakultasnya dan hal ini cukup membuat Toushiro khawatir, memunculkan pertanyaan, juga entah mengapa merasakan firasat buruk saat jantungnya tiba-tiba berdetak kencang sesaat.
Toushiro melirik kursi disebelahnya yang masih kosong sejak ditinggal penghuninya beberapa waktu yang lalu, menatap tempat kosong itu begitu cemas.
''Lama sekali yah Kuchiki, apa ada yang bisa menyusul Kuchiki? Mungkin ia kesulitan membawa buku yang terlalu banyak disana,'' ujar Aizen yang menyadari hal yang sama dengan Toushiro.
Toushiro mengangkat tangan dan segera berjalan meninggalkan bangkunya menuju Aizen.
''Tolong yah Hitsugaya...''
...
Setelah sempat mengalami hal yang sama dengan Rukia saat mencari ruang perpustakaan, akhirnya sekarang Toushiro telah sampai pada tempat yang sudah ia duga-duga.
'Cklek!' suara engsel pintu menggema ketika tangan Toushiro menarik tuasnya. 'Pintunya...' gumam Toushiro.
Ia menyingkirkan dulu soal pintu itu, ia lebih memilih untuk masuk kedalam ruangan mencari sosok Rukia yang lebih ia utamakan.
''Rukia? Sedang apa kau?'' Toushiro mendekatkan dirinya pada sosok mungil yang tengah pingsan dan tergeletak diatas sebuah box.
Toushiro mengangkat bahu Rukia, terlihat Rukia begitu berkeringat, suhu tubuhnya menurun ditambah lagi ia tak sadarkan diri.
''Rukia? Rukia!'' Toushiro mengguncang-guncangkan Rukia, berharap gadis yang ia cemaskan sedaritadi itu akan bangun, ''Celaka! Sepertinya kambuh lagi!''
''Tolong! Tolooonggg!'' teriak Toushiro didalam ruangan mencoba mencari pertolongan bagi temannya.
''Cih! Sial!'' Toushiro mengambil ponsel miliknya dan buru-buru memencet nomor panggilan darurat.
...
''Nah! Perlakukan pasien layaknyaー''
''Ada sms!'' ringtone ponsel berbunyikan suara Doraemon itu menggema ditengah-tengah Ukitake-san sedang menerangkan materi umum.
''Hahahahaha~'' suara gelak tawa kembali terjadi diruangan itu, setelah sebelumnya sempat terdengar karena ulah Ichigo yang tadi.
''Ponsel siapa itu?'' tanya Ukitake galak.
''Ma-Maaf Ukitake-san, itu punyaku... Hehehe~'' jawab Kaien sambil mengelus-ngelus belakang kepalanya.
''Nada ponselmu manis sekali~'' goda Hisagi dan sukses membuat seisi kelas menertawai Kaien.
Belum selesai dengan nada sms bunyi milik Kaien, sebuah ringtone ponsel lain membunyikan nada metalik dikelas itu.
''Ponsel siapa lagi itu?'' masih tanya Ukitake kesal.
''Punyaku~'' jawab Grimmjow malas.
'Wiung~ Wiung~ Wiung~'
''Sekarang ponsel siapa?'' tanya Ukitake geregetan.
Ichigo yang masih tertawa itu melihat sesuatu diluar jendela dimana bunyi 'Wiung~ Wiung~ Wiung~' tadi berasal.
''Itu bukan suara ponsel Ukitake-san, tapi mobil ambulance diluar sana~'' kata Ichigo sambil menunjukkan objek yang dimaksud diluar jendela.
Mendengar itu yang lainnya pun melirik kearah jendela. Sebagian mahasiswa berdiri ditempat hanya sekedar ingin melihat ambulance tersebut.
''Sepertinya mobil ambulance itu menuju kemari~'' ujar Orihime yang paling jelas melihat kemana arah mobil tersebut berjalan.
''Benarkah?'' Ukitake mendekatkan diri kearah jendela.
Sementara Kaien dan Grimmjow mencolong-colong kesempatan untuk membaca pesan masuk pada ponsel mereka masing-masing.
From : Toushiro
'Rukia pingsan! Cepat kelantai 1 jika sudah dengar suara ambulance!'
Kaien dan Grimmjow sama-sama tercekat ketika membaca isi pesan tersebut, kemudian saling memandang satu sama lain.
''SIAL! AYO CEPAT!'' teriak mereka bersamaan didalam kelas dan berdiri kasar, membuat suara tak mengenakkan ketika kursi yang mereka duduki bergeser dengan lantai dan terhantam keras dengan meja dibelakangnya.
Sama halnya dengan mahasiswa yang lain, Ukitake pun ikut terlonjak kaget, ''Kenapa kalian?''
''Kami permisi dulu Ukitake-san!'' jawab keduanya masih bersamaan sambil berlari keluar kelas.
''Hei! Mau kemana kalian?'' Ukitake mencoba memberhentikan kedua anak didiknya itu.
''Kecelakaan Ukitake-san! Rukiaー''
''Sudah cepat, tidak ada waktu untuk menjelaskan!'' saut Grimmjow sambil menarik lengan Kaien.
''Rukia?'' gumam Ukitake, ''Hei! Apa maksudnya? Ada apa dengan Rukia?'' tanpa berpesan apapun kepada mahasiswa dikelasnya itu, Ukitake ikut berlari mengejar Kaien dan Grimmjow yang sudah lebih dulu meninggalkan kelas.
''Apa barusan mereka mengatakan Rukia? Rukia yang mahasiswa baru itu?'' saut Orihime.
''Siapa dia?'' tanya Ichigo.
''Gadis yang tadi bertengkar denganmu dikantin bodoh!'' jawab Hisagi geregetan.
''Apa!'' teriak Ichigo begitu tidak percaya.
Ishida berdiri dari tempatnya perlahan, ''Sebaiknya kita susul sekarang dan memastikan apa yang telah terjadi!'' ucapnya tegas kepada teman-teman dekatnya itu.
...
''Dimana dia?'' tanya Kaien kepada Grimmjow yang sekarang sudah berada dilantai satu setelah sebelumnya keluar dari lift.
''Aku juga tidak tahu!'' jawabnya singkat.
Suara ambulance yang baru datang beserta dengan tim kesatuannya yang baru saja turun berhasil menarik perhatian orang-orang sekitar.
Suara lift yang tengah terbuka terdengar disana, menampakkan sosok Ukitake yang sempat mencoba menyusul langkah Kaien dan Grimmjow. Dan tak lama kemudian, suara lift disebelah lift yang digunakan Ukitake pun ikut berbunyi, menampakkan sosok Ichigo dengan teman-temannya yang lain.
''Sebenarnya apa yang terjadi?'' tanya Ukitake penasaran.
''Kami juga tidak tahu paman, sejak datang kami pun belum melihat sosok Rukia!'' jawab Kaien sekenanya.
''EIIIII! PAAAAMAAAANNNN?'' teriak Ichigo dengan teman-temannya bersamaan. Mereka masing-masing pun memberikan expresi wajah dan bahasa tubuh yang sangat konyol dan sulit untuk dijelaskan.
Tak mau menggubris, Grimmjow masih sibuk melihat kesegala arah disana, mencari sosok yang sangat ia khawatirkan saat ini, ''Eh! I-Itu Toushiro!'' katanya sambil menunjukkan Toushiro yang baru saja keluar dari tangga lantai atas.
''Benar! Dan yang digendong itu Rukia!'' tanggap Kaien, ''Rukia!'' panggil Kaien langsung berlari menuju kearahnya, diikuti Grimmjow.
Kaien telah berdiri dihadapan Toushiro sekarang, ''Toushiro! Bagaimana keadaannya? Kenapa bisa pingsan? Kenapa kau tidak naik lift biar lebih cepat sedikit?''
''Apa dia terluka? Apa dia jatuh atau tertimpa sesuatu hingga Rukia pingsan begini? Atau kau melakukan sesuatu padanya yah?'' sambung Grimmjow.
''Hahhh! BERISIK!'' teriak Toushiro. Ya, seperti biasa Toushiro paling tidak suka pertanyaan yang ditujukan kepadanya secara bertubi-tubi begitu, ''Dan aku tidak melakukan apa pun padanya dasar Grimmjow bodoh!''
''Bagaimana keadaannya Hitsugaya? Dan... Kenapa kalian berdua bisa ada disini?'' tanya Ukitake yang entah sejak kapan juga sudah berada dihadapan Toushiro.
''Dia pingsan Paman, penjelasannya nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah membawa Rukia kerumah sakit secepatnya!'' jelas Toushiro begitu cemas.
''Hei kalian petugas ambulance! Jangan diam saja disitu! Cepat bawakan tandu dan pasangkan tabung oxygen!'' cetus Grimmjow yang sangat kesal dengan gerakkan dari petugas ambulance yang kurang cekatan disana.
Diteriaki seperti itu pun para petugas dari ambulance langsung saja membawakan tandu beserta alat bantu pernafasan yang dibutuhkan oleh Rukia sekarang.
Samar-samar Ichigo melihat wajah pucat Rukia yang terlihat begitu kesulitan mencari pasokkan oxygen yang dibutuhkannya.
Wajah yang berbeda sekali dari wajah yang tadi sempat membuatnya terpesona itu kini berubah drastis menjadi sangat pucat pasi. Terlihat juga bagaimana tersiksanya Rukia ketika harus bernafas, serta keringat dingin yang terus saja menguar dari tubuhnya.
Tandu tempat dimana Rukia terbaring lemah tak berdaya itu kini telah diangkat masuk kedalam mobil ambulance, beserta dengan unit kesatuan petugas medis yang telah siap siaga menjaga Rukia didalam mobil ambulance selama perjalanan menuju Rumah Sakit.
Terlihat Ukitake ikut menaiki mobil itu bersama petugas medis yang lain. Tak mau ketinggalan, Kaien, Toushiro dan Grimmjow pun ikut mengambil langkah yang sama dengan Ukitake.
Namun sebelum kaki milik Kaien berhasil menapak didalam mobil, Ukitake menghalang mereka bertiga.
''Kalian disini saja, serahkan ini semua padaku.'' katanya tenang.
''Apa? Bagaimana bisa Paman! Yang didalam sana itu Rukia! Jelas saja kami harus ikut!'' tolak Kaien mentah-mentah dan direspon dengan anggukkan dari Grimmjow dan Toushiro bersamaan.
''Aku tahu! Tapi massa tanggung jawab kalian disini sebagai seorang mahasiswa wajib kalian jalani! Percayakanlah padaku!'' sekali lagi jelas Ukitake, ''Jalan,'' katanya kepada pengemudi mobil ambulance itu.
''PAMAN! TUNGGU!'' teriak Grimmjow, ''ARGH! SIAL!''
''Itu dia! Hei! Dimana Rukia? Bagaimana keadaannya?'' tanya seorang perempuan berambut gelombang panjang yang baru saja datang bersama dengan segerombolan teman-temannya yang lain.
''Dia baru saja dibawa ke Rumah Sakit...'' jawab Kaien lesu.
''Kenapa wajahmu begitu? A-Apa sesuatu yang sangat buruk kah?'' kali ini seorang laki-laki dibelakang wanita tadi yang bertanya.
''Toushiro jelaskan pada kami sekarang! Sebenarnya apa yang terjadi pada Rukia?'' Grimmjow mencengkram kedua bahu Toushiro kasar.
Merasa tak suka dengan perlakuan Grimmjow itu, Toushiro melepaskan cengkraman dibahunya sama kasar.
''Tadi dosen kami meminta Rukia untuk mengambilkan buku diperpustakaan lantai dua dan sepertinya kondisi didalam ruang perpustakaan itu tidak kondusif sehingga penyakit aneh Rukia itu kambuh lagi, saat aku menyusulnya dia sudah pingsan...'' jelas anak itu panjang lebar.
Semua yang telah memasangkan telinga disana guna mendengar penjelasan dari Toushiro hanya bisa terdiam ditempat.
''Tidak kondusif bagaimana Toushiro?'' tanya Kaien, satu-satunya orang yang masih bisa menahan emosionalnya disaat itu.
''Ruangan didalam perpustakaan itu tidak ada jendela, fentilasi juga tidak ada disana. Lalu pintu diperpustakaan itu dari besi berat membuat kita harus menggunakan tenaga ketika membukanya. Ketebalan pintu itu juga, ketika tertutup celah udara yang masuk hanya sedikit. Intinya ruangan itu minim oxygen yang dibutuhkan Rukia...'' tutup Toushiro mengenai penjelasannya.
Grimmjow mengepalkan kedua tangannya, wajahnya pun menampakkan kemarahan, ''Kenapa tidak kau saja yang mengambil buku itu diperpustakaan? Kau temannya kan? Harusnya kau bisa menjaganya lebih baik lagi!'' ketusnya.
''Aku tidak tahu kalau keadaan perpustakaannya seperti itu Grimm! Kalau akau tahu juga aku tidak akan membiarkan Rukia!'' Toushiro berusaha membela diri. Jujur saja ia juga merasa bersalah karena telah gagal menjaga Rukia sebagaimana janjinya dulu.
Kali ini Grimmjow kembali mengambil langkah mendekati Toushiro. Tatapan yang ia berikan terhadap anak laki-laki bermata emerald itu penuh dengan kemarahan.
Namun sebelum semua hal itu terjadi Kaien telah menahan tubuh temannya itu, ''Sudahlah Grimm! Jangan lepas kendali seperti ini!''
''Lepaskan aku Kaien! Biar aku beri dia pelajaran!'' saut Grimmjow yang meronta-ronta dari tangan Kaien yang sedaritadi menahan langkahnya, ''Hei, Toushiro! Walaupun begitu seharusnya kan kau bisa menemani Rukia keperpustakaan! Kenapa kau tidak melakukannya? Teman macam apa kau! Ha!''
Tanpa berkutik dari tempatnya, Toushiro hanya termanggu melihat Grimmjow yang sedang emosi. Memang semua yang dikatakan Grimmjow itu benar menurutnya. Merasa tak ada hak untuk membela diri ia hanya berkata, ''Maaf...''
Semua yang ada disana yang sedaritadi melihat kejadian mencekam itu dan sebelumnya sempat ikut terhanyut emosi antara Grimmjow dan Toushiro kini terdiam, mendengar permintaan maaf yang terdengar parau dari seorang anak laki-laki memanglah terdengar sesuatu sekali...
''Grimm, sudahlah...'' Orihime mencoba menenangkan emosi Grimmjow yang masih menguar.
''Diam! Ini tidak ada urusannya denganmu!'' teriak Grimmjow kasar. Hal itu pun sukses membuat Orihime menjadi takut.
Melihat temannya itu telah berkelakuan buruk, Ichigo pun ikut terbawa emosi, ''Jaga bicaramu Grimm, kau keterlaluan!'' ujar Ichigo tegas.
''Kau juga sebaiknya diam! Orang yang tidak tahu apa-apa tentang semua kejadian ini sebaiknya tidak usah ikut campur!'' kemurkaan Grimmjow terlihat seperti orang yang sangat kesetanan.
'BUKKK!' sebuah tinju yang begitu keras mengenai sebelah pipi Grimmjow. Membuat laki-laki berambut biru itu terjungkal jatuh dan darah segar mengalir dari mulutnya.
〖TBC〗
*Bahasa nonverbal adalah bahasa tubuh
*Segala yang disebutkan Ichigo waktu ditanya Ukitake itu adalah jenis senjata/ tembakkan, beberapa diantaranya ada senjata yang saya ambil dari permainan CS + PB.
*Waktu Ichigo berbicara sendirian ditangga sambil menggunakan bahasa tubuh tuh bayangin seperti Nakatsu suichi - Hanakimi, kesannya lucu + konyol ajahh~ ihihihihi~ ;D
*Suara nada ponsel Kaien yang menggunakan suara Doraemon itu kalian pernah dengar kan? Semoga saja pernah biar kesan lucu-nya dapet, ;D ahahaha~
Endingnya ga tepat yah? Gomen sengaja~ *dilempar sendal* (x_x)
Saya dapet banyak masukkan yang jujur membuat saya berterimakasih teramat sangat dari Review kalian, untuk itu sekali lagi ''Terimakasih banyak'' ... (^_^)
Ternyata ada beberapa dari yang mereview yang berpendapat sama mengenai adanya Dialog-Adegan yang tidak perlu.
Gomen yah, tapi sebenarnya maksud saya mengadakan hal itu untuk jalan cerita kedepannya dan moment pendekatan Ichigo ke Rukia. Ditambah lagi Genre yang saya masukkan itu kan cukup banyak sehingga membuat saya harus menggunakan Dialog dan Adegan dari character yang sebenarnya ga begitu mengambil peran penting.
Harap dimaklumi dan tidak mengurangi minat kalian untuk mebaca cerita ini. v(^_~)V
Soal kisah nyata disini yang saya masukkan sekitar 9%, jadi 91%-nya itu lebih banyak cerita fiktif yang saya masuk-masuki aja~ ^^
segitu dulu yah, sekali lagi Terimakasih bagi kalian yang sudah mereview dan membaca semoga terhibur... (^_~)
Keep and Mind to REVIEW ... ^^
