Social Media Addict
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
Warning: AU, and other things.
Lui masih tahan bermain dengan laptop abu-abu miliknya. Ia mengacuhkan ketiga teman perempuannya yang masih sibuk membicarakan cowok-cowok populer yang—pastinya menurut mereka tampan—Lui pikir mempunyai hobi menumpahkan feromon di setiap keadaan. Dan, benar sekali—topik mereka tidak jauh dari Len dan Kaito—sebenarnya Kaito hanya nyempil saja, tapi tetap saja dia masuk dalam topik.
"Jadi, siapa aja top five-nya, Miku?" Rin berkata sambil melahap ayam dari ujung garpunya. Dengan mengunyah pelan, ia masih memperhatikan Miku yang seratus persen masih tertarik pada ponselnya daripada pertanyaannya. "Miku."
Miku masih melihat ponselnya, "Ugh—" astaga, Kaito-senpai, "—iya?" Miku mengangkat kepalanya untuk melihat Rin yang sudah kelewat bete. Alisnya bertaut, kepalanya agak tertunduk, matanya menyiratkan—apa?
Rin memutar matanya, "Lo gak denger?" Rin dengan cepat menggelengkan kepalanya saat bibir Miku terbuka setengah, "Siapa aja top five-nya?"
Miku menepuk dahinya, "Kan kemaren baru gue kasih tau!"
"Iya, tapi gue lupa."
"Ya ilah!" Miku berdecak, "Jadi pas gue sama Gumi ngomongin Kaito-senpai dari tadi, lo gak nyambung sama sekali?" Rin mengangguk, "Sama sekali?" jawaban yang sama diterima Miku, "Karena lo lupa?!" dan kembali anggukan!—selamat kamu dapat piring cantik!
Miku baru ingin memekik, saat Gumi memanggil Rin. Mulutnya penuh dengan selada. Rin memandang Gumi yang memberi lima nama teratas piramida kegantengan anak SMA. Gumi meminum minumannya, dan kembali memangdang Rin dengan pandangan ngerti? Yang dijawab Rin dengan anggukan.
Rin menarik napasnya kasar, lalu menghentakan jari telunjuknya dengan permukaan meja, "Tapi dari tadi yang lo omongin cowok—bener, Gumi?" Gumi mengangguk, "Yang gue minta cewek," Rin menarik senyum di wajahnya, "Iya, walaupun lo semua udah pada ngomongin di ruang kepsek, gue masih lupa siapa aja top five ceweknya."
Lui menepuk kedua tangannya sekali, lalu menunjuk wajah Miku dan Gumi, "Idioooot!" ia tertawa keras, sampai pipinya memerah karena ditegur pelayan. Gumi melempar tomat kepada Lui—yang malah mendarat mulus di lidah Lui. Cowok berambut oranye tersebut melihat Rin yang masih tertawa, "Mau dikasih tau sama siapapun, nomor satunya tetep Ring."
Rin menatap Lui tajam, "Gue butuh top five bukan top one."
Lui berdecak. "Ring, Teto, Yukari, Mayu, Miki."
Rin meminum kembali Caramel Macchiato di atas meja miliknya. Ia menurunkan mug transparan tersebut, dan menekan ibu jarinya pada gagang mug. Mulutnya terbuka, menceritakan kejadian beberapa hari ini yang tidak sempat ia ceritakan. Wajah Miku, Gumi, dan Lui tentu saja berubah. Mereka menautkan alis—tidak senang dengan kenyataan Rin tidak berbagi cerita itu secepatnya pada mereka yang notabenenya adalah sahabat terdekat Rin.
"Itu hari Jumat malem plus Sabtu malem—gimana gue bisa ngomong sama kalian? Ketemu aja baru hari minggu!"
"Itu kenapa ada aplikasi di hape yang gunanya buat chat dan ada fasilitas namanya group—kita bisa ngebahas tentang apa aja!" Gumi meninggikan suaranya di dua kata terakhir. Ia bernapas sengal—ia sendiri tidak percaya bahwa ia telah meninggikan suaranya. "Maaf."
Rin menggeleng, "Gue yang harusnya minta maaf," ia menunduk, "Seharusnya gue jam 3 malem langsung ngegroup-chat kalian—berharap kalian bisa bales dalem mimpi!" Rin balas berteriak. Ia melihat Gumi yang kaget. Rin menjatuhkan kepalanya cepat, menyebunyikan wajahnya dalam silangan tangan di meja.
Lui menumpahkan seluruh atensinya pada Rin. Telapak tangannya jatuh di pundak Rin, ia memanggil Rin dalam nada yang lembut. Kepala Rin menengok ke arahnya—pipinya kini sedikit basah karena air mata. Dalam hati Rin, ia harap ia jatuh cinta pada Lui yang jelas-jelas lebih peduli padanya daripada Len yang bahkan menyebut namanya salah. Tanpa aba-aba, Rin memeluk Lui. Ia terisak di bahu Lui yang dibalut sweater abu-abu. Rin menarik dirinya agar duduk tegak, ia menatap Gumi yang menatapnya dengan perasaan bersalah dan Miku yang bahkan tidak tahu harus apa.
Ia merasa dirinya di posisi Miku, "Gue harus apa?" Rin mengelap air matanya dengan tissue, "Cuman gara-gara satu cowok aja kita hampir pecah. Cowoknya aja gak tau nama gue—"
"Jangan!" Miku memekik. "Please, jangan move on," ia menatap tatapan tanya dari Rin, "Gue gak tau kenapa, tapi tolong jangan. Lo boleh stop kalo udah bener-bener kelewatan—tapi sekarang? Nggak. Nggak boleh. Len belum pacaran sama siapapun, seenggaknya lo masih punya banyak kesempatan!" Rin menyipitkan matanya, "Oke, kesempatannya dikit—tapi, pokoknya jangan!"
Rin merendahkan tubuhnya, menatap Miku intens, "Jadi, gimana caranya supaya gue bisa dapet perhatian Len?"
Baru saja Miku ingin ngoceh, Lui sudah memotong dengan batuk yang disengaja. Ia mengangkat jarinya yang membentuk lambang peace atau isyarat angka dua. "Lo bisa berubah jadi cakep. Atau—" Lui menurunkan telunjuknya, meninggalkan jari tengah untuk Rin, "—Lo masuk top five."
Miku, Gumi, dan Rin memutar matanya. Rin menambahkan dengan dengusan napas keras, "Bedanya yang pertama sama kedua apa, Lui?" Rin menekan nadanya di akhir kalimat dan menurunkan jari tengah Lui.
Lui berdecak, "Lo coba liat Miki. Dia gak secakep top five lain—" Lui mendapat tatapan sewot dari Rin, "—oke, dia emang masuk kategori cakep, tapi dia pokoknya gak secakep top five lain. Tapi lo tau kenapa dia masuk top five?" gelengan pertama kali diterima Lui dari Miku, Gumi, dan Rin, "Karena dia jago maen di Instagram, Twitter, Facebook—apapun yang berbau social media!" ia hentakan jarinya di udara.
"Wow!" Miku memekik kegirangan, "Pinter, cerdas, genius! Ya ampun, gila lo bener banget!—For your information aja, Rin terakhir kali maen Facebook 1 tahun lalu." Mimik Miku berubah datar.
"Terus kenapa?" Lui menggebrak meja, suaranya menggebu-gebu menuntut persetujuan Miku atas kalimatnya. "Lo gak tau kalo Teto jarang banget yang namanya buka social media? Dia bahkan punya Twitter bulan lalu," ia menatap Miku menusuk, "Followers-nya 600 ke atas."
Mereka semua melihat Rin. Gadis pirang itu menarik napasnya kasar, kemudian membuangnya lewat hidung. Tangannya menarik mug transparan yang berisi setengah Caramel Macchiato mendekat ke bibirnya. Ia meminum hanya beberapa teguk, sebelum mengembalikan gelas tersebut ke meja. Rin mengangkat bahunya. Ia membuka bibirnya setengah, namun tak kunjung kata yang melesat dari bibirnya—ia tidak tahu bagaimana untuk merespon ini.
Lui menatap Rin dalam—terdapat kilatan penuh harapan di iris jingganya. Sinar matahari yang terbenam menembus kaca transparan Starbucks sampai pada rambut Lui. Rin baru sadar rambut Lui terlihat bagus di bawah sinar sewarna rambutnya. Ia juga telah tumbuh tinggi—terlihat dari caranya membungkuk untuk melihat Rin. Aroma parfum maskulinnya menyusup masuk ke hidung Rin—ia berbisik dalam hatinya, Giorgio Armani. Betapa Rin berharap ia bisa mencintai Lui seperti ia mencintai Len.
"Lo sendiri yang mau dibantuin supaya lo bisa dapet perhatian Len," ia mengambil jeda, "Tapi giliran dikasih saran lo kebingungan," Lui mengambil tangan Rin di bawah meja dan meremasnya erat. "Percaya sama gue, Rin."
Rin menggigit bibirnya. Ia menatap Lui dalam, kemudian mengangkat kedua bahunya.
—
Rin menatap layar laptop-nya kosong.
Mata birunya mengikuti panah yang berpindah dari satu tab ke tab lain. Ibu jarinya menekan touchpad sekali untuk mengganti laman Facebook ke laman Twitter. Netra biru langit masih menatap laman Twitter lama—di sana hanya ada tweet dari beberapa temannya dari beberapa minggu lalu. Ia kembali menggerakan tanda panah itu, untuk melihat mention yang ia dapat. Dan di sana, matanya hanya menemukan beberapa mention yang tidak penting.
Rin menghela napas. Ia mematikan laptop, lalu turun dari tempat tidurnya. Kakinya menyentuh lantai berkarpet merah gelap yang mendingin karena AC. Ia berjalan ke arah dinding yang menggantung coat biru navy. Ia memakai coat tersebut, sebelum keluar dari kamarnya.
Rin berjalan sebentar menuju tangga, kakinya yang jenjang menyusuri tangga ke arah lantai satu. Ia berjalan ke arah pintu keluar, dan mengambil sepatu apapun yang ia lihat. Ia menghela napasnya sebentar, lalu pergi dengan sepeda hitam miliknya.
—
Len berdiri di depan konbini 24 jam.
Ia melepaskan kepulan-kepulan yang tertahan di bibirnya
Matanya melirik sedikit ke sisi kanan konbini, dan agak sedih ketika tidak menemukan sepeda hitam. Len masuk, ia langsung mengarahkan kakinya ke kanan—ke tempat makanan ringan yang biasa ia beli. Ia mengambil beberapa pocky mint, lalu berpindah untuk mengambil dua susu kalengan—ia mulai berpikir bahwa kopi agak tidak baik untuk dirinya.
Len berjalan ke kasir untuk segera membayar jajanan miliknya. Setelah membayar dengan uang pas, ia keluar. Kakinya berjalan ke arah trotoar—tanpa pikir panjang, ia langsung duduk di sana. Plastik berisi makanan ringan tersebut langsung diletakkan di sisi kanannya.
Ia mendongak. Malam ini agak sepi—tanpa bintang, tanpa teman. Ia mengembalikan posisi kepalanya, menghela napas kasar, lalu tangannya mulai mengambil satu snack dari plastik. Len berharap ada Rin di sini—karena itu ia membeli dua susu kalengan, walau ia hanya seorang diri. Len tahu bahwa kemungkinan mereka akan bertemu lagi di sini kecil, tapi ia masih berharap Rin akan datang menemaninya.
Ckit.
Len menolehkan kepalanya ke kiri. Di sana ia menemukan gadis berambut pirang yang ia harapkan tadi. Ia tersenyum—mereka berdua tersenyum untuk satu sama lain. Netra birunya mengikuti Rin yang turun dari sepedanya, dan membimbing sepedanya sampai ke depan Len. Ia memperhatikan caranya memarkir sepeda di depannya.
Rin memiringkan kepala, "Hai?"
Len terkekeh pelan. "Hai," Len berkata pelan. "Pull and Bear? Dr. Martens? Lo pengen fashion show?"
Rin mendengus tidak suka. "Kalo coat, gue emang cuman punya Pull and Bear," ia mengambil tempat di sebelah Len, "Kalo sepatu gue ngambilnya ngasal—yang dapet cuman Dr. Martens."
Len melihat Rin meluruskan kaki jenjangnya yang terbalut jeans biru muda. "Lagian bagus juga kok Dr. Martens."
Rin langsung melihat Len cepat, "I know right."
Len mengacak rambut Rin pelan, "Gue punya Dr. Martens, kayaknya modelnya sama deh kayak lo," ia ikut meluruskan kakinya. Ujung sepatu Nike hitamnya menyentuh pelan ujung sepatu Rin. "Kayaknya kita juga sama-sama ngambil sepatunya ngasal," ia melihat sepatu Rin yang berbalik menyentuh ujung sepatunya, "Kayaknya kita jodoh."
Tawanya yang lepas mengambang di udara. Rin menatap sepatunya lama. Telinganya menangkap seluruh perkataan yang Len baru ucapkan. Ia mendadak mendengar seluruh suara pada malam itu. Angin, gemerisik daun, tawa Len, degup jantungnya sendiri, aliran darahnya—semuanya. Ia merasakan semuanya berlalu terlalu cepat. Ia tidak sadar bahwa sepedanya sudah tidak ada di tempatnya. Bukan. Ia sadar, hanya saja ia tidak ingin untuk sadar—ia ingin meresap semua makna dari kalimat terakhir Len.
Netra birunya melihat Len tidak percaya. Pria itu berkendara bebas dengan sepedanya, berputar-putar di depan wajahnya dengan santai—tanpa memikirkan efek kalimatnya pada Rin. Efeknya yang benar-benar menghantam Rin. Bagi Rin, kalimat tersebut membuka gerbang menuju neraka, yang akan dengan senang hati ia masuki.
Len berhenti tepat di depan Rin. Ia menatap Rin lama. Sinar dari lampu jalanan menyinari wajahnya. Matanya yang biru, pipinya yang memerah karena dingin, bibirnya yang kering karena udara malam, dan rambut pirangnya yang agak kering walau masih dalam kategori bagus. Len mengulurkan tangannya. Ia bisa meihat Rin yang menatap tangannya lama, kemudian menyambutnya. Bahunya terguncang karena Rin yang naik ke kursi penumpang.
"Ayo," Len menekan pedal sepeda, "Kita muter-muter."
—
Rin masih tertawa-tawa di kursi penumpang. Ia kembali menyuruh Len untuk mempercepat laju sepedanya. Mereka berdua melawan angin dengan keringat, sebelum membiarkan sepeda turun dengan sendirinya.
Rin merasakan sepedanya oleng. Saat sepeda itu melewati turunan, Len tidak bisa memegang kendali dan mereka berdua terjatuh ditimpa sepedanya. Rin bisa merasakan tangan Len yang memegang kedua lengan atasnya. Bertanya apa dia baik-baik saja, yang ia jawab dengan cengiran. Len mengacak-acak rambut pirang Rin, dan menyebut Rin sebagai cewek paling tahan banting.
Selanjutnya, mereka menaiki sepeda itu ke rumah Rin. Dalam perjalanan mereka, percakapannya mereka benar-benar random. Rin tidak mengambil pusing, dan masih mengikuti ke mana arah percakapan itu. Dan percakapan itu harus berhenti, ketika rumah Rin sudah di jarak pandang—yang tersisa hanya tawa di udara.
Len turun dari sepeda Rin. Ia memberikan Rin sepedanya kembali.
"Lo bisa pulang kan?"
Len mengangkat ibu jarinya, "Bisa, santai aja. Ini daerah gue kali," ucapnya. "Besok jangan bolos ya!" ia pergi menjauh, dengan cengirannya. Rin menatap punggungnya yang kokoh sebentar, sebelum masuk dengan sepedanya.
—
Rin menatap layar di depannya dengan tatapan bingung.
Ia memikirkan kalimat terakhir Len di konbini. Itu tentu candaan. Otaknya bahkan menyetujui bahwa kalimat itu candaan, yang masih segar di ingatannya adalah degup jantungnya yang bertalu-talu tadi dan ia masih bisa merasakannya sampai sekarang
Ia tahu bahwa rasa ini akan datang sesaat Len meluncurkan kalimat itu. Ia akan berbunga-bunga, kemudian akan ditampar dengan kenyataan bahwa ia bukanlah teman spesial. Tapi tetap saja, untuk kali ini, ia akan melupakan kenyataan itu dengan kegiatan yang akan ia lakukan beberapa detik ke depan. Walaupun ia tahu dampaknya akan fatal, ia masih membiarkan jarinya melakukan kegiatan tersebut.
Saat layar laptop-nya berubah, ia tersenyum.
Besok, ia akan benar-benar butuh bantuan Miku, Gumi, dan Lui.
Kagamine Rin
I'm back, bitc^es. Hibiki Lui, Nakajima Gumi, Hatsune Miku.
Like. Comment. Share
tbc.
buset. lama banget saya wb. sungguh, maafkan diriku ini yang baru bisa update;w;
weyyy, liburan udah mau abis dan saya masih cengengesan ngapdet fic. HAHA—maaf deh. anyway, alasan lain (sangat) terlambatnya fic ini diapdet karena waktu hari biasa yang dipenuhi tugas dan waktu liburan yang dipenuhi ajakan pergi sana-sini yang gak bisa saya tolak. HEHE—maaf ya, saya menyesal;w;
yaah, like alwaaaays—saya tau fic ini masih jauh dari kata bagus, sooooo... mohon reviewnya!;)
