.

Genre: Humor/Romance?

Pairing: Taoris/Kristao/Fantao with other Official Pairing EXO

Cast: Huang Zitao

Wu Yifan

The rest of EXO members

Rate: T

Summary: Dua kubu atau genk dari asrama berbeda yang memutuskan untuk mengebarkan bendera perang tepat setelah sebuah insiden (nista) terjadi. Huang Zitao. Member dari salah satu kubu itulah penyebabnya. "Mau ku antar ke asramamu? Atau mampir ke kamarku dulu? Aku sangat tidak keberatan kok."

Warning: OOC, Boyslove, school Life, mesum, typo(s) bertebaran, nista, author sableng dll

Daily Life or Love?

.

.

Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak berkenan

Dengan para cast dan warning-nya

.

Menerima Segala kritikan dan saran yang bersifat membangun

Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi author

.

Enjoy the story

.

.

.

Kai berjengit dan menatap horror saat dengan tidak senonohnya menerobos masuk ke kamar berlogo angka '200'. Wajahnya terlihat ngeri menatap penampakan dua orang yang terlihat berantakan di depannya. Kai jadi parno sendiri. Dia curiga kalau mereka berdua ini adalah korban amukan massa atau semacamnya. Lihat saja penampakan mereka saat ini.

Baju sobek di beberapa bagian, rambut kumal dan berantakan, seluruh tubuh memar-memar dan kebiruan, wajah sedikit babak belur dan yang terakhir ekspresi mereka yang terlihat santai dan puas.

Tunggu! Kenapa terlihat tanpa dosa seperti itu?

"Hyung! Kalian berdua ini kesambet apa sebenarnya? Penampakan kalian ini seperti gembel jalanan, tahu?" teriaknya heboh dan berlebihan. Dia menutup pintu keras lalu menghampiri si empunya kamar yang lagi berganti pakaian.

"Gembel katamu? Berkacalah dulu, Kkamjong. Lihat siapa yang lebih pantas disebut gembel dengan kulit hitammu itu." respon Chen jengah. Dia duduk di pinggir ranjang dan membuka kotak obat. Sebuah persediaan yang HARUS ada di setiap kamar untuk menolong kejadian yang tidak terduga seperti ini. Bahkan di kamar Kris, kotak obat adalah barang keramat yang mesti dijaga keamanannya.

"Kalian habis berkelahi, hyung? Dengan siapa kali ini?" tanya Kai penasaran. Tidak ambil pusing sebelumnya telah dihina oleh hyungnya sendiri.

Sudah biasa. Kai sudah terbiasa sakit hati dan ridho'. Tapi jika orang lain yang melakukannya, jangan harap semua giginya akan selamat.

"Siapa lagi kalau bukan mereka? Well~ kami sudah membungkam mulut kurang ajar mereka dengan sangat baik. Kupastikan setelah ini tidak akan macam-macam lagi dengan kita." Suho melemparkan senyum angelic (read:iblis) -nya. Membuat Kai langsung merinding disko. Dia sering bertanya heran pada diri sendiri, apa Hyungnya ini punya kepribadian ganda? Atau wataknya memang setengah-setengah seperti itu sedari lahir? Sungguh Kai penasaran.

"Kenapa tidak kabar-kabar Hyung? Bala bantuan pasti menyusul jika kalian mengirim kode. I-ini bukan bermaksud menghina, hyung. Tapi penampilan kalian ini persis seperti korban keroyokan massa." penjelasan Kai itu langsung mendapat dua deathglare mematikan. Terlebih Chen yang tidak terima wajahnya dihina-hina.

"Kabar-kabar mbahmu, jong. Kau pikir ini acara hajatan? Seriuslah sedikit." responnya datar. Setelahnya dia berdiri dan menghadap cermin.

"Apa sebegitu mengenaskan? Tuhan... Wajah tampanku~" ratapnya mendadak dramatis.

Suho dan Kai pokerface. Sudah biasa memghadapi Chen yang sifatnya agak nyeleneh tapi jahilnya kebangetan itu.

Brakk!

"Ku dengar ada yang menangisi nasib di sini? Suaranya terdengar sampai luar." Sehun datang dengan wajah minim ekspresi andalannya. Di tangannya terdapat sekotak teh gelas. Lalu tatapannya beralih dan jatuh kearah Kai.

"Jong! Katanya mau melaundry boxermu? Aku masih ingat kau tidak memakai daleman apapun seharian ini."

Kaca di depan Chen tiba-tiba retak. Suho menjatuhkan plesternya. Dan Kai langsung bertampang bloon.

"Kau tidak perlu mengumbarnya dasar cadel! Aarrghhh kenapa aku harus memiliki teman sejenis dirimu? Kau membuatku malu!" teriaknya histeris. Dengan kecepatan tinggi Kai berlari keluar melewati Sehun dan menghilang entah kemana. Ke tempat cucian mungkin?

"Kau serius?" tanya Suho menatap si magnae. Tatapannya terlihat ingin tahu dengan senyum jahil terukir setelahnya.

Sehun mengangguk mantab.

"Wooww... Apa burung-nya tidak lecet tanpa kurungan? Atau tiba-tiba terbang? Aku sudah tau jika dia beda dari yang lain, tapi seriously aku tidak menyangka tindakannya sampai seekstrem itu." lagi. Blak-blakan tanpa sensor. Apa memang seperti ini jika mereka tengah berbicara satu sama lain? Terdengar... Menegangkan sekali. XD

"Aku bahkan tidak pernah melakukannya. Bagaimana ya rasanya?" Chen ikut menimpali. Dia beranjak dari depan cermin dan menuju ke arah mini set sofa yang berada di depan pintu. Sepertinya digunakan untuk bertamu dan berkumpul.

Di setiap kamar memang disediakan kebutuhan barang yang cukup lengkap. AC, Tivi dan DVD, kulkas mini dll. Ukuran kamarpun lumayan besar untuk dua orang penghuni. Yah berbeda cerita jika ada penghuni tambahan.

Selusin orang numpang tidur, contohnya?

"Entahlah... Kau bisa mencobanya jika penasaran, Chen. Btw Sehun, kemana perginya Kris dan Chanyeol?"

Suho menempel plester di pipi kanannya. Acuh tak acuh melihat Sehun yang malah meringis menatap kegiatannya itu.

"Suho hyung, itu tidak sakit?" tanyanya kepo.

"Tidak. Sini kuberikan contoh barang satu atau dua pukulan. Kau akan merasakannya." jawab Suho datar dan terdengar enteng. Sehun menelan ludah paksa. Chen cekikikan sambil bermain dengan gadgetnya.

"A-anniyo hyung, ah Kris-hyung dan Chan-hyung? Mereka belum kembali ke asrama. Ada apa?"

"Tidak ada. Cuma mau berbagi kabar jika lusa ada razia kamar dadakan. Aku baru ingat jika mereka menyimpan majalah porno dari Kai. Jangan sampai kalian semua tertangkap seperti sebelum-sebelumnya. Aku tidak mau nama genk kita tercoret hanya karena hal memalukan ini. Mengerti?" ceramah Suho panjang kali lebar. Sikap bijaksananya kembali.

"Nee, hyung. Kenapa tiba-tiba sekali."

"Kudengar anak asrama sebelah ada yang kehilangan batu akik."

"Hah?"

"Bukan. Jangan mengada-ada Chen. Ketua asrama Growl mengaku jika dia kehilangan kunci cadangan seluruh kamar asrama. Dan mereka menuduh kita sebagai pelakunya."

"Kunci cadangan?"

"Iya. Kenapa kau sepertinya terkejut sekali, magnae?" selidik Chen. Dia menatap Sehun yang masih bersender di ambang pintu.

"Ah tidak apa-apa hyung." balasnya cepat. Sehun sekilas tersenyum kaku lalu berdehem.

'Mampus.' innernya horror.

.

.

.

Zitao, Kyungsoo, Baekhyun dan Yixing terlihat baru saja keluar dari area gedung sekolah. Karena porsi makan Zitao yang kelewat besar mau tidak mau mereka harus mampir dulu ke kantin sekolah untuk membeli makanan. Jika tidak, Zitao akan merajuk dan menangis karena keinginannya tidak ditururi. Mereka juga tidak mungkin membiarkan Zitao berkeliaran sendirian, sudah banyak terbukti jika meninggalkan anak panda itu sama saja dengan menarik kubu lain untuk bertindak semaunya. Terakhir kali mereka melakukan hal tersebut, Zitao ditemukan tengah dikepung beberapa anak yang terlihat berusaha untuk menyentuh dan menjahilinya. Bahkan jas sekolah dan tasnya entah hilang kemana.

Kyungsoo yang mengingat kejadian itu langsung muram tiba-tiba. Dia emosi sekali jika melihat Zitao sering diganggu genk lain. Padahal demi tuhan! Dia yang lebih mungil saja jarang sekali diganggu. Tapi kenapa Zitao yang jelas-jelas tinggi dan lebih besar darinya sering menjadi sasaran?

Yah tubuhnya memang tinggi sih, tapi terlihat ramping untuk ukuran kebanyakan namja. Padahal setahu Kyungsoo, anak panda itu hobi makan. Tapi kenapa tubuhnya tetap ramping begitu? Kyungsoo iri sungguh.

"Soo-hyung, Baekhyun-hyung, Lay-ge... Terima kasih ya mau mengantar Tao membeli makanan." ujar Zitao sambil tersenyum. Dia berjalan di belakang bersama Kyungsoo.

"Ah nee baby Zii~ jika tidak nanti Luhan-ge yang akan mengamuk. Kau tau kan dia semengerikan apa?" respon Yixing yang berada di depan. Dia menoleh lalu tersenyum tipis. Mereka saat ini berjalan menuju ke gedung asrama sekolah yang letaknya tidak terlalu jauh.

"Dia seperti gorilla jika marah. Aku heran padamu, Zii. Bagaimana mungkin kalian saudara sepupu? Sifat kalian beda jauh sekali." tambah Baekhyun. Pemuda penggila eyeliner itu menendang-nendang kerikil yang dilewatinya.

"Eoh memang kenapa? Lulu-ge sudah seperti kakak untuk Tao. Dia yang melindungi Tao dari kecil. Lulu-ge juga kuat dan pemberani, tidak seperti Tao yang cengeng dan penakut." jelas anak panda itu lirih. Dia menggigiti bibir bawahnya pelan lalu mengalihkan tatapannya kesamping. Kyungsoo yang hanya diam sedari tadi hanya bisa menghela nafas.

"Tapi Taozi begitu lucu dan menggemaskan. Luhan-hyung pasti senang punya adik semanis dirimu, Panda. Kami juga seperti itu." hiburnya.

Zitao menoleh ke arahnya lalu tersenyum cerah. Tatapannya begitu lugu membuat Kyungsoo mau tidak mau ikut tersenyum juga.

"Benarkah? Apa Tao tidak merepotkan?"

"Bicara apa kau. Tentu saja tidak. Aku malah senang memiliki adik semanja dirimu, baby-zii~ yah, walau kadang-kadang sifat polosmu itu membuatku harus banyak bersabar."

"Yaa! Lay-ge~"

"Hahahahahahaha... "

Mereka berempat bercanda satu sama lain selama perjalanan. Sebuah pemandangan yang terlihat begitu hangat.

"Wah Wah... Kalian akrab sekali ya? Boleh tidak kami bergabung?" sebuah suara mengintrupsi kegiatan mereka. Beberapa anak mencegat jalan mereka berempat. Sekitar 7 orang.

"Maaf... Kami tidak menerima orang asing." ketus Baekhyun.

"Begitukah? Btw kemana perginya si rusa cantik dan Baozi? Kalian terlihat kurang lengkap tanpa mereka. Atau kami juga bersedia kok melengkapi kalian. Benar tidak, baby panda?"

Zitao yang berada di belakang langsung berjengit kaget. Duh, kenapa harus dia lagi yang disebut? Dia kan hanya diam dan tidak mencari masalah. Tapi kenapa harus dia, duh gusti? Kenapa?

Oke, Zitao mulai ngelantur.

"Minggir kalian. Kami mau lewat." gertak Yixing yang mulai jengah.

"Wuhoho... Jangan galak-galak sayang~ nanti cantiknya ilang~" balasnya mendayu. Yixing dan Baekhyun muntah.

"Sayang mbahmu." desis Kyungsoo.

Mereka melangkah maju kemudian dengan satu anggukan dari ketua, mereka mulai mengepung dan mengitari Zitao dkk. Yixing memberi kode ke mereka untuk merapatkan punggung.

"Kami akan membiarkan kalian lewat dengan satu syarat... " si ketua mulai melangkah maju dan mendekati Zitao yang saat ini gemetar ketakutan walau dia berusaha menampilkan wajah garang. Tapi sungguh, malah terlihat lucu seperti anak kucing merajuk yang minta dipungut.

Yixing waspada. Matanya menangkap jeli gerak gerak si ketua yang sepertinya berniat untuk menerjang Zitao. Bagaimana tidak jika kelakuannya saat ini malah mengundang serigala lapar? Cih! Pasti orang-orang ini dari asrama wolf. Sudah Yixing duga. Karena memang pembagiannya seperti itu. Kebanyakan siswa yang memiliki sifat 'keras' berada di asrama tersebut.

"Kubilang minggir! Kami tidak mau menggunakan cara kekerasan." gertak Yixing. Lagi. Semua lawan di sana tertawa mendengar ancamannya.

"Kekerasan? Bagaimana kalau kita melakukannya di ranjang saja? Aku pasti tidak segan-segan untuk melakukannya dengan 'keras'. Cukup dengan kalian berempat. Dan khusus untuk baby panda~ aku akan memberikan servis tambahan." lagi lagi kalimat frontal.

Baekhyun menggeram.

"Dalam mimpimu, keparat."

"Aduh, sedihnya... "

Drap drap

"Masih butuh pemain tambahan, tidak?" sebuah suara terdengar. Mereka menoleh serempat dan mendapati Kris berdiri dengan... Chanyeol?

Serius? Kenapa penampilannya acak-acakan sekali? Dan jika dilihat lebih teliti banyak tanda robekan di bajunya. Habis digigit anjing kah? Sepertinya iya mengetahui jika dia saat ini menatap Baekhyun tajam dan seolah memberi kode seperti 'sialan kau, cabe. Kau yang manaruh seragam olahragaku di kandang anjing penjaga kan? Awas kau nanti.'

Ya... Begitulah. Baekhyun memeletkan lidah.

"Ada pangeran kesorean datang menyelamatkan putri panda? Heroik sekali."

"Benar sekali. Dia datang untuk menghabisi cecunguk-cecunguk jelek yang sok keren tapi bikin muntah." celetuk Chanyeol.

"Kurang ajar kalian berdua! SERANG... !"

"HYAAAAA..."

Dan gerombolan itu berbalik arah dan menyerang duo pahlawan tanpa topeng yang datang kesorean.

.

.

.

Luhan dan Xiumin berniat untuk masuk ke gerbang Asrama saat mata Luhan menangkap sesuatu. Pemuda cantik tanpa alas kaki itu alias nyeker tengah menautkan alis memandang ke asrama sebelah. Asrama Wolf. Lebih tepatnya dia sedang memperhatikan Kai yang tengah menjemur karpet di pelataran samping asrama. Jadi walaupun para siswa dibebaskan untuk masalah mencuci baju dll bukan berarti untuk masalah karpet dan barang-barang besar lain mereka bebas melakukannya. Dengan kata lain mereka harus mencuci semua itu sendiri. Contohnya ya Kai saat ini.

"Haloo... Tuan babu~" Luhan tanpa sepatu (disita guru Olahraga) langsung melangkah mendekat dan berdiri di samping gerbang. Ekspresinya terlihat mengejek luar biasa. Kai yang melihatnya terus terang ingin sekali mencakar wajah cantik itu.

"Apa maumu, rusa rabies? Oh diva cantik sekolah kita nyeker seperti ayam? Kau persis gembel." respon Kai acuh tak acuh. Dia melengoskan wajahnya kesamping dan melanjutkan acara jemurnya.

"Dan kau persis babu teraniaya, Blacky. Apa kau tidak pernah berkaca? Wajah hitammu itu persis gembel yang membabu." ok cukup.

Brakk!

Kai menendang ember yang ada disebelahnya dengan emosi. Sudah dua kali hari ini dia dipanggil gembel. Ini pakai embel-embel babu lagi. Hellow... Apa wajahnya sebegitu cocoknya?

Damn!

"Heh rusa sinting! Kau memanggilku apa? Blacky? Kau mau mencari masalah denganku? Aku tidak sudi berurusan dengan genk rempong seperti kalian. Mau ditaruh dimana harga diriku?" teriaknya berapi-api.

"Genk rempong katamu? Belum pernah kuhajar ya? Orang hitam sepertimu mana tahu tentang harga diri segala. Bukannya kau tidak pernah punya harga diri?"

Jlebb!

"Jangankan harga diri, rasa malupun dia tidak pernah punya, Lu~"

Jlebb!

Xiumin ikut memanas-manasi. Mereka berdua saling mrnyeringai melihat aura Kai yang mendekati pundung. Dengan garis-garis hitam imajiner sebagai backgroudnya. Terlihat kasian sekali.

"Iya dong umin~ kalau aku mah langsung bunuh diri aja daripada nanti merusak ekosistem(?). Eksistensinya cuma mengganggu kehidupan sih?"

Jleb! Jleb!

"Ayo Lu. Kita pergi saja. Tinggalkan makhluk hitam tidak tahu diri ini."

Mereka berdua dengan santainya langsung beranjak menjauh. Masuk ke gerbang asrama Growl. Meninggalkan Kai yang beraura sangat pundung di belakang.

Kuatkan imanmu jong!

"YAA KKAMJONG! JANGAN MEMANJAT GERBANGNYA...!" teriakan Sehun menggelegar.

.

.

.

"Oh Suho-hyung lagi patroli ya?" Suho menoleh dan mendapati Yixing sedang duduk di taman seberang. Dia yang aslinya ingin berkeliling asrama Wolf entah mendapat ide darimana malah berdiri di tengah-tengah taman asramanya. Dan yang paling tidak terduga, dia bertemu Yixing yang sama-sama berada di taman. Cuma bedanya adalah Yixing berada di taman Growl, asramanya sendiri.

"Ah iya Xing. Kau kenapa belum tidur jam segini? Ini sudah hampir tengah malam." jawabnya terdengar kaku. Dia mematikan senter yang sejak tadi di bawanya.

"Tentu saja nenunggumu, Suho-hyung~ tidakkah kau berpikir kita jodoh? Kita saling bertemu di sini." Yixing memang terlihat lebih agresif jika menyangkut Suho. Tidak heran sifatnya berubah 180 derajat jika berhadapan dengan pemuda bermarga Kim tersebut.

Suho tersenyum paksa. Gila! Yixing memang sering terang-terangan seperti ini. Bukannya dia keberatan atau gimana, Tidak ada orang yang menolak jika ditaksir orang manis macam Yixing kan? Tapi sedikit banyak Suho kadang-kadang merinding dan was-was tanpa sebab. Ini memang terdengar memalukan tapi hanya Yixing seoranglah yang pernah menjadi obyek fantasy liarnya (salahkan Kris yang selalu meracuni otaknya). Suho bahkan bingung sendiri. Kenapa harus Yixing? Musuh genk nya?

"Ah hahahahaha begitukah? Kau pandai melucu Xing."

Yixing mengerutkan alis lalu menatap lurus ke arahnya.

"Sejak kapan aku pandai melucu, hyung. Aku serius~"

Mampus!

Suho stres. Antara senang pengen lonjak-lonjak kayak orang gila atau merasa malu karena martabat seme-nya yang mendadak turun, ataupun rasa ingin menangis terharu sambil sujud syukur karena sepertinya perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.

Really ini adalah kalimat menjurus pertama yang selama ini pernah Yixing keluarkan. Dulu mereka hanya saling bertegur sapa jika bertemu, mengobrol seperlunya dan ya begitulah. Walaupun genk masing-masing tidak pernah akur, tapi hal itu tidak begitu berlaku untuk mereka berdua. Seringnya sih mereka berlaku wajar jika hanya bertemu berdua. Tanpa siapapun.

"Wah sudah lewat tengah malam ya? Maaf ya Xing aku harus patroli dulu. Kita lanjutkan lagi ngobrolnya kapan-kapan." Suho kabur begitu saja. Bingung harus menjawab seperti apa dan akhirnya memilih mengamankan diri.

Seme kok tingkahnya begitu amat -_-

"Iya hyung, hati-hati ya?"

Dan Yixing dengan wajah murung karena modusnya yang gagal. Atau Suho yang pura-pura tidak peka?

Yah intinya mereka berdua ini terlalu memaksakan diri sendiri. Yang satu bertindak lebih untuk menarik sang pujaan hati dan yang satunya lagi... Berlagak bloon dan sok polos alias berakting tidak tahu diri jika ada orang yang menaksirnya.

Suho itu... Seme apa uke sih? Kurang greget.

.

.

.

.

.

T.B.C.

Note : Saya agak lelah belakangan ini. Entahlah mungkin (lagi-lagi) saya harus mengistirahatkan diri. Kesibukan saya di RL cukup membuat saya tertekan, apalagi sebentar lagi predikat 'anak kuliahan' akan segera dicopot, mengharuskan saya untuk lebih fokus ke arah selanjutnya.

Jadi tolong dimaklumi jika kedepannya saya gak bisa aktif seperti dahulu. Saya akan usahakan untuk menyelesaikan fic yang masih tertunda. :)

Terima kasih atas partisipasinya selama ini, i love u guyz... Apalah daya seorang author tanpa dukungan kalian semua. Walau saya tidak pernah membalas review kalian sekalipun, tapi sungguh saya menghargai dan menjadi termotivasi berkat kalian, sankyuuu... Sebagai timbal baliknya, saya akan meninggalkan jejak di sini.

7D784BFB

Bisa di add pin-nya jika kalian ingin mengenal dekat atau sekedar kepo dengan saya. Tenang itu bukan hoax atau jebakan spiderman(?), itu asli! Tapi awas jangan diteror ya... -_- tak santet satu2 ntar :v :v

See u next time... :* :*

Review?