Preview chapter sebelumnya...
"Rumahku melewati jalan ini"
"Tak masalah"
"Tega sekali Akashi. Ia seenaknya saja menyuruhmu"
"Heee~ kenapa Seira-chin memberikan makanan untuk Mine-chin?"
"Ada apa ribut-ribut disini nanodayo?"
"Mou! Seira! Kapan-kapan bantu ajari aku memasak ya?"
"Kembali ke posisi kalian masing-masing!"
"Gawat! Aku lupa memberikan laporan ke ketua klub!"
"Apa-apaan anak itu"
'Doushite, Akashi-san?'
Yap! Update chapter 4 ssu~
Hm, langsung aja deh. Kita mulai chapter 4-nya!
Ready.. and go! (?)
Kuroko no Basuke©Fujimaki Tadatoshi
-Unspoken Love chapter 4-
.
Malam harinya, saat di rumah, Seira termenung diatas tempat tidurnya. Kedua tangan mungilnya melingkari sebuah boneka beruang coklat berukuran sedang pemberian dari obaasan-nya dulu.
"Hm" Seira mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk. Ekor matanya melirik ke arah ponselnya yang berada di atas meja.
"Kalau dipikir-pikir ulang, Akashi-san tidaklah bersifat dingin seperti yang selama ini aku lihat.."
"Waktu aku lihat dari sorot matanya saat itu.. terlihat jauh berbeda. Sepertinya ia menyembunyikan sisi lembut yang ada didalam dirinya"
Kali ini, Seira mengganti pandangannya keluar jendela kamar. Ia tersenyum tipis melihat bintang-bintang yang berkilauan di langit malam itu.
'Aku ingin mencoba untuk meraih sisi yang tersembunyi itu. Kira-kira kenapa Akashi-san menyembunyikannya ya...'
Sesuai niatan Seira semalam, hari ini ingin mencoba untuk dapat melihat sisi lain Akashi—yang menurutnya memang ada dan disembunyikan oleh Akashi. Seperti biasanya, sepulang sekolah ia datang ke gedung olahraga. Kali ini, Seira membawa sebuah tas berukuran sedang yang berisi kue kering buatannya dan sebuah tas lain yang berukuran lebih kecil dibandingkan yang satunya.
Kedatangan Seira ke gedung olahraga bertepatan saat para Kiseki no Sedai sedang beristirahat. Dengan riang, Seira melangkah sambil melompat-lompat kecil menghampiri mereka semua.
"Minna, aku bawa kue untuk kalian loh~ Mau?" tanya Seira. Ia menyodorkan tas yang sebelumnya ia pegang. Murasakibara dengan cepatnya segera mengambil dan melihat isi dari tas yang diberikan Seira. Kise langsung merengek dan mulai memprotes tindakan yang dilakukan oleh Murasakibara. Aomine pun ikut ambil bagian dalam perdebatan itu. Sementara Kuroko berusaha melerai ketiga temannya yang sedang berdebat—walaupun keberadaannya tidak dihiraukan oleh temannya yang masih sibuk berdebat—dan Midorima yang terihat risih dengan suara-suara yang timbul akibat debat yang terjadi.
"Akashi-san, kau tidak mau mencobanya?" tanya Seira kepada Akashi yang sedari tadi memperhatikan perdebatan rekan setimnya.
"Tidak"
Seira sedikit merasa miris ketika mendengar jawaban Akashi yang sangat singkat. Tapi tak lama setelah itu, ia malah tersenyum dan memberikan tas yang satu lagi kepada Akashi.
"Aku sudah menduganya, maka dari itu aku membuatkan yang ini khusus untuk Akashi-san. Bisa dibilang sebagai pelengkap ucapan terima kasihku yang sebelumnya itu~"
Akashi menatap sebentar tas yang diberikan oleh Seira—sepertinya ia sedang menebak apa saja kemungkinan isi yang ada didalamnya.
"Apa ini?" tanya Akashi monotone. Tentu saja ditambah dengan tatapan tajam plus intimidasi darinya.
"Ehehehe.." Seira sedikit memiringkan kepalanya. Kedua tangannya ia arahkan ke belakang badan. "Buka saja kalau penasaran" jawab Seira yang mencoba membuat Akashi penasaran.
Akashi memprotes jawaban Seira yang tidak jelas itu lewat tatapan matanya, tapi Seira tidak memperdulikannya. Ia sudah tahu kalau pasti akan ditatap seperti itu karena jawabannya yang sudah pasti sangat tidak jelas di mata Akashi. Disisi lain ia bersyukur karena Akashi tidak mengeluarkan gunting merah kesayangannya.
Akashi mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tas, dan—
KLEK
—ia membukanya. Seira dapat melihat sekilas wajah Akashi terkejut dalam waktu yang sangat singkat.
Ternyata di dalam kotak bekal itu adalah..
"Sup tofu?"
"Hum!" Seira mengangguk untuk membenarkan perkataan Akashi tadi.
"Kenapa sup tofu?" Ekor mata Akashi menatap tajam Seira.
"Hee? Kenapa memangnya?" Seira memasang wajah pura-pura polos—atau mungkin bodoh.
"Dari sekian banyaknya makanan yang ada di dunia ini, kenapa harus sup tofu?"
"Um.. karena itu makanan kesukaan Akashi-san mungkin?"
Oh, Akashi makin merasa kesal karena tak satupun jawaban dari Seira dapat menghilangkan rasa penasarannya. Gadis itu sedang mempermainkannya ya?!
"Darimana kau tahu hal itu?"
"Ra~ha~si~a~ teehee!"
"Seira—" Akashi mengambil gunting merahnya yang sedari tadi beristirahat dengan tenangnya di bench.
"Aku tidak akan memberitahukannya. Weeee~"
Seira menjulurkan lidahnya kepada Akashi, kemudian ia langsung mengambil langkah seribu untuk menjauhi Akashi. Tentu saja sikapnya barusan itu mengundang perhatian dari anggota Kiseki no Sedai serta Momoi yang memperhatikan percakapan antara dirinya dan Akashi dari jauh.
Disaat sedang asyik-asyiknya kabur dari amarah Akashi, ponsel Seira berdering yang menyebabkan pemiliknya berhenti berlari. Dipandanginya oleh Seira layar ponselnya. Panggilan masuk dari seseorang yang sudah sekitar 3 tahun tidak pernah menghubunginya.
'Okaasan'
Seira menatap kosong layar ponselnya itu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menerima panggilan dari ibundanya.
KLIK
"Kaasan?" suara Seira mengecil saat menyebutkan nama panggilan itu. "Ada apa?"
Kuroko yang mengetahui bahwa Seira tidak tinggal bersama orang tuanya sejak kecil itu menatapnya khawatir—meski wajahnya tetap terlihat datar.
"Aku mengerti. Hm. Baik, kaasan"
KLIK
Kalimat itupun mengakhiri percakapan antara Seira dan sang ibunda lewat telfon tadi. Percakapan yang begitu singkat untuk seorang ibu dan putrinya yang sudah tidak berhubungan sekitar 3 tahun lamanya.
"Seira, tadi itu telfon dari ibumu?" tanya Momoi. Seira mengangguk singkat untuk menjawabnya.
"Tapi kenapa Seiracchi terlihat tidak begitu senang saat berbicara dengannya ssu?" Kali ini muncul pertanyaan lainnya dari Kise. Kelihatannya ia sudah berhasil meminta 'jatah' kuenya dari Murasakibara.
Seira menundukkan wajahnya saat mendengar pertanyaan Kise. Nafasnya terasa memberat. Ia bingung antara memilih untuk bercerita atau tidak. Saat melihat tatapan penuh tanya serta harapan dari Kise dan Momoi, akhirnya Seira memutuskan untuk menceritakannya.
Seira bercerita bahwa sejak kecil ia tinggal dengan neneknya. Ia kabur dari rumahnya dikarenakan ia sudah tidak tahan dengan peraturan yang diberikan oleh ayahnya. Seira kecil merasa tertekan pada semua larangan serta peraturan-peraturan itu, makanya ia kabur lalu tinggal bersama sang nenek. Ia juga menceritakan ketika tinggal bersama neneknya lah ia baru mengenal Kuroko. Sekain itu, Seira juga bercerita tentang neneknya yang meninggal saat ia masih tingkat satu di sekolah menengah pertama. Setelah meninggalnya sang nenek, Seira memutuskan untuk tinggal sendiri tanpa ada niatan kembali ke rumahnya.
"Etto.. maaf ya kalau aku malah bercerita yang aneh-aneh. Ahahahaha" Seira tertawa canggung saat merasa atmosfer diantara mereka berubah. "Istirahatnya sudah selesai kan? Lebih baik kalian cepat kembali latihan atau Akashi-san bakal mengamuk loh"
Mendengar kata 'Akashi', Kise dan yang lainnya kembali latihan. Kue yang diberikan oleh Seira juga sudah habis tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Momoi kembali mengambil papan datanya yang ia tinggalkan di bench. Seira mengikuti Momoi lalu duduk di bench. Ia memperhatikan latihan yang dilakukan oleh Kiseki no Sedai.
Aomine yang sedang one-on-one dengan Kise, Kuroko yang bersiaga di posisinya, Midorima yang hendak men-shoot tapi malah dihalangi oleh Murasakibara, dan Akashi—
—eh, tunggu dulu. Dimana Akashi?
Seira memutar pandangannya ke seisi gedung olahraga. Tidak ada. Akashi tidak ada dimana-mana. Karena penasaran, Seira pun berlari keluar gedung. Barang kali ia bisa menemukannya diluar sana.
Ketika Seira keluar dari gedung, ia melihat Akashi sedang berbicara dengan pelayannya yang waktu itu pernah ia lihat. Diam-diam, Seira mendekati Akashi secara sembunyi-sembunyi agar ia bisa mendengar percakapan diantara keduanya.
"...tetapi semua ini Tuan lakukan agar Tuan muda bisa menjadi calon penerus perusahaan yang baik"
"Berhenti mengatakan itu, Tamura!"
"Maaf atas kelancangan saya"
Seira menyimak percakapan Akashi dan pelayannya barusan. Calon penerus perusahaan? Seira tahu bahwa keluarga Akashi memiliki perusahaan besar atau mungkin malah terbesar di Jepang. Tapi, kenapa Akashi terlihat tidak suka saat disangkut-bautkan dengan hal tersebut?
"Aku memang akan menjadi penerus perusahaan tousan. Tapi setidaknya berikan aku kebebasan saat aku berada di sekolah. Mengerti?"
'Kebebasan?' batin Seira. Saat menyadari bahwa percakapan tersebut akan segera berakhir, Seira dengan cepat menjauhi tempat itu. Ia kembali berlari ke arah gedung tanpa sepengetahuan Akashi—mungkin.
'Jadi ternyata selama ini Akashi-san sama sepertiku...' batin Seira selama ia berlari. Ketika ia sudah sampai di dalam gedung, ia kembali duduk di samping Momoi. Selang satu menit setelah Seira kembali, Akashi masuk ke dalam gedung. Seira pura-pura mengalihkan penglihatannya ke yang lainnya.
Latihan pun berakhir. Seira mulai merapihkan bola basket yang bertebaran—seperti biasa. Terkadang ia juga membantu Momoi memberikan minuman isotonik kepada anggota lain. Disaat yang lain sedang beristirahat, Seira melangkahkan kakinya mendekati Akashi yang berdiri di dekat salah satu dinding gedung.
"Akashi -san.." panggil Seira. Suaranya terdengar pelan sekali membuat Akashi merasa aneh dengan nada suara Seira.
"Apa?" balas Akashi seadanya. Jeda waktu sesaat sebelum Seira kembali membuka mulutnya.
"Etto.. kalau Akashi-san mempunyai masalah dan membutuhkan seseorang untuk diajak bercerita, Akashi-san bisa bercerita kepadaku kok"
Kening Akashi mulai mengerut. Apa maksud dari perkataan Seira?
Akashi tidak membalas satu patah kata pun, ia hanya mendelik tajam ke arah Seira.
"Maksudku, aku mengerti bagaimana perasaan Akashi-san. Aku tahu itu! Jadi kalau—"
CKRISH
"Apa maksudmu dengan 'aku mengerti bagaimana perasaan Akashi-san'? Kau pikir kau ini siapa?"
Seira terkejut dengan respon yang tidak diduga dari Akashi. Sudah lama ia tidak mendapat lemparan gunting Akashi, apalagi yang tiba-tiba seperti ini.
"Jangan berkata kau seolah-olah mengetahui segalanya tentang diriku"
Badan Seira bergemetar. Ia takut dan shock mendengarnya. Suara Akashi.. suaranya lebih menyeramkan dari yang selama ini ia dengar. Tapi, masih ada yang ingin ia sampaikan! Ia tidak boleh berhenti disini!
Di sisi lain gedung, Momoi dan yang lainnya mulai merasakan firasat aneh ketika melihat lemparan gunting tadi. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?
"Aku memang tidak mengetahui segalanya tentang Akashi-san, tapi aku tahu kalau ini bukan Akashi-san yang sebenar—"
BRAKK
Akashi memukul dinding disampingnya untuk menghentikan perkataan Seira. Ia kesal, ia sangat teramat kesal mendengar omongan Seira.
"DIAM!"
Namun, bentakan itu dihiraukan oleh Seira.
"Dengarkan dulu, Akashi-san! Kalau Akashi-san seperti ini terus maka Akashi-san tidak akan pernah bisa melihat keindahan dunia ini! Mou, sudahlah. Tolong lepaskan topengmu itu, Akashi-san. Aku mau menolongmu"
"Menolongku? Memangnya kau siapa? Sadarilah tempatmu! Kau sama sekali tidak mengetahui apa-apa, Seira Akari"
"Aku mengetahuinya!"
CKRISH
SREEEET
Semua yang berada di gedung olahraga langsung terdiam melihat lemparan Akashi kali ini. Bukannya tanpa alasan, tapi lemparan gunting Akashi kali ini berhasil menimbulkan luka goresan di pipi kiri Seira.
"Seira!" teriak Momoi khawatir. Kuroko dan Kise pun menghampiri Akashi yang masih berdebat dengan Seira untuk menghentikan aksi mereka sebelum terlalu jauh.
"Akashi-san, aku mau menyelamatkanmu. Kau tidak bisa seperti ini terus!" Seira memegangi pipi kirinya yang mulai mengeluarkan darah akibat goresan gunting Akashi tadi. Meskipun ia sudah terluka—untuk yang perama kalinya—, niatnya untuk 'menyelamatkan' Akashi tidak surut.
"Berhentilah untuk mengatakan hal yang sia-sia. Lebih baik kau diam dibandingkan bersikap seolah-olah mengetahui segalanya, Seira Akari"
Setelah mengatakan hal tersebut, Akashi langsung keluar dari gedung olahraga. Rekan setimnya tahu bahwa sang kapten benar-benar marah saat ini. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan mereka juga tidak mau menjadi 'korban' dari gunting Akashi.
Seira sendiri masih benar-benar shock, ia tidak memperkirakan kalau akan berakhir seperti ini. Mentalnya tertekan karena bentakan Akashi tadi yang sama sekali belum pernah ia lihat. Semarah itu kah Akashi padanya? Apa itu berarti semua tebakannya itu benar? Tapi kenapa Akashi tidak mau melepas topengnya? Apa benar-benar dirinya sudah terkurung? Sekuat apakah kurungan itu?
"-san.."
"ira-san..."
"Seira-san..."
Dipanggilan ketiga, kesadaran Seira baru kembali sepenuhya dari lamunannya tadi. Kedua matanya menatap Kuroko yang berdiri tepat didepan Seira.
"Tecchan..."
"Daijoubu desu ka, Seira-san?"
"...hai. Daijoubu"
Sejak insiden perdebatan itu, baik Seira maupun Akashi tidak saling berbicara satu sama lain. Jika keduanya bertemu di lingkungan sekolah ataupun didalam gedung olahraga, Akashi pasti hanya menatap tajam Seira kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
Seira sendiri tidak bisa merespon apa-apa saat itu. Setiap kali bertemu Akashi, ingatan tentang bentakan, amarah, serta lemparan gunting yang berhasil melukai pipi kirinya itu kembali berputar.
Seira tak mau hal itu terulang kembali karena itu akan membuat jarak diantaranya dengan Akashi semakin jauh. Akan tetapi, ia tetap bersikeras ingin 'menyelamatkan' Akashi. Gadis itu sudah tidak tahu bagaimana lagi caranya untuk memulai percakapan diantara dirinya dengan sang kapten. Atmosfernya terasa sangat berbeda sekarang. Lebih canggung, lebih sulit, lebih mencekam, atau—atau apapun itu—setiap kali dirinya berpapasan dengan Akashi.
Namun, seiring dengan terus terjadinya hal seperti itu membuat niatan Seira makin menguat. Ia harus menyelamatkannya! Harus! Tak peduli jika gunting Akashi akan menorehkan luka yang lebih parah dibandingkan luka di pipinya. Tidak peduli siapapun orang yang berusaha menghalanginya untuk melakukan niatannya tersebut. Karena jika Seira tidak mencoba untuk melakukannya, ia... ia akan merasa bersalah pada dirinya sendiri untuk suatu alasan pribadi.
Istirahat makan siang.
Hari ini Seira memilih untuk pergi ke taman samping gedung sambil membawa gitarnya untuk ekskul musik nanti. Ia tidak membawa bekal yang sudah dipersiapkannya dari rumah. Mood untuk makannya benar-benar hilang saat ini.
"Haaaaaaaah~"
Seira menghela nafas panjang untuk mengusir semua beban yang berkecamuk dipikirannya saat ini. Kapan ya ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Akashi?
Disaat Seira sedang larut dalam pikirannya, suara derap langkah sepatu terdengar berjalan mendekatinya. Seira menolehkan wajahnya niat tak niat. Ia hanya penasaran siapa orang yang sedang berjalan ke arahnya sekarang ini.
"Seira"
Hal yang pertama kali menarik perhatian Seira adalah sebuah patung kucing berwarna keemasan yang sering Seira lihat di etalase beberapa toko.
"Midorima-san?"
Pemuda hijau yang merupakan shooter andalan Kiseki no Sedai tersebut kini berdiri sekitar tiga meter dari posisi Seira yang sedang duduk di bangku panjang.
"Ada apa?"
"Aku ingin membicarakan suatu hal denganmu nanodayo"
Kening Seira mengerut mendengarnya. Apa yang ingin Midorima bicarakan denganya?
-tsudzuku-
Chapter 4 selesai~
Kali ini yang menjadi penutup(?) adalah Midorin! Apakah yang akan Midorin lakukan? ^^
Oke, kali ini saya mau bales reviews dulu. Lagi males bales lewat PM soalnya #dihajar
Haruna Tachikawa-san: Hoooo~ Selamat karena tebakan anda benar! ^^ Hayooo kali ini bisa nebak apa yang akan Midorin katakan? :D
ScarletBlood04-san: Oke, ini udah lanjut~ ^^ Yang sekarang ini udah banyak belum Akashi nya? :D
Nisa Piko-san: Holaaaa lagi~ ^^ Hm hm, mungkin saja Akashi memang cemburu *lirik Akashi* Bangga kah? Akashi memang pantas untuk dibanggakan XD Yup, udah update nih~ :D
Yuki Kineshi-senpai: Hum! Itu memang salah satu kelebihan Seira ssu! Iya.. pas baca ulang hasil ketikan juga mikir begitu kenama Aomine jadi kayak pakai aura shalala bling bling nya si Kise ssu. Modusnya ketauan ya? XD *ditodong gunting sama Akashi* Masih dikit kah? Kalau gitu yang ini lebih dikit dong dibandingkan sebelumnya~?
Yap, selesai! Oke, sekarang saya bingung update chapter selanjutnya itu enakan sebelum AFAID atau sesudahnya. Disini ada yang berencana kesana? Saya dan beberapa teman klub Jepang saya mau kesana di hari keduanya, yang tanggal 7. Siapa tau aja kan ya bisa ketemu disana :D
Oke, segini dulu aja~ Silahkan tuangkan komentar dan pendapat kalian semua di kotak review ya~ XD *kemudian menghilang*
