Chernobyl – bag. 4 : The Way To Survive (2)
Story telling by : Crypt14
Story idea by : Cuming
Wonwoo mendesis pelan saat merasakan tubuhnya terlempar keras ke atas lantai beton ruangan berjeruji itu. Ia masih terbatuk pelan, berusaha menyeret dirinya menjauh dari beberapa petugas yang kini menyeringai kearahnya. "Wah, benar-benar tangkapan besar. Aku yakin kepala petugas pasti akan sangat berterima kasih pada kita." Ujar kelima petugas itu seraya tertawa keras kearah Wonwoo. Pria berkulit putih itu masih menyeret dirinya menjauh hingga punggung tubuhya terbentur pelan oleh tembok ruangan bersel itu. Ia berhenti, menatap dengan pandangan memohon pada para petugas yang masih setia menatapnya dengan tatapan buas. Salah seorang darinya melangkah, mengeliminasi jarak dengan Wonwoo. Sejenak menatap Wonwoo seraya menyeringai. "Dengar, mulai sekarang banyak-banyak lah berdoa nak, hidup mu tidak akan lama lagi." Ucapnya seraya tertawa pelan. Bunyi berdebum keras dari benturan pintu sel membuat Wonwoo tersentak sejenak. Ia menghela nafas pelan. Manik matanya menatap sekitarnya. Ia menarik turun masker yang digunakannya, meraup begitu banyak oksigen guna memenuhi rongga dadanya yang terasa menghampa. Pria berkulit putih itu kembali terbatuk, menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Menekan dadanya kuat saat rasa sakit itu kembali menyerang. Matanya menatap nanar kearah gumpalan darah berwarna kehitaman ditangannya. Ia kembali menarik nafas panjang dan membuangnya. Melepas saputangan yang sedari tadi menggantung di lehernya, menyeka bercak darah yang tertinggal disudut bibir pucatnya. Nafasnya tampak menderu cepat dikarenakan rasa sakit dalam rongga dadanya yang masih terasa. Ia masih terdiam ditempatnya, menatap kembali ruangan temaram itu. Setelahnya, merebahkan tubuhnya di atas lantai beton sel yang terasa begitu dingin dipermukaan kulitnya. Memejamkan matanya sejenak. "Aku harus selamat."
.
.
Arus deras air masih membawa tubuh Mingyu, menyeretnya dengan brutal tanpa memberikan kesempatan untuknya mengambil celah berpegangan. Sesekali arus air mencoba untuk menenggelamkannya namun Mingyu kembali berhasil menarik dirinya menuju permukaan. Manik matanya berjaga, mencoba mencari celah untuknya agar berhenti mengikuti arus air. Tangan kanannya terulur, menangkap sebuah besi panjang yang mencuat keluar dari dinding beton disisinya. Ia berpegang erat pada benda tersebut, mencoba menarik dirinya dari arus air. "Fuck!" gumamnya. Pria berkulit tan itu merapatkan tubuhnya pada tembok gorong-gorong. Mengadahkan kepalanya, manik matanya menangkap sebuah tangga besi. Mingyu mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangga besi diatasnya. Namun derasnya arus air kembali berusaha menariknya. Mingyu masih berpegangan pada besi tersebut, kembali menarik dirinya menuju dinding gorong-gorong. Remaja pria itu memaksa tubuhnya untuk melawa arus air, mengulurkan tangannya pada tangga besi itu.
Ia menghela nafas lega. Mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Tubuhnya tampak basah secara keseluruhan. Manik matanya beralih, menatap kearah ujung dari lorong tempatnya duduk saat ini. Ia merangkak pelan menuju ujung dari lorong kecil itu. Mendorong besi penutup gorong-gorong diatas kepalanya. Cahaya senja yang mulai tampak menggelap menerpa tubuhnya. Mingyu menarik tubuhnya keatas. Melangkah terseok kearah jalan sepi kota Chernobyl.
.
.
Bunyi benturan keras besi yang beradu membuat Wonwoo membuka matanya segera. Ia kembali membangkitkan tubuhnya, merapatkannya ada dinding dibelakangnya. Dua orang petugas melangkah menujunya dengan sebuah pemukul serta alat penyetrum. "Apakah tidur mu nyenyak, brengsek?" Wonwoo semakin menyudutkan tubuhnya kearah dinding ruangan. Matanya menatap ngeri pada dua petugas dihadapannya. "Si sialan ini masih bisa tidur disaat seperti ini. Kau dan ayah mu sepertinya bangsat yang sama yang tidak tau situasi ya." Wonwoo tetap tak bergeming. Manik matanya hanya terus menatap tepat kearah dua petugas itu. Salah satu darinya mendekat, menyeringai kearah Wonwoo sebelum menendang bahunya keras. Wonwoo meringis pelan merasakan nyeri yang teramat dibahu kanannya. Kaki dari petugas itu masih menekan bahu Wonwoo dengan dinding dibelakangnya. "Pecundang ini, aku rasa bermain-main sebentar sebelum dia di eksekusi rasanya akan menyenangkan." Gumam petugas itu pelan. Wonwoo mencengkram kuat kaki petugas yang terus menekan pundaknya. Merasakan sepatu dari petugas itu nyaris meremukkan bahu kanannya. "Aku setuju, kita bermain main dulu dengan tangkapan sebelum menjadi malaikat pencabut nyawanya." Wonwoo meringis keras saat tongkat yang berada digenggaman petugas itu menghantam telinganya kuat, membuat darah segar mengalir dari lubang telingannya. Ia tersungkur, menekan telinganya.
"Bocah payah! Itu belum puncaknya sialan jangan merengek seperti banci begitu." Wonwoo memekik keras saat tangan kirinya yang terkulai diatas lantai beton di injak dengan kuat oleh petugas lainnya. Pria berkulit putih itu merintih, menarik cepat tangan kirinya saat petugas tadi mengangkat kakinya. "Bocah jaman sekarang terlalu lembek. Baru seperti ini sudah merengek seperti bayi. Kau itu pria sialan, bersikaplah seperti pria." Sebuah tendangan keras mendarat tepat diatas tulang rusuk remaja itu, membuatnya terbatuk keras sambil memegangi bagian yang terasa begitu nyeri. "Tolong.. aku mohon… ampuni aku.." bisiknya lemah. Darah segar kembali keluar dari mulutnya, mengotori lantai ruangan sel itu. Kedua petugas tadi kembali menyeringai lebar. "Ampuni? Hey, apa kau pikir kami akan mengampuni mu setelah apa yang ayah mu perbuat? Ayah mu pembuat masalah yang merepotkan kami jadi sampai mampus pun kau tidak akan kami ampuni!" ujar petugas itu keras. "Lagi pula, kami ini bukan tuhan yang akan mengampuni mu tapi kami malaikat pencabut nyawa mu, bangsat!" petugas itu kembali menendang keras tubuh Wonwoo, membuat pria berkulit putih itu tersungkur lebih di lantai ruangan. Pukulan demi pukulan kembali dihantamkan oleh kedua petugas itu. Wonwoo meringis setiap kali sebuah hantaman mengenai tubuh dan wajahnya. Tawa puas yang menguar dari mulut kedua petugas itu seakan menjadi nada yang mengalun mengatarkannya semakin dekat pada ajalnya. Wonwoo kembali meringis saat alat penyetrum yang berada ditangan salah satu petugas diarahkan padanya. Seluruh tubuhnya seakan mati rasa saat aliran listrik itu mengenai kulitnya. Ia kembali terbatuk keras. "Aku rasa kita sudahi saja, dia mulai membuat ku bosan." Ujar salah satu petugas. "Tunggu sebentar." Wonwoo kembali menatap ngeri kearah salah seorang petugas yang mendekatinya. Manik matanya beralih pada pisau lipat yang bertengger di belt petugas itu. "Kita telanjangi si bangsat ini dulu." Ucap petugas itu seraya merendahkan tubuhnya kearah Wonwoo. Wonwoo terdiam, tak bergeming. Nafasnya masih menderu. "Aku tidak tertarik, kau lakukan saja sendiri."
.
Pekikkan tertahan terdengar cukup jelas didalam ruang sel itu. Bercak darah yang terciprat tampak memenuhi setiap sudut tempat. Wonwoo masih terus menusukkan pisau lipat ditangannya ke tubuh petugas yang kini berada dibawahnya. Menancapkan asal benda itu keseluruh tubuh sang petugas. Bercak darah memenuhi tubuh dan wajah babak belurnya. Ia berhenti, menatap ngeri kearah mayat petugas yang berada dibawahnya. Kembali menancapkan pisau lipat ditangannya untuk terakhir kalinya pada dahi petugas tadi, menyisakan suara tengkorak yang remuk. Setelahnya pria berkulit putih tadi beranjak meraih sapu tangan yang sudah berwarna kemerahan itu lalu keluar dari selnya. Memaksakan tubuhnya untuk tetap bergerak menuju lemari besi besar yang berada tak jauh dari selnya. Manik matanya masih menjalajahi isi dari lemari itu. Tangannya terulur, meraih sebuah seragam petugas yang tertinggal didalamnya. Perlahan melepaskan baju yang dikenakannya, menggantikannya dengan seragam yang terlihat sama dengan petugas lainnya. Menyeka bercak darah yang memenuhi wajahnya dengan sapu tangan pemberian Mingyu, setelahnya memasukkan benda tersebut ke dalam saku celananya dan beranjak keluar dari ruangan penjara itu.
Wonwoo merapatkan letak topinya, berusaha menutupi wajahnya. Kaki panjangnya masih melangkah dilorong gedung tahanan itu. "Hey kau." Ia menghentikan langkahnya sejenak saat suara seseorang mengintrupsinya. "Habis darimana kau?" Wonwoo menelan salivanya sejenak sebelum berbalik arah menuju seorang petugas yang berada dibelakangnya. "Aku selesai mengecek tahanan." Petugas dihadapannya tampak mengerutkan dahinya. Menatap aneh kearah Wonwoo. "Maaf aku harus mengecek beberapa tahanan lagi, permisi." Wonwoo kembali melangkah, menjauh dari petugas yang sebelumnya mengajaknya berbicara.
.
.
"Kalian meninggalkannya sendiri?! Bangsat! Aku 'kan minta kalian untuk menjaganya." Mingyu berteriak frustasi kearah Seungkwan dan Vernon. "Lalu sekarang kemana? Dia tidak ada disini." Ujar Mingyu kembali seraya menatap tajam pada dua pria dihadapannya. "Apa mungkin Wonwoo tertangkap." Gumam Seungkwan yang berhasil membuahkan teriakkan frustasi kembali dari Mingyu. "Kalian harus membantu aku mencarinya." Baik Seungkwan maupun Vernon, kedua remaja pria itu mengangguk samar. Ketiganya mulai beranjak, mencoba menemukan Wonwoo.
Mingyu masih mengedarkan pandangannya pada penduduk yang berkumpul disekitar jalan kota Chernobyl. Ia masih terus melangkah pasti sebelum bahunya menabrak bahu seseorang. "Maaf.." gumam pria yang ditabraknya. Mingyu tak menggubris, masih melangkah kearah kerumunan penduduk yang tengah menunggu giliran untuk di evakuasi. "Kim Mingyu." Ia terhenti, menoleh kearah suara yang menyebutkan namanya. Manik mata tajamnya menatap bingung kearah pria yang berdiri tak jauh darinya. "Kau Kim Mingyu?" Mingyu mengangguk samar, masih memandang penuh tanya kearah pria dihadapannya. "Kau lupa padaku?" ujar pria muda itu seraya tersenyum tipis pada Mingyu. "Kau.. Junhui?" Jun mengangguk pasti. Sekilas memeluk Mingyu. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku menjadi relawan penyelamat disini. Aku bersyukur kau masih selamat, Mingyu. Ibu dan kakak mu sudah tiba di Kiev bersama dengan paman Lou dan keluarga Wonwoo." ujarnya. Mingyu seketika merubah airmukanya ketika mendengar nama Wonwoo yang disebut oleh Jun sebelumnya. Ia kembali mengedarkan pandangannya, membuat Jun menatap bingung kepadanya. "Ada apa, Mingyu?"
.
"Apa maksud mu petugas yang yang berusaha membunuh warga kota? Aku tidak pernah mendengar berita seperti itu kau yakin mereka melakukan itu?" Mingyu mengangguk pasti. "Mereka berdua juga sempat dikejar oleh petugas itu." Jun terdiam, kedua alisnya tampak bertaut. "Brengsek! Pasti ada oknum-oknum yang tidak kami ketahui menjalankan misi ini. Ayah ku tidak terlibat, Mingyu." Ucap Jun cepat. Helaan nafas terdengar dari Mingyu. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya dan menatap Jun. "Kau bisa menolong ku, Jun?"
.
.
Wonwoo menyandarkan tubuhnya sejenak pada dinding jalan kecil yang berada tak jauh dari gedung tahanan tadi. Menarik nafas panjang. Seluruh tulang didalam tubuhnya terasa remuk. Ia menarik topi yang digunakannya. Tubuhnya merosot turun. Ia kembali terbatuk pelan. Manik matanya menatap kearah langit kota yang tampak mulai menggelap. Wonwoo merasa tidak mampu lagi untuk kembali beranjak, tubuhnya terlalu lelah. Menundukkan kepalanya seraya memejamkan matanya sejenak. Pria berkulit putih itu kembali membuka matanya saat merasakan buliran air mulai turun dari langit kota yang tampak berantakkan itu. Ia tak bergeming, kembali memejamkan kedua matanya tak berniat menghindari rintik hujan yang menderas. Ia terlalu lelah untuk kembali berlari menjauh. "Jeon Wonwoo."
.
.
Keempat pemuda itu berlari pelan menuju gedung yang berada tak jauh dari tempat evakuasi. Menghentikan langkahnya saat nyaris berada didekatnya. "Aku yakin Wonwoo berada didalam sana." Ujar Mingyu. Matanya menatap tajam kearah gedung yang sebelumnya juga menjadi tempatnya disekap. "Bangsat mana yang melakukan semua ini. Aku akan menghajarnya sampai mampus jika mereka tertangkap!" ujar Jun geram. Keempat pemuda tadi masih berada ditempatnya berusaha mengatur strategi untuk merangsek masuk kedalam gedung berlantai 3 itu. Jun memerintah beberapa petugas yang berada dibawah kuasanya untuk ikut serta. Mengarahkan beberapa orang untuk mengepung diluar gedung selagi mereka dan beberapa petugas lainnya mencoba masuk kedalam gedung.
"Kita berpencar dengan petugas lainnya untuk mencari Wonwoo saat didalam nanti. Tim Alpha ke wilayah eksekusi tim Emerlad menuju lantai 2 dan 1 sedangkan kami berempat akan menuju ke lantai 3. Kalian mengerti?" seluruh anggota mengangguk paham mendengar penuturan Jun. seluruhya mulai bergerak. Keempat pemuda itu mulai merangsek masuk menuju lantai 3 gedung. Mingyu melangkah cepat menuju sel yang di huni olehnya sebelumnya. Jun menarik cepat Mingyu untuk bersembunyi saat seorang petugas tampak dikejauhan. "Berhentilah bersikap gegabah!" gumam Jun pelan. Jun, Mingyu, Seungkwan dan Vernon kembali menuju ruangan sel yang dimaksudkan oleh Mingyu.
"Paman!" Mingyu berlari cepat menuju pria tua yang tergantung di dalam selnya. Kaki kirinya tampak nyaris putus. Seungkwan berusaha menahan rasa mual yang menyerang perutnya menatap pemandangan mengerikan dihadapannya. Mingyu, Jun dan Vernon berusaha menurunkan pria tua itu. "Bangsat! Mereka benar-benar iblis!" Mingyu menggeram tertahan. Matanya menatap sedih kearah pria tua yang menolongnya beberapa saat lalu. Keadaan pria tua itu begitu mengenaskan. Kaki kirinya nyaris putus, wajahnya tampak sulit untuk dikenali karena beberapa bengkak yang bersarang disana. Pria tua itu mengenggam tangan Mingyu dengan gemetar. Ia berusaha untuk mengucapkan sesuatu pada Mingyu namun tampak tak mampu.
"Mereka memotong lidahnya, benar-benar brengsek!" bisik Vernon pelan. Mingyu dan Jun mengeratkan kepalan tangannya. Mengigit bibir bawahnya kuat guna menahan tangis mereka yang sudah berada diujung tenggorokkan. Bibir pria tua itu bergerak samar, berusaha untuk menyampaikan sesuatu pada Mingyu. Mingyu menatap lekat setiap pergerakkan bibir pria yang kini tengah berada dipangkuannya. "Wonwoo." desis Mingyu. "Eksekusi." Ucapnya kembali. Mingyu melebarkan kedua manik matanya menyadari hal apa yang coba disampaikan oleh pria tua itu. "Kita harus wilayah eksekusi sekarang! Wonwoo berada dalam bahaya!" Jun dan Mingyu sesegera mungki beranjak menuju ruang eksekusi sementara Seungkwan dan Vernon tetap berada didalam ruangan itu bersama pria tua tadi. "Aku benar-benar tidak percaya manusia bisa melakukan hal sekeji ini." Bisik Seungkwan
.
.
Wonwoo melangkah maju dengan paksa saat seseorang mendorongnya keras. Pandangannya terasa gelap akibat penutup yang berada dikepalanya. Kedua tangannya terikat dengan kuat dibelakang tubuhnya. Ia berlutut saat seseorang memukul keras bahunya. Wonwoo tau apa yang akan terjadi padanya saat ini, ia berada diruang eksekusi mati tahanan. Salah seorang petugas tampak menjulurkan leher Wonwoo menuju penahan leher di alat pemenggal kepala itu. Degup jantung Wonwoo memacu cepat. Ia memejamkan matanya, tubuhnya terasa begitu letih. Ia merasa tidak lagi mampu untuk memberontak. "Mulai lah berdoa bangsat kecil." Ia dapat mendengar dengan jelas bisikkan dari petugas yang menarik kepalanya tadi. Wonwoo memejamkan matanya, ia benar-benar putus asa saat ini.
"Ini adalah hukuman yang sangat tepat untuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan baik pada pekerjaan mereka dan menyusahkan banyak pihak!" ujar salah seorang dengan suara lantang. Wonwoo mengeratkan genggaman tangannya. Perasaan ngeri begitu menyiksanya saat ini. Ia menangis pelan dibalik penutup kepalanya. "Jatuhkan pisaunya!" pekikkan keras menguar yang disusul oleh sorak sorai dari petugas lainnya yang berada disana untuk menyaksikan eksekusi mati Jeon Wonwoo. "Jatuhkan! Jatuhkan!" pekikkan itu masih menguar. Degup jantung Wonwoo semakin memacu. Ia masih memejamkan matanya. Pisau besar yang berada tepat diatas batang leher Wonwoo mengayun jatuh dengan cepat dihadapan seluruh orang yang berada didalam ruangan itu. "Jeon Wonwoo!"
Chit chat : Crypt14 is backkkkk! teretet! xD kemarin yg post om cuming heuheu akhirnya dia muncul k'permukaan xD. ini next chapt dari chernobyl rasanya gemes pengen cepet tamatin ff ini heuheu. Kali ini masih setia bilang makasihhhhhhh banyak buat kalian yg udah mau repot-repot review ff ini huhu terhura euy aku x'D *lap ingus. anyway yah maaf kalo kesannya ff ini belibet libet nggak jelas ky gimana ending'a tp ini emang alur ceritanya x'D disini jg walaupun wonwoo sakit om cuming bilang jgn dibikin menye ky perempuan lg pms x'D om cuming slalu bilang sblm aku mulai lanjutin chap "Inget! wonwoo itu laki jangan dibikin menye!" dia nge-warning bgt buat jgn ngejatohin chara wonwoo d'setiap ff yg jadi ide dia x'D padahal tdnya aku mau bikin wonwoo manja-manja gitu sma mingyu *plak! xD. udah brhasil belum bikin wonwoo tetep keliatan strong meskipun dlm keadaan trburuk sekalipun? cipcip yg terakhir aku mau peluk kecup buat para reviewers yg udah mau tinggalin jejaknya laff ya so much much much :*. Keep reading, keep review and stay tune on this channel xD
salam,
Crypt14
