SWEET DREAMS KIM JAEJOONG

Chapter Three

For Yunho & Jaejoong

Main cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Summary :

Jung Yunho seorang pengusaha berlian yang sangat terobsesi mencari pembunuh kedua orangtuanya. Jung Yunho tidak sengaja bertemu dengan Kim Jaejoong yang pingsan di depan gerbang rumahnya. Jung Yunho membawa Kim Jaejoong ke dalam rumahnya. Setelah mendengarkan cerita Kim Jaejoong, Jung Yunho memutuskan untuk memberi tempat tinggal bagi Kim Jaejoong yang artinya Jung Yunho dan Kim Jaejoong tinggal bersama. Jung Yunho mulai membuka diri terhadap Kim Jaejoong yang ia anggap seorang namja cantik yang polos. Jung Yunho masih melanjutkan pencariannya terhadap pembunuh kedua orangtuanya dibantu dengan sahabat kecilnya Park Yoochun dan Kim Junsu, tapi bagaimana bila suatu hari Jung Yunho mengetahui pembunuh kedua orangtuanya adalah seseorang disekitarnya ?

.

.

.

"Yoochun hyung, silahkan masuk. Maafkan aku karena telah memanggilmu sepagi ini."

"Tidak apa-apa, bukankah kamu sudah biasa seperti itu eoh ? Jadi, apa yang kamu temukan sekarang."

"Hm, ini sangat menarik Yoochun hyung. Mengenai kalung ini, dugaanku ternyata salah, itu bukan berlian biasa yang berada di kalung ini."

Junsu meletakkan kalung berbandul gembok itu dan menaruhnya di meja.

"Jadi ? Itu berlian apa Junsu-ah ?"

"Itu sama dengan milik Yunho-hyung ! Kamu tahu berlian apa yang aku maksud."

"Benarkah ? Coba aku lihat !"

Yoochun mengambil kalung kristal itu, memperhatikan dengan seksama berlian yang berada dibandul berbentuk gembok.

"Ini !"

"Ya, kamu memang pintar Yoochun hyung, secepat itu kamu mengenal berlian itu. Ckck."

"Apa Yunho hyung sudah mengetahuinya ?"

"Belum, aku belum memberitahunya. Dan juga kenapa Yunho hyung tidak mengenal berlian itu."

"Aku tidak tahu." Jawab Yoochun singkat. Dengan otak pintarnya, kini Yoochun dapat menyimpulkan bahwa pemilik kalung kristal ini benar-benar berhubungan dengan berlian itu, berlian yang disimpan sangat dalam oleh keluarga Jung.

"Kenapa ? Ada apa sebenarnya ?" gumam Yoochun.

"Mwo ? Kamu mengatakan sesuatu Yoochun hyung."

"Hah ? Ada apa sebenarnya dengan berlian itu sampai harus membunuh dua nyawa ?"

"Aku tidak tahu Yoochun hyung, tapi sepertinya kita semakin mendekati pencarian pembunuh orangtua Yunho hyung. Semoga saja aku bertindak benar kali ini, aku hanya tidak ingin terburu-buru. Aku masih ingin memastikannya."

"Hm ? Maksudmu kamu sudah mengetahui pembunuhnya ?"

"Ah..belum bisa dibilang seperti itu Yoochun hyung. Aku belum memiliki bukti yang kuat."

"Baiklah, aku akan membantumu sebisanya."

"Ya. Yoochun hyung bisa kamu carikan informasi mengenai namja ini eoh ?"

Junsu memberikan sebuah foto seorang namja kepada Yoochun. Yoochun mengambilnya dan melihatnya dengan teliti, sifat yang tidak berubah dari seorang Park Yoochun. Ketelitiannya itu nomor satu.

"Siapa namanya ?"

"Shim Changmin."

"Gotcha ! Aku mendapatkan informasinya Junsu-ah, sepertinya ia bukan namja biasa."

Yoochun memberikan laptop-nya yang selalu dibawanya kemana-mana kepada Junsu.

"Oh..seorang namja tampan dan juga kaya, ia bisa menjadi saingan Yunho hyung."

"Maksudmu Junsu-ah ?"

"Hm, namja ini adalah pemilik toko berlian yang bernama Mirotic, namja ini-lah yang memberitahuku tentang berlian yang berada di kalung itu. Ia memohon kepadaku untuk menjual kalung itu kepadanya, entah kenapa ia seperti menemukan sesuat yang hilang. Aku menjadi curiga kepadanya."

"Aku mengerti, apa ini semua tentang persaingan bisnis ?"

"Untuk saat ini aku belum bisa menyimpulkan seperti itu, tapi bila dugaanku benar...ini bukan sekedar persaingan bisnis !"

"Uh..wajahmu menakutkan Junsu-ah."

Junsu menghela napasnya, sedikit lagi rasanya. Ia mencapai tujuannya, mencari sang pembunuh yang masih berkeliaran di luar dengan bebas. Ia yakin bahkan sangat yakin ini bukan sekedar persaingan bisnis. Tapi ia yakin ini semua berkaitan dengan namja yang bernama Shim Changmin itu. Ia harus memastikannya, ah ~ kuncinya hanya ada pada pistol mitraliur, tapi milik siapa ? Sepertinya ia harus memulai, mengulang, menjelajahi secara mendetail pencariannya. Mencari apa yang terlewatkan 8 tahun ini. Okey, Junsu mendapat satu nama yaitu Shim Changmin. Tapi, menurut informasi yang Yoochun berikan ia hanya seorang pemilik toko berlian yang bernama Mirotic yang memohon-mohon kepadanya untuk menjual kalung kristal itu. Untuk apa ?

"Haaah..."

"Tidak baik menghela napas terus Junsu-ah."

"Mianhe, aku hanya tidak bisa berpikir jernih saja. Aku ingin membantu Yunho hyung semampuku."

"Ne, aku juga."

.

.

.

Kembali ke rumah Jung, dimana terlihat Yunho dan Jaejoong masih tidur di kamar Yunho. Mengenai itu, mari kita kembali di malam harinya.

Malam ini hujan turun dengan derasnya, suara petir saling bersahut-sahutan. Jaejoong benar-benar tidak bisa tidur saat ini. Ia teringat akan perkataan Yunho yang membolehkannya untuk ke kamarnya. Tanpa pikir panjang, ia segera menuju kamar Yunho di lantai 2.

Jaejoong mengetuk pintu kamar Yunho.

"Hyung.." lirihnya.

"Ada apa Jaejoongie ?"

"Aku takut."

Jaejoong reflek memeluk Yunho, berusaha berlindung dari ketakutannya. Yunho mengerti apa yang membuatnya takut. Pasti karena hujan yang deras itu.

"Baiklah, ayo tidur denganku."

Entah kebaikan darimana, Yunho mengajak Jaejoong tidur bersamanya, awalnya biasa saja. Yunho kembali memejamkan matanya, posisinya membelakangi Jaejoong. Tentu saja ia menghindari namja cantik itu, ia sudah tidak tahan lagi dengan setiap gerakan, kontak fisik dan perkataan manja dari Jaejoong kepadanya.

CTAARRR

Kembali suara petir terdengar, dan oh my God ! Jaejoong memeluk Yunho dari belakang, tubuh Yunho berubah menjadi kaku, matanya melebar sempurna. Ia dapat merasakan dengan jelas hembusan napas Jaejoong.

"Jae..joongie.."

"Jebal hyung..aku takut..." suaranya semakin parau.

Yunho merubah posisinya, membalikkan badannya. Dan, ia sadar bahwa tubuh mereka sangat rapat saat ini, Jaejoong masih memeluknya bahkan kepalanya bersembunyi dileher Yunho. Dan..bibir yang sedari tadi digigitnya melupakan tatapan Yunho.

"Ja..jae..joongie..terlalu dekat.." suara Yunho terbata-bata, ia merasa menjadi orang yang paling bodoh saat ini, baru kali ini ia merasa gugup terhadap seorang namja. Ya, seorang namja cantik yang bahkan lebih cantik dari seorang yeoja.

"Aku takut.." kembali Jaejoong menggigit bibirnya, ah ! Yunho benar-benar tidak tahan !

Yunho menarik dagu Jaejoong, mencium bibir itu, melumat bibir atasnya kemudian berpindah ke bibir bawahnya.

"Engh..."

Dia dapat merasakan tubuh Jaejoong yang menegang, merasa kesal ciumannya tidak dibalas. Oh ! Kini dia melupakan bahwa ia sedang mencium seorang namja.

Kembali bibirnya mencium dengan lembut, lidahnya membelai bibir Jaejoong hingga menggigit bibir Jaejoong.

"Aah.."

Yunho memasukkan lidahnya, membelai lembut lidah Jaejoong dengan penuh gairah."

"Mmm.." Yunho mengerang seketika merasakan sensasi manis disana, dan ia tersenyum ditengah ciumannya ketika perlahan Jaejoong membalas ciumannya, ciuman yang sangat bergairah, yang tak dapat Jaejoong tolak.

"Aromamu begitu nikmat Jaejoong-ah." Ucap Yunho kemudian. Sebuah ucapan tak terkontrol dari dirinya. Ucapan yang membuat darah Jaejoong memanas dan segera Jaejoong mencium Yunho dengan penuh semangat. Membuat Yunho menjadi sangat bergairah, hidungnya melewati telinga Jaejoong, turun ke bawah leher Jaejoong dan memberi ciuman lembut pada bahu Jaejoong.

Napas Yunho berubah, menjadi pendek-pendek, terengah, terlalu bergairah. Tangannya berada di kancing piyama Jaejoong, membukanya dengan sangat lambat, sekali lagi bibirnya mencium, menjilat, menyeberang ke bahu satunya. Membuat Jaejoong menggeliat, melemah di bawah sentuhannya.

"Ungh.."

CTAARRRR

Suara petir kali ini memecah bumi, seolah-olah memberi peringatan bagi dua orang yang melakukan hal terlarang. Saat itu juga Yunho tersadar, melepaskan tubuh yang lebih kecil, memasang kancing-kancing piyama namja cantik itu. Mengatur napasnya kembali. "Tidurlah Jaejoongie, mimpi indah."

Yunho membalik tubuhnya seperti semula, membelakangi Jaejoong, memejamkan mata musangnya dengan kuat. Ia tahu telah melakukan sebuah perbuatan dosa, ia tahu ia tidak dapat menolak pesona yang selalu menggodanya. Apakah pantas ?

Jaejoong hanya bisa menatap sendu punggung lebar Yunho, kembali menggigit bibirnya, tangannya tergerak memegang dadanya, Jaejoong merasakan jantungnya yang berdetak cepat, sangat disayangkan Yunho mengakhiri sentuhannya, sentuhan yang sangat diinginkannya, oh..ia menyadari, ia mengakui ia mencintai seorang Jung Yunho, namja bertampang tegas yang lebih tua 8 tahun darinya. Apakah pantas ?

Tidak berapa lama Jaejoong bangun dari tidurnya, ia melihat Yunho yang masih tertidur, Jaejoong tidak ingin berlama-lama lagi di kamar tidur Yunho, bila saja hujan deras dan petir itu tidak ada, mungkin ia tidak merasa seburuk ini.

Jaejoong kembali ke kamar tamu, seperti biasa menjalani rutinitas pagi hari, ini sudah hari keempatnya.

Berdiri di depan cermin, memandang wajahnya, tampak memiliki kantung mata. Apa karena tidurnya kurang nyenyak ? Jaejoong mengelus bibirnya dengan ibu jarinya, menutup matanya, merasakan kembali sentuhan lembut bibir Yunho. Ya Tuhan, ia belum pernah merasa sebahagia ini.

'Sejak awal aku memang menyukaimu Yunho hyung, sejak awal matamu menatapku.' Katanya dalam hati.

"Hwang Ahjumma, selamat pagi."

"Selamat pagi Tuan Jaejoong. Silahkan sarapan dulu."

"Jaejoong saja Ahjumma, terdengar lebih baik. Terimakasih atas sarapannya Ahjumma."

"Baik Jaejoong-ah, Ahjumma mau ke pasar dulu."

"Ah ! Aku ikut Ahjumma ! Tunggu sebentar."

Jaejoong mengambil sepotong bread jam kemudian ia menghampiri Hwang Ahjumma yang sudah berada di depan pintu utama rumah Jung. Ia menggigit bread jam-nya ketika ia memakai sneaker-nya.

"Pelan-pelan saja Jaejoong-ah."

"Umm, strawberry aku suka."

Dan dengan sekali suapan, bread jam strawberry buatan Hwang Ahjumma berhasil ditelannya.

"Ayo Ahjumma !"

"Apa tidak ijin dulu Jaejoong-ah."

"Tidak perlu Ahjumma, Yunho hyung masih tidur. Lagipula kita hanya ke pasar saja kan."

Dan disinilah mereka bertiga berada, Jaejoong, Hwang Ahjumma dan supir rumah Jung. Jaejoong mengikuti kemana Hwang Ahjumma pergi, menghampiri kios yang satu ke kios yang lain. Merasa senang bertemu dengan banyak orang, mengingat 3 hari kemarin ia hanya berada di rumah Jung saja. Rumah besar yang sepi ! Sial bagi si supir karena kini ia membawa berbagai macam kantong plastik yang isinya tidak bisa dibilang sedikit.

"Ahjumma, aku ingin itu."

"Boneka gajah ?"

"Iya, aku mau yang paling besar itu."

"Sebentar, akan Ahjumma belikan untukmu."

Oh, ingin rasanya Hwang Ahjumma menolak membeli boneka gajah yang berukuran seperti manusia itu, bukan masalah harga, tapi bagaimana caranya membawanya, Hwang Ahjumma melirik ke arah si supir yang kedua tangannya telah penuh dengan kantong plastik, lalu ia melihat tangannya yang penuh dengan kantong plastik. Merasa tidak enak menyuruh Jaejoong membawanya.

"Ah, sini Ahjumma. Aku akan membawanya."

"Ne.."

Hwang Ahjumma merasa lega namja cantik itu menyadarinya, ia tertawa geli melihat boneka gajah yang berada di pelukan Jaejoong hampir menutupi seluruh tubuhnya.

Sesampai di mobil, Jaejoong menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang, meluruskan tubuhnya hingga posisnya berbaring.

"Lelahnya." Gumamnya.

"Aku tidak memaksamu untuk ikut Jaejoong-ah."

"Iya, aku hanya merasa bosan saja berada di rumah terus. Besar keinginanku untuk pulang, tapi aku tidak mengetahui tempat tinggal-ku."

Hwang Ahjumma mengerti perasaan itu, perasaan rindu akan rumah namun tidak mengetahuinya.

"Tuan Jaejoong, maafkan bila saya lancang, tapi menurut informasi yang saya dengar dari Tuan Kang, kepala keamanan rumah Jung, anda berasal dari panti asuhan Bolero."

"Mwo ? Panti asuhan ? Benarkah ?"

"Iya Tuan."

"Bisakah Ahjussi mengantar saya kesana ?"

"Iya Tuan."

Si supir tadi memutar arah mobilnya, mereka bertiga menuju sebuah panti asuhan yang bernama Bolero, menurut informasi panti asuhan itu berada di distrik Guro-go, sebuah distrik yang cukup jauh dari distrik Gangnam-gu tempat dimana mereka berada, termasuk rumah Jung.

Besar harapan bagi Jaejoong, merasa sedikit sedih mengetahui bahwa ia berasal dari panti asuhan. Namun, bila itu kenyataan yang ada ia akan menerimanya, karena tidak ada perasaan yang lebih bahagia daripada pulang ke rumah, bertemu dengan keluarga, ia ingin pulang.

Oh..seperti sebuah hati terbagi dua, harapan-nya pupus, papan nama bertuliskan Bolero memang berdiri tegak di pinggir jalan, namun tidak untuk rumah-nya yang kini terlihat diselimuti oleh tumbuhan merayap, beberapa kaca yang pecah, dan beberapa coretan di dinding. Bagai sebuah awan yang mendung berdiri tepat di atas Jaejoong, perasaannya kembali menjadi buruk, pagi yang buruk pasti diakhiri dengan hari yang buruk.

Rumah panti asuhan itu tidak terbentuk lagi, tidak terawat yang artinya tidak ada yang tinggal disitu. Bila dilihat dari tanaman rayap yang mengerikan itu, dapat dipastikan rumah panti asuhan itu sudah lama ditinggalkan.

"Jaejoong-ah, ayo kita pulang."

"Ne." Lirihnya.

Sepanjang perjalanan pulang, Jaejoong hanya menatap keluar, menempelkan dahi-nya di jendela.

"Apa benar itu tempatnya ?"

"Iya Hwang. Apa kamu tidak membaca papan namanya tadi ?"

"Tapi kenapa tidak ada yang tinggal disitu ?"

"Aku juga tidak tahu, sudah tidak usah dibahas. Kita hanya akan menambah kesedihan Tuan Jaejoong saja."

"Itu salahmu ! Minta maaflah !"

Si supir melihat Jaejoong menggunakan spion tengah, dia bisa melihat wajah kekecewaan itu, si supir merasa menjadi orang paling bodoh, bertindak terburu-buru.

"Tuan Jaejoong, maafkan saya. Kumohon."

"Tidak apa-apa Ahjussi." Jaejoong berusaha tersenyum walaupun hatinya terasa sakit, menerima kenyataan pahit. Sangat tidak mengerti mengapa ia sampai lupa ingatan.

Ketika mereka bertiga telah memasuki komplek perumahan, tidak sengaja Jaejoong melihat sebuah rumah bertingkat dua yang bejarak dua rumah dari rumah Jung, ada ketertarikan bagi Jaejoong terhadap rumah itu.

"Stop Ahjussi !" serunya.

Si supir lantas menghentikan mobilnya. "Ada apa Tuan ?"

"Itu." Ia menunjuk rumah yang berada di depannya.
Si supir dan Hwang Ahjumma mengikuti arah telunjuk Jaejoong. "Kenapa dengan rumah itu Jaejoong-ah ?" tanya Hwang Ahjumma.

"Siapa pemilik rumah itu Ahjumma ?"

"Setahu Ahjumma rumah itu tidak dihuni."

"Kemana pemiliknya Ahjumma ? Kenapa rumah sebagus itu ditelantarkan begitu saja ?" tanya Jaejoong penuh rasa penasaran. Ia tidak akan se-penasaran begini bila ia tidak merasakan hal itu, sebuah perasaan yang membuatnya tertarik dengan rumah bertingkat dua itu. Kembali sebuah perasaan rindu tercipta didirinya.

Hwang Ahjumma dan si supir saling memandang, merasa heran dengan Jaejoong yang bertanya mengenai rumah bertingkat dua itu. Padahal itu hanya sebuah rumah bertingkat dua biasa, halaman-nya tidak besar, mungkin hanya dua mobil saja yang muat di halaman depan rumah itu yang kini dipenuhi dengan rumput tinggi.

"Itu..rumah itu..." Hwang Ahjumma menyenderkan kepalanya di kursi penumpang. "Setahu Ahjumma pemilik rumah itu tewas, mereka adalah pasangan suami istri. Kalau tidak salah kejadian itu terjadi 10 tahun yang lalu. Seisi komplek sangat tidak menyangka, padahal mereka adalah tetangga yang baik, ah tidak berapa lama Tuan dan Nyonya Jung menyusul." Kata Hwang Ahjumma.

Si supir menatap tidak percaya ke Hwang Ahjumma karena mengatakan hal sakral itu, mengungkit tentang Tuan dan Nyonya Jung. Bukankah Jung Yunho sudah memperingati seluruh pelayan, bodyguard dan semua yang berkerja di rumah Jung untuk tidak mengungkit kedua orangtuanya, karena hal itu hanya akan membuat dirinya rapuh.

"Astaga !" Hwang Ahjumma menutup mulutnya. 'Bodoh, bodoh, bodoh !' batinnya.

"Kenapa dengan orangtua Yunho hyung, Ahjumma ?"

Sebuah pertanyaan yang Hwang Ahjumma dan si supir takutkan pun terlontarkan. Bagaimana sekarang ? Apa mereka akan menjelaskannya ? Bagaimana bila nanti Jaejoong bertanya lebih lanjut kepada Yunho dan Yunho mengetahui biang-nya adalah Hwang Ahjumma dan si supir. Kemungkinan besar adalah dipecat atau ditendang dari rumah Jung itu.

"ANDWEE!" teriak Hwang Ahjumma dan si supir bersamaan. Pikiran mereka sama rupanya.

"Aku tidak mau menjelaskan, kamu saja." Hwang Ahjumma melemparkannya kepada si supir.

"Aku tidak mau !"

Jaejoong bingung melihat kedua orang paruh baya itu saling berdebat, "Sudahlah, Ahjumma dan Ahjussi pulang saja. Aku ingin melihat rumah ini. Lagipula aku bisa bertanya kepada Yunho hyung."

Perdebatan kedua orang paruh baya itu terhenti, mereka sama-sama memandang Jaejoong yang masih duduk di kursi penumpang belakang.

"Ja..jangan Jaejoong-ah, Ahjumma mohon."

"Hm ? Kenapa ?"

"Kami bisa dipecat, kami mohon." Tambah si supir.

"Tapi kenapa eoh ?"

"Ahjumma mohon, lupakan saja ne ? Tadi Ahjumma salah bicara."

"Astaga ! Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakan ! Aku mau melihat-lihat rumah itu dulu. Kalian pulanglah ! Selamat tinggal !"

BRAK

Pintu mobil tertutup sempurna, Hwang Ahjumma dan si supir sama-sama terpaku. Tapi, yasudahlah. Si supir mulai menjalankan mobilnya kembali ke rumah Jung. "Kenapa Tuan Jaejoong sepertinya tertarik dengan rumah itu eoh ?"

"Kamu bertanya kepadaku ? Maka aku akan menjawab aku tidak tahu !"

Hwang Ahjumma turun dari mobil itu, ia memasuki rumah Jung melalui pintu belakang kemudian menuju dapur, menyuruh beberapa pelayan untuk membawa kantong plastik yang berada di mobil, inilah kelebihan bagi seorang kepala pelayan dapur.

Hwang Ahjumma duduk di meja makan khusus untuk pelayan, meminum secangkir teh ginseng.

"Apa kamu melihat Jaejoong, Hwang ?"

"Ah, tadi ia ikut ke pasar bersamaku Kwon."

"Mwo ? Lalu dimana ia sekarang ? Apa kamu tidak melihat Yunho seperti orang kesetanan mencarinya."

"Astaga, maafkan aku Kwon. Sebenarnya itu kehendak Jaejoong mengikutiku ke pasar. Duduklah dulu Kwon, apa ingin teh ginseng ?"

"Boleh juga, sedikit bersantai tidak apa-apa."

"Ah, benar sekali. Silahkan." Hwang Ahjumma memberikan secangkir teh ginseng kepada Kwon Ahjumma yang sudah duduk di depannya.

"Dimana Jaejoong sekarang ? Kamu belum menjawab pertanyaanku."

"Oh, dia sedang berada di rumah tingkat dua yang tidak dihuni itu."

"Rumah yang pemiliknya tewas itu ? Untuk apa ia kesana ?"

"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba ia ingin kesana. Aku takut untuk melarangnya."

"Hm, enak sekali teh ginseng buatan-mu." Puji Kwon Ahjumma. Lalu ia meminum habis teh ginseng itu. "Baiklah, aku akan memberitahu Yunho dulu, sejak bangun tidur ia terus mencari Jaejoong. Sepertinya sikapnya mulai berlebihan."

"Hahaha..cinta tidak memandang apapun Kwon."

"Apa maksudmu !"

"Nanti kamu akan melihat sendiri. Sudah sana beritahu Yunho."

Kwon Ahjumma pergi begitu saja, ia sebenarnya tahu maksud dari Hwang Ahjumma, hanya saja hal itu tidak pantas untuk dilakukan.

Kwon Ahjumma melihat Yunho yang duduk di ruang tamu-nya. "Yunho-ah, tadi Jaejoong ikut pergi ke pasar bersama Hwang, lalu ia sekarang berada di rumah tingkat dua tidak dihuni itu. Jadi tidak usah terlalu khawatir lagi."

"Oh, terimakasih informasinya Ahjumma. Aku takut ia melarikan diri dari rumah ini gara-gara aku."

"Apa yang terjadi Yunho-ah ? Apa kamu memarahi-nya lagi ?"

"Tidak Ahjumma, aku sedang tidak ingin menjelaskannya. Aku mau ke rumah Junsu dulu Ahjumma, tadi ia meneleponku. Sepertinya ia mendapat suatu informasi."

"Apa kamu masih melanjutkan pencarian itu Yunho-ah ? Bukankah polisi masih menangani kasus ini ?"

"Ini sudah 8 tahun lamanya Ahjumma, tidak bisa bila hanya mengandalkan polisi saja. Aku pergi dulu. Tolong sampaikan kepada Jaejoongie."

"Baik."

Yunho pun menuju rumah Junsu menggunakan mobil pribadi-nya, perasaannya tercampur saat ini, di satu sisi ia merasa senang karena ia hampir mencapai tujuannya, namun di sisi lain ia merasa gelisah karena ciuman terlarang-nya. Bila mengingat itu, Yunho sendiri-pun seperti tidak mengenali dirinya. Tubuhnya mengambil alih semalam. Untung saja suara petir itu menyadarkannya.

"Halo ~"

"Hyung, sudah dimana ? Kenapa lama sekali ?"

"Sebentar lagi aku sampai Junsu-ah. Kenapa ?"

"Aku sudah mengetahui pemilik kalung kristal ini ! Cepatlah !"

"10 menit lagi."

Yunho menambah kecepatan mobil-nya, semangatnya terisi kembali mendengar pemilik kalung kristal itu diketahui. Yeah ~

.

.

.

Shim Changmin, namja bertubuh tinggi ini tengah berada di sebuah rumah seseorang. Ia melihat seseorang yang dicarinya sedang duduk di taman belakang, meminum secangkir the hijau. Seseorang tepatnya namja yang Changmin cari, menyadari kehadiran Changmin, bibirnya tersenyum.

"Kamu ke rumahku pasti membawa berita baik untukku bukan ?"

"Engh..sebenarnya tidak seperti itu, ini sebenarnya sebuah berita buruk."

"Hm ? Maka aku tidak ingin mendengarkannya Shim Changmin." Namja itu mengucapkannya dengan nada geram, menekankan tiap kalimat yang diucapkan.

"Tapi ini gawat hyung dan sedikit menarik, tadi ada seorang namja bernama Kim Junsu datang ke toko berlian-ku, ia membawa sebuah kalung Kristal dan aku mengenali berlian yang berada di bandul itu hyung, dan aku tidak tahu kenapa kalung kristal itu bisa berada pada namja itu. Sungguh ini suatu kecerobohan yang sangat berarti."

Ya, suatu kecerobohan bila meninggalkan sebuah benda ketika membunuh seseorang, maka benda itu bisa menjadi bukti yang cukup kuat untuk mencari pembunuhnya. Selama ini, Shim Changmin menyamar sebagai pemilik toko berlian agar orang-orang tidak terlalu mencurigai-nya. Sebuah toko berlian bernama Mirotic yang diberikan dari namja yang dipanggilnya hyung itu.

"Kalung Kristal siapa itu Changmin-ah ?"

.

.

.

Di saat bersamaan, Jaejoong tengah berada di rumah tingkat dua itu, menjelajahi seluruh ruangan lantai satu yang sudah tidak berbentuk lagi, terlihat sarang burung dan sarang tikus di setiap sudut ruangan. Lalu ia naik ke lantai dua, ia membuka sebuah pintu dan ia terkejut saat ini, ruangan ini tempat dibunuhnya pasangan suami istri itu, masih dapat terlihat bekas goresan kapur putih yang menyerupai tubuh manusia di lantai ruangan ini. Jaejoong keluar dari kamar itu dan menuju ke kamar yang berada di paling ujung, kali ini ia sangat terkejut, ia melihat sebuah kursi kayu, dan juga sebuah teropong.

"Kenapa ada benda seperti ini di rumah ini ?" gumamnya.

Karena lagi-lagi rasa penasaran menguasai-nya, Jaejoong melihat melalui teropong itu, teropong yang terarah ke sebuah rumah, ah tepatnya ke sebuah kamar.

"Yunho hyung !"

Lututnya mendadak lemas, ia pun terduduk di lantai. Ia yakin seseorang sedang mengincar Yunho, namja yang ia cintai.

Tiba-tiba Jaejoong merasa pusing saat itu juga, tubuhnya terhempas di lantai yang kotor itu, kepalanya sangat terasa sakit, tangannya memegang bahkan mencengkeram rambutnya.

"Aaarggghhh!"

Bayangan-bayangan seorang namja kembali muncul, kali ini lebih menjadi sangat jelas, bayangan seorang namja yang berjalan perlahan mendekatinya memegang sebuah pistol, akhirnya ia tahu siapa bayangan namja itu.

.

.

.

"Junsu, cepat katakan siapa pemilik kalung kristal itu !"

"Pemiliknya adalah.." Junsu menahan napasnya untuk melanjutkan ucapannya

"KIM JAEJOONG !"

"I..itu aku ?"

Di saat bersamaan Kim Junsu dan Shim Changmin mengatakan pemilik kalung kristal itu, dan saat itu juga Kim Jaejoong menyadari bayangan namja yang selalu hadir dimimpinya adalah dirinya sendiri. Sebuah berita buruk lainnya yang harus diterima bebarapa manusia, awal yang buruk akan memiliki akhir yang buruk juga.

This is your final warning.

To be continued

Give me some review ~

Thank you for your review ~ I'm really appreciate that .

*Apa kalian percaya Kim Jaejoong adalah pembunuhnya ?

*Apa kalian tahu siapa namja yang berbicara dengan Shim Changmin ?

Balikpapan, 24 Juni 2013

ZE.