Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto sepenuhnya. Segala jenis dan bentuk dalam cerita OOC ini produk dari saya!

Pairing : NaruHina

Genre : Romance

Rate : M

Warning : Typo, OOC, Gaje dan entah mungkin penyakit semacamnya

Jika menyamakan fic ini dengan yang ada di Bleach, tolong dibaca dua-duanya terlebih dahulu :D

Dan maaf tidak bisa membalas review dari reader yg sudah menyempatkan untuk membaca fic ini. seperti kemarin2-nya.

Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas dukungannya :D

Maaf juga untuk update yang begitu lama

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Chapter IV

Pria berambut kuning itu mulai membenahi kemeja yang dipakai oleh si gadis indigo. Ia mengancingkannya dari bawah dengan tatapan sexy yang mematikan. Tadi gadis itu sudah tersadar, hanya sebentar dan kemudian tertidur, karena kelelahan.

Pria itu berhenti beberapa saat sebelum tangannya mengancingkan kemeja Hinata yang terletak tepat dibawah payudara milik gadis itu. Pria kuning itu menggerakkan tangannya menuju dada Hinata lalu mengendurkan tali branya dan memelorotkannya cup bra leopard milik gadis itu hingga menampakkan payudara penuhnya. Pria itu mendekatkan wajahnya lalu menjilati, mulai dari bagian terluar hingga puting coklat kemerahannya. Gadis itu memendesah dalam tidurnya. Hal terakhir yang pria itu lakukan sebelum melepaskannya adalah mengigit pelan dengan gigi depannya.

Naruto memperhatikan sebentar, saliva miliknya menempel begitu basah disana. Ia melepaskan cup bra gadis itu lalu mendesah pelan menahan dirinya yang sudah terbakar nafsu.

"Kau membuatku menjadi penjahat, sayang," ucap Naruto. Barulah ia melepaskan jas kerjanya lalu menutupkannya pada dada si gadis indigo.

Hal yang dilakukannya kemudian adalah mengelap peluh yang muncul di wajah cantik gadis Hyuga itu dengan tangannya. Saat memperhatikan wajah Hinata, ia teringat akan ancaman yang diberikan oleh pamannya, Namikaze Menma.

"Siapkan dirimu untuk menjadi milikku," ucapnya sambil mengelus pipi Hinata dengan sayang.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Flashback

"Siapa?" tegasnya. Oh God, untuk ukuran gadis polos seperti dirinya, tentu pria itu terlalu meninggikan suaranya. Nomor gadis yang sudah berada di ponselnya lebih dari sebulan yang lalu, bahkan sudah ada sebelum dia diangkat menjadi manajer keuangan.

"Maaf manajer, aku tidak tahu dimana anda sekarang jadi aku ..."

Itu suara gadis cantik yang begitu menawan hatinya. Untunglah gadis itu masih bersuara biasa, tidak terpengaruh gertakannya.

"Lantai 15, ruangan direktur idiot perusahaan ini, mengerti?" ucap Naruto datar. Lalu mematikan hubungan pendek itu. Dia sedikit mengendurkan dasinya, masih tertinggal rasa amarah kepada pamannya.

Lelaki kuningitu segera berjalan menuju ruangan pamannya. Sedikit frustasi ia menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Bajingan itu membuatku gila," desisnya.

Barulah setelah ia berucap seperti itu untuk memuaskan mulutnya, ia berjalan lebih cepat ke ruangan direktur. Ia memutuskan untuk langsung masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu dan langsung bersuara begitu keras.

"Paman! Aku ingin bicara," gertaknya tak sabar. Lalu wajah tampannya berubah kaget saat itu juga.

Pamannya hanya menyunggingkan senyum manis sambil menatapnya sedang beberapa pasang mata lainnya mengikuti arah pandangan pamannya.

"Anak tampan, kemarilah," ucap paman ravennya. Ia masih menyunggingkan senyum manisnya.

"Maaf, aku bicara nanti saja, sepertinya aku mengganggu," ucapnya, dia mencoba menarik slot pintu, bermaksud menutupnya.

"Tidak baik tampan, mereka ingin bertemu denganmu," jawab Menma. Ia masih tetap menyunggingkan senyumnya.

Sebenarnya pria kuning itu malas jika harus bertemu orang-orang baru, apalagi itu tidak ada hubungan apapun dengannya, entah masalah pekerjaannya yang dijabat sekarang maupun dalam hal pribadinya. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk masuk juga, hanya formalitas.

Pria kuning itu menyunggingkan senyum sambil masuk ke kantor pamannya. Dari aksen dan wajah mereka sepertinya mereka adalah klien dari US. Setelah ia masuk, mereka menjabat tangan Naruto dan memberi salam, hanya sebatas itu lalu mereka berpamitan dan keluar.

"Damien Hart dan Rhean Hermswort," ucap pamannya.

"Ya, itu memang nama mereka bukan?" ucap Naruto sengit.

Paman tampannya itu menyunggingkan senyuman lagi kemudian berucap, "Hanya ingin mengingatkan, mereka mitra penting."

"Mitramu, bukan mitraku, paman," tegasnya.

"Sebentar lagi punyamu," jawabnya santai.

"Hentikan!" sungutnya marah, "Jadi, laporan keuangan juga masuk dalam rencanamu?" tanya Naruto.

"Begitulah, sangat rapi bukan?" tanya Menma.

"Paman!" bentak Naruto. Ia menggedor meja yang ada di depannya. Wajahnya memerah karena marah. Ia begitu kesal padanya.

"Kenapa? Perusahaan ini milik ayahmu! Jabatanku ini milikmu."

"Beri aku waktu," ucap Naruto frustasi dalam duduknya.

"Waktu? Sekarang, besok atau kapanpun itu akan sama saja anak tampan," ucap pamannya, ia mulai tidak sabar.

"Tapi bukan dengan cara seperti ini! Dipecat karena korupsi?" ucap Naruto, nadanya mulai meninggi.

"Karena aku tidak bisa memikirkan cara yang lebih halus dari itu."

"Kau hanya ingin memojokkanku," ucap Naruto cepat.

"Tentu! Keras kepalamu itu menyulitkanku," jawabnya penuh alasan.

Gigi Naruto mulai bergemeletuk, sudah mulai tidak sabar akan jawaban-jawaban dari mulut pamannya. "Akan sangat menggelikan jika aku tiba-tiba menjadi direktur dan aku tak punya pengalaman paman."

"Tidak akan ada yang menertawakanmu, sudah cukup baik reputasimu di Jerman dan US 8 bulan lalu. Itu sudah cukup bagimu. Menjadi direktur 2 perusahaan itu tidak mudah, tampan," lanjut pamannya. Dengan perkataannya itu sinar mata Naruto menjadi gelisah.

"Apa yang menghalangimu sebenarnya?" tanya Menma.

"Tidak ada," jawabnya singkat. Ia menatap pamannya datar.

Menma menghela napas, "Apa alasanmu berhubungan dengan wanita?"

Naruto memasang poker face andalannya. Tidak menjawab.

"Aku anggap diammu sebagai ya, Naruto. Lalu masalahnya?" tanya pamannya.

"Dia punya pacar dan aku baru berniat merebut dia dari kekasihnya," jawab Naruto. Sedang wajahnya menunjukkan pandangan mematikan.

"Itu keren," ucap Menma, ia mulai bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah pintu, "Aku tidak peduli bagaimana kau mendapatkannya, yang aku mau dia menjadi milikmu dua bulan lagi," lanjutnya.

Menma pergi meninggalkan Naruto di ruangannya. Lalu dengan segera pemuda kuning itu mengejar pamannya dengan kasar dibanting pintunya lalu dia menarik krah kemeja pamannya.

"Aku mengerti, akan aku lakukan dan soal direktur…" Naruto berhenti sebentar "Tidak bisakah kau sabar untuk 2 atau 3 tahun lagi?" bentak Naruto kesal. Sedang pamannya itu tidak bergeming. Dia diam di tempatnya.

Dan saat itulah gadis manis Naruto datang mendekat dan sedikit berteriak sarkastik*.

Dan saat itu pula ia tahu, pamannya tidak akan main-main soal membuat dirinya sendiri menjadi tersangka penggelapan uang jika Naruto tidak menurutinya. Ia terlalu mengenal pamannya. Terlalu mengenal mata seriusnya.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Alarm jam di kamar Hyuuga terdengar begitu berisik. Pemiliknya hanya bisa menengkurapkan tubuhnya lalu menindihi kepalanya sendiri dengan bantal dan kaki rampingnya ia pukulkan ke kasurnya. Gadis itu belum sukarela bangun dari tidur pendeknya.

Dengan cepat ia gunakan tangannya meraih jam beker di meja dekat tempat tidurnya. Jemarinya dengan cekatan meng - off kan benda mati itu. Ia menekan bantal diatas kepalanya lebih kuat dan itu hanya bertahan beberapa detik.

Gadis itu gila. Ya! Mana mungkin tidak? Terlalu banyak hal yang terjadi. Dia membuang bantalnya kearah samping. Ia bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan sedikit nervous lalu menepuk-nepuk wajahnya, berpikir bagaimana caranya untuk berhadapan dengan manajernya hari ini.

Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal tetapi kemudian mengingat kejadian tadi malam secara konstan*. Dari kejadian tumpahan kopi, kenyataan bahwa tadi malam ia membiarkan tubuh bagian depannya terekspos, manajer yang menjilatinya hingga ciuman panas penuh gairah itu.

Ya Tuhan, dirinya masih bisa merasakan betapa hangatnya napas si kuning itu yang menerpa wajahnya, merasa betapa lembut bibir manajernya menyapu bibir mungilnya secara intens dan berkebutuhan. Dari mengecup hingga memagut. Dari menjilati hingga menggunakan lidah mereka untuk beradu dan bagian paling mengesankannya adalah dirinya membalas – walau ia yakin dirinya tak semahir gadis seumurannya – meremas-remas rambut manajernya dan disaat itu pula gadis indigo mengetahui betapa bidangnya dada Naruto. Gadis itu memerah, dan tambah memerah saat dirinya ingat bahwa Naruto berkata dia bisa saja memperkosa Hinata sambil menggerakkan bibirnya sendiri dan lelaki itu terlihat lebih sexy.

Dan hal selanjutnya ia tak tahu lagi karena seketika itu pandangan Hinata mengabur lalu pingsan. Yang paling membuatnya merasa malu lagi, dia sudah ada di kamar tidurnya ketika ia terjaga pukul 2 dini hari dan hal itu pula yang menyebabkannya tak bisa tidur kembali.

Hinata segera bangkit dari tempat tidurnya lalu berlari keluar dari kamarnya turun ke lantai satu, hal pertama yang dilakukannya ialah menuju ruang tamu mencari nii-sannya dan disanalah ia.

"Pagi-pagi sudah ribut sekali Hinata, ada apa?" tanya kakaknya, Neji. Ia sedang sibuk membaca surat kabar harian pagi ini.

"Nii-chan, yang mengantarku tadi malam, dia berambut kuning?" Tanya Hinata. Ia gugup dan menenangkan dirinya dengan menggigit bibir bawahnya. Lalu ikut duduk disamping kakaknya.

"Ya, sepertinya dia bernama Uzumaki Naruto jika aku tak salah ingat," jawab nii-channya lalu dia menatap kearah Hinata.

Hinata sedikit melongo lalu bersua, "Kau tidak marah kepadaku nii-chan?" tanyanya.

"Marah? Untuk apa?" tanyanya.

"Aku pulang, maksudku aku diantar olehnya ... itu, ..."

"Tidak masalah, jika dia mengantarmu pagi ini aku malah akan langsung membunuhnya," jawab Neji, masih terpaku pada koran paginya.

"Jadi kemarin kau tidak memarahinya?" tanyanya.

"Dia bilang kau lembur sampai tertidur dan dia mengantarmu, bagian mana yang harus aku protes, Hinata?" jawab nii-channya.

"Tidak ada, mungkin .. apa aku melakukan tindakan bodoh dan semacamnya?"

"Kau hanya tak membiarkan dia menidurkanmu diatas kasur dan memeluknya sambil memanggil penny...penny....," lanjutnya sambil menirukan suara Hinata saat menyebut kata penny.

Wajah Hinata begitu pucat saat ia membayangkan hal yang begitu memalukan. Lebih memalukan daripada saat ia tak sadarkan diri karena ciuman.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Naruto terbangun ketika dirinya mendengar suara bel kondominiumnya berbunyi. Dengan sedikit malas ia merangkak keluar dari selimutnya kemudian ia keluar dari kamar besarnya. Sebelum membuka pintu, ia menatap pada layar peepholenya, melihat siapa yang mendatanginya pagi-pagi seperti ini dan ya, dirinya mengenal orang itu. Dengan cepat Naruto membuka pintu kondominiumnya.

"Halo," sapa orang itu.

"Hai, Izu. Masuk?" tanyanya datar.

"Tidak perlu, aku hanya mengantar dokumen pesananmu," jawab Izumo. Ia mengulurkan kumpulan dokumen yang sudah berada di dalam bag folder. "Aku hanya tidak ingin saat aku sampai disini kau sudah tidak ada," lanjutnya.

Naruto menerima bag folder itu, "Oh, begitu. Terima kasih untuk ini," jawabnya sambil mengacungkan bag folder itu.

"Kurasa itu saja, maaf mengganggu pagimu kawan," ucap Izumo.

"Tidak masalah," jawab Naruto ia menaikkan sedikit bibirnya tersenyum singkat.

"Sampai jumpa," ucap Izu sebelum pergi dari hadapan Naruto.

"Yoo," jawabnya santai.

Pria kuning itu segera masuk kembali. Meletakkan dokumen itu diatas meja di kamar tidurnya lalu ia pergi ke kamar mandi. Ia membasuh mukanya beberapa kali di wastafel lalu mengosok gigi dan tanpa bisa diingkari wajah Hinata muncul dalam bayangannya. Tadi malam ia mengantarkannya pulang kerumah – tidak dalam keadaan sadar – tentu saja.

Hal lucu yang terjadi karena itu adalah saat dirinya mencoba meletakkan tubuh gadis itu diatas tempat tidur, tetapi gadis indigo itu malah mengencangkan pegangan tangannya pada punggung kekarnya sedang tangan yang satunya meraba-raba bagian depan tubuhnya, dari dada sampai ke pinggangnya, hampir turun ke bawah di pangkal pahanya, mengira ia adalah boneka kucing besar yang digunakan Hinata untuk menemani tidur dan memanggilnya Penny.

Sedikit menahan geli dan rasa ingin mencubit Hinata malam kemarin karena Neji, kakak Hinata sedang memperhatikannya, jadi dirinya menahan diri, berusaha membuat wajah datar semirip bata.

"Terima kasih sudah mengantar adikku. Kau siapa?" ucap Neji.

"Uzumaki Naruto," jawabnya. Naruto tak jadi menidurkan Hinata, badan kekarnya ia tegakkan lagi.

"Maaf menyusahkanmu," ucap Neji. "Duduklah dulu diranjang dan bisakah kau biarkan Hinata tidur dulu seperti itu dipangkuanmu 10 sampai 15 menit lagi? Atau dia akan insomnia."

"Sepertinya bukan masalah besar," jawab Naruto datar.

"Terima kasih," ucap Neji kemudian.

Naruto duduk di ranjang. Kamar itu begitu manis, terdiri dari warna antara biru muda, putih dan hijau. Beberapa perlengkapan yang terbuat dari kayu. Guci-guci kecil keramik dan photo anime bertema kucing yang menghiasi dinding kamar itu. Cermin panjang yang bisa menampakkan seluruh tubuh dan sprei warna hijau muda.

Neji ikut duduk, agak jauh dari Naruto kemudian kembali berucap ketika ponsel miliknya berbunyi, "Aku harus keluar," ucapnya kaku.

"Ya, tentu saja?" Naruto berkata dengan nada sedikit antara bertanya dan memperbolehkan.

Neji keluar dari kamar Hinata, terdengar jelas bahwa kakak gadis itu berjalan menjauh lalu turun ke lantai satu.

Pria itu menghela napas ketika Hinata merancau dalam tidurnya. Gadis itu sudah seperti afrodisiak* baginya dan dalam khayalannya, Naruto menganggap itu sebagai desahan.

Gadis indigo itu di pangkuannya, dan bibir itu…. Rasanya pria itu ingin sekali lagi mendekatkan bibirnya, merasa, menjilat, mengecupnya, menyesapnya lalu mengulumnya,dan bermain-main disana, menggoda Hinata. Meraba-raba tubuhnya dan menelanjanginya, menindihnya dan bercinta…. Oh, sial. Tenang Naruto.

Persetan! Persetan dengan sikap offensive* sekarang, yang ia tahu ia ingin mengecup bibir itu lagi sekarang dan ia harus melakukannya atau ia tak punya kesempatan lagi

Lelaki itu mulai menjilat bibir Hinata. Mengecap sebentar sedikit kasar dan keras lalu membelah bibir Hinata dengan lidahnya. Gadis itu bereaksi, mengatupkan bibirnya lalu mengeluarkan lidahnya, masih tidak sadar tetapi Naruto bisa merasa bahwa nafas gadis itu semakin memberat dan memburu.

Tangan Naruto tak ingin ketinggalan. Pria itu menggerakkan tangannya, meraba dada penuh Hinata kemudian meremasnya lembut beberapa kali dan gadis itu melenguh singkat.

Naruto menyudahi. Dia meletakkan Hinata dengan hati-hati ke kasurnya, tapi tangan gadis itu tak bisa diam saja. Ia tetap saja meraba-raba dada Naruto dan karena tangan itulah Naruto hampir menggeram. Pria itu dengan cepat melepaskan tangan lentik Hinata dari jasnya dan menyelimuti tubuh gadis itu.

"Uzumaki-san," panggil Neji dari arah pintu, kemudian pria itu datang mendekat. "Maaf, bukan maksudku untuk mengusirmu, tapi aku harus kembali ke rumah sakit," ucapnya.

"Aku mengerti. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku punya adik perempuan," jawabnya.

"Baiklah, sekali lagi terima kasih," ucap Neji, kali ini ada senyum yang terkembang di bibirnya.

"Sama-sama," jawab Naruto singkat. Ia mulai berjalan keluar dari kamar Hinata diikuti oleh Neji.

Naruto segera bersiap diri, mengambil suit yang akan digunakan hari ini. Ia melangkah masuk lagi ke kamar mandi, membersihkan diri dengan mandi pagi.

Hinata yang masih menyunggingkan wajah 'sedikit tertekan' itu hanya bisa mengulak-alik nasi goreng yang ada di depannya. Tidak nafsu makan singkatnya.

"Aku tidak membuatkanmu sarapan hanya untuk kau sendoki tetapi tidak kau makan sama sekali, Hinata," ucap Neji kepadanya.

"Maafkan aku nii-chan,"

"Kau masih memikirkan soal tadi malam?" tanya nii-channya menebak.

"Aku merasa tidak enak padanya,' jawabnya lesu.

"Kau hanya harus berterima kasih padanya Hinata, dia menolongmu apa au pikir dia memintamu untuk membalas budinya?" tanyanya.

Gadis itu hanya menggeleng.

"Jadi masalah selesai, adik manis," ucapnya ia menyunggingkan senyum khasnya. Dan balasan Hinata hanyalah anggukan kepala.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Gadis Hyuuga itu terhenti di tangga ketika ia mendengar nada panggilan masuk di ponselnya. Ia membuka hp flip birunyadan menjawab.

"Selamat pagi Ino," jawab Hinata sumringah.

"Tadi malam ada apa?' pekik gadis itu kegirangan.

"Hnnnn...?" Hinata bertanya.

"Ayolah kohai, aku tahu terjadi sesuatu. Tadi malam manajer menghubungiku, dia menanyakan rumahmu," jawabnya dengan nada yang masih sama.

Oh, damn! Kenapa pria itu malah menghubungi Ino bukan temannya yang lain. Bukan masalah sebenarnya, dia pintar menyimpan rahasia tetapi sebagai balasannya Hinata harus berkata jujur kepadanya.

"Oh," ucap Hinata berlagak tenang.

"Ayolah sayang, jujur padaku dan aku akan mencari cara agar ia lebih dekat padamu."

'Oh Tuhan, betapa baik dan manisnya ia. Terima kasih sudah memberi senpai seperti dia'. Hinata membuka mulutnya, "Sebenarnya hampir tidak terjadi apa-apa."

Hell yeah, mana mungkin ia akan jujur pada Ino jika dirinya sudah 50 langkah lebih maju walau tanpa sengaja. Arrrgg... dia mengingat jilatan Naruto lagi pada tubuhnya dan perut rampingnya terasa geli seperti dihinggapi ratusan kupu-kupu. Jika ia jujur, gadis kuning pirang itu akan menyuruh Hinata untuk lebih menggoda lagi, jika perlu Hinata harus menari stiptise* didepan Naruto, ia yakin seperti itulah komentar yang akan diberikan oleh Ino.

"Kau sedang tidak bohong kepdaku kan Hina?" tanyanya.

"Ayolah senpai untuk apa aku berbohong kepadamu? Dia hanya mengantarku. Itu saja," jawab Hinata.

"Lalu kenapa dia harus bertanya alamat rumahmu kepadaku?" tanyanya tak terima.

"Aku tidak sadarkan diri senpai," jawab Hinata, 'Karena aku tertidur seperti sapi kekenyangan,' imbuhnya dalam hati.

"Kau pingsan? Apa kau kelelahan? Tidak enak badan? Sudah minum obat? Apa hari ini perlu akau izinkan pada manajer kalau kau sakit?"

Lihat? Dia bahkan lebih perhatian daripada nii-channya, lebih cerewet daripada mendiang ibunya.

"Satu-satu senpai. Aku memang pingsan dan itu karena kelelahan. Nii-chan sudah memberiku suplemen dan hari ini aku masuk kerja. Manajer meneleponmu karena dia tak ingin mengganggu tidurku, kemarin aku tertidur di mobilnya dan aku hanya diantar pulang. Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya pada nii-chanku, dia belum pergi ke rumah sakit," jawab Hinata komplit.

"Syukurlah. Apa ditengah jalan ia melakukan sesuatu padamu? Tidak mungkin tidak karena aku tahu dia menyukaimu."

'Ya, dia melakukan sesuatu! Menciumi bibirku, melumatnya seperti vampir yang kehausan darah. Menelanjangi tubuh bagian atasku dan menggoda tubuh bagian bawahku. Tapi itu hanya terjadi di mimpiku,' ucapnya dalam hati. Seketika wajah porselennya memerah. Ya Tuhan, jangan sampai ia bermimpi hal seperti itu lagi. Bisa-bisanya ia menjadi gadis pevert.

"Tidak," jawabnya datar, "Kau terlalu banyak nonton dorama. Aku akan menutup teleponnya sekarang, senpai."

"Baiklah, kita lanjutkan percakapan ini di kantor," jawab Ino dan ia malah yang pertama kali menutup telepon.

Oh, please, jangan. Jangan lakukan percakapan yang membahas tentang tadi malam, sudah cukup buruk untuknya karena dengan membicarakan Naruto logikanya bisa kalah oleh nafsunya.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Dan benar tentu saja, Ino masih menunjukkan wajah penuh tanda tanya saat Hinata sudah datang ketempat duduknya. Tapi Hinata mengisyaratkan 'aku menjawab jujur semuanya' dengan tatapannya dan seketika itu juga Ino mengalah, tidak akan menanyai Hinata lagi.

Kedua gadis itu sudah berkutat dengan komputernya, seperti biasa menjalankan tugas hariannya. Ino dengan faktur-fakturnya dan Hinata dengan pasal-pasal manisnya.

Naruto baru datang kekantor setelah jam menunjukkan pukul 10.30 JST. Sedang wajahnya dipasang seperti biasa, datar tanpa ekspresi, kaku seperti batu.

Belum genap satu jam setelah Naruto mendudukkan pantat di kursinya, Hinata memunculkan membawa beberapa berkas tentang pajak pasal 21. Naruto menerimanya dan Hinata menunggu. Suasana hening sehingga membuat situasi agak canggung.

"Manajer, soal tadi malam ...,"

"Nona Hyuuga," sela Naruto.

"Eennhh... Ya," jawabnya halus.

"Kau berdiri disini dan menghadapku untuk apa?" tanyanya datar. Ia menatap Hinata lurus.

"Laporan pajak pasal 21," jawab Hinata. Ia tersenyum manis.

"Lalu apa hubungannya tadi malam dengan pajak 21 yang kau berikan padaku?" tanyanya, sedikit menaikkan nada bicaranya. Beberapa rekan Hinata menatapnya, bukan karena mendengar apa yang dikatakan oleh manajer kuningitu, tetapi karena raut muka manajer itu yang sedikit berkabut.

"Tentu tidak manajer, hanya saja aku ..."

"Kau menyebabkan aku memandang rendah dirimu. Jika tidak, seharusnya kau lebih profesional nona, jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan," ucapnya, masih dengan nada yang mengintimidasi.

Raut muka Hinata terlihat kecewa, ia merasa tersakiti. "Aku bukan ingin membahasnya, hanya saja aku ingin berterima kasih padamu, manajer. Secepatnya... aku tak ingin dianggap sebagai gadis tak tahu terima kasih," jelasnya. Lavendernya hampir berkaca.

Naruto masih menatap Hinata dengan wajah datarnya. "Tidak perlu berterima kasih. Perbaiki ini, kau salah menghitung nominal dibagian tengahnya dan ini mempengaruhi semuanya," ucapnya.

Hinata hanya tertunduk lalu mengambil laporannya dan kembali ke meja kerjanya. Seharian itu dirinya seperti orang bodoh yang mengharapkan cintanya dibalas oleh si manajer. Kejadian malam lalu bukan suatu hal spesial bagi Naruto, dan Hinata sadar akan hal itu. Seharian pula ia mencoba menghapus gambar-gambar erotis tentang dirinya dan manajernya itu dari kepala mungilnya. Mencoba melupakan hasrat liarnya yang sudah terbunuh tanpa ia berusaha mengikuti instingnya.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Jam sudah mulai menunjukkan pukul 6 malam. Hinata masih sibuk dengan ponsel yang ia genggam, membalas beberapa e-mail yang masuk. Ia menunggu Sasuke di lobby perusahaan. Malam ini, lelaki berambut hitam itu bermaksud membawanya ke mansion mewahnya, mempertemukan dirinya dengan kakeknya, sebenarnya lelaki itu juga ingin mempertemukan Hinata pada kedua orang tuanya, hanya saja kedua orang tua Sasuke sedang liburan, honeymoon mereka yang entah keberapa.

Hanya selang sepuluh menit setelah lelaki itu mengiriminya e-mail dan dia sudah ada di hadapan Hinata. Gadis itu bersorak kegirangan, menumpahkan dengan cara memeluk pria berambut hitam itu dengan erat.

"Sasuke, aku menyayangimu," ucapnya seketika, agak keras.

Banyak pasang mata memperhatikan mereka, sedikit ada tontonan seperti adegan dalam sebuah dorama. Pria itu hanya menyunggingkan senyuman lebar lalu melepas pelukan Hinata. Lalu dengan segera pria itu mencium pipi Hinata dan berkata, "Aku juga menyayangimu anak manis."

"Maaf, jadwalku tak terduga jadi aku tidak bisa kesana secepatnya padahal sudah seminggu ini sejak kau pulang dari US," ucap Hinata, ia benar-benar menyesal.

"Tidak apa-apa anak manis, aku juga sedang sibuk. Jadi?"

"Baiklah, kita berangkat," jawab Hinata sumringah. Ia melingkarkan lengannya pada lengan lelaki itu. Sedang lelaki itu mengacak rambut Hinata pelan dan mereka berdua pergi dari lobby perusahaan.

Di kejauhan lelaki dengan setelan jas hitam itu membuka hp flipnya dan menghubungi seseorang di seberang.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Hinata mengenakan dress formal berkancing hari ini. Berwana hitam dengan aksen warna putih yang manis, juga ada ikat pinggang kecil yang bertengger di tempatnya. Gadis itu mengepang kecil rambut di kepala kirinya, hanya untuk mempercantik penampilannya. Ia mengenakan stiletto putih dengan hak tinggi dan juga mebawa tas hitam yang digunakannnya beberapa hari yang lalu.

Gadis itu melihat ke jam tangan mungil berwarna biru miliknya. Masih menunjukkan angka 7.30, ia tidak akan datang telat ke kantornya sehigga ia berjalan santai setelah ia berhasil keluar dari stasiun kereta.

Paginya sama seperti biasa. Ia duduk sambil bertanya pada Ino melihat beberapa teman-teman kerjanya berkelompok membicarakan sesuatu, "Ada apa?" tanyanya.

Gadis itu tersenyum senang, "Oh itu, manajer akan mentraktir kita sabtu depan."

Gadis indigo itu tersenyum tipis, "Begitu ya?" tanyanya.

"Kau akan datang kan?" tanya Ino.

"Mungkin, aku tidak begitu yakin," jawab Hinata.

"Ayolah manis, satu setengah bulan yang lalu kau tidak ikut dalam pesta penyambutannya dan sekarang kau akan melewatkan kebaikan hatinya?" tanya Ino.

"Dulu kaarena ni-chanku sakit Ran, mana mungkin aku berpesta sedang dia sendirian?" tanya Hinata meminta pengertian.

"Ya, semoga saja sabtu depan tidak terjadi sesuatu yang akan menghalangimu datang. Kadang aku berfikir dia terlalu galak kepadamu dengan sebab kau tidak mendatangi pesta penganggkatannya," ucap Ino.

"Mana mungkin karena itu senpai, kau mengada-ada. Baiklah akan aku usahakan," jawab Hinata kemudian.

Sedang Ino membalasnya dengan senyuman.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Sabtu depan ...

Gadis indigo itu khawatir jika terjadi sesuatu dengan Naruto, sudah 10 hari setelah pengumuman itu dibuat, Naruto tidak lagi datang ke kantor. Tidak ada keterangan dimana dia. Kehadirannya juga alpha. Tidak ada yang mengetahui keberadaannya, bahkan direkturya sekalipun karena beberapa kali pria itu mendatangi ruangan mereka. Bahkan ia berkata Naruto tak ada di kondonya. Ia juga bilang Naruto tak ada di rumah orang tuanya.

Seharian ini yang dilakukan gadis ndigo itu hanya melamun. Hari ini sudah sabtu depan yang dijanjikan oleh Naruto - mentraktir divisi ini - tapi sampai detik ini dia tak mnampakkan diri.

Gadis indigo itu berkata dengan mata yang sedikit berkaca, "Apa sebenarnya yang terjadi padanya, Ino?" ucapnya.

Gadis Yamanaka itu tak langsung menjawab, "Kita sama-sama tidak tahu Hina, kita doakan yang terbaik saja. Ayo pulang, sudah waktunya."

Beberapa rekan mereka memang sudah membersihkan meja, merapikan diri mereka dan bersiap untuk pulang, tetapi beberapa detik kemudian pintu ruangan itu dibuka secara kasar.

Pria berambut kuning itu datang, sedikit tidak rapi tapi selain itu tidak ada yang aneh dengan tubuhnya.

Yang pertama kali ia ucapkan, "Ayo, kita makan malam," ucapnya, dia tidak memasang wajah datar seperti biasa. Ada senyum tipis yang manis menghiasi wajahnya.

Beberapa rekan laki-laki Hinata langsung mendatangi Naruto dan bersahut-sahutan bertanya pada Naruto kemana perginya lelaki itu 9 hari terakhir ini. Sedang Hinata menepuk-nepuk dadanya lalu dia menangis sesenggukan. Bahagia bisa melihat Naruto hari ini dan Ino, gadis itu mengelus-elus kepala Hinata pelan.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Semua orang di diivisi keuangan sudah berjalan menuju restoran –untuk pegawai biasa– sedang Naruto sudah duluan sambil membawa mobilnya ke restoran tradisional. Naruto menghilang ke luar negeri 10 hari ini, dan untungnya walau penerangan sedikit terlambat, tidak menyebabkan janjinya kepada bawahannya untuk diingkari.

Hinata masih mencoba menenangkan diri ketika ia berjalan ke restoran, masih didampingi Ino.

"Sudah tenang Hinata?" tanya Ino.

Gadis itu hanya mengangguk. Rekan-rekannya sudah memasuki memasuki restoran dan gadis itu menyurh Ino agar menyusul mereka, sedang dirnya beralasan akan membersikan muka di wastafel yang ada di depan, pojok restoran. Ino menurut dan gadis Hyuuga itu segera berjalan kearah sana, sedang dari arah pintu Naruto menunggu Hinata, menyilangkan kedua tangannya.

Sudah 10 hari ia tak melihat gadis itu dan perasaannya masih sama. Jantungnya masih berdetak kencang dan tubuhnya masih mendamba.

Sadistic Finance Manager©_SheWonGirl_

Hinata berjalan menyusuri trotoar jalanan yang menuju kearah stasiun kereta. Gadis indigo itu merapatkan coat warna hijau toscanya yang membuka. Agak sempoyongan ia berjalan dengan menggunakan platform high heels warna campuran hitam hijaunya. Rambut indigo miliknya sudah agak berantakan walau ditempeli bando dengan hiasan kupu-kupu yang menempel erat dikepalanya, masih dengan warna senada dengan coatnya. Gadis itu mengencangkan ikat pinggang berukuran sedang yang memang satu set dengan coat imutnya.

Ia berhenti berjalan lalu berjongkok sebentar. Meletakkan tas hitamnya yang berukuran agak besar. Ia mengepalkan tangannya lalu memukuli betisnya. Kakinya terasa kebas sementara. Gadis itu menunduk lalu memukuli betisnya lagi. Seharian ini sebenarnya dia hanya duduk diam ditempatnya. Tidak banyak bergerak seperti biasanya, tetapi entah kenapa heels kesayangannya itu menyiksa.

Ia melihat ke arah jam tangan warna biru miliknya. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Keretanya – yang biasa ia tumpangi untuk pulang pergi – akan berangkat 10 menit lagi dan itu menjadi kereta terakhir. Tak menunda waktu lagi, gadis itu berdiri. Hampir saja ia terjatuh dan ia berpegangan pada tiang lampu di trotoar. 3 gelas sake yang diminumnya tadi mulai mempengaruhi keseimbangan tubuhnya dan otaknya mulai bekerja lambat, itu terbukti ketika seseorang dibelakangnya memanggilnya dengan sebutan nona.

"Nona, bisakah kau membantu kami?" tanya seseorang, sebuah suara yang berada di belakangnya.

Hinata belum perduli karena ia tak sadar jika dua orang lelaki di belakangnya itu berkata padanya. Ia mulai berjalan, tapi hanya dua langkah dari kaki mungilnya ia dihadang oleh salah satu pria, sedang di belakangnya masih ada seorang lagi.

Hinata mulai merasakan pusing mendera kepalanya. Pengelihatannya mulai mengabur dan perutnya terasa mual lagi.

"Nona, bisa bantu kami menemukan tempat yang tertera di kertas ini?" tanya pria itu lagi.

Hinata menatapnya lalu menatap kertas yang ada di tangan pria itu, sedang pria di depan Hinata mengedipkan sebelah matanya kepada pemuda di belakang gadis indigo. Pria itu membalas dengan cengiran.

Hinata terlihat berfikir sebentar lalu mencoba menjelaskan kepada dua orang pria itu dengan memberi pentujuk jalan, tetapi dua orang pria itu tetap tidak mengerti. Akhirnya Hinata mengantar mereka walau dengan tubuh yang agaknya mulai limbung, toh hanya satu blok, tidak akan memakan waktu lama dan keretanya juga belum akan pergi.

Hanya selang beberapa menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yang dimaksud – alamat yang ditulis di kertas – tetapi tempat itu terlihat sepi, sedang bangunan yang terletak di paling ujung itu malah bertuliskan "DIJUAL". Gadis itu yakin tempat itu dulunya sebuah kafe dan beberapa hari yang lalu masih dibuka, ia jadi sedikit bingung. Apalagi dengan kondisi agak mabuk seperti ini, Hinata tak bisa fokus berkonsentrasi.

"Ano, sebenarnya disini tempatnya tapi aku tidak tahu mereka sudah menutupnya," ucap Hinata kemudian.

Kedua pria itu hanya menyunggingkan cengiran puas dan keduanya langsung menyeret Hinata ke sisi bangunan yang sempit, salah satunya membungkam mulut Hinata dengan tangannya, begitu kasar dan kuat.

"Kami tidak peduli dengan tempat ini nona," ucap salah satunya.

"Yang kami pedulikan hanya kau, manis," ucap yang lainnya.

Lavender gadis itu membesar. Membulat kaget. Hinata mulai berontak, menapakkan betapa lemahnya ia sebagai seorang gadis yang terjepit oleh dua orang lelaki, apalagi dirinya dalam keadaan hampir tidak sadar. Ia mencoba menjerit tetapi yang keluar hanya butiran bening dari kelopak matanya.

Pria itu tambah menekan tangannya, merasa begitu puas. "Mari bersenang-senang untuk malam ini, nona," ucapnya sambil menarik rambut indigo Hinata.

Sedang pria jabrik yang satunya tertawa lebar, "Malam ini aku akan merasakan milikmu yang basah dan hangat," ucapnya, ia mulai membuka coat hijau tosca Hinata dan melebarkan kaki Hinata dengan kaki miliknya.

Sedang gadis indigo itu semakin menangis dalam diamnya, begitu berharap kepada Tuhan agar ada seseorang yang menyelamatkannya.

T B C

*sarkastik : mengolok, merendahkan.

*konstan : terus-menerus

*Offensive bisa diartikan rude (tidak sopan)

*Afrodisiak adalah bahan yang bisa berfungsi untuk meningkatkan libido (gairah seksual).

REVIEW :3 ?