BOYS SEX II
By : Han Kang Woo
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Exo Member, etc.
Main Cast : ChanBaek
Genre : Romance
Warning : BL (Boys Love), NC, Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M plus
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Baekhyun ketahuan. OMG.
"Ap.. Apa yang kau lakukan?" ulang suara yang baru saja muncul. Itu adalah suara namja.
Baekhyun tidak menjawab pertanyaan yang tentu saja terlontar untuknya. Namja imut itu lekas beranjak, dengan gerakan super. Dia menarik pakaiannya dan langsung memakainya seperti orang yang kena 'grebek dan razia'.
Hening, hanya terdengar suara 'grasa grusu' Baekhyun yang memakai baju serta celananya.
"Nichkhun... Kau sangat tidak sopan, memasuki kamar orang lain tanpa mengetuk dulu." kata Baekhyun, setelah semua pakaiannya terpasang sempurna. Wajahnya masih pucat.
"Maaf. Aku tadi mengetuk. Tapi tidak ada yang menjawab. Jadi aku membuka pintumu yang tidak dikunci." jawab si namja, ternyata adalah Nichkhun. Si namja asing asal Thailand.
"Tapi kau sudah lancang." bentak Baekhyun, dia berusaha menormalkan dirinya yang baru saja dipergoki 'ngeseks'.
"Siapa dia?" tanya Nichkhun, memperhatikan sosok Chanyeol yang bergerak gerak pelan diatas ranjang.
"Bukan urusanmu. Sebaiknya kau keluar." tukas Baekhyun, berjalan tertatih dan mendorong tubuh Nichkhun keluar kamar.
Mereka berdua sama sama keluar kamar. Baekhyun memandang sejenak kearah Chanyeol yang terlihat sangat lelah dan kesakitan. Dia tidak menutupi kejantanan penuh sperma namja itu. Dia membiarkannya bugil, sebugil bugilnya.
Kemunculan Nichkhun membuat pembalasan Baekhyun tidak selesai secara total.
Grrrhh.
o
o
o
o
Hening.
Baekhyun dan Nichkhun duduk berjauhan diruang tengah. Belum ada sepatah kata yang terucap dari bibir mereka. Terutama Baekhyun yang sempat mengira dipergoki oleh Victoria, noonanya. Atau mungkin Kyungsoo yang kembali. Tapi ternyata Nichkhun.
"Kenapa kau ingin menemuiku di kamar? Apa kau ingin pamit?" tanya Baekhyun, memecah kebisuan yang mencekam sukma.
"Maaf. Aku tadi ingin membicarakan mengenai mantan pacarku, Tiffany, dimana kau tahu jika wanita itu adalah mantanku. Tapi sekarang, sepertinya itu kurang penting lagi. Siapa namja tadi?" jelas Nichkhun, yang dibarengi dengan bertanya.
"Bukan urusanmu." jawab Baekhyun, ketus.
"Tapi namja itu terikat diatas ranjang. Apa kau memang mengikatnya?" lanjut Nichkhun, dia tidak menyinggung adegan seks yang baru saja dipergokinya. Karena itu terlihat sangat sensitif jika dibahas.
"Sudah kukatakan, bukan urusanmu." bentak Baekhyun.
"Tapi sepertinya akan jadi urusanku. Aku sempat melihat wajah si namja. Dia mirip adik mantanku, Tiffany." ucap Nichkhun, tegas.
Deg.
Wajah pucat Baekhyun semakin pucat saja, dia bergerak gelisah ditempat duduknya, selain karena holenya perih, kata kata Nichkhun barusan membuatnya takut.
"Apa dia Park Chanyeol? Adik tiri Tiffany?" Nichkhun bertanya, mata kenarinya menyipit. Ingin kejelasan.
Baekhyun sontak berdiri dari duduknya, namja imut itu berniat menghindari pertanyaan Nichkhun. Baru saja dia hendak pergi, tiba tiba kakak sepupunya, Victoria, sudah muncul.
"Kalian berdua ternyata ada disini." sapa Victoria, ramah. Yeoja cantik yang hampir memasuki kepala tiga itu tampak lelah, habis bekerja.
Deg.
Baekhyun dan Nichkhun saling memandang sejenak, dan kemudian membalas sapaan Victoria dengan senyuman. Senyuman yang ditampilkan Baekhyun terlihat sangat kaku dan tidak alami.
"Kalian kenapa? Apa ada sesuatu? Wajah kalian tampak tegang." kata Victoria, memandang bergantian antara Nichkhun dan Baekhyun.
"Ti.. Tidak apa apa noona." Baekhyun berujar cepat. Dia meremas tangannya, cemas dan gelisah. Namja tersebut sangat takut jika Nichkhun buka mulut dan mengatakan mengenai kejadian seks yang baru saja dilakukannya bersama Chanyeol. Wajahnya menjadi semakin tegang.
Terjadi keheningan yang lama.
"Iya, tidak apa apa." timpal Nichkhun, tersenyum tampan. Dia tidak buka mulut mengenai apa yang dilihatnya di kamar Baekhyun.
"Oh. Baiklah kalau begitu." Victoria juga tersenyum.
Baekhyun mendesah lega, bersyukur karena Nichkhun tidak mengatakan apa apa. Dia betul betul panik tadi. Apa yang harus dilakukannya jika kakak sepupunya itu tahu jika ada seorang namja diikat didalam kamar. Dan baru saja melakukan seks dengan namja itu. Ya Tuhan.
"Ak.. Aku ke kamar dulu noona." ucap Baekhyun. Langsung cabut, namja itu berjalan cepat dan meninggalkan Victoria dan Nichkhun berdua saja.
Hening.
o
o
o
o
Baekhyun tidak masuk kedalam kamarnya, tapi menuju beranda depan. Namja itu berjalan hilir mudik tidak jelas. Banyak hal yang dipikirkannya, semua jadi satu.
'Untung saja si Nichkhun itu tidak cerita. Bisa gawat jika Victoria noona tahu.' batin Baekhyun, menggigit kuku jari lentiknya, langkah mondar mandirnya nampak tertatih tatih, maklum saja, efek terbobol oleh kejantanan Chanyeol masih terasa.
Pembalasannya kepada Chanyeol sudah setengah dilakukan. Walau tadi belum tuntas, namun dia sudah cukup senang karena bisa 'memperkosa' Chanyeol hingga keperjakaan namja tampan itu hilang.
"Hari ini cukup. Aku akan bermalam di rumah Kyungsoo. Dan meninggalkan Chanyeol dikamarku sendirian. Namja itu pasti akan semakin tersiksa." Baekhyun bergumam, seraya bersmirk. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan kunci kamarnya dari sana. Namja itu tersenyum sambil menggenggam kunci itu. Kamarnya akan tetap aman.
"Noona aku pergi dulu." teriak Baekhyun, cetar. Namja itu kemudian langsung pergi tanpa izin langsung dari kakak sepupunya, Victoria.
Baekhyun membuka pintu pagar, menutupnya lagi. Lalu melesat pergi.
Yuhuu...
o
o
o
o
O...O...O...O
Besoknya.
Sinar mentari cerah menyinari kota Seoul dipagi hari. Semua menikmatinya, tidak terkecuali Baekhyun. Namja itu bersiap siap menuju sekolahnya. Kali ini bersama Kyungsoo, sahabatnya.
"Baek. Aku masih merasa aneh kau memakai seragam sekolahku." kata Kyungsoo. Namja itu berjalan berdampingan dengan Baekhyun. Posisi mereka sudah ada di depan sekolah, Ansan High School.
"Tidak ada yang aneh Kyung. Bajumu cocok. Kecuali celana dalammu yang agak kesempitan, hehehee..." timpal Baekhyun, tertawa tidak jelas. Dia memang memakai CD milik Kyungsoo.
"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Kyungsoo. Itu adalah pertanyaan yang sejak semalam ditanyakannya.
"Aku sedang malas pulang." jawab Baekhyun, singkat.
"Jadi kau meninggalkan noonamu bersama namja yang bernama Nichkhun di sana? Oh no. Bagaimana jika mereka melakukan anu anu, dan... Tidak." Kyungsoo memekik lebay, seperti yeoja yang baru saja di vonis kanker rahim stadium akhir.
"Kau berlebihan Kyung." Baekhyun menaikkan bola matanya malas. Dia sangat percaya kepada kakak sepupunya. Lagi pula masih ada ahjumma pembantu disana. Dan juga... Chanyeol. Ah, Chanyeol tidak dihitung. Kyungsoo memandangi Baekhyun agak lama, seraya meletakkan punggung tangannya ke dahi Baekhyun.
"Kau sangat aneh dua hari terakhir ini miss Byun. Apa kau sakit? Apa kau minum obat penahan haid?" cerocos Kyungsoo, berbicara asal saja.
"Aku bukan yeoja Kyung. Aku namja. You know." Baekhyun menurunkan tangan Kyungsoo didahinya.
"Tapi... Kau aneh. Seaneh ketidakhadiran si Park Chanyeol di sekolah selama dua hari belakangan. Aku tidak pernah melihat namja pembully itu." kata Kyungsoo, dia menoleh kiri dan kanan, mencari cari sosok jangkung Chanyeol yang biasanya hilir mudik dengan fans fans yeoja labil dibelakangnya.
Deg.
Baekhyun menelan ludahnya kasar mendengar kalimat sahabatnya itu barusan. Dia mendadak gugup dan gelisah.
"Lihat disana... Para yeoja fans fans Chanyeol. Mereka merana lahir dan bathin. Pangeran mereka tidak muncul." tukas Kyungsoo, lalu tertawa bentuk hati. Mata bulatnya menyipit karena tertawa.
Baekhyun semakin gelisah, dia tidak ikut tertawa.
"Hey... Kau kenapa?" tanya Kyungsoo, saat melihat ekspresi wajah aneh sahabatnya tersebut.
"Ti.. Tidak. Aku tidak apa apa Kyung." jawab Kyungsoo, tergagap.
"Tidak... Kau terlihat apa apa. Ceritakan padaku... Aku memaksa." tukas Kyungsoo, seraya mengguncangkan kedua bahu Baekhyun, lumayan keras.
Hening.
Baekhyun mendesah halus.
"Aku betul tidak apa apa. Oh ya, bagaimana kalau aku mewarnai rambutmu. Aku bosan dengan warna hitam rambutmu itu Kyungsoo." Baekhyun dengan cepat mengubah topik. Dia berusaha tersenyum.
"Tidak. Aku suka dengan warna hitam. Nanti aku tidak imut lagi jika warna rambutku berubah." Kyungsoo memajukan bibir tebalnya, 'monyong'.
Kyungsoo terus 'nyerocos' tidak jelas, lalu kemudian matanya membulat, sebulat bulatnya. Dia baru saja melihat penampakan seseorang yang pernah dilihatnya.
"Baek. Lihat disana... Park Chanyeol." seru Kyungsoo, menunjuk kesalah satu kelas, tepatnya didepan kelas tingkat dua.
"Tidak mungkin. Namja itu tidak mungkin datang." balas Baekhyun, dia mengikuti arah telunjuk Kyungsoo.
"Bukan... Maksudku kakak tiri Park Chanyeol. Dia ada disana!" Kyungsoo memperjelas ucapannya.
Baekhyun memperkuat pandangannya, mata bereyelinernya mengamati penampakan seseorang yang terlihat berbeda. Orang itu tidak memakai seragam sekolah, tapi baju biasa yang terlihat mewah.
"Apa yeoja itu yang bernama Tiffany?" tanya Baekhyun.
"Ya. Dia Tiffany. Kakak tiri Chanyeol." jawab Kyungsoo.
Baekhyun mendesah dengan sangat jelas, matanya terus mengamati sosok yeoja yang bernama Tiffany tersebut. Lama.
"Baek. Kau kenapa lagi? Kau kemasukan hantu cabul?" tanya Kyungsoo, ketika lagi lagi melihat ekpresi aneh dari Baekhyun.
"Ayo kesana Kyung."
"Kesana mana?"
"Ikut saja. Ayo."
Baekhyun menarik pergelangan tangan Kyungsoo. Dia membawa sahabatnya itu ke tempat Tiffany saat ini berada, yaitu depan kelas Chanyeol.
Dua menit kemudian, Baekhyun dan Kyungsoo tiba disana. Baekhyun sempat memperhatikan dan mendengar percakapan yang terjadi antara Tiffany dan teman teman Chanyeol.
"Chanyeol betul betul tidak pernah masuk sekolah?" tanya Tiffany, nada suaranya rendah dan sedikit serak. Sepertinya yeoja cantik itu habis menangis lama.
"Tidak. Chanyeol sudah dua hari ini tidak masuk." jawab salah satu namja, bernama Suho.
"Tapi... Apa Chanyeol tidak pernah menghubungi salah satu dari kalian?"
"Tidak. Tidak pernah." beberapa namja menjawab berbarengan, kompak.
"Ahh." Tiffany mendesah. Desahan yang terdengar putus asa dan sedih.
Beberapa detik kemudian bell masuk berbunyi. Semua siswa dan siswi diharuskan masuk kelas. Termasuk siswa tingkat dua.
"Terima kasih." ucap Tiffany. Yeoja itu membungkuk beberapa kali kepada teman teman Chanyeol yang sempat ditanyainya.
Baekhyun yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu, tidak beranjak dari posisinya. Kyungsoo sudah menarik lengannya untuk masuk kelas.
"Baek. Ayo masuk. Sekarang waktunya Shindong saem yang mengajar. Aku tidak mau dihukum oleh guru killer gendut yang gagal diet itu." tukas Kyungsoo, terus menarik lengan Baekhyun.
"Kau saja yang masuk Kyung." timpal Baekhyun.
"Kenapa hanya aku? Kau?"
Baekhyun memposisikan wajahnya dan berhadap hadapan dengan Kyungsoo.
"Aku akan berbicara dengan kakak tiri Chanyeol itu. Dan katakan kepada Shindong saem kalau aku sakit, harus ke UKS dulu." kata Baekhyun, tegas.
"Bukannya kau belum mengenal Tiffany?" heran Kyungsoo.
"Sebentar lagi aku akan memperkenalkan diri. Sudah sana... Aku berharap padamu Kyungsoo yang baik hati dan tidak sombong." Baekhyun mendorong pelan Kyungsoo, disertai senyuman memohonnya.
"Ok. Baiklah." Kyungsoo setuju juga, walau setengah hati. Yaa maklum saja, selama ini dia tidak pernah terpisahkan oleh Baekhyun dalam hal masuk kelas dan sejenisnya. Namja itu berjalan pelan, menuju kelasnya.
Namun tidak lama Kyungsoo balik kembali.
"Ada apa?" tanya Baekhyun,
"Aku harus mengatakan kau sakit apa?"
"Yaa katakan saja kalau aku menderita pendarahan dan pelebaran vagina." jawab Baekhyun, asal saja.
"Apa?"
"Eh, maksudku... Terserah sakit apa. Pusing, demam, meriang, lemah syahwat... Terserah kau." Baekhyun memperbaiki ucapannya. Penyebutan vagina tadi adalah representasi dari holenya yang kini masih perih akibat seks dahsyat kemarin bersama Chanyeol.
"Ok. Aku akan memilih kau sakit meriang alias merindukan kasih sayang." kata Kyungsoo, lalu tertawa lebar.
"Sesukamulah."
Asdfghjk.
o
o
o
o
O...O...O...O
"Jadi kau adalah salah satu teman dekat Chanyeol, adikku?" tanya Tiffany. Beberapa menit yang lalu yeoja itu duduk disebuah bangku panjang samping perpustakaan sekolah Chanyeol. Dia tidak sendiri, tapi bersama orang lain. Dan itu adalah Baekhyun.
"I.. Iya noona." jawab Baekhyun, yang tentu saja berbohong. Dia sama sekali tidak pernah dekat dengan Chanyeol. Yaa kecuali 'dekat' dalan arti seks yang sudah dilakukannya bersama namja tampan bertelinga lebar itu. Tiffany tersenyum cantik, menampilkan eye smile khasnya. Dia memenuhi permintaan Baekhyun untuk berbicara empat mata.
"Jadi Chanyeol sama sekali tidak pernah menghubungimu?" tanya Tiffany lagi, mengharapkan jawaban yang menenangkan hatinya.
Hening, Baekhyun tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakak tiri Chanyeol itu. Dia menoleh kearah lain, ada rasa bersalah dalam sorot matanya.
"Tidak noona. Chanyeol sama sekali tidak pernah menghubungiku." jawab Baekhyun, akhirnya. Kalimat itu meluncur dengan tidak mulus.
"Ya Tuhan... Chanyeol ah, dimana kau. Aku sangat khawatir padamu." hela Tiffany, jawaban Baekhyun membuatnya semakin down.
Baekhyun memberanikan diri mengusap pelan bahu Tiffany, matanya menyiratkan rasa kasihan.
"Nomor ponsel Chanyeol juga sama sekali tidak aktif. Entah apa yang terjadi dengan adikku itu." gumam Tiffany, mengusap wajahnya. Sudah beberapa lembar tissu digunakan untuk mengelap air matanya.
"Ahh." Baekhyun mendesah halus. Perasaan bersalahnya semakin membesar. Pikirannya kini tertuju di kamarnya, dimana dikamar itu ada sosok Chanyeol yang terbaring lemah, terikat kuat, belum makan, berantakan, dan bugil.
Terjadi keheningan dan kesunyian yang dalam.
"Sepertinya noona sangat khawatir dengan Chanyeol?" tanya Baekhyun, lirih.
Tiffany mengangguk, seraya mengusap air matanya yang jatuh. Yeoja cantik itu kembali bergumam.
"Walaupun Chanyeol adalah adik tiriku... Tapi aku sudah menganggapnya sebagai adik kandungku. Sejak ommaku dan appa Chanyeol menikah, sejak saat itulah statusku bukan sebagai anak tunggal lagi. Aku sudah punya seorang adik. Yang sangat kusayang. Chanyeol." Tiffany bergumam, sesekali dengan isakan.
Baekhyun mendengarkan tanpa menyela.
"Chanyeol adalah namja yang baik. Dulu dia sangat kehilangan kasih sayang seorang omma. Tapi sekarang tidak lagi. Yaah, aku memang mengakui jika anak itu sangat sulit diatur dan cenderung pemberontak. Tapi, pada dasarnya dia adalah namja yang baik." lanjut Tiffany, pelan dan kalem. Yeoja itu berusaha tersenyum pada Baekhyun.
Ahh. Lagi lagi itu yang keluar dari bibir Baekhyun. Perasaan bersalahnya meningkat beberapa level. Lagi lagi diserang kegalauan dan kontroversi hati.
'Chanyeol ada padaku sekarang. apa aku harus jujur saja?' batin Baekhyun, meremas tangannya yang berkeringat dingin. Andai saja dia ada diposisi Chanyeol sekarang, pasti Victoria juga akan merasakan hal yang dirasakan oleh Tiffany. Sama sama kehilangan seorang adik.
Hening lagi.
"Apa... Apa Chanyeol sudah punya pacar?" tanya Baekhyun, pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa direncanakan.
Tiffany menoleh, lalu tersenyum kecil. Menurutnya pertanyaan Baekhyun sangat lucu.
"Sepertinya tidak. Aku tidak pernah melihat Chanyeol membawa seseorang di rumah. Baik rumah di Busan maupun rumah yang di Seoul." jawab Tiffany.
"Oh." Baekhyun mengangguk, sangat pelan. Entah mengapa ada perasaan hangat mendengar jawaban dari kakak tiri Chanyeol itu.
Tiffany sekali lagi mengusap wajahnya dengan tissu, yeoja itu kemudian memandangi jam tangan mahal yang tersemat indah dilengan kirinya.
"Ah maaf. Aku harus pergi sekarang... Terima kasih sudah menjadi teman bagi Chanyeol." ucapTiffany, berdiri dari duduknya.
"Iya noona. Sama sama." balas Baekhyun, tersenyum kaku.
Tiffany membungkuk sebanyak dua kali, pamit. Dia baru saja ingin pergi, namun menoleh lagi.
"Ah. Jika kau mempunyai kabar atau sempat melihat Chanyeol... Tolong hubungi aku. Ini nomorku." Tiffany berkata cepat, seraya mengucapkan beberapa digit nomor telefonnya.
"I.. Iya noona." Baekhyun tergagap, namja imut itu lekas merogoh ponselnya, mengetik cepat nomor ponsel Tiffany.
Dan akhirnya Tiffany pergi, meninggalkan Baekhyun sendirian disamping perpustakaan sekolah. Namja itu mengamati penampakan kakak tiri Chanyeol tersebut yang menghilang dibalik pagar sekolah.
"Uufff..." Baekhyun mendesah kasar. Pikirannya berputar putar.
o
o
o
o
O...O...O...O
Baekhyun untuk kedua kalinya membolos sekolah. Namja yang sudah berubah 'cabe' itu pulang tanpa mengikuti satupun mata pelajaran. Hanya pesan singkat yang dikirimkannya kepada Kyungsoo, yang mengatakan bahwa dia pulang dan tidak kembali ke sekolah lagi.
Namja itu masuk kedalam rumahnya. Kakak sepupunya, Victoria, tidak ada dirumah, yeoja itu sedang bekerja di bank. Sedangkan Nichkhun sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
Baekhyun langsung naik kelantai atas, ingin masuk kedalam kamarnya. Entah mengapa dia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan oleh kata kata. Tangannya memegang gagang pintu agak lama, kunci sudah dimasukkannya ke lubang.
'Apa aku harus melepaskan Chanyeol?' Baekhyun membatin, galau.
Tidak lama kemudian, namja itu membuka pintu kamarnya dan langsung menguncinya kembali. Namja itu menoleh dan memandangi Chanyeol dengan posisinya masih didekat pintu kamar.
Deg.
Mata Baekhyun sontak membulat sempurna. Dia melihat sosok Chanyeol yang masih telanjang bulat. Namun bukan itu yang membuatnya kaget, tapi penampakan si namja yang terlihat 'sakit.'
"Chanyeol..." Baekhyun dengan cepat bergerak, menuju kesamping ranjang dimana Chanyeol masih terikat kuat.
Miris dan menyedihkan. Itulah mungkin dua gambaran yang pantas disematkan kepada namja jangkung berjulukan pangeran sekolah. Yaah, keadaan Chanyeol sangat kacau dan mengkhawatirkan. Tubuh telanjangnya bergerak dan bergetar, seperti menahan dingin. Matanya terpejam, dengan mulut sedikit membuka. Dahinya dipenuhi bulir bulir keringat. Dada, bahu dan perutnya dipenuhi bekas merah (bekas catokan panas kemarin) dan juga gigitan nyamuk. Dan tidak lupa dengan bekas spermanya yang mengering disana sini. Penampakan yang sangat tidak wajar.
Tangan Baekhyun bergerak pelan, bukan kearah penis Chanyeol yang melemas seksi, tapi ke jidat namja itu.
Deg.
"Chanyeol... Suhu tubuhmu sangat tinggi. Kau demam." kaget Baekhyun.
Namun, Baekhyun tidak melakukan apa apa. Dia hanya diam disisi ranjang, tanpa melakukan pertolongan pertama pada Chanyeol. Dia kembali galau, pembalasan dendamnya masih ada, tapi jiwa kemanusiaannya juga tidak bisa hilang. Dia terkena kontroversi dilema yang mendalam.
Hening.
Namja itu terduduk dengan ditopang kedua lututnya. Bayang bayang penghinaan dan pembullyan Chanyeol muncul dibenaknya, berputar putar. Sesuatu yang tidak akan mungkin dilupakannya seumur hidup. Namun bayang bayang itu langsung tergantikan dengan percakapannya bersama kakak tiri Chanyeol, Tiffany. Percakapan yang membuatnya merasa bersalah karena menyembunyikan Chanyeol selama dua hari ini.
Masih hening. Baekhyun belum melakukan apapun. Matanya terus saja memandangi sosok Chanyeol yang terlihat menyedihkan.
Tiba tiba...
"Baek... Baekhyun..." terdengar suara kecil. Suara yang memanggil nama Baekhyun, lirih dan seperti bisikan. Suara itu berasal dari bibir Chanyeol yang bergerak gerak pelan, bergetar.
Deg.
'Kau memanggil namaku...' tanya Baekhyun dalam hati. Dia memperbaiki posisinya.
"Baekhyun..." Chanyeol kembali meracau, matanya tetap terpejam.
Baekhyun nampak berpikir keras, saat ini hatinya yang berbicara, bukan egonya lagi.
"Baiklah... Aku akan segera kembali." ucap Baekhyun, setelah itu beranjak cepat. Namja itu lekas keluar kamar dan menuju dapur.
Tidak lama, namja imut itu kembali sambil membawa baskom kecil berisi air dingin, handuk kecil dan beberapa peralatan lainnya. Dia menutup pintu, menguncinya.
Baekhyun dengan telaten membersihkan tubuh Chanyeol yang selama dua hari belum mandi. Tangannya berputar lembut dan mengusap seluruh tubuh seksi Chanyeol yang bisa dijangkaunya dengan menggunakan handuk kecil yang sudah dibasahi air.
Sret sret. Usap.
Ini adalah kali pertama Chanyeol tersentuh oleh air dingin, tubuh namja itu bergetar pelan. Dia sama sekali belum membuka pejaman matanya. Nafasnya terlihat memburu, yang menandakan bahwa dia tidak baik baik saja.
Baekhyun terus mengelap dan membersihkan tubuh Chanyeol tanpa berbicara. Dan entah mengapa setetes air matanya tumpah. Dia kasihan melihat kondisi Chanyeol yang mengenaskan dan tidak wajar. Namun dia lekas menghapus air matanya itu.
Setelah tubuh Chanyeol dirasa bersih. Baekhyun menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh Chanyeol sampai leher. Dia menggunakan selimut baru dan bukan selimut lama yang sudah penuh cairan sperma yang mengering. Tidak lupa mengompres dahi Chanyeol dengan handuk basah yang berisi es batu. Semua itu dilakukannya masih dalam kondisi diam membisu.
Baekhyun memandangi wajah Chanyeol lekat lekat, fokusnya pada bibir namja itu yang nampak menggoda. Dia memandangi agak lama hampir sepuluh menit lamanya.
'Tampan...'
Pikirannya berputar lagi, antara ingin melepaskan Chanyeol atau tidak. Sisi ego dan sisi kemanusiaannya bergolak, saling memunculkan dominasi.
Tangan Baekhyun bergerak pelan dan perlahan. Bukan mengerjai tubuh Chanyeol lagi, namun mengambil ponselnya disaku. Namja itu mencari kontak ponsel kakak tiri Chanyeol, yaitu Tiffany. Tapi setelah ditemukan, dia tidak melakukan apa apa, hanya memandangi kontak itu saja.
Galau.
Baekhyun mendesah kasar, dia mendongak dan memandang langit langit kamarnya. Desahan nafasnya terdenger beberapa kali. Lalu kemudian fokus lagi pada wajah Chanyeol dan kontak ponsel Tiffany ditangannya.
Dan tanpa perencanaan sebelumnya, Baekhyun memajukan wajahnya dan menenggelamkan bibirnya ke bibir Chanyeol, dalam. Untuk kesekian kalinya dia mencium bibir Chanyeol, melumat dan menekannya.
Baekhyun mencium Chanyeol, seraya melemparkan ponselnya ke sisi lain ranjang, dia batal menghubungi Tiffany. Niatnya itu sirna bagai asap. Hilang.
"Mffhh... Ahh..."
Ciuman itu berlangsung beberapa menit. Nafas Baekhyun mulai terengah engah, hingga kemudian dia harus merelakan ciuman itu lepas, menyisakan saliva disudut bibirnya.
"Aku... Aku tidak bisa melepaskanmu Chanyeol. Tidak bisa. Aku... Aku ingin kau tetap disini, bersamaku. Karena... Karena aku... Aku sudah jatuh cinta padamu." gumam Baekhyun, mendadak posesif. Jiwa melankolisnya keluar dan berpadu dengan ketidakinginan berpisah dengan Chanyeol.
"Aku mencintaimu Chanyeol ah."
o
o
o
o
o
o
o
TBC
O...O...O...O...O...O...O
Chapter 4 update. Sebenarnya chap ini mau kupublish kemarin, tapi karena aku lagi lagi kena musibah, jadi yaa gitu deh.. Hehehee.. *plak.
Terima kasih atas reviewnya. Aku ngakak dan senyum sendiri baca beberapa review, hehehee.. Maaf, nggak bisa balas satu satu. Tapi review itu tetap menjadi penyemangat agar FF ini terus lanjut hingga akhir, seperti FFku yang lain.
Review dan Komentarnya lagi ya... Sebentar lagi FF ini tamat (mungkin) hehehe...
Aku cinta kalian.
Han Kang Woo
