Shinozaki Kaguya sudah paham kalau anak dari sahabat karibnya ini tidak bisa diprediksi. Mirip sekali dengan ayahnya. Namun ini terlalu mendadak, sama seperti cuaca yang tiba-tiba berubah jadi hujan lebat sekarang. Lagipula, ia pernah ada dengar jika anak didik satu-satunya itu melarang teman-temannya datang ke studio. Lalu sekarang, kenapa dirinya membawa satu gadis cantik ke sini?

Mata hitamnya memperhatikan pemuda berambut biru muda itu dengan ekspresi penasaran. Sang objek menaruh payung bening berukuran sedang ke tempat khusus penyimpanan payung. Ia mendongak sebentar.

"Konnichiwa, Sensei," sapanya seraya membungkuk sedikit.

Gadis cantik yang dibawa anak didiknya ikut memberi salam.

"A-aa, konnichiwa—janakute!" Kaguya memicingkan kedua matanya sambil menunduk sedikit. "Tumben Tetsuya bawa 'teman' ke sini?" tanyanya dengan nada berbisik.

"Mm, n-nanti akan kujelaskan, Sensei," jawab Tetsuya ikut berbisik.

"Oke~" Tubuhnya kembali ditegakkan. Kaguya tersenyum ramah pada gadis berambut merah panjang yang berdiri tak jauh dari Kuroko Tetsuya. "Nah, siapakah gadis cantik nan manis ini kalau boleh kutahu?"

Sang gadis maju satu langkah. "Akashi Seijuurou desu. Teman seangkatan Kuroko-kun." Kemudian ia membungkuk sedikit.

"Sei-chan, ya." Kepala Kaguya mengangguk beberapa kali. "Aku bisa dibilang guru fotografer Tetsuya. Shinozaki Kaguya. Semoga betah di studio yang sederhana ini, ya," ucapnya memperkenalkan diri sekaligus mempersilakan Seijuurou masuk sebagai tamu.

"Hai. Maaf mengganggu Shinozaki-san dan Kuroko-kun," balas sang gadis sungkan.

"Tidak kok, santai saja. Anggap rumah sendiri ya, Sei-chan."

Seijuurou mengangguk dan tersenyum senang.


Kuroko no Basuke disclaimer by Fujimaki Tadatoshi-sensei
Mayonaka no Shadow Boy by Rin Shouta
Rate : T
Genre : Romance, Drama, Angst

Pair : KuroFem!Aka slight NijiFem!Aka, KuroFem!Kise

Warning : Gender bender. AU, OOC, typos, etc. Mungkin bisa langsung tahu jalan ceritanya gimana kalau sambil mendengarkan lagu Mayonaka no Shadow Boy-nya Hey! Say! JUMP yang menjadi inspirasi fanfic ini. :) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?


I love you, chérie
It's no lie, chérie
My love keeps on growing

Hey! Say! JUMP – Mayonaka no Shadow Boy


Tetsuya menyeduh teh hangat dua gelas ukuran kecil di pantri. Sesekali ia disapa pekerja yang lain atau mengobrol sebentar dengan mereka. Sebelum berjalan menuju tempat Seijuurou menunggu, ia mencari jaket serta handuk di dalam lokernya. Beruntungnya kemarin ia tak membawa pulang dua benda tersebut. Senyum tipis terpantri di wajahnya ketika mencium handuk dan jaket yang ternyata masih wangi.

Dua gelas teh ditaruh di atas meja. "Pakailah. Badanmu terlihat gemetar," suruh Tetsuya sambil memberikan jaket dan handuk pada Seijuurou.

"Aa, terima kasih, Kuroko-kun," ucap Seijuurou. Ia langsung memakai jaket biru muda berhoodie milik Tetsuya lalu mulai mengeringkan rambut dengan handuk.

Tetsuya melirik sebentar sebelum menyesap teh. Ia bisa merasakan kalau seluruh tubuhnya perlahan menghangat.

Tiba-tiba Tetsuya dipanggil oleh gurunya, ia pun izin undur diri. Seijuurou mengangguk paham. Kegiatan mengeringkan rambutnya terhenti. Gadis itu lebih memilih untuk memperhatikan Tetsuya yang berdiri sekitar dua meter dari tempatnya duduk sambil ditemani segelas teh hangat. Ia tersenyum tipis saat sosok itu terlihat menghindari serangan Kaguya yang datang dengan handuk putih.

Ia paham kalau Kaguya ingin membantu mengeringkan rambut Tetsuya. Namun gurunya tidak menyerah meski sang korban menghindar terus. Kaguya pun berhasil menangkap Tetsuya lalu mengeringkan rambutnya sebentar. Mata Seijuurou menyipit kemudian menahan tawa karena melihat rambut Tetsuya yang mencuat ke atas semua.

Seperti bukan Kuroko Tetsuya yang ia kenal. Tapi lucu juga, pikirnya.

Seorang wanita cantik berumur kira-kira dua puluh tahunan masuk ke dalam area pemotretan. Ia memakai mantel hitam, namun mantel itu dilepas dan memperlihatkan gaun tidur warna merah terang selutut. Gaun tersebut lumayan terbuka karena bahunya tidak tertutupi oleh apapun selain tali yang ukurannya tak lebih dari lima centi meter. Tanpa sadar Seijuurou menahan napas. Sebagai perempuan saja ia merasa malu melihatnya, bagaimana dengan kru (terutama Tetsuya) yang kebanyakan adalah berjenis kelamin laki-laki?

Sang model yang Seijuurou kenali bernama Arimura Eriko itu menaiki kasur king size secara perlahan. Bahkan terkesan erotis hingga pakaian dalamnya mungkin terlihat. Tapi tampaknya tak ada yang terganggu akan hal itu.

Diam-diam rasa penasaran menggelitik Seijuurou. Ia mencari sosok Tetsuya yang sibuk memegang kameranya sambil melihat layar komputer. Mungkin hasil jepretannya akan langsung terlihat di sana nanti. Seijuurou pernah dengar kamera yang memiliki fasilitas bluetooth sehingga foto-foto maupun video yang sudah diambil bisa terlihat secara langsung di komputer atau laptop.

"Yoroshiku onegaishimasu!"

"Yoroshiku onegaishimasu!"

Sesi pemotretan dimulai. Terdengar beberapa instruksi dari Kaguya. Nama Tetsuya pun ikut dipanggil-panggil.

Sebenarnya Seijuurou tidak terlalu paham tugas seorang asisten fotografer profesional, tapi pekerjaan itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Tetsuya terlihat kesulitan saat mengikuti instruksi Kaguya. Ia mengitari kasur dan berdiri di belakang sang model.

Tahu bahwa ada Tetsuya di belakangnya, Eriko yang sedang duduk dan memeluk lutut dengan kedua tangan kini posenya berubah sedikit. Jari telunjuk tangan kanannya terlihat digigit dan ibu jari berada di depan bibir bawah. Pandangan seduktif melayang ke arah kamera seolah ia sedang memamerkan keseksian dari punggungnya. Tetsuya pun berhasil menangkap sisi nakal sang model dengan sempurna sehingga senyum puas muncul di wajahnya.

"Eriko-san! Ganti pose!"

Menuruti instruksi, Eriko kembali berganti pose. Tetsuya terlihat mencari ankle yang sesuai, namun kali ini tanpa instruksi dari sang guru. Ia tampak mengambil gambar sang model dari samping kanan.

Tanpa disadari, fokus Seijuurou sudah sepenuhnya tertuju pada Kuroko Tetsuya. Meski tidak terlihat dengan jelas, tapi entah kenapa matanya tak bisa lepas dari sosoknya. Hal yang tadinya terlihat lucu seperti rambut yang mencuat ke atas, sekarang berubah total. Apalagi dengan ekspresi serius dan tatapan lapar akan foto-foto yang ingin ia dapatkan.

Di mata Seijurou, Tetsuya jadi lebih... keren?

Sang gadis rasanya ingin gigit jari.

Sensasinya terasa berbeda dengan pemandangan seorang Nijimura Shuuzo yang bermandikan keringat ketika sedang main basket. Seijuurou menggeleng cepat. Berusaha keras untuk menguatkan dan menyadarkan diri sendiri bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Namun ini pertama kalinya ia terpesona oleh lawan jenis selain pada Shuuzo. Wajar kalau dirinya merasa gelisah sekarang.

"Shitsureishimaaaaasu..."

Suara pelan terdengar dari arah belakang. Seijuurou menengok dan matanya menangkap sepasang mata seindah batu mulia topaz dari balik pintu yang pelan-pelan terbuka secara penuh. Seorang gadis yang sepertinya tidak asing bagi Seijuurou pun terlihat.

Selama kurang dari satu menit, mereka saling tatap. Tanpa bicara sepatah kata, gadis berambut pirang dan tidak diundang sepertinya itu berjalan mendekati area pemotretan. Ia menyapa salah satu kru yang sedang duduk di depan layar komputer dengan santainya.

"Apa dia model reguler studio ini, ya?" gumam Seijuurou.

"Oke! Istirahat sebentar!" perintah Kaguya.

Fokus Seijuurou kembali pada Tetsuya yang tampak diajak bicara oleh sang model. Dilihat dari manapun, Tetsuya berusaha memasang wajah ramah. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi ekspresi Eriko terlihat gemas dan berakhir dengan cubitan di kedua pipi remaja tersebut. Sang model tertawa sambil memakai mantel yang sedari tadi dibawakan oleh wanita lain yang sepertinya adalah manajernya.

"Wah, ada Ryo-chan! Kau datang di saat yang tepat!" seru Kaguya sambil berjalan mendekati komputer untuk melihat hasil-hasil pemotretan.

"Eh? Kena—Kurokocchi!"

Pekikan gadis pirang itu membuat kedua alis Seijuurou mengkerut.

"Doumo, Kise-san." Tetsuya ikut mendekat lalu membungkuk sedikit.

"Apa Kurokocchi yang memotret lagi?"

"Aku hanya membantu Sensei."

"Sou ka! Mau lihat, dong!"

"Lihat saja di komputer, Kise-san."

"Ih, Kurokocchi pelit-ssu!"

"Kalian ini..." Kaguya geleng-geleng kepala. Tatapan kasihan diam-diam dialamatkan pada Kise Ryouta setelah menatap Seijuurou yang tak menyadari bahwa dirinya sempat diperhatikan.

Di lain pihak, Seijuurou masih memperhatikan mereka dari jauh. Ia mulai yakin kalau sosok gadis yang sempat bersitatap dengannya juga merupakan seorang model. Tapi jujur saja, Seijuurou tidak kenal. Mungkin pernah melihatnya di suatu majalah, namun ia tidak tahu nama model tersebut. Lalu jika diperhatikan secara seksama, sekali lihat pun ia tahu kalau si model ini tertarik dengan Tetsuya. Tertarik dalam artian romantisme.

Tiba-tiba tubuhnya merinding. Seijuurou menengok ke belakang. Pintu masuknya tertutup, tapi kenapa ia mendadak kedinginan, ya?

Ketiga manusia yang tadi diperhatikan Seijuurou kini berjalan mendekatinya. Tetsuya berada paling depan, diikuti Ryouta dan Kaguya. Seijuurou diam saja walau merasa Ryouta memandangnya sengit seolah mereka adalah rival.

Banyak yang bilang kalau Seijuurou cocok jadi model karena memiliki wajah yang cantik, rambut yang sukses menarik perhatian orang-orang, serta tingginya pun bisa dibilang sedikit di atas rata-rata. Padahal ia tak ada rasa tertarik untuk jadi model. Mestinya tidak perlu Ryouta mengkhawatirkan hal itu. Tapi memang mereka saling kenal? Tahu namanya saja baru beberapa menit yang lalu. Itu pun Seijuurou tidak yakin kalau model pirang ini tahu namanya.

Lantas, kenapa Ryouta menatapnya seperti itu, ya?

"Akashi-san, mau tambah tehnya?" tawar Tetsuya.

"Mm, tidak usah repot-repot. Ini saja belum habis, kok," tolak Seijuurou halus.

"Wah! Siapa ini, Kurokocchi?" tanya Ryouta sambil memeluk lengan sang asisten fotografer.

Uwah... Motifnya terlihat sekali, pikir Seijuurou.

"Oh iya, dia teman satu sekolahku. Akashi Seijuurou-san," ucap Tetsuya. Ia pun memperkenalkan Ryouta pada Seijuurou. "Dan ini Kise Ryouta-san. Salah satu model reguler di studio ini."

Seijuurou berdiri lalu membungkuk sedikit. "Akashi Seijuurou desu."

"Kise Ryouta-ssu! Yoroshiku!" Ryouta memasang wajah ceria tanpa melepas pelukan di lengan Tetsuya. Bahkan ia semakin menempel pada pemuda tersebut. Hal itu terlihat jelas dari pipinya yang menempel pada bahu kiri Tetsuya.

Kaguya sebagai pihak keempat atau tokoh sampingan dari cinta segitiga ini hanya bisa senyum-senyum sendiri. Terdengar suara Tetsuya yang mengeluh atas sikap Ryouta yang terlalu menempel padanya dan dibalas candaan oleh si model. Ia mengambil ponsel dari dalam saku celana jeans. Diam-diam Kaguya memotret mereka, namun yang terlihat wajahnya dengan jelas adalah wajah Seijuurou.

Dengan tampang pura-pura terharu, ia menekan menu pesan. Foto barusan dikirim ke email seseorang. 'Anakmu sudah dewasa, ya. Aku terharu, huhu.' Begitulah isi pesan yang ada di bawah fotonya.

"Sensei, tolong jangan besar mulut ke Otousan."

Entah sejak kapan aksi Kaguya ketahuan. "Ups, kau terlambat, Tetsuya~"

"Sensei—!"

Ponsel Kaguya berdering. Siapa lagi kalau bukan dari nomor yang barusan dikirimi pesan. Tertera nama Kuroko Takeru di sana yang tidak lain adalah ayah Tetsuya. Kaguya memasang wajah jahil kemudian mengangkat telepon sambil berlalu.

Tetsuya face palm. Ryouta dan Seijuurou bingung.

Dua gadis cantik itu pun duduk di kursi kosong. Sebenarnya Tetsuya ingin duduk di kursi yang ditempati Ryouta, namun ia mengalah. Tanpa pamit, pemuda itu mencari kursi lain sekaligus mengambil segelas teh untuk si model reguler.

"Aku tidak menyangka, Kurokocchi mau membawa temannya ke sini," ucap Ryouta mengawali pembicaraan sambil menatap lawan bicara. Ekspresi wajahnya tak bisa dibohongi kalau dirinya tidak menyukai kehadiran Seijuurou. "Pasti kalian sangat dekat ya di sekolah-ssu," ucapnya lagi dengan penuh penekanan di tiap kata.

Lawan bicara bergeming. Tidak menyukai Ryouta yang terlihat posesif. Memang mereka pacaran? pikir Seijuurou dalam hati.

"Sebenarnya kami baru bicara satu sama lain kemarin," balas Seijuurou tenang seraya mengeratkan jaket. Lagi-lagi tubuhnya merinding. Mungkin karena rambutnya masih sedikit basah, makanya Seijuurou masih kedinginan walau sudah memakai jaket.

Tak ada balasan lagi. Ryouta hanya memandangi sosok gadis di sampingnya. Dari atas ke bawah dan itu sukses buat Seijuurou risih.

"Mungkin lebih tepatnya aku yang minta bantuan Kuroko-kun untuk jadi pudok di bunkasai sekolah kami."

Tanpa diminta, Seijuurou memberi penjelasan demikian. Ryouta jadi ingat kejadian tempo hari. Saat Tetsuya bersikap lebih ceria dan semangat dari biasanya.

"...oh, begitu."

Seijuurou melirik dan terlihat Ryouta sedang menunduk.

Dalam hati Ryouta mulai panik. Ternyata gadis inilah rivalnya. Gadis yang mungkin disukai oleh Tetsuya. Gadis yang membuat sang asisten menampakkan aura cerah kemarin. Dia adalah Akashi Seijuurou.

Dilihat dari kejadian hari ini, jelas sekali kalau hubungan mereka mulai dekat. Kaguya pernah cerita soal Tetsuya yang tidak suka mengajak temannnya ke studio. Mungkin sekali-dua kali tidak apa, itu pun karena mendadak terjadi sesuatu. Lalu apa yang membuat Tetsuya membawa Seijuurou ke sini? Kenapa juga gadis ini mau ikut? Apa dia tidak punya pacar sehingga mau diajak laki-laki lain?

"Mm, Akashi—"

Suara dering ponsel menginterupsi Ryouta yang ingin bertanya pada Seijuurou. Saat dicek, ternyata dari manajernya. Ryouta menghela napas sebelum mengangkat telepon. Bersamaan dengan itu, Tetsuya kembali dengan kursi dan segelas teh hangat. Ryouta tersenyum lalu menerima teh tersebut. Tetsuya duduk di samping kiri Seijuurou dan membuat Ryouta sedikit cemberut.

Sambungan pun terputus. Gadis pirang itu meminum tehnya sampai habis kemudian merapihkan sedikit jaket biru tua yang menutupi seragam SMA Kaijou yang ia kenakan. Dengan ekspresi sedih hingga bibirnya mengerucut, Ryouta pamit.

"Kurokocchi, manajerku sudah menunggu di depan studio karena aku harus ikut rapat soal tawaran jadi model PV yang kemarin kuceritakan itu," ucap Ryouta bermaksud untuk pamit.

Tetsuya tersenyum. "Tawarannya jadi diambil? Syukurlah."

"Aku menerimanya karena Kurokocchi sudah menyemangatiku-ssu!"

"Tawaran itu bisa jadi batu loncatan supaya kau bisa jadi model yang lebih terkenal lagi."

"Hehe, iya-ssu."

Ryouta pun benar-benar pergi setelah pamit pada Kaguya dan kru yang lain. Tetsuya dan Seijuurou sempat mengobrol sebentar sebelum kegiatan pemotretan dilanjutkan. Seijuurou sudah tidak memikirkan tentang sikap Ryouta karena perlahan mulai terkesima dengan sosok Tetsuya. Sementara pemuda itu berusaha stay cool and calm, walau hatinya tak bisa ditenangkan setiap matanya saling tatap dengan sepasang bola mata secantik batu mulia ruby milik Ketua OSIS SMA Teikou.

Kenapa waktu terasa lambat sekali hari ini, ya?

"Tetsuya! Potret dari sebelah sini!"

"Hai!"


.

.

.


Seijuurou menahan tawa melihat perseteruan kecil antara guru dan murid di hadapannya. Eriko yang menjadi model hari ini pun masih berada di studio serta ikut menyumbang kejahilan karena gemas dengan Tetsuya. Berulang kali model cantik itu berkata kalau dirinya baru pertama kali bertemu seseorang yang minim ekspresi seperti pemuda berambut biru tersebut. Seijuurou jadi tak habis pikir, kenapa ia bisa merasa familiar dengan mereka semua hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Senyum geli kembali menyapa wajah Seijuurou.

Kapan ya terakhir kali ia bisa tertawa lepas seperti ini?

Bersama Shuuzo pun dirinya hanya tertawa seperlunya. Sebatas formalitas. Begitu juga saat di OSIS. Kalau di rumah, Seijuurou bisa tertawa lepas saat ibunda tercinta berada di rumah saja.

Aaah... Seijuurou jadi rindu Mama Shiori...

"Akashi-san, ayo kita pulang."

Seijuurou mendongak. Ternyata Tetsuya yang mengajak pulang. Ia mengangguk tanpa menyembunyikan ekspresi jenaka di wajahnya. Hal itu membuat Tetsuya meringis, namun akhirnya ia juga tersenyum geli.

"Tetsuya! Antar Sei-chan sampai rumah loh, ya!" seru Kaguya seraya berjalan mendekati sepasang remaja itu.

"Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri, kok," tolak Seijuurou halus.

"Aku tak bisa membiarkan seorang gadis pulang sendiri di malam hari," balas Tetsuya.

"Ini masih sore, Kuroko-kun. Jalanan masih ramai dan rumahku dekat dari sini."

"Akashi-san, biarkan aku mengantarmu pulang dengan selamat. Anggap saja aku sebagai bodyguard-mu." Diam-diam hati Tetsuya teriris karena ucapannya sendiri.

Siulan jahil terdengar. Datangnya dari arah Kaguya. "Wah, bodyguardzone."

Kedua mata Tetsuya melotot. "Mohon diam dulu, Sensei."

"Hai, hai," ucap Kaguya mengalah.

Lagi-lagi Seijuurou dibuat tertawa oleh dua laki-laki berbeda umur di depannya ini.

"Sensei, sih..." bisik Tetsuya menggerutu.

Wajah Kaguya berpaling, namun ia menjulurkan lidah sedikit. Muka jahil.

"Oke, tolong jaga aku sampai rumah, Kuroko-kun," kata Seijuurou seraya berdiri dari posisi duduknya. Ia menggendong tas di bahu kanan dan bersiap untuk pulang.

Atmosfer penuh bintang yang bercahaya di sekeliling tubuh Tetsuya bisa dilihat oleh Kaguya dalam imajinya. Dari tindakan Tetsuya, jelas sekali kalau anak ini menyukai Seijuurou. Kaguya hanya geleng-geleng kepala. Namun dalam hati berharap kalau Seijuurou yang (mungkin) sudah tahu perasaan Tetsuya takkan mempermainkan perasaannya.

Yaaa semoga saja tidak, pikir Kaguya.

"Sensei, kami pamit pulang. Otsukaresama deshita." Tetsuya membungkukkan badan sedikit. Meski sering bercanda atau jadi sasaran bully, pemuda itu takkan pernah lupa statusnya sebagai murid yang harus menghormati guru dan orang yang lebih tua darinya.

"Hai, otsukare~"

"Maaf merepotkan dan terima kasih, Shimazaki-san," pamit Seijuurou.

"Kapan-kapan main lagi ke sini, ya~!"

Tetsuya jalan lebih dulu, Seijuurou sempat berlari kecil kemudian jalan di samping kiri pemuda tersebut. Rasa jahil Kaguya kembali. Dengan buru-buru ia memotret dua sejoli itu sebelum mereka menutup pintu studio. Beruntungnya, Tetsuya terlihat tidak sadar karena tampaknya sedang diajak mengobrol oleh Seijuurou.

'Anakmu pintar sekali mencari menantu untukmu, Takeru. Sial, aku iri.'

"Send." Kaguya pundung. "Aku kalah dari muridku sendiri."

Eriko menepuk bahu. "Sabar, ya."

"Kau mau menikah denganku, Eriko-san?"

Plak. "Ojiisan hentai."

"Aku 'kan hanya bercanda! Uuuuugh..."

"Candaanmu kelewatan, Sensei."

.

Tetsuya menunggu di depan restoran Majiba sambil mengutak-atik ponselnya. Matanya memandangi jam yang tertera di pojok kanan atas layar ponsel. Jam 08.30 malam. Bagi Tetsuya, jam segini ia masih diizinkan berada di luar rumah, tapi bagaimana dengan Seijuurou?

Ia menengok ke arah konter Majiba. Pesanan Seijuurou sudah berada di tangan. Tetsuya kembali berdiri tegak ketika gadis itu berjalan keluar restoran.

"Maaf, lama ya?" tanya Seijuurou.

Gelengan kepala dari Tetsuya menjadi jawabannya.

"Aku lapar sekali dan ingin makan yang hangat tapi ringan. Ini, vanilla shake dan burger untuk Kuroko-kun." Seijuurou mengulurkan sebungkus burger dan segelas vanilla shake ukuran medium pada Tetsuya.

Pemuda itu diam sebentar. "Eh? Kenapa kau tahu..."

"Oh, aku pernah melihatmu beli ini dengan Aomine Daiki. Ini, ambillah."

Jujur saja Tetsuya bingung sekaligus senang. Bingung karena tidak tahu kalau Seijuurou mengenalinya saat dengan Daiki, namun ia juga merasa senang karena Seijujrou masih mengingatnya. Pemuda itu mengambil burger dan vanilla shake kemudian merogoh saku di celana sebelah kanannya.

"Semuanya jadi 550 yen atau lebih?" tanya Tetsuya, bermaksud untuk membayarnya.

"Tidah usah. Kuroko-kun harus mengalah kali ini sebagai ganti mau mengantarku sampai rumah." Seijuurou tersenyum manis sehingga sukses membuat Tetsuya tak berkutik.

Curang, pikir Tetsuya dalam hati gemas.

"Kita jalan sambil makan. Tidak apa, kan?" tanya Seijuurou.

"Sebenarnya tidak baik. Tapi kalau kita berhenti dulu, orang tuamu nanti bisa khawatir."

"Di rumahku hanya ada pelayan, kok."

Ucapan Seijuurou buat Tetsuya menengok. Suara tawa hampir terlepas dari mulut Seijuurou kalau tidak ditutupi tangan. Ekspresi Tetsuya saat kaget dengan bola mata sedikit melebar sambil menggigit burger itu... lagi-lagi terlihat imut. Rasanya ia ingin mencubit pipi pemuda ini seperti yang dilakukan Eriko tadi.

"A-apa yang lucu?" Kali ini Tetsuya yang bertanya.

"Ekspresi kagetmu itu yang lucu." Seijuurou menggigit burgernya tanpa melepas senyum di wajah.

"Omong-omong, orang tuamu jarang di rumah, ya? Maaf kalau pertanyaanku menyinggung."

"Tidak kok, sudah biasa. Orang tuaku memang jarang ada di rumah."

Tetsuya menyeruput vanilla shake, minuman favoritnya, lalu menatap ke atas langit. Banyak sekali gugusan bintang di sana. Ia berpikir, pantas saja matanya kadang terlihat kesepian.

Mendadak lengan kemeja birunya ditarik. "Kuroko-kun, ini komplek rumahku."

"O-oh, oke." Tetsuya sempat melirik jalan lurus yang lain.

Ah, rumah kami dekat ternyata.

"Apa Kuroko-kun pulang selalu larut malam?" tanya Seijuurou penasaran.

"Ya, terkadang."

"Laki-laki bebas pulang jam berapapun, ya? Enaknya..."

Ekspresi Tetsuya tampak meringis sebelum tertawa miris. "Tidak juga, kok. Paling lambat jam sebelas. Itu pun harus dijemput oleh Otousan," ceritanya seraya memalingkan wajah. Sedikit malu akan fakta tersebut.

"Hmm... Otousan, ya..." Seijuurou tersenyum kaku.

"Berhubung aku anak tunggal, jadi mau tidak mau harus menurut."

"Wah, sama..."

Entah kenapa atmosfer agak mengkeruh. Mereka jalan bersisian, namun Seijuurou tampak memberi jarak saat berbelok ke kanan. Tetsuya membuang bungkus burger ke tempat sampah, begitu juga dengan Seijuurou. Tidak mau larut dalam keheningan, pemuda itu membuka obrolan lagi. Tidak jauh dari topik sebelumnya.

"...sepi ya, tanpa saudara kandung di rumah?"

"Ya. Tapi berkat Shuu, rasanya tidak terlalu sepi lagi."

Jleb. Apa ini yang namanya menggali kuburan sendiri?

Dengan nada datar, Tetsuya bertanya. "Omong-omong, sejak kapan kalian jadian?"

"Sejak liburan musim semi kemarin."

"Sou desu ka... Nara yokatta desu."

Pandangan bingung ditunjukkan oleh wajah Seijuurou. "Kenapa kau bilang begitu?"

Masih setia tidak menatap lawan bicara, Tetsuya berucap. "Tiap aku melihatmu di sekolah, kau selalu sendiri, Akashi-san. Waktu PE, aku juga pernah melihatmu jadi orang yang tersisa saat pembagian grup atau berpasangan."

"Aku lebih suka sendiri. Tapi bukan berarti aku tak bisa berteman. Aku hanya netral saja."

Aa, pemikiran kami bisa dibilang mirip, ya?

Apa berhasil kalau pendiam dengan pendiam?

Dibanding denganku, memang Akashi-san lebih cocok dengan Nijimura-senpai...

"Sudah sampai, Kuroko-kun."

Langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah gerbang berbahan kayu polos khas rumah tradisional pada zaman dahulu. Tetsuya memandang takjub gerbang tersebut. Jika berdiri di depannya, rumah keluarga Akashi takkan terlihat. Tinggi gerbang ini kira-kira bisa lebih dari dua meter.

"Woof! Woof!"

"Eh? Anjing?" gumam Tetsuya.

Seijuurou tersenyum seraya membuka gerbang yang dikunci dari dalam. Terdengar gonggongan anjing lagi. Begitu gerbang itu terbuka sedikit, pemilik suara gonggongan tadi muncul. Kepalanya mendongak ke atas, Seijuurou berjongkok, dan anjing itu tetap memandangi sang gadis.

"Anjing Doberman pinscher, ya? Anjing yang kuat," ucap Tetsuya sambil ikut berjongkok.

"Woof!" Anjing tersebut dalam posisi duduk dan memandangi Tetsuya penasaran.

Seijuurou diam memperhatikan tangan kanan Tetsuya yang mengelus kepala anjing warna hitam milik keluarganya dengan santai. Ia diam sebentar lalu bercerita sedikit. "Namanya Blacky. Dia ditugaskan untuk menjaga rumah ini. Tapi yaaa kami cukup sering main bersama di halaman belakang."

"Berarti kita bisa ajak lari anjing kita di taman, ya?"

"Eh? Kuroko-kun juga punya?"

Blacky menggeram sambil menutup mata, tampak menikmati elusan tangan Tetsuya. "Ya, namanya Nigou (Nomor dua)," jawab pemuda itu yang kini malah keasyikan mengunyel-unyel wajah Blacky. Sepertinya ia gemas, meski tampang Blacky bisa dibilang garang.

"Nigou?"

"Kau akan tahu setelah melihatnya."

Bola mata Seijuurou melirik ke kanan. Memikirkan sesuatu. "Dan itu berarti, kau mau ikut kalau kuajak lari pagi hari Minggu besok, dong?"

"Eh?" Tetsuya syok seketika.

Senyum manis tersemat di wajah anak tunggal keluarga Akashi.

"Memang tidak ada janji kencan dengan Nijimura-senpai?"

Please, jawab 'tidak ada', harap Tetsuya dalam hati.

"Tidak."

Yosh!

"Deal, ya. Mau ketemuan langsung di taman?"

"Boleh." Tetsuya sudah tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya lebih lama lagi. Namun ia masih berusaha menutupinya dengan terus mengelus kepala Blacky.

"Mm, untuk jaga-jaga, boleh kusimpan nomor ponselmu?"

Jackpot!

Tetsuya berdeham. "Seharusnya aku yang minta karena aku laki-laki."

Seijuurou tertawa. "Tidak ada hubungannya, Kuroko-kun."

Pemuda itu menghentikan kegiatannya dengan Blacky lalu mengambil ponsel dari saku celana. Entah kenapa pemikiran negatif muncul di benaknya hingga tanpa sadar pikiran tersebut lolos dari mulutnya.

"Apa kau selalu seperti ini?"

"Hm?" Seijuurou mendongak sedikit dengan tatapan bingung.

"A, bukan apa-apa."

Kontak telepon berhasil dikirim lewat bluetooth. Seijuurou penasaran dengan nama email Tetsuya. Ia pun melihat kontak pemuda tersebut. Di bagian alamat email tertulis 'kurokotetsuya31 .jp'.

"Nee, Kuroko-kun."

"Hm?"

"Aneh tidak kalau kubilang, 'aku merasa nyaman di dekat Kuroko-kun'?"

Tubuh Tetsuya sempat terdiam beberapa detik. Sambil tersenyum, ia menjawab. "Arigatou."

Tak lama kemudian, Tetsuya pamit pulang. Tangan kanannya sempat mengusap kepala Blacky lagi sebelum benar-benar pergi. Seijuurou terus memandangi kepergian Tetsuya hingga sosok itu berbelok di perempatan. Kepalanya menunduk, bersitatap dengan Blacky yang dibalas gonggongan dan sikap manja dari si anjing. Tangan kanannya meremas jaket di daerah jantung. Ada debaran aneh muncul lagi. Seijuurou tidak bodoh untuk mengetahui penyebabnya apa dan siapa pelaku yang membuatnya seperti ini.

"Kenapa kamu mudah luluh olehnya? Waktu Shuu datang, kau menggonggong tanpa henti. Sampai aku harus membawanya menjauh dari rumah."

"Woof! Woof!"

"Blacky, kau sukses buat aku makin gelisah."

"Woof!"

To Be Continued

Yah. Saya update fanfic ini. ^^

Gimana bodyguardzone-nya? Sumpah, itu pasti gak enak, haha. Semakin lama chapternya bakal memanjang dengan sendirinya. Itu ciri khas saya dari dulu. Di chapter terakhir, kayaknya bakal lebih panjang. Kayaknya.

Thanks to Shinju Hatsune, aegyohunnie, ryu eichan, and aster-bunny-bee for reviews. :) #bow

Happy AkaKuro Week, Minna! :3

Ja! Bye, bye!

CHAU!