15/16

An EXO Fanfiction

HunKai, Oh Sehun and Kim Jongin

Park Chanyeol X Byun Baekhyun (Slight)

Oh Sehun X Luhan (Slight)

Kris Wu X Kim Jongin (Slight)

And Other characters

Halo ini chapter empat selamat membaca, maaf updatenya lama, maaf atas segala kesalahan. Happy reading all…..

Previous

"Datanglah besok."

"Tentu, aku akan selalu datang setiap hari sampai semua surat itu selesai aku bacakan."

"Apa kau tidak sibuk?" Jongin menggeleng pelan. "Kau tidak memiliki pekerjaan?"

"Dulu aku punya, saat kakekku jatuh sakit aku putuskan untuk keluar dan merawat kakekku, aku tidak mau beliau dirawat oleh orang lain."

"Kau cucu yang sangat baik rupanya." Jongin tertawa pelan mendengar kalimat Sehun. "Kalau boleh tahu dulu kau bekerja sebagai apa?"

"Hanya pegawai kantoran. Sekali lagi aku berterimakasih padamu Sehun."

"Kau berniat pergi sekarang?"

"Ya."

"Aku antar sampai di depan gerbang rumah." Jongin mengangguk pelan mengijinkan Sehun untuk mengantarnya.

BAB EMPAT

"Sehun, kenapa harabojimu tidak bertanya banyak tentang kakekku? Maksudku tentang keberadaan kakekku?" Jongin bertanya kepada Sehun dari luar pagar sesaat sebelum Sehun benar-benar menutup pagar rumahnya.

"Kurasa beliau sudah tahu apa yang terjadi, maksudku kakekmu tidak datang berarti ada sesuatu yang menghalanginya, dan kemungkinan besar adalah kematian tapi harabojiku tidak ingin mengakui hal itu, beliau menanti sangat lama kau tahu terkadang kedukaan yang terlalu mendalam tak bisa diungkapkan. Alasan lain mungkin karena ingatan harabojiku sudah benar-benar buruk, aku sudah bercerita kan jika terkadang Haraboji tak mengenaliku?"

Jongin mengangguk pelan. Sehun menyungging seulas senyum tipis. "Aku akan tetap datang untuk membacakan semua surat itu."

"Tentu, hati-hati di jalan Kim Jongin."

"Terimakasih." Jongin sedikit membungkukkan badannya sebelum berbalik dan berjalan pergi.

Sehun benar-benar menutup pagar rumahnya dan bergegas masuk, ia hanya berharap kedatangan Jongin bisa menghapus kedukaan yang selama ini selalu harabojinya rasakan, kedukaan yang tak pernah diungkapkan, namun terlihat jelas di kedua mata beliau.

.

.

.

Kyungsoo tidak tahu harus mengatakan apa, sungguh, ia bukan tipe orang yang menekan namun Sehun benar-benar kelewatan sekarang. "Sehun kau tahu kan jika video musik ini sangat penting untukku?"

"Aku tahu Hyung tapi sungguh aku juga berusaha dengan keras, aku sudah memikirkan puncak musim semi, puncak bunga cherry mekar."

"Tapi sampai sekarang kau bahkan tak memiliki konsep apa-apa."

"Aku akan berusaha yang terbaik Hyung percayalah padaku dan bersabarlah Hyung."

"Aku sudah cukup bersabar." Sehun diam dia tahu jika Kyungsoo sangat kecewa padanya. "Kusarankan untuk tak melibatkan masalah pribadi dalam pekerjaan." Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya Kyungsoo keluar dari ruangan Sehun tanpa berpamitan.

"Apa yang terjadi dengan otakku?" entah kepada siapa Sehun bertanya. "Mungkin mendengarkan lagu Kyungsoo hyung akan membuka pikiranku tentang konsep video musik yang sesuai." Ucap Sehun, selanjutnya membuat keputusan sendiri, ia ambil ponselnya, memasang earphone kemudian mulai mendengarkan lagu Kyungsoo yang memiliki musik lembut dan lirik menyentuh hati. Bercerita tentang sebuah perpisahan dan ketidakberdayaan.

Sehun memutar kursinya kini ia sedang memandangi jalanan dari balik kaca besar di hadapannya. "Perpisahan dan ketidakberdayaan," gumamnya lalu sebuah ide muncul di kepalanya apa yang terjadi pada harabojinya dan kakek Jongin bukankah memiliki cerita yang sama?! Perpisahan dan ketidakberdayaan.

Sehun ingin melompat dari kursinya karena ide hebat telah datang ke dalam otaknya namun sebuah kecemasan datang bagaimana jika Jongin menolak idenya, menolak cerita kakeknya diceritakan kepada khalayak umum. "Baiklah, kurasa aku harus mencari tahu dan bukannya duduk di sini dan menerka-nerka." Sehun sudah berdiri dari duduknya dan mengambil beberapa langkah saat ia berhenti dan meraih ponselnya. "Kurasa aku harus menghubungi Jongin agar dia tidak salah paham." Jujur, Sehun sendiri juga tidak tahu Jongin akan salah paham pada bagian apa, semua ini murni kerjasama tentu jika Jongin setuju untuk bekerjasama. Salah pahan jika dirinya menghubungi karena hal lain, sesuatu yang lebih pribadi. Sehun memanggil nomor Jongin kemudian menempelkan ponselnya pada telinga kanan menunggu jawaban Jongin.

"Kim Jongin."

"Hei Jongin, tidak perlu terlalu formal apa kau sudah berada di rumahku?"

"Ya beberapa menit yang lalu tapi Harabojimu masih tidur."

"Aku akan segera pulang aku penasaran dengan surat yang akan kau bacakan untuk Harabojiku, apa itu tidak masalah?"

"Kurasa tidak karena akupun sudah membaca tiga diantaranya."

"Tunggu aku, maksudku aku benar-benar ingin mengetahui isi surat itu."

"Ya, aku akan menunggumu tapi datanglah secepat yang kau bisa."

"Terimakasih banyak." Setelah panggilan diakhiri sendiri oleh Sehun ia tatap lekat-lekat layar ponselnya. "Baiklah, sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya meyakinkan Jongin agar dia mengabulkan permintaanku."

Sehun menyusuri trotoar dengan kacamata hitam dan jaket kulit dengan warna senada, sungguh ia tak terlihat seperti seorang sutradara seharusnya ia menjadi model. Sehun mengamati pepohonan di sepanjang jalan dengan kuncup-kuncup bunga putih dan merah muda, sangat indah namun di sisi lain keindahan itu sebagai peringatan jika pekerjaannya harus diselesaikan sesegera mungkin.

Mengusir bosan selama perjalanan pulang yang jaraknya sama sekali tak jauh Sehun menikmati lollipop rasa stroberi di dalam mulutnya, terkadang ia juga menikmati tatapan orang-orang yang ditujukan padanya. Tatapan kagum, tak apa kan jika sedikit besar kepala?

.

.

.

"Kim Jongin, tuan Baekhyun sudah bangun dan beliau mencarimu." Ujar Hyoyeon diiringi sebuah senyuman tulus.

"Terimakasih banyak." Jongin menoleh ke arah pintu menatapnya selama beberapa detik kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Hyoyeon. "Saya ingin menunggu Sehun." Jongin melihat kening Hyoyeon berkerut. "Sehun ingin mendengar pembicaraan saya dengan tuan Baekhyun." Terang Jongin ia tak ingin membicarakan surat itu kepada semua orang.

"Ah tentu saja Jongin kau boleh menunggu."

"Terimakasih Ahjumma." Hyoyeon tersenyum kemudian berjalan pergi meninggalkan Jongin di ruang keluarga. Jongin meniupi poninya yang sudah panjang dan sudah waktunya untuk dikurangi.

"Apa aku terlambat?" Jongin otomatis menoleh melihat Sehun yang sedang melepas kacamata hitamnya. Lalu melemparkan sesuatu yang terlihat seperti bekas stick permen ke sembarang arah.

"Ayo." Ucap Jongin sambil berdiri dari duduknya.

"Kau tergesa-gesa?"

"Aku tidak mau membuat Harabojimu menunggu."

"Kau benar juga." Balas Sehun, Jongin tak menanggapi ia melangkah menuju kamar Baekhyun.

Jongin tersenyum melihat Baekhyun duduk bersandar pada kepala ranjang. "Jongin." Baekhyun memanggil dengan suara lemah. Sehun merasa cukup cemburu, kenapa Harabojinya mengenali orang lain lebih dulu bukannya cucu sendiri.

"Selamat pagi." Jongin menyapa dan tersenyum manis untuk Baekhyun kemudian ia duduk di samping ranjang Baekhyun. "Apa Anda tidak ingin makan terlebih dahulu?"

"Aku tidak berselera makan."

"Bagaimana jika kita membuat perjanjian, surat akan saya bacakan tapi Anda harus makan?"

Sehun merasa itu semua bukan ide yang bagus Harabojinya bukan tipe orang yang suka dipaksa dan bukan tipe penurut. "Aku rasa itu kesepakatan yang adil." Dan saat harabojinya memberi jawaban mengejutkan, Sehun benar-benar iri kepada Jongin sekarang. "Sehun duduklah di samping Jongin." Sehun mengangguk pelan melangkah menuju sisi kanan Jongin, duduk di samping Jongin membuat lengannya dan lengan Jongin bersentuhan. "Jongin kau bisa memanggilku dengan Haraboji aku tidak ingin mendengar panggilan Tuan darimu." Ucap Baekhyun dengan nada bercanda.

Jongin cukup terkejut namun pada akhirnya ia mengangguk pelan. "Terimakasih banyak Haraboji." Balas Jongin. "Sekarang Haraboji ingin surat yang mana yang harus saya bacakan?"

"Hmmm…, surat mana yang sudah kau baca?"

"Itu..," Jongin ragu-ragu dan merasa tidak enak hati, rasanya ia seperti pencuri saja sekarang. "Surat pertama, kedua, dan sepuluh."

"Kalau begitu kita mulai dengan surat ketiga kurasa kau juga penasaran dengan isinya." Jongin mengangguk pelan. Ia angkat ranselnya dari atas lantai, membuka resleting dan mengambil amplop pada tumpukan ketiga. Jongin tidak mengubah pengaturan amplop-amplop itu sama sekali ia membawanya sama seperti saat amplop-amplop itu berada di dalam kotak penyimpanan.

Dear Love

Musim dingin yang panjang bahan makanan semakin menipis dan semua itu membuat keadaan semakin memburuk. Bahkan untuk sekedar mendapatkan air minum semua orang harus memanaskan bongkahan es. Aku berharap semua berjalan lebih baik di tempatmu. Di balik semua penderitaan musim dingin kurasa ada banyak hal yang baik tentang musim dingin. Danau dan sungai yang membeku membuat kegiatan memancing lebih menyenangkan, kurasa itu bisa menjadi sedikit hiburan bagi para tentara.

Hamparan salju putih terlihat sangat indah jika kita abaikan suhunya yang menyengsarakan, ah aku hampir lupa banyak orang menunggu datangnya hari raya sedangkan aku menunggu datangnya keajaiban, berakhirnya semua penderitaan ini. Apa aku boleh berharap keajaiban, apa kau mengharapkan hal yang sama Baekhyun?

Seoul, 20 Desember 1944

Sehun menyentuh tangan kanan Jongin yang sedang memegang kertas surat, Jongin mengerti maksud Sehun ia berikan kertas surat di tangannya untuk Sehun baca. Jongin menatap Baekhyun lekat-lekat menunggu reaksi Baekhyun. "Dalam usia berapa Chanyeol pergi?"

"Delapan puluh satu tahun." Jawab Jongin.

"Surat yang sangat indah, sayang aku tak bisa membacanya."Baekhyun menoleh menatap Jongin. "Apa kau ingin tahu jawabanku?"

"Jika Haraboji tidak keberatan."

"Tentu saja tidak Jongin."

"Terimakasih banyak."

Jongin sedikit menundukkan tubuhnya ia mengaduk ransel untuk mengambil buku tulis dan bolpoin. "Apa-apaan itu?" pertanyaan dari Sehun, Jongin abaikan.

"Aku akan menuliskan jawaban Haraboji." Ucap Jongin kepada Baekhyun bukan kepada Sehun.

"Halo Chanyeol, terimakasih sudah menyempatkan diri menulis surat untukku, musim dingin yang panjang juga terjadi di sini. Tidak ada yang lebih baik, semua menderita dalam situasi ini, aku juga berharap keajaiban saat semua orang hidup dengan damai tanpa bayang-bayang perang dan kekerasan. Seperti yang kau tuliskan, musim dingin juga menyimpan hal yang menyenangkan, aku dan ibuku akan menggali tanah dan mencari umbi, aku menyukai kegiatan itu mungkin kau merasa aneh tapi aku menyukainya."

Jongin menuliskan setiap kalimat yang Baekhyun ucapkan dengan cepat, sesampainya di rumah ia akan menyalin tulisan itu dan menuliskannya dengan sangat baik. Menyimpan balasan Baekhyun di dalam kotak penyimpanan yang sama. "Sudah, itu yang ingin aku katakan."

"Terimakasih banyak Haraboji." Baekhyun hanya membalas dengan senyuman lebar. "Hmmm, Haraboji darimana Anda mengetahui jika kakek saya sudah pergi padahal saya belum mengatakan hal itu?"

"Sekarang giliranku untuk memenuhi janji, memakan sarapan." Jongin menginginkan jawaban namun ia tahu tak boleh memaksa Baekhyun.

"Kurasa firasat." Bisik Sehun pada Jongin. Jongin menoleh cepat ke arah Sehun dengan kedua alis bertaut. "Dua orang yang memiliki kedekatan mereka memiliki hubungan batin." Sehun melanjutkan penjelasannya. "Apa kau tidak pernah mendengar hal itu?"

"Pernah." Jongin membalas singkat, ia mengalihkan pandangannya dari Sehun kepada Baekhyun. Berdiri dari kursi yang didudukinya kemudian memeluk Baekhyun dengan lembut. "Saya akan datang lagi besok Haraboji."

"Aku menunggumu Jongin." Jongin tersenyum sambil memandang lekat-lekat wajah Baekhyun. "Sehun panggilkan Hyoyeon aku ingin sarapan sekarang."

"Iya Haraboji." Sehun berdiri dari duduknya ia membungkukkan badan dan kembali berbisik di telinga kiri Jongin. "Jangan pulang dulu aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

"Sehun." Panggilan Baekhyun yang kedua kali adalah peringatan.

"Iya Haraboji." Ulang Sehun sebelum berbalik dan melangkah pergi.

Jongin keluar saat Hyoyeon masuk dan Sehun sudah menunggunya di luar tampak tidak sabar. "Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Kita bicara di taman belakang." Ajak Sehun, Jongin hanya mengangguk setuju.

Keduanya berdiri, awalnya Sehun ingin mengajak Jongin duduk namun sepertinya Jongin lebih tertarik pada mawar rambat yang menghiasi dinding pembatas antara taman dan jalan. "Jongin." Panggil Sehun.

"Bicaralah aku mendengarmu."

"Aku memiliki pekerjaan untuk membuat video musik Do Kyungsoo….,"

"Do Kyungsoo?!" Jongin bertanya dengan cepat sambil memutar tubuhnya menatap Sehun. Berbanding terbalik dengan sikapnya tadi yang terlihat acuh.

Sehun menyeringai. "Kau suka dengan Kyungsoo?"

"Dia penyanyi dan aktor yang hebat siapa yang tidak menyukainya." Balas Jongin dan Sehun hanya bisa mengangguk pelan membenarkan semua ucapan Jongin. "Lalu apa hubungannya denganku?"

"Ah itu—aku merasa cerita cinta kakekmu dan harabojiku sangat indah dan seharusnya dibagikan kepada banyak orang, dan cerita mereka cocok untuk konsep video musik Kyungsoo." Sehun mengakhiri kalimatnya dengan tatapan penuh harap kepada Jongin.

"Aku tidak pernah memikirkan hal itu, aku berpikir jika itu semua terlalu pribadi."

"Jongin aku mohon waktu yang tersisa sangat sedikit, puncak mekarnya bunga cherry hanya beberapa minggu lagi. Aku mengharapkan persetujuanmu."

"Kau kreatif, kau itu sutradara terkenal kurasa kau akan menemukan ide yang lebih hebat Sehun."

Sehun menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak akan menemukan ide hebat yang lain. Yah, anggap saja aku sedang ada masalah."

"Kemacetan ide?" tebak Jongin.

"Bisa dikatakan seperti itu." Jongin ingin menolak namun tatapan Sehun yang mengiba membuatnya tak tega.

"Aku akan memikirkannya." Tatapan Sehun berubah kecewa. "Besok, aku akan memberikan jawaban padamu. Bukannya aku tidak mau membantu Sehun tapi ini sesuatu yang pribadi, aku tidak bisa memutuskannya dengan cepat, ada banyak pertimbangan."

"Aku mengerti Jongin. Terimakasih sudah mau mempertimbangkan permintaanku."

"Sehun!" suara panggilan yang cukup keras itu menarik perhatian Sehun dan Jongin, keduanya menoleh ke arah sumber suara.

"Luhan." Jongin mendengar ucapan Sehun dengan jelas namun tentu saja ia tak bereaksi karena dia tidak mengenal orang yang Sehun sebutkan namanya tadi.

Laki-laki mungil berambut hitam legam itu bergegas menghampiri Sehun. "Siapa dia?" Jongin tidak nyaman dengan tatapan Luhan padanya.

"Temanku."

"Temanmu?"

"Kau tidak pernah mengenalkannya padaku, siapa namanya?"

"Kim Jongin." Jongin sendiri yang menyembutkan nama serta mengulurkan tangan kanannya kepada Luhan.

"Luhan." Luhan menjawab dan menyambut tangan Jongin namun tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya. "Apa kau teman Sehun?" Jongin menatap Sehun yang berdiri di samping Luhan.

"Dia temanku Lu, aku memiliki banyak teman dan relasi yang tidak semuanya bisa aku kenalkan padamu."

"Maaf saya harus bergegas." Ucap Jongin sambil membungkukkan badannya karena bersikap sopan pada orang asing adalah salah satu kunci menghindari masalah.

"Aku akan mengantarmu sampai di depan gerbang."

"Sehun." Panggil Luhan.

"Aku harus bersikap sopan pada tamu Luhan." Balas Sehun.

"Tidak apa Sehun aku bisa sendiri, selamat siang." Sekali lagi Jongin membungkukkan badannya kemudian memutar tubuhnya dan berjalan pergi. Ia tidak ingin terlibat masalah juga terlibat pertengkaran orang lain yang bukan urusannya, selain itu Jongin juga merasa tidak ada hal lain yang harus dibahas lagi dengan Sehun.

Jongin menoleh ke belakang saat mendengar langkah kaki. "Astaga." Ucap Jongin pelan sebelum meluruskan pandangannya kembali, ia benar-benar kesal kenapa Sehun mengikutinya dan tidak bisa membaca situasi.

"Luhan sedang kesal."

"Aku ingin tahu apa yang kau lakukan kemarin saat kau menolak kuantar pulang?"

"Kenapa kau ingin tahu, kita bahkan bukan teman."

"Aku mengijinkanmu menemui harabojiku."

"Ah, jadi ini semacam balas budi?"

"Ya."

"Aku pergi ke makam kakekku dan memberitahukan bahwa aku sudah menemukan orang yang menjadi tujuan semua surat-suratnya."

"Itu rupanya." Balas Sehun.

"Berhenti mengikutiku kekasihmu menunggu."

"Darimana kau tahu jika Luhan kekasihku?"

"Dia merajuk padamu." Jongin menoleh menatap Sehun yang sedang tersenyum padanya.

"Baiklah, hati-hati dijalan Jongin dan jangan lupa dengan pembicaraan kita tadi."

"Hmmm." Jongin hanya menggumam pelan.

TBC

Terimakasih untuk para pembaca sekalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita aneh saya , terimakasih kepada Hun94Kai88, enchris727, NishMala, ade park, Titaaaannnn, cute, kthk2, ariska, Xinger XXI, sehuniesm, Kamong Jjong, ParkJitta, typo's hickeys, VampireDPS, geash, jjong86, Athiyyah417, ucinaze, chanzhr, Devia494, Waniey318, Puji942, sejin kimkai, novisaputri09. Terimakasih atas review kalian. Dan terimakasih untuk beta reader saya Dia An Kvn dan En Lemosol.