Yosh! Kami come back minnaa~ :D Yah walaupun mungkin updatenya agak malas-malasan wahahaha #kicked# chapter ini lumayan panjang, karena mengandung beberapa inti cerita. Mohon dimaklumi :)
Oke, langsung saja. Happy reading!
Story plot by Syllie Charm
Typing fic and horror scene by Kira Desuke
Beta by cumanakecil
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC, AU, OC
Pairing : SasuSaku
Genre : Horror/Suspense/Mystery/Fantasy/Slight Romance
.
.
STOIC NECROMANCER
.
.
"E... ric.." Sakura terpaku di tempat. Meski pikirannya mendesak dirinya untuk segera berbalik dan secepatnya pergi dari sana, tetap saja kakinya tidak mau menurutinya. Kedua kaki jenjangnya malah terdiam—bergetar dengan hebatnya. Seluruh anggota badannya serasa beku. Syaraf motoriknya seakan terhenti, tidak bisa mengirimkan rangsang dari otak kepada efektor di bagian tubuhnya untuk merespon dan segera berlari, meninggalkan tempat itu.
Tap. Tap. Tap. Suara langkah itu bergema dalam ruangan. Sepatu mungil milik sang bangsawan beradu pelan dengan tanah yang dipijaknya, menimbulkan gelombang bunyi yang kemudian dipantulkan ke segala arah oleh dinding-dinding yang mengelilinginya. Sakura bisa merasakan bulu kuduknya menegang, berdiri seketika.
Ia terjebak.
"A—Aa.." gadis berambut soft pink itu tidak dapat berkata apa-apa. Ingin berteriak, namun lidahnya terasa kelu. Air mata mulai menggenang di kedua indera pengelihatannya sementara 'makhluk' berambut pirang itu semakin berjalan mendekat. Semakin dekat, hingga jarak mereka tinggal beberapa sentimeter, dipisahkan oleh udara dingin yang menyengat setiap inci kulit gadis itu.
Setan kecil berambut pirang tersebut mengangkat wajahnya, menatap Sakura sesaat lalu menyeringai. Seringai yang sempat Sakura lihat dulu di samping tempat tidurnya. "Nee-san kenapa menangis?" nada polos yang itu. Lagi. Tapi seringai tidak hilang dari wajahnya yang tak terbaca, malah terus melebar. Meninggalkan kesan menyeramkan yang terus bertambah—terlebih ketika dilihatnya kepala 'makhluk' itu sudah tidak sempurna lagi. Dan kedua matanya yang terus menatap kosong pada Sakura.
"Kalau nee-san menangis..." Eric menggantungkan kata-katanya. Sakura menelan ludah saat melihat satu-dua belatung mulai keluar dari mulut sobek anak bangsawan tahun 50-an tersebut. Kedua mata kosongnya mulai memerah—dan seringai lebarnya mulai menunjukkan apa yang di dalam sana. Taring-taring yang berjejer, siap mengoyak daging menjadi serpihan-serpihan kecil. Persis waktu itu, "..aku bisa dimarahi Sasuke—sa—"
"Eric,"
Sakura tersentak kaget, serasa ritme degup jantungnya bertambah hingga beberapa kali dan memompa darah lebih cepat. Suara bariton dingin yang tiba-tiba muncul dari belakangnya membuat Sakura spontan menahan napasnya—namun sekejap membuat wajah Eric kembali menjadi anak polos seperti sebelumnya. Gadis berambut pink itu menolehkan kepala dengan pelan— dan kedua mata emeraldnya bersirobok dengan dua mata onyx sosok di belakangnya.
"Sa—sasuke?" Sakura bisa merasakan suaranya yang masih bergetar dan terbata-bata. Sasuke berdiri dengan tampang stoic khasnya, dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Perasaan lega sedikit terbersit di dada Sakura. Yah, setidaknya dengan adanya si necromancer muda yang bisa mengendalikan setan atau mayat hidup sesuka hatinya, wajar saja Sakura merasakan itu bukan?
Pemuda berambut raven itu tidak merespon Sakura. Dengan mata onyxnya, dia menatap Eric tajam. Sebelum anak kecil itu membuka mulutnya, Sasuke menyela.
"Bukankah aku sudah bilang jangan seenaknya menakuti gadis ini? Lagipula aku menyuruhmu apa tadi, hah?"
Nada bicara Sasuke yang pelan namun tegas membuat Sakura bergidik ngeri. Gadis itu bahkan bisa melihat 'makhluk' di depannya kini merunduk dalam, sembari memainkan ujung bajunya—persis seperti anak kecil yang tengah dimarahi oleh orang tuanya.
"Sorry.." jawab Eric dengan logat Inggrisnya yang khas. Melihat Eric yang dimarahi dan dibentak seperti itu mau tak mau membuat Sakura iba juga. Dilihat dari segi manapun, sebenarnya Eric hanyalah seorang anak kecil berumur lima tahun. Lagipula bukankah dari tadi malam 'bocah' itu hanya mengajak Sakura untuk bermain bersama? Yah, walau caranya salah.
"Aku hanya ingin bermain dengan Sakura-nee, aku penasaran kenapa Sakura-nee dipilih Itachi-sama jadi istri Sasuke-sama," jawab Eric apa adanya. Mata biru langitnya menatap Sakura meminta persetujuan—mungkin lebih tepatnya tatapan maut yang sering dilancarkan anak kecil meminta belas kasihan.
Sasuke mendengus, "Itu bukan urusanmu anak kecil, lebih baik sekarang kau—"
"Sa-Sasuke," sela Sakura, tepat sebelum Sasuke hendak melancarkan bentakannya kepada setan kecil itu. Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Jangan terlalu kasar begitu, kasihan Eric. Lagipula dia hanya mengajakku main, tidak lebih," bela Sakura, sambil mengelus kepala Eric yang bersembunyi di belakang tubuhnya—ia bisa merasakan rambutnya yang kasar dan tak terawat, serta sebuah celah kecil yang seakan membelah dua kepalanya. Sakura menggigit bibirnya. Bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman pertamanya mengelus 'makhluk' seperti ini.
"Lalu, kenapa kau sampai ketakutan begitu? Aliran darah dan degup jantungmu kacau. Kau pikir aku tidak tahu? Itu artinya ketakutan, dasar bodoh." Sasuke menatap Sakura dengan sinis, sebelum ia mengangkat tangan kanannya. "Sudahlah, sana pergi," satu jentikan jari dan Eric langsung menghilang dari belakang Sakura. Berubah menjadi abu yang berterbangan dan menyebar di dalam gedung. Lalu bersamaan mengikuti angin yang berhembus menuju pintu keluar.
Sakura menatap kepergian abu Eric tersebut—sampai ia bisa merasakan seseorang berdiri tepat di hadapannya. Ia mendongak, dan degup jantungnya seakan berhenti kembali ketika kedua mata emeraldnya langsung berhadapan dengan dua mata onyx pemiliknya—ia harus menahan napas untuk yang kedua kalinya.
"Sudah selesai belanjanya?"
"Su-Sudah," tangan Sakura bergerak mendorong Sasuke agar laki-laki itu mundur dan sedikit menjauh darinya. "jangan dekat-dekat seperti itu, aku bisa lebih takut denganmu ketimbang Eric." ujar gadis itu pelan—ia segera berkutat kembali dengan troli belanjaannya dan mendorongnya menuju meja kasir.
Sasuke hanya mengangkat bahu tidak peduli, dan berjalan di belakang Sakura. Mengikuti gadis itu berjalan mendorong belanjaan menuju kasir terdekat. Sakura menaruh barang-barangnya di atas meja kasir.
Sang penjaga kasir bekerja dalam diam, sementara Sakura mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia mengerinyitkan dahinya menyadari keadaan supermarket yang sudah tidak layak, sebelum akhirnya pandangannya berakhir pada penjaga kasir di depannya. Ia hendak tersenyum, namun semuanya terhenti ketika ia melihat rupa sang penjaga kasir dengan jelas. Napasnya tersendat seketika.
Wanita itu memang memakai seragam biasa pada umumnya, tetapi seragam itu terlihat sangat kumuh dan penuh dengan bercak darah, dengan sebuah sobaken panjang dari bawah dada hingga ke perut. Tangan kanan dan beberapa bagian tubuh lainnya gosong seperti habis terbakar. Lehernya yang berlumuran darah terlihat patah, menyebabkan kepala wanita itu tidak tegak seperti orang-orang pada umumnya—namun terkulai begitu saja ke bawah.
Dan Sakura terpaksa harus menahan napasnya lagi ketika ia menyadari, kepala wanita penjaga kasir itu bocor, mengeluarkan darah yang mengalir melewati mata, hidung, bibir hingga menetes di bawah dagunya dan mengenai meja kasir di bawahnya. Setengah rambutnya seperti habis terbakar, mata putihnya menatap Sakura tajam tanpa emosi, mulutnya terbuka mengucapkan sesuatu. Walau bagi Sakura seperti erangan.
"Apa... ini.. sudah.. semua?" pertanyaan yang dikeluarkan tetap sama seperti penjaga kasir pada umumnya. Tapi tetap saja Sakura terlalu terpaku dengan penampilan sang penjaga kasir. Benar dugaannya sejak awal, supermarket ini memang tidak beres.
Sasuke melirik Sakura yang ketakutan—ia bisa merasakan tangan sang gadis dalam genggamannya bergetar hebat. Setelah menghela nafas sesaat, Sasuke mengangguk dan menatap mata putih di depannya, "Hn, itu sudah semua. Berapa?" tanya Sasuke dan mengambil dompet di saku belakangnya. Sakura masih gemetar di samping Sasuke, semakin mencengkram erat tangan Sasuke yang digenggamnya. Kulit putih meronanya mulai memucat kembali.
Sang penjaga kasir itu terdiam sesaat. Dengan pelan ia menggerakkan jari dan menghitung barang Sakura tanpa menggunakan mesin kasir usang di depannya. Sakura lagi-lagi harus terbengong melihat tangan sang penjaga kasir yang penuh lecet—dan bukan cuma itu, jari kelingking dan jari manisnya hilang, hanya jari tengah, jari telunjuk, dan jempol yang tersisa. Darah masih mengalir keluar dari dua tempat yang hilang tersebut, hingga Sakura bisa melihat darah-darah itu perlahan menetes di atas beberapa barang belanjaan miliknya. Membuatnya bergidik ngeri.
"Semua.. 50 yen," ucap sang penjaga kasir, Sasuke mengeluarkan satu lembar uang dan memberikannya pada wanita aneh tersebut. Tanpa meminta tolong kepada sang penjaga kasir, Sasuke mengambil inisiatif untuk memasukkan barang-barangnya sendiri ke dalam kantong plastik dan membawanya.
"Ambil saja kembaliannya," ucap Sasuke sebelum keluar dari gedung supermaket yang angker itu dengan cepat. Sakura mengikuti di belakangnya sembari berlari kecil. Kedua tangan mereka masih terpaut—niat Sakura untuk melepas genggaman tangannya dari tangan Sasuke surut seketika saat ia melihat penjaga kasir itu menyeringai lebar kepadanya.
Sakura dan Sasuke berjalan keluar. Rasa heran terbesit di benak Sakura saat melihat hari di luar sudah malam. Hei, sudah berapa lama mereka di dalam gedung supermarket itu? Sakura pun masih mencengkram lengan Sasuke, sampai calon suaminya itu menegurnya.
"Mau sampai kapan memegang tanganku? Kita sudah keluar dari supermarket itu," ujar sang Uchiha dengan dingin. Sakura tersentak kaget. Dengan salah tingkah dia melepaskan tangan Sasuke. Sejurus kemudian, pemuda raven itu mengibas-ngibaskan tangannya dan Sakura bisa melihat bekas memerah di telapak tangan Sasuke saat tadi dia mencengkramnya.
"Aa—Ma-Maaf," ucap Sakura terbata, Sasuke tidak merespon. Sepertinya cengkraman Sakura cukup menyakitkan, "Sasuke, sebenarnya supermarket tadi itu—"
"Kau lihat saja belakang," potong Sasuke cepat sebelum Sakura menyelesaikan pertanyaannya. Sakura kebingungan, namun akhirnya dia turuti saja perkataan Sasuke dan sedetik kemudian matanya terbelalak.
Gedung itu hilang. Gedung putih besar dengan isinya yang lengkap, lenyap seketika. Hanya tersisa beberapa puing seperti habis terbakar. Sebelum Sakura sempat menanyakan alasan mengapa bisa begini, Sasuke sudah membuka mulutnya untuk menjelaskan.
"Itachi bilang, gedung supermaket itu terbakar lima tahun yang lalu. Dalam semalam, semuanya langsung hangus tak berbekas. Tapi untungnya api tidak menyulut gedung dan rumah lain di sampingnya," Sasuke melirik Sakura yang masih terpaku menatap tanah kosong di belakang mereka. "Kebakaran naas itu memakan satu korban jiwa dan sepertinya penduduk sekitar tidak berniat untuk membangun gedungnya kembali. Korban meninggal itu adalah penjaga kasir yang berhadapan dengan kita tadi," jelas Sasuke dan mulai melangkahkan kakinya. Sakura langsung beranjak mengikuti.
"Tapi.." Sakura terlihat memainkan jarinya, "kenapa wanita itu bisa menjadi korban? Dia terlambat menyelamatkan diri, atau bagaimana?" tanyanya. Terlihat sekali kalau dia sangat penasaran. Sasuke menghela napas panjang dan menunduk, memandangi batu kerikil di sepanjang jalan.
"Kurang lebih memang begitu," Sasuke terlihat berpikir sesaat. "Menurut Itachi, wanita itu sedang membereskan barang di counter paling pojok di belakang dan tidak menyadari api yang muncul karena arus pendek listrik. Tapi nasib baik tidak berpihak padanya, sebuah rak barang jatuh menimpa tubuhnya ketika dia berusaha lari, kepalanya bocor karena terbentur ujung rak, dia pingsan dan terbakar. Begitulah.." jelas Sasuke. Ekspresinya tidak terbaca.
Sakura menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya, "Mengerikan," bisiknya. "Dia pasti sangat ketakutan waktu itu."
"Pasti," Sasuke kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Saat kematian berada di depan mata, semua manusia tanpa terkecuali pasti akan ketakutan meski sedikit,"
"Kau juga?" tanya Sakura pelan. Sasuke melirik Sakura sesaat.
"Hn," pemuda raven itu mengangguk, mempercepat langkahnya dan meninggalkan Sakura yang masih hanyut dalam pikirannya. Kematian, semua orang pasti takut itu. Tapi setakut apapun itu, manusia hanya bisa berharap. Takdir hidup dan mati ada di tangan Yang Maha Kuasa. Jika Yang di Atas Sana sudah berkehendak, maka manusia hanya bisa pasrah.
Kematian. Satu kata dengan begitu banyak rahasia.
Kedua sosok ini masih berjalan dalam keheningan. Sakura bingung harus bicara apa—ia hanya menatap punggung Sasuke yang tegap di depannya. Jujur saja, Sakura adalah gadis yang serba ingin tahu. Tak terkecuali apa yang dipikirkan Sasuke tentang dirinya. Apa karena Itachi seenaknya menjodohkan Sasuke dengannya, membuat Sasuke membenci dirinya? Hah, seandainya saja Sakura mempunyai kekuatan yang sama dengan Itachi yang bisa membaca pikiran orang lain.
.
.
Waktu berjalan dengan cepat. Sekarang mereka berdua sudah sampai di depan rumah mewah Sasuke. Di dalam, Mikoto menyambut mereka seperti biasa. Sebelum Sasuke memberikan kantong belanjaannya pada Mikoto, Sasuke membuka dan melihat isinya. Benar saja dugaannya, semua barang belanjaan utuh yang tadi dibeli Sakura, hangus. Sakura hendak protes, tapi Sasuke sudah keburu mengarahkan telunjuknya ke arah barang hangus itu. Jarinya mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata, dan hanya dalam hitungan detik, semua barang menjadi seperti saat Sakura membelinya tadi.
Sasuke menyeringai melihat tatapan bingung Sakura, "Satu hal yang aku punya tapi Itachi tidak, adalah kekuatan meregenerasi atau bisa disebut menyembuhkan," dia memberikan kantong belanjaan pada Mikoto. "Tapi kekuatan ini hanya berlaku pada barang, juga orang yang masih hidup. Kalau aku bisa meregenerasi mayat hidup, sudah kubuat ibuku cantik seperti dulu," dengus Sasuke. Sakura sedikit menahan tawa melihat wajah sebal Sasuke.
"Sudah malam, lebih baik kalian tidur sekarang," ucap Mikoto tiba-tiba, membuat Sakura spontan menghentikan tawanya dan menundukkan kepala. Sakura melirik Sasuke saat laki-laki itu mengangguk dan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya.
Sasuke menuntun Sakura ke dalam kamarnya yang dulu, "Sana tidur, aku ada urusan," sebelum Sasuke menutup pintu kamarnya, Sakura menahan tangan Sasuke. Wajahnya terlihat ketakutan seperti sebelumnya.
"A-Anu.." Sasuke mengernyit melihat wajah Sakura yang terlihat kebingungan—dan tambah heran lagi saat wajah Sakura perlahan memerah dan berkata, "aku takut tidur sendiri,"
Sasuke mendengus menahan tawa, membuat semburat merah di kedua pipi Sakura bertambah jelas. "Ta-Tapi ini semua karena.." Sasuke tidak menunggu lagi, dia masuk ke dalam kamarnya. Tanpa ekspresi, Sasuke menarik tangan Sakura dan mendudukkan gadis itu ke atas kasur.
"Cepat tidur sekarang," pemuda berambut raven itu menarik sebuah kursi di sampingnya dan dia pun duduk di samping ranjang Sakura, membelakangi gadis itu. Sakura terdiam sesaat, namun akhirnya dia merapikan kasurnya, dan gadis itu membaringkan diri menghadap punggung Sasuke.
Sakura masih tidak bisa tidur. Ia masih menatap punggung Sasuke yang enggan berbalik. Entah kenapa wajahnya memerah mengingat sudah beberapa kali Sasuke menyelamatkan hidupnya—mungkin. Sakura menarik selimut hingga lehernya, "Sasuke.." panggil Sakura sebelum hanyut ke dalam mimpinya. "Terima kasih.."
Untuk beberapa saat Sasuke masih tidak merespon. Pemuda itu hanya terdiam, sampai akhirnya sebuah gumaman khas pemuda itu terdengar walau samar. Sakura tersenyum simpul mendengar jawaban singkat itu, perlahan dia menutup matanya.
.
.
Satu jam berlalu. Sasuke membalikkan tubuhnya, menatap wajah Sakura yang sudah tertidur dengan pulas. Sasuke terdiam sebelum akhirnya dia mengelus rambut pink Sakura sesaat. Namun dengan cepat dia menarik tangannya kembali dan berbalik. Ia mengacak rambutnya dan menggerutu kesal. "Tch, apa yang kau pikirkan Sasuke?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Pikirannya sudah kemana-mana sekarang, tapi begitu mengingat ada tugas yang harus dilaksanakannya, Sasuke kembali menormalkan pikirannya. Dia menjentikkan jarinya, dan tak lama kemudian abu yang berterbangan dari luar masuk ke dalam sela-sela jendela. Para abu itu berkumpul membentuk sosok yang semakin lama menyerupai anak kecil. Terus berkumpul, saling menyatu dengan yang lainnya. Hingga sekarang sudah bukan abu lagi, melainkan seorang anak kecil berambut pirang bermata biru, memakai baju bangsawan Inggris tahun 50-an, dan sepatu tebal.
"Take care of her, Eric." setelah mengucapkan itu, Sasuke langsung berbalik dan berjalan menuju pintu dan membukanya. Suara langkah kakinya bergema dalam diam, dan pemuda itu tersenyum kecil ketika mendengar jawaban Eric samar-samar dari kamar yang baru saja ditinggalkannya.
"Yes, sir."
Setelah itu, Sasuke yang turun ke bawah mendapati Itachi tengah santai menikmati teh bersama Mikoto. Dia menatap Sasuke dengan tatapan 'oh-hai-Sasuke' namun tak digubris. Itachi yang mengerti tatapan Sasuke, menyudahi acara minum tehnya dan berjalan mengikuti adiknya tersebut. Kedua Uchiha bersaudara itu akan melakukan pertemuan khusus. Bukan pertemuan biasa, itu sudah pasti. Karena lokasi pertemuannya adalah pusat makam di Konoha. Sudah pasti anggota pertemuan lainnya bukan sembarang manusia atau malah bukan manusia.
Sesampai di sana, Sasuke menatap Itachi dan mengangguk. Itachi hanya terkekeh kecil melihat wajah serius adik semata wayangnya tersebut, sebelum akhirnya ia mengikuti gerakan adiknya—mengangkat tangan kanannya. Entah kata-kata apa yang mereka ucapkan, namun sesaat mereka mengucapkan kata-kata itu tanah sekitar mereka langsung bergetar.
Gempa bumi? Bukan. Lalu apa? Itachi dan Sasuke menurunkan tangannya beberapa detik kemudian. Getaran tanah itu berhenti. Selang beberapa menit kemudian, memang tidak terjadi apa-apa. Tapi baru akan dimulai saat tanah dalam kuburan di paling pojok tiba-tiba bergerak, disusul kuburan yang lain.
Ya, puluhan tanah kuburan di sekitar Itachi dan Sasuke nampak bergerak. Perlahan-lahan sesuatu muncul dari puluhan tanah kuburan yang membelah itu. Ada tangan dulu yang keluar, kepala dulu, kaki dulu, yang pasti semua tubuh keluar dari kuburannya. Keadaan mereka semua beragam, ada yang hancur berantakan sampai masih utuh seperti baru.
Ada yang memegang kepalanya yang terpisah dari tubuhnya, ada yang bersimbah darah. Beberapa dari mereka hanya tersisa tulangnya. Terlihat beberapa sosok yang matanya menggantung—siap jatuh ke tanah kapan saja. Mereka bangkit dari kuburnya, berdiri dan menatap kedua Uchiha bersaudara dengan tatapan dingin. Menunggu kata-kata yang akan dikeluarkan orang yang sudah membangkitkan mereka tanpa permisi.
"Maaf kami membangkitkan kalian seenaknya," ucap Itachi sopan memulai pembicaraan.
Itachi melirik Sasuke, tanda menyuruh Sasuke melanjutkan ucapannya. Sasuke mendengus sesaat sebelum akhirnya dia membuka mulut untuk menyambung perkataan Sasuke. "Sebentar lagi, kejadian seratus ribu tahun yang lalu akan kembali terulang." mendengar penuturan Sasuke, semua mayat itu tertegun. Ada yang bingung, ada yang mengerti.
"Kita semua harus bersiap untuk 'itu'..."
.
.
.
Di saat yang bersamaan, nun jauh di sana. Jauh dari peradaban—masuk ke dalam sebuah hutan gelap yang tak terjamah orang. Seseorang juga tengah melakukan pertemuan khusus. Ia memimpin sendiri, dan ia juga tidak hanya membangkitkan mayat-mayat manusia. Beberapa makhluk berkaki empat—dari yang kecil sampai tinggi menjulang. Kedua bersaudara Uchiha harus berdua untuk membangkitkan beberapa puluh kuburan. Tapi orang itu hanya sendirian, dan dia dapat membangkitkan puluhan bahkan ratusan 'makhluk' yang sudah mati dari seabad yang lalu. Semua sudah jelas sekarang.
Orang itu bisa jadi jauh lebih kuat dari Sasuke dan Itachi.
Rupa orang itu tidak terlihat. Dia memakai topi dan tudung yang menutupi wajahnya. Dilihat dari bentuk tubuhnya, sosok itu seperti anak SMA dan kurang lebih seumuran dengan Sasuke juga Sakura. Sinar bulan yang menembus celah-celah pepohonan itu menerangi wajah gelap sosok tersebut yang menyeringai kecil.
Tak lama, dia memanggil tiga orang yang memakai baju samurai. Dilihat dari keadaannya, tiga orang itu sudah mati kurang lebih seabad yang lalu. Tetapi dengan mudahnya orang itu memakai kekuatan yang sama dengan Sasuke—kekuatan regenerasi. Kekuatan itu membuat tiga orang samurai tadi terlihat seperti orang hidup. Atau lebih tepatnya seperti robot yang hanya mendengarkan perintah dari orang yang bersangkutan.
Seringai di wajahnya kini bertambah lebar. "Jiraiya, Orochimaru, Tsunade. Tiga samurai yang dulu ditakuti dan disegani orang banyak," dia tersenyum puas. "Khu khu, sekarang kalian kembali lagi ke dunia fana ini. Berterima kasihlah padaku yang akan memberi kalian sebuah misi yang sangat mudah,"
Tiga orang itu tidak merespon. Menunggu titah pembangkit mereka selanjutnya.
"Sebentar lagi, perang yang membuat kalian bertiga mati akan terulang di sini." sosok itu merendahkan suaranya. "Kalian pasti masih menyimpan dendam kan? Pada keturunan Uchiha, klan yang menyebabkan kalian mati terbunuh sia-sia,"
Dia tertawa kecil. "Sekarang, tuntaskanlah dendam kalian. Bunuhlah mereka dengan perlahan—supaya mereka bisa merasakan nikmatnya disiksa." orang itu menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak tertawa lebih keras.
"Namun sebelumnya, kalian harus membunuh seorang gadis," dengan segera, mimik wajah sosok itu berubah. Ia memicingkan mata dan mendengus kesal. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menggeleng pelan. "My, my.. Dia gadis malang yang seharusnya tidak terlibat masalah ini. Tapi Itachi memilihnya, dan sekarang dia akan menjadi istri Sasuke untuk membangun kembali klan terkutuk itu."
Suasana mencekam mewarnai atmosfer malam itu. Bulan purnama memancarkan sinarnya dengan terang, diiringi dengan angin malam yang berhembus pelan. Dua kubu yang berjauhan mulai memerintahkan strategi perang mereka masing-masing. Membangun kembali tragedi yang terjadi beratus ribu tahun yang lalu. Tragedi kegelapan yang mengorbankan banyak nyawa, darah, dan kehormatan. Peristiwa yang menuai dendam dan perang dingin yang terjadi hingga kini. Dan segalanya akan dimulai kembali.
Sekarang.
"Bunuhlah Sakura Haruno dan bawa kepalanya padaku,"
.
To Be Continued
.
Kira Desuke : Okeeh, Syl! Lu gimana sih, makin melenceng dari cerita sebenarnya nih "orz Ah tahulah hahaha, minna yang buat cerita kan Syllie Charm, jadi kalau aneh salahin dia. Terus kalau ada typo, salahin cumanakecil, kan dia yang ngebeta hohohoho~ #gak mau rugi –dihajar Mae dan Syl# hehe bercanda, kalau horror scenenya kurang kerasa juga tetep aja aku yang disalahin #mojok# yup, makasih banyak yang sudah review sebelumnya, kami sangat menghargainya XD masalah lemon? Err, kalau di sini paling cuma slight. Gomen ne~ (_,_)
Cumanakecil : Akhirnya selesai juga -_-" Kira, gaya tulisan kita emang beda banget ya? Susah nyamainnya orz. Nambah sekitar 300 words nih hehehehe /plak/ tapi kok saya ngebacanya nggak begitu serem-serem amat ya..? *salahin Kira! /plak* atau entah sayanya saja? Disini saya tambahin beberapa paragraf, dan beberapa penggantian diksi dalam kalimat. Mohon maaf kalo masih ada typo dan kekuranghorroran, *bowed*
Mind to review, minna?
