Kaa-san
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pair : Hinata, Oc
Warning : gaje, Au, Typo(s), No EYD dan lain-lain
.
.
.
"Selamat anak nyonya Laki-laki." Ucap seseorang dengan jas putih melekat di tubuhnya. Senyum terpati bertengger manis di bibir seorang wanita dengan rambut indigo panjang.
Seorang perawat memasuki kamar rawat inapnya yang di tangannya terdapat seorang bayi laki-laki dengan rambut blonde persis seperti almarhum ayahnya.
Ayahnya mengingat almarhum suaminya yang meninggal 2 bulan lalu membuat Hinata tersenyum miris. Hatinya terasa sangat sakit mengingat suaminya tak bisa melihat anak semata wayang mereka lahir dan tumbuh besar.
"Ini Nyonya Namikaze, ia harus di beri asi dulu," ucap suster tersebut yang kemudian keluar bersama dokter yang menanganinga.
Hinata nama wanita tersebut membelai pelan kepala pirang buah hatinya, tersenyum kecil saat melihat reaksi anaknya yang terlihat sangat lucu.
"Hiki, Namikaze Hiki, andai tou-sanmu bisa berada di sisi kita."
Liquid bening mulai merembes keluar dari manik lavendernya.
"Na...Naruto-kun, lihat Hiki-kun mirip sekali denganmu. Rambut blondenya kulit tannya. Namun tanpa tiga pasang garis di masing-masing pipinya dan aku belum tahu warna matanya. Apakah seperti mu? Atau sepertiku?" Hinata terkekeh pelan.
.
.
5 tahun kemudian
Bocah kecil berambut pirang dengan warna mata Sapphire terlihat bermain-main bersama temannya. Terlihat ia sedang menggiring bola menuju gawang lawannya namun na'as, perjalanannya menuju gawang lawan tersebut tak mulus karena di depannya terdapat anak dengan rambut hitam legam berlari menerjang ke arahnya dan pada saat itu anak laki-laki tersebut mendorong Hiki hingga terjatuh.
"Hey kau curang!" Teriak teman sepermainan Hiki yang tiba-tiba datang dari belakang. Anak yang tadi mendorong Hiki tampak memutar bola matanya bosan.
"Aku tidak curang. Toku!" Teriaknya tak mau kalah.
"Su...sudahlah aku tak apa-apa Toku. Auh-" ringis Hiki pelan saat melihat siku sebelah kananya sobek karena terjatuh barusan.
"Hiki lebih baik kita pulang, kita jangan bermain dengan Kirito lagi," ucap Toku yang di jawab anggukan Hiki.
Mereka pulang dalam diam. Rumah Hiki dan Toku memang tidak searah hingga membuat mereka berpisah pada perempatan jalan depan sana.
"Jaa Hiki."
"Jaa Toku."
Beberapa menit berjalan dalam diam akhirnya Hiki sampai di depan rumah kecilnya, rumah terlihat sederhana namun tampak rapi.
"Tandaima," ucap Hiki membuat wanita peruh baya yang sedang mengangkat jemuran mengalihkan pandangannya ke arah anak semata wayangnya yang berada di depan pintu rumah mereka.
"Okaeri, Hiki-kun." Hinata berjalan ke arah pintu dengan membawa keranjang yang berisi baju kering. Mereka berdua akhirnya sampai di ruang tengah rumah mereka.
Hinata menatap Hiki dari atas sampai bawah. Ke-dua alis Hinata bertautan melihat baju Hiki tampak kotor.
"Kalau kau mau main jangan sampek bajunya kotor seperti ini Hiki-kun, apa lagi sampai sobek." Hinata mengelus pelan surai pirang anaknya. Hiki mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Hinata.
"Ayo cepat buka bajumu, kaa-san ingin segera mencucinya. Dan Hiki-kun segera mandi ya." Hiki dengan perlahan membuka bajunya namun saat ingin membuka bajunya tangannya terasa sangat perih membuatnya mengaduh pelan.
"Aaaww." Pekiknya.
Hinata tampak segera menarik pelan tangan Hiki dan melihat luka sobek yang terdapat di siku sebelah kanan.
"Kenapa bisa sampai sobek seperti ini?" Suara lembut Hinata terdengar khawatir, Hiki hanya bisa diam tanpa sepatah kata sedikitpun.
"Jawab kaa-san Hiki."
"Tadi aku terjatuh saat menggiring bola," jawab Hiki pelan membuat Hinata mendesah pelan.
"Bukannya sudah kaa-san bilang dari dulu, kalau main harus hati-hati Hiki." Hinata membuka pelan baju yang di kenakan Hiki setelah membuka dan menaruhnya di keranjang baju kotor Hinata segera mencari kotak P3K dan kemudian duduk di samping Hiki.
"Aku sudah besar kaa-san, jadi tak apa jika sedikit sobek seperti ini," ucap Hiki masih enggan menatap manik Hinata.
"Kau masih kecil Hiki, dan di mata kaa-san kau adalah lelaki kecil kaa-san. sudah selesai," ucap Hinata saat sudah selesai mengobati luka sobek di siku Hiki.
"Hiki sudah besar kaa-san, Hiki bukan anak kecil lagi." Hiki berlari ke lantai atas tepatnya kamarnya dan terdengar bantingan pintu yang tertutup membuat Hinata mendesah pelan.
"Gomen, aku tak bisa merawat anak kita dengan baik Naruto-kun," ucap Hinata pelan. Ke-dua tanganya ia gunakan untuk menutup wajahnya yang mulai memanas.
Hiki memang bukan tipe anak yang marah kepada Hinata dengan lama, hingga Saat makan malam Hiki tampak antusias bercerita tentang kejadian yang di alaminya di sekolahnya. Hinata yang mendengarnya tersenyum, anaknya memang mirip seperti Naruto suaminya.
"Setelah makan Hiki tidur ya." Perintah Hinata yang di jawab anggukan Hiki.
Walau hanya tinggal berdua dengan Ibunya Hiki tak sekalipun merasa kekurangan kasih sayang, ibunya Hinata sangat menyanyanginya sepenuh hati. Hingga beberapa minggu kemudian mereka pergi ke kuburan ayahnya Naruto.
Hiki terlihat terdiam saat melihat makam ayahnya, ada perasaan rindu akan sosok ayahnya. Sering sekali ia menanyakan di mana makam ayahnya namun Ibunya Hinata tak pernah memberitahu tempatnya, karena ia tak ingin Hiki kecil sedih sepertinya.
.
11 tahun kemudian
Hinata mulai terlihat menua, garis-garis keriput di wajahnya terlihat sangat jelas.
Hiki yang berusia 16 tahun baru saja keluar dari kamarnya dan tampak tergesa-gesa menyantap makananya di depannya ini.
"Hiki, kau sudah besar masih saja makannya seperti anak kecil." Tegur Hinata, Hiki hanya menatap Hinata sekilas kemudian tetap melanjutkan makannya.
Melihat noda di pipi anaknya Hinata mendekatkan tubuhnya ke arah Hiki kemudian mengelap pelan noda yang berada di pipi Hiki. Hiki menatap Hinata kemudian berucap, "Sudahlah kaa-san, aku bisa sendiri."
Hiki mengambil sapu tangan yang berada di tangan Hinata kemudian mengelap noda di pipinya dengan tergesa-gesa. Setelah selesai ia meneguk jus jeruknya dengan tergesa-gesa juga.
"Aku berangkat dulu, kaa-san." Hiki kemudian berjalan keluar. Hinata hanya melihat punggung Hiki yang mulai menjauh rasanya ada perasaan rindu saat melihat tatapan mata anak semata wayangnya.
"Ah sekarang ulang tahunmu anata." Hinata menatap foto almarhum suaminya Naruto yang terpajang di dinding rumahnya dengan tatapan sendu.
"Aku berangkat bekerja dulu ya, Naruto-kun. Aishiteru." Bisiknya pelan kemudian pergi berangkat bekerja.
Siang hari ini memang sangat panas apa lagi pekerjaannya yang hanya sebagai penjual ramen. Keringat mengalir di dahinya ia lap dengan handuk kecil yang menggantung di bahunya. Pembeli hari ini memang tak terlalu banyak namun untuk wanita paruh baya sepertinya sangatlah berat.
Hingga hari mulai menjelang malam Hinata baru saja membereskan kedai kecilnya. Hingga 15 menit berlalu ia akhirnya selesai membereskan kedai kecilnya.
Udara malam sangatlah dingin berbeda dengan tadi siang yang sangatlah panas. Tubuh rentanya terlihat menggigil untung saja ia mengenakan jaket jadi udara dingin bisa di atasi.
"Tandaima!" Ucap Hinata kemudian membuka pintu rumah kecilnya. Gelap itulah kata yang pertama kali yang ia dapat.
Pikirannya kelut apakah Hiki anaknya tidak pulang? Hingga ia mendengar suara lelaki dari arah belakangnya.
"Tandaima, kaa-san." Hiki akhirnya pulang dengan beberapa luka di wajahnya membuat Hinata menautkan kedua alisnya.
"Kenapa kau babak belur seperti ini?" Tanya Hinata dengan suara yang khawatir ya saat ini ia sangat khawatir melihat keadaan anaknya. Ia menuntun anaknya masuk ke dalam ruang tengah rumahnya setelah duduk dan mengambil kotak P3K Hinata dengan cekatan mengobati luka Hiki.
"Kenapa kau babak belur seperti ini? Hemm?" Tanya Hinata sekali lagi. Hiki tampak tertunduk kemudian menatap manik lavender Hinata.
"Aku memukul Kirito dan Kirito membalasnya," ucap Hiki pelan. Hinata mendesah lelah, emosi anaknya memang tak bisa di kendalikan.
"Kenapa kau memukulnya, tak baik memukul temanmu, walau ia bersalah sekalipun." Nasihat Hinata sambil terus mengobati luka di dahi Hiki.
"Aaaw, kaa-san." Rintih Hiki saat merasakan dahinya sangat perih.
"Maaf, kaa-san kurang pelan-pelan," Hinata kemudian menutup kotak P3K tersebut kemudian menatap manik sapphire Hiki.
"Jawab pertanyaan kaa-san barusan, Hiki." Walau terdengar lembut Hinata adalah ibu yang sangat tegas.
"Karena dia mengolok-olok ku kaa-san, aku tak terima," ucap Hiki kemudian pergi meninggalkan Hinata masuk ke dalam kamarnya.
"Gomen ne kaa-san." Hiki menutup manik sapphirenya kemudian menjemput mimpinya, rasanya ia sangat lelah hari ini.
.
Hari ini udara tampak sangat dingin, pemanasan global memang membuat cuaca tak menentu. Dan hari ini kondisi Hinata sangatlah jauh dari kata sehat.
"Kaa-san aku berangkat dulu," ucap Hiki kemudian keluar dari rumah kecilnya.
"Hati-hati di jalan, Hiki uhuk-" ucap Hinata. Rasanya tenggorokannya sangat sakit, batuknya semakin lama semakin menjadi. Tubuhnya semakin lama semakin lemas.
Darah segar keluar dari hidungnnya membuat ia membelakan matanya. "Da-darah."
Ia usap dengan kasar darah yang mengalir dari hidungnya. Ah rasanya ia sangat benci saat melihat darah ini keluar. Ia tahu bahwa waktunya tak akan lama lagi, namun ia tak sanggup untuk mengatakannya pada anaknya, Hiki.
Bagaimana jika Hiki lapar? Siapa yang akan memasakannya. Bagaimana jika Hiki terluka dan sakit? Siapa yang akan merawatnya.
Rasanya Hinata sungguh tak sanggup menerima kenyataan ini. Tubuh mungilnya perlahan masuk ke dalam kamarnya berbaring tenang di atas ranjang kecilnya. Denyutan di kepalanya semakin menjadi, di tambah batuknya semakin parah dan mengeluarkan banyak darah, semakin lama pandangannya pun semakin memburam.
"Na-Naruto-kun, rasanya aku sudah tak sanggup lagi, gomen ne Hiki-kun. Kaa-san tak bisa bersamamu lagi." Hinata menutup matanya perlahan dengan senyum kecil mengembang.
Sore mulai menjelang Hiki pulang dengan tergesa-gesa ia ingin menyampaikan sesuatu kabar gembira ke pada ibunya. Namun sesampainya di rumahnya yang ia hanya dapati hanyalah sepi.
"Kaa-san? Kaa-san di mana? Aku ada berita bahagia kaa-san!" Teriak Hiki, akhirnya saat ia membuka pelan pintu kemar ibunya, Hiku malah mendapati Hinata yang tertidur tenang.
"Aish ternyata kaa-san di sini, kaa-san pasti sangat kelelahan." Hiki mendekati ranjang Hinata kemudian duduk di tepi ranjang Hinata.
"Kaa-san, kaa-san." Hiki mengguncang dengan perlahan lengan Hinata. Namun Hinata masih saja belum bangun.
Nafas Hiki memburu, tangannya masih saja mengguncang bahu Hinata ibunya namun masih saja tidak ada respon dari ibunya. Namun saat melihat telapak tangan Ibunya alahkah terkejutnya melihat bahwa telapak tangan ibunya berlumuran darah yang mulai mengering.
"Kaa-san, kaa-san bangun. Hiks hiks kaa-san." Liquid bening mulai merembes keluar dari manik sapphirenya. Tangannya gemetar. Ia tak sanggup menerima kenyataan pahit ini rasanya dunianya runtuh.
"Kaa-san, hiks hiks kenapa kaa-san meninggalkan Hiki secepat ini? Kenapa kaa-san?!" Teriaknya, air matanya semakin deras keluar.
"Kaa-san, apa kaa-san tau hiks hiks berita bahagia yang a...ku bawa?" Tanyanya yang tentu saja tak akan pernah di jawab oleh sang Ibu.
"Aku mendapat beasiswa kaa-san, aku pintar kan." Kekehnya pelan dengan suara yang bergetar. Tangisnya semakin menjadi. Tangan tannya dengan perlahan mengusap rambut indigo Hinata.
"Kaa-san... kaa-san aku sangat sayang kaa-san." Hiki memeluk tubuh tak bernyawa Hinata dengan erat sanga erat rasanya ia tak sanggup melihat ini semua.
.
.
Hinata terlihat sangat manis dengan gaun putih yang membalut tubunya. Senyum manis mengembang di bibirnya. Nampak seperti tak ada beban di senyum tersebut.
Di samping peti mati Hinata, Hiki berdiri dengan mata yang sembab. Ia sudah lelah menangis melihat kenyataan kaa-sannya yang meninggal secepat ini.
"Kaa-san selamat jalan. Sayonara, semoga kaa-san dapat bertemu tou-san dan sampaikan salamku bahwa aku merindukannya," gumam Hiki pelan dengan air mata yang tiba-tiba mengalir.
"Sayonara," ucapnya saat melihat peti mati Hinata mulai di tutup dan di kubur.
.
.
Hiki POV
Begitu banyak kasih sayang yang kaa-san berikan, kaa-san merawatku dari kecil hingga seperti sekarang dengan kasih sayang yang tak pernah kurang. Aku selalu mengatakan ingin hidup bahagia bersama kaa-san namun itu hanyalah mimpi karena kaa-san telah meninggalkanku sendirian di sini.
Kaa-san selalu menyemangatiku bila aku mengalami kesusahan, apa lagi waktu aku menikuti ujian kenaikan kelas kaa-san menyemangatiku dengan kata-kata, "Jangan cemas dan takut, doa ibu menyertaimu. Kau pasti bisa."
Rasanya aku rindu dengan suara halus kaa-san saat memarahiku karena aku berkelahi lagi dengan Kirito.
Rasanya aku sangat menyesal kaa-san, kasih sayang kaa-san yang tak pernah ku sadari, malah ku sakiti hantinya sekarang telah pergi jauh dariku.
Kaa-san aishiteru, Hiki menyanyangi kaa-san, sangat.
Hiki POV END
.
.
.
END
AN: apa-apaan ini? Aish kacau banget. Gk ada feel"x dan gaje ancur dah. Aish ampunin hamba yang membuat fic ini. Un ada sedikit perubahan dari yang aku publish di fb :3
Jaa sampai bertemu di fic-fic Kushi selanjutnya.
Review?
