Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : Sakura X Kakashi
Genre : Fantasy/Supernatural & Romance -AU
Warning : Gaje, Typo, OOC, abal etc.
DLDR, author baru bangkit dari hiatus hehehehe.
Read and Review please ^^
Early chapter
Sakura Haruno seorang gadis yang berasal dari keluarga pemburu vampir terkemuka menemukan kenyataan bahwa dirinya sendiri adalah anak dari vampir. Sayangnya sebelum mengetahui kebenaran itu secara lengkap kakeknya tewas akibat ulah makhluk yang juga membunuh neneknya. Gadis itu kini sebatang kara. Kakashi Hatake, menawarkan perlindungan dan tempat tinggal yang tak mampu ditolak meskipun dirinya adalah seorang vampir. Perlakuan Kakashi menumbuhkan sebuah perasaan khusus dalam hati Sakura…
-o-o-O-o-o-
SILVER FANG
Chapter 4: Rival
Lee, si ketua kelas, memberi aba-aba agar penghuni kelas mengucapkan salam kepada sensei mereka yang baru saja masuk. Usai membalas salam murid-muridnya, sensei cantik dengan rambut ikal hitam itu mengabsen muridnya satu-persatu.
"Minasan, hari ini kalian akan mempunyai seorang teman baru," ucap Kurenai Sensei. Sontak saja seluruh murid menjadi ribut.
"Siswa atau siswi?"
"Tampan tidak, Sensei?"
"Pindahan dari mana?"
Kurenai-sensei hanya tersenyum misterius mendengar celetukan murid-muridnya. Lalu ia mempersilahkan seseorang untuk masuk. Semua pandangan memusat ke pintu kelas yang digeser. Sesosok pemuda dengan rambut merah mendekati Kurenai-sensei. Masing-masing kepala memberikan respon yang berbeda pada sosok yang baru pertama mereka lihat tersebut. Para siswa terlihat kecewa karena mereka mengharapkan kedatangan siswi cantik. Ada yang berdecih, mungkin iri melihat betapa rupawannya pemuda yang baru saja memasuki ruang kelas. Bagaimana dengan para siswi? Beberapa ternganga, begitu terpesona melihat si murid baru. Tak sedikit yang memekik, bahkan sampai histeris memuji ketampanannya.
Pemuda berambut merah itu berinisiatif menulis nama lengkapnya di papan tulis kemudian berbalik dan membungkuk untuk memberikan salam. "Hajimemashite. Akasuna Sasori desu. Douzo yoroshiku onegaishimasu," ucapnya dengan senyum yang membuat mayoritas siswi seakan meleleh. Wajah Sasori terkesan babyface, dengan iris yang berwarna hazel dan kulit yang bersih tanpa noda sedikitpun.
DEG! Iris emerald milik Sakura bertemu dengan kedua mata Sasori. Sasori tersenyum singkat kepadanya. Sakura menyadari satu hal. Déjà vu yang sempat dirasakannya saat melihat Kakashi seharusnya untuk sosok yang tengah berdiri di depan kelas ini. Seakan ini bukan pertama kali mereka bertemu, seolah jauh sebelum ini mereka sudah saling terkait satu sama lain. Sakura kenal dengan surai merah itu. Sakura merasa akrab dengan iris hazel milik pemuda berwajah awet muda tersebut. Aneh… ini sangat aneh… Siapa dia? Sakura merasa familiar dengan pemuda pindahan itu.
"Ada apa?"
"Ha?" Sakura tersadar dari lamunannya. Ternyata Sasori sudah duduk di depannya. Sejak kapan? "Kenapa kau bisa ada disini?"
"Eh? Kurenai-sensei yang menyuruhku duduk disini," Sasori menunjuk Kurenai-sensei dengan dagunya. "Kau kenapa? Apa keberadaanku menganggumu? Daritadi kau melihatku dengan sorot mata yang mengerikan."
"Ap-apa? Ti-tidak," Sakura menggeleng. "Maaf, telah membuatmu merasa tidak nyaman,"
"Iie, daijoubu," Sasori tersenyum. "Nee, aku belum mengetahui dirimu. Siapa namamu?"
"Sakura Haruno"
"Ah, nama yang indah," Sasori menatap Sakura dengan lembut. "Cocok untukmu…"
Kedua pipi Sakura memerah mendengar pujian Sasori. Sasori hanya tersenyum.
=xxx=
Bel istirahat berbunyi. Asuma Sensei meninggalkan kelas dengan 'menghadiahkan' tugas yang bisa dibilang tidak sedikit. Mayoritas siswa siswi pergi ke kantin demi mengisi perut mereka. Namun ada sedikit pemandangan berbeda hari itu. Beberapa siswi mengerubungi meja di depan Sakura, dengan pemuda berambut merah sebagai pusat perhatian.
"Boleh kupanggil Sasori-kun?"
"Kau tinggal dimana?"
"Sepulang sekolah karaoke, yuk!"
"Akasuna-kun punya pacar?"
Semuanya terlontar dari bibir gadis-gadis penghuni kelas yang sama dengan Sakura. Bahkan ada beberapa siswi dari kelas sebelah yang ikut terlibat dalam observasi kecil tersebut. Sakura, yang duduk persis di depan Sasori terpaksa mengungsi ke tempat Ino karena tempatnya sudah diduduki.
"Mereka terlalu berlebihan," cibir Sakura dengan nada pelan. Ino hanya terkekeh.
"Yah, maklum saja... Sasori 'kan imut sekali!" ucap Ino sambil bercermin, memastikan riasannya tadi pagi tidak ada yang berubah.
"Kau tidak bergabung dengan mereka?"
"Ingin, sih... Tapi aku sudah punya Sai-kun," Ino mengedipkan matanya. "Sa-sakura.."
Melihat Ino yang berhenti bicara, kening Sakura berkerut. Ia menjentikkan jarinya di depan mata gadis pirang itu. Ino menunjuk ke arah Sakura.
"Hai," sapa seseorang dari belakang Sakura.
"Ng?" Sakura menoleh. Tahu-tahu Sasori sudah berada di belakangnya.
"Aku ingin mengetahui sekolah ini dengan baik. Maukah kau mengantarku berkeliling?"
"Kau tidak salah memintaku? Sepertinya mereka lebih bersedia..." Sakura menunjuk gerombolan gadis yang tadi mengerubuti Sasori. Gadis-gadis itu menatap Sakura sebal.
"Yah, sepertinya kalau meminta mereka harus mengajak seluruhnya..." Sasori menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Sakura dan Ino mengangguk maklum. Memangnya studi wisata? Batin Sakura. Kemudian ia melirik Ino, meminta pendapat.
"Pergilah. Aku mau makan siang dengan Sai," ucap Ino sambil memamerkan deretan giginya yang rapi. Dengan ragu-ragu Sakura beranjak dari tempat duduknya. Tatapan memelas Sasori ditambah pandangan sinis teman-temannya membuatnya ingin segera pergi dari kelas.
,
"Di sekolah ini ada banyak kegiatan yang bisa kau ikuti sesuai minat dan bakatmu," ucap Sakura seolah dirinya pemandu wisata. "Olahraga, seni, keilmuan, dan lain-lain."
Sasori mengangguk-angguk. "Kau ikut klub apa?"
"Sebenarnya aku ikut klub judo tapi belakangan ini aku jarang datang," Sakura melihat Sasori tertawa kecil. "Kenapa?"
"Ah, tidak. Judo, ya. Sayang sekali aku kurang suka aktivitas yang terlalu menggunakan fisik."
"Ya, ya. Aku memang bukan gadis yang feminin," sungut Sakura.
"Bukan begitu maksudku. Kau gadis yang hebat…"
Mau tidak mau Sakura ikut tersenyum. "Berarti kau berminat di kesenian ya? Atau keilmuan?"
Sepertinya pemuda itu agak enggan mengatakannya. "Sepertinya seni…"
"Oh, ya? Apa? Musik?"
Sasori menggeleng. "Jangan tertawa, ya. Aku suka membuat boneka tali."
Iris emerald milik Sakura membesar. "Benarkah? Waaah.. Hebat sekali!"
"Kau tidak mengatakan hobiku itu aneh? Maksudku, boneka itu identik dengan perempuan, 'kan?"
"Aneh?" Alis Sakura bertemu. "Apanya yang aneh? Menurutku kau seharusnya bangga. Lagipula, mayoritas pelakon bunraku justru laki-laki, 'kan?"
"Kau benar, terima kasih…"
"Disana ruang kesenian. Kau akan sering berada disana nanti," Sakura menunjuk sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruang musik. Dari dalam ruang musik terdengar dentingan piano. Gadis itu menggeser pintunya, penasaran akan sosok yang memainkan piano dengan sangat indah. Sakura terpana begitu melihat siapa yang ada di dalam.
"Kakashi?"
Dengan piawai, kesepuluh jari Kakashi seolah menari diatas tuts-tuts hitam putih tersebut. Hebatnya lagi, ia melakukan itu semua tanpa melihat partitur ataupun buku musik. Salah satu gubahan Chopin yang sangat terkenal, Noctrune Op9no.2 In E Flat Major, mengalun dengan sempurna.
"Kakashi, uhm, maksudku Sensei, ini Sasori Akasuna," Sakura menunjuk pemuda berambut merah disampingnya. Ia hampir saja lupa bahwa dirinya tengah memandu siswa baru untuk berkeliling itu Kakashi telah menyelesaikan permainannya. "Dia baru masuk kelasku hari ini."
'Hajimemashite," Sasori menunduk hormat.
"Hn," Kakashi membalasnya dengan anggukan.
"Nah, dia Kakashi Hatake, penjaga laboratorium sekolah ini."
"Sejak kapan kau jadi pengurus anak baru?" Tanya Kakashi sambil memasukan tangannya kedalam saku celananya. Sakura hanya menatap pria itu dengan sebal. Ia harus bisa menahan agar rahasianya tidak terbongkar.
"Sensei bisa saja. Hahaha," tawa Sakura dengan nada yang dibuat-buat. "Jaa, kami pamit dulu. Permisi," Sakura tidak mau berurusan dengan sosok menyebalkan itu lagi. Waktu yang mereka habiskan di apartemen sudah lebih dari cukup.
Keduanya melanjutkan 'tur dadakan' tersebut.
.
.
.
Pria jangkung berambut perak memasukkan anak kunci kedalam lubang pintu apartemennya.
"Aku pulang..."
"Selamat datang," Sakura menyambutnya dari dapur. Gadis itu sedang berusaha membuat kari untuk makan malam. "Lebih baik kau mandi dulu, air panas sudah tersedia,"tambahnya.
Kakashi tersenyum kecil dibalik maskernya, "Sankyuu."
"Nah, semua beres," ucap Sakura setelah persiapannya selesai. Hidangan malam ini adalah nasi hangat dengan kari kentang dan wortel. Meskipun tempo hari Kakashi sudah bilang bahwa vampir tidak butuh makanan seperti manusia, Sakura tetap saja menyiapkan porsi untuknya.
"Hmm, wanginya sampai ke kamar mandi," Kakashi mencium aroma kari yang memenuhi hidung tajamnya.
"Kau ini... KYAAAA!" Sakura menjerit begitu melihat sosok Kakashi yang hanya terbalut handuk dari pinggang hingga beberapa senti diatas lutut. Rambut peraknya yang biasanya berdiri secara berantakan terlihat basah dan turun. Tubuh atletisnya yang pucat pun masih agak basah. Sakura dapat melihat jelas dada bidang serta lengan berotot yang terlihat begitu sempurna melengkapi ketampanan Kakashi. Namun gadis itu buru-buru menutup wajahnya.
"Setidaknya pakai dulu bajumu, bodoh!"
"Kenapa wajahmu merah begitu? Butuh waktu berapa lama agar kau terbiasa, hmm?"
Sakura melempar apron tepat di wajah Kakashi yang menahan tawanya. Vampir kurang ajar! Kenapa dia suka sekali menggodaku?! Geram Sakura. Tidak sampai semenit Kakashi sudah duduk pada tempatnya.
"Selamat makan," keduanya mulai melahap makan malam.
"Lumayan," puji Kakashi saat menyuap kari terakhir kedalam mulutnya. "Terima kasih atas makanannya."
Sakura mengangguk.
Jadi seperti ini kehidupan sepasang pengantin baru... Deg! Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Apa-apaan itu? Konyol! Batinnya lagi. Sesekali ia melirik kearah Kakashi yang sudah sibuk dengan laptopnya. Baru kali ini ia melihat sang vampir mengenakan kacamata tanpa masker. Biasanya di sekolah Kakashi terlihat seperti ilmuwan sinting dengan jas laboratorium kumal, masker dan kacamata yang menutupi wajahnya.
"Ada apa?" Kakashi menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan.
Sakura buru-buru mengarahkan matanya ke televisi. "Bu-bukan apa-apa!" Perlahan, wajahnya memerah.
"Akui saja, aku memang tampan."
"Bakakashi!" Sakura menjulurkan lidahnya. "Aku baru mengetahui kau bisa bermain piano semahir itu."
"Sebenarnya aku ini serba bisa. Kau mau aku melakukan apa?"
Sakura tidak menjawab perkataan narsis Kakashi dan memutuskan untuk mencuci peralatan makan. "Ngomong-ngomong… Memangnya petugas labotarium SMA sesibuk itu ya sampai harus bekerja di rumah?"
Kakashi menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Penjaga laboratorium itu hanya kerja sampingan. Ini pekerjaanku sesungguhnya..." Sakura mengangguk tanpa ingin bertanya lebih jauh lagi.
"Ah, aku baru ingat. Kakashi, aku menemukan apartemen yang murah dan bagus di dekat stasiun."
Kakashi menghentikan aktivitasnya sejenak. Dipandangnya gadis yang sedang mencuci piring itu.
"Aku rasa aku tidak bisa terus-terusan tinggal disini. Bahaya, 'kan kalau perempuan dan laki-laki tinggal bersama? Lagipula aku tidak mau merepotkanmu lebih jauh..." Sakura merasakan hawa dingin mendekatinya. "Kenapa sih kau hobi sekali muncul tiba-tiba?" Ucap Sakura gusar begitu Kakashi tepat berada di belakangnya dengan kemampuan geraknya yang spesial. Vampir itu bukannya menjawab malah mematikan televisi.
Belum sempat Sakura melancarkan protes, Kakashi mengurung gadis itu sehingga punggungnya menyentuh dinding. Wajah mereka berhadapan dengan jarak hanya beberapa inci saja. Hawa dingin Kakashi menyapu permukaan wajah si gadis merah muda.
"Dengar, Sakura." Kakashi memulai pembicaraan dalam jarak dekat tersebut."Aku sudah bilang akan menjagamu dan aku sama sekali tidak merasa kerepotan atas kehadiranmu."
Sakura terdiam, berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan kegugupannya. Rasanya frekuensi debaran yang melebihi batas normal akan membuat jantungnya melompat pergi.
"Kau takut padaku?" Kakashi memandang iris emerald didepannya lurus-lurus.
"T-tidak!"
"Bagus. Lupakan niatmu untuk pindah karena itu kekanakan sekali. Lagipula aku tidak berniat menyerang anak dibawah umur,"Kakashi menurunkan tangannya yang semula menyentuh dinding. "Kecuali kalau kau meminta, Sakura-chan!" Kalimat terakhir yang dibisikkan tepat di telinga Sakura sukses membuat wajahnya semerah tomat segar.
"Enyah saja kau dasar vampir beruban!"
.
.
.
"Pagi, Sasori-kun. Sudah terbiasa dengan sekolah ini?" Sapa Sakura begitu Sasori datang dan meletakkan tasnya. Sudah sebulan sejak kedatangan Sasori dan pemuda itu meminta Sakura untuk memanggil nama depannya saja. Awalnya Sakura merasa keberatan namun semua orang pun memanggilnya demikian. Karena itu ia ikut memanggilnya Sasori, bukan Akasuna.
"Ya, semua berkatmu," Sasori menunjukkan senyuman yang mampu membuat para gadis berdebar.
Sakura jadi salah tingkah, "kau ini, jangan mengundang salah paham begitu!"
"Memangnya kenapa? Aku tidak keberatan jika itu denganmu,"
Sakura memutuskan untuk tidak melanjutkan obrolannya. Astaga, dasar Sasori! Batinnya. Tanpa disadari seisi kelas memperhatikan keduanya.
"Kurasa kalian serasi! Lihat, rambutmu merah dan rambut Haruno pink! Hahaha," ucap Kiba yang terkenal agak jahil. Sakura berusaha membela diri tapi sepertinya percuma saja melihat Sasori yang hanya tersenyum sambil sesekali tertawa. Teman sekelasnya yang perempuan memandangnya dengan sorot mata iri.
"Hih menyebalkan!" Sakura terpaksa berpindah ke tempat Ino yang agak jauh dari mereka yang masih saja menggodanya.
"Tapi wajahmu memerah, lho…"
=xxx=
Sakura melihat sepasang sepatu Kakashi di depan pintu. Tidak biasanya pria itu pulang mendahuluinya. Gadis itu masuk dan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan vampir tersebut.
"Ah, selamat datang," sapa Kakashi yang tengah berkutat dengan laptopnya.
"Akhir-akhir ini kau sibuk sekali. Apa aku mengganggu?" Kakashi menjawabnya dengan gelengan pelan. Sakura mendekati Kakashi dari belakang. Sakura sedikit penasaran dengan kesibukan pria itu. Namun yang ada hanya tumpukan kertas dengan angka-angka dan layar laptop yang menampilkan kumpulan data beserta grafik yang tidak ia mengerti. Gadis itu menyerah, dan memutuskan untuk membaca novel di kamarnya.
"Ternyata memang tidak bisa!" Kakashi mengeluh sambil merobek beberapa lembar kertas. Sakura yang mendengar ucapan Kakashi keluar dari kamar dan menghampirinya.
"Ada apa?"
Kakashi bergeming. Ia bergantian menatap pekerjaannya dan Sakura. Gadis berambut merah muda itu membalasnya dengan tatapan tak mengerti. Baru kali ini ia melihat Kakashi sekacau itu. Biasanya Kakashi selalu terlihat tenang, bahkan cenderung santai. Tapi kali ini berbeda.
"Akan kubatalkan pekerjaan ini," ucap Kakashi pelan namun masih dapat didengar Sakura.
"He-hei! Apa yang terjadi?" Sakura mencegah Kakashi menjalankan niatnya itu.
"Aku tidak mau meninggalkanmu."
"Meninggalkanmu? Apa maksudnya?" kening Sakura berkerut. "Aku tidak mengerti. Coba jelaskan perlahan."
Kakashi menghela napas panjang. Ia berkata bahwa harus melakukan sebuah pekerjaan yang mengharuskannya meninggalkan rumah selama kurang lebih seminggu. Tadinya ia berniat menyelesaikannya secara jarak jauh dengan bantuan internet dan data yang telah ia kumpulkan selama ini. Namun seperti yang ia keluhkan tadi bahwa pekerjaan tersebut harus ditangani langsung.
"Aku mengerti. Pergilah." Sakura menepuk bahu dingin dihadapannya.
"Apa? Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan kau sendirian."
"Terus bagaimana? Aku tidak mau bolos seminggu."
"Aku akan membatalkan kontrak ini."
Dengan cepat Sakura menggenggam kedua tangan Kakashi yang sedingin es. Ditatapnya bola mata keemasan itu.
"Kakashi Hatake. Aku baik-baik saja. Aku ini bukan bayi yang harus kau cemaskan secara berlebihan. Kau lupa, ya? Aku ini keturunan Haruno, pemburu vampir ternama! Aku bisa menjaga diri!"
Keheningan menghampiri keduanya. Tanpa berkata-kata, Kakashi menarik Sakura kedalam pelukannya. Awalnya Sakura berusaha melepaskan diri namun tenaganya bukanlah tandingan bagi Kakashi. Ia pun terdiam, merasakan pelukan yang dingin namun terasa nyaman.
"Ng, Kakashi? Sesak…"
Kakashi buru-buru melepaskan pelukannya. Keraguan berkecamuk di kepalanya. Di satu sisi ia tidak ingin meninggalkan gadis yang kini berada dihadapannya namun nyawa banyak orang pun bergantung padanya.
"Kalau kau nekat membatalkannya, aku akan benar-benar pergi dari sini," ancam Sakura. Mendengar ancaman tersebut Kakashi tertawa.
"Memangnya kau tahan seminggu tanpaku?"
Sakura melempar bantal tepat di wajah tampan itu. "Cepat pergi, sana!"
"Hahaha,"
"Kapan kau berangkat?"
"hmm, besok pagi."
"Secepat itu?"
"Yah, aku ingin menyelesaikannya secepat mungkin."
=xxx=
Keesokan harinya, Sakura bangun pagi sekali bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Ia berjingkat agar tidak menimbulkan suara. Dilihatnya sosok Kakashi yang wajahnya ditutupi sebuah buku bersampul oranye. Perlahan, Sakura mendekati dapur. Ia berniat membuatkan bekal untuk Kakashi.
Tak lama kemudian kotak bekal yang semula kosong sudah terisi dengan masakan Sakura. Nasi kepal, telur gulung dan ayam goreng serta potongan brokoli dan beberapa tomat ceri memenuhi kotak tersebut. Sakura memandang hasil buatannya dengan puas.
"Kelihatannya lezat. Aku tidak sabar ingin memakannya," ucap suara berat milik seseorang di belakang Sakura.
"Kakashi? Sejak kapan?" Rupanya Sakura tidak menyadari bahwa sejak tadi Kakashi memperhatikannya dari balik buku yang menutupi wajahnya. Vampir tidak butuh tidur, 'kan? Ditambah lagi sepelan suara yang ditimbulkan Sakura saat memasak dapat terdengar oleh pendengaran spesial milik Kakashi. Namun ia menikmati pemandangan itu sehingga ia berpura-pura terlelap.
Tak perlu waktu lama Kakashi sudah siap dengan pakaian formal berupa kemeja dan jas. Sakura sempat terpesona melihat Kakashi, padahal ini bukan yang pertama kali ia menyaksikan pria tersebut memakai jas.
Kakashi mengusap kepala merah muda itu, "jaga dirimu baik-baik."
"Kau juga. Berusahalah semanusia mungkin. Kau tidak lupa membawa stok makanan-mu, 'kan?" Sakura menekankan kata 'makanan' karena yang dimaksud adalah darah yang menjadi asupan Kakashi. Mendengar itu Kakashi tersenyum sambil mengayunkan bekal buatan Sakura.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku. Jangan lupa kunci pintu dan semua jendela. Ajak Ino menginap juga boleh."
"Kau ini seperti ayahku, padahal pakai dasi saja masih miring," Sakura membetulkan dasi berwarna hijau tua yang terlihat miring.
"Kau seperti istriku saja."
"Bakakashi!" Sakura meninju pelan dada Kakashi. Dengan cepat Kakashi memeluk Sakura dan menyapukan bibirnya di dahi gadis itu. Dalam hitungan detik semburat merah mendominasi wajah Sakura.
"Ittekimasu"
.
.
.
"Aku baik-baik saja. Sudah,ya. Jaa~" Sakura menekan tombol merah di ponselnya. Gadis itu kemudian merebahkan diri dan memandang langit-langit kamar. Sudah tiga hari sejak kepergian Kakashi. Meskipun berat mengakuinya namun Sakura merasa kesepian. Padahal Kakashi rutin menghubunginya setiap hari. Sakura mengusap dahinya, mengingat kecupan perpisahan beberapa hari lalu.
"Arghhh!" Sakura menyembunyikan wajahnya yang merah dengan bantal. Mungkin seperti ini rasanya seorang istri yang ditinggal pergi dinas… Sakura menggeleng, lalu tersenyum. Beberapa saat kemudian ia menggeleng lagi tapi senyumnya kembali mengembang. Kondisinya saat itu benar-benar seperti pasien rumah sakit jiwa.
Kakashi Hatake. Siapa sangka bahwa vampir tersebut dapat membuat seorang keturunan pemburu vampir berdebar? Kakashi yang awalnya terlihat aneh nyatanya memperlakukan Sakura dengan begitu spesial. Kakashi yang tampak begitu dingin mampu membuatnya nyaman.
Ting tong…
Sakura tersadar dari lamunannya ketika mendengar seseorang membunyikan bel. Sejenak, ia menebak-nebak siapa yang datang. Jangan-jangan itu orang yang berniat jahat… Batinnya ngeri. Gadis itu mengintip lubang yang ada di pintu. Terlihat seorang pemuda berambut merah berdiri disana. Kecemasan Sakura langsung lenyap, lalu Ia membuka pintu.
"Sasori-kun? Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Sakura sedikit heran. Ia bahkan tidak mengabari Ino perihal apartemen itu.
"Kemarin aku sedang lewat sini dan melihatmu. Kupikir itu orang lain, setelah bertanya kepada petugas apartemen ternyata benar, nona Sakura Haruno," jawab Sasori dengan senyumannya yang khas. Senyum itu begitu tulus dan hangat… Berbeda dengan senyuman Kakashi yang kaku namun menenangkan.
Sakura mengangguk sekali. "Ah, sebaiknya kau masuk. Aku malah membiarkanmu berdiri di depan pintu," Sakura membuka pintu dengan lebih lebar.
"Aku menyukaimu, Sakura"
"Eh?" Sakura sempat tertegun sesaat, kemudian baru menyadari perkataan Sasori barusan. Sasori suka padaku? Ulangnya dalam hati. Rasa senang, malu, sekaligus bingung bercampur dalam benaknya. Entah kenapa sosok Kakashi justru terbayang. "Ehm.. Silahkan masuk, a-aku.."
"Seharusnya kau tidak boleh mempersilahkan lawan jenismu semudah itu, Sakura."
"Benar, tapi kau 'kan bukan sebuah ancaman."
Sakura tidak menyadari, ancaman itu justru berada tepat disampingnya.
"Maafkan aku, Sakura-chan," ucap Sasori sambil menyeringai mengerikan usai memberi satu hentakan keras di leher bagian belakang yang tertutup surai merah muda.
"Sas..."
Gadis berambut merah muda tersebut kehilangan kesadarannya tepat dipelukan Sasori.
=xxx=
Seharian ini Kakashi gelisah. Entah mengapa firasat buruk menghantuinya. Ia hampir kehilangan konsentrasinya saat jam kerja. Berkali-kali ia minta izin untuk menggunakan ponselnya padahal rapat tengah berlangsung. Pria berambut perak tersebut berusaha menghubungi Sakura, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Ia bahkan sempat menghubungi Ino. Katanya, ponsel Sakura tertinggal di rumah, oleh karena itu panggilan Kakashi tidak diangkat. Namun hingga matahari terbenam Sakura masih saja tidak bisa dihubungi.
Akhirnya Kakashi memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Seluruh pekerjaannya disana ia serahkan kepada Izumo, juniornya. Beruntung, ia segera mendapatkan tiket pesawat dan bisa langsung berangkat. Saat di bandara pun ia masih berusaha menelpon Sakura.
"Ambil saja kembaliannya, Pak!" Kakashi memberikan uang kepada supir taksi tanpa sempat menoleh lagi. Sejujurnya ia sangat ingin memanfaatkan kemampuannya sebagai vampir yakni bergerak super cepat, hanya saja pasti tindakannya itu mengundang perhatian banyak orang. Akhirnya ia sampai juga di apartemennya.
"Sakura!"
Tak ada jawaban.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada tanda keberadaan gadis tersebut. Bahkan pendengarannya yang luar biasa hanya menangkap pergerakan dua ekor cicak dan kelelawar yang ada di pohon. Kekhawatirannya semakin menjadi. Ia kembali menghubungi Ino, menanyakan apakah Sakura menginap dirumahnya. Nyatanya Ino mengaku bahwa terakhir kali melihat Sakura saat pulang sekolah siang tadi.
Kakashi mematung ketika melihat sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Pesan singkat yang hanya berisi beberapa kata saja, namun nama sang pengirim yang membuat tenggorokannya tercekat.
.
From: Sakura Haruno
Now, your princess is mine.
.
Kakashi langsung menghubunginya, tak beberapa lama terdengar dering dari dapur. Benar saja, ponsel merah muda milik Sakura tergeletak di meja makan. Kalung dengan bandul bunga sakura yang diberikan Kakashi saat Sakura berulang tahun melingkari benda itu. Kekhawatirannya terbukti.
"SIAL!" Kakashi membanting pintu rumahnya dan tenggelam dalam malam demi mencari gadisnya...
To be continued
oOo Cuap2Author oOo
Selamat pagi siang sore malem pembaca
Selamat tahun baru ayeeey *mecahin piñata*
Sebenernya saya sempat kepikiran untuk tidak melanjutkan fic ini tapi kok rasanya sayang bin nanggung ya soalnya draft endingnya udah ada. Hehe maafin. Chapter ini terinspirasi dari Dengeki Daisy karya Motomi Kyousuke yang tamat di volume 16. Di Indonesia baru terbit sampe 15, tapi author kepo udah sempet ngintip versi rawnya huhu. Gatau kenapa author ngerasa pengen banget masukin adegan 'kabe-don' (mepet ke tembok) yang khas di shojo manga. Huahaha.
Eh tapi ada satu yang bikin author super bete. Sumpah ya kenapa bisa ada sinetron vampir di tv lokal?! R u kidding meehhhh?! Dan dengan ini author nyatakan bahwa fic ini sama sekali tidak ada sangkutpautnya sama sinetron telat puber itu (iyalah orang era Twilight udah lewat dari kapan tau) begitu pula dengan sodara-sodaranya macem Serigala, Harimau, atau apapun itu. Kzl. Zbl.
Yaudah jangan lupa review yes. Jaa nee
Nantikan kelanjutannya yang terbit kapan-kapan
Huahahahahahahahahahauhuahahaahukhuk *keselek*
