"HEAL"

.

NARUTO belong's toKishimoto Masashi

HEAL (c) Aiko Blue

.

.

.

Pada akhirnya Gaara menyudahi ciuman itu karena ia tidak ingin melihat Matsuri mati akibat kehabisan napas. Ia menarik diri, mengambil sejengkal jarak dari wajah Matsuri, perlahan-lahan membuka kedua matanya, meneliti seperti apa ekspresi yang terlukis di wajah Matsuri saat ini. Dan ia melihat merah muda, menjalar sepanjang rahang, pipi hingga kedua telinga gadis itu. kedua matanya terpejam begitu rapat seolah berusaha menyembunyikan diri dari rasa gelisah, belah bibirnya sedikit terbuka, dan basah oleh saliva yang entah milik siapa. Gaara merasakan panas, ia membuang napas dan mengeleng cepat untuk mengumpulkan kesadarannya. Dalam hati bertanya-tanya apakah saat ini wajahnya semerona Matsuri? dan Gaara memutuskan untuk tidak mencari tahu jawabannya.

Satu langkah mundur yang diambil Gaara berhasil memberi spasi wajar di antara meraka. Kedua tangan Gaara memegangi kedua lengan Matsuri. Memastikannya tidak merosot atau ambruk ke lantai. Setelah dirasanya kaki Matsuri sudah mampu memijak dengan pasti, Gaara perlahan-lahan menarik tanggannya, lantas memasukkannya ke dalam saku, karena tanpa alasan yang jelas tiba-tiba ia menemukan termor kecil di sana.

Gaara menghembuskan napas perlahan, ia memejamkan mata sejenak dan membulatkan tekad, lalu kembali membuka kedua matanya. Menespiskan semua perasaan aneh yang semula hinggap, juga mengusir garis-garis ekspresi di wajahnya.

"Aku sudah selesai, kau boleh membuka matamu."

Matsuri membuka matanya hampir terlalu cepat. Mata mereka langsung bertemu dan berbagi satu garis tatapan yang sama. Matsuri bisa merasakan panas di wajahnya, juga basah dan denyut di bibir bawahnya. Ia juga merasakan gejolak aneh di dasar perutnya, banyak sekali perasaan-perasaan ganjil yang menyerang tubuhnya saat ini. Namun apapun itu, Matsuri yakin Gaara tidak merasakannya sama sekali. Karena kali ini Gaara tengah menatapnya dengan eksperei datarnya yang biasa, tak ada raut penyesalan, tak ada gurat kegugupan, tak ada rona di kulitnya. Tak ada apapun yang dapat Matsuri baca.

"Kau ... " Matsuri menemukan suaranya bergetar serak dan nyaris habis tertelan udara. "menciumku." Ia menelan ludah dengan susah payah, setengah mati berupaya menyingkirkan gambaran kejadian beberapa saat yang lalu dari benaknya.

Tatapan yang Gaara berikan tak menunjukkan apapun, pemuda itu mengangguk kecil tanda membenarkan peryataan Matsuri sebelumnya.

"Kenapa?" Matsuri berusaha agar napasnya tidak terputus. "Kenapa kau menciumku?"

Gaara mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Benar, kenapa aku menciumnya? Otak jeniusnya berputar tanpa berhasil emnemukan jawaban yang masuk akal. Sementara Matsuri sepertinya enggan beranjak satu sentimeterpun dari posisinya sebelum Gaara menjawab.

Gaara mengobservasi pemikirannya sendiri. Menyusun hipotesa sebab-akibat mengapa ia mencium Matsuri. Hangover? Tidak, ia tidak dalam pengaruh alkohol. Ia seratus persen sadar. Apa ia hanya berusaha menggoda Matsuri? Tidak, ia bukan tipe orang yang menggunakan sebuah ciuman hanya untuk main-main. Apa itu sejenis gerak reflek? Jelas tidak, Matsuri tadi sama sekali tidak dalam keadaan rentan hingga Gaara harus menariknya dalam sebuah ciuman. Gaara melakukannya secara sadar dan cepat seolah benar-benar berniat melakukannya.

Pada akhirnya Gaara menghela napas. Ia menatap Matsuri lalu mendelikkan bahu. "Aku tidak tahu," Akunya dengan jujur. "Tiba-tiba saja ingin melakukannya.." Yang itu ia tak yakin.

Mendapati ekspresi melongo di wajah Matsuri membuat Gaara tersenyum kemudian membuang napas lega. "Terserah kau mau menganggapnya apa." Satu tangannya keluar dari dalam saku dan mendarat lembut di puncak kepala Matsuri, memberinya beberapa tepukan hangat, kemudian kembali menariknya dan mengulas senyum kecil. "Jika kau merasa ini tidak adil, kau boleh membalasnya kapan-kapan." Lanjutnya dengan nada tenang. "Satu ciuman," Ia berkata degan lugas. "kau berhak memberiku satu ciuman balasan kapanpun kau mau."

...

...

Gaara merasa kepalanya baru saja digilas dalam mesin cuci. Berputar, menggaung, lalu berdenyut-denyut.

Gaara melirik ke arah stoples berisi permen jelly di depannya. Setelah pertarungan beberapa detik dengan dirinya sendiri, akhirnya ia memilih untuk meraih stpoles itu, membukannya, dan menyuap beberapa permen sekaligus. Mengabaikan Uzumaki Naruto yang menatapnya bengong. Gaara tetap melanjutkan aktifitas makan permennya, mengunyah permen-permen itu sekaligus. Alhasil, lidahnya terasa seperti mesin penggiling permen sejuta rasa. Asam, manis, jeruk, stawberry, anggur, dan buah-buahan lain menyatu dalam mulutnya.

Sekitar seminggu belakangan ini, jadwalnya sibuk bukan main. Praktikum, tugas-tugas menumpuk, dan segala jenis yang dilimpahkan Dosen tanpa mementingkan etika dan Perikemahasiswaan. Yang lebih payahnya lagi, insomnianya memilih kambuh di saat-saat yang tidak tepat. Sudah nyaris lima hari lamanya Gaara hanya tidur selama dua jam sehari. Ia yakin wajahnya kini sudah kacau bukan main.

"Dude, you look so ... tired."

Gaara mendengus masam menanggapi kalimat yang barusaja diluncurkan Naruto padanya. Lengkap dengan tatapan mata menyelidik, dan satu alis ditarik naik tinggi sekali.

"Really?" Gaara menjawab, sengaja membuat suaranya agar terdengar ceria dan penuh minat. "Aku bahkan tak merasa lelah sedikitpun. Aku segar bugar." Lanjutnya dengan sinis.

Naruto balas menatapnya sambil memoles senyum miring. Pemuda pirang itu kemudian menyugar rambutnya ke belakang, dan menghembuskan napas panjang. Mengambil spasi dari satu buku tebal di depannya dan memilih untuk bersandar rileks pada kursi. Saat ini mereka sedang duduk berhadapan pada salah satu kursi di dalam perpustakaan Universitas. Jam sudah mengarah tepat pada angka lima dan tiga. Di luar sana, angin mulai berhembus lebih dingin dan menusuk. Peradaban senja mulai mengusir panasnya sinar matahari. Tapi Gaara masih harus menahan dirinya di dalam perpustakaan, bersama buku-buku tebal berbahasa asing yang memuat ilmu mengenai sistem syaraf.

Naruto menatap Gaara sambil menyilang kedua lengannya di depan dada. "Kantung matamu, Gaara, astaga. Kau memang tampan dari sananya, tapi kalau tampilanmu begini terus, bisa-bisa semua penggemarmu berpaling padaku."

Gaara ganti menyempatkan diri untuk mendongak ke arah Naruto sebentar dan mendenguskan tawa kecil. "Aku sama sekali tidak keberatan."

"Whoa..." Naruto berdecak ribut dan menggelengkan kepalanya. "Aku kasihan dengan wanita yang akan jadi istrimu kelak. Hidupnya pasti membosankan karena menikahi seorang lelaki tampan berhati es sepertimu."

"Itu pujian untukku?"

Naruto memilih unttuk menanggapi pertanyaan bodoh Gaara dengan gelenggan kepala, lalu menarik ponsel dari sakunya dan mulai asyik bersama ponselnya sendiri. Sama sekali sudah mengabaikan Gaara ataupun juga tugas esainya.

Gaara menghembuskan napas kecil. Jemarinya bergerak memijat-mijat pelipisnya dengan tekanan yang tidak seberapa kuatnya. Rasa asam dan manis permen jelly masih terasa di mulutnya. Matanya menyipit ketika membaca sederat kalimat di dalam buku. Pandangannya mulai mengabur tanda bahwa matanya benar-benar kelelahan. Gaara harus ektra konsentasi agar tulisan-tulisan dalam buku itu tak mengabur.

Di depannya, Naruto mulai asyik sendiri. Tersenyum seperti orang bodoh sambil menatapi layar ponselnya. Sesekali tampak menyentuh panel keypad dengan tak sabar. Entah apa yang sedang dikerjakannya, Gaara tidak tertarik. Satu-satunya yang masih menyisakan rasa penasaran Gaara terhadap pemuda pirang itu adalah kemampuannya yang tak biasa. Mahasiswa jurusan hukum itu kelihatannya tak pernah mengalami stress yang berarti. Tak peduli berapa ratus judul kitab hukum yang harus dipelajarinya, atau berapa juta undang-undang yang harus dihapalnya. Naruto memang kerap kali kelihatan kalang kabut menghadapi materi kuliahnya, namun ia selalu berhasil mengatasinya. Bahkan ajaibnya, dengan sedikit main-main. Di samping itu, daya tahannya luar biasa, Naruto sanggup bertahan hanya dengan menu ramen. Sama sekali tidak kelihatan kurang gizi atau apa. Ia bisa tidur dimanapun ia mau, dan bangun dengan keadaan dua kali lebih segar meski hanya tertidur selama lima belas menit. Gaara mulai bertanya-tanya, apakah Naruto punya kemampuan membelah diri atau semacamnya?

Lima belas menit kemudian, Gaara akhirnya menyerah. Bola matanya terasa ditusuk besi panas, tidak peduli sekeras apapun ia mencoba membaca kalimat yang tercetak di dalam buku, hal yang berhasil didapatnya adalah pandangan yang kian mengabur dan mata yang semakin berair. Bahkan mungkin saat ini warna matanya sudah tak ada ubahnya dengan warna rambutnya sendiri.

Gaara membuang napas, menutup bukunya, lalu bersandar pada kursi. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit, mencoba lebih rileks. Ia masih harus menyetir pulang. Perjalanan ke kamar apartemennya setidaknya memakan waktu selama dua puluh menit. Jika ia tidak bisa bertahan, maka bisa saja sebelum dua puluh menit, ia sudah lebih dahulu masuk alam baka.

"Gaara, belajarmu sudah selesai?"

Entah Gaara berhkayal atau apa, tapi ia bisa merasakan nada pengharapan dalam pertanyaan Naruto barusan. Gaara mengerling sekilas, dan mendapati Naruto kini tengah menatapnya sambil menanti jawaban. Duduknya tak lagi bersandar, melainkan maju ke arah Gaara dengan satu lengan bertopang pada meja, dan tangan lainnya menggenggam ponselnya.

"Belum," Gaara menjawab dan menghembuskan napas melalui mulutnya. "akan lulanjutkan setelah sampai di apartemen saja."

Naruto memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan agak terburu-buru. Kemudian pemuda itu mendorong tubuhnya maju lebih dekat ke arah Gaara, iris birunya kini berbinar-binar seperti anak kecil. "Apa kau pernah ciuman?"

Gaara nyaris tersedak air liurnya sendiri mendengar pertayaan yang diucapkan Naruto dengan stengah berbisik itu. Namun demikian, ia berhasil mengendalikan dirinya, menata ekspresinya agar tetap normal, dan menegakkan tubuhnya untuk menatap Naruto dengan tenang. "Apa urusanmu?"

Naruto memberinya cengiran lebar. "Aku hanya ingin tahu, sesuatu yang sedang ku rasakan ini memang wajar, atau hanya aku sendiri yang merasakannya."

Pelipis Gaara berkerut, ia memutuskan bahwa Naruto dan berbicara berbelit-belit adalah hal yang amat sangat tidak cocok. "Langsung ke intinya saja."

Naruto jelas sempat mencibik kecil, Gaara bersumpah bisa mendengarnya. "Begini, aku sudah pernah ciuman sejak SMA dulu. Tapi saat itu aku yang dicium. Seorang gadis tiba-tiba saja menciumku—Jangan menatapku begitu, astaga. Aku tidak mengada-ada."

Gaara berpikir sejenak, kemudian mendelikkan dagunya, isyarat kecil agar Narto melanjutkan.

"Aku masih ingat rasanya ciuman pertamaku. Mengejutkan, polos, dan sedikit berdebar. Aku bahkan tidak sempat memejamkan mataku. Rasanya memang cukup bagus. Tapi beberapa hari yang lalu, aku habis mencium seseorang... dan kali ini, akulah yang mencium, aku yang memulainya." Naruto mengemabil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Rasanya luar biasa." Naruto mendesah dan mengacak rambutnya sekilas. "Sungguh berbeda dengan ciuman pertamaku."

Tanpa alasan yang pasti, Gaara merasakan ada sesuatu yang berputar di dasar perutnya, melejit begitu cepat dan mendobrak di dalam sangkar iganya. Ledakan memori dalam kepalanya tak bisa dicegah. Gambaran beberapa waktu ke belakang ketika dirinya mencium Matsuri untuk kali pertama.

Gaara berhasil berdeham untuk mengembalikan suaranya. "Jadi apa intinya?"

"Intinya, jika kau pernah mencium seseorang. Bisakah kau ceritakan padaku apa yang kau rasakan? Karena, oh demi Tuhan!" Naruto menggelengkan kepala dengan begitu dramatis. "Aku hampir gila karena tarus menerus terbayang. Rasanya mirip efek Narkoba, aku ingin melakukannya lagi." Kemudian Naruto mendesah panjang dan kembali membanting punggungnya ke sandaran kursi.

Gaara bernapas perlahan sebelum memutuskan untuk membuka mulutnya. "Ya, aku pernah mencium seseorang." Baru-baru ini, dan dia seorang anak SMA, Gaara masih cukup waras untuk tidak mengucapkan kalimat itu dengan lidahnya. Gaara mengulas senyum tipis ketika Naruto sudah kembali menegakkan duduknya dan menatapnya dengan begitu serius. "Rasanya ... terlalu kompleks untuk dijelaskan."

"Apa dia membalas ciumanmu?" Naruto bertanya dengan suara yang jauh lebih kecil.

Gaara mengerutkan keningnya dan berpikir, lalu ia menghembuskan napas dan menggeleng. "Sepertinya tidak."

Mata Naruto melebar. "Dia menolakmu?"

Gaara berdecak kecil. "Dia tidak menolakku, tapi juga tidak membalas ciumanku."

Mata Natuto kian melebar. "Jadi kau memaksanya?"

Gaara tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melemparkan bolpoin ke ubun-ubun Naruto. "Aku tidak sebangsat itu, astaga."

Keluhan sakit terdengar dari bibir Naruto, pemuda itu menatapnya dengan sengit sambil mengusap kepalanya yang baru kena hantam bolpoin. "Dia tidak membalas ciumanmu dan juga tidak menolak, lantas apa?"

"Mungkin dia terkejut," karena aku juga begitu. "Aku menciumnya nyaris terlalu tiba-tiba."

Selama beberapa saat, Naruto diam tak menanggapi. Lalu pada akhirnya pemuda pirang itu menghela napas panjang dan bersandar rileks. "Kalau begitu tidak akan sama. Gadis yang kucium membalas ciumanku, sementara kau tidak. Maka kasus kita lain. Apa yang kurasakan tidak mungkin kau rasakan."

Mata Gaara menyipit defensif. "Apa kau baru saja menyindirku?"

Naruto menatapnya dengan cengiran lebar permohonan maaf. "Santai, man. Kita bisa berbagi cerita kapan-kapan, ketika kau sudah mendapatkan ciuman balasan."

Dan sebelum Gaara sempat mencerna kalimat Naruto dengan baik, pemuda pirang itu sudah buru-buru mengumpulkan semua buku dan memakai ranselnya, kemudian lekas berdiri. "Aku pulang dulu, jaa ne!" Lalu pergi tanpa rasa penyesalan.

Begitu tersadar, Gaara hanya membuang napas gusar. Bersumpah dalam hati bahwa ia setidaknya harus menggetok kepala Naruto dengan kamus kesehatan saat mereka bertemu lagi. Selanjutnya pandangan Gaara terpaku pada ujung meja yang tumpul, otaknya mulai bekerja merangkai kalimat-kalimat tak masuk akal.

Dia tidak membalas ciumanku.

Mendadak, hatinya tersa gusar. Kenapa dia tidak membalas ciumanku? Bahkan sudah satu minggu ini mereka tidak saling bertemu maupun berkomunikasi. Matsuri juka tidak menghubuginya sama sekali. Apa dia marah? Apa ciuman Gaara sepayah itu?

Gaara mendadak kesal, ia mengacak rambutnnya asal, kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Menggeser keypadnya dengan tidak sabar, lalu menekan tobol panggilan tepat pada nomor atas nama Ishida Matsuri, lantas menempelkan ponselnya pada telinga.

Dering pertama, Gaara mengetukkan kukunya ke permukaan meja.

Dering kedua, Gaara menyugar rambutnya ke belakang dengan tidak sabar.

Dering ketiga, ia nyaris mengumpat karena Matsuri tidak juga mengangkat telponnya.

Dering keempat, Gaara mengusap mukanya kasar.

Dering kelima, Matsuri akhirnya mengangkat.

"Halo"

"Darimana saja kau?!" Sembur Gaara tanpa bisa dicegah, suaranya berhasil menarik perhatian beberapa orang di dalam perpustakaan.

"A ... apa?"

Gaara membuang napas, mencoba lebih tenang. "Di mana kau sekarang?"

"Aku?" Gaara bisa membayangkan ekspresi Matsuri saat ini, gadis itu pasti tengah membulatkan matanya dengan polos dan menujuk dirinya sendiri. "Eh, aku baru bersiap pulang dari toko."

Gaara bergegas merapikan semua bukunya yang tersebar di atas meja. "Tunggu di sana." Ia memberi perintah dengan tegas sambil memasukkan bukunya ke dalam ransel. "Ku jemput."

"Eh? Apa? Ta .. tapi"

"Aku berangkat sekarang. Bye!"

Gaara menutup telponnya dan setengah berlari meninggalkan perpustakaan.

...

Belakangan ini, Matsuri mendapat dirinya memikirkan Gaara pada setap kesemptan yang ada.

Ketika sedang belajar di kelas, makan, hendak tidur, membaca, apapun, setiap ada celah yang membuka kesempatan bagi otaknya untuk memikirkan sesuatu, pikiran Matsuri pasti meluncur dan berputar-putar di satu subjek saja: Gaara.

Kalau dipikir-pikir, ia memang sudah memikirkan pemuda berambut merah itu sejak lama, namun hanya sesekali, misalnya ketika sedang menjaga toko sendirian. Namun entah mengapa belakangan ini pemuda tinggi berkulit pucat itu mengisi benaknya hampir dua puluh empat jam sehari dikurangi waktu tidurnya. Ini konyol.

Diam-diam, Matsuri sering mengamati Gaara, sehingga ia hampir hafal seutuhnya seluruh bagian- bagian seorang Gaara serta tabiatnya. Betapa tegas garis rahangnya, betapa jernih sepasang netra jadenya, samar garis alisnya, bibirnya yang tipis dan begitu jarang mengulum senyum, rambutnya yang terkadang mencuat berantakan, jabrik beberapa ke atas juga jatuh sebagian menutupi kenignya, rambut-rambut tipis di sekitar kumisnya, bagimana ia mengusap dagunya sesekali saat sedang berpikir, menggaruk belakang kepalanya saat sedang gelisah, memejamkan mata sejenak dan menarik napas ketika berusaha mengatur emosinya, bagaimana ia melipat kedua tangannya di depan dada, gestur defensif yang klasik, bagiamana matanya menyipit saat sedang tersenyum, juga bagimana ia akan menarik kelapanya kebelakang ketika tertawa puas memperlihatkan leher jenjangnya berserta tonjolan jakun yang sangat nyata.

Dan semenjak kejadian sekitar seminggu yang lalu. Matsuri berupaya menepik kuat-kuat tiap kali otaknya memikirkan tentang Gaara. Karena semenjak hari itu, ia menyadari bahwa tubuhnya mulai merespon kelewat berlebihan perihal segala hal yang menyangkut tentang Gaara. Perutnya mendadak terasa melilit, jantungnya berpacu tak normal, napasnya menjadi terlalu cepat, dan pikirannya berhamburan seperti kepingan bintang menghantam atmosfer. Semua gelaja itu umum dan mengarah pada satu kemungkinan yang sama sekali tak berani Matsuri suarakan. Membicarakannya saja ia tak ingin. Pasalnya, Gaara terlalu jauh untuknya. Terlalu fiktif untuk menjadi kenyataan. Dan Matsuri cukup tahu diri untuk tidak menggantungkan hati dan perasaannya pada sosok seperti Gaara. Karena itulah ia menghindar. Singkatnya, tiap kali Gaara melintas dalam pikirannya, Matsuri harus langsung memikirkan ataupun mengerjakan hal-hal lain. Mencari-cari kesibukan yang membuatnya tak punya cukup celah untuk dimasuki Gaara.

Lalu lima belas menit yang lalu, tahu-tahu ponselnya bergetar, berkedip, dan berbunyi, menampilkan nama Gaara dalam mode memanggil. Selama beberapa detik nan terasa abadi, ia membeku, tak tahu mesti berbuat apa. Kemudian ia meletakkan ponselnya di atas meja, membiarkan deringnya menyiksa sampai ke belahan jantungnya. Nyaris mati karena menalan gelisah yang berlebihan. Matsuri menggingiti kukunya, berkali kali mingigit bibir bawahnya, dan bahkan memohon agar ponselnya segera mati. Namun pada akhirnya, ia kalah. Bersama satu tamparan nyata di pipi kirinya, ia akhirnya menarik napas dan mengangkat panggilan dari Gaara.

Ia mengalami pergulatan batin yang hebat sampai akhirnya mengangkat telpon dan hanya untuk mendapati Gaara setengah membentaknya bahkan sebelum ia selesai mengucapkan kalimat pembuka. Lalu seolah itu belum cukup, Gaara dengan penuh ketegasan mengiklarkan akan menjemputnya sebentar lagi.

Ting!

—persetan Gaara dengan segala ketepatan waktunya.

Matsuri mencoba untuk bernapas, memberanikan diri untuk menatap sesosok pemuda tampan yang baru saja mendorong pintu toko hingga bergerak terbuka dan membunyikan satu lonceng kecil di atasnya. Gaara menoleh dan pandangan mereka akhirnya bertemu. Matsuri bisa melihat kerutan aneh di pelipis Gaara, serta melihat seberapa merah warna matanya. ia bertanya-tanya apakah mata Gaara habis kemasukan sesuatu hingga membuatnya iritasi, ataukah pemuda itu memang tidak tidur? Lalu Matsuri memutuskan bahwa tidak tidur adalah lebih tepat, ketika melihat betapa menakjubkannya kantung mata Gaara.

Ia bisa melihat Gaara membuang napas kecil, dan melangkah tepat ke arahnya. Selanjunta pemuda itu meraih salah satu pergelangan tangan Matsuri dan menuntunnya memutari meja kasir hingga berdiri tepat di hadapannya. Matsuri mendapati dirinya telah kehilangan suara. Tidak mengerti harus berbuat apa selain berkedip dan bernapas.

"Cium aku."

Dan kalimat itu sama sekali di luar ekpetasinya. "Apa?" Matsuri melebarkan mata, nyaris menganga.

"Cium aku." Kata Gaara tidak sabaran. "Cium aku sekarang." Ia terdengar mendesak.

Matsuri berusaha keras menjaga diri agar tetap terasadar dan berdiri tegak. Ia ingin sekali balas berteriak. Bunuh aku. Bunuh saja aku sekarang! Namun suaranya terkunci di tenggorokan dan tak mau keluar.

"Kau pasti mabuk." Matsuri akhirnya berhasil bersuara, mengalihkan pandangannya dan menghela napas, berusaha melepaskan pengangan Gaara pada pergelangan tangannya.

Gaara meraih dagunya, membuat Matsuri harus kembali menatap mata Gaara. "Kenapa kau tidak mau menciumku?"

Kami-sama, ada apa dengan otak Sabaku muda ini? Matsuri meengeluh dalam hati. Kenapa kelakuannya aneh sekali sih? Apa Gaara bermaksud mempermainkannya? Menggodanya? Mencoba mencari hiburan mode baru? Apa isi pikiran Gaara sebenarnya? Matsuri ingin bisa mengintip ke dalamnya barang sebentar saja.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin kucium?"

Satu hal yang dipelajari Matsuri untuk menghadapi Gaara adalah bertindak cerdas. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.

"Untuk membuktikan bahwa aku bukan orang bangsat."

"Hah?" Kening Matsuri berkerut. Ia sukses dibuat bingung.

Gaara memasang ekepresi frustasi yang tak pernah Matsuri lihat sebelumnya. "Cium saja aku, cepatlah."

Apa kepalanya habis terbentur sesuatu? Mendadak Matsuri merakan kompikasi perasaan yang merupakan gabungan dari penasaran, prihatin, gugup, dan juga bingung. Ia menggeleng cepat-cepat, lalu menguatkan tekad untuk menatap sepasang mata Gaara. "Aku tidak mau." Katanya berusaha terdengar tegas.

Ekspresi di wajah Gaara menjadi semakin keruh. "Jadi, aku benar-benar orang bangsat?"

Matsuri menghela napas depresi, kehilangan akal atas misi Gaara sebenarnya. Sungguh, tak bisakah Gaara membuat segala lebih mudah? "Kau tidak bangsat, oke?" Matsuri berkata seraya menyingkirkan tangan Gaara dari dagunya. "Kau baik." Ia berusaya menyematkan senyum wajar di ujung kalimatnya, juga setitik harapan agar percakapan aneh di antara mereka ini segera berakhir.

"Lalu kenapa kau tidak mau menciumku?"

Karena menatapmu saja jantungku sudah tak karuan, apalagi menciummu."Aku tidak ingin dianggap murahan."

Alis Gaara berkerut tak suka. "Aku tidak pernah menganggapmu murahan."

Matsuri mengigit bibir bawahnya, tidak tahu harus menjawab apa. Mendadak ujung sepatunya jadi lebih menarik untuk ditatap dari pada pandangan mengintimidasi Gaara. Tapi Gaara lagi-lagi tak mengijinkannya melarikan diri. Pemuda itu menempatkan kedua tangannya di masing-masing bahu Matsuri dan membimbingnya agar tetap bertatapan dengannya.

"Jadi kalau aku bukan orang bangsat, dan kau tidak murahan. Kenapa kita tidak bisa berciuman?"

Matsuri jadi ingin merengek. Ia menarik napas panjang, dan memejamkan mata, menghitung sampai tiga lalu membuka matanya dan menghembuskan napas perlahan. "Aku mau pulang." Ujarnya setengah memohon.

Selama beberapa saat, Gaara hanya mresponnya dengan tatapan penuh pertimbangan. Seolah ia sedang berusaha menebak makna dibalik kalimat yang barusaja Matsuri ucapkan. Ia berpikir begitu dalam dan penuh kesungguhan, sampai akhirnya membuang napas kecil dan mengangguk.

"Baiklah, ayo pulang."

...

Perjalanan pulang ke kamar sewa Matsuri lebih banyak dilingkupi dengan keheningan. Kadang rasanya akan jadi terlalu konyol jika mereka menghela napas secara bersamaan, kemudian melirik, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Lalu ketika mobil Gaara akhirnya berhenti di depan bangunan yang Matsuri tinggali. Keduanya sama-sama terdiam lama tanpa melepaskan sabuk pengaman. Larut dalam pikiran masing-masing. Situasi sejenis ini adalah satu dari sekian banyak hal yang membuat Matsuri depresi.

Akhirnya, gadis itu menghela napas panjang. Ia menguatkan tekad, dan mencoba memilin satu demi satu benang-benang keberaniannya untuk menoleh ke arah Gaara dan mulai berbicara.

"Terima kasih sudah mengantarku." Ia menelan ludah, dan mengambil napas. "Ku rasa kau perlu lebih banyak istirahat. Kau kelihatan ... " Ia mengernyitkan alis, tidak tahu kata-kata apa yang jauh lebih sopan daripada "Kacau." Menggingit bibir bawahnya kecil karena mendapati tatapan menyipit dari Gaara. "Luar biasa kacau." Matsuri memutuskan untuk berkata jujur.

Selama tiga detik yang begitu menengangkan, Gaara tak memberi respon macam apapun. Tak marah, tidak pula balas berkomentar. Sampai kemudian helaan napas panjang keluar dari mulutnya, pemuda itu memijat jarak di antara kedua matanya singkat seoah ingin mengusir pusing, juga menghapus segera beban yang menumpuk memenusi seisi kepalanya. Kemudian ia kembali bertatapn dengan Matsuri.

"Kau benar. Aku perlu istirahat." Ia berkata, dan menyadari betapa tenggorokannya terasa mulai sakit tiap kali ia menarik suara. "Aku praktis bakal menabrak sesuatu jika menyetir lima menit lagi."

Matsuri mendelikkan bahu, sama sekali tak terkejut atas pengakuan Gaara padanya. Ia bukan ahli dalam bidang medis, namun sekilas saja melihat Gaara, Matsuri bisa menebak dengan sangat yakin bahwa Gaara akan segera kolaps. Jadi gadis itu memilih untuk melepaskan sabuk pengamannya dan dengan tenang berkata.

"Istirahat sebentar di tempatku. Aku bisa membuat teh."

Dan Gaara yang membuang napas kecil seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangan, kemudian melepas sabuk pengaman adalah sudah lebih dari cukup sebagai jawaban persetujuan atas ucapan Matsuri sebelumnya.

Mereka berjalan bersisian sampai ke depan pintu Matsuri. Dan ketika anak kunci memasuki lubang pintu, tanpa peringatan, sekelebat memori itu terulang kemabali dalam kepala Gaara. Kali terakhir ia menginjakkan kakinya di tempat ini adalah ketika tanpa permisi ia merenggut satu ciuman dari bibir Matsuri. Kepalanya mendadak terasa sejuta kali bertambah pening dari sebelumya. Ada kegelisahan tak masuk akal yang menyerang relung hatinya bertubi-tubi.

Dan ketika Gaara memberanikan diri untuk menoleh ke arah Matsuri, ia mendapati satu lagi kenyataan tak menyenagkan bahwa Matsuri langsung membuang mukanya ke arah lain. Menolak untuk bertatapan dengan Gaara. Melihat hal itu, Gaara mendenguskan senyum getir. "Ternyata benar, aku memang bangsat."

Matsuri buru-buru menoleh ke arahnya, kedua matanya membelalak lebar dan tak percaya akan kalimat yang diucapkan Gaara sebelumnya. Meski datar, namun getir itu terasa nyata. Tajam, dan pekat seperti racun.

Gaara menyugar helaian rambutnya ke belakang sekilas, kemudian membuang napas. "Aku pulang saja." Ia memutuskan.

Matsuri buru-buru menggeleng. "Tidak, jangan." Ia berusaha tidak kedengaran panik. "Kau seratus persen kelelahan, kau bisa langsung kolaps bahkan sebelum sempat menggapai pintu mobilmu."

Gaara menyungingkan seulas senyum pahit dan dingin. "Jadi selain bangsat, aku juga lemah?"

Matsuri nyaris menepuk jidatnya sendiri, ia gagal memahami apa yang membuat Gaara jadi begitu sensitif saat ini. Dan ia sama sekali kehilangan ide untuk berpikir bagaimana cara menghadapi Gaara yang seperti ini. Ia tak ingin Gaara salah paham padanya, ia juga tak ingin Gaara celaka karena memaksakan kondisi tubuhnya untuk menyetir.

"Sudahlah, aku pulang sekarang." Gaara membalikan tubuhnya lalu melangkah menuju pintu. Sudah kelelahan untuk berdebat ataupun memaksa, ia hanya ingin cepat sampai di apartemennya dan istirahat dengan tenang. Mungkin ia bisa menelan pil tidurnya banyak-banyak agar terlelap sampai besok. Namun baru dua langkah berjalan, Gaara merasakan tangannya ditahan. Seseorang dengan telapak tangan yang lebih kecil, namun terasa lebih hangat menggenggam jemarinya dengan lembut, kemudian memberikan sentakan kecil, dan menariknya kembai mundur. Gaara belum sempat memprotes ketika Matsuri dengan tiba-tiba meraih tengkuknya untuk mendekat, lalu berjinjit dan mencium bibirnya yang kaku. Gaara mengerjab. Segala pening yang semula menghinggapi kepalanya menghilang. Ekspresi Matsuri membuatnya begitu ingin tertawa. Dengan semburat merah muda memenuhi seluruh bagian wajah hingga telinganya, mata yang terpejam begitu rapat serta alisnya yang menukik tajam dan bergelombang di ujungnya membuat Gaara mau tak mau tersenyum.

Setelah beberapa saat, akhirnya Matsuri menarik diri dan melepskan kontak lembut itu.

"Itu," Matsuri mengambil jeda kemudian mengambil napas dan menatap Gaara lebih serius. "Apa itu sudah cukup? Aku baru saja menciummu, jadi kau bukan orang bangsat." Gaara tahu saat ini Matsuri sedamg berusaha keras untuk tetap menahan matanya agar berfokus pada Gaara. Gadis itu bahkan mungkin juga sedang berusaha keras menahan kakinya agar tak berlari pergi. Gaara menikmati momen ini. "Jadi duduklah sebentar."

Cukup lama Gaara membiarkan dirinya terdiam tak merespon, menikmati tiap gurat ekspresi yang tergambar nyata di wajah polos Matsuri, sampai pada akhirnya ia memiringkan kepala sedikit, menunduk dan mendekat pada wajah Matsuri, memasang wajah sedatar mungkin. "Ishida Matsuri, kau nakal." Katanya berusaha terdengar seperti guru konseling. "Kau tidak seharusnya menciumku tiba-tiba seperti tadi." Kemudian ia tersenyum dan kembali menegakkan tubuhnya.

"Kau juga menciumku tiba-tiba!" Matsuri memprotes. Kemudian tersadar bahwa apa yang dikatakannya itu memalukan, ia segara mengigit bibirnya dan menunduk dalam. "Aku akan keluar sebentar, kau tunggulah di sini." Ia mengucapkan kalimat itu dengan begitu cepat seolah tanpa spasi, kemudian mengelos pergi begitu saja meninggalkan Gaara yang sukses dibuat gemas.

Setelah Matsuri benar-benar menghilang di balik pintu, Gaara akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Ia tidak mengerti mengapa bisa perasaan dan tubuhnya terasa lebih ringan. Ia memang masih merasa sangat kelelahan, tapi kali ini tubuhnya terasa lebih rileks, tidak sekaku seblumnya. Tak ada lagi gundah yang menghimpit dadanya. Ia bisa nernapas lega.

Pemuda itu kemudian berjalan ke dekat tempat tidur Matsuri, ia merasakan sensasi lembut dan hangat ketika talpak kakinya memijak karpet pemberiannya yang terpasamg di dekat ranjang. Gaara akhirnya memutuskan untuk duduk. Menyelonjorkan kedua kakinya kemudian memijat tengkuknya ringan. Dan setelah beberapa saat mengamati kamar Matsuri, Gaara mulai merasa pungungnya pegal. Ia akhirnya memilih untuk berbaring sejenak di atas karpet. Mendesahkan napas begitu merasakan betapa nyaman rasanya berbaring di sana, ia jadi berpikir apakah sebaiknya ia menarik kembali karpet itu dari tangan Matsuri? Ia menatap langit-langit, mendapati stiker-stiker berbentuk gugusan bintang, ia teringat belum sempat mengatakan kepada Matsuri bahwa stiker itu bisa menyala dalam gelap. Kemudian ia teringat percakapannya dengan Naruto beberapa saat yang lalu, tugasnya yang menumpuk, terakhir entah datang darimana namun Gaara teringat akan Temari, kakak perempuannya, lantas ia memejamkan mata, dan lelap menjemputnya ke dalam mimpi.

Bebrepa menit kemudian Matsuri muncul dari balik pintu bersama satu kantung plastik kecil berisi beberapa camilan. Ia sudah membuka mulutnya berniat menyapa Gaara kekita matanya mendapati Gaara tengah terlelap damai di atas karpet. Matsuri tertegun. Ia menutup kembali mulutnya, berdiri di ambang pintu selama beberapa saat, dan membiarkan dirinya meikmati momen memandamgi betapa tampan paras Gaara ketika sedang terlelap. Tarikan napasnya teratur, semua kerut gelisah di wajahnya menghilang, ekspresinya begitu tenang dan manis. Garis ketampanan yang terukir tanpa cela. Tak ada tatapan tajam dan galak, tak ada seringai getir di bibirnya. Matsuri menghela napas, berjalan memasuki kamar apartemennya dengan begitu hati-hati, kemudian setelah beberapa saat berdebat dengan pemikirannya sendiri, ia akhirnya memutuskan untuk menutup pintu.

.

Pukul sembilan malam, Gaara masih belum terbangun. Matsuri sudah mencoba memanggilnya berkali-kali, menepuk-nepuk pipinya, atau juga mengoyangkan tubuhnya pelan, namun reaksi paling banter yang diperlihatkan Gaara hanya mengeluh kecil, kemudian kembali terlelap seolah samasekali tak terganggu.

Matsuri sudah menyelesaikan makan malamnya, ia bahkan sudah mengerjakan semua PRnya, tapi Gaara tidak juga bangun. Ia semepat berniat untuk menyiramkan air ke wajah Gaara agar pemuda itu terbangun, namun relung hatinya bergetar tak tega. Pasalnya, Gaara benar-benar terlelap seolah sangat merindukan tidur. Jika mengingat seperti apa rupa Gaara ketika memasuki toko sore tadi, Matsuri otomastis tak tega membangunkan tidurnya. Ia bisa tahu bahwa Gaara pasti sudah kehilangan banyak jam tidurnya.

.

Pukul sepuluh malam, Matsuri mulai mengantuk. Ia menyerah membangnkan Gaara. Makin lama, Gaara seolah makin susah dibangunkan. Akhirnya Matsuri memutuskan untuk mengambil sehelai selimut untuk menyelimui tubuh Gaara, meletakkan satu bantal di bawah kepalanya. Ia mengambil waktu sejenak untuk mengamati paras Gaara dari dekat, menahan jemarinya agar tidak menelusuri lekuk wajah Gaara. Ia melihat dengan seksama betapa tegas garis rahang Gaara, beralih pada keningnya yang tertutupi sebagian rambut, Matsuri memberanikan diri untuk menyeka rambut merah Gaara yang menempel pada keningnya dengan hati-hati, kemudian ia merasakan gejolak aneh ketika mendapati kening Gaara terekspos di depan matanya, Matsuri lekas menarik tangannya.

Ia beralih mengamati kelopak mata Gaara yang terpejam, hidung bangirnya, turun ke kumis tipisnya, kemudian sampai pada belah bibirnya. Dan kenagan itu datang menyerbu. Matsuri merakasan wajahnya memanas mengingat bagiamana sensasi ketika bibir itu bertemu dengan bibirnya. Aroma mint yang dibawa Gaara setiap kali mereka berciuman, dan rasa dingin juga kembutan yang Gaara bawa untuknya. Tanpa sadar, Matsuri meraba bibirnya sendiri, mengingat-ingat kembali ciuman mereka beberapa saat yang lalu. Ia merasa begitu malu karena mencium Gaara lebih dulu, namun juga merasa senang di saat yang bersamaan karena Gaara tatap menyempatkan diri untuk membalas ciuman bodohnya. Hanya lumatan kecil, namun begitu lembut dan menenangkan. Matsuri bertanya-tanya, sehebat inikah rasanya berciuman? Teman-temannya psati sudah mengalaminya puluhan kali. Pantas saja gadis-gadis di kelasnya suka sekali bergosip membahas pacar. Sebelumnya, matsuri selalu berpikir bahwa hal itu menjijikan. Berbagi bibir dengan orang lain, saling menempel hingga bisa merasakan napas satu sama lain. Namun saat sudah benar-benar merasakannya, ia justru ketagihan.

Matsuri menggeleng cepat-cepat, mengusir segala pemikiran aneh di dalam kepalanya. Ia berdiri dan meraih segelas air, meninumnya dengan terubu-buru demi menjernihkan pikirannya. Ia menatap Gaara sekali lagi, dan menghembuskan napas panjang. Setelah menguap, ia memutuskan untuk naik ke kasur dan bersiap untuk tidur.

...

Gaara mengulet kecil sebelum akhirnya membuka mata. Ia berkedip-kedip untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah cahaya lampu, lalu puluhan stiker berbentu bintang, kemudian perlahan-lahan pikirannya mulai tersadar. Ia mengumpat, bisa-bisanya ia tertidur di tempat Matsuri. Pemuda itu mengangkat tangan kirinya, melirik angka pada perputaran waktu yang melingkar di sana. Sudah pukul setengah tujuh pagi. Bagaimana bisa ia tertidur seperti dibius?

Gaara menggerang kecil, berbalik dan langsung mendapati Matsuri tertidur di atas ranjang dengan posisi miring menghadapnya. Gaara tertegun. Ia sudah dua kali melihat Matsuri tertidur. Dan ajaibnya Gaara selalu sukses dibuat terdiam. Meski engan mengakui, namun Gaara juga tidak dapat menyangkal kalalu wajah polos Matsuri yang tertidur mendadak menjadi semanis malaikat. Gaara menghembuknan napas pendek, mengusir semua pemikiran aneh yang melayang-layang di kepalanya. ia kembali membalikkan badan, dan menutup mata dengan sebelah tangannya. Mengumpulkan tekad sejenak untuk kemudian bangkit duduk.

Gaara melakukan peregangan otot singkat, merasa takjub betapa hari ini tubuhnya benar-benar terasa sangat baik. Matanya tak lagi terasa panas, sendi-sendinya tak kaku meski ia hanya tidur beralaskan karpet, ia luar biasa bugar seolah barusaja terapi.

Gaara mengusap wajahnya sekilas dengan telapak tangan, lalu menarik keluar ponsel dari dalam saku celananya. Ini hari Minggu. Dan sepagi ini ia sudah mendapati tujuh pesan masuk atas nama Uzumaki Naruto. Gaara mendengus, membuka kotak chat dari Naruto.

Hei, dokter. Jangan lupa kegiatan kita hari ini.

Gaara, jam 8 pagi.

Kau sudah menyiapkan donasinya kan?

Panti Asuhan Hana Kotoba, 5 km dari persimpangan Shibuya. Kalau-kalau kau lupa alamatnya

Gaaraaaaa... apa kau sudah bangun?

Gaara, kau harus datang!

Dokter, kali ini tolong kenakan pakaian yang sedikit ceria. Kita mebgunjungi anak-anak, bukan kamar mayat.

Sial, Gaara mengumpat kecil, ia lupa hari ini punya agenda kegiatan santunan bersama beberapa temannya ke panti asuhan. Tepat saat Gaara ingin mengetik pesan balasan untuk Naruto, Matsuri mengulet kecil dan terbangun.

Gaara membatalkan niatnya, ia beralih menmandangi Matsuri yang masih mengulet nyaman di tempat tidurnya, sampai akhirnya benar-benar membuka mata. Pandangan mereka kemudian bertemu dengan sedikit cangung. Matsuri tersadar cepat kemudian buru-buru duduk tegak di atas tempat tidurnya.

"Kau sudah bangun?"

"Kelihatannya bagaimna?"

Matsuri mengerucutkan bibirnya sebal. "Kau tidur seperti mayat."

Gaara memutar bola matanya. "Laguange, Matsuri. Sopanlah sedikit, aku lebih tua darimu."

Matsuri memaksakan seulas senyum. "Maaf, Tuan Muda Sabaku." Katanya dengan nada sopan yang dibuat-buat.

Gaara menanggapinya dengan sebuah dengusan kecil, kemudian jemarinya bergerak menyugar rambutnya kebelakang. "Apa aku benar-benar tidak bisa dibangunkan?"

"Eh?" Matsuri berkedip-kedip, kemudian memahami ucapan Gaara dan mengangguk. "Aku sudah mencoba membangunkanmu sejak pukul delapan kemarin malam." Gadis itu berkata sambil merapikan selimutnya. "Tapi kau benar-benar tidak bisa diganggu. Sama sekali." Ia mengelengkan kepalanya sebagai bentuk penegasan.

Kening Gaara berkerut, ia memutuskan untuk ikut merepikan selimutnya. "Aneh," Katanya sambil berpikir. "Tidak biasanya aku sulit dibangunkan." Karena menang biasanya suara atau pergerakan sekecil apapun akan membuat Gaara segera tersadar dari tidurnya. Dan lagi, ia tidak pernah tidur dalam jangka waktu selama ini. Insomnia tidak mengizinkannya tidur lebih dari empat setengah jam.

Matsuri selesai melipat selimutnya, gadis itu mendelikkan bahu. "Mungkin itu karena kau sangat kelelahan. Sampai-sampai tubuhmu sendiri menolak untuk bangun."

Gaara tersenyum jahil. "Atau mungkin, karena kau habis menciumku sampai-sampai aku bisa tertidur begitu lelapnya."

Matsuri memerah sampai akar rambut, ia melemparkan satu bantal yang sukes mendarat di wajah tampan Gaara dengan kesal. "Berhentilah menggodaku!" Katanya dengan bersungut-sungut. "Kau bukan Putri Tidur, mana ada yang seperti itu."

Gaara tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh kecil. "Tentu saja bukan." Ia melemparkan kembali bantal kepada Matsuri yang langsung bisa ditangkap tanpa lebih dahulu mendarat di wajahnya. "Jika Aurora butuh sebuah ciuman untuk membangunkannya, maka aku butuh sebuah ciuman untuk membuatku tertidur." Gaara tersenyum miring mendapati ekspresi Matsuri yang begitu menggemaskan. "Mungkin, aku ini seorang Pangeran yang dikutuk mengidap imsonnia akut. Kutukanku baru bisa terangkat seandainya ada seorang putri baik hati yang rela menciumku—"

"Aaaah! Jangan dilanjutkan!" Matsuri berkata sambil menutup telinganya. "Sudah cukup menggodaku pagi ini, Gaara! Aku tidak mau dengar dongeng anehmu itu." Ia melotot galak. "Aku bukan seoraang putri."

Gaaara menunduk memegangi perutnya dan tertawa. "Astaga, sejak kapan menggodamu jadi semenyenangkan ini sih?"

Matsuri melotot tambah galak, kemudian merebut selimut dan bantal dari tangan Gaara, dan menyusunnya dengan kesal di atas tempat tidurnya. Ia berdiri tepat di hadapan Gaara yang masih duduk mendongak memandangnya. "Kau ini tidak berperasan sama sekali." Katanya sambil menyilang tangan di depan dada. "Kau menganggap semuanya permainan kan? Kau sudah mencium puluhan gadis selama ini, dan hal yang kau lakukan padaku sama sekali tidak ada artinya untukmu. Hanya lelucon." Nada bicara Matsuri yang berubah getir dan kecewa, membuat senyum dan tawa Gaara seketika pupus. Gadis itu menarik napas berat. "Tapi itu pertama kalinya bagiku, Gaara." Matsuri mengalihkan pandangannya, dan Gaara bersumpah bisa melihat bola mata gadis itu mulai bekaca-kaca, membuatnya mulai merasa tak nyaman. "Yang sedang kau mainkan itu, sama sekali tidak lucu bagiku."

Gaara terkesiap. Sama sekali tak menyangka Matsuri akan berkata demikian. Seberkas rasa bersalah tiba-tiba memenuhi dirinya. Menyesap jauh sampai ke dalam tiap pembuluh darahnya. Sesak. Paru-parunya tersumbat. Seluruh pasukan oksigen seolah tak cukup untu melegakan napasnya.

Gaara berdeham kecil, dan berusaha agar perasannya kembali terkontrol dibahwah garis normal tanpa drama.

"Bukan begitu, jangan salah paham."

Matsuri tersenyum getir, masih enggan memandang ke arahnya. Dan Gaara tak dapat mengabaikan segaris bayangan kekecewaan yang terpantul di kedua mata Matsuri. Hal itu sama sekali tidak membuat perasaannya menjadi lebih baik.

"Matsuri, dengar—"

"Sudahlah. Kau boleh per—

"Lihat aku!" Sentakan Gaara yang tiba-tiba pada pergelangantangannya membuat Matsuri terkesiap dan terdiam menatapnya kaget. Ekspresi Gaara mengeras sejenak, kemudian ia membuang napas, dan tatapannya kini melunak. Ia bangkit berdiri tanpa melepaskan pergelangan tangan Matsuri. "Dengar," Ucapnya dengan nada lebih tenang, ia menatap tepat ke sepasang manik mata Matsuri. "Itu juga pertama kalinya bagiku." Katanya dengan sungguh-sungguh. "Kau yang pertama, juga kedua kalinya untuk kemarin sore."

Gaara mendesah kemudian mengacak rambutnya frustasi. "Apa yang kubicarakan?" Ia mulai merancau. Pemuda itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan kembali menatap Matsuri. "Pokoknya, tolong percayalah padaku. Aku juga tidak mengerti ini apa, tapi aku yakin tidak sedang bermain-main."

Sorot matanya sama sekali tak menampilkan dusta barang setitik saja, penuh kesunghuhan yang tak pernah dilihat Matsuri sebelumnya. Ditatap seperti itu oleh Gaara mau tak mau membuat dada Matsuri berdesir aneh. Ia menutup wajahnya dengan satu tangannya yang bebas. Mendadak merasa malu tanpa alasan.

"Kita sudahi saja topik ini, kumohon.."

Gaara bisa merasakan bahwa saat ini mereka berdua diliputi aura canggung yang anehnya terasa sedikit menyenangkan. Sensasi aneh yang berputar di sekitar perutnya, berderap naik seperti kepakan sayap sejuta kupu-kupu sampai ke rongga dadanya. Ada hangat yang menjalar, namun juga titik-titik beku di saat bersamaan. Ia tahu jantungnya tengah berdegup tak wajar saat ini, namun ia tak ingin menghentikannya.

Pada akhirnya, Gaara berdeham kaku. "Baiklah," Ia menyetujui ucapan Matsuri untuk menyudahi topik sebelumnya. Namun demikian jemari tangannya bertindak anomali. Gaara justru menggerakkan jemarinya dari pergelangan tangan hingga mencapai jari-jari Matsuri yang lebih kecil. Menyelisipkan jemarinya di anatra sela-sela jemari Matsuri, menggenggamnya erat, menautkannya rapat, menekannya dengan lembut dan hangat. Mereka berpegangan tangan tanpa saling memandang.

"Aku masih boleh menciummu, kan?"

...

...

...

Lelaki bersurai merah gelap itu mengetukkan keemapat ujung jari tangannya ke permukaan meja dalam ketukan bertempo konstan. Menghasilkan irama dingin yang dipantulkan oleh dinding-dinding ruangannya. Rahangnya terkatup begitu rapat. Bibirnya membentuk satu garis yang lulus horizontal. Mata tajamnya berkilat dingin, namun sarat emosi. Membuat seorang utusan yang berdiri di hadapannya bergidik ngari dan menunduk dalam.

Ia menatap utusan itu lekat-lekat. Lalu mengibaskan tangannya ringan dan dingin. Sang utusan paham, mengangguk kecil, membungkuk hormat, dan mundur menjauh. Lelaki itu membuang napas pendek. Satu tanggannya ditekuk, siku bertumpu pada permukaan meja, punggung tangan menopang dagu runcingnya.

Mata tajamnya menatap lurus ke arah tiga orang bertubuh tinggi-besar yang berdiri di sudut ruangannya. Memberi perintah dengan tatapan mata agar mereka berjalan bawahannya paham benar makna tatapan itu. Patuh, adalah hal menyehatkan yang mereka pilih.

"Singkirkan anak itu."

Suaranya dingin dan tajam. Kental akan keabsolutan yang agak keji.

Tiga lelaki yang berdiri di hadapannya itu mengangguk paham. Membungkuk sopan, dan berjalan mundur beberapa langkah, setelahnya bergegas pergi menjalankan misi yang baru saja diberikan.

Begitu tak ada siapa pun selain dirinya dalam ruangan itu. Julian mendengus gusar. Menarik revolver yang tersimpan di dalam lacinya. Mengarahkan ujung senjata yang bisa berarti lubang awal kematian itu tepat ke arah sebuah vas bunga yang berdiri manis sepuluh metar dari posisi duduknya. Menarik pelatuk senjatanya dalam garak cepat. Dan hanya sepersekian detik berselang sampai suara pecahan keramik mahal itu memecah keheningan ruang kerjanya.

"Berengsek!"

Senyum dingin menghias bibirnya.

"Kau pikir aku membesarkanmu untuk main-main dengan sampah, Gaara?" Satu jarinya menyapu permukaan revolver yang berasap. "Maafkan ayahmu ini, tapi ini saatnya membuang sampah dan mencuci tanganmu, Anakku Sayang."

...

tbc

...

a/n: Holaaaaa~ sebenarnya saya ingin cepat membawa cerita ini pada bagian akhir. Tapi akan terlalu plot twist kalo dipaksa wqwq. Jadi, tolong buka hati kalian lebih lebar, dan bersabarlah meniti jalan cerita ini yaa, hiksu :')

Maaf belum sempat balas review (Agustus itu bulan yang sibuk T.T) tapi saya sudah baca semua kok, hehe. Terima kasih atas segala dukungan, kesabaran, dan penantian kalian, aku terharu :"

Terima kasih, dan sampai ketemu di chapter selanjutnya. Review please? ;)