MY QUEEN
Cast: Kim JaeJoong, Jung Yunho, Kwon Boa, Park Yoochun, Kim Junsu, Tony Hong, Song Ji Hyo, Cho Kyuhyun, Choi Siwon. Dan akan bertambah seiring
berjalannya cerita.
Dont Like Dont Read
Happy Reading!
-Chapter 4-
Gemerlap dunia malam dan musik yang menghentak serta gambaran lautan manusia yang sedang sibuk meliukkan tubuh mereka menjadi pandangan biasa bagi jaejoong.
Disini ialah divanya, hampir semua pria yang datang ke club malam tony menggilainya bahkan mengejarnya.
Semula jaejoong hanya menjadi pengantar minuman sama seperti kyuhyun, namun seiring berjalannya waktu semua berubah, bukankah sudah ku katakan jaejoong yang sekarang bukanlah jaejoong yang dulu.
Jaejoong yang sekarang lebih berani dengan menyambut para tamu, menemani mereka minum hingga mengomel jika seseorang berbuat ulah.
Hampir semua pengunjung klub malam tony mengenalnya, itu sebabnya tony tidak merasa khawatir jika sewaktu-waktu dirinya terlibat pekerjaan di luar kota, karena jaejoong mampu menghandel clubnya tentu saja.
"jaejoong-ah, lama aku tidak melihatmu, woaah kau semakin menawan saja." puji salah satu pelanggan club.
"tch, memangnya aku kemana? bukankah setiap malam aku ada disini? kau saja yang sudah jarang minum disini." balas jaejoong dengan gerutuannya membuat sang pelanggan berdecak gemas.
"iya maafkan aku~ aku harus terbang ke jepang untuk mengurus sesuatu belakangan ini."
"ku pikir kau akan menikah?" celetuk jaejoong sambil meletakkan tequila di depan pria tersebut.
"eeei- aku akan menikah jika kau mau menikah denganku." gurau sang pelanggan.
"dalam mimpimu choi seunghyun pabbo." ujar jaejoong melempar bungkus rokok seunghyun yang baru di ambilnya sebatang.
Seunghyun hanya berdecak menatap jaejoong yang tengah menyalakan putung rokoknya dan mengirup asapnya kuat-kuat.
Tepat saat itu kyuhyun datang dan ikut bergabung dalam obrolan mereka.
"jangan terima lamaran si brengsek ini jae, aku tahu dia sudah melamar kekasih sexy-nya si haraboomie." ujar kyuhyun menyamankan duduknya di sofa yang membuat seunghyun berdecak sebal.
"apa suamimu yang mengatakannya padamu adik ipar?"goda seunghyun pada kyuhyun.
"tentu saja siapa lagi memangnya suamiku jika bukan adik idiotmu itu." gerutu kyuhyun.
"tapi aku lebih idiot karena mencintainya." Tambahnya pelan nyaris seperti bisikan.
Saat ini kyuhyun sudah menyandang marga choi pada nama depannya, tepatnya dua tahun yang lalu kyuhyun dan siwon resmi menjadi pasangan suami istri, mereka menikah dengan sederhana yang hanya di hadiri oleh sahabat-sahabat dekat mereka karena sejak awal mereka tidak pernah mengantongi restu dari kedua orang tua siwon dalam hubungan mereka.
Karena hal itulah siwon tinggal dan hidup di tempat tony, saat ia mengatakan ia mencintai kyuhyun, ayahnya murka dan mengusirnya bahkan memblokade hampir seluruh perusahaan besar di seoul agar memblacklist namanya.
Sebelumnya kyuhyun sudah memaksa siwon kembali kepada keluarganya dan mengakhiri hubungan keduanya karena kyuhyun tidak tega melihat siwon hidup susah karena dirinya.
Namun cinta siwon kepada kyuhyun teramat besar hingga membuatnya depresi saat kyuhyun menolaknya.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk hidup bersama dan bekerja serampangan untuk bertahan hidup.
Beruntung mereka bertemu tony dan micky yang dengan baik hatinya memberi mereka berdua tempat tinggal dan menganggap mereka seperti keluarga.
Mereka perlahan bangkit hingga siwon saat ini dapat bekerja di salah satu perusahaan garmen sebagai karyawan kantor biasa, tidak besar memang namun siwon bersyukur setidaknya ia tidak di usir begitu melihat cv-nya seperti yang perusahaan besar lainnya lakukan atas perintah ayahnya.
Dan satu-satunya anggota keluarga Choi yang mendukungnya dengan kyuhyun hanya seunghyun, kakak sepupunya.
Jaejoong sendiri sangat bangga pada pasangan suami-istri tersebut, ia sangat mengagumi ketulusan keduanya, lewat pasangan tersebut jaejoong belajar, Serumit apapun hubungan yang kalian jalani, jika kalian tetap mendukung satu sama lain dan tidak meninggalkan salah satunya, tuhan pasti akan memberikan jalan keluarnya.
Sebanyak apapun gunjingan yang kyuhyun dapatkan karena di anggap mempersulit hidup tuan muda choi, kyuhyun mencoba menulikan telinga dan bertahan.
Begitupun siwon, seberat apapun hidupnya saat itu, seorang tuan muda yang terbiasa hidup mudah tiba-tiba hidup luntang lantung tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal dan menyeret kyuhyun pula dalam penderitaan.
Namun ia berusaha bekerja apapun agar bisa bertahan hidup dengan kyuhyun.
Jaejoong sungguh di buat iri oleh pasangan tersebut, bahkan saat itu suaminya tidak bisa berjuang bersamanya untuk mempertahankannya.
"hei para uke! kalian melamun?" seunghyun menjentikkan jarinya di depan jaejoong dan kyuhyun.
"sialan kau." gerutu keduanya yang di sebut uke secara terang-terangan.
"kalian tidak asik, aku bicara panjang lebar tapi kalian melamun dan mengacuhkanku, sebaiknya aku mengobrol dengan yoochun saja, apa dia datang kemari?"
"micky ada di sana." jaejoong yang menjawab sambil menunjuk sudut sofa yang ramai oleh para pria- teman micky tentu saja.
"baiklah aku akan kesana, kalian! jangan melamun lagi, oke." pesan seunghyun sebelum berlalu sambil mengusak surai keduannya.
Selepas kepergian seunghyun, baik jaejoong maupun kyuhyun keduanya hanya saling memandang dalam diam.
"kau memikirkan mertuamu?" jaejoong membuka suara.
"aku yakin mereka pasti akan menerimamu, mereka hanya butuh waktu kyu~" kyuhyun hanya mengangguk sedih.
Jaejoong tahu kyuhyun pasti sedih, hampir 4 tahun lebih dan mertuanya masih membencinya, butuh berapa tahun lagi untuk mereka menerima keberadaannya.
HAAAH
Kyuhyun menghela nafas lelah lalu beralih menatap jaejoong sedih.
"hyung sendiri sedang memikirkan apa? suami hyung lagi?" jaejoong hanya tersenyum pedih.
Kyuhyun mendekat dan memeluk tubuh kurus jaejoong.
"aku tahu hyung tidak bisa membencinya."
"aku sangat ingin membencinya kyu, tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa kyu, setiap aku menatap changmin aku tidak bisa membencinya, bagaimana ini kyu?" jaejoong sudah menangis di dalam pelukan kyuhyun.
"hyung hanya kecewa padanya, hati hyung terlalu luas untuk membencinya." kyuhyun menepuk pelan punggung jaejoong mencoba menenangkan.
"hyung tidak perlu membencinya jika hyung tidak bisa, tidak baik menimbun kebencian lagipula, cukup hidup bahagia bersama changmin dan nikmati jalan tuhan seperti air yang mengalir, aku rasa semua akan baik-baik saja." tambahnya.
Dan jaejoong hanya menganggukinya sebelum beranjak kembali menyibukkan diri dengan menyambut para tamu di club malam tony, sambil sesekali meracik pesanan minumasn pengunjung yang memintanya.
Yah- seperti inilah kehidupan jaejoong lebih dari 4 tahun terakhir ini, tidak ada tata krama yang mencekik, tidak ada tradisi yang mengikat, tidak ada aturan yang membelenggu seperti kehidupannya sebelumnya.
Jaejoong menikmati kehidupannya saat ini- tentu saja, namun ia juga tidak akan pernah menyesali kehidupan sebelumnya- yaah kyuhyun benar jaejoong hanya kecewa.
Toh hingga detik ini ia tidak pernah bisa menghapus ingatannya begitu saja tentang mantan suaminya.
/
Pagi hari yang cerah di dalam apartement tony diawali oleh teriakan-teriakan kekanakan seorang choi siwon.
"Baby~ aku sudah hampir terlambat! dimana dasiku? tolong pasangkan." teriak siwon menggema di pagi hari yang cerah ini.
Siwonlah satu-satunya manusia yang selalu sibuk dan ribut di pagi hari karena pekerjaannya sebagai staff kantor yang membuatnya harus berangkat pagi setiap harinya.
Berbeda dengan lainnya yang masih bermalas-malasan bahkan hingga masih bergumul di dalam selimutnya yang hangat karena mereka bekerja sebagai pekerja lepas.
Tony si pemilik club malam yang buka mulai pukul 6 sore menjadikannya pengangguran di pagi hari.
Jaejoong dan kyuhyun berkerja di club malam milik tony, membantu apa saja yang bisa mereka kerjakan dan mereka mendapat upah dari tony, hal yang cukup simpel.
Sedangkan micky sang editor lepas sebuah perusahaan percetakan membuatnya datang ke kantor sesuka hatinya.
Karena hal inilah sepertinya akan menjadikan siwon lebih cepat menua ketimbang yang lainnya.
"yak! kau ini, hanya memasang dasi saja sudah berteriak-teriak di pagi hari- bagaimana jika kyuhyun sedang ada urusan?" gerutu micky dengan muka khas bangun tidur.
"pagi jagoan." sapanya pada sosok di sebelah siwon.
"jaejoong bisa melakukannya untukku."balas siwon santai membuatnya harus mendapatkan lemparan roti di pagi hari.
"micky! jangan melempal makanan, eomma akan malah."
Belum sempat siwon melayangkan protesnya, micky sudah mendapat wejangan di pagi hari dari keponakan tercinta mereka- membuatnya tertawa senang.
"marahi saja dia chwang, pamanmu itu memang tidak bisa menghargai makanan." tambah siwon mengompori.
"yak kau ini ya!" micky mendelik ke arah siwon membuatnya kembali terbahak.
"ya ya ya~ bahagia sekali, ada apa? sini kupakaikan dasimu." intrupsi kyuhyun dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi hitam untuk sang suami.
"meleka beldua libut sepelti anak kecil kyu~." adu changmin santai sambil tetap menikmati sarapannya.
"eoh? jadi para ajjushi tua ini ribut di depan chwang eoh?" sindir kyuhyun sambil menarik sedikit kasar simpul dasi siwon.
"memalukan ckckck!" tambahnya.
"sayang~ kau mencekikku!" protes siwon.
"oops maaf" ujarnya pura-pura merasa bersalah.
"kyuhyun! Dimana cucu chwang? kenapa hanya membawa kopi untuk paman?" protes changmin menyadari ketidak beradaan gelas susunya.
"anak eomma merajuk eoh? segelas susu coklat untuk chwang eomma yang tampan."
"Eomma!" pekik changmin.
Belum sempat kyuhyun membujuk rayu sang keponakan yang sedang merajuk, ia bisa bernafas lega karena ibu dari sang keponakan telah menyelamatkannya dengan membawa segelas susu.
"eomma sengaja melarang kyuhyun hyung membuat susu chwang, karena eomma sendiri yang membuatnya khusus untuk chwang." jelasnya yang di angguki semangat oleh kyuhyun.
"chwang senang eomma, dan chwang akan menghabiskannya hingga tetes telakhil."
"tentu sayang." jaejoong tersenyum mengusak lembut surai hitam sang anak.
Yah, seorang yang sedari tadi di panggil ibu oleh si kecil changmin adalah jaejoong. Changmin adalah putra kandung seorang jaejoong yang terlahir dari rahimnya sendiri.
"dimana tony? dia tidak ikut sarapan?" tanya jaejoong tanpa mengalihkan pandangannya pada sang putra.
"dia baru kembali pukul 4 pagi, jadi kurasa ia masih butuh istirahat." balas micky sambil menikmati roti isinya.
Mereka berlima sarapan dengan penuh keceriaan untuk memulai aktifitas masing-masing dengan sedikit menggoda si kecil changmin tentunya.
"baiklah chwang, kau sudah siap sayang? paman akan memanaskan mobil bersiaplah, paman tunggu di luar." ujar siwon sebelum mengecup bibir sang istri.
"hati-hati sayang, antarkan chwang dengan selamat, dan ingat! Jangan mengebut!" pesan kyuhyun sedikit mengancam.
"aku bukan micky sayang~ ayolah." Siwon membela diri membuat micky melotot kearahnya.
"sudah jangan memulai~ sekarang bersiaplah aku harus membereskan tempat tidur." Ujar kyuhyun sambil mendorong sang suami keluar.
"eomma tidak ingin mengantal chwang?" pinta changmin memelas.
"ingin sayang, tapi eomma harus segera bersiap untuk berkerja, chwang bisa terlambat jika menunggu eomma, emmm-
-bagaimana jika eomma jemput siang ini dan pergi makan siang di mc. D?" tawar jaejoong membujuk sang anak.
"setuju." balas changmin mantap sebelum menerjang tubuh ibunya yang sedang berjongkok di hadapannya serta memberinya kecupan bertubi-tubi.
"baiklah jagoan paman siwon sudah menunggu di depan, jadi ayo kita susul pamanmu itu sebelum rambutnya beruban karena terlalu lama di luar." gurau micky sambil mengangkat tubuh anak-anak changmin dan memutar-mutarnya layaknya superman.
"baiklah uncle, eomma chwang belangkat, dan ingat nanti siang chwang menunggu eomma!" teriak changmin saat sudah menyamankan diri di jok samping kemudi siwon.
"iya sayang, hati-hati ya, hati-hati siwon" balasnya berteriak sambil melambai hingga mobil siwon menghilang di tikungan.
Jaejoong masih menatap tikungan terakhir mobil siwon menghilang dengan senyum merekah di bibirnya memikirkan betapa menggemaskannya changmin putranya- putra kandungnya- putranya dengan suaminya jung yunho.
Mengingat hal mengenai suaminya atau mungkin mantan suaminya membuat senyum jaejoong memudar tergantikan raut wajah yang mengeras.
Pada faktanya changmin memang anak yunho, darah daging yunho, karena saat ia di paksa meninggalkan istana ternyata ia telah mengandung changmin selama 3 bulan.
Entah ia yang terlalu bodoh menyadari keberadaan sang putra karena terlalu larut dalam kefrustasiannya atau pembawaan sang jabang bayi yang benar-benar tidak ingin merepotkannya-
-karena selama hamil jaejoong tidak mengidam, tidak mual, bahkan tidak mengalami morning sick, bahkan ia baru tahu jika dirinya mengandung saat usia kandungannya hampir menginjak bulan ke 5 karena perutnya yang semakin membuncit.
Pertama kali dokter mengumumkan kabar gembira tersebut pikiran jaejoong mendadak blank, ia bahkan menangis beberapa hari karena bingung memikirkan nasib anaknya kelak, apa yang akan di katakan orang-orang jika anaknya tidak punya seorang ayah kelak.
Jaejoong terlalu banyak pikiran hingga membuat kyuhyun takut jika hal itu mempengaruhi kehamilannya.
Kembali dengan dukungan keempat teman hidupnya, ia kembali mendapat motivasi untuk kembali hidup, ia masih mengingat ucapan micky bahwa anaknya pantas hidup, jika jaejoong tidak bisa menerimanya, lalu apa bedanya ia dengan kedua orangtuanya.
Micky benar, hingga detik ini hatinya masih terluka atas penolakan kedua orangtuanya.
Dan jaejoong tidak mau jika anaknya akan lebih membencinya karena ia menolaknya bahkan sebelum sang anak lahir ke dunia ini.
Jadi ia bertekat akan membesarkan changmin dengan sepenuh hati, karena di dunia ini hanya changmin satu-satunya harta yang ia miliki, dan ia akan menjaga hartanya bagaimanapun caranya.
Semenjak changmin lahir jaejoong lebih giat mencari pundi-pundi uang untuk masa depan changmin, tidak hanya membantu di club malam tony, ia juga mengantar susu di pagi hari lalu siangnya menjadi kurir pizza pesan antar.
Ia harus berkerja keras, karena meskipun changmin memanggilnya ibu, ia juga seorang laki-laki yang harus menghidupi sang anak sebagai seorang kepala keluarga.
.
-skip-
.
"Jae hyung! Aku sudah menyiapkan pizzanya, segera antar secepatnya." Teriak rekan kerja seprofesi jaejoong- Jung Young Hwa.
"Baiklah young-ah~" Sahut jaejoong tergesa-gesa memakai topinya.
Segera jaejoong berlari melesat menuju halaman rumah pizza tempatnya mengais pundi-pundi won, menghampiri young hwa yang sudah berteriak-teriak memanggilnya.
"wae? Bisa tidak sehari saja tidak berteriak? Kau bisa membuatku dan yang lainnya tuli!" omel jaejoong pura-pura merajuk.
"aah maaf kalau begitu~ tapi hyung kan tahu aku terlahir untuk berteriak." Cengir young hwa tanpa merasa bersalah.
"Tch! Dasar bodoh~ aah aku mengerti~ jika bukan karena itu bos tidak mungkin mempertahankanmu sebagai tukang teriak di restorannya."
"itulah keahlianku." Senyum bangga young hwa.
"aah sudah berhenti mengolokku hyung, ini adalah delivery terakhir siang ini, segera antarkan yah, kau tahu nenek-nenek yang memesan pizza ini sangat cerewet jadi jangan sampai terlambat oke?"
"iya cerewet! Kau juga bawel dan cerewet seperti nenek-nenek." Gerutu jaejoong sebelum melesat menaiki sepeda motor pizzanya membuat yong hwa merajuk habis-habisan karena olokan hyung kesayangannya tersebut.
Jaejoong memacu sepeda motor matic delivery pizzanya dengan kecepatan penuh menuju pelanggan terakhirnya siang ini, lagi pula ia sudah berjanji kepada sang putra untuk menjemputnya dan mengajaknya makan siang bersama.
Membayangkan wajah polos putra kebanggannya saja mampu membuat senyum jaejoong terukir indah secara otomatis,
Sepanjang perjalanan ia sibuk berkonsentrasi mengendarai sepeda motornya sambil sesekali menginggat polah tingkah putra kesayangannya yang sangat aktif.
"Yaah akhirnya sampai."
Jaejoong segera mematikan mesin sepeda motornya dan membuka helmnya secara tergesa, menarik beberapa kotak pizza di dalam boxnya dan berjalan tergesa menuju pintu utama pelanggan terakhirnya.
TOK TOK TOK
"Pizza!"
TOK TOK
"Delivery pizzanya sudah datang! Permisi~" jaejoong agak menaikkan volume suaranya barang kali sang pemilik rumah besar ini tidak mendengar panggilannya.
TOK TOK
"Pizz-
Baru saja jaejoong hendak berteriak lebih keras saat tiba-tiba pintu kayu kediaman megah tersebut terbuka secara kasar membuatnya terperanjat.
"Aaaah kau rupanya~ kau tahu aku sudah menunggumu sedari tadi, cucu-cucuku sudah kelaparan meminta pizza pizza pizza- membuatku sakit kepala asal kau tahu."
Jaejoong hanya mengerjapkan kedua bola mata bambinya dengan polosnya mendapati gerutuan seorang nenek-nenek secara tiba-tiba.
Aaah mungkin nenek-nenek cerewet inilah yang young hwa maksud saat masih di rumah pizza tadi.
Dengan meneguk salivanya secara kelu jaejoong memasang senyum andalannya untuk meminta maaf kepada pelanggannya yang sudah menunggu pesanannya.
"maaf nek~ jelanan sangat macet, saya sudah menggebut agar segera dapat mengantarkan pizza-pizza hangat ini kepada cucu-cucu nenek, maafkan saya ya nek~"
"Aaah dasar~ yasudah mana billnya?" pinta sang nenek yang masih sedikit menggerutu.
Jaejoong tersenyum sembari merogoh kantung celana jeansnya mengambil bill untuk pesanan terakhirnya siang ini lalu segera menyerahkannya kepada sang nenek.
Sejenak keduanya hanya terduam saling memandang satu sama lain dengan jaejoong yang menatap sang nenek kebingungan sementara nenek tersebut justru menatap jaejoong dengan tatapan jengkel khas seorang nenek-nenek.
"Yak anak muda! Tunggu apa lagi? Apa kau menyuruhku membawa beberapa kotak pizza itu sendiri sementara aku untuk berjalan saja harus menggunakan bantuan sebuah tongkat, hah?" Jaejoong yang mengertipun akhirnya tersenyum.
"baiklah nek~ saya akan membawakannya masuk ke dalam jika nenek mengijinkan."
Sang nenek hanya mengangguk sekilas sambil menggeser tubuh manulanya secara perlahan memberi akses kepada jaejoong agar dapat masuk kedalam rumahnya.
Jaejoong berjalan perlahan menunggu langkah pelan pemilik rumah yang masih berjalan di belakangnya.
"lalu dimana aku harus meletakkan ini nek?" bisik jaejoong kepada sang pemilik rumah.
"itu- itu- letakkan saja di meja dapur, aku akan mengambilkan uangnya terlebih dahulu." Perintah sang nenek sambil menunjuk dapur bersih rumahnya.
Jaejoong kembali mengangguk mengerti dan segera berjalan ke arah dapur tersebut dan meletakkan pizza-pizza tersebut secara perlahan.
Ia tersenyum menatap pizza-pizza tersebut sebelum berbalik hendak meninggalkan dapur rumah mewah tersebut dan berniat menunggu sang nenek di luar saja.
Namun tiba-tiba saja sebuah suara mengintrupsi pergerakannya membuatnya berjingit kaget untuk kedua kalinya.
"Siapa kau?"
Jaejoong memutar tubuhnya ke arah sumber suara tersebut, disana berdiri seorang wanita cantik yang menatap bingung ke arahnya, sepertinya nyonya rumah mewah ini- pikir jaejoong.
"Aaah maaf nyonya, saya hanya pengantar pizza, dan nenek pemilik rumah memintaku meletakkan pizza-pizza pesananya di dapur, tapi saya akan segera keluar dan menunggu pembayarannya di luar." Jaejoong berusaha menjelaskannya takut terjadi kesalah pahaman karena status sosialnya.
"iya sunkyu-ah, aku yang menyuruhnya masuk untuk meletakkan pizzanya di dapur." Sahut nenek tua tadi dari arah ruangan dekat tangga.
"ibu pesan pizza?" tanya nyonya tersebut.
"ya! Putramu merengek ingin makan pizza asal kau tau."
"lalu ibu memesankan pizza sebanyak itu hanya karena mereka berdua merengek? Ya tuhan ibu~ jangan selalu memanjakan mereka berdua bu~" rajuk nyonya rumah tersebut.
"ya ya ya~ sekarang apa bedanya kau dengan kedua putramu yang merengek sungkyu-ah?" sindir sang nenek.
"ada apa nyonya lee? Kenapa berisik sekali?" intrupsi beberapa orang wanita sebaya dengan nyonya rumah tersebut.
"aah tidak ada, aku hanya bicara dengan mertuaku dan pengantar pizza, maaf ya mengganggu acara arisan kita, baiklah kita bisa kembali lagi memulai acaranya- kalian ingin pizza? aku akan mengambi beberapa potong untuk kalian." Ujar nyonya tersebut.
"aah iya, apa ibu sudah membayar pizza nya?" tambahnya sambil menata beberapa pizza di piring.
"aah iya ibu lupa, aah tunggu aku sekali lagi ya anak muda, maklum orang tua kadang memang pikun." Ujar nenek tua tersebut kepada jaejoong.
Jaejoong hanya tersenyum dan tetap menunduk, sedari tadi sejak nyonya rumah tersebut menatapnya ia memang ketakutan jika di tuduh yang macam-macam, apalagi dia hanya orang miskin di dalam rumah orang asing yang semewah ini.
Jaejoong menunggu sang nenek sambil tetap menunduk dan sedikit melamun hingga kembali sebuah suara mengintrupsinya kembali.
"kenapa wajah pengantar pizza ini tidak asing bagiku ya?" bisik salah satu nyonya teman arisan nyonya sunkyu.
"apa maksudmu?" sambung nyonya lainnya.
"aah aku ingat, putri nyonya kim!"
DEG
Seketika jaejoong menegakkan kepalanya menatap segerombolan nyonya-nyonya kaya tersebut yang sedang sibuk memperhatikannya.
DEG
Jantung jaejoong kembali tersentak saat kedua bola matanya menatap sosok yang tidak asing lagi baginya- ibunya, ibu kandungnya.
"yang mulia ratu muda kim!" jaejoong melotot dan menegang di tempat saat nyonya gemuk tadi kembali menyerukan argumennya.
"bukankah wajahnya mirip dengan yang mulia ratu muda kim jaejoong putra nyonya kim." Tambahnya lagi membuat jaejoong sedikit berani mencuri pandang ke arah ibunya yang membeku di tempat.
Para nyonya-nyonya kaya itu sibuk memperhatikannya dan berbisik-bisik entah apa karena ia tidak cukup berkonsentrasi dengan suara bisikan mereka.
"nyonya kang! Mana bisa kau membandingkan putraku dengan pengantar pizza seperti dia." Jaejoong menegang serasa tersengat listrik berkekuatan tinggi saat sang ibu mengucapkan kalimat tersebut.
"aah iya benar, lagi pula yang mulia ratu muda saat ini sedang ada di kerajaan inggris memb=pelajari kultur budaya antar negara, jangan sembarangan nonya kang." Sambung nyonya lain yang berambut keriting.
"aah maafkan aku nyonya kim, buka maksudku membandingkan atau bagaimana, aku hanya merasa wajah cantik kurir pizza tersebut mengingatkanku pada wajah cantik nan ayu putramu nyonya kim, maafkan aku." Sesal nyonya betubuh gemuk tersebut.
"iya nyonya kim, maafkan nyonya kang- mana mungkin nyonya kang menyamakan putra anda yang anggun itu dengan kurir pizza ini, lihat penampilannya- sangat urakan." Sambung nyonya berambut pendek.
"rambut di cat pirang, lalu beberapa lubang tindik di telinganya, mana mungkin dia di bandingkan dengan yang mulia, tidak mungkin nyonya hehe~" tambahnya dengan tawa garingnya.
Jaejoong tidak memperdulikan semua ucapan teman-teman ibunya karena sedari tadi ia hanya sibuk menatap sang ibu yang sama sekali tidak ingin menatapnya, bahkan beliau membuang muka ke arah lain secara terang-terangan.
"aku tidak mungkin mempunyai anak sepertinya." Desis nyonya kim.
Jaejoong kembali sakit hati, tentu saja- lukanya yang belum sembuh kembali menganga karena ucapan ibu kandungnya.
Ia sudah tidak dapat menahan air matanya lagi, ia ingin segera melenyapkan diri dari hadapan nyonya-nyoya kaya ini.
Beruntung karena saat itu juga nenek pemilik rumah datang dan memberikan sejumlah uang untuk pesanannya.
Jaejoong segera menerimanya dan dengan suara yang bergetar dan air mata yang siap meluncur dari ujung matanya jaejoong mengucapkan terimakasih dan pamit sebelum berlari meninggalkan rumah mewah tersebut.
Air matanya meluncur deras setelah pintu utama kediaman tersebut tertutup, ia menangis tersedu-sedu karena ucapan ibunya, sungguh hatinya sangat tersayat.
Sementara itu di tempat lain sang putra sedang menunggunya, menunggu kedatangan ibunya.
Jam pulang sekolah untuk anak kinder garden sudah usai beberapa menit yang lalu, masih banyak para siswa-siswi yang menunggu jemputan wali mereka, jadi sambil menunggu mereka menyibukkan diri dengan bermain di arena bermain.
Termasuk changmin yang bermain ayunan sendirian disana sambil sesekali mencuri pandang kearah gerbang menunggu kedatangan sang ibu.
"boleh yeli duduk disini?" ujar bocah kecil berkuncir dua.
Changmin yang merasa jika mainan ini milik umum pun menggeser tubuhnya memberi ruang untuk gadis kecil tersebut.
"oppa ada di kelas apa? kenapa yeli tidak pelnah melihat oppa?" tanya lagi sang gadis yang menurut changmin mungkin sedikit cerewet.
"aku ada di kelas A" jawab changmin singkat
"aah pantas saja, yeli ada di kelas E kelas bangsawan, makanya tidak pelnah melihat oppa."
"yeli sedang menunggu appa, kalau oppa?" tanyanya kembali saat changmin tidak merespon ucapannya.
"eomma." jawab changmin tanpa menatap gadis kecil tersebut.
Lama mereka terdiam dengan gadis kecil tersebut yang mengerucutkan bibirnya sebal karena merasa di acuhkan oleh sosok di sampingnya.
"siapa namamu?"
Changmin hanya menatap gadis kecil tersebut bingung sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
"changmin."
"yak! kau changmin! aku ini tuan putli asal kau tau, aku adalah putli laja kolea, kau tidak boleh mengacuhkan tuan putli kau mengelti!"
Gadis kecil bernama yeri itu mengomel dan membentak-bentak cangmin menyombongkan kekuasaannya, sedangkan changmin yang tidak mengerti hanya memandang gadis yang mengomel tersebut dengan pandangan herannya.
"tuan putli itu hanya ada di dalam dongeng."
Yeri sudah akan kembali mengomel karena di anggap membual oleh changmin, namun omelanya yang sudah berada di ujung lidah kembali harus tertelan saat beberapa mobil sedan berhenti di depannya, dengan beberapa orang berjas hitam keluar untuk memgawal pria dewasa yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah berkepala tiga.
Semua orang termasuk changmin hanya menatap kagum sosok tersebut, di pikiran para bocah seusia mereka tentu saja mereka berpikir pria tersebut sangat tampan dan berwibawa hingga sebuah lengkingan mengintrupsi kekaguman mereka termasuk changmin.
"Appa~~" teriak yeri sambil berlari menerjang tubuh tegap sosok tampan tersebut.
"yang mulia, tuan putri" intrupsi salah satu pengawal yang membuat gadis tersebut berdecak sebal.
"apa appa terlambat?" yunho hanya terkekeh dengan sifat manja sang putri.
Yah yunho, pria tampan yang di kawal beberapa pengawal tersebut adalah seorang raja muda korea, tentu saja beliau adalah jung yunho, siapa lagi?
"eum appa sangat lama, bahkan yeli sudah mengomeli anak itu kalena bosan." tunjuk yeri pada sosok changmin yang masih duduk tenang disana.
Yunho mengikuti arah telunjuk mungil sang putri dan mendekati sosok bocah kecil yang masih duduk terdiam disana.
DEG
DEG DEG
Yunho tidak tahu mengapa manik bambi bocah tersebut mampu memerangkapnya bahkan membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"halo nak, siapa namamu? apa putri paman berbuat nakal padamu tadi?"
"changmin appa, namanya changmin." jawaban terucap dari bibir si cerewet yeri.
"appa tidak bertanya padamu cerewet." ujarnya sambil menyentil pelan hidung mungil yeri.
"baiklah changmin, apa anak paman yang nakal ini mengganggumu nak?" changmin hanya menggeleng pelan.
"aniyo~"
Entah mengapa yunho merasa sangat senang melihat anak berwajah datar tersebut, jantungnya bahkan berdetak tidak normal.
"changmin-aah~"
-To Be Continue-
Apa kabar semuanya, sehat kan?
lulu dateng bawa chapter 4 nih,, semoga kalian suka.
dan semoga kalian masih stay di ff lulu yang ngaret-ngaret, maaf yah lulu lagi sok sibuk soalnya. HEHE
dan semoga makin banyak review positif dari kalian, lulu mohon ya
apalah arti ff-ff lulu tanpa review-review dari kalian.
bey!
