Warning: Gaje, kepo, typos, humor garing, parody gagal, Shonen-ai, berisi kata-kata kasar, semi vulgar, ngasal, AU, OOC, nyeleneh. Dan berbagai macam keanehan lain dari fanfic ini, bagi yang cari fanfic normal ga usah baca deh fanfic author ini.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Don't like? Don't read!

.

Genre: Humor, Parody.

.

.

KISAH SI UPIK ABU

CHAPTER 4

.

.

Pagi itu ada yang tidak beres pada diri si bungsu Uchiha.

Sasuke Uchiha—Pangeran tampan berhati dingin yang kelak akan menjadi Kaisar dan menyandang gelar seme anti kepo itu tak henti-hentinya menyeringai. Entah di sudut meja makan, saat nyanyi sinden, nonton topeng monyet, maen gamelan ataupun saat mandi kembang kamboja tadi malam.

Itu membuat Kakaknya Itachi Uchiha bin Fugaku Uchiha takjub tak percaya, curiga dan menduga-duga ada 'sesuatu'—Syahroni di ujung seberang pulau jawa sana nyaris tersedak.

"Kau senang sekali hari ini, Otouto," sang kakak berkata, wajahnya yang cenderung keriput dan ber-strech mark—plak— itu mengkerut bertanya. "Apakah kau bahagia karena hari ini adalah acara pencarian jodoh untukmu, hmmm?"

Sasuke menatapnya judes sekaligus jutek. "Bukan urusanmu, Itachi," balas Sasuke dengan tidak sopan pada Kakak kandungnya tersebut.

Lagi pula, Tidak mungkin Sasuke mengatakan kalau dia sangat senang karena hari ini, acara bodoh yang diselenggarakan Ayah dan Kakaknya akan hancur di tangan Akatsuki.

"Sopanlah sedikit padaku, Ototou," ucapnya sambil mendesah pelan. Mencoba sabar sambil mengusap keriputnya karena sikap kualat sang adik murtad.

"Cih," Sasuke berjalan menjauhi Itachi, sambil sesekali menyeringai.

Itachi menjadi prihatin, mungkinkah syaraf terkikik sang adik putus karena terlalu lama berguru di padepokan orochimaru 25 tahun silam atau mungkinkah sang pangeran kini tengah terjangkit penyakit EBOLA—epilepsi karbonasi yang tereboisasi urbanisasi milik Vicky Prasotyo.

Itachi harus mengetahui musabab sang adik kesurupan begitu, meskipun ia harus pergi menjelajahi gunung Kidul, ke tempat dukun beranak—Maria Yaoizawa.

Padahal sang kakak tidak tahu kalau sang adik terus-terusan menyeringai dikarenakan rencana jahatnya kini sedang berjalan perlahan.

.

.

.

Ditempat lain.

.

.

Kyuubi Namikaze kini harus tercengang karena melihat penampilan adiknya saat ini.

"Ka—kau pakaikan apa adikku?" tanya Kyuubi setengah tidak percaya.

"Luar biasa, kan," ucap Karin si ibu peri sambil membusungkan dada dan membetulkan letak kacamatanya—bangga ceritanya.

"Luar biasa, Gundulmu!" pekik Kyuubi jengkel.

Apanya yang berubah si pirang hanya diberikan jubah kusam, pun bajunya masih kaos oblong compang-camping pemberian si Nyonyah tiri.

"Hei, aku masih punya rambut, Rubah merah!" sahut Karin dengan emosi. Tak terima dikatai gundul begitu. Padahal ia yakin wignya terpasang dengan kuat.

"Cih, kau pikir rambutmu tidak merah, nenek lampir!" balas Kyuubi mencibir sang ibu peri yang terlalu-sangat-kelewat rempong tersebut.

"Aku ini ibu peri!" teriak Karin tidak meridho-romakan ucapan Kyuubi.

"EGP!" Balas Kyuubi, sengak.

"Diaaammmm!" pekik Naruto mengenengahi adu bacot dua makhluk lain dunia tersebut.

Kyuubi dan Karin menatap ke arah Naruto yang tengah berkaca-kaca seperti ingin menangis. Mereka terkesiap dan jadi merasa bersalah karena adu bacot di depan si pirang yang polos dan pecinta kedamaian.

"Kenapa kalian selalu bertengkar sih, "Karin dan Kyuubi merasa agak terenyuh mendengar ucapan lirih yang keluar dari bibir si pirang.

Ternyata si pirang yang kelihatannya polos itu bisa menjadi pendamai yang baik juga. Mungkinkah dia memang anak dalam ramalan Tetua Sannin selama ini—ok, ngaco ini bukan canon. Jadi abaikan!

Mereka berdua jadi malu sendiri.

"Na—Naru, kami—" Karin dan Kyuubi jadi terbatu-bata.

"Kalian bertengkarnya pelan-pelan aja," ucapnya dengan lirih sambil berpaling ke belakang menatap layar LCD sebesar kotak korek api. "soalnya aku sedang nonton Mahabrata, nih."

"NARUTO!" pekik Kyuubi dan Karin jengkel akar kuadrat.

.

.

Lima belas menit kemudian.

"Baiklah, sekarang kau bisa pergi, Naruto," ucap Karin sang ibu peri, frustasi. Ia mulai stress dengan tokoh upik abu yang seharusnya protagonis malah cenderung menyimpang ke arah antagonis permanen karena diperankan seorang Naruto.

"Tunggu dulu!" Kyuubi menginterupsi.

"Terus adikku naik apa?" tanya Kyuubi setengah dongkol, "Tidak mungkinkan kalau kau menyuruh adik kesayanganku yang polos ini untuk kayang sampai ke istana Taka?"

Dalam hati, Kyuubi memaki dialognya tersebut, adik polos apanya, dia itu mah malaikat berhati KW!

"Tenang saja, Kyuubi-san. Sudah kupersiapkan alat penunjang Naruto untuk pergi ke istana Taka." Karin berujar dengan intonasi misterius.

Duo Namikaze itu mulai penasaran, seperti apa kendaraan yang akan mengantarkan Naruto sampai ke tempat tujuan.

Mungkinkah ia akan di antar dengan Mercedes? Ataukah sang adik akan menggunakan Limousine? Atau mungkin si pirang akan diantar dengan Kereta kencana yang dikendarai pegasus.

Namun, Alih-alih kendaraan keren macam itu, yang mereka lihat malah lebih tragis...

"Ge—gerobak!" Kyuubi melotot. "kau tidak akan menyuruh adikku menunggangi itu, kan!"

Karin tersenyum miris. "Hehe—sebenarnya iya sih," ucap Karin sambil menggaruk-garuk punggungnya dengan tokat sihir bututnya. "Dan tebak. Berita bagusnya adalah... kau yang harus menarik gerobak tersebut."

"APA!"

"Nah, punten, aku pergi dulu. Jaa-neee!" Ibu peri itu kemudian pergi dengan terburu-buru—bahkan hampir terpeleset kulit pisang karena ingin cepat-cepat kabur dari tempat syuting tersebut sebelum diamuk sang rubah dengan murkanya.

Sedangkan Naruto hanya bisa berkata, "Wow!"

Saking terpesonanya.

.

.

.

Senja sore itu berwarna kejinggaan. Dengan warna langit yang cerah perlahan-lahan memudar. Terasa benar acara kerajaan tersebut mulai dipenuhi oleh para undangan dari seluruh pelosok.

Dari lantai atas kamarnya Sasuke bisa melihat kalau acara jodoh-jodohan yang di selenggarakan ayahnya ternyata sangat banyak peminatnya.

"Sebentar lagi..." bisiknya penuh dengan nada jahat. Ia menatapi keramaian di bawah sana dengan senyum penuh arti.

.

.

Setelah perjalanan panjang, disertai singgah-menyinggah puluhan kali di beberapa warteg, panti jompo, kantor polisi, gedung parlemen, dan bar terdekat, akhirnya duo Namikaze kita yang tercinta sampai ke istana Taka.

"Kita sudah sampai," Kyuubi berujar dengan kelelahan—karena yang sedari tadi mendorong gerobak dengan segenap jiwa kesemeannya cuma dia, sedang Naruto mah, hanya jadi figuran yang ongkang-ongkang kaki di atas gerobak sampah tersebut.

"Yoshh! Baiklah sesuai rencana, aku akan menerobos ke dalam dan menculik baginda ratu kerajaan Uchiha!" ucap Naruto tiba-tiba saja tidak nyambung dari skenario fanfic keren dan minus typo ini—plak.

Kyuubi dan author (di ujung jalan yang maha gelap sana) hanya bisa memutar bola mata malas sambil merutuk, si pirang ini polos, pikun atau benar-benar dobe berkarat.

"Naruto, kau ke sini untuk bertemu dengan pangeran, bukan mau menculik ibunya." ucap Kyuubi menjelaskan dengan logis jalan cerita plagiat Cinderrela campuran bawang bombay yang dibumbui drama korea tersebut. Walaupun sebenarnya sang kakak cukup tertarik dengan ide 'penyanderaan berencana' si bungsu Namikaze tersebut. Benar-benar dua bersaudara psikopat stress!

Seperti tersadar, Naruto akhirnya berucap, "Oh, Kyuu-nii benar,,, baiklah aku akan menyusup, dan kemudian merampas semua celana dalam musim panas sang pangeran!" Naruto bersemangat seperti orang kesetanan.

"Terserah kau saja deh!" teriak Kyuubi marah-marah, dongkol, kecewa, sakit hati, dan hampir-nyaris ingin bunuh diri dengan gunting kuku karena menghadapi sang adik yang kelewat batas.

.

.

Naruto—dengan jubah bekas pinjaman Karin sang ibu peri serta topeng rubah bulukan mulai mengendap-endap di senja buta tersebut. Ia merayap, memanjat, bergelantungan, melata bahkan ber-jutsu menjadi orang-orangan sawah ketika ada pengawal yang berlalu lalang di koridor istana.

Naik tangga.

Kemudian turun.

Naik lagi.

Turun lagi.

Naik, naik.

Kemudian turun lagi.

Dan kemudian sampailah ia pada kesimpulan.

Kalau sebenarnya sedari tadi ia hanya naik turun diundakan tangga yang itu-itu juga.

Aduh, dasar do-be!

.

.

Sebenarnya sejak awal, Naruto sungguh tidak sudi mengikuti takdir yang digariskan sang pencipta fanfic ini. Ia tidak ingin berpasangan dengan pangeran yang bahkan ia tidak tahu juntrungan wajahnya. Menurutnya itu picisan sekali.

Sambil garuk-garuk kepala memikirkan seperti apa wajah jodohnya kelak Naruto tidak sadar kalau ia malah memasuki kamar tidur sang calon kaisar.

"Siapa di sana?" sebuah suara maha dingin berujar.

Deg!

Naruto tertegun, tercekat, membatu bagai bekicot bakar. "Gawat."

"Siapa orang yang telah lancang masuk sembarangan ke kamarku." suara bariton yang disertai sesosok rupa yang menjulang tinggi perlahan terlihat.

Lampu temaram seribu watt di kamar itu cukup mampu membantu penglihatan Naruto yang sangat rabun untuk mengenali siapa sosok berambut cepak-ceker-ayam tersebut.

"Siapa kau?" tanya sang pangeran beriris onix, berambut jabrik dengan tubuh menjuntai seperti tiang listrik.

"A—aku..." Naruto tersendat-sendat. Ia tidak tahu mesti berkata apa. Haruskah ia menjawab pertanyaan kelewat rumit yang sebenarnya hanya tiga kata itu? Atau kah ia harus balik bertanya kenapa bumi itu bulat?

"A—ku."

Sang pangeran masih menunggu dengan sabar jawaban Naruto.

"A—ku... A—aku... " ucap Naruto sambil melirik sebal pada naskah dialognya yang dari satu alenia, delapan paragraf ditulis gagap melulu.

.

.

.

to be continued

Apakah yang akan terjadi pada Sasu-Naru di chap 5 depan. Saksikan tayangannya di—plak!

Baiklah, author minta review aja deh. Soalnya author imut ini meras otak dua hari dua malem, begadang—buat maen game coy! :D :) ;)

Makasih buat yang review:

Vianca Hime: nah hime, udah kejawab kan seperti apa kostum naruto,,,, hahaha. Thanks udah review #peluk erat.

Shanzec: eh, masa sih Naru mirip mereka, haha mungkin begini. Body-nya Naru kaya barbie, trus cantiknya mirip Elsa, n otaknya mirip minion, makasih reviewnya, sayang. #ditabok.

Uzumakinamikazehaki: ini udah lanjut cintakuh... Thank review-nya #taboked

Ahn Ryuuki: iya, duo uzumaki tu emang sarap, manis. Well, tu udah kejawab seperti apa kostum Naruto. Thank review-nya, sayang. Hehehe...

makasih yaa teman-teman, karena udah review fik author gaje ini #kecup, peluk, cium sayang.

Pleaseee Review my fanfic :3