DISCLAIMER : HIRO MASHIMA

RATE : T (Teen/Remaja)

GENRE : CRIME/MYSTERY

WARNING : AU, A BIT OF OOC, 1ST POINT OF VIEW

.

.

.

Matahari telah naik menuju ke tengah-tengah persinggahannya. Cuaca semakin panas dan terik, waktu telah menunjukan pukul 14.00. Semua calon tersangka kini telah sepenuhnya dikarantina untuk sementara, demi memenuhi kepentingan penyidikan. Dan otomatis penginapan berlantai tiga ini ditutup.

Semakin siang, banyak dari kalangan wartawan maupun reporter televisi yang datang guna meliput kejadian pembunuhan ini. Aku pun mau tidak mau harus meladeni beberapa dari mereka yang sudah jelas doyan ngotot walaupun sudah berkali-kali diperingatkan.

"Bagaimana kejadian yang sebenarnya detektif?"

"Apakah pelaku sekiranya sudah bisa diketahui?"

"Apa tanggapan anda tentang hal ini Gray-san?"

Aku mengedikan bahu, dengan ekspresi wajah yang kubuat seakan tidak tahu apa-apa. "Semuanya tenang-tenang. Biarkan kami pihak yang berwajib bekerja sesuai prosedur dulu ya. Tolong hargai privasi kami, pekerjaan kami"

Aku pun segera melenggang pergi dari situ walaupun mereka-mereka masih sibuk bertanya-tanya tidak karuan.

"Gray!"

Kulihat siapa itu yang memanggil "Na..Natsu?"

"Lihat siapa yang kubawa" Ia melambai-lambai ke arah seorang pria berpakaian seragam. Sepertinya pria berambut hitam gondrong itu adalah seorang cleaning service disini.

"Siapa dia Natsu? Dan ada hubungannya apa dia dengan kasus ini, atau minimal denganmu?" Tanyaku terheran-heran.

"Perkenalkan, namanya Gajeel. Dia adalah cleaning service yang kebetulan katanya ada di koridor lantai dua persis sebelum Erza berteriak dan korban ditemukan"

Pria dengan aksesoris pierching di wajahnya itu menunduk "Salam kenal tuan detektif"

Ini bagus. Satu langkah semakin dekat dengan misteri pembunuhan ini.

"Baiklah. Mari kita bertiga berbicara di tempat yang lebih aman dan rahasia" Ajakku kepada Natsu dan pria yang berprofesi sebagai cleaning service itu.

X

X

X

X

X

Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan mobil polisi yang digunakan oleh komandan muda Magnolia Police Departement ini sebagai tempat berdiskusi.

"Baiklah, Gajeel ya? Bisakah kau ceritakan dengan detail tentang persitiwa yang kau alami tadi pagi?" Ucapku sembari menghadap ke belakang karena kebetulan aku duduk di jok kemudi dan ia duduk di jok belakang.

"Tapi pak detektif, ano aku punya pertanyaan" Wajahnya mendadak berubah menjadi kebingungan.

"Hn? Apa itu?"

"Apakah jika seorang saksi dalam suatu kasus nantinya akan diberi upah jika memang kesaksiannya itu dapat membantu memecahkan masalah?" Ia bertanya dengan nada ragu-ragu.

Natsu menepuk pundak lelaki itu "Hey, kenapa kau tiba-tiba membahas upah seperti itu?"

"Bukan-bukan. Bukan maksudku untuk memeras tapi ... aku pikir akan diberi upah yang setimpal jika kesaksianku ini berguna nantinya. Soalnya aku sedang butuh tambahan dana untuk membelikan hadiah ulang tahun bagi kekasihku"

Hmm, walaupun wajahnya terkesan sangar tapi hatinya romantis juga.

"Iya-iya. Jika memang kesaksianmu nanti berguna kau akan kuberi upah dari pihak kepolisian. Yang terpenting adalah ... apa yang tadi pagi kau alami?"

Natsu memasang wajah serius, bersiap untuk mendengar penuturan dari Gajeel Redfox.

"Sekitar pukul 05.45 aku mulai membersihkan koridor lantai dua" Ia menghela nafas sebentar.

"Lanjutkanlah"

"Lalu tak berapa lama setelahnya, aku mendengar wanita kekasih korban yang berambut merah itu menjerit. Dan tak lama setelah ia menjerit keras, terdengar suara pecahan gelas" Lanjutnya lagi.

Tunggu-tunggu. Berarti ketika Erza menjerit keras itu bisa diartikan pukul 05.50-05.55, sesuai dengan fakta tadi pagi ketika aku tiba-tiba terbangun akibat teriakannya. Dan katanya, ia mendengar suara gelas yang pecah tak lama setelah terdengar jeritan?

"Lalu apakah kau di koridor itu sendirian? Dan apakah kau melihat Gildarts keluar masuk dari kamarnya di nomor 207? Gildarts, pria tinggi besar berjenggot dan berkumis tipis, berambut cokelat tua keoranyean sedikit" Natsu mencoba menjelaskan.

Gajeel menyilangkan kedua tangannya di depan dada "Emm, sepertinya aku sendirian. Mungkin ada satu dua tamu yang lewat waktu itu. Tapi mereka hanyalah orang asing. Dan tentang si Gildarts itu, aku pikir aku tidak melihatnya"

"Dan pintu kamar 208 tempat korban menginap tertutup rapat atau bagaimana?"

"Seingatku sih tertutup rapat detektif. Mungkin hanya ini saja yang bisa aku berikan" Ia membuka pintu mobil di samping kiri "Boleh aku keluar dan kembali bekerja sekarang?"

"Oke. Terima kasih banyak atas kerjasamanya Gajeel" Aku menyalaminya sebelum ia beranjak pergi.

"Sama-sama. Dan aku mohon, jangan lupa 'itu' ya jika nanti kasusnya selesai" Ia membalas jabatan tanganku sembari tersenyum penuh arti.

"Iya, oke-oke. Aku tak akan bohong"

Setelah cleaning sevice itu pergi, aku sibuk memikirkan kesaksiannya barusan. Sepertinya apa yang barusan ia katakan tak mengandung petunjuk sedikitpun. Tapi apakah benar demikian?

"Woy tuan detektif Hargeon, bagaimana menurutmu? Menurutku pribadi sih, kesaksiannya tadi tidaklah penting"

Aku menggeleng "Tidak. Ada sesuatu yang bisa kita ambil dan jadikan petunjuk menurutku, walau itu sepele. Natsu..."

"Hn?" Ia mengangkat alis kirinya.

"Apa kau sudah mengecek sidik jari yang tertempel pada pecahan gelas berisi kopi itu?" Tanyaku serius.

"Sudah tadi, olehku sendiri malah" Katanya singkat.

"Hah? La..lalu, apa yang kau temukan disana?"

Ia menguap lebar "Hoahmmm ... ada dua sidik jari disana. Satu milik korban, dan itu sudah dicocokan. Dan yang satunya belum jelas"

Belum jelas ya? Berarti ada kemungkinan korban tidak mengambil kopinya sendiri. Kemungkinan besar kopi itu diantar oleh pelayan hotel. Pelayan ya? Jangan-jangan...

"Natsu, kita sementara berpisah dulu disini" Aku bergegas membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.

"Hey Gray, kau mau kemana?" Tanyanya.

"Aku akan menyelidiki sesuatu"

X

X

X

X

X

Pelayan ya? Aku tidak tahu berapa banyak jumlah pelayan di hotel ini. Untuk mengetahuinya secara pasti, aku harus menanyainya. Kakek tua pemilik hotel itu.

"Ohh jadi kau mau menyelidiki para pelayan hotelku ini ya detektif muda?" Pria tua bertubuh pendek itu kebetulan sekali bertemu denganku saat aku berada di koridor lantai satu.

"Benar Makarov-jiisan. Bagaimana? Kumohon, ini demi kepentingan penyidikan" Ucapku dengan nada sedikit memohon.

Ia menghisap cerutunya, kemudian menghembuskan asapnya lewat hidungnya "Baik-baik. Pelayan yang bertugas mengantarkan makanan atau minuman ke dalam kamar ada enam atau tujuh orang kalau tidak salah"

"Tolong kumpulkan mereka secepatnya ya kakek tua"

Ia terkekeh "Khekhekhe, santai saja nak. Aku akan menjadi orang yang kooperatif kok"

Aku tersenyum mendengar perkatannya barusan "Terima kasih banyak. Dan petugas..."

"Ada apa pak?"

"Segera cek sidik jari semua pelayan yang ada dan cocokan dengan sidik jari yang ada di cangkir barang bukti itu. Mengerti?"

Polisi yang ada di hadapanku langsung memberi hormat "Siap Gray-san"

Ini semakin menarik saja. Pelan tapi pasti, misteri ini mulai terpecahkan.

"O ya pak detektif"

Aku menoleh ke asal suara "Ya?"

"Ini tadi tim kami berhasil menemukan sebuah handphone layar sentuh di laci meja yang ada di kamar korban. Sepertinya benda ini milik korban" Polisi itu menyerahkan sebuah handphone mewah kepadaku.

Aku mengamati handphone itu sebentar "Hmm, bagaimana jika benda ini aku yang pegang?"

"Itu terserah anda pak. Anda kan sudah seperti pemimpin proses penyidikan ini" Kata polisi itu.

"Haha, kau terlalu melebih-lebihkan. Baik, aku yang pegang ya"

Kemudian sang pemilik hotel segera mengumpulkan pelayan-pelayannya guna dicek satu per satu sidik jari mereka. Mencocokan sidik jari siapa yang tertempel di pecahan cangkir itu. Sementara mereka sedang sibuk dengan urusan sidik jari, aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan kakek tua pemilik hotel di sofa lobi hotel. Kebetulan hotel sedang sepi karena ditutup sementara agar proses penyidikan dapat berlangsung dengan baik dan benar.

"Haahhh, setelah ini hotelku pasti akan sepi" Makarov menyenderkan tubuhnya di sofa, raut mukanya memperlihatkan sirat kecewaan.

"Sudahlah Makarov-jiisan. Anda jangan berkecil hati seperti itu. Siapa tahu setelah media meliput berita ini, nama hotel Moonlight yang telah anda rintis puluhan tahun akan menjadi lebih melejit dari sebelumnya karena terkenal" Hiburku.

"Yaahh semoga saja"

Kami terdiam selama bermenit-menit lamanya. Sibuk dengan alam pikiran masing-masing. Jarum detik yang ada di lobi terdengar cukup jelas akibat saking sepinya tempat ini. Waktu sudah menunjukan pukul 16.38 sore.

"Detektif muda, aku permisi dulu ya. Aku akan membeli makanan sebentar di restoran Star Fish. Apa ... kau mau ikut?"

"Tidak-tidak, terima kasih. Tapi ngomong-ngomong, restoran apa itu pak tua? Kelihatannya kau bersemangat sekali. Padahal sebelumnya anda murung karena takut dengan masa depan bisnis perhotelan ini"

Ia tertawa lepas "Hahahahaha. Kau pasti tidak tahu ya? Restoran Star Fish itu adalah restoran seafood paling populer disini. Bukan hanya disini malah, banyak orang dari luar kota yang sengaja kemari hanya untuk mencicipi kelezatan masakan restoran itu"

Aku menanggapinya dengan senyuman kecil "Ohh. Mungkin aku akan tertarik untuk mencobanya besok pagi saja. Ngomong-ngomong jika pagi hari, bukanya jam berapa Makarov-jiisan?"

Ia menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arahku "Jam 07.30 nak. Aku sudah hafal benar jadwal buka dan tutup restoran itu. Sampai jumpa ya" Dan ia pun kembali melangkahkan kakinya.

Belum sempat aku merilekskan pikiran dan tubuh di lobi, tiba-tiba handphone di sakuku bergetar.

'Hn? Bukankah tadi sudah kukirimkan pesan kepada atasanku karena aku sedang terlibat dalam mengatasi kasus disini?' Kurogoh saku kananku tempat handphone milikku berada, tapi nihil.

Yang bergetar adalah saku kiri dimana aku menyimpan handphone Jellal.

Segera kuambil dan melihatnya.

'Pesan masuk? Apa ya kira-kira'

From : 085637789011

Boss, sy tunggu di kantor union acid chemicals cabang crocus stlh anda sampai di sana

Boss? Siapa dia? Bukankah Jellal ini hanyalah seorang manajer biasa? Dan dia juga bekerja di perusahaan konveksi. Tapi nama perusahaan ini sepertinya bukan nama yang lazim digunakan oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang konveksi. Tapi ... melihat isi pesan singkat barusan sepertinya ini bukan pesan main-main atau salah nomor.

"Gray!"

Sebuah suara keras terdengar, membuatku langsung tersadar dari alam imajinasiku.

"Ada apa Natsu?"

Ia berjalan mendekat ke arahku dari atas tangga "Tim kami sudah mengetahui siapa yang mengantar cangkir kopi berisi racun itu"

"SIAPA?!" Aku lepas kendali seketika. Tak menyangka bahwa secepat ini hasilnya akan keluar.

Pria berambut merah muda itu menjetikan jari kanannya "Dia ... "

Aku menatapnya dengan wajah serius. Tak sabar ingin mengetahui sosok sebenarnya yang kemungkinan tahu banyak tentang kasus ini, atau bahkan ada kaitannya langsung.

"Mirajane Strauss si pelayan cantik itu"

-TSUZUKU-

Chapter 4 ini selesai.

Di chapter ini ada dua petunjuk besar, dan satu hal yang cukup penting. Cukup penting untuk mematahkan alibi seseorang nantinya.

Apa saja itu? Cari sendiri ya, hehe.

Saatnya untuk menginterogasi ketiga calon tersangka dan mencari kebenaran alibi masing-masing di chapter depan.

Terima kasih ya sudah membaca!