Judul: Biru
Peringatan: NYAHAHAHAHA GAJE! OOC! OC! AU! Shonen-ai
A/N: Haha chapter IV sudah selesai.. Maaf ya upload nya lama -,- Ah iya! Saya mau minta maaf dulu sebelumnya... Untuk yang udah review dan tidak setuju bahwa abu-abu itu warna yang kusam dan jelek...hontou ni gomen nasai! , itu hanya supaya lebay aja kok... soalnya kan si Sebby tuh lagi bingung dengan jati dirinya *cuitcuit*, jadi saya bilang abu-abu jelek deh -.- sekali lagi hontou ni gomen~ *bows* Yak! Chapter ini udah saya buat si Sebby ketemu Ciel lagi —iya kan? Well, enjoy~
.
.
Ciel bergegas beranjak dari tempat tidurnya dan mengganti bajunya. Hari ini dia memutuskan untuk mengetahui apa yang ada di masa lalunya, bagaimana orangtuanya bisa mati, apa penyebabnya, siapa sebenarnya keluarga Michaelis untuk keluarga Phantomhive, —dengan cara apapun.
Apapun.
Ciel melangkah dengan cepat —malah terkesan sedikit terburu-buru. Ciel merasa waktunya sangat berharga, setiap detik dan menit harus digunakan untuk mencari —atau mengingat kembali, ingatan-ingatan yang pergi entah kemana.
Ciel harus berhasil menemukan masa lalunya. Harus.
Langkah kakinya berakhir di depan ruang kerja Bibi Ann. Seharusnya dia tidak boleh masuk ke ruangan itu, karena Bibi Ann tidak memperbolehkan siapapun masuk tanpa izinnya. Ciel tau hal itu, tapi tidak memperdulikannya. Ciel membuka pintu ruangan itu dengan perlahan, mencoba untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Ruangan itu tampak bersih dan rapi. Buku-buku disusun sesuai alphabet di sebuah rak buku yang tidak begitu besar. Di meja kerjanya ada sebuah foto. Vincent Phantomhive, Rachel Phantomhive dan...seorang laki-laki yang seumuran dengan ayahnya —pada waktu itu. Ciel memperhatikannya sejenak, Ciel tidak merasa mengenal orang yang ada di dalam foto itu. Tapi mengapa orang tuanya berfoto dengan orang itu?
Ciel mengangkat foto itu, debu-debu tipis membuat foto itu tampak lebih buram. Ciel melihat ayah dan ibunya di dalam foto itu. Vincent dan Rachel terlihat sangat bahagia di foto itu —dan jauh lebih muda. Ciel berasumsi bahwa dia belum lahir. Mungkin itu sebabnya Ciel tidak mengenal orang yang ada di foto itu. Setelah puas melihat wajah orang tuanya, Ciel beralih memperhatikan sesosok laki-laki yang ada disebelah orang tuanya.
Lelaki itu tampan, dan berkarisma. Ciel menyipitkan matanya, dan menemukan sebuah tulisan tangan di sudut foto itu.
Faustus.
.
.
Aldred, Mary, dan Sebastian sedang duduk di meja makan dengan tenang. Mereka sedang menikmati sarapan pagi mereka —French Toast dan Teh Assam. Aldred tidak makan —tentu saja iblis tidak makan makanan manusia. Hanya Mary dan Sebastian —yang masih memiliki keturunan manusia— yang menikmati makanan itu.
"Hari ini ada rencana apa, Sebastian?" Earl Aldred bersuara. Sebastian memandang ayahnya. Ayahnya sedang memantau perkembangan Inggris dengan beberapa lembar kertas koran. Sebastian berhenti memakan sarapannya sebentar dan menjawab, "Keluar rumah. Boleh, Yah?"
Mary mengerjap. "Keluar rumah? Kemana, Sayang? Kau sangat...jarang keluar. Kau mau Ibu ikut juga?"
Sebastian tersenyum. "Aku hanya ingin...jalan-jalan. Tidak usah, Bu. Aku bisa sendiri. Aku akan pulang sebelum jam makan siang."
Aldred menatap Sebastian sebentar —Ruby menatap Ruby. Aldred tersenyum dan mengangguk. "Pergilah, Sebastian. Tapi ingat, kau adalah Michaelis, jangan sampai ada orang yang berniat jahat kepadamu. Apa lebih baik kau membawa Bard —butler keluarga Michaelis— bersamamu?
Sebastian menggeleng dan menjawab, "Tidak, tidak usah. Aku memang ingin sendiri, tanpa butler atau pengawal, atau siapapun."
"Ayah mengerti."
.
.
"Faustus? Faustus itu...siapa? Apa nama orang ini?" Ciel berbisik pelan dengan dirinya sendiri.
Sunyi. Ruangan itu memang kosong, menyebabkan tidak mungkin ada yang menjawab pertanyaan Ciel itu. Ciel menghela nafas pelan dan duduk kembali ke kursi. Ciel mengacak rambutnya dan menutup matanya.
Kenapa mencari masa lalu sesulit ini?
Ciel membuka matanya dan berdiri dengan tiba-tiba. Dia keluar ruangan itu, dan menutupnya dengan perlahan. Mencoba untuk tidak meninggalkan bukti sedikitpun kalau dia pernah masuk ke dalam ruangan itu diam-diam.
Setelah menutupnya, Ciel bergegas berlari menuju ruangannya dan mengambil coat nya.
"Buku adalah jendela dunia. Baiklah, aku akan menemukan siapa si Faustus ini dari buku." Ciel tersenyum kepada dirinya sendiri dan berjalan keluar rumah. Dia menaiki kereta kuda yang kebetulan lewat di depan rumahnya dan meminta pak kusir untuk membawanya ke suatu tempat.
Perpustakaan kota.
.
.
"Michaelis?" Sebastian menoleh dan melihat seorang laki-laki bermata biru menegurnya. Sebastian tidak merasa mengenalnya, tapi kenapa laki-laki itu terasa tidak asing?
"Maaf?" Sebastian memutuskan untuk tersenyum dan bertanya. Laki-laki itu terkejut sebentar kemudian tersenyum. "Aku lupa kalau kau mengenalku pada saat aku memakai topeng. Aku Ciel, Ciel Phantomhive."
Sebastian mengerjap singkat dan langsung melihat ke arah mata Ciel. Mata itu memang biru, memang seperti mata si Biru yang ditemuinya di pesta. Sebastian bertanya dengan sedikit tergagap, "Kau...kau Ciel? Kau si Biru itu?"
Ciel mendengus —mungkin merasa kesal karena dipanggil Biru. Dia melihat Sebastian sebentar dan menjawab, "Iya...Aku Si BIRU. Ah, namaku Ciel. Jangan memanggilku Biru, itu terdengar seperti...kita sangat akrab dan kau memanggilku dengan 'panggilan sayang'. Sangat...cewek."
Sebenarnya kau memang terlihat seperti...cewek.
Aku tidak menghina.
Kau...cantik.
Ini pujian, bukan?
Sebastian menggeleng dan tersenyum, "Maafkan saya, Ciel. Saya tidak mengira kalau si Biru membuka topeng, wajahnya akan seperti ini. Senang bertemu denganmu lagi, Ciel."
"Senang bertemu denganmu juga, Michaelis. Dan sejujurnya, aku heran kenapa kau bisa disini." Ciel menutup buku yang sedari tadi di pegangnya. Buku itu sangat tebal dan besar —malah terlalu besar untuk tangan Ciel memegangnya. Sebastian melihat buku itu dan mengambilnya.
"Bacalah di meja, Ciel. Dan ini kan perpustakaan kota, jadi saya bisa saja disini. Kenapa harus heran?" Sebastian berkata sambil meletakkan buku yang diambilnya dari tangan Ciel ke atas meja. Ciel menaikkan sebelah alisnya, kenapa Sebastian harus repot-repot meletakkan buku itu di atas meja?
"Well, terima kasih. Tapi bukan itu poin pentingnya. Kau kan Michaelis. Aku yakin kau memiliki perpustakaan pribadi di rumah. Kenapa harus repot-repot datang kemari?" Ciel duduk. Sebastian tersenyum dan ikut duduk di sebelahnya, "Well, saya bosan dirumah. Kenapa anda bertanya seperti itu? Anda tidak suka melihat saya disini?"
"Ah...bukan itu maksudku."Ciel mengalihkan perhatiannya ke buku. Sebastian melirik buku yang ada dihadapan Ciel sekilas, dan mengernyit.
"Ciel? Kau ke perpustakaan kota hanya untuk membaca buku...sejarah perkembangan bangsawan Inggris?"
Ciel menoleh dan baru sadar kalau yang duduk di sebelahnya adalah salah satu anak bangsawan Inggris. Bukankah lebih cepat kalau bertanya langsung ke sumber yang lumayan terpercaya?
.
.
Ciel menutup buku tebal yang dibacanya dari tadi. Sebastian menaikkan salah satu alisnya dan memandang Ciel dengan heran. Ciel tersenyum manis ke arah Sebastian dan berkata, "Hei, maukah kau membantuku, Michaelis?"
Sebastian tersenyum sambil mengangguk, menandakan bahwa dia akan membantu laki-laki bermata biru itu.
"Apa yang harus saya lakukan?"
Ciel lagi-lagi tersenyum dan menopang dagunya dengan salah satu tangan kecilnya. "Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, Michaelis."
"Baiklah."
Ciel berdehem sebentar dan bertanya "Hei, Michaelis. Kau keturunan Michaelis kan?"
Pertanyaan Ciel yang agak aneh itu mengundang gelak tawa dari laki-laki bermata merah itu. Ciel mengernyit dan memasang tampang apa-ada-yang-lucu ke arah laki-laki bermata merah itu.
"Pertanyaanmu aneh, Biru. Kalau saya boleh jujur. Tapi saya akan menjawab pertanyaan ini. Iya, saya adalah keturunan keluarga Michaelis." Sebastian tersenyum singkat.
"Apa kau tau hubungan antara keluarga kita?" Ciel bertanya langsung ke poin penting. Sebastian tersentak sedikit —tidak menyangka akan ditanyai pertanyaan seperti itu dari keturunan Phantomhive. Sebastian memutuskan untuk pura-pura tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan itu.
"Apa maksudmu, Ciel? Memang ada masalah apa keluarga Michaelis dan keluarga Phantomhive?"
Ciel melihat lurus ke mata Sebastian —mata merah itu. Sebastian terlihat...jujur. Tidak ada tanda-tanda dia berbohong. Berarti dia tidak berbohong? Ciel menghela nafasnya dan menggeleng pelan.
"Aku kira kau...tau tentang hubungan keluarga kita. Sebenarnya, aku tau —sedikit, dari Bibiku. Aku hanya ingin memastikan...tapi ternyata kau tidak tau. Maafkan aku, Michaelis."
Sebastian tersenyum singkat. "Tidak masalah."
.
.
Mungkin ini kelebihanku yang dilahirkan seperti ini?
Atau malah kekurangan?
Karena dilahirkan setengah iblis setengah manusia
Aku tidak seperti iblis —pada umunya
Aku bisa berbohong.
.
.
"Uhm, Michaelis? Aku masih punya satu pertanyaan lagi." Ciel tersenyum ke arah Sebastian. Sebastian menatap lurus ke mata biru yang indah itu. Sebastian menggigit bibir bawahnya sedikit, takut dia akan ditanyai pertanyaan yang memaksa dirinya untuk berbohong lagi.
Karena ibunya —Mary Michaelis, selalu bilang bahwa Tuhan benci pembohong.
Sebastian mengangguk singkat dan tersenyum. "Silahkan tanya apapun, Ciel. Saya akan berusaha untuk menjawabnya."
"Apa kau pernah mendengar nama keluarga...Faustus?" Ciel bertanya dengan serius —dan lagi-lagi langsung pada poin pentingnya. Sebastian membelalakkan mata —lagi-lagi terkejut dengan pertanyaan laki-laki bermata biru itu.
"Memangnya ada apa dengan keluarga pamanku?" Sebastian balik bertanya. Kali ini gantian Ciel yang membelalakkan mata birunya.
"Paman!"
.
-bersambung-
.
A/N:maaf ya kalo tidak nyambung. Aaah sudahlah anggap saja cerita nya bagus. Ya ya ya? *puppy eyes* dan di chapter ini Ciel bener-bener OOC -,- daaan maafkan saya para fans Ciel -_- Ciel keren kok dan dia TIDAK seperti cewek -.- Bayangin waktu dia nyamar jadi cewek aja ya? Jadi kan para readers bisa agak-agak setuju kalau Ciel emang cantik -" *maksa* ah, well...okay next chapter will be published in 2 days later. :3
