Chap 4
Naruto dan teman-teman hanya milik MK sensei
Saya selaku Author hanya meminjam saja
Fic ini mengandung konflik yang lumayan berat dan ada beberapa adegan Lime and Lemon di dalamnya
Bagi pembaca yang masih usia dibawah umur saya harap agar tidak membaca Fic ini
Genre: Romance, Hurt, NTR tingkat tinggi :v
Pair: NHL
Bacot author:
banyak yang mengkritik masalah typo pada fic saya.
Indonesia negara yang sangat luas, setiap daerahnya memiliki bahasa daerahnya masing-masing.
Bahasa Indonesia di daerah saya tidak terlalu baku bahkan menjrumus ke aksen melayu pesisir.
Saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menulis Fic ini secara benar (EYD) tetapi menghilangkan aksen bahasa daerah saya sangat terasa sulit (ane anak SIANTAR)
Setiap penulis memiliki seorang editing, sedangkan kami para penulis di Fanfic tidak memiliki seorang Editing, jadi mohon pengertiannya kalau terlalu banayak typo.
Saya bukan anak kuliah jurusan satra, jadi bahasa Indonesia saya tak sesuai EYD,
Tidak ada yang sempoerna kecuali yang DIATAS
Untuk Para GUEST yang menghina FIC saya. saya ucapkan
FUCK YOU, kalau berani pakai Akun asli anda P*lacurrr
Matahari semangkin meninggi, menandakan hari semangkin siang.
Di koridor universitas Tokyo juga sudah di isi mahasiswa/i yang sudah mengakhiri kelas mereka.
Di salah satu ruangan di universitas Tokyo terlihat dua orang wanita sedang mengumpulkan buku tugas yang telah di tigalkan teman-teman sekelasnya di atas meja.
"Cepat Hinata-Chan, Sai-kun pasti sudah menungguku!"
Ujar seorang wanita berambut pirang kepada sahabatnya.
"Ia Ino-chan, kau tidak usah berteriak, aku juga sudah hampir selesai mengumpulkannya di sebelah sini"
Terlihat wajah cemberut Hinata yang sedang mengumpulkan beberapa buku di salah satu sisi ruangan.
Akhirnya buku-buku tugas tersebut selesai mereka kumpul.
"Ayo kita antar, tapi aku membawa sebagian buku ini sampai persimpangan koridor guru saja ya Hinata-chan, aku sudah terlambat."
"Hmm, kau tega Ino-chan, melihatku membawa tumpukan buku ini sendirian?"
Hinata mencoba merayu Ino untuk membantunya membawa buku-buku tugas ini sampai kedalam ruangan Kakashi sensei.
"Jangan memelas di depanku Hinata, buku-buku ini tidak berat, dan ruangan guru tidak terlalu jauh dari tempat kita berpisah nanti"
Ino menatap sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Hinata dan Ino berjalan beriringan menuju ruangan Kakashi sensei.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di persimpangan koridor.
Ino langsung memberikan buku yang dia bawa kepada Hinata dan langsung pergi setelah pamit kepada wanita bersurai indigo itu.
RzOneNHL
Naruto sedang membaca beberapa buku sambil menunggu kedatangan Hinata, seharusnya Hinata sudah sampai di ruangan ini, karena kelas telah usai.
'Hime, kau lama sekali'
batin Naruto.
Baru saja Naruto membatin, pintu ruangan yang dia huni di ketok dari luar.
Tok tok.
"Masuklah"
Naruto berujar sambil memfokuskan mata nya ke arah pintu kayu tersebut.
Krieett
Pintu itu terbuka menampilakann wanita bersurai indigo yang Naruto tunggu sedari tadi.
Hinata masuk ke dalam ruangan Kakashi sensei dengan menundukkan kepalanya, dia tau orang yang berada di ruangan tersebut adalah Naruto, sebab tadi sempat mendengar suaranya.
"I-ini tugas yang Anda berikan, saya permisi dulu"
Hinata meletakkan tumpukan buku tugas di meja depannya, lalu segera beranjak dari ruangan itu.
Hinata masih sedikit merasa sebal dengan Naruto, karena Naruto menanggapi gombalan gombalan wanita di kelasnya tadi pagi.
Naruto yang melihat Hinata sudah berada di depan pintu kayu ruangan tersebut segera menghampiri Hinata.
Srekk.
Suara pintu yang tadi sempat Hinata buka, kini kembali di tutup dengan paksa oleh Naruto.
"Ehkkkk"
Pekik Hinata, tapi masih menundukkan wajahnya.
Andai saja Hinata menatap wajah Naruto, Dia pasti dapat melihat jelas lebam pada bibir sebelah kiri pemuda itu.
Naruto mempersempit jarak mereka sambil mengurung Hinata di antara kedua tangannya.
"Heii, kenapa kau langsung pergi Begitu saja?"
"Hmm maaf Naruto-kun, aku ada urusan sedikit, aku harus segera pergi"
Hinata mencoba memohon kepada Naruto, agar bisa lepas dari kekangan pemuda pirang tersebut.
Sebenarnya saat ini Hinata juga ingin membicarakan suatu hal kepada Naruto, tapi melihat posisi mereka sekarang, Hinata jadi merasa was-was Naruto akan menyerangnya seperti tadi pagi.
"Apakah urusanmu lebih penting dari ini?"
Jemari Naruto mengangkat wajah Hinata sambil menunjukkan luka lebam di bibirnya.
Dia sepertinya ingin bermanja-manja sebentar dengan Hinata di ruangan terlarang yang saat ini mereka tempati.
"Ke-kenapa dengan bibirmu? Dan wajah sebelah kirimu juga mulai membiru"
Hinata langsung menggerakkan tangannya dengan lembut untuk menyentuh lebam pada wajah Naruto.
Perasaan khawatir mulai mendominasi dirinya.
"Sepertinya kau ada urusan penting, pergilah aku tidak akan mengurungmu di sini."
Pura pura marah sepertinya sudah menjadi kebiasaan Naruto untuk menggoda gadis Hyuga itu.
Naruto berjalan menjauhi Hinata menuju tempat duduk pada meja kerja Kakashi.
"A-aku bisa menundanya, ka-kau lebih penting saat ini"
Ucap Hinata menghampiri Naruto yang sedang duduk di bangku kebesaran Kakashi.
"Benarkah? Kau ingin menolongku saat ini? Bukankah urusanmu sangat penting?"
"Ja-jangan bahas yang tadi Naruto-kun! Aku akan mengobatimu di ruang UKS, ayoo!"
Hinata mencoba menarik tangan pemuda itu untuk ke ruang UKS universitas.
Tapi usahanya sia sia, Naruto sama sekali tidak bergeser dari tempat duduknya.
Tangan Naruto menepuk-nepuk pahaknya, mencoba memberikan isyarat agar Hinata duduk di pangkuannya.
"T-tidak Naruto-kun, ini di ruangan Kakashi sensei, kalau ketahuan kita bisa di DO."
Hinata mengerti maksud dari isyarat Naruto, wajahnya terlihat sangat merah sekarang.
"Kalau begitu, pergilah urusi urusanmu, aku ingin memeriksa tugas tugas ini sekarang."
Hinata mulai bingung dengan keadaannya saat ini, di satu sisi dia ingin mengobati Naruto, di sisi yang lain, dia tau bahwa Naruto menginginkan lebih dan dia tidak mungkin melakukannya di sini.
"Kau tidak ingin urusan pentingmu menunggu bukan?"
Ancam Naruto lagi.
Sekarang hati Naruto sedang berbunga-bunga menatap wajah Hinata yang terlihat pasrah.
Dengan secara perlahan, Hinata mendudukkan pantatnya kepangkauan Naruto dengan posisi membelakangi pemuda itu.
Tangan Naruto dengan cepat memeluk erat pinggang Hinata sambil menghirup wangi lavender di ceruk leher Hinata .
"Enghh Naruto-kun, ja-jangan berlebihan, nanti kalau ada yang datang bagaimana?"
Hinata mendesah pelan karna Naruto menggigit kecil lehernya.
"Baiklah-baiklah, aku hanya ingin memelukmu sekarang, mungkin nanti malam aku ingin lebih"
Goda Naruto sambil mempererat pelukannya pada pinggang Hinata.
Hinata sukses memerah di tambah tangan Naruto dengan jahil mencolek colek dadanya pelan.
"Na-naruto-kun, hentikan tanganmu, ge-geli tau!"
Ambek Hinata sambil menggembungkan pipinya seperti biasa.
"Baiklah sayang, tapi nanti malam temani aku makan. Aku ingin makan malam denganmu, lalu kita ke tempat seperti semalam."
Entah mengapa Hinata tidak bisa menolak permintaan Naruto, dia serasa tidak mendapat tekanan atas permintaan Naruto yang bisa di bilang ekstream.
"Ba-baiklah Naruto-kun, tapi aku yang akan mengabarimu, meminta ijin kepada Tou-san sangat sulit kecuali aku bersama Sasuke."
"Ok, aku tunggu kabarmu nanti malam, jangan buatku kecewa Hime!"
Hinata pov
Cinta dapat membutakan mata, pikiran, logika pada manusia.
Itulah yang terjadi pada diriku saat ini, aku sama sekali tidak bisa menolak permintaan dari Naruto-kun.
Naruto-kun serasa sudah mengunci hatiku dengan sangat rapih, padahal aku baru mengenal pemuda tersebut.
Sasuke uchiha adalah tunanganku, dan aku tau itu, tapi perasaan cinta dan sayang kepada saudara sangat berbeda, itu yang saat ini terjadi di antara kami.
Diriku dengan relanya mau di cium sentuh oleh Naruto-kun.
Tapi bagai mana dengan sasuke? Bahkan saat di acara tunangan dia mencoba menciumku tapi aku menolaknya, dia dapat memelukku tapi tidak lebih dari pelukan seorang kaka kepada adiknya.
Aku menerima pertunangan dengan Sasuke karena dia memohon sambil berlutut di hadapanku di depan semua pengunjung sebuah restoran.
Aku ingin menolaknya tetapi saat itu aku belum mempunyai alasan untuk menolaknya, Sasuke berkata kepadaku, cinta akan datang karena terbiasa, dia mencoba meyakinkanku di tambah saat itu aku sama sekali tidak dekat dan mengenal lelaki manapun.
2 tahun lebih kami menjalin hubungan, tapi perasaan ini belum tumbuh untuknya. Berkali-kali dia mencoba menciumku, tapi aku selalu berhasil menghindar.
Hari itu aku bertemu seorang pria tampan sedang membaca novel berbahasa Inggris, aku mendekatinya untuk bisa bertanya sesuatu kepadanya di tambah rambut pirangnya. Aku yakin dia bukan orang asli Jepang, paling tidak campuran Eropa, itu pikiranku saat itu.
Pertama sekali aku menegurnya, ntah mengapa dada ini berdetak lebih dari biasanya, bahkan senyumannya sangat menawan bagiku, mata biru safirnya seolah menyedotku kedalam pesonanya.
Pemuda pirang itu membalasku dengan sapaan yang sangat ramah, memberi tau namanya sambil tersenyum membuat hatiku terasa berdesir hangat.
"Naruto Uzumaki, kelas sastra Inggris semester 7"
Itu kata-kata pertama yang dia lontarkan kepadaku.
Hanya butuh waktu kurang dari 2 jam aku bisa merasa ada perasaan lebih dariku untuknya.
Dia tau sifatku dengan alasan menebak dari tata cara bahasaku bahkan yang Sasuke tidak tau.
Seoalah olah dia stalker setiaku, tapi aku tak merasa marah walau dia menjadi stalker Setiaku.
Perbincangan kami terhenti karena Naruto-kun ada kelas yang menantinya.
Dia berjanji akan menemuiku kembali di tempat yang sama setelah jam istirahat usai.
Pertemuan kembali yang kami lakukan itu membuatku kehilangan semua kesucianku, aku sempat menolak sentuhannya pada tubuhku, karna perasaan ini kurasa belum pasti untuknya dan juga terlalu cepat untuk melakukannya.
Tubuhku memanas di tambah sentuhannya yang dengan sekejap menggulingkan pendirianku, aku menerima sentuhannya dengan sukarela dan mencoba menanamkan perasaan cinta ini hanya untuknya.
Bahkan saat ini dia kembali mengekploitasi tubuhku walau tidak sampai melakukan sex.
End Hinata pov
"Na-naruto-kun, engghh kau boleh melakukannya nanti malam, ada yang ingin ku bicara kan padamu, engghh berhenti s-seh-sebentar, ku mo-mohon"
Hinata merasa sangat tersiksa dengan rangsangan yang di daratkan Naruto pada setiap jengkal bagian leher dan tulang slangkanya.
Naruto menghentikan kegiatannya karna mendengar Hinata ingin membicarakan sesuatu.
"Apa yang ingin kau bicarakan Hime-chan?"
Bagai mana memulainya, pikir Hinata.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama akhirnya Hinata langsung berterus terang.
"A-aku lupa meminum obat yang kita beli tadi malam"
Cicit Hinata yang tampak gugup, dia takut Naruto akan marah dan tidak mau bertanggung jawab jika ia hamil.
"Lalu?"
Tanya Naruto biasa saja.
Hinata yang mendengar jawaban Naruto merasa sedikit sebal.
"Ba-bagai mana kalau aku Hamil?"
"Kita menikah donk, bukankah aku sudah pernah mengucapkannya semalam"
Jawaban yang sama ketika di mobil Naruto semalam, pikir Hinata sebal.
Hinata mengubah posisi duduknya.
Sekarang wajah mereka berhadapan dengan posisi yang lebih intim, bahkan Hinata dapat merasakan kejantanan Naruto menekan pantatnya tapi dia mengabaikannya.
"Aku serius Naruto-kun, aku ingin kau tidak berbohong tentang, nnnn. Tetantang perkataanmu semalam, kalau melakukannya pertama kali itu tidak akan hamil!"
Hinata berkata dengan tegas walau sedikit kikuk.
Hembusan nafas Hinata serasa angin segar yang menerpa wajah Tan Naruto.
Posisi wajah mereka berdua tidak lebih 8cm.
"Baiklah, tidak 100 % ucapanku benar, ada wanita yang langsung hamil walau itu pertama sekali buatnya.
Itu di sebabkan 1 faktor yang sangat mendukung. Aku ingin tanya? jadwal bulananmu kapan dan selesai tanggal berapa?"
Hinata tampak berfikir.
"3 hari yang lalu aku selesai mens" jawab Hinata semangat.
"Benarkah, berarti kita bisa melakukannya lagi beberapa hari ini."
Naruto tersenyum mesum.
"Ma-maksud Naruto-kun apa?"
"Masa subur wanita itu di mulai biasanya 9-12 hari setelah selesai mens, dan sekarang kau tidak dalam masa subur, jadi aku akan puas menyantapmu untuk beberapa hari ke depan."
Setelah mengatakan kalimat yang dapat membuat Hinata langsung memekik kaget karna tangan Naruto langsung memeluk pinggang wanita itu dengan erat.
"Hmmmn" desah Hinata.
Bibir Naruto dengan sangat rakus melahap bibir tipis gadis di pangkuannya.
Menggerayangi seluruh tubuh Hinata adalah candu bagi Naruto.
Bahkan bukit kembar yang masih terbalut rapi kaus pelapis blazer itu tidak lepas dari sentuhannya.
Tangan Hinata melingkar di leher Naruto dan menikmati permainan mereka.
Dretttt drett.
Kesibukan Naruto terganggu karna handphone Hinata yang berada di saku blazer wanita itu bergetar.
Calling #sasuke
"Siapa?"
Tanya Naruto.
"Sasuke menghubungiku"
"Angkat saja, bilang kau sedang sibuk" tegas Naruto.
"Hm"
"Hallo Sasuke-kun."
Ucap Hinata.
"Kau dimana Hinata-chan? Ini sudah jam makan siang"
Ujar Sasuke di sebrang sana
"Sehhpp-Sebentar lagi sasuke-kun aku masih berada di kelas, kau tunggu sahhhjah"
Hinata langsung mendelik kearah Naruto, apa-apaan pemuda itu, dengan seenak jidatnya menjilati leher Hinata saat menelepon, pikir Hinata.
"Kau tak mengapa Hinata? Suaramu agak aneh tadi, kau sakit? Aku akan mengantarmu pulang bila kau sedang tidak enak badan." Sasuke terlihat sangat khawatir.
"Ahh, tidak Sasukekhunnn nghh, aku bahkkikk shaajahh nghh, sudag hh duluhh sasuke-khunn."
Hinata segera mematikan teleponnya, dan menatap Naruto yang nyengir tanpa dosa.
"Naruto-kun, bagai mana kalau dia curiga!"
Delik Hinata sambil memukul dada bidang Naruto.
"Hahaha, ayo kita lanjut, heii jangan ngambek, atau aku akan mengellitikimu"
Naruto dengan cekatan menggelitii pinggang Hinata.
"Hahaha geli Naruto-kun, hahahaha, cukup, aku kalah"
Hinata masih terus Tertawa di atas pangkuan Naruto, karna Naruto masih menggelitiki pinggang Hinata.
"Hahaha, rasakan ini Hime, aku tidak akan berhenti sebelum kau menciumku!"
"Hahaha baik Naruto-kun, tapi jauhkan dulu tanganmu, ini terasa sangat geli"
"Tidak akan Hime, kau harus mencihnmmmm"
Belum sempat kalimat Naruto selesai, Hinata dengan berani menarik wajah Naruto dan mencium Naruto dengan sangat liar.
"Hmmm, engghh Narutho-kun"
Desahan Hinata di sela-sela ciumannya.
Krieett
Pintu ruangan Kakashi sensei terbuka karna ada seseorang yang ingin masuk.
Kedua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu langsung menoleh kearah pintu yang terbuka barusan.
"Ehkk maaf, sepertinya aku mengganggu acara kalian? Permisi."ucap orang itu lalu keluar dari ruangan panas tersebut.
Hinata langsung lompat dari pangkuan Naruto setelah mengetahui siapa yang memergoki mereka.
"HUAAAA, ITU SENSEI NARUTO-KUN, AKU SUDAH MELARANG MU DI SINI, TAPI KAU BANDEL SEKALI!"
Teriak Hinata di ruangan itu.
Sikap tsundre yang tidak mau di salahkan mulai keluar, padahal tadi dia juga sangat bersemangat.
"Sudahlah, rapikan bajumu, aku akan berbicara dengan sensei, ini sudah jam makan siang, aku menyusul nanti'
Hinata merapikan baju yang dia gunakan, blazernya tampak aut autan, karna Naruto terus memelakukan penetrasi di sana.
RzOneNHL
Hinata berlari ke arah kantin dan tak sengaja kembali bertemu dengan Kakashi sensei.
Karna tanpa sengaja melihat kejadian Icha Icha tastis secara live di depan matanya, dia berpikir membutuhkan kopi panas sekarang.
"Ma-maaf se-sensei, itu tak seperti yang Anda bayangkan"
Hinata langsung berojigi di depan Kakashi untuk menjelaskan hal yang tidak penting itu.
"Ahkk Hyuga-san, jangan di pikirkan, aku tidak melihat apapun tadi" dusta Kakashi"aku pergi dulu"
Kakashi berlalu meninggalkan Hinata yang masih terbengong.
RzOneNHL
"Hinata-chan, kau di sini ternyata, apa urusanmu tadi bersama Kakashi-sensei?"
Tanya Sasuke yang baru tiba di sebelah Hinata.
Hinata kaget karena Sasuke sudah berada di sebelahnya.
"Sa-sasuke-kun, ah ia, aku tadi ada urusan dengan Kakashi sensei, kau tau aku suka bahasa asing bukan?"
Beruntung saat Sasuke datang, Hinata sedang berbicara dengan Kakashi, pasti saat ini Sasuke berpikir Hinata tadi memang ada sedikit urusan.
"Kalau begitu, ikut aku ke kantin, aku sangat membutuhkan makanan sekarang"
Ujar Sasuke sambil menarik tangan Hinata.
Sasuke dan Hinata berjalan ke arah meja kosong di ujung ruangan kantin.
"Duduklah, aku akan pesankan 2 paket Bento seperti biasa."
Hinata hanya mengangguk setuju, dia lebih memilih diam agar semua berjalan baik.
RzOneNHL
"Dasar bocah sialan, kau membuat ruanganku seperti love Hotel murahan."
"Hahaha, maaf senpai, aku lepas kontrol tadi, apa urusanmu dengan Mito baa-chan sudah selesai?"
Naruto mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau tau dia siapa bukan?"
"Tentu aku tau senpai, aku sudah mengawasi dirinya selama aku di sini, dan aku tidak mau tau tentang hubungannya bersama bocah uchiha itu"
Naruto sudah bisa memastikan hal apa yang akan di ucapkan Kakashi selanjutnya. #jauhi Hyuga.
"Jauhi dia, kau tau Hyuga dan Uchiha sangat berpengaruh terhadap universitas ini, aku tidak ingin masalah menimpa dirimu, jika mereka menuntut, apa yang akan kau lakukan?"
"Kau tak perlu khawatir, Hyuga dan Uchiha tidak akan menggoyahkan tekadku, kau tau, Hinata juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, ini akan mudah, jangan khawatirkan aku. Tou-san dan Kaa-chan selalu mendukungku, walau aku sedikit ragu pada mereka akan mendukungku atau tidak kali ini"
Naruto sedikit merasa was-was, Hyuga dan Namikaze memiliki hubungan yang baik, begitu pula Uchiha dan Namikaze.
Naruto khawatir, keluarganya tidak mendukung hubungannya dengan si Hyuga karna alasan menjaga hubungan ke3 perusahaan.
RzOneNHL
Sasuke dan Hinata terlihat sedang menikmati makanan di salah satu meja di kantin.
Dari pintu masuk kantin terlihat seorang pemuda pirang sedang seperti orang kebingungan.
"Di mana Hinata?"
Gumam Naruto.
Tidak berapa lama akhirnya Naruto menemukan Hinata sedang makan bersama dengan seseorang yang tadi pagi memukulnya.
'Sepertinya ini akan seru'
Pikir Naruto sambil menghampiri Hinata dan Sasuke.
"Heii, boleh aku bergabung?"
Naruto menyapa Sasuke dengan ramah.
"Pergilah!"
Ucap Sasuke dingin.
Hinata yang berada di meja itu hanya dapat terdiam karena dia melihat Naruto menghampiri dirinya saat bersama Sasuke.
"Kau kejam sekali, semua meja sudah terisi" Naruto berucap sambil duduk di hadapan Hinata.
"Hei manis, apa aku boleh bergabung? Owh sepertinya rambutmu ini mengganggumu saat makan" ujar Naruto sambil merapikan rambut Hinata
Hinata hanya bisa mengangguk dan terlihat sedikit tersipu, saat Naruto merapikan helai rambut yang mengganggu.
"Hei uchiha, kau lihat, gadis manis ini saja membolehkan ku"
Wajah Sasuke terlihat semangkin suram.
Dengan penuh emosi, Sasuke menggebrak meja di depannya dengan keras dan langsung mencengkeram kerah pada baju Naruto.
"Jauhkan tanganmu darinya!"
Desis Sasuke tajam.
Semua mata yang berada di kantin mengarah kepada mereka.
"Owhh maaf sobat, tangan ini bergerak sendiri, kau tau, gadis di sebelahmu ini sangat manis, lelaki mana yang dapat menolak pesonanya?"
Oceh Naruto sambil menatap ke arah semua pria yang ad di dalam kantin.
"Sa-sasuke-kun, su-sudahlah"
Hinata mencoba menenangkan Sasuke.
"Hei manis, tidak ada guna kau menasihati nya, bahkan sekarang sepertinya dia akan membunuhku"
Naruto masih terlihat santai, sambil menyunggingkan senyum meremehkan.
"Diam kau Uzumaki!"
"Hei Uch-"
Bughh!
Pukulan keras melayang ke wajah Naruto dan membuat pria itu tersungkur di lantai kantin.
Sasuke masih belum puas, dia kembali menyerang Naruto yang terlihat masih merintih di bawah.
Hinata yang melihat keadaan terpuruk Naruto langsung menghampiri pemuda itu.
"Sa-sasuke-kun, hentikan, kau bisa melukainya lebih parah lagi"
Sasuke yang berniat kembali menyerang Naruto Sekarang terdiam karena Hinata sedang membantu pemuda uzumaki itu untuk berdiri.
Keadaan kantin samgkin memanas karena kejadian langka, biasanya Hinata akan membela Sasuke walau Sasuke yang bersalah, tapi sekarang terlihat berbeda.
"Ayo pergi, kita pulang!"
Sasuke mencoba menarik tangan Hinata untuk pergi dari tempat itu.
"Ti-tidak Sasuke-kun, aku harus mengobatinya"
Ucap Hinata sambil melepas jeratan tangan Sasuke.
"Jangan membantahku Hinata, dia tidak perlu kau obati, ayo pergi dari sini!"
"Hei Hime, pergilah, kau bisa menyembuhkan ku nanti malam"
Bisik Naruto pelan tepat di samping telinga Hinata.
Hinata malah terlihat malu sekarang, dan Sasuke dengan mudah menyeretnya karena Hinata masih mencerna perkataan Naruto tadi.
Naruto menatap kepergian pasangan itu, pandangannya tak lepas dari Hinata.
"Engh, ini sakit sekali!"
Desahan Naruto yang terlihat memegang bekas pukulan Sasuke.
Naruto pergi dari ruangan kantin itu menuju parkiran.
Sepertinya istirahat di rumah lebih cocok untuknya saat ini.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Fic ini berlanjut ketika FAV, FOL, dan reviews terpenuhi.
Setiap author pasti memiliki target, dan target saya belum terpenuhi dalam Fic ini,
Jadi para pembaca harus meninggalkan Jejak sesudah selesai membaca Fic saya.
THX
SALAM RzOneNHL
yudarizki48 .id
