SWORD's MEMORIES
•
•
Chanyeol merasa kali ini ia telah kehilangan kewarasannya. Protes keras dari para pejabat tinggi istana tentang tindakannya yang memasukkan seorang gisaeng ke kediaman mendiang ratu cukup membuat kesadarannya terketuk.
Seharusnya Chanyeol bisa lebih berpikir jernih, selain tembok istana memiliki telinga, adalah hal yang tidak pantas memperlakukan seorang wanita penghibur dengan cara seperti itu meskipun alasan Chanyeol masih hidup saat ini adalah karena pertolongannya.
"Yang Mulia, kami menyarankan agar Yang Mulia memberi hukuman yang pantas untuk pelacur itu karena telah berani mengotori tempat paling suci di lingkungan istana."
"Mohon pertimbangkan saran kami!"
Para pejabat dari partai barat berseru menyuarakan keberatan mereka tentang rumor yang beredar. Tuan Kwak menjadi pelopor yang mendalangi kekompakan para pejabat tersebut karena semua orang tahu sang raja begitu mencintai mendiang istrinya, penguasa Joseon itu dikenal sinis dan dingin terhadap wanita sejak ditinggalkan oleh ratu, dan fakta bahwa Chanyeol memasukkan seorang wanita ke kediaman mendiang ratu cukup membuat tuan Kwak merasa terancam karena hal itu akan membuat kesempatanannya menjodohkan putrinya dengan sang raja semakin menipis.
Di atas singgasana, Chanyeol duduk dengan gelisah. Ia marah terhadap dirinya sendiri dan nyaris menyetujui saran para pejabat jika ia tidak diingatkan bahwa ada hutang budi yang harus ia bayar terhadap sang gisaeng yang telah menyelamatkan nyawanya dua kali. "Wanita itu telah menyelamatkan nyawaku sebanyak dua kali. Istana ratu adalah tempat paling dekat yang bisa dituju pada saat kejadian, dan kalian pikir aku akan membiarkan penyelamat hidupku dengan kondisinya yang seperti itu begitu saja?"
Balairung istana itu senyap dalam sekejap.
"Tetapi Yang Mulia dia adalah wanita penghibur yang tidak pantas berada di istana."
"Seingatku kalian semua begitu menikmati tarian gisaeng itu di pesta ulang tahunku tempo hari." Kecam Chanyeol. "Kalian berbondong-bondong menghadangku melakukan kunjungan ke ibu kota, memprotes keras penghapusan kenaikan pajak, melakukan petisi ini dan itu tapi kalian semua membuka jalan saat istana membiarkan rombongan wanita penghibur mengisi pesta ulang tahunku! Dan sekarang kalian menyalak atas tindakanku yang hanya berniat membalas budi atas nyawaku yang sudah diselamatkan oleh wanita pengibur itu? Apa kalian kehilangan urat malu?!"
"Yang Mulia!" Secara serempak para pejabat itu tunduk pada setiap kecaman yang terlontar dari mulut Chanyeol.
Raja berwajah lelah itu lantas menautkan kedua alis. "Ahh, apa kalian marah karena aku baik-baik saja? Kalian tidak puas jika belum melihatku terbaring sekarat?" Tanyanya dengan aura berbahaya.
"Yang Mulia, bagaimana bisa Yang Mulia berkata seperti itu? Kami pantas mati jika sumpah setia kami tidak terbukti!" Seru salah satu pejabat seraya bersujud.
Chanyeol memejamkan matanya dengan geram, dan rasa muak telah berada di ujung tanduk. "Bagaimana pun Gisaeng itu telah meninggalkan istana. Jika kalian merasa diri kalian suci maka aku tidak akan pernah lagi memberikan izin dan akses bagi para wanita penghibur itu untuk memasuki istana!" Mutlak Chanyeol sebelum menutup rapat itu dengan bangkit dan meninggalkan bisik-bisik keberatan dari beberapa pejabat yang kerap menjadikan gisaeng sebagai penghibur dan pelipur lara.
-oOo-
•
•
Rumah bordil itu telah berdiri di pusat kota sejak belasan tahun lalu, ada banyak kisah dan cerita yang tertuang dan segalanya tak luput dari ingatan seorang Kim Heechul.
Wanita yang kini menjelma menjadi gisaeng senior itu adalah sosok yang begitu ambisius. Uang lebih penting di atas segalanya, meskipun hal itu tidak membutakan hatinya untuk peka pada suatu hal yang bersifat janggal. Ia telah lama memperhatikan Baekhyun, bisa dibilang Heechul mengenal seluruh anak didiknya dengan baik, ia menghabiskan waktu dengan mempelajari karakter mereka satu persatu tak terkecuali Baekhyun.
Di samping Baekhyun adalah anak emas, Heechul pun merasa wanita itu menyimpan begitu banyak rahasia di balik ekspresi wajahnya yang dingin.
"Aku bertanya-tanya di mana kau saat kelas musik berlangsung."
Heechul menerobos masuk ke ruangan Baekhyun dan memulainya dengan nada datar sebelum duduk di seberang Baekhyun yang sesaat lalu mempersilahkan wanita yang lebih tua darinya itu untuk duduk di tempatnya.
"Aku masih merasa pusing, nyonya."
Kondisinya Baekhyun memang butuh sebuah pemakluman, namun ketika disinggung lagi Heechul menemukan celah untuk membahasnya lebih jauh.
Sunyi yang menggertak adalah saat di mana Heechul memilih kata untuk ia lontarkan sebagai satu kalimat utuh.
"Apa kau tahu di luar sana kita sama berharganya dengan apa?"
Baekhyun bungkam, enggan menggeleng untuk satu hal yang tidak ia ketahui.
"Kita tidaklah lebih berharga dari dua sen yang kerap gelandangan terima di dalam tempurung kelapa, Baekhyun." Tukas Heechul seraya menatap obsesi yang berpendar di kedua bola mata Baekhyun. "Apapun itu lebih baik kau lupakan obsesimu. Wanita pengibur tidak—"
"Kenapa Anda berbicara seolah mengetahui segalanya?" Tangan Baekhyun terkepal meski yang terlihat hanga sebentuk garus tegang di wajah.
"Ucapanmu itu menjelaskan sesuatu. Apa itu? Apa kau terobsesi menjadi ratu?" Heechul tertawa sinis. Ia memang sudah menaruh rasa curiga sejak saat Baekhyun tampil di istana. Anak emasnya itu tampil dengan sempurna bahkan terkesan berlebihan seperti tengah menarik sepasang mata dan ketika Heechul sadar sang raja lah yang berhasil Baekhyun perdaya dengan tarian yang disuguhkan.
Heechul bungkam hingga ia menerima informasi bahwa Baekhyun berakhir di dalam istana mendiang ratu dan raja sendiri yang membawanya ke sana. Itu bukanlah sebuah kebetulan, Heechul merasa ada sesuatu yang tidak lazim dan ia menuntut Baekhyun untuk menjelaskan segalanya. Itu adalah haknya untuk tahu apa yang anak didiknya pendam selama ini.
Baekhyun memalingkan wajah dengan geram, hal yang sontak membuat Heechul tertawa keras.
"Sayangnya aku mendidikmu dengan baik dan tahu seperti apa dirimu."
Tidak ada sahutan berarti, Heechul justru menemukan sesuatu di balik ekspresi wajah Baekhyun saat ini.
Ya. Sebuah amarah. Sesuatu yang sulit diserap nalar karena kemarahan itu tampak berkobar dan menggebu-gebu.
"Kau tahu, aku memang menyukai uang, tapi kita sudah hidup bersama selama belasan tahun. Bukankah hal yang mustahil jika itu tidak sedikt pun membekas?"
Baekhyun memberanikan diri menatap Heechul. "Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"
"Gadis bodoh. Tentu saja aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri." Heechul lantas mendelik kecil saat Baekhyun berdecak tidak percaya.
"Mana ada? Kau wanita paling galak dan kejam yang pernah aku kenal."
"Dan itu membuatmu menjadi seperti sekarang ini." Sahut Heechul dengan bangga. "Berkat siapa posisimu sebagai primadona favorit para pejabat jika buka keahlianku."
"Oh ya, ya nyonya Kim."
"Jadi, apapun itu aku harap kau tidak lupa bahwa dukunganku selalu bisa menempatakanmu pada situasi yang menguntungkan."
Baekhyun mulai mencerna kalimat itu dengan hati-hati. Perlahan ia menatap Heechul dan memikirkan segala hal dari awal.
Ya. Baekhyun sudah sejauh itu dan tidak ada salahnya jika ia menaruh kepercayaan kepada Heechul yang tidak pernah sekali pun berbuat jahat kepadanya selama ini. Wanita tua itu justru berperan banyak dalam kisahnya bertahan hidup.
Sementara Heechul masih setia menunggu Baekhyun kembali bersuara.
"Apa kau mempunyai koneksi mendalam di Istana?"
Sebelah alis Heechul terangkat. "Kau benar-benar mengincar tahta Ratu?"
Baekhyun menggeleng. "Lebih tepatnya merebut kembali tempatku."
Rahangnya yang mengatup serta ekspresi wajah yang berubah mengeras dalam sekejap melahirkan begitu banyak tanda tanya. Lebih dari itu, kalimat yang terlontar membuat Heechul merasa perlu menggali lebih dalam
Apa yang Baekhyun maksud?
"Aku mengenal seluruh pejabat Istana. Baik kubu partai barat maupun timur. Aku berbaur dengan semua orang sejak belasan tahun lalu. Apa yang kau inginkan dengan itu?"
"Kubu partai timur. Apa mereka masih pengabdi setia raja terdahulu?" Baekhyun menekan pita suara, menyembunyikan kegugupan.
"Oh, tentu saja!" Heechul menjawab dengan antusias. "Aku sebagai pelayan setia menteri personalia jika beliau berkunjung. Tuan Cho. Beliau begitu menghormati raja terdahulu dan seringkali memprotes kebijakan raja saat ini, beIiau kerap berselisih paham dengan pejabat Kwak dan sebenarnya menolak pengangkatan raja baru belasan tahun silam."
"Benarkah?" suara Baekhyun terdengar antusias seraya mengingat sosok tuan Cho yang Heechul bicarakan.
Apakah dulu Baekhyun pernah bercengkrama dengan menteri personalia tersebut?
"Sebenarnya apa niatmu, nak? Mengapa aku merasakan firasat yang tidak baik tentang semua ini?"
"Bisakah kau mempertemukanku dengan tuan Cho? Kau akan tahu setelah aku bertemu dengannya."
"Entahlah, butuh kesabaran menunggu ajudannya datang untuk menjemputku. Dia adalah salah satu pejabat tinggi istana dan sangat sibuk. Tapi, aku akan mencoba mengutus seseorang."
"Apa kau begitu penasaran terhadapku?" selidik Baekhyun karena Heechul terdengar begitu bertekad.
"Tentu saja! Sejak awal kau memang menyimpan banyak rahasia. Aku tidak menanyakan apapun dan kurasa itu keputusan yang tepat melihat bagaimana kemarahan tertanam di kedua matamu yang sipit!"
Baekhyun menundukan kepala. "Kau akan tahu karena aku pun tidak dapat menyembunykan ini lebih lama lagi. Aku percaya… kau akan berada di pihakku. Bukan begitu, nyonya?"
Heechul menyentakkan kepala kemudian bangkit. "Kau akan bertemu dengan tuan Cho. Untuk sekarang pulihkan dulu kesehatanmu." Tuturnya sebelum berlalu dari ruangan pribadi Baekhyun.
-oOo-
"Yang mulia, Ibu Suri datang berkunjung." Seruan seorang dayang itu tak sedikit pun membuat Chanyeol bergerak. Deretan sastra yang sebenarnya telah ia hafal di luar kepala terasa lebih menarik ketimbang sosok berwibawa di balik hanbok sutra yang kini menyapu lantai.
"Raja, apa begitu caramu menyambut kedatangan Ibumu?"
Chanyeol memejamkan mata lalu melirik sang ibu tiri yang tengah bersimpuh, diabaikannya sosok wanita muda di sebelahnya. "Ada perlu apa Ibunda datang berkunjung? Aku sedikit sibuk."
Sunhwa tersenyum kecil. "Para dayang berkata bahwa akhir-akhir ini napsu makan Baginda mengalami masalah."
"Lantas?" Sebelah alis Chanyeol terangkat, ia masih duduk dengan santai di atas singgasana. Ekspresinya masih sama, seolah memberi peringatan bahwa ia tak tersentuh oleh siapa pun.
"Sebelum itu, hamba perkenalkan terlebih dahulu nona Saebyul, putri dari tuan Kwak yang tak lain ialah menteri perpajakan kerajaan."
Saebyul yang semula bersimpuh dan berlutut merasa gugup karena ini kali pertama ia berhadapan langsung dengan orang nomor satu di seluruh penjuru Joseon. Keringat dingin berkumpul di telapak tangan, segan dan bahkan takut berhadapan dengan aura dingin yang menguar dari sang raja.
"Su-suatu kehormatan bisa menyapa Baginda." Tutur Saebyul seraya berlutut.
Chanyeol bukan tipikal pria yang akan memusatkan selutuh perhatian pada paras cantik seorang wanita, meski ia akui Saebyul cukup cantik namun hanya sebatas itu. Ia bahkan tidak menyimpan sedikit pun pujian di ujung lidah. "Ahh, jika putri pejabat Kwak, itu berarti kerabat dekatmu?"
Sunhwa mengangguk dengan bangga. "Saebyul berbaik hati membagi resep ramuan untuk memperbaiki masalah napsu makan, dan oleh karena pengabdiannya kepada Yang Mulia, Saebyul bahkan membuatkan beberappa menu makanan yang telah dicampur dengan ramuan herbal yang dia buat. Sudikah sekiranya Baginda menerima kebaikan hati Saebyul?"
Chanyeol tidak sempat mempertanyakan apa peran penting Saebyul hingga dia diizinkan menyentuh dapur istana.
"Ayahmu begitu menyukai Saebyul, beliau bahkan mengizinkan Saebyul berkunjung ke istana setiap hari—bawa masuk makanannya." Sunhwa lantas memberi instruksi kepada para dayang untuk membawa berbagai menu camilan. "Bukankah semua ini terlihat lezat? Saebyul benar-benar pandai memasak, begitu cantik dan benar-benar pas dijadikan istri idaman.
Chanyeol mulai merasa terusik dengan atmosfer yang menguar. Sedikit banyak menangkap arti dari segala hal yang kini terjadi.
Ya. Perjodohan. Wanita itu selalu berusaha mengusir sosok Hyejin dalam benak Chanyeol. Wanita licik itu tidak pernah puas, dan Chanyeol sudah cukup geram dengan keserakahannya.
"Jadi, atas izin siapa orang dari luar kerajaan menyentuh dapur istana?"
Senyum Sunhwa masih bertahan sementara tangan Saebyul bergetar selama menyajikan camilan untuk sang raja.
"Yang Mulia, Ayahandamu yang—"
"Aku Rajanya. Bukan Ayahku atau siapapun. Dan ku harap Ibunda bisa lebih bijak sebelum memutuskan melakukan sesuatu." Pria itu bangkit dari singgasana dan berlalu tanpa mengindahkan seruan Sunhwa di belakangnya.
…
Kemarahan Sunhwa sampai hingga ke kediamannya.
"Berani sekali dia mengabaikanku seperti itu!" murkanya seraya menggerak meja hingga membuat Saebyul yand tengau bersimpuh terkesiap. "Aku tidak akan tinggal diam, anak kurang ajar itu harus tahu bahwa raja sesungguhnya adalah ayahnya, dan aku memegang kendali penuh dalam permainan ini. Bocah itu hanya bidak! Aku akan bertindak."
"Bibi, mengapa raja sangat dingin dan ketus? Tangangku bahkan masih bergetar." Cicit Saebyul seraya mencibir kesal.
"Kau tenang saja, apapun akan aku lakukan untuk menjadikanmu Ratu dan membanggakan leluhur kita." Mutlak Sunhwa dengan senyum sinis saat satu ide terlintas di dalam benak.
Kau lihat saja, Yang Mulia. Pada akhirnya akulah yang akan menjadi pemenang di atas kesombonganmu!
-oOo-
Setiap kali suasana hatinya memburuk, Chanyeol akan dipastikan berakhir di tempat itu.
Berdiri di atas bukit dan menghadap dua gundukan batu yang sejak awal selalu terlihat tak layak dijadikan persemayaman.
Menatap tanah mati itu dengan sendu yang berpendar di kedua bola mata, Chanyeol tahu penyesalannya akan selalu setia mendera. Hanya membungkuk dan melakukan penghormatan berulang yang sedikit mampu menepis rasa bersalah.
"Jika ketidakberdayaan hamba saat ini adalah sebuah karma, maka hamba pantas menerimanya, Yang Mulia."
Bukan pada mendiang sang istri yang diyakininya telah berada di surga, namun ia setia meluangkan waktu bersimpuh di depan pusara raja terdahulu. Sosok yang memupuk rasa bersalah karena tahtanya Chanyeol rebut dengan pertumpahan darah.
Sehun setia memasang badan di belakang Chanyeol. Mata elangnya selalu terlihat bersiaga dan waspada terhadap segala situasi. Ia pengawal terbaik.
"Hun-a…"
"Hamba siap melaksanakan titah Paduka."
"Bukankah tidak jauh di bawah bukit sana ada sungai?"
Jarak istana terlampau jauh dan Chanyeol merasa perlu mendinginkan kepala setelah didera gejolak batin yang tidak biasa.
"Betul, Yang Mulia."
"Kita ke sana, aku merasa begitu pengap saat ini."
Sehun mengangguk dan dengan sigap mengawal sang raja di depannya.
Gemercik air mulai terdengar setelah cukup lama Chanyeol memberi penghormatan terakhir di atas bukit.
Dua pasang kaki itu melangkah di atas bebatuan besar dan mulai merasakan hawa sejuk.
"Yang Mulia bisa berendam di sebelah sana. Airnya tidak terlalu dangkal dan masih bisa dijangkau." Sehun menujuk satu area luas dikelilingi oleh bebatuan sementara Chanyeol mengangguk dan mulai menanggalkan baju kebesaran.
Tak lama kemudian ia sepenuhnya hanya terbalut kain sutra putih dan segera menapaki inci demi inci kedalaman air.
Sehun berjaga di atas batu, sementara rajanya mulai berendam di dalam suhu air yang menyejukkan. Pria itu bersandar pada batu dan memejamkan mata sebelum bunyi kecipak air yang semula terdengar pelan kini mulai terasa mengusik.
Chanyeol membuka mata lalu mengedarkan pandangan. Selain Sehun di tas batu, ia tidak melihat siapapun lagi.
Rasa penasaran akan bunyi kecipak air di sekitarnya cukup menyita atensi, ia lantas menatap batu besar yang memisahkan sisi lain sungai.
Chanyeol memiringkan kepala sebelum bergerak memutari batu tersebut lalu seketika memalingkan wajah menjumpai seonggok pakaian wanita di atas batu juga sosok yang sibuk membasuh tubuh di pusaran air dangkal.
Terlalu banyak hal yang menyita atensi, Chanyeol tidak bermaksud kurang ajar menatap kulit putih mulus itu terlalu lama, ia hanya cukup terkejut karena mengenali wanita yang belum menyadari kehadirannya.
Chanyeol mendekat bukan untuk merampas satu-satunya kain yang menutup tubuh mungil itu di dalam air, apa yang kini membuatnya berdecak keras adalah karena lagi-lagi wanita itu ceroboh tidak mengawasi bahaya yang mengincar di sekitarnya.
Chanyeol mengulurkan tangan lalu mencengkram bahu mulus itu dan menariknya hingga berbalik, sebelum sebuah pekikan terkejut terlontar, pria itu telah lebih dulu membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
-oOo-
Paling tidak Baekhyun akan meluangkan waktunya di akhir pekan untuk mengabdi sebagai seorang anak yang berbakti. Mengunjungi pusara kedua orang tuanya, menumpahkan segala kesedihan di sana selama mungkin.
Biasanya sebelum gradasi langit bergelut dengan dominasi jingga, Baekhyun akan bertahan di depan pusara kedua orang tuanya, namun hari ini ia harus merutuk karena kecerobohannya.
Baekhyun yang tidak berhati-hati saat menaiki bukit terpeleset hingga jauh ke bawah. Alhasil memar menghias wajah, hanboknya sobek di beberapa bagian dan tubuhnya kotor karena bergulingan di atas tanah yang lembab.
Ringisan ngilunya terpaksa menyeret sepasang kaki itu ke sebuah sungai karena Baekhyun merasa perlu membersihkan diri.
Niatnya hanya sebatas itu, namun air yang sejuk memberinya relaksasi hingga ia lupa daratan. Bahkan karena merasa begitu nyaman berendam ditemani jutaan partikel air terjun yang jatuh di kejauhan, wanita itu tidak menghiraukan hal lain dan kembali bertindak ceroboh, ia menyesali segala hal setelah sebuah tangan mencengkram bahu dan membungkam mulutnya.
Ya. Baekhyun hampir memberontak jika saja suara berat itu tidak lebih dulu terlontar mutlak.
"Diam. Jika kau bergerak sedikit saja, ular itu akan mematuk tanganmu."
Kornea Baekhyun melebar, mulanya ia hanya sanggup menatap buah jakun yang menonjol di leher si pria, namun perlahan ia mendongak dan kembali terkesiap karena sepasang irim kelam yang begitu ia kenal.
"Ssttt…" Chanyeol mendesis kecil masih menancapkan atensi pada seekor ular berbisa yang sedari tadi berkeliaran di sekitar Baekhyun.
Wanita itu memejamkan mata dengan erat. Takut, tentu saja.
Tubuhnya bergetar dan melemas karena ia benci ular. Tanpa sadar kedua telapak tangannya menempel di dada bidang Chanyeol yang terbungkus kain sutra transparan, lalu ia menunduk karena ketakutannya semakin merajarela.
Sunyi menjadi saksi bagaimana Chanyeol berbuat curang karena ular itu telah pergi menjauh namun ia menyita waktu dengan meneliti bagaimana wajah basah Baekhyun terpejam dengan kalut.
Oh, diam-diam Chanyeol mengutuk anak rambut yang menempel di pipinya yang pucat.
"Kau menantang maut berkelahi dengan seekor harimau tapi saat ini kau bergetar ketakutan hanya karena seekor ular?"
Baekhyun membuka matanya dengan cepat lalu terpaku karena ditatap oleh sepasang mata yang selalu terlihat memicing tak ramah.
Mereka masih tak berjarak, bahkan jika Baekhyun tak salah ia bisa merasakan bagaima Chanyeol berbagi detak jantung.
"A-aku bergetar karena kedinginan! Bu-bukan takut!"
Chanyeol menyentakkan kepala lalu sadar bahwa ia harus meloloskan tangan dari bahu mulus Baekhyun yang sedari awal terkespos.
Pria itu menarik diri lalu menciptakan jarak. "Lagipula apa yang sedang dilakulan seorang gisaeng di sini?"
"Kenapa setiap kata gisaeng yang terlontar dari mulut Yang Mulia seperti sebuah penghinaan?"
"Karena aku Raja. Segala hal berada di bawah otoritasku, wajar saja jika wanita penghibur sepertimu merasa begitu rendahan di hadapanku."
Baekhyun nyaris mendengus jengah jika saja tidak ada sosok lain yang memperhatikan interaksinya bersama Chanyeol
"Pengawal Baginda terlihat ingin mengulitiku saat ini." Tutur Baekhyu sebelum menunduk sopan dan berbalik lalu keluar dari air.
"Tidak ada terima kasih?"
"Mampirlah. Hamba mempunyai arak dan camilan kecil sebagai ucapan terima kasih."
Chanyeol memiringkan kepala sebelum memutuskan menyudahi sesi berendam dan membiarkan Sehun membantunya berpakaian.
"Gisaeng macam apa yang tinggal kaki bukit?" gumam Chanyeol jauh di belakang Baekhyun yang terlihat masuk ke sebuah rumay kecil kecil di kaki bukit.
Cukup lama Chanyeol dan Sehun duduk di balai bambu dan menikmati angin sejuk yang turun dari atas bukit hingga beberapa saat kemudian Baekhyun kembali menenteng meja saji.
"Kau tinggal di sini?" Selidik Chanyeol.
"Sesekali, jika nyonya Kim memberi hari libur." Sahut Baekhyun seraya menuangkan arak untuk Chanyeol dengan gerak anggun dan tertata. Satu hal yang sempat menyita perhatian pria itu. "Ini untukmu, tuan pengawal." Lalu Baekhyun menyodorkan gelas lain kepada Sehun.
Ptia itu menunduk kecil namun tak menyentuh araknya.
Chanyeol menatap Baekhyun sedikit lebih lama hingga membuat wanita itu kebingungan.
"Kenapa Yang Mulia menatap hamba seperti itu?"
"Kau tahu rumah singgahmu ini berdiri di kaki bukit, sarang yang tepat untuk para hewan buas turun. Termasuk ular berbisa."
Kornea Baekhyun melebar lantas ia merapatkan posisi duduk dan menyapukan atensi ke sekitar.
Yang Baekhyun tidak tahu, ada senyum jahil yang terulas di balik gelas arak.
Satu hiburan menggelitik bagi Chanyeol.
"Arak ini lumayan. Kau dapat dari mana?"
"Hamba membuatnya sendiri di waktu luang." Sahut Baekhyun dengan bangga.
Alis Chanyeol terangkat antusias. "Kau bisa membuat arak selezat ini?"
Baekhyun tersenyum penuh pemikat. "Hamba mempelajari banyak hal di rumah bordil. Dan seharusnya keterampilan seorang gisaeng layak diperhitungkan. Namun sayang, banyak yang memandang kamu sebelah mata hanya karena kami wanita penghibur."
Chanyeol sedikit tertohok oleh sindiran Baekhyun. "Kalian melayani setiap laki-laki, sebanyak yang kalian mau jadi apa yang layak diperhitungkan?"
"Kami memang menjual senyum dan keterampilan, tapi kami tidak menjual tubuh. Apa yang kami beri sepadan dengan apa yang seharusnya wanita penghibur sejati lakukan."
Hanya Sehun yang merasa atmosfer mulai terasa begitu tegang.
"Hamba harap Yang Mulia berhenti memandang rendah kami. Gisaeng tidak menjual tubuh. Kami hanya penghibur."
Chanyeol menenggak habis arak dan menggebrak meja saji dengan gelas porselen yang telah kosong. "Hun-a… kita pulang sekarang sekarang."
Ia rasa sudah terlalu begitu baik terhadap Baekhyun yang mulai berani berceloteh ini dan itu. Seharusnya Chanyeol tidak melupakan fakta bahwa ia antipati dengan seorang gisaeng. Dan bersikap ramah terhadap wanita penghibur itu cukup membuatnya menyesal.
Tanpa kata perpisahan, Chanyeol memimpin jalan dan segera berlalu.
Bagaimana bisa wanita bernama Byun Baekhyun itu selalu berhasil mempermainkan suasana hatinya?
Di belakangnya Baekhyun tersenyum sinis. "Raja bodoh! Bagaimana bisa dia menyamaratakan wanita penghibur dengan seorang pelacur?!"
Ia berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah jika saja suara Heechul tidak lebih dulu terdengar. "Dia yang hamba maksud. Namanya Baekhyun. Dia yang meminta hamba untuk mengatur pertemuan ini."
Baekhyun kembali berbalik dan sedikit terkesiap mendapati Heechul dan ke dua pria paruh baya berdiri di rumah singgahnya.
"Sudah ku bilang kita atur pertemuan di rumah bordil saja, aku sangat lelah berjalan mengitari bukit untuk sampai ke sini!" Gerutu Heechul sementara atensi Baekhyun telah tertancap kuat pada pria paruh baya yang sejak dulu selalu mengenakan baju zirah layaknya panglima perang.
"Ku harap kau tidak membuang waktuku, Kim Heechul!"
Cho Kyuhyun, menteri personalia yang gemar berseteru dengan pejabat partai barat yang begitu pro terbadap Raja saat ini.
Lantas ada Oh Minho, kepala prajurit istana yang merangkap sebagai ajudan Cho Kyuhyun dan juga guru Baekhyun di masa lalu.
Minho mengernyit kecil, merasa tidak asing dengan wajah nona muda yang kini menatapnya penuh arti.
"Aku akan pastikan kedatangan kalian tidak ke sini tidak akan sia-sia." Tutur Baekhyun sebelum mempersilahkan tamunya duduk di atas balai.
Kyuhyun sedikit sangsi karena yang ia hadapi saat ini ialah seorang nona muda dan juga wanita penghibur. Ia bahkan merasa sia-sia telah mempercayai ucapan Heechul.
Sekarang Baekhyun ingat, Cho Kyuhyun adalah pejabat tinggi yang kerap mendapat pujian dari sang ayah atas kerja kerasnya dalam meningkatkan kinerja kerajaan atau bahkan perpolitikan istana.
"Aku akan segera kembali."
Baekhyun membulatkan tekad untuk menjadikan Kyuhyun sebagai sekutu mengingat pria iti adalah orang kepercayaan ayahnya dulu. Dan tentang Minho, mungkin pria paruh baya itu akan segera mengenalinya.
Baekhyun lantas beregas berganti pakaian, tidak adaa lagi kain sutra halus, ia justru mengganti penampilan anggunnya dengan satu stel pakaian lelaki dan bahkan menggulung rambut dan menutupnya dengan topi kebangsawanan.
Tidak ada lagi Byun Baekhyun si wanita penghibur favorit para pejabat, yang kini berdiri di hadapan Heechu, Minho dan Kyuhyun adalah seorang pria muda dalam balutan hanbok para bangsawan.
Mulanya Minho hanya bertanya-tanya apa yang tengah Baekhyun coba lakukan, namun ingatannya menguat pada satu titik saat melihat wanita itu dalam balutan pakaian laki-laki.
Pria itu menggeleng dan menajamkan atensi lalu gelas porselen yang ia jatuh sementara korneanya melebar.
Kyuhyun mengernyit sementara Heechul tidak mengerti mengapa Baekhyun mengenakan pakaian laki-laki.
"Pu-putra Mahkota…" Cicit Minho dengan perasaan syok. Pria itu lantas mendekat dan mencengkram kedua bahu Baekhyun.
Ya, ia tidak pernah lupa seperti apa wajah murid kesayangannya dulu.
Baekhyun menatapnya dengan tegar meskipun bayang-bayang masa lalu menghantui benaknya saat ini.
"Ba-bagaimana bisa…" Minho lantas berbalil dan menatap Kyuhyun. "Tuan… dia… dia putra mahkota! Tidak—dia tuan puteri yang dulu diburu oleh ajudan Park Sangyoon. Astaga! Hamba pantas mati, tuan puteri!" lutut Minho luruh dan kini sepenuhnya berlutut di hadapan Baekhyun. "Hamba pikir tuan puteri sudah—"
"Aku memang sudah mati. Tidak ada lagi putra mahkota. Aku sudah sepenuhnya menjadi sosok yang baru."
Minho menggeleng kerasa atas rasa sesal sementara Kyuhyun mulai menaruh minat pada sosok yang sanggup membuat Minhi berlutut dan menangis.
"Ja-jadi kau…" cicit Kyuhyun lantas ikut berlutut.
Mulut Heechul menganga tak percaya.
"Ampuni hamba, tuan puteri."
Jadi, rumor yang menyebutkan putra mahkota adalah seorang perempuan benar adanya. Kyuhyun mengutuk diri karena tidak percaya.
"Hamba pantas mati karena membiarkan tuan puteri menderita di masa lalu."
"Bagaimana bisa? Kenapa tuan puteri tidak memberitahu kami dan—"
"Tidak ada jalan. Aku hanya berpikir harus menunggu saat yang tepat. Lagipula aku adalah seorang perempuan dan yang kalian kenal hanyalah putra mahkota."
"Maaf atas kecerobohan dan pengkhianatan hamba." Sesal Minho.
"Tidak, guru. Aku tahu kau berada dalam situasi yang sulit."
"Hamba akan menerima hukuman apapun. Silahkan hukum hamba."
Baekhyun menggeleng. "Mendegar bagaimana kau masih setia kepada ayahku, aku sungguh berterima kasih. Terima kasih karena telah menjaga istana dan peninggalan kedua orang tuaku."
Kyuhyun dan Minho menunduk dalam. Bagiamana bisa dulu mereka mempercayai rumor yang mengatakan bahwa putra mahkota telah meninggal di tangan para prajurit istana.
"Kalian tidak perlu menyesal karena kalian bisa memperbaiki kesalahan. Aku memberi kalian kesempatan."
Kyuhyun dan Minho mendongak lantas menatap Baekhyun dengan lamat-lamat.
"Singgasana Raja ditempati oleh orang yang salah. Bukankah seharusnya kita mengembalikan keadaan seperti semula? Siapa yang tidak muak dengan pemerintahaan yang begitu bobrok saat ini?"
Kyuhyun muak dan Minho tidak pernah menganggap siapapin raja selain Siwon.
Mereka berdua mengangguk dengan yakin.
"Apapun itu, hamba siap melakukan segala titah dari tuan puteri."
Kyuhyun dan Minho mendeklarasikan sebuah konspirasi tanpa Baekhyun perintah. Dan kini wanita itu mendapat celah dan angin segar karena memperoleh sekutu yang kuat. Tidak lama lagi dendamnya akan terbayar dan ia akan memastikan para penjahat itu merangkak di bawah kakinya.
-oOo-
Tidak ada yang tahu apa yang membuat suasana hati sang raja memburuk sejak beberapa hari terakhir. Kehadirannya di beberapa titik istana tak jarang menciptakan ketegangan meskipun si penguasa tampan memang terlahir membosankan.
Para dayang yakin tidak ada yang salah dengan rasa masakan namun untuk ke sekian kalinya Chanyeol mengamuk karena apa yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar.
Sehun bahkan tidak mengerti mengapa sang raja yang selalu tidur tepat waktu kini tak jarang menjelma menjadi burung hantu.
"Apa yang membuat Paduka begitu resah?" tanya Sehun karena sang raja tidak kunjung memejamkan mata.
Sudah sepatutnya Sehun di sana, menemani Chanyeol yang akhir-akhir ini tampak tak baik. Sang raja kerap bergerak gelisah di atas alas tidur dan tak jarang mimpi buruk serta berhalusinasi.
"Aku butuh udara segar."
Dan mereka lantas meluangkan waktu berjalan-jalan mengitari beberapa paviliun istana.
Rombingan dayang dan kasim turut serta mengikuti kemana langkah sang raja tertuju.
Dan sang penguasa berhenti di sebuah jembatan penghubung paviliun utama dan balairung istana.
"Hun-a…"
"Ya, Yang Mulia?"
"Kau tahu kenapa aku lebih menyukai tempat ini dibanding istana ratu?" tanya Chanyeol seraya menatap refleksi rembulan di atas kolam teratai.
Sehun bungkam.
"Jembatan ini adalah tempat terakhir yang Ratu pijak sebelum penyakit ganas itu merenggut kemampuannya berjalan." Chanyeol menghela panjang.
Sebenarnya ia enggan mengorek luka yang sama, namun tak dipungkiri bahwa belakangan ini Chanyeol merasa terusik oleh rasa bersalah kepada mendiang istrinya.
Chanyeol tidak membiarkan siapa pun tahu bahwa alasannya terjaga ketika bahkan malam sudah begitu larut adalah karena seseorang.
Pria itu terusik dan bahkan merasa konyol telah melewatkan jam tidur hanya karena tidak mampu menghapus seulas senyum yang menghantui benak.
Sikapnya yang rewel akhir-akhir ini pun karena alasan yang sama.
Byun Baekhyun.
Tanpa sadar Chanyeol merapalkan nama itu di dalam hati sementara senyum memikat sang wanita penghibur semakin membutakan akal sehat.
Pria itu masih setia menatap hampatan teratai dan berkecimpung dengan perasaan bingung.
Apa yang sudah kau lakukan terhadapku, Byun Baekhyun?
"Hun-a…"
"Ya, Yang Mulia?"
Chanyeol berbalik lalu menertawakan kekonyolannya dengan nada mengantuk. "Aku ingin meminum arak buatan wanita penghibur itu."
Bahkan biarkan wanita itu sendiri yang menuangkan araknya untukku.
-oOo-
Baekhyun memasang wajah terkejut mendapati pria berwajah beku berdiri di hadapannya, membawa satu perintah yang terdengat sulit untuk dibantah.
"Kenapa harus aku? Di pusat kota banyak yang menjual arak berkualitas baik dan tentu cocok dengan selera Yang Mulia."
"Membantah perintah Raja sama dengan pengkhianatan. Hukumannya ada penggal kepala."
Baekhyun terkesiap lalu mengusap lehernya dengan perasaan ngilu, meski tidak ada yang tahu bahwa ia telah merencanakan hal itu sejak lama.
Memikat sang raja adalah tujuan utama namun banyak hal yang terjadi secara kebetulan seolah para dewa tengah memuluskan jalannya untuk membalas dendam.
Arak di dalam botol porselen itu dipeluknya dengan erat. Sama seperti sebelumnya Baekhyun tidak lupa mencampur zat adiktif dari ramuan yang ia buat khusus agar siapapun yang meminumnya akan merasa candu dan kehilaangan sebagian kesadaran.
Jawaban atas halusinasi dan kondisi Chanyeol yang memburuk mengingat ia begitu khidmat menenggak arak yang Baekhyun sajikan di rumah singgahnya beberapa hari yang lalu.
"Naik kuda?"
"Kecuali kau ingin menempuh belasan kilometer dengan berjalan kaki." Sahut Sehun dengan enteng dan Baekhyun tidak mempunyai pilihan lain selain duduk di belakang Sehun.
Wanita itu telah lama meninggalkan rumah bordil dan masih setia menunggu kapan ia dan Sehun sampai ke tempat tujuan.
"Jika bukan ke istana lantas kita akan kemana, tuan pengawal?"
"Kondisi kesehatan Yang Mulia cukup buruk akhir-akhir ini. Beliau terkena insomnia akut dan kerap berhalusinasi. Untuk itu para tabib menyarankan agar Yang Mulia mengunjungi pemandian air hangat untuk relaksasi dan menenangkaan pikiran."
Dan di sinilah Baekhyun pada akhirnya. Tempat itu sedikit jauh dari pemukiman warga dan bahkan istana namun dikhususkan bagi para kerabat kerajaan khususnya Baginda Raja.
Sumber mata air hangat itu berlokasi di bawah kaki gunung.
Rombongan dayang dan kasim menunggu di depan sebuah pintu bambu.
Atas instruksi Sehun, Baekhyun segera mengenakan jubah penutup kepala agar tidak ada satu pun yang dapat mengenalinya.
"Yang Mulia ada di dalam." Gumam Sehun lantas membukakan pintu bambu itu agar Baekhyun bisa masuk.
Sejak awal niat Baekhyun adalah menjerat sang raja dengan pesona, ia tahu itu adalah hal yang sulit mengingat betapa dingin dan angkuhnya si penguasa. Namun Baekhyun tidak putus asa, ia melakukan segala cara untuk membuat setiap momen yang ia lalui dengan pria itu membekas dalam ingatan.
Nyatanya pertempurannya dengan seeokr harimau, racun yang ia tabur di atas makanan sang raja, mengobatinya untuk memperoleh simpati juga keahliannya meembuat arak cukup ampuh untuk membuat sosok yang kini bersandar pada pinggirang kolam air hangat itu kelabakan.
Baekhyun tahu sang penguasa mulai terjerat.
Senyumnya mengembang seiring dengan langkah kaki yang mendekat.
Di sana Chanyeol memejamkan mata, bertelanjang dada dan menikmati aromaterapi dari lilin yang menyala di berbagai sudut. Kelopak bunga menutup setengah tubuh di dalam air hangat dan ia masih belum menyadari kehadiran Baekhyun di sana.
Wanita itu sempat terpaku namun mendapatkan kembali kewarasannya.
Arak yang semula ia pegang kini diletakkan di atas meja samping kolam, perlahan wanita itu melepas jubah hingga yang tersisa hanya hanbok tipis yang mengekspos lekuk tubuh dan kulit putih mulus yang tak pernah gagal membuat liur setiap pria menetes.
Kaki telanjangnya kian mendekat sebelum ia memutuskam duduk di samping kepala Chanyeol yang tengah bersandar.
"Perlu hamba tambahkan aromaterapinya?"
Dalam sekejap mata Chanyeol terbuka, disambut oleh seulas senyum yang cukup membuatnya mengggila selama beberapa hari ke belakang.
Mereka bersitatap cukup lama sebelum tangan Baekhyun terulur membasuh dada bidang Chanyeol dengan air mawar. Dengan gerak seduktif.
"Arakmu, Yang Mulia."
Chanyeol meneguknya tanpa mengalihkan atensi dari si cantik yang mempunyai berjuta pesona.
Tangan Baekhyun kembali terulur lalu menyematkan pijatan nikmat di sekitar bahu tegap sang raja. "Apa Yang Mulia masih marah kepadaku?" tanya Baekhyun dengan nada pelan.
Chanyeol tidak marah jika yang Baekhyun maksud adalah perdebatan mereka terakhir kali. Namun pria itu masih bungkam dan enggan menjawab.
Baekhyun merengut kecil lalu bangkit.
Dan Chanyeol senantiasa memperhatikan si mungil yang nekat turun ke dalam kolam, membiarkan dirinya basah, mendekat dan berakhir di atas pangkuannya. "Apa yang kau lakukan?"
Karena tindakannya yang kurang ajar bisa mendapatkan sangsi berat.
"Yang Mulia marah kepadaku, hum?" Baekhyun kembali bertanya, melingkarkn lengan pada leher Chanyeol dan menggoda pria itu dengan hembusan napasnya yang hangat.
Chanyeol menengadah lantas kembali memejamkan mata, mencoba mengabaikan si mungil yang semakin bertingkah di atas pangkuannya. "Aku pikir gisaeng tidak menjual tubuh mereka. Tapi melihat bagaimana kau memperlihatkan tubuhmu padaku saat ini aku sedikit ragu dengan pernyataanmu."
Baekhyun mencondongkan tubuh lalu memeluk Chanyeol tanpa ragu karena ia tahu sang raja telah tejerat oleh pesonanya. "Paduka adalah pengecualian." Bisiknya seraya membelai lembut dada telanjang Chanyeol.
Satu kalimat yang sanggup membuat Chanyeol kembali menatap Baekhyun.
"Kau adalah Raja. Kau istimewa."
Pujian lain yang menerbangkan Chanyeol ke langit ke tujuh.
Baekhyun memeluknya erat lalu tersenyum sinis di samping telinga sang raja. "Hamba tidak menjual tubuh kepada pria manapun. Namun hamba bersedia memberi segalanya untuk Baginda. Karena kau adalah tuanku. Kau penguasa Joseon yang aku hormati." Serangannya bertubi-tubi, selain pujian demi pujian yang terlontar, ia bahkan mengelus punggung telanjang sang raja dengan gerak seduktif.
Chanyeol mulai mabuk kepayang, arak itu bereaksi dengan cepat. Ia lantas melingkarkan lengan dan balas memeluk Baekhyun dengan erat, menghujani bahu mulusnya dengan jutaan kecupan sensual. "Baekhyun-ie…" Bisiknya dengan parau.
"Ya, Rajaku." Senyum Baekhyun kian terulas dengan sinis.
"Baekhyun-ieku…"
Ya. Tidak ada lagi Hyejin. Pesona seorang gisaeng primadona bernama Byun Baekhyun sanggup mengikis kenangan Chanyeol bersama mendiang ratu dalam sekejap mata.
Chanyeol terjerat dan ia merasa begitu candu. Pria itu menggila hanya dengan membayangkan senyuman Baekhyun, tutur katanya yang lembut, wajahnya yang begitu cantik dan tubuhnya yang mulus dan memikat
Chanyeol sungguh menggila.
"Baekhyun-ieku, kau Baekhyun-ieku…"
"Hamba milikmu, Paduka."
Baekhyun menengadah, membiarkan leher mulusnya menjadi sasaran empuk cumbuan sang raja, lalu menebar senyum kemenangan di udara.
TBC
.
An: Kak TBC nya nanggung!
Sukurin! Baru awal udah pingin ena wkwkwk sabarrr dong ahhh!
Ya gimana ya? Baekhyun mah primadonanya para gisaeng, wajar aja si raja kelabakan dohhh
Udah kebayang dong bakal seribet apa ini drama? Wkakakak CB momennya bikin panas dingin kan? Iya lah orang authornya lagi meriang T.T
