Reply:

Anak random: uwaa makasih dah ngingetin! Niatnya kemarin pas fang ultah apdet uhuhu.

Shizuka yomu: aku juga geregeett ingin cepet. Tapi ternyata aku aga maso(?) jadi milih buat slowburn wkwkkw. Thnx for reading! ^^


.

.

Angel With A Glasses

Summary:

Bukan salahnya kalau ia tidak suka manusia. Mereka makhluk lemah, tidak seperti malaikat—tidak sepertinya. Jadi sekarang ia bingung kenapa Ocho memaksanya untuk menjaga seorang manusia. Seorang pemuda bertopi jingga. Ugh, Ia yakin kalau tugas ini akan menjadi merepotkan. Apa lagi jika sebentar lagi kiamat. Tunggu. Apa?! [Supernatural!AU]

.

.

.

Angel With A Glasses

By: TsubasaKEI

Genre: Supernatural, Friendship, Romance(?)

Character: Angel!Fang, ?Boboiboy, Angel!Ochobot (Ocho)

Warning: penulisan indo-melayu tidak konsisten, slowburn(?), TYPO

Disclaimer: I do not own Boboiboy and Supernatural, but this fic is mine tho :)

Enjoy~

.

.

.


Chapter 4 : Not in War yet, just stuck in confusion

"Ying?"

Gadis yang terpanggil tersentak kaget dari tidurnya. Woodpecker yang ikut tidur di badannya berkeok dan terbang terpontang-panting, ikut kesal ketika dibangunkan paksa. Ketika menyadari yang memanggil hanyalah Ocho, Ying kembali membaringkan tubuhnya di atas buku dan gulungan kertas yang berserakkan di lantai, memejamkan matanya. Ying mendesah sembari meraba-raba lantai, mencari kacamatanya.

"Ugh, apa yang tadi adikmu katakan?" Woodpecker yang tadi tidur bersama Ying kini hinggap ke atas kepala Ocho. Burung itu mematuk kacamatanya.

"Uhm, aku nggak yakin. Sinyalnya jelek sekali di sini. Tapi kurang lebih dia bilang ada makhluk neraka yang tahu kalau Tuhan menghilang." Ucap Ocho sembari menyenderkan tangan ke pintu. "Oh ya, kamu pasang sigil apa sih di sini? Fang teriak-teriak, tapi aku hampir cuman bisa dengar dia kumur-kumur saja." Keluh Ocho. Ketika ia di luar berusaha menghubungi Fang dengan telepatinya, ada bising yang mengganggu bak radio rusak. Alhasil baik Fang maupun Ocho sama-sama kesusahan bertukar informasi dengan resepsi rendah.

Ying berkedip pelan. Penampilan gadis itu seperti diterpa angin puyuh; ada kantung hitam di bawah mata gadis itu, rambut acak-acakan keluar dari kepangannya. Wajah terkuras akibat semalaman membaca buku-buku yang selama ini tidak pernah ia keluarkan dari ruang bawah tanah. Bahkan mantra pemberi energi tidak akan ampuh jika ia harus membaca puluhan buku tebal penuh tulisan.

Kedua malaikat dan penyihir berusaha mencari solusi. Membolak-balikkan buku dan gulungan berdebu dengan enggan. Tidak ada cara yang mudah untuk mencari sesuatu yang seharusnya tidak pernah bisa hilang. Tapi yah, nyatanya, Dia menghilang, mau tidak mau mereka harus bekerja keras mencari petunjuk.

Ini tugas yang sulit, tapi Ying yakin pekerjaannya bisa dipermudah jika Ocho tidak kewalahan melihat banyaknya buku yang mereka harus baca. Gadis itu berusaha menghargai. Walau Ocho mengeluh kesah berkepanjangan, malaikat itu tetap bisa memberi input.

'Ini buku, Ying! Aku akan mati kalau aku baca sebanyak ini! Nggak ada gambar pula. Gila!'

'Aku yang jadi gila kalau kau tidak membantuku! Kamu mau jadi malaikat bakar, hah? Mulai baca sana!'

Keduanya berdiskusi ditemani hewan hutan yang tertidur pulas, nyala api menerangi dari perapian. Ying mencari mantra pemanggil, mantra pelacak, bahkan mantra perasukan jiwa untuk mencari entitas suci itu. Tapi tentu saja, bahkan pendahulunya tidak punya solusi jelas untuk mengatasi hilangnya Tuhan. Berapa buku berbahasa Enochian—bahasa malaikat yang sayangnya tidak pernah Ying bisa kuasai yang Ocho terjemahkan juga memiliki hasil sama. Tidak menemukan apapun, malaikat yang patah semangat itu mulai guling-guling di lantai, membangunkan hewan-hewan yang tertidur, yang kemudian mengacak-acakkan arsip-arsip penting yang tersebar di penjuru ruangan. Bukan malam favorit Ying.

"...ada setan yang...tahu tuhanmu hilang...?" Eja Ying lamban. Kembali ke masa kini, otaknya yang masih tidur bergerak lambat sekali untuk memproses. Ucapan Ocho seperti mengumpan rasa jengkel. Kenapa bisa dia kesal...?

"Uh, itu yang tadi baru ku bilang. Kau belum bangun ya, Nenek—AGH! YING! MAAF MAAF MAAF AAGH!" Burung yang tadi bertengger di kepala Ocho mendadak mematuk kulit kepalanya dengan cepat. Paruh tajam menusuk-nusuk seperti tengah memarahi Si Malaikat.

"Apa?!" Ying menyabet sapu yang tersender dekat lemari ketika ia sudah terbangun 100%. Mengayunkannya bak senjata maut ke arah Ocho. "Kenapa bisa ada makhluk neraka yang tahu?! Kalian malaikat tak becus! Oh, merlin. Kau nak bikin aku tambah tua, ke? Sini kau!"

Ocho lari ke belakang meja, mengangkat kedua tangannya. "Eh eh! Tenang Ying! Fang bilang makhluk itu ada di pihak kita! Dia sama-sama nggak ingin ada perang. Jelek untuk bisnis, katanya."

" 'Jelek untuk bisnis' mu! Kau percaya ucapan setan itu? Bah! Mereka makhluk dusta." Ying menentang ucapan Ocho emosi. Gadis itu mengangkat sapunya tinggi-tinggi.

"Bukan pendusta, tapi lebih ke oportunis." Sela Ocho sebelum sapu itu mampu menghantam kepalanya. Ocho mengepakkan sayapnya dan terbang ke ujung yang berlawanan dengan Ying. "Kalau tujuan dia benar sama seperti kita, hal yang harus kita khawatirkan hanyalah menjaga hubungan kita tetap rahasia dari pihak lain dan mengkhianati setan itu sebelum dia mengkhianati kita." Ocho menyampaikan kembali apa yang Fang ceritakan pada Ying. Suara putus-putus Fang tersamari gangguan statis, walau begitu Ocho menangkap jelas nada gelisah di balik suara tenangnya.

'Ocho, berjanjilah kau tidak akan berbuat ulah.'

Berjanjilah kau tidak akan mencari bahaya.

'Kau juga, jangan mudah terpancing omongan mereka, Fang.'

Jangan percaya semua yang keluar dari mulut mereka.

Ying menurunkan sapunya dan mendengus. Ocho jadi bisa tenang sedikit. "Coba dengar ucapanmu; merencanakan pengkhianatan demi ambisinya. Sangat satanis."

"Sangat manusiawi, lebih tepatnya." Celetuk Ocho. "Makhluk neraka mempelajari kelemahan manusia dan mengeksploitasinya. Bukan karakteristik favoritku, ku akui. Tapi untuk sekarang, setan itu adalah keunggulan kita. Kita butuh bantuan lebih, dan informan dari alam bawah bukanlah hal mudah untuk dicari."

Ying membisu dan mengutuk Ocho keras-keras dalam hati. Ying benci untuk mengakui, tapi ucapan Ocho benar. Kalau mereka dapat sekutu dari dunia bawah, arsip-arsip yang ia tidak pernah tahu sebelumnya bisa berada dalam jangkauan. Mereka bisa mendapat intel pergerakan neraka, informasi berharga yang bisa mencegah perang. Tapi...

"...aku tidak suka ini." Keluh Ying.

"Aku juga tidak. Setan yang bisa mengetahui hilangnya Tuhan pasti bukan setan sembarang. Dia pintar, dan kita butuh otak busuknya. Aku sudah memberi pendapatku, jika Fang ingin menjalin perjanjian, aku membolehkan. Tapi...umm..." Ocho memegang tenguk lehernya malu-malu, "jujur aku lupa menanyakan pendapatmu. Kau kan bagian dari tim ini juga."

Ying tidak pernah setuju untuk menjadi bagian dari tim terkutuk ini. Tapi mau bagaimana lagi, dunia taruhannya.

"Mau aku bilang apa juga percuma, kan? Kalau adikmu sama seperti kamu, dia akan bertindak tanpa seijinku."

"Hei! Aku nggak akan menduakan pendapat kau, lah. Buktinya aku datang ke kamu meminta bantuan." Ocho memelas. Namun Ying memberi tatapan yang membuat Ocho meneguk ludahnya susah payah.

"...uh, mungkin aku pernah melupakan nasehatmu—"

"Hah! Melupakan?!" Sindir Ying keras-keras. "Aku bilang berkali-kali jangan macam-macam dengan Cupid. Dia saudaramu sendiri, tapi aku yang lebih tau kekuatannya. Ujungnya aku yang harus menghentikan medusa dari membatukan dirimu karena cinta mati." Ying sangat tergoda untuk kembali menakolkan sapunya ke kepala Ocho. Gadis itu ingat jelas wanita berambut ular yang mengejar Ocho keliling dunia karena terkena panah sang malaikat cinta. Dan Ying ingat jelas ketika lagi-lagi Ocho bersujud di depan pintu rumahnya, membawa masalah baru. Ying mendesah lelah.

"Sudah. Aku tidak mau kau menambah pening ku. Kita harusnya membicarakan hal yang lebih penting! Coba, misalkan setan itu—"

"—Crowley. Namanya Crowley." Potong Ocho. Tatapan tajam Ying membuat Ocho sadar kalau seharusnya ia tidak melakukan itu. "O-oke, nggak boleh motong orang yang sedang berbicara. Maaf maaf, silahkan dilanjutkan."

"...misalkan Crowley ternyata sekutu yang berguna dan memberikan intel penting dari bawah, apa yang akan kita lakukan? Diam menunggu? Rasanya buang waktu. Apa Heaven punya perpustakaan yang bisa kamu cari?" Meninggalkan sapunya, Ying mencari posisi nyaman di sofa yang menghadap ke perapian. Api yang semalaman menyala itu kini tinggal abu dan arangnya saja.

Ocho tertawa dan mengikuti Ying untuk kembali duduk bersila di lantai, mengambil bantal rajutan ungu untuk ia peluk. "Memangnya ada malaikat yang hobi baca? Perpustakaan di sana hanya sebatas tempat menyimpan perintah Tuhan, untuk formalitas saja. Tempatnya hanya satu rak! Buku bercerita? Malaikat lain cuman melihatnya sebagai coretan saja. Nggak akan ada yang mau mendalami makna setiap kalimat dengan khusyu; terharu ketika ada bagian yang sedih, marah ketika ada bagian yang mengesalkan...kita nggak dirancang untuk merasakan hal-hal itu." Suara Ocho mengecil, miris.

Kenyataan itu kadang membuat Ocho sedih. Kalau mereka tidak dirancang untuk merasakan, kenapa bisa ia berbeda?

Kenapa harus dirinya yang dirancang untuk berprilaku hampir seperti manusia? Merasakan hal-hal aneh yang tidak dikategorikan normal untuknya. Malaikat hanyalah boneka, Ocho paham itu. Boneka dengan tujuan mulia tetap saja sebuah boneka. Tapi sejak kapan ia memutus tali kendalinya? Memutus tangan yang selama ini selalu mengontrol, yang memberi arahan untuknya. Perbatasan 'harus' dan 'tidak boleh' melebur, dan Ocho terjebak di antaranya.

Tidak peduli seberapa keras ia berusaha memisahkan diri dari pemikiran itu, hal-hal manusiawi sudah menjadi candu baginya. Aah, menyebalkan.(i)

Tapi dari pemikiran abstrak itu, muncul memori yang membuatnya terkekeh. Ocho menepuk lututnya.

"Jadi ingat. Ada pengecualian di antara semua malaikat yang kukenal; Metatron. Dia pernah memaksaku membaca Pride & Prejudice, dia sangat memuja-muja karya tulis manusia itu..." Ocho mengingat kembali ketika saudaranya itu terseok-seok saat Elizabeth dan Darcy akhirnya menikah. Metratron lalu menceritakan ketakjubannya pada emosi dan kata-kata indah yang tertulis di setiap lembar.

'Ada perumpamaan manusia kalau buku adalah jendela dunia. Aku sangat menyetujui itu Gabriel. Aku bisa melihat dunia ini yang Dia ciptakan dari arah yang berbeda, mengungkap kisah yang selama ini tersembunyi dari pengawasan kita. Gabriel aku, – aku takjub.'

Ada jeda tenang beberapa saat ketika Ocho selesai bercerita. Sebelum mendadak keduanya tergesa-gesa bertatap muka, kedua pasang mata mengirimkan sinyal dengan tatapannya yang sama-sama terkejut.

"Metatron—!"

"—Dia pengoleksi buku terlengkap sejagad raya!" Seru Ocho girang dengan tangan yang terkepal meninju udara.

Euphoria Ying mendadak terputus. Bukan kalimat itu yang Ying sangka keluar dari mulut Ocho. "Ku kira Metatron bertugas untuk menulis perintah-Nya?" Ying mengerungkan alisnya heran. Ia tidak mengira Metatron memiliki perpustakaan lain selain di Heaven. Ia saja tidak mengira kalau malaikat bisa memiliki perpustakaan pribadi.

"Justru itu! Dia menulis semua perintah dan larangan-Nya. Setiap kata diarsipkan dengan baik olehnya, sama halnya seperti semua koleksi cerita manusia yang dia punya. Kalau kita bisa menemukan Metatron, kita akan bisa mengetahui semua perkataan-Nya, lengkap! Selain itu kita bisa mencari sumber lain yang pastinya ada di dalam perpustakaanya. Mantra dari malaikat, mantra dari dunia bawah, bahkan mantra nggak dikenal aku yakin pasti ada di sana!"

"Ini...bisa berhasil. Rencana ini bisa kita lakukan." Perlahan ada senyum merekah di wajah Ying, tidak percaya kalu mereka berhasil menemukan satu rencana yang akan mulai misi pencarian ini. "Kita akan menemukan Metatron."

"Yes!" Akhirnya. Ocho berseru penuh semangat. Perjuangan mereka tidak akan berakhir tanpa perlawanan. Mereka punya rencana sekarang. Ia berhasil menemukan cahaya pertama yang dapat membukakan jalan buntu ini. Realisasi akan solusi yang baru didapat itu membuat Ocho serasa dialiri listrik. Tidak tersengat, lebih seperti pasukan semut berjalan menyusuri kulitnya, yang ternyata kalau dipikir-pikir lagi menjijikan juga.

Ocho melempar bantal yang Ying tangkap dengan mudah dan dilemparkan balik. Ocho menerima lemparan ke wajahnya itu dengan sukarela. Badan terkapar, Sekarang dirinya diserang euphoria kebahagiaan, membuat dadanya menggebu-gebu. Di saat seperti ini, Ocho teringat Boboiboy dan momen-momen serupa yang tercipta setiap kali ia bersama bocah bertopi itu. Mengingat mereka kembali membawa gelombang kebahagiaan yang baru.

Sekarang, roda perjalanan Ocho dan Ying akhirnya bergerak maju.

.

~Angel With a Glasses~

.

Semua itu berawal dari kepala berat dan matanya yang panas.

Boboiboy memijit keningnya. Ia berpikir, mungkin karena ia tidur larut kemarin malam, sekarang tubuhnya membayar ganjarannya. Boboiboy merasa dingin dan panas di saat yang bersamaan, ia tidak yakin apakah ia harus minta ijin untuk pergi ke Unit Kesehatan atau tidak. Tidur 15 menit sepertinya cukup ampuh untuk memberantas pening di kepalanya.

Tapi Boboiboy bukanlah Boboiboy jika ia menyerah tengah jalan. Cekgu Papa Zola sedang menyampaikan materi penting. Akan sulit baginya untuk mengejar materi jika ia tidak hadir di kelas. Dua puluh menit lagi istirahat, ia bisa bertahan selama itu.

Gopal sudah curi-curi pandang ke arah Boboiboy, menyadari bahwa ada yang salah dari sahabatnya itu. Setelah jarum jam yang bergerak sangat lambat itu akhirnya sampai ke angka 4, murid-murid berhamburan pergi ke kantin mengisi perut mereka. Biasanya Boboiboy salah satunya, tapi kali ini bocah bertopi itu tetap di bangku, kepala beristirahat di atas meja.

"Kau sakit, kè?" Tanya Gopal. Yang ditanya berusaha menggelengkan kepala, tapi tampaknya gerakan itu malah membuat pusingnya menjadi-jadi.

"Tak lah. Aku hanya perlu tutup mata sebentar, kok." Jawab Boboiboy di balik tangannya. Ia dapat merasakan nafas panasnya sendiri di wajahnya.

"Yakin kau, Boboiboy? Perlu ku panggil Tok Aba? Jarang-jarangnyé kau sakit ni." Ketika kakeknya disebut, Boboiboy mengangkat kepalanya susah payah dan menggeleng lagi.

"Tidak usah lah, aku tidur sebentar saja. Nanti juga hilang setelah istirahat selesai." Boboiboy berusaha meyakinkan. Tapi nampaknya konsep waktu tidak berjalan lurus bagi Boboiboy ketika sedetik kemudian bel masuk berbunyi. Si bocah bertopi itu mendesah pasrah.

"Nah loh, itu bel masuk. Sudah Boboiboy, kau istirahat saja lah di UKS kalau kau nggak mau pulang." Ajak Gopal.

"Aku sehat kok!" Boboiboy bersikukuh. Ia mencoba tersenyum ke arah Gopal, namun ketika sahabatnya meringis, Boboiboy yakin kalau nyatanya wajahnya pun sudah terlihat sakit.

Gopal menggeleng-gelengkan kepala. Tiba-tiba ia pergi ke meja Boboiboy dan mengangkat pemuda itu.

"T-tunggu! Kau nak apakan aku?!" Sahabatnya itu memegangi lengannya dan membawanya pergi. Boboiboy sadar kalau ia tidak punya tenaga untuk melawan. Dunia serasa berputar bak kincir angin dan semua yang menyentuh kulitnya berasa dingin.

"Bawa kau ke UKS lah. Kau harus tidur, oke? Tidak ada alasan!" Gopal berucap tegas. Boboiboy mendesah lelah dan membiarkan dirinya dibawa pergi. Walau begitu ada senyum kecil di bibirnya.

Terkadang, Gopal tahu apa yang terbaik untuk Boboiboy. Terkadang pula, Boboiboy tidak tahu kapan harus mengalah pada kebutuhannya sendiri. Untung saja Boboiboy punya Gopal, yang berani menyuarakan pendapat demi kebaikan sahabatnya.

Gopal menemaninya hingga ia terlelap di kasur sekolah. Dengan suara sumbang, dia bahkan berusaha menyanyikannya sebuah lagu untuk menggiringnya tidur.

Dalam tidurnya, Boboiboy tersenyum. Ia tidak tahu akan jadi seperti apa dia jika tidak ada Gopal.

.

.

Boboiboy yang berniat tidur selama 15 menit baru terbangun ketika bel pulang sekolah berbunyi. Kepalanya seketika berputar taktala ia terlonjak kaget dari tidurnya. Ketika ia mengecek waktu, rasanya Boboiboy ingin menepok jidat dan menegur dirinya sendiri.

Langit sore terlihat dari jendela lorong kelas yang sepi. Boboiboy melambankan langkahnya untuk melihat pemandangan itu lebih lama. Kepalanya sudah tidak lagi berputar-putar. Yang tersisa hanyalah matanya yang panas dan tenggorokannya yang kering.

Haus sekali, Boboiboy mengerang dalam hati. Rasanya minum segalon air juga tidak akan memuaskan dahaganya.

Begitu sampai di kedai, Boboiboy tidak melihat ada Tok Aba, tapi Fang tengah mengelap meja-meja yang mulai kosong dari pelanggan.

Boboiboy berjalan menghampiri. Fang yang mendengar suara langkah kaki mengangkat kepalanya, bertanya-tanya. "Kegiatan belajarmu selesai sore?"

Boboiboy menggeleng dan mengambil tempat duduk di depan Fang. Ia meletakan tas di kursi sampingnya. Gelas yang tersedia ia isi dengan air. "Tidak kok. Aku tidak sengaja ketiduran di ruang kesehatan tadi." Lalu ia meneguk airnya rakus.

Fang melipat lapnya dengan rapih dan meletakannya kembali ke tempatnya tanpa memutus kontak mata dengan Boboiboy. "Apa tubuhmu...baik-baik saja..? Tidak ada yang...rusak, 'kan?"

Boboiboy menghela lega saat air di gelasnya habis. Asupan oksigen menjernihkan kepalanya, menyegarkan tubuhnya yang lelah. Merasa belum cukup, Boboiboy menuangkan segelas lagi dan menjawab. "Rusak? Um, aku...sempat tidak enak badan. Tapi sekarang aku baik-baik saja!" Boboiboy berucap semangat untuk menunjukkan kesehatannya yang pulih. Fang yang diam tidak responsif membuat Boboiboy bertanya-tanya apa yang pemuda itu pikirkan.

Manik Amethyst Fang terpaku pada sinar jingga yang terpantul pada gelas. Sejujurnya Fang tahu Boboiboy tertidur di sekolah. Malaikat itu mengawasi ketika Gopal berjingkat keluar dari ruangan, meninggalkan Boboiboy yang tertidur gelisah. Fang menyadari manusianya tidak dalam kondisi prima; suhu melebihi normal, nafas sesak, keringat di punggung lehernya. Manusianya rusak, dan Fang terdorong untuk memperbaikinya.

Masuk melewati jendela, Fang lalu meletakan telapak tangannya di kening Boboiboy. Cahaya putih kebiruan menyala, lalu sesaat kemudian nafas Boboiboy kembali normal, suhunya turun, dan bocah bertopi itu mendengkur pulas. Sebelum Boboiboy terbangun, Fang sudah kembali berada di kedai bersama Tok Aba, membantu sang kakek.

"Suhumu...naik lagi." Fang tersadar. Suaranya berbisik terlalu kecil untuk didengar Boboiboy.

Boboiboy berhenti minum sebelum gelas keduanya hampir kosong. "Eh? Apa yang kau bilang?" Tanyanya.

Pertanyaan Boboiboy tidak dijawab oleh Fang. Melainkan, Fang menaikkan badannya ke atas meja. Tangan terjulur ke arah Boboiboy yang tidak siap wajahnya disentuh.

"F-fang, apa yang kau lakukan?"

Boboiboy yang tertutup matanya bertanya kaget. Tangan gelagapan, takut untuk menarik lepas tangan Fang dan membuat yang punya tersinggung. Tapi tak lama kemudian, Boboiboy tidak yakin apakah ia ingin melepas diri dari sentuhan dingin itu, yang mengompres mata panasnya. Perbedaan suhu drastis membuat Boboiboy ragu, dan pada akhirnya ia menyerah, membiarkan dirinya ditimang rasa sejuk itu.

Fang tetap begitu selama beberapa detik, lalu ia melepas kontak dan mundur. Boboiboy segera merindukan kesejukan itu, sebagian dirinya ingin mengejar, dan meminta rasa itu kembali menenangkannya. Boboiboy melihat Fang menatap dirinya penuh harap, dan dalam seketika mantra itu terputus.

Boboiboy berkedip bingung. Ia meihat Fang seolah ia meihat sesuatu yang lain. "Um.. Fang?"

"Aku hanya mengecek saja." Fang berucap datar. Ia mengambil gelas milik Boboiboy dan mengisinya dengan air. Ia lalu menyodorkannya pada Boboiboy. "Ini, minum."

Boboiboy menerima gelas dari Fang ragu-ragu dan menyisip airnya pelan, tidak rakus seperti tadi. Rasa hausnya langsung hilang dalam tegukkan pertama.

Fang kembali menyibukkan dirinya dengan membersihkan kedai. Bergerak cekatan mengelap gelas dan piring yang baru dicuci. Ketika selesai, ia menghadap Boboiboy.

"Aku akan membereskan kursi-kursi dulu. Kau duluan saja kembali ke rumahmu."

Mendengar itu Boboiboy siap-siap berdiri. "Kalau begitu, sini ku bantu." Tawar Boboiboy. Tapi Fang menghentikan pemuda itu dan menggeleng.

"Tubuhmu perlu istirahat. Pulang. Atau menunggu di sini dan kita pergi bersama, terserah dirimu." Pilihan Fang membuat Boboiboy cemberut. Ia tidak sesakit itu sampai Fang harus bekerja keras sendirian.

"Aih, jahatnya kau Fang." Ekspresi Fang mendadak berubah kaget mendengar pernyataan tu.

"Maaf," Fang cepat-cepat berucap, menundukan kepala. "Aku tidak bermaksud begitu. Aku khawatir kalau kau memaksakan, tubuhmu bisa kembali rusak. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu." Wajah Fang tidak banyak berbicara kecuali alis yang mengerung dan mata yang terlihat begitu polos. Boboiboy dapat merasakan ketulusan si pemuda dari ucapannya, yang alhasil membuat wajah Boboiboy sedikit hangat.

"O-oh, baiklah." Boboiboy mengangguk gagap. "Aku hanya bercanda Fang, kau tidak jahat. Malahan, kau baik sekali mengkhawatirkan ku. Tak apa, kalau begitu aku akan menunggu di sini." Boboiboy menyentuh pipinya yang panas. Apa demamnya naik lagi?

Fang mengangguk, tanpa banyak bicara ia bergerak menyelesaikan pekerjaannya, mengangkat kursi-kursi ke atas meja dan menyapu rumput dari sampah. Dari tempat duduknya, Boboiboy diam memperhatikan. Namun lagi-lagi, ia merasa gerah tiap kali ia melihat wajah Fang. Boboiboy pun mengalihkan pandangannya mencari distraksi lain.

Di sebelah kasir ada pot kecil warna merah bata. Bunga Torenia putih kuning tertanam di sana. Atau mungkin dulu tertanam di sana, sebelum mereka meranggas seperti tidak pernah disiram.

"Alamak. Kenapa bisa kau jadi seperti ni?" Boboiboy menarik pot itu agar dekat dengannya. Daun kecil menggulung kering. Bunga yang awalnya tumbuh subur kini tinggal tersisa dua-tiga buah saja. Kenapa bisa? Padahal Boboiboy yakin kalau kemarin tanaman ini masih sehat-sehat saja.

Merasa prihatin, Boboiboy menyiram tanaman itu dengan air dari gelasnya. "Kau juga jangan ikut sakit. Yang sehat, oke? Nih, aku minum air jadi sehat. Kau juga minum yang banyak, ya. Yang sakit aku saja, kamu jangan ikut-ikutan." Kalau saja tanaman dapat berbicara, mungkin mereka akan bersorak gembira mendapat asupan air yang mereka tunggu-tunggu. Berterima kasih dan memuji Boboiboy akan kebaikkan hatinya. Tapi mereka hanya tanaman, jadi Boboiboy tidak mendapat balasan dari tindakannya.

"Aku sudah selesai." Fang datang menghampiri Boboiboy. Sudah selesai? Secepat itu? Ketika melihat di belakang Fang ternyata benar, kedai sudah kosong total dari pelanggan. Kursi-kursi sudah diangkat dan tidak ada sampah di halaman.

"Wah, kerjamu cepat juga ya." Puji Boboiboy. Fang mengangkat bahunya.

"Bukan apa-apa." Ucap Fang. Lalu ia memberikan tangannya untuk Boboiboy. "Ayo pulang."

Boboiboy menyalahkan demamnya yang lagi-lagi membuat pipinya panas saat ia menerima uluran tangan Fang.

Mereka tidak berbicara dalam perjalanan. Tapi nampaknya kedua pihak tidak ada yang keberatan akan hal itu.

.

.

Di bawa papan reklame dan lampu neon kehidupan malam, seorang kakek diam berdiri; menunggu, mengawasi tubuh-tubuh berkeringat yang bergoyang mengikuti irama dalam sebuah bar di jalan Bukit Bintang.

Distrik itu penuh dengan wisatawan menjinjing kantong merk papan atas beraneka macam. Dari pinggir jalan, kakek itu memperhatikan bagaimana manusia bersentuhan mesra dari tangan tak dikenal sembari meneguk minuman pahit yang memusingkan kepala. Mereka begitu haus akan kata-kata manis, tuturan pujian dan kebohongan untuk mendapat kesenangan semalam.

Bukan berarti Crowley membenci kehidupan malam. Oh, jauh dari itu. Terakhir kali ia masuk ke sarang maksiat itu ia berhasil menggaet 5 manusia kedalam kontraknya. Glencraig Whiskey juga disajikan di sana. Rasa manis biskuit dengan sepercik kulit citrus. Untuk sebuah karya manusia yang selalu ia konsumsi, Crowley sangat menghargainya. Memabukkan.

"Hai manis," dua gadis berpakaian minim yang ia sapa meringis jijik dan cepat-cepat pergi menjauh. Crowley mendesah. Ia yakin jika wujudnya sekarang adalah lelaki tampan berkelas, mereka pasti akan langsung melekat di pinggangnya. Sejujurnya Crowley sendiri akan menghindar jika ada kakek tua yang menyapanya.

"Crowley."

Dari dalam bayangan gang antara dua bangunan kumuh, terselip di antara toko-toko baju bermodal, muncul sesosok pria. Wajahnya sekitar 20 tahun-an dengan jas hitam berdasi hijau daun. Tipe yang akan melebur baik antara orang-orang berdompet tebal yang tidak sungkan menebar uang. Auranya mengintimidasi walaupun pria itu tersenyum sopan; senyum yang sudah dilatih. Wajah yang selalu terpasang untuk memberi kesan pertama yang baik pastinya. Crowley tahu karena ia sendiri akan melakukan hal yang sama.

Karena sesungguhnya, makhluk dari bawah tidak memiliki tampang rupawan seperti yang manusia bayangkan. Karismatik? Mungkin. Mengagungkan? Mengintimidasi? Pastinya. Topeng lelaki itu meleleh bak lilin. Dan di baliknya; suatu makhluk yang selalu membuat Crowley terpesona. Mencuri nafas dari dada Crowley saat ia membungkukan punggung rapuhnya dengan hormat.

Bagi Crowley ia tidak melihat seorang manusia. Melainkan sebuah bayangan besar, asap hitam yang mengebul, dan taring tajam seekor ular bermata kuning yang sesekali mengedip. Tapi demi Lucifer, sungguh agung rupa pangerannya.

"Yang Mulia, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda." Crowley membungkuk hormat. Lagi pula tidak setiap hari kau bisa bertemu salah satu pangeran neraka. Pangerannya mengibaskan tangan, meminta Crowley untuk tegak kembali.

"Ah, jangan kaku begitu. Kau pengusaha kesukaanku, Crowley. Tidak perlu beri hormat seperti itu. Mari, ikut denganku." Lelaki itu bergerak ke arah club yang tadi Crowley amati. Setan itu menyeringai, membusungkan dada, mengekori pangerannya. Sudah dipuji, ditraktir minum oleh pangeran neraka pula. Bagaimana bisa ia menolak?

Namun tindakan hangat dari pangerannya pasti bukan tanpa sebab. Crowley merasa tersanjung ketika mendapat panggilan untuk bertemu lagi setelah sekian lama tidak bertatap mata. Mereka bukan teman, label manusia itu tidak berlaku untuk dirinya. Tapi Crowley yakin hubungan mereka melebihi sekedar pangeran dan kontraktor biasa.

Penjaga di depan pintu mengangguk sekali dan mempersilahkan mereka masuk. Debum bas dari speaker di penjuru ruangan menggetarkan gendang telinga Crowley, memutarkan musik elektronik yang menggerakkan lautan manusia untuk berjoget. Tapi dengan semua hambatan itu, di samping pangerannya mereka berjalan tanpa benturan. Seolah para manusia sadar untuk memberi jalan kepada tokoh penting itu. Crowley mengkatalogkan beberapa botol mahal yang tersebar di meja-meja batu andesit dan menyadari kalau harganya di atas gaji orang biasa.

'Bukan klub sembarangan toh...' Crowley bergumam dalam hati, memperhatikan emas perak bergelimang menghiasi tubuh baik pria dan wanita. Sesekali ia melihat kawan seperjuangannya; setan bermata merah dan hitam duduk di kubik tertutup, mengajak manusia untuk membuat kontrak.

Mereka berjalan menuju meja bundar di sudut ruangan yang dijaga ketat. Dua pria bertubuh besar berdiri menjadi anjing penjaga, mata memindai ancaman dibalik lensa hitam mereka. Yang mereka jaga terimpit di antara dua wanita penghibur, yang tertawa cantik mendengar suatu lelucon dari lelaki di tengah mereka. Menyadari kehadiran Crowley dan pengerannya, lelaki itu berhenti bercanda, menyengir lebar.

"Wah wah, tak sangka aku melihat kau datang kemari, Sai." Pangerannya ikut tersenyum dan menjabat tangan bercincin batu di setiap jari kurus yang diulurkan.

"Kau sendiri yang memberikanku akses tidak terbatas di klub ini. Kenapa? Menyesal membuat perjanjian denganku?" Pangerannya menaikkan satu alis, tersenyum yang mampu membuat makhluk lemah merinding hingga ke tulang. Lelaki itu menepak lututnya beberapa kali, tertawa terbahak-bahak.

"Bwahahaha! Lucu sekali, Azazel!" Mata Crowley terbelalak ketika manusia itu dengan mudah menyembut nama pangerannya. Mata kuning tidak berkedip, Azazel yang ikut terkekeh kecil membuat Crowley tidak merasa aman. Tanpa sadar ia mundur selangkah.

"Aku tahu pertaruhannya saat aku menandatangani kontrakmu. Bonus hidup 10 tahun untuk akses ke klubku seumur hidup bukan pertukaran yang buruk, aku bisa mencapai banyak hal. Lihat diriku sekarang! Bisnisku sukses, wanita cantik disampingku. Aku puas dengan hidupku!"

Selain jari kurusnya, gigi berlapis emas terpamerkan ketika dia tertawa. Dua wanita di sebelahnya yang jelas-jelas tidak mengikuti alur pembicaraan ikut terkekeh manis.

Azazel tidak terkejut lagi dengan prilaku manusia itu. Tapi mengenal pangerannya, dia mungkin merencanakan sesuatu yang spesial untuk manusia itu. Sesuatu yang mengerikan yang tidak ingin Crowley bayangkan. Hei, bahkan setan sepertinya punya standar kesadisan.

"Aku yakin kau menikmatinya dengan baik, Adu du. Aku ke sini untuk meminjam ruang VIP, bisa minta seseorang untuk menyiapkannya?" Adu du bersiul kagum. Ia mematai Crowley yang mengangkat alisnya heran.

"Seleramu aneh, kawan. Yah, bukan urusanku. Probe! Kemari cepat!" Seseorang berjalan cepat menuju mendengar namanya terpanggil. Ada berkas-berkas penting dalam pelukannya, kacamata yang bertengger tidak menutupi bukti kekurangan tidur.

"Iya, tuan?"

"Antarkan Tuan Sai ke ruangan VIP, dia tamu yang spesial." Probe sedikit terkejut. Ia melirik tidak yakin ke kedua tamu majikannya. Walau begitu ia tetap menurut.

"Baik Tuan. Mari, saya antar." Adu du menyuruh mereka berdua untuk bersenang-senang sebelum mereka pergi mengikuti Probe. Mereka melalui pintu lift yang lagi-lagi dijaga ketat. Crowley melihat Probe meng-scan kartu identitasnya sebelum menekan tombol lantai 12. Perjalanan ke atas yang singkat tidak membuat mereka berdiri canggung terlalu lama.

Ding!

"Mari."

Ketika pintu lift bergeser terbuka, udara berubah dingin drastis. Berbeda sekali dari penat keringat di lantai pertama. Lorong hitam berlantai marmer memantukan suara langkah kaki mereka. Sepanjang jalan, banyak pintu tertutup yang mereka lewati. Tapi Crowley dapat mengira-ngira kiranya tindakan maksiat apa yang terlaksana di dalam. Mungkin itu mengapa Adu du menyuruhnya untuk bersenang-senang.

Mereka lalu berhenti di depan pintu yang sama persis seperti pintu-pintu lain yang mereka jumpai. Probe tampak yakin kalau ini adalah pintu yang benar dan menggunakan kartu yang sama untuk membukakannya.

"Silahkan, jika ada apa-apa tuan bisa menggunakan telepon yang ada di dalam." Probe membungkuk dan pergi meninggalkan Crowley dan Azazel.

"Yang sepuh duluan?" Gurauan itu Crowley anggap sebagai tanda untuk masuk pertama. Di balik pintu itu terdapat suite mewah. Jauh lebih luas dari yang Crowley kira. Ruangan bernuansa merah dan hitam itu mempunyai satu ranjang king size. Meja makan dan ruang tv berada bersebelahan. Kaca lebar membolehkan Crowley untuk memandang balkoni di luar beserta kolam renang pribadi yang menyala biru.

Azazel membukakan kulkas dan mengambil sebotol minuman yang Crowley hafal di luar kepala. "Glencraig?" Tawarnya.

"Tentu saja." Crowley menerima nektarnya dengan senang hati. Mereka mendentingkan cawan mereka dan menyisip. Minuman pada umumnya bukan hal yang esensial bagi makhluk sepertinya. Crowley tidak merasakan apapun kecuali benda cari yang mengalir melewati tenggorokkannya. Tapi Whiskey dan scotch berbeda. Mereka memberikan sensasi yang menghancurkan norma itu, minuman yang mengasimilasikan dirinya dengan dunia malam membolehkan Crowley dan makhluk sepertinya mencicipi nikmat duniawi.

Crowley memutar cawannya. "Aku merasa tersentuh, Azazel. Tapi aku yakin kau mengajakku kemari bukan untuk bermain-main." Mata Crowley melirik ke arah ranjang. "Apa lagi dengan seorang kakek tua sepertiku." Dan lalu ia tertawa.

"Kau benar." Kamar yang remang-remang membuat mata Azazel menjadi pusat perhatian, menyala kuning tajam. "Aku punya sesuatu yang penting untuk didiskusikan denganmu seorang."

Azazel duduk di sofa, menyilangkan kakinya, lalu meminta untuk Crowley ikut duduk. "Jangan malu begitu, Crowley. Aku tidak akan menggigit." Ucap Azazel. Lalu taring-taring tajamnya terpampang rapih ketika dia tersenyum.

Crowley duduk bersebrangan dari Azazel di sofa putih. Meja pendek diantara mereka tidak membantu Crowley merasa aman. Tapi setan itu tetap tenang. Tubuh rapuh seorang kakek dipaksakan untuk duduk tegak percaya diri, sama seperti ketika Crowley menghadapi pelanggan yang ingin membuat kontrak. Santai, bersahabat, mengajak, apapun untuk menggoda manusia. Harusnya tidak beda jauh.

Begitu Crowley duduk, Azazel menyengir di belakang cawannya. "Nah, karena kau sudah duduk, aku ingin memintamu untuk tidak berbohong denganku."

"Wah wah, ada apa ini? Apa aku sedang diinterogasi?" Canda Crowley, tawanya sedikit dipaksakan.

"Bisa di bilang begitu." Azazel menggerdikkan bahu. "Tapi tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam. Ada sigil di bawah kursimu, aku jadi tidak perlu khawatir jika kau berniat untuk pergi tengah pembicaraan."

Itu membuat Crowley membelakakan matanya sesaat. Ketika ia memfokuskan perhatiannya, Crowley menyadari udara sekitarnya terasa berbeda, sedikit menyesakan. "...oh, sial."

"Aku akan mengangkatnya ketika kita selesai." Mata Azazel memicing, berspekulasi. "Kalau kau pantas untuk bebas, tentunya."

Crowley menarik nafas panjang. Jemari kurus mengetuk-ngetuk, mencoba menghilangkan rasa gugup. "Kalau begitu apa yang ingin kau tahu?"

Azazel memainkan cawannya tanpa memutus tatapan. Sengaja menyeret ketegangan agar berlangsung lebih lama.

"Ada setan kecil berbisik ke telingaku bahwa kau mengontak salah satu budak surga." Ucap Azazel santai. Seolah makhluk surga dan neraka yang berbincang adalah hal normal.

"Aku hanya penasaran...apa yang kalian bicarakan? Ada gosip yang menarik?" Mata kuning menusuk tajam, dan Crowley mendapati dirinya terdesak. Ia dapat merasakan hawa dingin merembeti punggungnya.

"Wah wah, Azazel." Tawa Crowley. "Aku tidak sadar kalau aku diperhatikan sedemikian rupa olehmu. Aku tersentuh."

"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Crowley." Si setan dapat merasakan jiwanya digaruk dengan kuku tajam, memaksanya agar menjawab lebih cepat.

"Ahaha." Suara Crowley berderik serak. "Oke oke, aku tidak bermaksud membuatmu jengkel, Yang mulia." Craig dalam cawan ia habiskan dalam satu tegukan. Tenggorokan Crowley serasa tegelitik saat cairan hangat itu lewat. Sesuai dengan namanya, khasiat minuman keberanian itu mulai bekerja.

"Sebelum ku beritahu, aku harus bertanya dulu, kawan. Adakah berita dari bawah yang menarik perhatianmu?" Tanya Crowley. Hiruk-pikuk malam terpintas dalam bayangnya. Di balik kaca yang membatasi dunia luar terdapat bintang yang terganti papan reklame dan lampu perhotelan. Mungkin jika ia selesai dari sini ia akan mengunjungi daerah pegunungan untuk menerawang bintang. Jauh dari pendosa yang terselubung dan semua kesempatan yang menjanjikan. Waktu untuk menarik nafas dan menjernihkan pikiran.

Lagi pula, apa gunanya kejayaan jika tidak ada tempat dimana ia bisa berjaya?

"Satu-satunya berita menarik yang kudengar hanya tentang dirimu; yang berasosiasi dengan unggas, bertukar informasi yang pastinya..." Azazel menjilat bibir bawahnya, "...menggiurkan."

Ada sesuatu dalam tatapan Azazel. Sepasang manik kuning bak beludak yang merayap di balik semak belukar, dapat menyerang tanpa peringatan, atau mungkin hanya mengawasi. Tidak memberikan tanda kalau ia berada di dekat kita, namun bulu kuduk merinding seperti diawasi pemburu.

Dan Crowley menyukainya.

Malu. Menjijikan. Hina. Crowley tidak buta. Jiwanya berada dalam ancaman besar, dan ia tahu ia bisa menghilang dalam jentikan jari.

Tapi — arus adrenalin ini. Ia merindukannya. Sama seperti ledakan bintang di langit malam; peristiwa langka yang mudah terlewati dalam satu kedipan, Crowley menantikan dimana sepasang manik kuning itu menyulut api yang selama ini redup tidak tersentuh. Jika makhluk neraka boleh mengakui perasaannya, maka Crowley tidak akan segan-segan mengatakan dirinya rindu.

"Memang menggiurkan. Sesuatu yang krusial menghilang, Azazel. Heaven dalam ambang dalam kekacauan tapi para malaikat tidak tahu itu. Mereka yang tahu berusaha menjaga rahasia itu rapat-rapat." Crowley menggebu-gebu, rasa girang terpampang jelas pada wajahnya.

"Biar ku tebak; Kau tahu rahasia apa yang mereka berusaha sembunyikan? Apa yang hilang dari Heaven sampai tidak ada yang boleh tahu?" Azazel akhirnya menunjukan ketertarikannya. Jantung rapuh Crowley seolah mendobrak sangkar rusuknya.

"Benar." Seringai Crowley menjadi selebar Azazel.

"...Kau sadar bukan? Kalau aku bisa menyeret informasi darimu dengan paksa." Ucap Azazel.

"Oh aku tahu." Crowley tampak tidak khawatir. "Tak pantas seorang pangeran mengemis-ngemis. Dan tak pantas seseorang dibawahnya menolak perintah darinya. Aku masih sadar tempat, pangeranku."

"Jadi? Apa rahasia yang terdengar sangat peting ini? Aku tidak punya banyak waktu, Crowley." Dorong Azazel, tidak sabaran. Suaranya mengancam tapi Crowley tahu—ia selalu tahu — kalau untuk sesaat, Crowley berada di atas pangerannya. Ia lebih unggul. Crowley punya sesuatu yang pangerannya sangat butuhkan, informasi yang digantung di atas jangkauan Azazel, dan pangerannya hanya bisa diam menunggu untuk disuapi.

Crowley memainkan cawannya. Hanya karena dia bisa.

(Dan karena hati kecilnya ingin sekali saja melihat Azazel kesulitan.)

"Ada...sosok yang sangat penting yang menghilang dari kursinya. Bisa kau tebak siapa?" Crowley menyengir dari telinga ke telinga. Ia ingin mengambil satu lagi botol Craig untuk bersulang atas dirinya sendiri saat wajah kaku itu mengerungkan alisnya, berpikir keras, lalu manik kuning terbelalak lebar. Kilat mengalahkan lampu redup yang menerangi ruangan.

Ah, ekspresi ini yang ingin ia nanti.

"Tu..Tuhan menghilang?" Ekspresi Azazel yang selalu terjaga kini retak. Tapi lalu momen itu berlangsung singkat taktala matanya memicing tajam kepada Crowley. "Jangan kau berbohong padaku, Crowley. Aku tidak mentoleransi dusta, sekalipun itu darimu."

"Apa aku pernah berbohong?" Crowley bertanya balik. Ia lalu terdiam sebentar. "Maksudku, pernahkah aku berbohong kepadamu." Ralat Crowley.

"...tidak."

"Tepat sekali. Nah, dengan berita sebegitu penting. Akankah aku berbohong? Nampaknya tidak." Crowley mendekatkan bibirnya ke dalam gelas, dan mendapati isinya kosong.

"Apa aku sudah bebas? Aku merasa berdosa jika tidak menghabiskan botol itu, Azazel."

Azazel terbisukan. Diam berpikir keras. Lalu mendadak dia terhentak dari lamunannya, seolah teringat bahwa Crowley masih satu ruangan dengannya. Azazel mengayunkan tangannya dan gelas Crowley kembali terisi penuh.

"Hmp, tidak ada rasa hormat." Gerutu Crowley di bawah nafasnya. Rasa Craig akan lebih menyengat jika dituangkan langsung dari botol.

"Ini... wawasan yang sangat bagus, Crowley. Aku hargai itu." Mulai Azazel.

"Aku merasakan ada 'tapi' di sini."

"Tapi, jika yang kau katakan benar—"

"Yang ku katakan memang benar."

"Aku butuh lebih." Crowley dapat melihatnya. Roda-roda yang berputar membuat rencana. Hilangnya kekuasaan menjadi kesempatan besar untuk makhluk seperti Azazel. Dia tidak pernah menunjukannya secara langsung. Selalu diam-diam, selalu waspada. Tapi saat-saat langka seperti ini; ketika Azazel dapat melihat jalur kemenangan sudah terpahat jelas untuknya. Bahkan seorang Pangeran Neraka pun dapat berseri seperti anak kecil.

"Dan aku akan membawakanmu lebih." Crowley mencondongkan dirinya ke arah Azazel.

Azazel mengerung, menantang pernyataan Crowley. "Bagaimana aku bisa percaya kepadamu."

"Kau tidak pernah percaya kepadaku." Crowley menyengir. "Tapi aku satu-satunya sumber informasi yang kau miliki. Malaikat itu percaya denganku, jadi sebaiknya kau juga, Azazel. Perang sedang dalam perjalanan, alangkah lebih baik jika kita berada dalam sisi yang sama."

"Sisi yang kau maksud adalah bersamaku, bukan?"

Crowley menatap balik manik kuning yang curiga. Rasanya ia tidak pernah tersenyum selebar ini sebelumnya. "Tentu saja."

Azazel akhirnya tersenyum — senyum yang sama sejak dulu. Ketika ia baru membuat strategi ampuh yang menjaminkan kemenangan. Dia lalu menjentikan jari. Sesuatu mendesis di bawah Crowley. Ia melihat bekas-bekas sigil yang dipakai untuk mengunci dirinya hangus terbakar. Azazel lalu berdiri, diikuti dengan Crowley yang meregangkan punggungnya.

"Sebagai bayaran informasi, apa yang aku dapat nanti?" Tanya Crowley.

"Aku membiarkanmu hidup." Azazel tersenyum tanpa humor. Crowley menunduk, tertawa kering.

"Ah...sudah kuduga." Ia meletakan gelasnya dan berjalan ke arah kulkas. Glencraig tidak boleh terbuang percumah.

Azazel mematai dari belakang. Satu tangan diselipkan kedalam saku celana kain. Jas hitam tampak rapih abadi tanpa kerutan.

"Aku serius Crowley. Jiwamu miliku. Kalau kau macam-macam..." Azazel membuka telapak tangannya, lalu ia meremas.

Seketika botol di tangan Crowley jatuh dan pecah di lantai. Kaki kehilangan tenaga, Crowley terjatuh. Tangan tua mencari pegangan pada kulkas, meremas dada tak berdegup. Ia mendengar jiwanya menjerit kesakitan. Meronta ingin keluar dari cangkang manusianya. Mendobrak sana sini bak anjing liar, mengoyak dari dalam, mengoyak Crowley.

Tangan Azazel terbuka, dan semuanya berhenti.

"...kau tahu apa yang akan terjadi, kawan." Megap-megap, Crowley mengutuk keras. Ia mengangkat kepalanya, untuk mendapati dirinya sendirian di dalam kamar.

Crowley diam terduduk, mengkondisikan dirinya kembali. Ia melihat pecahan botol dan isinya yang terbuang percumah. Entah mengapa hal itu lebih membuatnya jengkel ketimbang ancaman Azazel. Crowley berdiri, melihat ruangan tempatnya berada sekali lagi. Ia menarik nafas panjang dan membiarkan tubuhnya melebur menjadi asap, bergerak melalui ventilasi, lalu kembali mewujudkan dirinya di luar gedung. Klub itu tempak tidak berubah, acuh terhadap apa yang terjadi di beberapa lantai ke atas.

Crowley ingin membenci Azazel, sungguh. Hubungannya dengan pangeran neraka itu tidak pernah jelas. Mereka bukan teman, bukan pula sebatas pangeran dan bawahannya. Mereka sesuatu yang berbeda. Iistilah manusia tidak bisa menjelaskan sesuatu begitu kompleks yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Crowley benci, ia sangat membenci Azazel, tapi - nyatakah perasaan benci itu? Untuk beberapa saat perasaan itu terwujudkan. Ada saat di mana mata kuning itu membuatnya muak dan membuatnya ingin mencongkel dua bola mata indah itu, memajangnya agar ia bisa selalu ingat simfoni penderitaan dari mulut Azazel.

'Heh,' Crowley mendengus, '...percumah.'

Tapi siapakah yang Crowley kelabui selain dirinya sendiri? Ia tidak bisa benar-benar membenci. Karena ia tahu jika Crowley berada di posisi Azazel, ia akan melakukan hal yang sama.

Crowley benci, tapi ia juga mencintai pangerannya. Siapa yang tidak terpesona melihat sosok yang begitu menawan dan karismatik? Crowley sudah terjebak dalam sepasang permata kuning itu sejak ia pertama membuka mata di dunia bawah. Rasanya tidak mungkin membebaskan diri dari jeratan yang selalu melilitnya dari lama.

Crowley mencintai pangerannya, namun di saat yang sama ia lebih mencintai dirinya sendiri.

Ia sudah menemukan jendela peluang, dan Crowley tidak akan menyia-nyiakan begitu saja. Dan jika ia harus menjadi pion dalam permainan ini, biarlah. Kejayaan itu akan ia dapatkan untuk dirinya—demi dirinya.

Pandangan orang-orang yang berlalu lalang kembali mengingatkan Crowley kalau di permukaan bumi ini ia masih seorang kakek-kakek dengan pakaian usang yang umurnya tampak tinggal beberapa bulan lagi. Menyadari itu membuat Crowley mendesah lelah.

"Um, Datuk tak apa?" Crowley menoleh ke belakang ketika seseorang menepuk pundaknya lembut. Seorang gadis berhijab memandang khawatir dirinya. Di tangannya terdapat kantong, kemungkinan besar berisikan kue.

Crowley tersenyum. Sosoknya memang selalu mengundang rasa prihatin.

"Tak apa anakku. Datuk hanya melamun saja." Ucap Crowley lembut. Rasanya ia ingin tertawa melihat gadis di depannya malah merona malu dan menyodorkan kue ke arahnya.

"Ini tok, saya kebetulan ada rejeki berlebih. Semoga bisa Datuk nikmati." Crowley menerima makanan itu dengan girang.

"Oh, baik sekali hatimu nak. Semoga kau diberkati Tuhan—" Crowley hampir tersedak, "—dan kalau boleh tahu, siapa namamu, gadis manis? Biar Datuk bisa ingat siapa gadis berhati mulia ini."

Gadis itu tampak senang sekali perbuatan baiknya ditanggapi dengan baik. Dia dengan senang hati memberi namanya. "Saya Yaya, Tok." Yaya tersenyum manis, merapihkan kerudung merah jambunya. "Kalau begitu saya permisi dulu, saya di tunggu di rumah. Semoga Datok sehat ya." Dan lalu ia berjalan memunggungi Crowley.

Crowley mengecek isi kantong tersebut. Kue kering dan nasi bungkus. Hmm.

Diberi makanan manusia gratis tidak ada untungnya bagi Crowley. Ia tidak butuh makanan. Ia tidak butuh hal-hal yang manusia butuhkan. Ia tidak butuh makan, tidur, teman—terutama teman, hubungan itu menjijikan.

Crowley mematai sosok kerudung pink yang mulai menjauh. Seringainya lebar—buas. Mata berkedip, dan mereka kembali menjadi semerah darah. Kantong makanan terbuang, dan Crowley melebur menjadi asap.

Dibandingkan makanan, ia lebih membutuhkan cangkang baru yang muda, cantik, dan mempesona.

.

~Angel With a Glasses~

.

Pagi menyambut Boboiboy dengan sinar matahari merambat masuk melalui jendela kamar, menuju wajah yang sedang tertidur. Boboiboy berkedip dengan mata berat. Tangan memanjat keluar dari balik selimut dan mengucek, enggan untuk bergerak lebih.

Seseorang mengetok pintu kamarnya, membuat Boboiboy mengerang dan kembali menggulung dirinya ke dalam selimut.

"Boboiboy? Tok Aba memintaku untuk membangunkanmu. Apa kau sudah bangun? Kalau sudah Tok Aba memintamu untuk turun ke bawah." Fang bertanya dari balik pintu. Ada suara kumur-kumur tidak jelas, tapi tidak ada grasa-grusuk yang mengindikasikan kalau Boboiboy mau bererak.

Sementara itu di balik selimut Boboiboy merasa bersalah. Tapi sinar hangat dan selimut yang dingin adalah resep ampuh untuk membuatnya tepat di kasur. Rasa bersalah itu tertimbun jauh dalam kesadarannya. Tertindih selimut dan bantal empuk.

"Ah! Selimutku!" Keindahan itu berhenti taktala selimutnya ditarik paksa dengan cepat. Boboiboy mengerang. Dengan mata tertutup ia berusaha meraba-raba selimutnya yang hilang.

"Maaf, Boboiboy. Tapi Tok Aba mengijinkanku melakukan tindakan drastis jika kau tidak melakukan apa yang kakekmu minta asalkan tidak membahayakanmu. Kuharap kau bisa memaafkanku." Mata Boboiboy akhirnya perahan terbuka, dan disamping kasur Fang berdiri dengan membawa selimut yang tergulung. Boboiboy tidak mendengar kapan Fang masuk ke dalam.

"Ah... kau ini ninja macam apa, Fang." Boboiboy duduk dan merapihkan rambutnya. Mata mengerjap-ngerjap mencari fokus. Fang sudah berpakaian rapih dari ujung kepala ke ujung kaki. Seketika Boboiboy merasa sadar diri akan kondisinya yang masih berantakan.

"U-uh, aku ke kamar mandi sebentar. Tolong bilang ke Atok kalau aku akan menyusul ke bawah ya Fang." Boboiboy gelagapan berdiri dan cepat-cepat berlari ke keluar kamar, melewati Fang yang masih kebingungan kenapa dirinya disamakan dengan pasukan mata-mata dari negara yang berbeda.

Air dingin membukakan mata Boboiboy seketika. Menghadap cermin, Ia membersihkan mulut dan mata, merapihkan rambutnya yang masih mencuat bak rumput dengan air.

'Ah.. malunya!' Boboiboy menepuk pipinya beberapa kali. 'Fang itu tamu. Kenapa aku berlagak seperti itu?' Tampang tidak karuan berhadapan dengan seseorang seperti Fang, rasanya wajahnya sudah merah karena malu. Benar-benar, Boboiboy tidak bisa mengontrol diri di pagi hari. Jiwanya belum terpanggil ke dunia nyata.

Boboiboy menyisir rambutnya dengan jari sebelum akhirnya menyerah. Walaupun rambutnya tidak bisa diatur, paling tidak sekarang ia tidak sakit lagi. Tubuhnya serasa hidup kembali setelah ia tidur. Demam dan peningnya hilang seratus persen. Ia merasa begitu segar rasanya ia bisa lari keliling rumah sepuluh kali.

"Eh, apa ini?" Mata Boboiboy menangkap sesuatu di antara helai rambutnya. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke atas wastafel, mendekatkan dirinya sedekat mungkin dengan cermin. Rambut yang hampir tertata secara tidak sadar ia acak-acakan kembali. Tapi apa pun itu yang tadi menangkap perhatian Boboiboy tidak dapat ia temukan. Boboiboy memanyunkan bibirnya kecewa.

"Apa.. tadi salah lihat, ya?" Gumamnya. Boboboy kemudian menggerdikan bahu, dan keluar kamar mandi menuju ruang makan. Ah, sepertinya bukan apa-apa. Kemungkinan besar ia masih mengantuk dan matanya tidak bisa membedakan realita dan mimpi.

Boboiboy berjingkat menyusuri tangga, menyusul Fang dan kakeknya di meja makan. Pemuda berkacamata itu mengangguk singkat dengan senyum tipis, dan pagi Boboiboy serasa sempurna.

Hari pun lewat begitu saja, dan selama itu Boboiboy tidak menyadari kalau matanya tidak salah. Bahwa memang ada sesuatu yang berbeda di antara helaian rambutnya. Tapi tidaklah mungkin jika Boboiboy menyadari perbedaan itu. Lagi pula, sejumput rambut yang mendadak berubah putih Bukan hal yang aneh, kan?

.

.

.

Air mengalir. Masuk menembus pori-pori yang sudah sekian lama tidak bergerak. Kusam, coklat meranggas, mereka berubah. Kembali berwarna seolah kehidupan baru ditiupkan ke dalam setiap serat yang ada; sebuah kesempatan kedua. Kuning, putih, ungu, mekar menyambut mentari. Sekali lagi bagian kecil dari alam kembali hadir di dunia.

Sekali lagi, Bunga Torenia kembali menjadi dekoran setia di sebelah kasir Kedai Coklat Tok Aba.

.

.

.

To Be Continued


A/N:

Hey hoo habede Fang! Niatnya kemarin ingin bisa update tapi lupa hahhaha ^^;

Keluar karakter baru nihh. Adu du dan Probe jadi pemilik club di jalan Bukit Bintang (itu nama tempat beneran lho :0 ). Adu du membuat perjanjian agar clubnya sukses, walaupun nanti ketika ia mati jiwanya akan menjadi milik Azazel, A.K.A Sai.

Kalo ada yang ngeuh sebenernya beberapa adegan ada yg mereferensikan Shadow Tamer (fic aku dulu). Entah karena sengaja ato engga, pas aku baca ternyata ada yang mirip lol.

Yaya sudah muncul! XD sayang banget makhluk yang pertama melihatnya itu Crowley, kan jadi gak tau nasibnya gimana ya..

Ada bunga mati trus jadi hidup lagi? Boboiboy salah tingkah terus? Boboiboy ubanan? Apa yang terjadi helep owO

Makasih banyak yang sudah menyempatkan waktu buat baca, fav, follow, and review. Much appreciated!

See you on the next chapter!

Sekian,
TsubasaKEi, out.