Cast : Yunjaeyoosumin n other
Pairing : YunJae, Yoosu , Jaejoong x Caroline
Rate : PG - NC
Genre : Yaoi, Romance, Hurt
Author : Andrea
Enjoy reading… ^^
Hidup memang begitu banyak kejutan… karena itu hidup adalah misteri.
Misteri yang terpecahkan dan ada juga yang tetap jadi rahasia…
Setiap keputusan yang diambil punya resiko masing-masing…
Hanya keyakinan hati yang memampuhkan seseorang untuk tetap bertahan…
Sejak pemotretan selesai, sejak itu pula Caroline sadar hubungannya dengan Jaejoong benar-benar sudah tamat. Mereka tak akan bertemu, dan mungkin saat bertemu nanti semuanya akan lain dan terasa asing lagi. Dan dia sangat tahu bahwa dia tak akan sanggup menerima itu. Apalagi saat bertemu dan Jaejoong bersama lelaki itu. Entah bagaimana perasaannya nanti. Caroline merasakan dadanya seperti tertembak ribuan peluru. Sudah berlubang besar dan hampir tak menyisahkan apa-apa. Ternyata mengakhiri sebuah hubungan berdampak begini besar dalam hidupnya. Kim Jaejoong satu-satunya lelaki yang dia cintai saat ini sudah tak menaruh namanya lagi di hatinya. Sudah ada seseorang dalam kehidupan pria itu. Dan Caroline sadar hatinya benar-benar hancur. Bahkan matanya serasa mulai mengering, tak mampu lagi mengeluarkan butiran-butiran airmata.
Gadis cantik ini menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang kemudian mengambil ponselnya dari atas nakas.
[Mama, aku akan kembali ke Perancis]
Dia menyimpan kembali ponselnya setelah selesai mengirimi ibunya mail. Ini mungkin keputusan yang tepat dan seharusnya dia lakukan. Tetap berada di Seoul sama saja dengan menenggelamkan dirinya dengan kekecewaan dan rasa putus asa. Mungkin juga Caroline bukanlah seorang gadis yang kuat dan dapat bertahan saat rasa sakit mendera.
"kau sudah pulang?"
Yunho langsung menghampiri Jaejoong saat melihat kekasihnya itu melewati ruang tengah rumah mereka. Jaejoong hanya mengangguk seadanya. Kemudian tanpa berkata berlalu begitu saja dari depan Yunho.
"Akan kupanggil kalau makanannya sudah selesai"
Jaejoong menghentikan langkahnya mendegar ucapan Yunho barusan. "Aku tidak lapar"sahutnya, tanpa menoleh melihat pada Yunho kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
Yunho jadi terdiam. Perasaannya mulai tak enak. Ini pasti sesuatu yang berkaitan dengan kedatangan polisi-polisi tadi. Yunho memang tak melihat jika mereka bertemu, tapi hatinya dengan kuat membenarkan hal itu. Perbuahan sikap Jaejoong saat ini adalah salah satu alasannya. Dan entah ada berapa lagi perubahan sikap Jaejoong padanya.
Makan malam pun sudah selesai di masak. Yunho juga sudah mengaturnya dengan rapi di meja. Tapi Jaejoong tak kunjung turun untuk makan bersamanya. Beberapa saat kemudian, Jaejoong terlihat menuruni tangga dan tanpa menegurnya, pria itu berlalu begitu saja meninggalkan rumah. Entah akan pergi kemana dan mengapa melakukan seperti itu.
Yunho lagi-lagi terdiam. Perasaannya semakin kuat membenarkan kata hatinya. Jaejoong memang sudah tahu siapa dirinya, dan jadinya bersikap seperti ini padanya. Rasanya Yunho akan menangis saja. Mendapati seseorangng yang kau cintai tak bertegur sapah denganmu, bukankah itu sangat menyakitkan. Yunho memang tahu dialah penyebab semua ini. Karena masalahnya yang tak dia katakan dengan jujur, lelaki tercintanya itu berubah menjadi dingin padanya.
Jaejoong menjalankan mobilnya dengan cepat. Dia tak peduli jika menabrak sesuatu nantinya. Pikirannya sangat kalut. Apa saja yang sudah dia ketahui tentang Yunho, sungguh membuat isi dalam kepalanya serasa mendesak keluar. Jaejoong memang sengaja tak berbicara sepatah katapun pada Yunho. Sejak dia tahu tentang kebenaran dari siapa sebenarnya kekasihnya itu, sejak saat itu pula hatinya seperti sudah remuk. Mungkin sama seperti yang Caroilne rasakan saat Jaejoong memutuskannya. Atau mungkin juga lebih sakit. Saat kau mengetahui orang yang begitu berarti dalam hidupmu – tak sebaik yang kau kira, bohong jika segalanya tak terasa berat. Terus terang rasanya Jaejoong ingin menangis, tapi dia bukanlah seorang perempuan yang akan meraung-raung menerima kenyataan pahit ini. Hatinya sakit. Dia merasa dibohongi selama beberapa minggu ini. Bayangkan saja apa yang kau rasakan saat kekasihmu adalah seorang pembunuh yang sedang diburu polisi? Bukankah kekecewaan itu akan ada? Dan mungkin sangat besar hingga kita tak tahu harus melakukan apa.
Model tampan ini menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia sudah berada di apartmen lamanya yang sudah tiga minggu ini tak pernah dia kunjungi lagi. Sempat terlintas penyesalan karena sudah membeli rumah itu. Mungkin jika dia mendengarkan perkataan Siwon tentang ketidak – setujuan sahabatnya itu, mungkin saja dia tak akan bertemu dengan Yunho. Bukan mungkin tapi sudah pasti tak akan bertemu.
Jaejoong mengeluarkan sebungkus rokok yang dia beli tadi. kemudian seperti tak sabar langsung membakar ujung rokok itu, dan begitu terbakar langsung menyelipkannya ke antara bibirnya. Gumpalan asap menyembur dari mulutnya begitu hisapan pertama dia lakukan. Rasanya sedikit menyamarkan perasaan sakit dalam dadanya. Tak puas, dia juga beranjak dari ranjang – mengambil sebotol tequila kemudian meneguk alcohol itu yang lagi-lagi seperti tak sabaran. Dadanya dengan cepat memanas seiring dengan banyaknya alkhol yang meresap.
Drrttt…
Ponselnya bergetar. Jaejoong cepat meraih bendah itu kemudian mengamati mail yang masuk.
[Jaejoong –ah, aku akan kembali ke Perancis besok. Jika sempat temui aku. Aku berharap kau mau mengantarku]
Jaejoong menyimpan kembali ponselnya setelah membaca mail dari Caroline. Mantan kekasihnya itu akan pergi; Dan Jaejoong tahu semua itu karena dirinya. Dia kembali berpikir, apakah dia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Caroline putuskan? Dirinya juga sama dengan Caroline, dua orang yang tersakiti. Yang terjadi pada gadis itu adalah karena perbuatannya, dan sekarang yang menimpahnya? Mungkin ini balasan yang harus dia terima.
Jaejoong hanya diam sedari tadi saat dia dan Siwon mendatangi airport untuk mengantar Caroline. Designer muda di depan mereka juga masih saja diam. Sesekali gadis cantik ini memandangi Jaejoong, namun sesekali juga menoleh ke arah lain saat matanya dan mata Jaejoong akan bertemu. Dalam situasi seperti mereka memang rasa canggung akan sangat besar terasa, terlebih bagi Caroline.
"Kenapa kau tiba-tiba akan pergi ke Perancis?"Tanya Siwon, memecahkan keheningan di antara mereka. Dia memandang serius pada Caroline.
"Aku ingin melanjutkan sekolahku"Jawab Caroline, kemudian mengulas sebuah senyuman. Sebenarnya gadis ini berkata bohong. Perasaannya yang sudah hancur, adalah satu-satunya alasan baginya mengapa membuat keputusan untuk kembali ke Perancis.
"Jaejoong –ah, jaga dirimu"kata Caroline, gadis ini menyentuh tangan Jaejoong.
"kau juga"balas Jaejoong akhirnya setelah tadi hanya diam, pria ini juga tersenyum sehangat mungkin. Padahal jauh dalam hatinya dia juga sedang terluka. Bukan karena Caroline, tapi karena Jung Yunho.
Tak berapa lama pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Caroline langsung memeluk tubuh Jaejoong sangat erat. Gadis ini sangat tahu mungkin saja mereka tak akan bertemu. Jaejoong juga balas mendekap tubuh Caroline.
Caroline melambaikan tangannya saat dia akan memasuki terminal. Langkahnya sempat terhenti untuk kemudian membalikkan tubuhnya, melihat sekali lagi pada lelaki yang sangat dia cintai itu. Diam-diam airmatanya mulai keluar. Ini sangat berat, tapi harus dia lalui. Bagaimanapun hidupnya harus terus berjalan, meski tak bertemu dan membagi kemesraan dengan Jaejoong lagi, seperti dulu.
Jaejoong dan Siwon masih duduk di salah satu café sejak beberapa saat lalu Caroline sudah masuk ke terminal keberangkatan. Jaejoong menyimpan kembali gelas kopinya ke meja kemudian menghelas napas panjang disertai hembusan yang berat.
"Apa yang kau lakukan jika kekasihmu seorang penjahat?"tanyanya tanpa basa-basi. Dia memang ingin mendengar jawaban dari sahabatnya tentang hal yang sedang terjadi padanya.
"hm?" Siwon bergumam, tak mengerti mengapa Jaejoong tiba-tiba menanyakan pertanyaan seperti ini.
"Kau akan membencinya?"
"Aku?" tanyanya, kemudian cepat menggelengkan kepalanya. " Aku tak akan membencinya sedikitpun"jawabnya yakin.
Jaejoong membuang napas beratnya untuk kedua kali. Jawaban Siwon berbading terbalik dengan apa yang melintas di otaknya. Jujur saja sejak mengetahui hal itu, ada rasa benci dalam hatinya pada Yunho.
"Kau pernah mendengar kisah seorang mantan pilot dan seorang narapidana?"Tanya Siwon.
"Huh?"
"Kisah yang membuatku mengerti betapa hebatnya cinta itu" Siwon mulai bercerita. Dan Jaejoong mengerutkan keningnya, tak begitu paham dengan maksud sahabatnya ini.
"Pria itu tak perduli dengan status narapidana yang melekat pada wanita itu. Saat orang-orang mengatakan wanita itu adalah monster karena pembunuhan kejam yang dia lakukan, pilot itu justru semakin mencintainya dan dia berani menikahi wanita itu dalam penjara, walau dia tahu hukuman yang harus istrinya terima tak akan pernah habis. Wanita itu harus menjalani sisa hidupnya dalam penjara"
"Pria itu tak pernah membencinya"sambung Siwon.
Jaejoong terdiam setelah mendengar cerita yang disampaikan Siwon. Jujur saja sangat mengena di hatinya. Dia sudah terlalu bodoh karena sempat menaru rasa benci pada Yunho. Tentu dia ingin seperti mantan pilot itu, memperjuangkan cintanya, walau apapun kenyataan yang terbentang di depan sana.
"Kenapa kau bertanya tentang ini?"
"Aku harus pergi"
Jaejoong langsung beranjak dari duduknya dan dengan cepat meninggalkan café. Meningglkan Siwon yang masih tak mengerti dengan sikap dan pertanyaan Jaejoong.
Jaejoong memarkirkan mobilnya dengan tak sabaran, kemudian secepat mungkin berlari masuk ke rumahnya. Ini pertama kalinya dia kembali sejak kemarin tak menginjakkan kakinya di sini. Yunho sedang melakukan rutinitas belajar memasaknya ketika pintu rumah itu di dorong dengan keras. Pelukan tiba-tiba dari Jaejoong agak mengagetkan sekaligus menyenangkannya. Sudah sehari Jaejoong tak pulang. Jelas membuat perasaannya begitu bahagia.
Dekapan di tubuhnya semakin erat saja; Dan tak harus banyak berpikir untuknya segera membalas pelukan hangat Jaejoong padanya. Dia membalikkan tubuhnya sehingga mereka berhadapan. Perlahan jemarinya mengusap rambut pirang Jaejoong dengan lembut. Jaejoong mengangkat kepalanya yang sejak tadi terbenam di pundak Yunho. Wajah mereka kini bertemu. Mengeskpresikan
betapa mereka meindukan rasa hangat seperti ini.
"Saranghae"ucap Jaejoong, begitu jujur dengan perasaan besar yang sudah mantap di dalam hatinya.
"Saranghae"ulangnya lagi.
"Nado.. Jeongmal saranghae" balas Yunho, kemudian mengecup bibir kemerahan Jaejoong.
Jaejoong perlahan memejamkan matanya. Kecupan Yunho dibalasnya dengan ciuman, kemudian cepat meningkat menjadi lumatan. Yunho merasa Jaejoong begitu agresif sekarang. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Justru terkesan malu-malu saat dia mendekatkan wajah mereka. Ini membuatnya tertantang untuk lebih menguasai interaksi mereka.
Bunyi decakan lidah mereka terdengar. Bagai simpony indah yang membangkitkan gairah. Yunho mendorong tubuh Jaejoong tanpa sedikitpun melepaskan ciuman mereka – sehingga pinggang kecil kekasihnya itu bertabrakan dengan meja makan. Bunyi geseran yang cukup keras tercipta, tapi tak ada yang peduli. Semakin terpojok justru semakin panas dan memabukkan.
"Ahh.."
Jaejoong mengeluh saat Yunho melepaskan bibirnya, kemudian beralih memberi kecupan beruntun di bagian lehernya. Tangan Jaejoong bergerak-gerak, lalu menyusup ke balik kaos Yunho. Mengusap kulit punggung pria tampan itu, tanpa melewati apapun yang ada di sana. Jemarinya pun berhenti di dada bidang Yunho. Sapuan halus sekaligus menggetarkan membuat Yunho mendesah di tengah lumatannya pada leher Jaejoong. Dia semakin jauh membenamkan wajahnya di sana.
Jemari nakal Jaejoong menarik kaos Yunho, memberi isyarat agar pria itu membuka pakaiannya. Yunho segera menghentikan aktifitasnya di leher Jaejoong untuk melepaskan pakaiannya. Dia juga membantu Jaejoong melepas jaket kemudian kaos tipis yang melekati tubuh model tampan itu.
Sesaat mereka hanya saling menatap – sampai bibir keduanya kembali saling menekan. Keluhan tertahan Jaejoong bagai candu untuk Yunho; Menghanyutkan dirinya ke dalam kehangatan yang mereka bagi. Tubuhnya semakin memojokkan Jaejoong ke meja, dan bunyi gesekan itu kembali terdengar. Tangan Jaejoong juga tak mau diam saja. Dengan cekatan tangan mungilnya menyusup ke dalam celana rumah yang dikenakan Yunho. Menyentuh 'milik' pria yang sedang mencumbunya ini, dengan lembut. Kali ini keluhan tertahan melucur dari bibir Yunho. Ciuman mereka terlepas saat usapan di bagian bawah tubuhnya semakin menjadi.
"Kau nakal sekali, Jaejoongie" bisik Yunho tepat di telinga Jaejoong.
Jaejoong tersenyum menggoda ke arahnya. Sentuhannya dengan cepat berubah menjadi pijatan-pijatan halus dan lebih membawa Yunho pada kenikmatan.
"Kau suka?"Tanya Jaejoong.
Yunho tak bisa lagi menyahut. Dia meraih wajah Jaejoong kemudian melumat ganas bibir kemerahan yang menggodanya dari tadi. Lumatan panas di bibir bawah Jaejoong dia lancarkan. Tak mau kalah, Jaejoong juga melumat, menghisap bibir atas Yunho. Suara keluhan, decakan memenuhi konter dapur itu. Mereka tak lagi mengingat sedang berada di mana, terlebih Yunho. Pria ini bahkan sudah menghentikan kegiatan memasaknya. Ini terlalu nikmat dan tak mau mereka bagi dengan mengerjakan hal lain.
Jaejoong sudah terduduk di meja makan saat Yunho sedang mencoba melepaskan celana jeansnya. Perlahan mata besarnya terbuka – melihat perlakuan Yunho pada bagian bawah tubuhnya. Yunho sudah menyentuh 'milik'nya dengan mulut basah Yunho.
"Ahh…" Desah Jaejoong. Satu tangannya yang tadi menopang di meja kini beralih menyentuh rambut tebal Yunho. Agak meremas bagian itu seiring dengan permainan bibir Yunho yang semakin dalam pada 'milik'nya. Matanya kemudian terpejam.
"Yunhh… ahh… oughh" suara desahan tak henti keluar saat Jaejoong mendapati klimaksnya. Tubuhnya hampir terjatuh, tapi dengan cepat Yunho menahannya. Pria ini membawa Jaejoong dalam pelukannya kemudian melangkah menaiki tangga – hingga merebahkan tubuh telanjang Jaejoong ke ranjang.
Bunyi berisik dari lidah mereka yang terus membelit makin nyaring terdengar. Mata keduanya sudah terpejam dari saat mereka bertindihan tadi. Tubuh polos mereka menyatuh. Butiran-butiran keringat yang keluar menambah kehangatan di antara mereka. Begitu juga dengan butiran-butiran salju di luar sana. Keduanya berpadu menghasilkan sensasi panas dingin yang menggetarkan hingga ke persendian.
Yunho PoV
Aku beranjak dari tubuh Jaejoong, perlahan duduk membelakanginya pada ujung ranjang. Napasku masih tersengal ketika Jaejoong kembali memelukku. Aku merasakan dagunya melekat pada pundakku. Deruh napasnya juga masih tak beraturan. Kami baru saja kembali dari ketinggian, dan belum memakai apapun untuk menutupi tubuh.
"Yunho – ya, bagaimana kalau kita pindah dari sini..?" katanya. Pelukannya ditubuhku semakin erat saja. Keringat yang membasahi tubuh kami membuat rasa lengket yang lumayan, tapi semakin menambah rasa hangat.
Aku menolehkan kepalaku untuk melihatnya. Dia sedang memejamkan mata besarnya.
"Kita pindah saja dari Korea"
"hm?"
Jaejoong tetap memejamkan matanya saat aku bergumam. Jujur saja perasaanku mulai memunculkan sesuatu yang berkaitan dengan masalah yang sedang kuhadapi.
"kau bercanda?"tanyaku, kemudian memposisikan kepalaku seperti semula. Napas panjangnya menerpa kulit bagian leher dan sisi wajahku.
"Aku takut sesuatu memisahkan kita"
Aku semakin mengerti kemana arah perkataan Jaejoong ini. Itu membuat rasa bersalahku padanya meningkat. Aku tahu selama secara tak langsung menjerumuskan Jaejoong ke dalam dunia kelamku. Tapi sejujurnya tak pernah terpikir untukku bersama Jaejoong adalah sebuah alasan untuk terus bersembunyi.
"Yunho – ya.. Aku takut mereka akan memisahkan kita"
"Kita tak akan berpisah"kataku, meyakinkan Jaejoong. Jika saja dia tahu bagaimana aku berusaha agar tak benar-benar berpisah dengannya. Sejak saat aku pertama kali datang ke tempat ini pun, sebenarnya sejak itu pula aku sudah tak relah berpisah dengannya.
"Jung Yunho… U-know… Aku harus memanggilmu dengan nama apa?"
Perasaanku memang benar. Jaejoong memberi jawaban sendiri tanpa aku minta. Aku segera melihat lagi padanya. Kini matanya sudah terbuka, dan balas melihatku. Dari tatapannya aku bisa melihat perasaan cintanya yang besar untukku. Aku tahu itu, dan bagiku pun begitu. Bahkan lebih dari yang dia rasakan.
"Maafkan aku. Aku tak jujur padamu tentang siapa aku. Aku hanya tak ingin kau tahu, dan membenciku"kataku, kemudian bermaksud berdiri dari ranjang – tapi tangan Jaejoong menahan tubuhku. Dia juga ikut berdiri kemudian membawaku tenggelam dalam pelukannya.
"Saat kau bertanya apa aku akan membencimu kalau kau seorang penjahat, apa aku menjawab akan membencimu? "
Aku terpanah dengan perkataannya. Dia memang tak menjawab pertanyaanku waktu itu. Jaejoong juga lebih menanggapinya sebagai sebuah lelucon. Jaejoong kembali menatapku, memberi keyakinan pada tatapan matanya.
"Kau orang yang aku cintai, apapun yang kau lakukan, perasaanku tak akan pernah berubah. Aku ingin pergi bersamamu kemanapun agar mereka tak bisa memisahkan kita. Dimanapun agar selalu bersamamu, aku tak peduli dengan semuanya. Kita akan memulainya dari awal"
"mana boleh kau berkata seperti itu? Bagaimana dengan karirmu?"
Jaejoong cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tak peduli"
"Kau akan menyesalinya"
Dia menggelengkan kepalanya lagi. Kali ini lebih keras dan semakin tidak setuju dengan ucapanku.
"Aku tidak akan pernah menyesal"
Aku memelukknya dengan erat. Jaejoong mungkin tak berpikir dengan benar. Tidak mungkin dia mengabaikan karirnya yang sangat sukses.
"Jung Yunho, Kau harus berjanji akan pergi bersamaku. Kalau tidak aku juga akan melakukan hal yang sama, agar kita sama-sama di pernjara"katanya, sudut matanya sudah mengeluarkan butiran-butiran bening yang kemudian membasahi pipinya. Pemandagan itu menyahat hatiku. Perlahan aku mengusap butiran-butiran itu dari mata dan pipinya.
"Mau buat janji denganku?"
Airmataku juga ikut jatuh. Ah, Jaejoongie apa yang harus kulakukan? Menepati janji dan pergi bersamamu adalah sesuatu yang sangat aku inginkan. Tapi jika itu terjadi sama saja aku egois denganku mengorbankan kebahagiaanmu. Jaejoong pasti akan terlibat jauh.
"Kau janji?" Jaejoong terus mendesakku untuk menautkan jemari kami.
"Ne, kita akan pergi"
Jaejoong tersenyum di selah-sela tangisannya yang mulai pecah. Aku langsung saja merangkul tubuh polosnya. Membenamkan wajahnya di dadaku, kemudian mengusap rambutnya dengan penuh rasa sayang.
"Kim Jaejoong, saranghae"
Perlahan aku mendorong pintu kamar kami melihat Jaejoong yang sepertinya sudah tertidur. Apa yang dia katakan tadi sangat menusuk hatiku. Perasaan bersalah teramat besar, selama ini aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku tak ingin dia melakukan hal bodoh seperti yang dia katakan tadi. Lari bersama seorang buronan polisi bukankah kesalahan besar? Dia tak berpikir dengan benar, polisi tentu akan menuntutnya. Aku tak mau itu terjadi. Aku tak akan membiarkan Jaejoong terlibat lebih jauh lagi.
Tubuhnya sedikit bergerak saat aku merengkuhnya dalam pelukanku. Rasanya tak rela harus melepaskan pelukan ini. Tapi aku tak bisa terus melukainya seperti ini. Aku tahu jauh dalam hatinya, dia pasti kecewa mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku memang membohongi siapa aku darinya, tapi tentang perasaan cintaku, semua yang aku rasakan tulus untuknya. Mungkin ini saatnya aku mengambil keputusan, lebih baik meninggalkannya. Biarkan dia hidup normal seperti dulu, menjalani hari-harinya seperti dulu sebelum aku datang. Aku ingin Jaejoong bahagia.
"Yunho…."gumamnya. Dia membalikkan posisi rebahannya sehingga berhadapan denganku.
"Kau belum tidur?"tanyaku. Jaejoong hanya mengangguk seadanya.
"aku ingin memelukmu" Aku sengaja berbisik tepat di telinganya. Dapat kudengar suaranya menahan tawa.
"kita akan terus berpelukan"
Ini pelukan dan sentuhan yang terakhir. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan diri pada polisi. Jaejoong harus menjalani hidup seperti dulu, tanpa aku. Aku mengamati wajah tampannya, sangat sadar tak akan pernah melihat wajah ini lagi, melihat senyumannya, tak akan menyentuh bibir lembutnya lagi, dan tak akan berbagi kehangatan tubuh lagi.
Tapi aku akan mengingat semuanya, setiap pelukan, bisikkan, sentuhan, kehangatan dan apapun yang pernah kami bagi. Semuanya akan tertanam dan tak akan pernah terhapus dari ingatanku. Saat aku tak bersamanya lagi, semua itu akan kujadikan obat saat rasa rindu menyerangku. Aku tahu ini sangat berat, tapi aku harus bisa melaluinya; Dan aku yakin perlahan Jaejoong akan melupakanku. Melupakan segala yang pernah terjadi di antara kami. Aku ingin dia hidup bahagia, menikah dengan orang baik-baik, dan membangun sebuah keluarga.
Ini yang terbaik…..
TBC…
thanks buat yg sudah review 3 love you all
