Blue Daffodil

.

.

.

Present

A Naruto FanFic..

My first SasuSaku Fiction

'I hate you, Baka Kaichou!'

All Naruto story and charas belong to Masashi Khisimoto

Story of I hate you, baka kaichou! belong to Me and My Imagination

Genre: Romance/Humor

Rate: Teen.

Pair: SasuSaku, NaruHina, SasuHina, SasoSaku.

Warning: Alternate Universe, Out Of Character, Original Character, (miss)Typo, Hate/Love, etc..

(Italic & Bold) Inner Sakura or Sasuke.

This chapter all Mix Uchiha Sasuke and Haruno Sakura P.O.V

RnR, CnC, and FLAME* Allowed (*syarat dan ketentuan berlaku)


AKU terus berlari dan sedikit bernafas lega ketika melihat ruang kesiswaan tinggal beberapa meter lagi.

"Akhir—eh?" ucapanku terhenti ketika melihat sesuatu didepan ruang kesiswaan. Langkahku terhenti, mataku menatapnya tak percaya.

A-Apa?

"I-Ini tidak mungkin..,"


~.:Final Chapter:.~

I Hate You, Baka Kaichou!

Chapter Four~I Jealouse? I Love She/He?~


AKU terdiam.

Style rambut itu.

Tubuh itu.

Dia..

..Chikenbutt...

Aku yakin dia Chikenbutt, tapi.. kenapa.. kenapa..

Aku bukan siapa-siapanya..

Aku sangat mengerti hal itu, tapi, kenapa aku merasa hatiku sangat sakit ketika melihat ia sedang... Berciuman dengan seorang gadis.

Aku kenapa?

Kenapa?

KENAPA?

Tap.. Tap.. Tap tap tap..

Aku berlari, berlari menjauhi mereka, mataku terasa sangat panas.

Aku tak perduli tentang keterlambatanku lagi.

Aku hanya ingin sendiri.

AKU INI KENAPA? CHIKENBUTT BAAKKAAA!

.

Sasuke POV.

"Uchiha-san, tolong kamu cek daftar murid yang sering melakukan pelanggaran!" aku menatap Anko-san yang menyodorkan dokumen kepadaku, aku menerima dokumen itu malas.

"Ah, Ya. Kalau begitu, saya permisi dulu Anko-san," ujarku sembari berbalik keluar dari ruang kesiswaan.

"Cih, merepotkan sa—," ucapanku terputus ketika aku merasakan seseorang melihatku.

"Sa-Sasuke-kun..," aku berbalik dan menatap empunya suara yang memanggilku.

"Hn, Hyuuga-san, ada apa?" tanyaku.

"Hiks, Sa-Sasuke-kun, a-aku..," mataku terbelak kaget melihat Hinata terisak dihadapanku.

"Ada apa Hinata?" tanyaku sedikit panik, bukannya diam, ia semakin terisak.

"Hiks, Sa-Sasuke-kun, Hiks,"

"Tenang dulu, coba ceritakan, ada apa?" ia menceritakan tentang penyebab dari tangisannya, aku hanya mengangguk dan menepuk kepalanya untuk menenangkannya.

"Sudah tenang?" tanyaku setelah ia menyelesaikan ceritanya, ia hanya mengangguk pelan.

"Kalau begitu, jangan nangis," ucapku menenangkannya.

"A-aku tidak menangis, ta-tapi.. ma-mataku kelilipan Sasuke-kun, pe-periih," rintihnya, aku sweetdrop mendengarnya.

"Ya, sudah sini, aku tiup," aku mendekatkan tubuhku kearahnya.

"I-Ini tidak mungkin..," walaupun samar aku mendengar sebuah suara, aku berbalik bersamaan dengan terdengarnya suara langkah kaki yang menjauh.

Sekilas aku melihat warna rambut orang yang tadi 'mengintip' kami, Rambutnya berwarna..

Soft pink..

Bubble gum..

Cherry?

Aku menatap Hinata yang menatapku bingung.

"Hinata, bisa kau taruh dokumen ini diruanganku?" tanyaku sembari menyerahkan dokumen yang tadi diberikan Anko-san, Hinata mengangguk pelan. Aku langsung berdiri dan berlari meninggalkannya.

.

.

Sakura Pov.

"Hosh, Hosh, Hosh," aku bersender kesebuah batang pohon yang ada ditaman belakang sekolah dengan nafas yang tersenggal-senggal.

Dugh..

Aku jatuh terduduk dengan menyender kebatang pohon, aku memeluk kakiku, dan menyembunyikan kepalaku diantaranya.

"A-Aku ini kenapa?" tanyaku.

"Perasaan menyakitkan apa ini?"

"Kenapa.. Sebenarnya aku kenapa?"

"Kena—,"

"Sa-Sakura?" aku tersentak, lalu menaikkan kepalaku menatap seseorang yang memanggil namaku.

"Sa-Saso..ri-c-chan, ke-kenapa kau a-ada di.. si..ni?" ucapku terputus-putus, ia mendekatiku dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Sakura, kamu kenapa?" tanyanya, ia berjongkok dihadapanku.

"A-Aku.. a..ku.. a—Hiks, ugh.. HUAA, SASORI-CHAAN!" aku memeluknya sembari menangis didada bidangnya, ia sedikit kaget lalu mengusap kepalaku pelan.

"Sakura-chan, ada apa?" tanyanya khawatir, aku tidak menjawab dan lebih memilih lebih mengeratkan pelukanku dan terus menangis didadanya.

"Sakura, ayo berdiri, kita pulang saja ya?" tanyanya, aku hanya mengangguk, lalu ia membantuku berdiri.

"Hiks, Sa-Sasori.. a-aku, aku..,"

"Ssstt, diam dulu ya, kamu nangis saja dulu, ceritanya nanti saja dirumah, ya?" tanyanya sembari merangkulku, aku mengangguk dan terus menangis.

.

.

"A-Apa? S-Siapa dia?"


.

Sreek..

Aku mendorong pintu geser kelas pelan. Aku berjalan perlahan menuju bangkuku. Semua penghuni kelas menatapku heran dan bingung, tidak biasanya aku datang dengan muka murung dan tanpa salam yang bersemangat.

Aku mendudukkan tubuhku dikursiku pelan. Ino, Temari dan Tenten menghampiriku dengan wajah yang penuh keherannan dan kekhawatiran.

"Forehead, kau kenapa?" tanya Ino, aku menatapnya sekilas lalu menggeleng pelan.

"Taichou, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Temari, aku mengangguk tanpa melihatnya.

"Sakura-kun.. kalau ada masalah ceritakan saja," aku menatap Tenten lalu tersenyum kecut.

"Ya, Arigatou minna," ucapku sembari berdiri dan berjalan keluar kelas.

"Taichou, kau mau kemana?" tanya Temari.

"UKS," jawabku tanpa menatapnya.

.

Tap.. tap.. tap..

Aku melangkahkan kakiku pelan, lorong-lorong sekolah belum sepenuhnya sepi, mereka—para murid sekolah ini, menatapku heran, dan aku yakin mereka pasti bertanya-tanya aku kenapa, aku terus berjalan tanpa memperdulikan mereka.

Aku berhenti ketika melihat Chikenbutt dan Naruto-senpai dihadapanku, dia ikut terdiam melihatku.

"Sakura-kun~, ohayo!" sapa Naruto-senpai, aku menatapnya lalu tersenyum kecil.

Tap.. tap.. tap..

Aku berjalan perlahan mendekati mereka lalu melalui mereka.

Set..

Aku menatap Chikenbutt sekilas, ia terlihat kaget dengan perlakuanku yang terkesan dingin ini. Naruto-senpai menatapku heran.

"Oi, Sakura-kun," panggilnya, aku tak menggubrisnya dan terus berjalan.

Greeek..

"Permisi," ujarku pelan ketika masuk kedalam UKS, seseorang lelaki berambut merah yang aku kenal pasti, menatapku sembari tersenyum kecil.

"Sudah aku duga kau akan datang kesini, Sakura," ucapnya tenang.

"Sasori-chan? Kenapa kau ada disini?" tanyaku seraya berjalan kearah Sickbed yang ada didalam UKS, dan duduk diatasnya. Ia tersenyum lalu berjalan kearahku.

"Tentu saja aku menunggumu," ujarnya tenang seraya menepuk kepalaku pelan.

"Menungguku?" ia tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya kewajahku.

"Aku ingin menghibur malaikatku yang sedang bersedih ini," ucapnya, seraya mengecup dahiku, aku menutup mata dan tersenyum kecil, ia melepas kecupannya, aku menatapnya lalu tersenyum.

"Arigatou ne, Sasori-chan," ucapku, ia terdiam, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Jarak wajah kami hanya tinggal lima cm lagi, ia sedikit memiringkan wajahnya, aku menutup mata.

4 cm.. rambutnya terasa lembut mengenai dahiku.

3 cm.. rona merah mulai muncul dipipiku.

2 cm.. hembusan nafasnya, menyentuh wajahku pelan.

1 cm..

BRUAK.. DUGH..

Aku dan Sasori sontak menjauh dan menatap sumber suara gaduh tadi.

"A..aduuh..," rintih mereka—Ino, Temari dan Tenten yang jatuh tersungkur.

"I..Ino, Temari, Tenten.. ke..kenapa kalian ada disini?" tanyaku dengan wajah yang sama merahnya dengan rambut Sasori. Mereka menatapku, lalu berdiri sambil cengengesan.

"Hehe.. ano.. eto.. err..," Tenten dan Temari menggaruk kepalanya bersamaan, sedangkan Ino menatapku dengan pandangan Ehem-Cowok-Baru-nih!

"Ehem! Gomen ne mengganggu er... acara.. um.. ciuman kalian!" ucap Ino sembari tertawa mesum. Aku dan Sasori sontak memerah wajahnya.

"Err, Sakura aku kembali kekelas dulu ya," ujar Sasori seraya mencium pipiku singkat. Aku terdiam sembari memegang pipiku, sementara ia berjalan keluar UKS.

"EHEM! CIIIEEEEEE!" aku berbalik, dan menatap Ino yang berteriak seraya merangkulku.

"Ah, tadi pagi kau murung.. tapi ternyata..," Ino melepaskan rangkulannya dan geleng-geleng kepala.

"Tadi itu siapanya kamu, Sakura-kun?" tanya Tenten dengan wajah memerah.

"Huuh, aku kira kau sakit atau apa, ternyata kau masih ceria bahkan sempat mau—ehem sama pemuda tadi," Temari berkacak pinggang.

"IYAAA, kau pintar sekali bersandiwara, Forehead. Padahal aku sudah ka—,"

"Ka..kalian sama sekali tak tau apa-apa," gumamku pelan. Ino, Temari dan Tenten menatapku heran.

"Eh?" ucap mereka bersamaan. Aku menatap mereka dengan mata yang memerah.

"KALIAN SAMA SEKALI TIDAK TAU APA-APA!" teriakku.

BRAK!

Aku membuka pintu UKS kasar, lalu berlari keluar.

"SAKURA, TUNGGU!" teriak mereka seraya berlari mengejarku.

Aku sama sekali tak mengerti perasaan ini..

Aku sangat tertekan dengan perasaan ini..

Aku kira kalian datang untuk menghiburku..

Aku kira kalian akan membuatku lupa akan perasaan ini..

Tapi kenapa..kenapa..

Kalian datang hanya untuk menggodaku seperti itu?

Mengatakan kalau aku pandai bersandiwara?

Kalian salah..

Kalian salah..

Salah!

Salah!

AKU SAMA SEKALI TIDAK BERSANDIWARA!

KALIAN SAMA SEKALI TIDAK TAU APA-APA!

.

Aku terus berlari, aku tak mengerti, entah sejak kapan air mata mengalir deras dari mataku, sayup-sayup aku dengar teriakkan Ino, Temari dan Tenten yang memanggilku, namun aku terus berlari tanpa memperdulikannya.

Tap Tap Tap Tap..

Aku menaiki tangga kelantai atas, sudah aku putuskan aku ingin kesana untuk menenangkan diri, aku terus saja berlari menaiki tangga dengan tergesa-gesa.

Dugh..

Aku menabrak seseorang yang sedang menuruni tangga, aku menatapnya sekilas, namun tak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, karna aku masih saja mengeluarkan air mata, aku terus saja berlari tanpa meminta maaf karna telah menabraknya.

Orang itu terdiam menatapku dengan mata yang sedikit terbelak kaget.

"..Cherry.. menangis?.."

Sasuke Pov.

"SAKUURRAA, TUNGGU!" aku berbalik dan menatap Ino, Temari, dan Tenten—yang tadi berteriak, yang menaiki tangga dengan tergesa-gesa.

Dugh..

"Akh, Sasuke-kun, gomen," ucap mereka masih terus berlari.

Aku terdiam, masih mencerna keadaan, sayup-sayup aku mendengar ucapan salah satu dari mereka.

"Aku kan hanya mengungkit tentang saat Sakura ciuman sama 'dia',"

DEG!

A..Apa.. tadi dia bilang apa?

Cherry.. berciuman?

Ah, tapi itu tidak ada hubungannya denganku.

Aku berjalan menuruni tangga, ketika sampai diujung tangga aku berhenti.

Cherry berciuman dengan siapa'pun itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku..

Cherry menangis sekalipun tidak ada efeknya bagiku..

Tapi..

DEG.., aku menyentuh dada sebelah kiriku pelan.

Perasaan sakit apa ini?

.

Sakura P.O.V.

BRAK..

Aku mengatur nafas setelah membuka pintu tempat ini—atap sekolah bagian barat, dengan kasar, aku melangkah pelan menuju batas atap ini.

"ARRRRGGGGHHHH!" aku berteriak keras, air mataku belum berhenti mengalir.

"KALIAN BAKA! BAKA! BAKA!" teriakku sekali lagi.

"KALIAN BA—,"

"SAKURA!" aku berbalik, kulihat Ino, Temari dan Tenten menatapku sembari mengatur nafas.

"Untuk apa kalian kesini?" tanyaku, mereka tak menjawab dan berjalan mendekatiku.

"Tentu saja untuk bertemu denganmu, baka," ucap Ino seraya tersenyum kearahku.

"KALIAN SAMA SEKALI TIDAK TAU APA-APA! KALIAN TI—,"

"Karna kami tidak tahu apa-apa, kami ingin kau ceritakan semuanya kepada kami," ucap Temari seraya tersenyum kecil kearahku.

"Yup, aku ingin kau ceritakan semuanya kepada kami, agar beban didalam dirimu hilang, Sakura-kun," Tenten tersenyum lebar.

"Lagipula, kita teman kan?" tanya mereka kepadaku, aku terbelak, mereka tersenyum. Aku berlari kearah mereka, dan memeluk mereka.

"HUAAA! GOMEN MINNA, GOMEEEN!" ucapku, seraya menangis dipelukan mereka.

"Iya, sekarang kamu ceritakan semuanya ya!"


Sasuke Pov.

Sreek..

Aku mendorong pintu kelas pelan, aku sedikit kaget ketika melihat seisi kelas nyaris kosong—hanya tinggal si Dobe yang sedang mendengarkan lagu melalui i-pod saja yang ada dikelas.

"Yo, Teme!" salamnya, aku menatap Dobe lalu berjalan kearahnya.

"Hn, yang lain kemana?" tanyaku seraya mengambil bangku dan duduk berhadapan dengan Dobe, lalu mengambil sebelah earphone yang ia sodorkan kepadaku.

"Seperti biasanya, Kakashi-senpai terlambat, ngomong-ngomong kau darimana Teme?" tanyanya, aku terdiam, ketika mendengar lagu yang terdengar dari earphone ini.

Agh, what this feeling?

Why did I feel so sick.

When I saw you with him ..

Ahh .. Why?

I .. jealous?

"Kau kenapa, Teme?" aku menatap Dobe yang menatapku heran.

"Dobe.. Aku ingin bertanya sesuatu padamu..,"

.

.

I asked my friend.

"Why did I feel like dying when I saw her with someone but not me?"

He laughed.

"That means you're jealous, you love her, Baka!"

.

.

"I'm jealous? I love her?"

.

.

Tap.. Tap.. Tap..

Aku melangkah sendirian, aku terus melangkah tanpa tujuan yang jelas. Bel tanda waktu belajar hari ini sudah habis 'pun sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, tapi sama sekali tidak ada niatan dibenakku untuk pulang.

"Hahaha, Itu artinya kau cemburu, berarti.. KAU MENCINTAI SAKURA-KUN, BAKA TEMEE! HUAHAHAHA!"

Tap..

Aku berhenti, lalu menatap langit yang sudah berubah warna.

"..Aku cemburu, aku.. mencintai Cherry?" gumamku pelan, aku menghela nafas, lalu kembali berjalan.

"Hahahaha! Kau aneh Sasori-chan!" sebuah suara yang aku kenal terdengar, aku berbalik.

Mataku terbelak ketika melihat empu suara yang aku tau pasti—Baka Cherry. Kini ia tengah berjalan bersama seorang pemuda yang tidak aku tahu namanya. Pemuda itu menatap Cherry sembari tersenyum kecil. Mereka tak menyadari keberadaanku, aku terus menatap mereka. Kulihat mereka berdua berhenti.

"O,Ya. Sasori," pemuda itu menatap Cherry.

Cup..

Aku sedikit tersentak dan tak percaya saat ku lihat Cherry mencium pipi pemuda itu, pemuda itu sedikit tersentak.

"Arigatou, tadi sudah menenangkanku!" ucap Cherry sembari tersenyum ceria kearahnya, Pemuda itu tersenyum lalu mencium dahi Cherry.

"Itu sudah menjadi tugasku, Sakura," ujar pemuda itu, Cherry tertawa lalu menggenggam tangan pemuda itu.

"Hehehe. Sudahlah, sekarang kita pulang saja ya! O,ya mau main kerumahku? Kaa-chan masak enak 'lho!"

"Baiklah, lagipula sudah lama aku tidak makan masakan bibi," kulihat mereka kembali berjalan, aku terus melihat mereka sampai mereka menghilang dari pandanganku.

Nyuut, Nyuut..

Rasa sakit yang teramat sangat menyesakkan tiba-tiba terasa dijantungku, aku memegang dadaku pelan.

"Jika kau merasakan sakit yang teramat sangat ketika kau melihat Sakura-kun bersama orang lain, berarti kau cemburu terhadap orang itu, maka, artinya kau menyukai Sakura-kun! Seterah kau, jika kau tak percaya, tapi aku yakin, jika kau melihat Sakura-kun bersama laki-laki lain kau akan merasakan perasaan itu lagi!"

DUAGH!

Aku memukul keras dinding disampingku, rasa sakit sangat terasa dikepalan tanganku, namun tidak dapat menandingi rasa sakit yang terasa amat sangat menyiksa dijantungku, aku menunduk dan tersenyum kecut.

"..Aku.. mencintainya.."


Sakura P.O.V.

"HAAAH," aku menghela nafas panjang, Ino, Temari dan Tenten menatapku heran.

"Ada apa lagi, Forehead?" tanya Ino, aku menatapnya lalu menggeleng pelan.

"Tidak, aku hanya merasa heran saja," ucapku lemas.

"Heran?" tanya mereka bersamaan. Aku mengangguk pelan.

"Memangnya ada apa?"

"Um, kalian tau. Akhir-akhir ini, sikap Chikenbutt itu sangat aneh,"

"Ha?"

"Uh, contohnya saja tadi pagi. Saat aku bertemu dengannya ia langsung menghindar dan tadi saat istirahat, aku tak sengaja bertemu dengannya wajahnya langsung memerah dan menghindar dariku. Heeh, dia itu kenapa sih?" ku lihat Ino, Tenten dan Temari saling berpandangan lalu tertawa.

"He? Kalian itu kenapa toh?" tanyaku heran.

"Uph. Ti-tidak kenapa-napa 'kok!" ujar Tenten sembari menahan tawa.

"Eeeh?"

"Kalau mau tau, tanyakan langsung saja pada Sasuke," ujar Temari sembari tersenyum misterius.

"Ha?"

"Yo, tuh anaknya lagi dibawah, temui saja, agar kamu gak penasaran lagi, Forehead," Ino menunjuk seorang anak yang sedang berjalan kearah gedung kesenian.

"Um, baiklah. Aku tanya dia saja," ujarku seraya berbalik dan mengejar Chikenbutt.

.

.

Tap.. tap.. tap..

"Mat..te,"

Tap.. tap.. tap..

"C-Choto, matte,"

Tap.. tap.. tap..

"Chi..,"

ARRGHH! DIA PURA-PURA TIDAK DENGAR APA!

Aku mendecih kecil, aku terus berlari mengejar Chikenbutt yang—entah kenapa, terus saja berlari meskipun sudah aku panggil berulang kali.

"CHIKEENNBUTTT!" teriakku, ia berhenti, lalu berbalik menatapku.

"Akhi—,"

"Cherry, aku ingin bertanya satu hal," ucapnya seraya menatapku serius, aku sedikit tersentak dan mundur satu langkah.

"A-apa? K-kau ingin bertanya a-apa?" tanyaku sedikit terbata, entah kenapa, aku merasakan takut, dan tegang disaat bersaman, jantungku berdetak tak beraturan bersamaan dengan munculnya semburat merah dipipiku.

"Hn, ini tentang hubungan kau dengan seseorang,"

"Eh? Siapa?"

"Sasori, Akasuna Sasori, ada hubungan apa kau dengan Sasori?"

"Aku dengan Sasori?"


"BAIKLAH, lagipula sudah lama aku tidak makan masakan bibi," ujar Sasori seraya tersenyum kecil.

"Hehehe, Kaa-chan pasti senang melihat Sasori-chan," aku tertawa kecil, Sasori menatapku, lalu tersenyum.

"Yah, pastinya bibi akan senang melihatku!" aku menatap Sasori aneh lalu tertawa kecil.

"Hueee, Sasori-chan, dipuji sedikit langsung ke ge-er-an!"

"Haha, tapi walaupun aku seperti itu, kau tetap menyukaiku kan, Sakura-chan?" tanya Sasori seraya menatapku, aku tersenyum lalu mengangguk kecil.

"Uhum, tentu saja, Aishiteru, Sasori-ni—,"

"Sasori-senpaaaii!" aku dan Sasori sedikit tersentak, lalu kami menatap seorang gadis yang berlari mendekati kami.

"Ung? Usa-chan?" tanya Sasori, sedangkan aku menatap gadis itu dari atas ke bawah.

Gadis itu tersenyum kearah Sasori, gadis itu menatap Sasori lembut dengan mata turqoisenya, rambutnya yang berwarna putih keperakkan tergerai tanpa hiasan sampai pinggang sedikit terayun terkena angin yang tiba-tiba berhembus.

"Uhum, lama tidak berjumpa, Sasori-senpai," ujar gadis itu seraya tersenyum kecil.

"Um, lama tidak berjumpa Usa-usa-nyan!" ujar Sasori seraya tersenyum, membalas senyuman gadis dihadapannya—Yuki Usagi.

"Be-Berhenti memanggilku seperti itu, Sasori-senpai!" ujar gadis itu seraya memukul Sasori pelan dengan wajah yang memerah.

"Haha, tapi kau suka dipanggi seperti itu 'kan, Usa-chan?" tanya Sasori seraya terkikik pelan, gadis itu mendengus kesal.

"URUSAAI! BAKA-BAKA-BAKA-SASORRII!" teriak gadis itu seraya memukul Sasori pelan.

"Hahaha," Sasori tertawa, gadis itu mendengus kesal, tak sengaja mata turqoisenya menatapku yang terdiam disamping Sasori.

"Ung, siapa dia?" tanya gadis itu, Sasori menatapku lalu tersenyum kecil.

"Dia..,"


Sasuke P.O.V

"Ya, Sasori dan kau," ucapku sembari menatapnya, ia menatapku heran.

"Sasori adalah..,"

Hyuush..

Angin berhembus pelan diantara kami, rambut kami sedikit terayun mengikuti arah angin. Aku terdiam menatap Cherry dengan tatapan serius, padahal kini jantungku berdetak tak karuan menunggu jawaban yang terlontar dari mulut Cherry.

"..dia.." aku terdiam.

Deg..

Deg..

Deg..

"Dia... Sepupuku" aku tersentak, mataku terbelak kaget.

"Ha?" gumamku pelan, Cherry semakin menatapku heran.

"Aku bilang, Sasori adalah Sepupuku, memangnya ada apa 'sih?" tanyanya heran, aku menatapnya tak pecaya.

Blush..

A-apa yang aku pikirkan sih?

Aghhh! Kenapa aku bertanya seperti itu!

Kusssooo!

Aku berbalik, dan berjalan meninggalkannya.

Set.

"Matte! Chikenbutt, aku juga ingin bertanya satu—ah, tidak, dua hal!" Aku sedikit tersentak, Cherry menggenggam tanganku, aku menatapnya heran.

"Hn?"

"Ano, ng... err," kulihat ia menunduk.

"Kau.. Hinata.. hubungan.. apa?"

"Hn?" ia menatapku dengan wajah yang memerah.

"Kau dengan Hinata mempunyai hubungan apa?"

"Eh?"


TAP.. Tap.. Tap..

Seorang gadis terlihat berlari terengah-engah, derap langkahnya terdengar jelas dilorong-lorong yang sepi.

"Na-NARUTO-KUN!" ia berteriak ketika melihat seorang pria sedang berjalan sendirian dihadapannya, pemuda itu sedikit tersentak lalu menatap gadis itu.

"Hi-Hinata?" gadis itu terhenti dihadapan pemuda yang diketahui namanya adalah Namikaze Naruto.

"Ada apa?" tanya Naruto, gadis itu—Hyuuga Hinata, tersentak lalu menatap Naruto dengan wajah yang memerah.

"A-Aku tau kalau, Naruto-kun, suka Shion-chan, ta-tapi.." Hinata menunduk, Naruto yang tersentak mendengar ucapan Hinata.

"Eh, a-ak—," ucapannya terpotong ketika Hinata menatap matanya.

"A-Aku tau 'kok, Na-Naruto-kun, ti-tidak usah menjelaskan la-lagi padaku," Naruto terdiam, Hinata menunduk.

"Tapi aku ingin Na-naruto-kun, tau ini," Hinata menatap Naruto lalu tersenyum kecil dengan wajah yang sudah sangat merah.

"Aishiteru, Naruto-kun,"


"..Hinata itu suka sama si Dobe, jadi karna aku teman dekatnya sekaligus teman dekat Dobe, ia selalu curhat dan minta saran kepadaku,"

"Ho,"

"Me-memangnya ada apa?" tanyaku ragu-ragu, Cherry menatapku, lalu menggeleng pelan.

"Tidak. Lalu, kenapa sifatmu jadi berbeda kepadaku?" tanyanya, aku menatapnya heran.

"Hn?"

"Haah, misalnya tadi pagi, kau menghindariku, lalu tadi saat istirahat, wajahmu memerah ketika kita tak sengaja bertemu pandang, lalu kau pergi.. lalu..,"

"STOP! BERHENTI!" teriakku seraya menutup mulutnya dengan tanganku.

"Eh?" ia menatapku heran, aku memalingkan wajahku yang memerah dari pengelihatannya.

Kami lama terdiam, sampai ia berteriak.

"AAAAKKH! AKU TAU!" aku tersentak lalu menatapnya.

"Hn?" ia memejamkan matanya dan tangannya mengetuk dahinya pelan.

"Er.. em.. Er.. sepertinya aku pernah mengetahui kejadian seperti ini.. ng...," kulihat ia mengurut kepalanya pelan.

"Er.. AKH! IYA! Ini sangat mirip dengan adegan dimanga yang dipinjamkan Temari kepadaku..,"

"Hn?"

"Hum, Yuugo.. Himawari.. Himawari juga melihat Yuugo dengan ekspresi yang mirip dengan Chikenbutt, Himawari bertanya kenapa sifat yuugo berubah kepadanya.. lalu Yuugo bilang.. di—,"

Aku lihat Cherry terbelak, ia menatapku lalu tiba-tiba wajahnya memerah. Aku terdiam, mencerna ucapannya tadi.

Blush..

Wajahku ikut memerah, aku mengalihkan pandanganku darinya, sedangkan ia menepuk-nepuk wajahnya sembari bergumam, "Tidak! Tidak mungkin itu terjadi!"

Aku menatapnya, ia menatapku ragu, wajahnya masih memerah.

"A-Ada apa? Kenapa kau li-lihat-lihat ,eh?" ujarnya, aku tersenyum licik.

"Heh, dasar!" ujarku sembari berjalan mendekatinya, ia mundur menjuhiku.

"K-Kau mau apa?" tanyanya ragu.

"Kau suka padaku?"


"LAGIPULA, kita teman kan?" tanya mereka kepadaku, aku terbelak, mereka tersenyum. Aku berlari kearah mereka, dan memeluk mereka.

"HUAAA! GOMEN MINNA, GOMEEEN!" ucapku, seraya menangis dipelukan mereka.

"Iya, sekarang kamu ceritakan semuanya ya!"

.

.

"Ihiks.. hue.. ukh.. hiks..," aku masih menangis setelah selesai menceritakan perasaan yang aku rasakan dan kejadian saat aku melihat Chikenbutt berciuman dengan orang lain dan juga perasaan aneh yang tiba-tiba datang saat aku bersama Chikenbutt. Ino, Temari dan Tenten terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka ketika mendengarkan ceritaku.

"K-Kau benar-benar melihat itu Sakura-kun?" tanya Tenten dengan wajah yang sedikit tak percaya, aku mengangguk pelan.

"K-Kau benar-benar merasakan perasaan seperti itu ketika melihatnya?" tanya Temari dengan wajah yang masih sedikit kaget mendengar ceritaku, lagi-lagi aku mengangguk pelan.

"Berarti...," aku mendongkakkan kepalaku, menatap Ino yang menatapku serius, Tenten dan Temari ikut menatapku dengan wajah serius.

"..Kau..," mereka sedikit maju mendekatiku, aku berhenti menangis dan menatap mereka ketakutan.

A-Aku kenapa?

"...," mereka menunduk, aku menatap mereka heran.

Gyuut..

"KAU MENCINTAI SASUKE-KUN, SAKURAA~!" teriak mereka bersamaan seraya memelukku erat.

"E-eh?" aku sedikit tersentak dan bingung mendengar ucapan mereka, mereka melepaskan pelukannya dan menatapku dengan wajah yang dihiasi senyuman menggodaku, dan semburat merah dipipi mereka.

"Hehe, kau merasakan Sakit yang teramat sangat ketika melihat mereka berciuman 'kan?" tanya Ino seraya mengankat jari telunjuknya tinggi-tinggi, aku mengangguk pelan.

"Kau merasakan debaran aneh saat melihatnya 'kan?" tanya Temari seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya kedepan wajahku, aku mengangguk pelan lagi.

"Kau terus menatapnya meskipun hatimu sudah tak kuat menahan pesonanya 'kan?" ucap Tenten seraya berdiri dengan mengangkat tiga jarinya keudara, lagi-lagi aku mengangguk pelan. Ino dan Temari mengikuti Tenten yang berdiri. Mereka menatapku lalu tersenyum aneh.

"Rasa sakit yang teramat sangat terasa," Ino mengangkat jari telunjuknya kedepan dadanya.

"Perasaan aneh yang membuat kita bisa tersenyum sekaligus menangis," Temari mengatupkan kedua tangannya didepan mulutnya.

"Hati berdetak sangat cepat, tubuh memberontak tak ingin merasakannya namun matamu terus menatapnya tanpa berkedip," Tenten tersenyum sembari memegang dada sebelah kanannya.

Aku menatap mereka, mereka tersenyum manis kearahku, mereka mengulurkan tangannya kearahku.

"Kami harap kau berhasil mendapatkannya, Sakura," ucap Temari lembut, aku menatapnya heran.

"Mendapatkan apa?"

"Cinta," ucap Tenten sembari tersenyum semakin lembut.

"Untuk apa, C-Cinta itu tak ada gunanya," ujarku sembari menunduk.

"Wajar saja kalau kau yang masih buta dalam hal seperti ini berkata seperti itu. Tapi kami ingin kau tau hal ini," ucap Ino sembari menatap Tenten dan Temari bergantian, aku menatap kearah mereka.

"Batapa bahagianya berada disamping orang yang kita cintai, Tatapan, Pelukan, Ciuman, kehangatan, dan lainnya," ucap mereka berbarengan dengan wajah yang bersemu merah.

"Minna..," mereka menatapku.

"Apa benar aku me-mencintai Chikenbutt?" tanyaku ragu, Ino tertawa kecil.

"Baka. Uph, Forehead, itu sudah pasti. Hal itu tampak sangat jelas dimatamu, 'lho!" Ino, Temari dan Tenten terkikik melihatku menatap mereka dengan wajah 'polos'.

I Love He?


Sakura P.O.V

"Kau suka padaku?" aku tersentak, memori tentang pembicaraanku dengan Ino, Temari dan Tenten di atap sekolah terulang kembali. Wajahku memerah ketika mengingat kembali apa kesimpulan mereka tentang pembicaraan itu.

A-Apa yang harus aku katakan sekarang?

Aku menatapnya, jantungku berdetak sangat cepat ketika melihat wajah Chikenbutt.

"T-Tidak!" jawabku sembari membelakanginya, aku mendengar langkah kaki yang mendekat kearahku, jantungku semakin berdetak tak karuan ketika langkah kaki itu semakin mendekatiku.

Tap..

Ia berhenti tepat dibelakangku.

"Hn, kau tak menyukaiku?" tanyanya.

"T-t-tentu saja! A-a-aku tidak menyukaimu!" ucapku dengan terbata-bata.

"Hn, kalau begitu, perasaanku bertepuk sebelah tangan," aku tersentak, aku berbalik menatapnya.

Gyuut..

"Padahal aku menyukaimu, Cherry," ujarnya sembari memelukku. Aku tersentak, badanku terasa kaku ketika dipeluk olehnya.

Ini sangat berbeda ketika ia tak sengaja memelukku—ketika aku berusaha membangunkannya. Pelukan ini.. terasa sangat hangat, aku tak mengerti kenapa, tapi pelukan ini terasa sangat hangat. Jantungku masih berdetak sangat cepat, wajahku masih merona merah, namun aku merasakan sesuatu perasaan yang seolah merasa terlindungi ketika dipeluk seperti ini. Wajahku terasa sangat panas, jantungku berdetak sangat cepat, enah kenapa aku merasa sangat pusing.

Syut..

Chikenbutt tersentak lalu menangkat tubuhku yang nyaris menghantam tanah, ia menatapku yang—entah kenapa pingsan disaat seperti ini, ia tersenyum geli. Ia menggendongku a'la bridal style, ia menatap wajahku, perlahan, namun pasti ia mendekatkan wajahnya kewajahku, dan jarak wajah kami 'pun hilang saat, bibir Chikenbutt mengecup bibirku pelan, ia mengangkat wajahnya lalu menatapku yang masih pingsan.

"Baka! Heeh, Kau memang pantas dipanggil Baka, My Cherry,"

THE END~OWARI~


.

.


OMAKE


Sasuke P.O.V.

Tap.. tap.. tap..

Derap langkahku terdengar sangat jelas dilorong ini, seluruh murid disekolah sudah pulang kerumah masing-masing, kecuali aku dan seorang gadis yang kini aku gendong.

Sreek..

Aku mendorong pintu UKS dengan kakiku, aku berjalan menuju sickbed yang ada diruang UKS, aku menidurkan seseorang yang kugendong sedari tadi—Haruno Sakura, My Cherry, aku menghela nafas.

"Haah, dasar, kenapa dia harus pingsan?" tanyaku sembari duduk dipinggir sickbed, aku menatapnya, wajahnya terlihat sangat manis ketika tertidur.

"Haah, cepatlah bangun Cherry, wajahmu itu membuatku tak tahan tau!" gerutuku sembari memalingkan mukaku yang sedikit memerah.

"Ngeeh," terdengar suara darinya, aku menatapnya.

Apa tadi dia mendengar ucapanku?

"..Ngeh.. Chi..kenbutt..," aku menatapnya, matanya masih tertutup, apa dia.. mengigau?

"Hn?" gumamku, ia terdiam, lalu tersenyum manis, wajahku memerah melihatnya.

"..aku... tidak menyukaimu..," aku terdiam mendengar ucapannya, rasa sakit lagi-lagi menyerang tubuhku.

Aku ditolak untuk kedua kalinya..

"...tapi...," aku menatapnya, penasaran dengan ucapan yang akan terlontar dari mulutnya.

"...aku mencintaimu...," aku terbelak, ia tersenyum.

E-Eh? A-Apa aku diterima?

"Che-Cherr—," ucapanku terpotong dengan suara dengkuran dari mulut Cherry, aku tersenyum geli.

"Uph, k-kau benar-benar membuatku salah tingkah Cherry," ujarku sembari terkekek geli. Aku terdiam lalu menghela nafas, aku menatapnya ia masih tertidur pulas dengan wajah polosnya.

"Haah, kau benar-benar tidak membuatku tidak tahan..," aku terdiam, aku menatapnya—atau lebih tepatnya menatap bibirnya, pipiku merona, lalu tersenyum kecil.

"..Yah, walaupun ini tidakkan yang keterlaluan, tapi.. sekali lagi, boleh 'kan?"

CUP!

.

THE END~OWARI~-Beneran-

.


GYAAAA! *treak histeris baca omake diatas*

SASUKE KAU MEMANFAATKAN KEADAAN! #stress.

Ehem.. HAAI, MINNA-SAN~ :D

Khukhu, karna target review yang kuinginkan telah terpecahkan, aku mempercepat tanggal publis Chapter terakhir ini~ XD

Yoshii.. Tak terasa.. sudah empat chapter anda bersama saya.. saya jadi tak ingin berpisah dengan anda.. hiks..*4 chapter pendek neng!*

O,ya mungkin ada yang heran kenapa Sasuke kadang manggil Hinata dengan marganya—Hyuuga, dan juga kadang Sasuke memanggil Hinata dengan nama depannya—Hinata, Itu karna, Sasuke Jaga Imagenya saat bicara dengan Hinata pada awal-awal pembicaraan, tapi kalau Pembicaraan itu sudah berlanjut Sasuke akan memanggil Hinata dengan nama depannya bukan Marganya. Ngerti kan? *gak bakat ngejelasin*

Psst.. Rancangan Sekuel... -?-

-Tentang Janji Sakura.(chp 1)

Jadi apa tidaknya dibuat Sekuel ditentukan dari R-E-V-I-E-W! Sedikit yang minta Sekuel, maka saya tidak akan membuat Sekuel Fic ini.. #maksabgt

Dan mengenai OC saya yang keluar dalam cerita ini; -Nadeshaiko(Kakak Sakura) dan –Usagi Shiroi(Cewek yang deket sama Sasori) kalau kalian ingin melihat wujud mereka kalian bisa mampir di Profile ku~, :)..

O,ya Avatar profilku itu pakai gambarku sendiri lho! #bangga *ga da yg perduli #pundung

O,Ya sebelum aku lupa..: TERIMA KASIH BANYAK bagi para Readers-Reviewers-or-Flamers yang mampir ke Fic saya, Yang nge-fav Fic saya, Yang memberi Review dan ConCrit pada saya dan para Flamers yang tak mengFlame fic saya.. Tanpa kalian saya tidak akan pernah tau kesalahan saya, dan tanpa kalian saya tak mungkin ada disini. Big Smile, Big Hug, Big Thanks For You All! Duomo Arigatou~

Bales review dulu~ (Yang Log-In check your P.M)

-Gleeazure: O, Gitu ya.. hehehe, gomen saya kurang teliti.. Arigatou, RnR again please~

-NaitaUchiha akhanberubah: Ya, ini sudah Update, Arigatou RnR again please~

-Sichi: er... gimana ya/dor, Yup silahkan baca chapter ini! Arigatou, RnR again please~

RnR, CnC, and FLAME* Allowed. *Sarat untuk mem-Flame fic ini adalah. Harus Login, Ada alasan yang jelas memflame fic ini, dan harus ada Saran untuk menutupi kesalahan itu.

Wanna RnR, CnC, and Flame, Minna?

Duomo arigatou~


I Dreaming in a world of Illusion..

Blue Daffodil-Wait Your Review.. :3

~See You, At Next Fic!~

.:Jaa Ne!:.

Blue DaFFodil, Sign out.