A MARRIAGE WITHOUT LOVE

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by Rainy Elfath

Pairing ShikaTema

Ratingnya: T tapi ingin kunaikkan jadi M

Warning: OOC, typo, Gaje, dll

Temari POV

"Maksudmu, kamu sudah menikahi seseorang yang kau cintai itu?" tanyaku memastikan maksudnya dan ia menjawab dengan mengangguk. Hatiku terasa melayang ke angkasa. Jantungku berdegup tidak karuan. Pria ini mencintaiku?

'ah itu sangat manis,' batinku yang masih mengelap piring bekas makan malam. Tak terasa wajahku terasa panas dan memerah.

"Temari, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu sangat merah. Apa kamu demam?" Tanya Shikamaru yang tiba-tiba datang ke dapur sambil memegangi tengkuk dan menunjukkan wajah malasnya.

"Ti-tidak. Aku baik-baik saja," jawabku gugup menjawab pertanyaan Shikamaru. Tanganku juga berhenti mengelap piring.

"Hemm, kamu tak perlu sungkan untuk bilang kamu tidak baik-baik saja," ujarnya yang kemudian menenggak air mineral yang ia ambil dari lemari kulkas.

"Baiklah," ujarku sambil menundukkan kepala. Malu.

"Hemm. Aku pergi ke Kamar tidur dulu. Oyasumi," ujarnya sambil meletakkan botol air mineral yang airnya baru saja ia habiskan.

"Oyasumi," ujarku membalas salamnya yang kemudian Shika meninggalkanku di dapur untuk melanjutkan aktivitas mengelap piring.

'Ha~~h dia begitu santai setelah semua yang dilakukan padanya untukku. Padahal kini perasaanku tidak menentu,' batinku sambil meneruskan aktivitasku.

Aku beranjak dari dapur setelah semua pekerjaan rumah tangga kuselesaikan. Aku pergi menuju kamar tidur. Lampu kamar tidur sudah berganti menjadi lampu redup untuk tidur. Aku berjalan menuju sisi ranjang yang ditiduri oleh Shiikamaru. Kulihat ekspresi wajahnya saat tidur sambil terduduk di Lantai di sisi ranjang Shikamaru.

'Hem, sangat damai sekali wajahnya, nafasnya begitu tenang, sepertinya ia melepaskan lelah yang sangat banyak. Apakah pekerjaannya begitu berat?' tanyaku dalam hati seraya membelai rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Cukup lama aku memperhatikan Shikamaru dalam tidurnya. Hingga tanpa sadar aku tertidur dengan posisi terduduk dan tanganku menjadi bantal kepalaku di atas ranjang.

Temari POV end.


Shikamaru POV

Aku terbangun pada dini hari untuk menyelesaikan pekerjaan yang kubawa ke Rumah. Cukup terkejut saat aku menemukan Temari tertidur di lantai dengan posisi terduduk dan berbantalkan lengan yang tertumpu di sisi ranjang tempatku tidur.

'Apa yang ia lakukan disini?' tanyaku dalam hati sambil memperhatikan Temari yang tertidur lelap dengan posisi seperti itu. Rasanya aku gemas melihatnya seperti ini. Kukecup ubun-ubun kepalanya dengan lembut dan kubelai rambutnya dengan lembut.

Aku turun dari ranjang dengan hati-hati dan tanpa suara untuk tidak membangunkannya. Kuangkat tubuh rampingnya dan membawa ke atas ranjang dan merebahkannya. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga dada. Aku memperhatikannya damainya ia menikmati tidurnya.

'Manis' batinku. Kemudian kukecup keningnya sebelum meninggalkannya menuju ruang kerjaku.

Shikamaru POV end


Normal POV

Pagi datang seperti biasanya. Datang bersama mentari yang terik diiringi oleh orkestra alam yang didominasi oleh 'cit-cit-cit' milik burung-burung gereja. Mentari yang terbit menjadi tanda dimulainya hari dan aktivitas miliaran manusia di dunia termasuk seorang wanita berambut pirang bermata hijau gelap. Matanya perlahan terbuka, terganggu sinar matahari yang masuk ke sela-sela jendela yang masih tertutup gorden.

Temari POV

"Emmmm," aku terbangun dari tidurku yang nyenyak dan mengeliat dengan nikmat. Ternyata aku tidur di atas ranjang dengan sisi yang seingatku semalam merupakan tempat Shikamaru tidur. Kulihat sekeliling dan Shikamaru sudah tak ada di dalam kamar. Aku turun dari ranjang dan berjalan meninggalkan kamar tidur menuju dapur.

"Shikamaru?" aku heran melihat Shikamaru yang tengah membuat dua cangkir espresso di Dapur.

"Yo, kamu sudah bangun?" Tanya Shikamaru sembari membalikan tubuhnya sebagian demi menyapaku.

"Ya. Apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku seraya mendekatinya.

"Membuat kopi," jawab singkat sambil meneruskan pekerjaannya membuat espresso. Aku menarik kursi dan duduk menunggu Shikamaru selesai membuat espresso.

"Ini untukmu. Nikmatilah untuk menyegarkan harimu," ujarnya meletakkan secangkir espresso di depanku. Shikamaru duduk di sebrang tempatku duduk. Ia menyeruput kopinya yang kupikir itu masih panas.

"Sankyuu,"ujarku menarik tatakan cangkir untuk membuat cangkir kopi dekat padaku. Aku mengaduk-ngaduk kopi yang padahal sudah tercampur dengan baik. Kulakukan untuk membuat suhunya pas untuk diminum.

"Kamu ingin sarapan dengan apa?" tanyaku sambil mengangkat cangkir kopi untuk siap diminum.

"Hnn, aku ingin…" Shikamaru diam sejenak untuk berpikir. "aku ingin kamu," ujarnya kemudian dilanjut menyeruput kopi kembali dengan wajah datar. Aku yang mendengarnya sontak saja terkejut. Wajahku panas. Merona.

"Aku serius Shikamaru!" ujarku yang malu-malu sebal dengan jawabannya. Sebal. Sebenarnya hatiku mengatakan tidak merasa begitu. Entahlah aku merasa melayang. Hey, kenapa aku jadi seperti ini? Padahal sudah jelas aku tidak menginginkan pernikahan ini, tapi kenapa sekarang aku jadi seperti menikmatinya.

"Sandwich saja sarapannya," ujar Shikamaru yang membuyarkan percakapan innerku dan kemudian beranjak pergi meninggalkan dapur. "Sandwich dengan isi kamu ya," ujarnya yang kembali lagi. Bukan wajah datar yang muncul di wajahnya kini melainkan wajah dengan seringai jahil yang baru kulihat dari sekian ekspresi yang pernah kulihat dari wajahnya.

"Jangan bercanda!" ujarku berteriak membalas kejahilannya. Aku menunjukan sikap sebal padahal dalam hatiku berasa ada taman Bunga dadakan yang bunganya baru saja mekar.

Temari POV end


Normal POV

Sebuah mobil berhenti tepat di depan lobi sebuah gedung bergaya eropa klasik yang dipadu padankan dengan arsitektur bergaya modern. Mobil hitam itu menurunkan seorang wanita berambut pirang yang dikucir empat. Model rambut yang aneh, tapi ya begitulah adanya. Sebelum turun dari mobil yang dinaiki oleh dua orang, yaitu wanita itu dan seorang lelaki dengan gaya rambut seperti samurai.

"Temari," panggil lelaki itu pada Temari yang sedang membuka pintu mobil dan bersiap turun.

"Hnn," Temari mengalihkan pandangannya ke arah Shikamaru yang sedang menatapnya lekat. Menatap matanya.

Tanpa diduga Temari, sebuah kecupan singkat nan lembut mendarat di bibir mungilnya yang sudah dilapis lipstick berwarna peach pink. Shikamaru langsung mengalihkan pandangan ke depan sedangkan yang menerima serangan mendadak itu hanya terpaku beberapa saat kemudian pergi meninggalkan mobil tanpa kata. Ia masih terkejut dengan yang dialaminya barusan. Sepertinya Shikamaru berhasil membuatnya hilang konsentrasi.

Temari POV

'Apa itu barusan?'tanyaku dalam hati setelah berusaha menyadarkan diri untuk turun dari mobil Shikamaru. Kupegang bibirku. 'Tadi itu hangat dan lembut,' ujarku dalam hati sambil tetap menyentuh bibirku.

Jantungku berdebar lebih cepat. Bukan hanya lebih cepat, tapi ini sudah mencapai tahap tidak karuan. Wajahku terasa panas dan aku yakin pasti wajahku sudah merona sekarang ini. 'Oh no! Dia sudah membuatku tidak karuan,' batinku. Jika mungkin aku bisa menggambarkan perasaanku saat ini pada kalian, mungkin aku akan menyarankan kalian untuk membayangkan salah satu scene film Bollywood yang berjudul Kuch Kuch Hota Hai atau Kaho Na Pyar Hei dengan judul Naa Tum Ja No Na Hum dimana para pemeran yang sedang jatuh cinta bernyanyi dan menari untuk menggambarkan perasaanya yang tengah dimabuk cinta. Jadi, untuk tahu perasaanku saat ini aku sarankan untuk menontonnya saja.

'Sial! Demi model rambutnya yang buruk itu, mengapa aku jantungku berdebar demikian keras dari biasanya?' batinku bertanya-tanya dengan perubahan sejumlah organ yang terbiasa bereaksi saat cinta datang menyerang. Aku terus berjalan dengan langkah yang perlahan dan pandangan yang masih terkunci pada adegan kiss yang singkat di dalam mobil tadi. Beberapa orang menyapaku dan aku tidak mengindahkannya. Aku hanya terus berjalan dengan keadaan seperti itu hingga sampai di ruangn kerjaku.

Temari POV end


Normal POV

"Temari," seorang wanita berambut pink masuk ke ruangan Temari. "Temari?" Ia memanggil Temari sekali lagi. Temari yang dipanggil masih sibuk dengan lamunannya. Berkali-kali gadis berambut pink itu menggoyangkan tangannya di hadapan wajah Temari. Tak kunjung berhasil dengan usahanya kemudian gadis berambut pink itu menggoyangkan badang Temari untuk segera sadar.

"Eh, Sakura. Apa yang kau lakukan?" tanya Temari yang cukup kaget ternyata ada Sakura di ruangannya.

"Temari, harusnya aku bertanya seperti itu padamu," ujar Sakura meletakkan berkas-berkas yang harus diperiksa oleh Temari.

"E-eh, Begitukah?" Tanya Temari seraya mengambil berkas-berkas yang Sakura bawa. Ia membuka-buka lembaran berkas-berkas itu dengan tatapan kosong yang tampaknya pikirannya melayang entah kemana.

"Temari, Temari Temari," Sakura memanggil namanya berkali-kali. Temari tak memberikan respon. Sakura melambaikan tangannya di depan wajah Temari tapi Temari masih belum merespon. Sakura menggoyangkan tubuh Temari.

"Eh, iya Sakura maaf," ujarnya sambil buru-buru focus lagi dengan berkas-berkas yang dibawa Sakura.

"Bagaimana kehidupan pernikahanmu?" Tanya Sakura membuka obrolan.

"Hmm, baik-baik saja," jawab Temari yang sedang memeriksa berkas-berkas yang dibawa Sakura.

"Saat awal-awal pernikahanmu kulihat kamu sangat menderita, berbeda sekali dengan sekarang yang tampaknya kamu sangat bahagia menjalaninya," ujar Sakura yang berhasil mengalihkan perhatian Temari.

"Benarkah?" Tanya Temari penasaran. Sakura mengangguk tanda mengiyakan. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Temari tenggelam dalam kesibukkannya memeriksa berkas. Sakura keluar dari ruangan Temari.

Sejak Sakura pergi meninggalkan Temari, ia larut dalam pikirannya sendiri. Lupa bahwa sebenarnya ia sedang bekerja.

Temari POV

Benarkah aku tampak lebih bahagia sekarang-sekarang ini, setelah 3 bulan pernikahan kami? Kalau kuingat perlakuan Shikamaru selalu sama. Apakah artinya itu aku yang berubah? Ia selalu baik sejak awal, selalu dan selalu. Tak terhitung kopi yang diseduhkannya untukku apalagi bunga yang selalu hadir di setiap hariku. Wajahnya tentu saja kalah tampan dengan Itachi tapi perlakuannya sangat berbeda. Ia tak pernah menyentuh jika tak boleh bahkan ia sungkan jika harus tidur di ranjang yang sama denganku jika tak kuizinkan. Padahal setelah resmi menikah kami bebas melakukan apapun. Ia begitu menghormati dan menghargaiku. Apakah aku merasa senang hanya karena itu semua?

Drrtttt Drrrtttt Drrrtttt

Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku

Temari, mau makan siang bersama?

Sebuah pesan yang dikirim oleh Shikamaru yang segera kubalas dengan kata 'Ya'. Aku cukup senang mendapatkan pesan seperti itu hingga tanpa sadar Ino sudah berada di ruang kerjaku.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Temari?" tanyanya bingung dengan tingkahku yang terlonjak senang.

"Err, tidak ada. Kamu ada perlu apa?" Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan. Ino mengangkat sebelah alisnya tanda curiga.

"Sepertinya benar kata Sakura kalau kamu sudah menikmati pernikahan tanpa cintamu itu. Selamat menikmati," ujar Ino sambil tersenyum. Aku yang dibuat malu olehnya hanya menyeringai. Ino melengos pergi setelah mengatakan itu. Mereka sepertinya baru saja membicarakanku di belakang.


Aku berusaha untuk fokus sejenak walaupun tidak bisa hingga waktu makan siang datang. Begitu istirahat makan siang tiba, aku bergegas pergi meninggalkan kantor sebelum Ino mengajak makan siang bersama.

Shikamaru sudah berada di tempat parkir menunggu dengan mobil hitam kesukaannya. Begitu masuk ke dalam mobil musik lembut nan romantis mengalun indah di telingaku. Ia tersenyum dan kami langsung saja pergi ke restoran yang sudah dipesan olehnya.

Makanan datang sesuai pesanan Shikamaru. Sampai makanan ini datang ia belum mengeluarkan sepatah kata pun. Aku dibuat kikuk olehnya. Akhirnya dessert pun datang. Sebuah gunung es krim yang disiram oleh kopi diletakkan dihadapan kami hingga membuat aku tak bisa melihat wajah Shikamaru.

"Terlalu banyak hal yang menghalangi kebahagiaan yang ingin kuraih," ujarnya tiba-tiba. Aku yang ingin melihat wajahnya berusaha menggeser gunung es krim itu, tapi ditahan oleh Shikamaru.

"Kadang halangan itu manis seperti es krim juga pahit seperti kopi. Semakin cepat menyelesaikan halangan itu maka kebahagiaan itu akan semakin cepat terasa. Dalam pernikahan halangan seperti itu banyak terjadi. Jika kita menyelesaikan halangan itu bersama maka waktu yang dibutuhkan untuk bahagia semakin sebentar dan jika hanya aku yang melakukannya sendiri bukan tak mungkin aku menyerah duluan bahkan mungkin kamu sudah pergi meninggalkan. Aku hanya ingin tahu bagaimana dengan pernikahan kita. Meskipun pernikahan kita dilakukan dengan terpaksa. Aku hanya ingin tahu seiring berjalannya waktu apakah kamu mau bersama denganku menghadapi setiap rintangan itu," ujarnya serius ia mulai makan es krim yang menggunung itu.

Kalimatnya barusan ingin membuktikan keseriusanku dalam menjalani pernikahan ini. Kuangkat sendok milikku tapi kutahan lagi. Sejenak aku ragu.

Saat awal-awal pernikahan aku sangat ingin untuk menghentikan pernikahan yang tak dilandasi cinta ini. aku merasa tersiksa tapi melihat usahanya apalagi ternyata ia menyukaiku. Aku bingung dalam memutuskan. Ini seperti kesempatan untuk memutuskan apa yang kuinginkan dalam pernikahan ini.

Apa yang harus kulakukan?

TBC


(A/N)

akhirnya bisa update lagi cerita ini setelah sekian lama

Maaf ya untuk yang menunggu (kalau ada)

Selamat menikmati dan jangan lupa kritik yang menggelitiknya ya