Disclaimer: punya aku! Cuma dipinjem sama Kubo-sensei *digeplak*
Rated: T
A/N: gaje, garing, dll. Dan untuk chap ini banyak OOCnya. Hehe, maafkan saya...
Rukia yang sadar bahwa dirinya sedang dipandangi oleh Ichigo langsung berteriak dan segera menutupi tubuhnya dengan boneka chappy yang ukurannya cukup besar untuk menutupi tubuhnya.
"KYAAAA~ DASAR! JERUK MESUUUM~!!! Apa yang kau lakukan disana, hah?!" teriak Rukia sambil melemparkan barang-barang yang ada didekatnya. "Cepat keluar!"
"Ma-maafkan aku!" ucap Ichigo terburu-buru dan segera menutup pintu kamar Rukia. "Ta-tapi kau baik-baik saja kan, Rukia?" tanya Ichigo dari luar kamar Rukia.
"Aku baik-baik saja!" jawab Rukia seraya memakai pakaiannya kembali. Setelah selesai, Ia membuka pintu kamarnya, "Jadi, ada apa kau tiba-tiba mendobrak pintu kamarku?" tanyanya sinis sambil menyilangkan tangan didepan dadanya.
"Eng~ Ta-tadi itu... aku mendengar kau berteriak, ja-jadi aku sedikit panik," jawabnya sambil menggaruk-garukkan belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Memangnya tidak bisa mengetuk pintu dulu?" tanya Rukia lagi yang masih dengan nada sinisnya.
" ...A-aku sudah mengetuknya, tapi yang terdengar malah suara benturan keras, ya sudah aku dobrak saja pintunya, hehe" jawab Ichigo dengan senyum innocentnya.
"Hn?" Rukia sedikit bingung, sepertinya Ichigo salah paham. Lalu Rukia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ternyata Rukia berteriak hanya karena ada seekor kecoa yang melintas di kakinya saat Rukia sedang mengganti pakaiannya sehingga membuat Rukia berteriak kaget dan segera membunuh kecoa itu. Ichigo yang mendengar penjelasan Rukia itu hanya cengo sambil sweatdrop.
"Oh... Ja-jadi gara-gara kecoa ya... hehe, syukurlah," ucap Ichigo sambil menghela nafasnya. Rupanya Ichigo terlalu mengkhawatirkannya.
"Kenapa? Kau mengahawatirkanku ya?" tanya Rukia dengan nada menyelidik dan sedikit menggoda Ichigo sehingga membuat Ichigo blushing. Rukia yang melihat reaksi Ichigo seperti itu langsung tertawa menyeringai.
"Eh-ah... i-itu..." Ichigo bingung mau berkata apalagi, karena memang sebenarnya Ichigo menghawatirkan Rukia namun Ia malu jika harus mengakuinya. "Su-sudahlah! Lebih baik kau cepat bereskan saja kamarmu,"
"Ya, baiklah," balas Rukia yang masih sedikit tertawa kecil. "Eh, tapi sepertinya aku butuh bantuanmu untuk menggeser posisi meja belajar itu," lanjutnya sambil menunjukkan telunjuknya pada sebuah meja belajar.
Ichigo pun membantunya untuk menggeser meja yang cukup berat itu, "Nah! Sudah selesai!" ucapnya.
"Iya... Akhirnya, fiuhh~" ucap Rukia sambil merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk dalam hitungan detikpun Rukia langsung tertidur pulas dikasurnya. Ichigo yang melihatnya tersenyum simpul, 'Mungkin dia kelelahan.' Pikirnya. Ichigo membetulkan posisi Rukia tidur agar lebih nyaman lagi dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Sebelum ia meninggalkan kamar Rukia, ia menatap dalam-dalam wajah Rukia yang sedang tertidur terlebih dahulu.
"Kalau sedang tertidur... kau manis juga ya, Rukia." Ucapnya pelan sambil tersenyum dan meninggalkan kamar Rukia.
***
Keesokan Harinya...
"Ichigo! Ayo bangun! Ini sudah jam 8 pagi!" seru Rukia dari depan kamar Ichigo sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Ichigo.
"Sebaiknya Rukia-nee masuk saja ke dalam kamarnya, biasanya Ichi-nii memang susah bangun kalau hari minggu begini." Saran Karin yang kebetulan melihat Rukia yang sedang susah payah membangunkan makhluk pemalas seperti Ichigo.
Rukia pun membuka pintu kamar Ichigo yang memang tidak pernah terkunci. Rukia merasa geram melihat Ichigo yang masih saja tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke kepalanya. "Dasar pemalas!" gerutunya. Ia lalu menarik tangan Ichigo agar Ichigo segera bangun. Namun percuma saja karena tenaga Rukia dengan Ichigo tidak sebanding.
"Ayolah, Ichigo! Sampai kapan kau mau terbaring diatas kasur seperti ini?!" serunya yang masih menarik-narik tangan Ichigo. Dan nihil. Ichigo masih saja tidak mau bangun dari tidurnya itu. Rukia mulai kesal dan menghela nafasnya. "Ya sudah lah, kalau begitu jangan salahkan aku kalau sarapanmu aku habiskan," ucap Rukia.
Ketika Rukia melepaskan tangannya dan hendak pergi, tiba-tiba Ichigo menarik pergelangan tangan Rukia sehingga Rukia terjatuh diatas tubuh Ichigo. Ichigo yang berhasil membuat Rukia terjatuh langsung tertawa menyeringai dan segera mendekapnya erat agar Rukia tidak bisa melepaskan diri.
"I-Ichigo?! A-apa yang kau lakukan, bodoh?!" tanya Rukia sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Ichigo yang semakin mengerat sehingga membuat pipi Rukia memerah seperti tomat segar yang baru dipetik dari pohonnya*?*.
"Temani aku tidur satu jam lagi, baru aku akan bangun dan melepaskanmu," goda Ichigo yang semakin menjadi-jadi.
"Kau ini! Apa-apaan sih!?" ucap Rukia yang masih berjuang untuk melepaskan dirinya dari Ichigo. Wajahnya benar-benar merah, "Cepat lepaskan aku bodoh! Aku bisa kehabisan nafas kalau seperti ini!"
"Hn? Kalau begitu biar aku yang akan memberikan nafas buatan untukmu, bagaimana?" tanya Ichigo menyeringai.
"A-A-APAA?! DASAR KAU, JERUK MESUUUM~!!!" teriak Rukia.
Sementara itu di ruang makan...
"Rukia-nee dan Ichi-nii kenapa ya?" tanya Yuzu setelah mendengar teriakkan Rukia yang cukup terdengar sampai ke lantai bawah. "Aku akan mengecek dulu."
"Sudah biarkan saja, itu urusan orang dewasa. Kita tidak usah ikut campur." ucap Karin yang masih asyik dengan komiknya. Namun Yuzu menghiraukan kata-kata Karin dan segera menuju kamar Ichigo untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.
Kembali ke kamar Ichigo...
"I-Ichigo, cepat lepaskan aku nanti kalau Yuzu datang bagaimana, bodoh?!"
"Tidak akan. Makanya kau diam jangan banyak bicara! Nanti aku ci—,"
"KYAAA~!"
Sebelum Ichigo menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar Yuzu berteriak didepan kamar Ichigo. Ichigo dan Rukia langsung panik dan segera memisahkan diri. Rukia dan Ichigo segera menghampiri Yuzu yang masih berdiri didepan kamar Ichigo sambil menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Yu-Yuzu? Ka-kau b-baik saja?" tanya Rukia pada Yuzu.
"Ah-eh? Eng~ T-tidak a-apa-apa, maafkan aku karena telah mengganggu Rukia-nee dan Ichi-nii, aku hanya ingin memberitahukan kalau sarapannya sudah siap." ucap Yuzu terburu-buru dan segera mengambil langkah seribu.
"Kenapa Yuzu?" tanya Ichigo santai. "Ugh~" gerutu Ichigo kesakitan karena tiba-tiba Rukia menginjakkan kakinya pada Ichigo. "H-hei! Apa yang kau lakukan sih?! Itu sakit midget!"
"Err~ ini gara-gara kau jeruk! Sudahlah cepat kau mandi!" geram Rukia yang wajahnya masih memerah gara-gara insiden diatas kasur Ichigo tadi. Ia pun segera meninggalkan Ichigo.
"Haha, kau itu lucu juga ya..." gumam Ichigo pelan sehingga tak terdengar oleh Rukia.
***
Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Setelah selesai sarapan bersama Rukia membantu Yuzu untuk membereskan piring-piring yang sudah dipakai, lalu Karin langsung menuju ke televisi untuk menyaksikan pertandingan bola kesayangannya. Sedangkan Ichigo hanya terdiam, merasa dirinya diacuhkan Ia pun mulai membuka pembicaraan.
"Hei! Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke Wonder Land bersama-sama?" ajak Ichigo namun tidak ada yang menghiraukan Ichigo sedikitpun. "Aku yang traktir kalian deh, bagaimana?"
"Aku tidak ikut, hari ini aku mau nonton bola," Karin menolak.
"Kalau Karin tidak ikut, aku juga tidak, lagi pula banyak pekerjaan rumah yang belum aku bereskan," sambung Yuzu. "Bagaimana Kalau Rukia-nee saja? Rukia-nee dari luar kota kan? Jadi mungkin belum pernah ke Wonder Land,"
Rukia yang ditanya Yuzu hanya sedikit tersenyum kaku. "Baiklah, aku anggap Rukia-nee mau!" ucap Yuzu dengan semangat. Rukia hanya pasrah saja mau tidak mau Ia harus mau, lagi pula Ia tidak mau mengecewakan Yuzu.
Setelah Rukia dan Ichigo mengganti pakaian, mereka berpamitan pada Yuzu dan segera menuju ke tempat yang mereka maksud, Wonder Land.
***
Rukia's POV
Sesampainya di Wonder Land Ichigo mengajakku menaiki berbagai macam wahana. Sampai-sampai ia mengajakku ke wahana yang paling aku benci, yaitu obake-house. Tempat yang benar-benar menyeramkan bagiku, tempat yang dipenuhi dengan misteri dan kegelapan itu sungguh-sungguh membuatku paranoid.
"Hey! Tidak usah takut! Kau tinggal berjalan santai saja, lagi pula anak kecil saja berani masuk, masa kau tidak?!" ucap Ichigo membujukku agar aku mau masuk ke dalam ruangan gelap itu. Ichigo memaksaku dan menarik pergelangan tanganku agar aku mau masuk ke dalam ruangan itu.
"Aku tidak mau jeruk! Aku mau keluar saja!" ucapku sedikit lirih.
"Dasar kau, midget! Tidak usah takut begini! Tenang saja, ini tidak akan mebunuhmu," ucapnya. "Lagi pula kalau kau mau keluar percuma saja, lihat, pintunya sudah tertutup dan kita harus mencari jalan keluarnya sendiri," lanjutnya sedikit menyeringai. Huh, sepertinya dia senang jika aku ketakutan seperti ini.
"Dasar, bodoh! Kepala jeruk, bodoh!" teriakku padanya. Namun tidak ada balasan darinya. Aku mulai panik, kenapa Ichigo tidak menjawabku?
"Ichigo? Ichigo?" panggilku, "Ichigo! Jangan bercanda! Ini tidak lucu!" aku berteriak padanya namun tetap saja tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Sepertinya dia sudah meninggalkanku disini sendiri. Air mataku mulai menggenang dipelupuk mataku, aku takut. Aku ingin cepat keluar dari tempat menyeramkan ini. 'Ayo, Rukia! Kau harus bisa mencari jalan keluarnya!' ucapku pada diriku sendiri.
Aku pun mulai menelusuri ruangan yang panjang ini. Disini cahayanya remang-remang, yaah... sedikit membantu penglihatanku sekarang ini. disisi-sisi ruangan ini banyak sekali lukisan yang bagiku terkesan mistis, sehingga mambuat bulu kudukku mulai naik. 'Tenang... aku harus tenang...' batinku.
Ketika aku hendak berbelok ke sebuah ruangan, aku mendengar nada-nada piano yang mengalunkan lagu für elise, aku pun mencari dari mana sumber suara tersebut berada. Sampailah aku di sebuah ruangan yang cukup luas, ditengah-tengah ruangan tersebut terlihat sebuah grand piano berwarna hitam pekat. Alunan nada-nada yang tadi kudengar mulai mengalun kembali, aku tersentak kaget karena tuts-tuts grand piano tersebut bergerak sendiri. Aku pun berteriak dan segera pergi dari tempat itu secepat yang aku bisa.
BRAAAAKKK!!!
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang sehingga membuatku terjatuh. "Ah~Ma-maafkan a—," belum selesai aku melanjutkan kata-kataku aku langsung berteriak histeris, "KYAAA~!!!"
Aku pun langsung mengambil langkah seribu ketika sadar bahwa yang aku tabrak adalah boneka yang serupa dengan zombie, ditubuhnya dipenuhi bercak-bercak merah. Aku terus berlari, air mataku tanpa terasa sudah menetes sedikit demi sedikit. Setelah sekian jauh aku berlari akhirnya aku menemukan sepasang pintu besar dengan cahaya terang diluarnya. 'Ah! Itu pasti jalan keluarnya!' pikirku. Aku pun semakin mempercepat lariku.
Sampai! Akhirnya aku bisa keluar dari tempat kutukan itu! Pupilku mengecil ketika menangkap banyak cahaya dari luar penglihatanku masih meremang, nafasku tersengal-sengal, kaki dan tanganku pun sedikit bergetar, rasanya aku mau terjatuh. Namun tiba-tiba ada sepasang tangan yang sigap menangkapku. Ah, itu Ichigo...
End of Rukia's POV
***
"Dasar payah!" gerutu Ichigo. "Masa hanya masuk ke dalam ruangan gelap saja kau sampai mau terjatuh begini?!"
"Lepaskan aku jeruk!" ucap Rukia sambil menepis kasar kedua tangan Ichigo dari bahunya.
Rukia langsung meninggalkan Ichigo ditengah kerumunan orang banyak, sepertinya Rukia sangat kesal pada Ichigo karena ia telah meninggalkannya sendirian di obake-house. Terdengar Ichigo memanggil namanya dengan keras, namun Rukia tidak menghiraukannya sedikitpun. Ichigo pun berlari menghampiri Rukia yang sedang berjalan, lalu menarik pergelangan tangan Rukia.
"Lepaskan aku!" ucap Rukia dengan sinisnya dan melepaskan pergelangan tangannya dari tangan Ichigo.
Rukia melanjutkan langkah kakinya menuju tempat duduk kosong yang berada dipinggiran kolam air mancur yang ukurannya cukup besar dan membiarkan Ichigo yang sedari tadi terus mengikutinya. Rukia duduk di bangku kosong yang lumayan panjang, begitu juga dengan Ichigo. Ia duduk disamping Rukia.
"Hei, midget!" panggil Ichigo. Namun Rukia tetap saja tidak mau menatapnya, Rukia benar-benar kesal pada Ichigo. Hening. Kurang lebih 8 menit tak ada satupun diantara mereka yang memulai pembicaraan. Tiba-tiba Ichigo beranjak dari tempat duduknya. "Kau jangan kemana-mana, tunggu disini, aku akan segera kembali!" ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkan Rukia sendirian di bangku itu.
Rukia hanya melihat Ichigo yang semakin jauh dan menghilang di kerumunan orang-orang. Ia menghela nafasnya dan menyandarkan pundaknya pada sandaran bangku tersebut agar lebih rileks lagi.
15 menit kemudian...
Tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan sebuah es krim berbentuk kepala chappy pada Rukia.
"CHAPPY!" teriaknya antusias setelah melihat kepala es krim yang berbentuk kelinci kesukaannya. Ia menoleh pada orang yang menyodorkan es krim tersebut, "Ichigo?" desisnya pelan lalu mengalihkan pandangannya dari Ichigo. Seolah-olah Rukia menolak es krim chappy yang diberikan Ichigo. Padahal dalam hatinya Rukia sangat menginginkan es krim tersebut.
"Rukia..." ucap Ichigo memulai pembicaraannya, "Maaf... Maafkan aku,"
"Hn?"
"Kalau kau tidak mau memaafkanku, aku akan memberikan es krim chappy limited edition ini pada orang lain. Tapi, kalau kau memaafkanku maka es krim ini milikmu," tawar Ichigo sambil sedikit menggoda Rukia dan menekankan kata pada 'es krim chappy limited edition'.
"Hhh... yah... baiklah aku maafkan, tapi janji jangan bawa aku ke tempat seperti itu lagi!" ucap Rukia dan segera mengambil es krim yang Ichigo tawarkan. Ia pun mulai memakannya, sepertinya Rukia sangat senang dengan es krim yang diberikan Ichigo.
"Nah, kan! Hahaha," Ichigo tertawa setelah melihat tingkah laku Rukia yang seperti anak kecil baginya.
"Kenapa kau tertawa, jeruk?" tanya Rukia.
"Tidak," jawabnya. "Bukan apa-apa," lanjutnya sambil tersenyum. Selama Rukia memakan es krim chappy limited editionnya itu, Ichigo hanya terus menatap wajah Rukia dalam-dalam.
"Sekarang apa? Kenapa kau menatapku terus?" tanya Rukia bingung. "Hmm... kau mau es krim ini?" tawar Rukia.
"Tidak," jawab Ichigo singkat.
"Sudah, kau jangan pura-pura... kau mau kan? Ini enak lho," goda Rukia.
"Hn?" Ichigo menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum jahil. "Baiklah kalau kau memaksa, aku mau. Asalkan kau dan aku memakannya bersamaan, bagaimana? Kau mau kan?"
Pipi Rukia mulai memerah dan segera merubah pikirannya untuk memberikan es krimnya pada Ichigo. "Kalau begitu, tidak jadi!"
***
Di kediaman Kurosaki
KRIIING~ KRIIING~ KRIIING~
Terdengar suara telepon yang terus berdering di rumah itu.
"Karin-chan, bisakah kau mengangkatkan teleponnya? Aku sedang sibuk disini," seru Yuzu dari kamarnya di lantai 2.
"Ya, baiklah..." jawab Karin dengan malas. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan segera mengangkat telepon yang dari tadi terus berdering.
Karin: "Ya, Hallo. Kediaman Kurosaki disini,"
Penelepon: "Wah, wah... ini pasti Karin-chan yaa!"
Karin: *mendengus kesal* "Ada perlu apa kau menelepon?"
Penelepon: "Ah, begini... apakah Ichi-nii ada di rumah?"
Karin: "Tidak ada. Ada pesan?"
Penelepon: "Hmm... begitu yah,"
Karin: "Tidak ada pesan? Baiklah, kalau begitu terima kasih."
TUUUT~ TUUUT~ TUUUT~
Karin langsung menutup teleponnya tanpa basa-basi. Baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya, telepon di rumahnya mulai berdering lagi.
KRIIING~ KRIIING~ KRIIING~
Karin: "Ya, Hallo. Kediaman Kurosaki disini,"
Penelepon: "Karin-chan~ tadi aku belum selesai bicara,"
Karin: "Kau mau apa lagi? Jangan buang-buang waktuku, aku sedang sibuk!"
Penelepon: "Ah~ begitu yah, maaf. Tapi, Ichi-nii pergi kemana? Dan bersama siapa?"
Karin: "Wonder Land. Kekasihnya. Puas?"
Penelepon: "APAA?!?! Kau pasti bo—."
TUUUT~ TUUUT~ TUUUT~
'Dasar membuang waktuku saja!' gerutu Karin.
"Karin-chan, tadi siapa yang menelepon?" tanya Yuzu dari lantai 2.
"Bukan siapa-siapa, hanya salah sambung. Tidak usah dipedulikan." jawab Karin berbohong.
Yuzu hanya ber-oh ria saja mendengar jawaban Karin.
***
Someone's POV
"APAA?!?! Kau pasti bo—"
TUUUT~ TUUUT~ TUUUT~
Huh, sial. Anak itu menutup teleponnya. Ya ampun, apa benar Kurosaki-kun pergi bersama kekasihnya? Tidak! Kekasih Kurosaki-kun hanya aku seorang!
Ah, aku tidak bisa membiarkan Kurosaki-kun terus berduaan dengan orang yang dimaksud oleh Karin-chan! Aku harus segera pergi ke Wonder Land sebelum terlambat!
End of Someone's POV
Kembali Di Wonder Land...
"Ichigo! Aku mau kesana!" ajak Rukia setelah selesai menghabiskan es krim chappynya.
"Hn? Kau tidak salah?" tanya Ichigo meyakinkan.
"Iya! Aku tidak salah!" jari telunjuk Rukia menunjuk ke arah sebuah istana kelinci kesukaannya. "Ayolah, Ichigo..."
"Tidak," jawab Ichigo singkat. Rukia yang mendengar jawaban Ichigo langsung cemberut dan menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya. "Hhh... baiklah aku antar, tapi aku tidak mau masuk, aku akan tunggu diluar saja," lanjut Ichigo setelah melihat Rukia yang sudah cemberut.
"Nah! Begitu dong!" Rukia pun langsung berlari ke arah istana kelinci tersebut. Selama Rukia berada didalam, Ichigo menunggunya didekat toko souvenir yang letaknya bersebrangan dengan istana kelinci.
Kurang lebih setengah jam Ichigo menunggu Rukia. Ia mulai kesal, "Dasar si midget itu, lama sekali sih?!"
Ichigo berniat menyusul Rukia ke dalam istana kelinci, namun baru dua langkah kaki saja tiba-tiba ada seseorang yang memeluk lengan Ichigo dengan erat tanpa mau melepaskannya.
"Kurosaki-kuuuun~!" ucap si gadis sambil memeluk lengan kanan Ichigo.
"I-Inoue?!" Ichigo tersentak kaget ketika melihat gadis berambut panjang dengan warna walnut-brown tiba-tiba memeluk lengannya dengan erat. "A-apa yang kau lakukan disini?!"
"Tentu saja aku ingin bertemu denganmu, Kurosaki-kun!" jawabnya dengan nada lembut (baca: manja)
"T-tapi tidak usah memelukku seperti ini!" Ichigo menolak Inoue yang terus memeluk lengan kirinya.
"Kenapa Kurosaki-kun? Kau kan kekasihku?" ucap Inoue.
"A-APA?! I-itu kan hanya gossip murahan saja! Kita belum pernah jadian sebelumnya!" bantah Ichigo yang masih risih dengan tingkah Inoue.
"Tapi meski begitu kita kan bisa menjadi sepasang kekasih, Kurosaki-kun," Inoue mulai berakting agar Ichigo terhanyut dengan aktingnya. Tapi tetap saja tidak mempan bagi Ichigo.
Tiba-tiba Rukia yang sudah selesai bermain di istana kelinci datang menghampiri Ichigo. "Hei Ichigo! Aku sudah sele—,"belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya. Matanya terbelalak ketika melihat wanita itu memeluk lengan Ichigo dengan erat."I-Ichi...go?" ucapnya lirih.
"Ru-Rukia? Kau su—" Rukia langsung berlari sekuat tenaga sebelum Ichigo menyelesaikan pembicaraannya. "Inoue! Lepaskan aku!" sentak Ichigo dan menarik paksa lengannya dari pelukan Inoue. Ia pun segera mengejar Rukia.
"RUKIA! TUNGGU!!!"
*~*~*
To be Continue...
Weee... dengan jerih payah *lebay* saya mengetik ulang fic ini, yang waktu itu sempet ke hapus tapi akhirnya bisa updet juga chap 4... hihi, maaf sebesar-besarnya kepada 'Orihime Inoue' saya tidak bermaksud untuk membashing anda... hehe peace :DD
Rukia: sejak kapan aku jadi penakut?
Author: gatau, kapan ya?
Ichigo: Hei! Sejak kapan aku jadi segenit itu pada Rukia?
Author: sudah-sudah kalian berdua ini protes mulu, tuh Hime aja ga banyak protes! Ini kan fic yuuki, yuuki cuma pinjem kalian sebagai artis ko.
IchiRuki: dasar author aneh!
Inoue: "..."
Author: udah mendingan sekarang balesin review! Oke?!
Ichigo: Hmm... ya baiklah dari Beenbin- Mayen Kuchiki; Eh? *clingak-clinguk* ssstt! Jangan bilang-bilang aku mimpiin Rukia! Nanti bisa kena sode no shirayukinya! Dan Kuchikichii Icha; Kenapa dikau syok? Cemburu padaku? Hahaha ^^v
Author: Yeay Ichi main rahasia! Bilangin loh! Dari LynDa; dan yang terjadi seperti yang ada di chap ini! Ahaha, yang ini udah paling panjang lhoo... :p
Rukia: Wah wah, Ruki_ya; namamu mirip sama namaku, huahaha. Iya! Benar sekali!
Ichigo: mss Dhyta; apa? Kejadianseperti itu gokil? Wah kalau begitu bakal sering-sering deh ga sengaja cium sama ngintip Rukianya.
Rukia: *ngasih deathglare ke ichi* Sora Chand; iya! Betul sekali! Ichi memang sangat mesum!
Author: bener tuh Ruk, hikaru kurochiki; juga sependapat dengan Rukia!
Ichigo: sialan, gue jadi dibilang mesum sama para author! Hei! Lihat ternyata Ichikawa Ami; mendukungku untuk mencium Rukia lagi! Dan Kurotsuchi-sama; aku memang hebat! B-)
Inoue: Kurosaki-kun, Jess Kuchiki; juga bilang kamu mesum, jadi sudah akui saja.
Author: Iya tuh! Ngaku hayoh Ichi!! Eh? Ternyata ada Akane Higabana; ahaha, iya sankyuu okaii... hmm... humor? Walah kalau itu sih gimana yah? Hmmm *gaje sendiri, digeplak* haha iya ini updetnya ;))
Rukia: iyee... Cinara Hatake; gue ciuman gara-gara si jeruk tuh! sialan tuh jeruk, pake ngintip segala jadi kan kaget, ckckck.
Inoue: udah udah... Semuanya terima kasih yah, buat yang udah read or review fic ini! :DD
Author:Yap! Inoue benar, terima kasih sebesar-besarnya! Dan Inoue, maafkan saya, saya tidak bermaksud membashingmu...
Inoue: Iya, tidak apa-apa. Paling nanti dihajar Kubo-sensei^^
Author: *sweatdrop*Oh ya, 1 lagi... terimakasih kepada hanaruppi-san, karena fic anda lah, yang membuat ide saya muncul lagi xDD
IchiRuki: Yaudah, sekali lagi terimakasih keep R&R yaaa!
-相良竜基-
Review?
