Changmin tersenyum disela memasangkan dasi ke kerah leher Yunho. Malam ini dengan sedikit paksaan darinya, Yunho pun mau pergi untuk makan malam bersama Jaejoong. Walau awalnya tunangannya itu bersikeras menolak, namun akhirnya Yunho mengalah dan menuruti keinginan Changmin.
"Hanya makan malam, Yunho yah!" Changmin tersenyum sembari merapikan dasi yang tengah dikenakan tunangannya itu, "Jaejoong sunbae sudah lama tidak makan malam bersamamu, kan?"
Changmin masih tersenyum. Sepasang mata cokelatnya terfokus pada dasi berwarna merah hati itu. Ia tidak tahu, meski ia yang memaksa Yunho agar mau makan malam bersama Sunbaenya itu, namun hatinya merasa tidak rela jika mereka menghabiskan waktu makan malam berdua. Hanya berdua. Dadanya mulai terasa sesak.
Aktifitas Changmin terhenti ketika kedua lengannya tiba-tiba dicengkeram oleh Yunho. Dengan pelan ia mendongak dan menemukan mata musang itu menatapnya dengan pandangan yang sulit ia artikan. Dengan sulit ia menarik sudut bibirnya.
"Kau terus saja memanggil Jaejoong dengan sebutan Sunbae, tapi kau memanggilku hanya dengan Yunho yah."
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Changmin sembari mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Yunho, "Yunho Hyung!" serunya sembari terkikik pelan.
"Manis juga!"
"Sudahlah Yunho yah! Kau yang membuatku menghilangkan kata hyung untukmu, bukan?"
Ya, Yunho lah yang membuat Changmin memanggil tunangannya itu tanpa memakai kata Hyung. Yunho lah yang menantang Changmin yang waktu itu masih berada di semester 5 ketika kuliah. Jika pemuda itu bisa lulus lebih dulu dari pada Yunho, maka Changmin boleh memanggilnya hanya dengan Yunho.
.
.
.
HoMin Fanfiction
Present
Under the Autumn © Ran Hime
TVXQ and other Cast © Themselves
Drama, Hurt/Comfort
HoMin
M Rated
Yaoi, OOC, Typo, NC, etc.
.
.
.
Chapter 3
.
Yunho memakan dengan enggan masakan di depannya. Entah kenapa perasaannya tidak enak ketika ia teringat akan senyuman Changmin, ketika memasangkan dasi di lehernya. Pria itu sepertinya benar-benar ingin membuat dia kembali bersama Jaejoong.
Yunho mendongak, menatap Jaejoong yang tengah menikmati makan malam mereka. Ada rasa bersalah ketika ia ingat jika ia pernah membohongi Changmin. Seharusnya ia mengatakan jika ia sudah pernah makan malam bersama Jaejoong, dan melupakan tunangannya yang tengah menunggunya hingga tertidur di meja makan.
"Yun!"
Yunho tersentak ketika ia mendengar Jaejoong memanggilnya berulang kali. Ia segera memperbaiki duduknya dan meletakkan alat makan di tangannya. Ia menatap tajam jemari tangan mantan kekasihnya yang tengah menggenggam tangan kanannya.
"Yun!"
Yunho menatap wajah Jaejoong. Sepuluh tahun berlalu, bahkan hatinya tetap tidak dapat merasakan debaran ketika ia pertama kali jatuh cinta kepada pria itu.
"Bisakah kita seperti dulu!"
Yunho menarik tangannya dan membiarkan Jaejoong memasang ekspresi sedih.
"Lupakan semua itu, Jae!" seru Yunho dingin, "kenangan tetaplah kenangan dan kau yang membuat kita berpisah."
"Kenapa kau selalu melihat jika aku yang bersalah." Jaejoong mulai merasa emosi ketika mengingat perpisahannya dengan Yunho sepuluh tahun yang lalu.
"Walau itu sudah terlalu lama, harusnya kau sudah bisa mencari kehidupanmu sendiri."
"Kenapa kita tidak bisa bersama lagi bahkan Changmin bilang kau masih mencintaiku!" seru Jaejoong hampir berteriak.
"Changmin?" Yunho mulai merasa bingung, "kau pasti gila jika berpikir seperti itu."
"Changmin bahkan setuju jika kita bersama lagi."
Yunho bangkit dari kursinya, "aku dan Changmin adalah tunangan, mustahil jika dia bilang seperti itu."
Dengan mata memerah, Jaejoong menatap Yunho, "Changmin bilang kau dan dia hanya sepupu!"
Yunho menggenggam kedua tangannya dan mengeratkan cengkeraman jarinya hingga kuku bukunya memutih. Ia benar-benar emosi ketika mendengar ucapan Jaejoong. Tanpa melihat seringaian di bibir Jaejoong, pria bermarga Jung itu melangkah pergi.
Bagaimana bisa Changmin melakukan itu? Bagaimana bisa Changmin memberikan peluang untuk Jaejoong agar bisa memasuki hubungan mereka. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Yunho melajukan mobilnya dengan cepat.
.
.
Ran Hime
.
.
"Darimana saja kau?"
Changmin terlonjak kaget ketika ia baru masuk ke apartemenya dan menemukan Yunho tengah berdiri tepat di depannya. Ia nampak ragu ingin menjawab ketika melihat wajah tunangannya itu penuh dengan amarah. Ini baru setengah jam sejak Yunho pergi. Harusnya tidak secepat itu Yunho kembali dari makan malam.
Changmin berusaha tersenyum lalu berjalan mendekati Yunho, "bagaimana acaranya Yunho yah?" tanyanya mencoba menghilangkan aura kurang baik di sekitar Yunho.
"AKU BILANG KAU DARI MANA, HAH?" bentak Yunho kian keras. Jujur saja ia benar-benar khawatir ketika tidak mendapati Changmin berada di apartemen ketika ia pulang tadi. Namun emosinya atas perkataan Jaejoong lebih besar hingga akhirnya ia malah terlihat marah.
Changmin tersentak kaget, sesaat tubuhnya bergetar mendengar Yunho berteriak. Selama ia hidup bersama Yunho, pria itu tidak pernah berbicara kasar sedikitpun. Namun kali ini?
"Aku-"
"Apa yang kau katakan pada Jaejoong?" tanya Yunho sebelum Changmin melanjutkan kalimatnya.
"Apa?" Changmin mengernyit tidak mengerti akan arah pembicaraan Yunho.
"Bagaimana bisa kau mengatakan jika kita adalah saudara," seru Yunho berteriak, "kita tunangan Changmin ah, kita akan menikah sebentar lagi."
Changmin menutup matanya. Akhirnya Yunho mengetahui hal itu. Dan akhirnya Jaejoong mengatakan apa yang pernah ia ucapkan. Jadi inikah alasan Yunho pulang cepat? Inikah alasan Yunho marah pada dirinya?
"SHIM CHANGMIN!"
"Yun-" Changmin tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tahu mesti menjawab apa. Mengatakan semua yang ia rasakan hanya akan membuat Yunho semakin marah.
"Kau benar-benar ingin aku kembali pada Jaejoong?"
"Yun-"
"Aku akan melakukannya. Dan tunggu saja hingga pertunangan kita berakhir secepatnya."
Dengan menahan amarahnya, Yunho lebih memilih meninggalkan Changmin dan keluar dari apartemennya. Ia butuh tempat untuk meredakan rasa marahnya akan tindakan Changmin, yang bisa memberi celah bagi Jaejoong untuk merusak pertunangannya.
Perlahan air mata Changmin keluar. Tubuh kurusnya merosot dan terjatuh di lantai. Yunho akan meninggalkannya? Jangan katakan jika Yunho akan mengakhiri hubungan mereka. Changmin meremas dadanya yang terasa sakit. Harusnya ia senang ketika ia dapat mengembalikan Yunho kepada Jaejoong. Tapi kenapa hatinya berkhianat? Kenapa rasanya sungguh sakit sekali?
.
.
Under the Auntumn
.
.
"Ini sudah tiga hari sejak kau meninggalkan apartemen."
"Kau tidak bisa seperti ini terus, Yun!"
Yunho mengusap kasar wajahnya, ketika ia teringat akan percakapannya dengan sang ayah. Sudah tiga hari berlalu dan ia belum juga pulang ke apartemen. Ia masih belum bisa jika harus bertemu Changmin. Ia masih butuh waktu untuk sendiri.
"Appa!"
"Pernikahan kalian semakin dekat dan tidak seharusnya masalah seperti itu menjadi penghambat persiapan pernikahan kalian."
Ia benar-benar tidak menyangka jika kedatangan Jaejoong akan mempengaruhi rencana pernikahannya. Sudah begitu lama, harusnya Jaejoong bisa menerima kenyataan jika hubungan sepuluh tahun yang lalu sudah berakhir.
"Tapi Changmin-"
"Dia hanya terlalu terpengaruh. Kau juga tahu jika ia tidak tahu apapun tentang hari itu."
Yunho memijat pelipisnya. Seharusnya Yunho menyadari dari awal jika jaejoong bisa saja memberikan ingatan palsu kepada Changmin. Ia benar-benar tidak menyangka jika Jaejoong akan melakukan hal itu.
"Appa!"
"Cepat berbaikanlah dengan Changmin."
Yunho bangkit dari kursinya. Mungkin seharuanya ia melihat bagaimana keadaan Changmin. Ia bahkan mendengar kabar dari sekretaris Changmin kalau tunangannya sudah tiga hari tidak masuk kantor.
.
.
HoMin
.
.
Yunho melangkah menuju kamarnya. Ia dapat melihat Changmin tengah tertidur sembari memeluk pakaiannya. Serindu itukah Changmin pada dirinya?
Yunho mendekati Changmin dan duduk di tepi ranjang. Ditatapnya wajah lelah Changmin dengan lingkaran mata yg tebal. Pria itu terlalu lama menangis. Ia jadi merasa bersalah. Sebegitu lelahkan Changmin, hingga masih sore Changmin sudah tidur?
.
Changmin membuka mata ketika mendengar suara pintu lemari yang tengah ditutup. Ia menguap sembari mengusap matanya. Ia menatap ke arah lemari dan mendapati Yunho di sana. Reflek ia bangun dan mencoba menajamkan penglihatannya yang ia pikir sedang berhalusinasi.
Namun ternyata ia salah. Pria di depannya benar-benar Yunho.
"Yun!"
Changmin menelan ludah getir ketika Yunho hanya diam tidak menggubris.
"Kau sudah pulang?"
Pria itu tetap diam dan fokus memakai bajunya. Membuat hati Changmin kembali berdenyut sakit.
Changmin berusaha untuk tidak meneteskan airmata setiap kali Yunho tidak peduli akan kehadirannya. Changmin tahu jika Yunho masih marah terhadap dirinya. Tapi tidak bisakah Yunho menghiraukan dirinya sejenak dengan hanya memberikan sepatah kata sebagai jawaban.
"Yun!"
Yunho hanya diam. Kedua tangannya terburu-buru mengancingkan kancing bajunya. Tidak sedikitpun mempedulikan Changmin yang mulai meneteskan air matanya.
"Aku-"
"Bukankah kau yang menyuruhku untuk bersama Jaejoong? Kau yang terus saja menyuruhku untuk kembali bersamanya." Yunho meraih jasnya di atas ranjang dan berjalan meninggalkan Changmin.
Belum sampai Yunho meraih knop pintu, Changmin menghentikan langkah Yunho. Changmin menarik nafas panjang di saat kedua tangannya memeluk erat tubuh Yunho dari belakang. Air matanya kembali menetes ketika ia merasakan betapa nyamannya punggung Yunho sebagai sandaran.
"Yun..."
"Kau benar, Min!" seru Yunho lirih, "Jaejoong bisa memberi apapun yang aku mau bahkan jika aku menyuruhnya mendesah di bawahku."
Changmin terkejut ketika ia mendengar hal itu. Pelukannya melonggar. Ia memang tidak punya pilihan selain mengembalikan Yunho kepada Jaejoong. Ia telah sembuh dan baik-baik saja seperti yang dikatakan Jaejoong.
"Yun ..."
Yunho mengepalkan tangannya, "kau memang tidak pernah mencintaiku. Kau bahkan selalu menolak ketika aku-"
"Aku akan memberikannya!" potong Changmin cepat, "dari hubungan kita sepuluh tahun ini, hanya itu yang kau minta, bukan?"
Changmin melepaskan pelukannya. Ia menarik tangan Yunho hingga badan besar itu menghadap dirinya. Hingga mata musang itu dapat melihat Changmin berjalan ke arah ranjang dan melepas kaos oblongnya.
"Kau minta aku seperti Jaejoong Sunbae, kan?"
Changmin kembali berjalan ke arah Yunho. Menarik tangan besar itu mengikuti dirinya. Dengan perasaan yang telah bercampur aduk, Changmin mendorong tubuh Yunho ke ranjang hingga telentang. Changmin naik ke atas ranjang besar mereka. Mata memerahnya memancarkan kekecewaan.
Changmin menduduki kedua paha Yunho. Tangannya bergetar ketika perlahan ia menarik resleting celana Yunho. Menarik celana dalam yang Yunho kenakan. Tangannya kian bergetar ketika ia menyentuh milik Yunho yang gemuk itu. Nafasnya tercekat ketika perlahan ia menunduk dan mencoba memasukkan kejantanan Yunho ke mulutnya.
Namun gerakannya berhenti. Katakan ia cengeng ketika air matanya kembali menetes. Dengan emosi ia setengah berdiri dengan lututnya. Bayangan wajah Jaejoong benar-benar membuatnya muak. Ia melepas celana training-nya. Melepas celana dalamnya dan kembali duduk di paha Yunho.
Dengan nanar menatap benda kebanggaan Yunho yang setengah bangun. Ia mengangkat pinggulnya dan mencoba menggeseknya dengan kejantanan Yunho yang perlahan benar-benar bangun. Ia meringis merasakan betapa sakitnya ketika ia mencoba memasukkan kejantanan Yunho. Namun rektumnya menoak. Lubangnya terlalu sempit.
"Kau bahkan menolakku Yun!"
Changmin masih berusaha menurunkan pinggulnya agar kejantanan Yunho mau memasuki dirinya.
"Kenapa tidak bisa?"
Kali ini Changmin benar-benar menangis. Sesulit itukah memuaskan Yunho? Sesulit itukah membuat Yunho senang?
.
Yunho mulai khawatir melihat ekspresi wajah Changmin. Ia tidak bermaksud membuat Changmin seperti itu. Ia hanya ingin memberi pelajaran kepada Changmin agar berhenti menyuruhnya untuk bersama Jaejoong.
"Min?"
Changmin hanya diam. Merasakan ujung milik Yunho mengenai bibir rektumnya.
Yunho semakin khawatir ketika tunangannya itu hanya menunduk dengan kedua tangan yang menyentuh perutnya.
Tanpa bicara lagi, Yunho menarik tubuh Changmin dan membalik posisi mereka. Mengurung tubuh Changmin di bawahnya.
"Bukan begitu caranya!"
Yunho membelai dada Changmin dan mulai mendekatkan wajahnya ke dada Changmin. Menjilat perlahan benda kemerahan di dada tunangannya. Sesekali menggigitnya dengan gemas. Sementara tangan kirinya menjaga keseimbangannya agar tubuhnya tidak menimpa tubuh Changmin, tangan kanannya bergerilya menjelajahi tubuh mulus tunangannya. Mencengkeram batang panjang di pusat tubuh Changmin. Memberikan handjob yang membuat Changmin mulai kehilangan akalnya.
"Enghhh.."
Mendesah dan mulai menggeliat tidak nyaman.
"Kau tidak bisa langsung menelannya Changmin ah!" seru Yunho sembari menatap wajah memerah Changmin yang mulai berkeringat.
Yunho mulai merasakan benda di tangannya kian menegang hingga memuntahkan cairan putih seiring dengan teriakan Changmin.
Yunho melepas kejantanan Changmin dan menjilat jari-jarinya yang dipenuhi oleh cairan Changmin. Melumuri jari-jarinya dengan ludah di mulutnya.
Yunho tersenyum lalu mencium bibir Changmin. Sementara satu jarinya berusaha menerobos lubang Changmin. Walau tidak mudah namun usahanya berhasil. Ia melepaskan ciumannya lalu menarik jarinya dan menenggelamkannya kembali. Membuat Changmin mengerang.
Yakin tunangannya merasa nyaman, Yunho menambah satu lagi jarinya. Menambahnya lagi dan menarik ketiga jarinya bersamaan. Mendorongnya dengan kencang dan mencoba mencari dimana letak kenikmatan titik Changmin. Namun titik itu tidak juga ketemu, membuat Yunho frustasi. Ia tidak ingin menyakiti Changmin, namun miliknya butuh tempat hangat itu. Dengan terpaksa Yunho melepas ketiga jarinya.
"Semua pasti baik-baik saja, Min!" seru Yunho menarik kedua kaki Changmin dan meletakkannya di bahunya, " Kau hanya perlu rileks!"
"Engg!" Yunho berusaha memasukkan kejantanannya. Namun tidak berhasil. Lubang Changmin menutup setiap kali ia mencoba memasukinya. Hingga akhirnya ia mendesak dan nenerobosnya dengan kasar. Membuat Changmin berteriak kesakitan.
"Rileks, Min!" seru Yunho sedikit panik.
"Ini sakit, Yun!" Changmin menarik seprei di bawahnya untuk melampiaskan rasa sakit di bagian bawahnya. ia tidak pernah berfikir jika aktifitas seperti ini akan begitu sakit terasa.
Dengan pelan Yunho menggerakkan pinggulnya. Mencoba mencari dimana titik yang bisa membuat Changmin mendesah. Ia menggeram setiap kali kesulitan menarik miliknya karena lubang Changmin yang sempit.
"Akh!"
Yunho tersenyum ketika mendengar Changmin mendesah. Di sana! Yunho mulai menggenjot dengan cepat.
"Oh shit!" teriaknya semakin frustasi merasakan lubang Changmin yang mencengkeramnya erat. Membuat benda miliknya semakin kesulitan bergerak di tempat yang hangat itu.
Sementara itu Changmin semakin menarik sprei di bawahnya. Tubuhnya terdorong setiap kali Yunho menggejotnya. Rasa nikmat bercampur perih membuat tubuhnya menggeliat.
"Hah ahah!" nafasnya memburu. Ia mengarahkan tangannya memeluk tubuh Yunho. Lubangnya semakin panas. Dan perutnya menegang perlahan.
"Akh haha!" Dada Changmin melengkung ke atas ketika merasakan benda miliknya mulai memuntahkan cairan. Ia menarik nafas panjang merasakan organsme yang kedua kalinya.
Yunho membiarkan kaki Changmin bergelantung di lengannya. Ia semakin membuka paha Changmin agar akses keluar masuk juniornya semakin mudah. Nafasnya semakin berat. Ia mempercepat genjotannya hingga beberapa sodokan sebelum ia keluar, Yunho benar-benar membenamkan miliknya ke dalam lubang Changmin. Ia mendongak dan menutup mata. Merasakan cairan cintanya keluar dan memenuhi perut Changmin.
Dan tubuh besar Yunho jatuh menimpa tubuh Changmin.
Permainan pertama mereka selesai.
"Sepuluh tahun yang lalu, sejahat itukah aku mengambilmu dari Sunbae?" tanya Changmin sebelum akhirnya ia jatuh tertidur. Ia merasa lelah. Bukan hanya karena aktifitasnya dengan Yunho, namun juga karena masalah akhir-akhir ini.
Yunho membuka matanya sesaat setelah Changmin tertidur. Ia melepas kejantanannya dengan pelan lalu beranjak meraih selimut. Dengan pelan ia menutupi tubuh telanjang mereka berdua. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah tunangannya itu. Ia menatap wajah kelelahan di depannya. Dengan lembut ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Changmin.
"Bukan kau yang mengambilku dari Jaejoong. Tapi ... Jaejoonglah yang dari awal mengambil perhatianku darimu."
Yunho membaringkan tubuhnya di samping Changmin dan memeluknya erat. Ia tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya dengan melepas Changmin.
.
.
.
To be Continue ...
