Prince Charming

Presented by Naurovhy

Disclaimer : Naruto Masashi Kisimoto

Rate : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, Alur berantakan , Dll

If you don't like? So, don't read! Happy Readimg all

please RnR

#Untuk keterlambatan fic ini, aku Cuma bisa bilang maaf … gomen minna-san … well, keterlambatan update aku tebus di chap ini ya, sumpah ini panjang bgt lho, smpe 16 lembar aku ketiknya –malah curhat- hahaha … pokoknya kembali selamat membaca ya ^^#

Hari ini adalah saat yang paling tak ingin diingat oleh Hinata, ia akan mengantarkan saudara-saudaranya menuju pengansingan, melepaskan mereka, berpisah dengan mereka, cukup membuat Hinata gusar di sepanjang langkahnya, saat berjalan melewati salah satu ruang tamu utama Hinata mendengar gelak taa dari suara soprano yang indah, karna penasaran ia berhenti dan mengintip melalui pintu utama yangterbuka lebar dan menemukan Yamanaka Ino berbaring di atas sofa bergaris crem dan emas dengan syal merah mudanya terjuntai di atas lengan sofa dan kakinya terlipat di bawah tubuhnya. Wanita berseri-seri dengan tawanya dan matahari sore menyinari rambutnya yang pirang bak sampanye.

'Apa yang dilakukan wanita itu disini? tentunya untuk menemui Sasuke, tapi …'

Hinata tak sanggup meneruskan pikiran itu tanpa menjadi marah memikirkan artinya, lagi pula ia akan menikah dengan Sasuke besok, sesaat setelah Hinata berdiri di sana mata biru sang Diva mengerling kearah Hinata dan pandangannya seketika menjadi tak bersahabat.

Menggertakan rahangnya Hinata berpaling dari pintu ruang tamu dan memaksa kakinya melangkah menuju kamarnya, ia tau rapat yang dihadiri Sasuke telah selesai dan ia berharap Sasuke akan segera menemuinya … 'Kecuali Sasuke membiarkan perhatiannya dicuri oleh wanita teater yang arogan itu' pikir Hinata.

Ia teringat kembali pada semua yang dikatakan Sai beberapa hari lalu, ia tak ingin menjadi peyebab hancurnya kerajaan karna mengikuti tingkah konyol sang putra mahkota, namun ia terikat sumpah setia pada Sasuke, ia tak mungkin menghianatinya. Bagaimana? ia harus bagaimana? dan tiba-tiba emosinya tersulut, betapa munafiknya Sasuke, menyuruh Hinata untuk jujur saat dipenjara sementara ia berbohong tentang motif utamanya

.

"Bagaimana mungkin kau bisa berfikir mengikat dirimu pada gadis kampong yang kurus kering itu?" umpat Ino "Apa kau benar-benar berfikir dia bisa memuaskanmu? biar kuberitahu padamu Loverboy gairahnya akan segera sirna ia tak ada bedanya dengan gadis-gadis lain, dia akan membuatmu bosan setengah mati dan kau akan merangkak memohon kembali padaku … tapi saat itu yang akan kau dapatkan hanya bantingan pintu di depan wajahmu! kau pikir aku membutuhkanmu? aku bisa memiliki pria manapun yang aku mau!"

Sasuke mendesah .

"Aku bisa!" Ino berteriak "Siapapun! Kiba, Sai bahkan raja jika aku mau"

"Demi tuhan bersikap sopanlah sedikit" gumam Sasuke tak terkesan dengan ancaman Ino

"Apakah aku menakutimu Suke? takut aku lebih bisa bersenang-senang di ranajang Tousan-mu? aku yakin aku bisa. dia masih segagah seekor kuda jantan, Raja adalah lelaki sejati tidak sepertimu"

"Dan selama menikah selam 30 tahun, ia tak pernah selakipun selingkuh dari Kaasan-ku, secantik apapun dirimu Ino, kurasa dia tak akan memecahkan rekornya karenamu"

"Kau seorang anak mama, aku akan merayunya hanya untuk membuatmu kesal aku bertaruh di membutuhkan permainan cinta yang panas, karna ratu hanya seorang wanita tua yang kelelahan" cibir Ino

Sekarang bahkan ia mengina Kaasan, pikir Sasuke menahan amarahnya "Ah, sayang sekali kau berfikir begitu, padahal His Majestry memiliki pandangan yang begitu tinggi tentangmu" kata Sasuke enteng.

"Aku tau ibumu membenciku, ia membenci setiap wanita yang mencoba mendekatimu"

"Dia hanya seseorang yang sangat pandai menilai karakter seseorang"

"Dan kau masih terikat dengan tali celemeknya, aku akan mengambil Sai, bagaimana menurutmu?" Ino menantang Sasuke

"Tidurlah dengan tukang kebun jika itu bisa membuatmu senang, sayang. aku yakin aku tidak perduli"

"Bajingan!" maki Ino lalu ia beranjak menuju sofa tempatnya duduk tadi "Aku akan melakukannya, sepupumu begitu tampan dan aku dengar ia sangat tau bagaimana cara memuaskan seorang wanita …."

"Terus terang, aku tidak perduli siapa yang kau bawa keranjangmu, selama kau mengerti bahwa kau tak lagi boleh datang ke kamarku" kata Sasuke kejam, kehilangan kesabarannya

Ino tersentak dengan suara dingin yang digunakan Sasuke kemudian menambahkan "Kau akan bosan padanya"

Saat Sasuke hendak keluar dari ruangan itu ia mendengar sedu sedan, hatinya melesak melihat Ino mulai menangis.

"Kenapa kau membuatku mengatakan hal-hal buruk seperti itu? aku benci padamu! aku mencintaimu dan hanya ingin membuatmu bahagia" Sasuke tau perkataan Ino tak sepenuhnya benar, ia tau ada sesuatu antara Ino dengan sahabat Sasori, tapi kenapa wanita ini tak mengakuinya juga, Sasuke kembali dari lamunannya saat mendengar kembali isakan Ino tetap saja bagaimana pun juga Sasuke sangat menyesal telah menyakiti wanita itu.

Sasuke melangkah menghampirinya, berjongkok di sebelah sofa tempatnya duduk dan memberikan sapu tangan yang beruir namanya, Ino mengambil sapu tangan itu dan menyeka airmatanya.

'Tuhan, apa yang aku lakukan?' Sasuke bertanya-tanya, ia memikirkan Hinata dan menjadi takut. Sasuke membuka lebar matanya dan dengan tenangmempelajari wanita simpanannya, dengan hati-hati Sasuke menaruh tangannya di pangkuan Ino menggenggam tangan wanita itu

"Jangan menangis manis, semuanya kan baik-baik saja"

"Aku tak penting bagimu, kau tak perduli padaku"

"Kau tau itu tidak benar"

"Kau tak akan menikahinya jika kau mencintainya" airmatanya kembali berlinang

"Aku punya kewajiban pada keluargaku dan Konoha, kau tau itu semua ii hanya masalah garis keturunan. aku sudah mengatakannya padamu bahwa ayahku menyuruhku menilih seorag istri"

"Tapi apa hebatnya dia? apakah kau jatuh cinta padanya Suke?"

"Sayang, aku baru mengenalnya beberapa hari, dengar kita tak harus membuat keputusan tentang hubungan kita sekarang dan saat ini juga, mungkin kita perlu beberapa hari untuk memikirkannya. akan akan menemuimu nanti"

"Janji?" Ino meyakinkan

"Hn" dengan sopan Sasuke membungkuk dan mencium tangan Ino, kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu.

'Sialll .. aku terlambat' pikir Sasuke, bergegas menyusuri koridor marmer itu. hanya itulah yang dibutuhkannya – agar calon istrinya membencinya juga.

.

Tak lama kemudian Sasuke berdiri sedikit jauh dari Hinata dan para pengikutnya di deraga kayu, menumpukan cemeti berkudanya di sepatu bot, gusar dan tak sabaran dengan pelukan lama Hinata pada teman besarnya yang bernama Couji.

Meyaksikan perpisahan yang diiringi airmata tersebut membuat Sasuke merasa bagaikan raksasa jahat karna menghukum mereka dengan perpisahan, Sasuke mengeluarkan kotak permennya dari saku dan mengmbilnya sebutir, menghisap sambil merenung. Selain itu, itu dapat membuat mulutnya sibuk dan mencegahnya berteriak, 'Baiklah, baiklah mereka boleh tinggal'. Namun dorongan belas kasihan itu seketika sirna, ketika calon istrinya melepaskan si bocah Konohamaru dan berpaling pada pengikut setianya si mulia Sabaku Gaara, ereka berjalan ke ujung darmaga tampaknya membicarakan sesuatu yang sangat penting.

"Aku perlu kau melakukan ini untukku Gaara, kau satu-satunya yang bisa kupercaya"

"Kau tau aku akan melakukannya, tapi kenapa kau harus melibatkan diri dengan orang-orang ini?" Tanya Gaara marah, angin memainkan surai merahnya "Aku akan kembali disaat aku bisa dan menyelamatkanmu"

"Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri? lagipula kau tidak bbisa datang kesini, jika mereka menangkapmu mereka akan menggantungmu, gunakan kepalamu ibu dan saudara-saudaramu membutuhkanmu"

Gaara menatap Hinata sedih, kemudian menunduk "Aku mengecewakanmu, ini salahku sehingga kau tertangkap dan terpaksa menyerah padanya, ini memalukan …"

"Aku akan baik-baik saja Gaara, aku bisa mengulur waktu sampai raja dan ratu kembali, jika kau sungguh ingin membantuku lakukanlah apa yang kuminta … pergola ke florance dan selidiri tentang lord Shimura Sai"

"Kenapa kau ingin tahu tentang dia?"

"Dia bilang, dia ingi membantuku, tapi aku merasa ada yang tidak beres tentangnya. Sekarang kau ingin melakukan ini untukku atau menjadi orang bodoh?"

"Kau tau aku akan melakukannya"

Tepat saat itu loceng kapal berdentang memanggil Gaara, beberapa pengawal kerajaan mendekatinya untuk menggiringnya kekapal Hinata dan Gaara saling berpandangan dengan sedih …

"Gaara, aku akan merindukanmu" lalu Hinata beranjak untuk memeluknya

"Tidak, jika aku memelukmuaku tak akan bisa melepasmu pergi. Lagipula dia mungkin akan memecahkan kepalaku" gumam Gaara, mengangguk mengisyaratkan kea rah daratan di mana Sasuke menunggu mondar-mandir dengan kepala tertunduk.

Setelah kepergian Gaara dan yang lainnya Sasuke berjalan menghampirinya menawarkan kehangatan tubuh dan kenyamanan belaian pada lengannya, ia mengeratkan pelukannya di sekeliling pinggang Hinata dan menundukan dagunya diatas bahu Hinata "Bagiamana keadaanmu?" gumamnya

"Aku baik-baik saja"

"Mereka akan baik-baik saja, kita akan memastikan itu" Hinata tak merespon perkataan Sasuke "Gaara itu …" kata Sasuke dengan menggangguk kaku, rahangnya mengertak sedikit, seolah-olah ia memaksa untuk mengakui "Dia tampaknya lelaki yang baik"

"Ya, dia pangeran diantara lelaki"

.

Kebisuan canggung menemani mereka dalam kereta kerajaan itu …

"Apakah ada sesuatu yang menggangumu?" Sasuke mencoba mencairkan suasana

"Tidak"

"Hinata"

"Aku ingin pulang" terdengar nada sedih dalam suara Hinata, ia bisa merasakan Sasuke menatapnya namun ia tak ingin balas menatap lelaki itu.

"Rumahmu sekarang bersamaku"

"Itu tidak benar, ada orang-orang yang bergantung padaku, lalu kakek ku …"

"Hinata, kau akan menjadi istriku, menjadi putri mahkota. Tugasmu sekarang kepadaku dan kepada Konoha, aku sudah mengirim sepasukan peawat untuk membantu Maria merawat kakekmu"

"Benarkah?"

"Ya"

"Tapi, kakek membutuhkanku"

"Sayang tenanglah segalanya akan baik-baik saja, aku rasa ini hanya kegugupan sebelum pernikahan" Hinata memalingkan wajahnya dari pandangan Sasuke yang lembut tapi khawatir, menyadari bahwa ia bersikap kasar.

"Kita akan melalui ini, kau tak akan mengingkari janjimu kan?"

"Ini perbuatan gila Suke, kau tau itu kan? kau tak harus menikahiku, apa yang akan dikatakan ayahmu?"

"Selamat kurasa" Hinata memutar lavendernya mendengar jawaban asal Sasuke

"Bukan ayahku yang menjalani hidupku Hinata, ya mungkin diawal dia akan sedikit keras, maklumlah. tapi ketika dia mengetahui masa depan Konoha aman, dia akan melupakan kemarahannya pegang kata-kataku"

"Dan bagaimana kau berniat meyakinkannya akan hal ini?"

"Dengan memberikan cucu laki-laki darimu, tentu saja"

.

.

Ini adalah pesta penikahan termegah sepanjang masa … pesta pernikahan yang dilangsungkan oleh kerajaan pernikahan pangeran mereka Uchiha Sasuke, namun semua itu belum cukup kegemparan seluruh pelosok Konoha adalah karena mempelai wanitanya Sang Penunggang Bertopeng, pahlawan legendaris yang selalu menjadi Robin Hood bagi rakyat jelata Hyuuga Hinata.

Hinata menatap cemas kamar tidurnya, ah bukan melainkan kamar pengantinnya. Kamar ini berada di puncak istana pemandangan yang tersuguh di balkon kamar ini sangat luar biasa namun tak mampu sedikitpun meredakan kecemasan yang di rasakan gadis itu.

Hinata menengok kearah ranjang dengan ketakutan, kemudian ia menatap pintu, aku tak akan pernah bisa menolaknya ia begitu indah dan tau bagaimana cara memikat wanita. Hinata menginginkan pria itu … dan ia akan menghancurkan masa depan Sasuke jika ia menyerah pada keadaan. Sekurang ajar apapun Sasuke, Hinata tak ingin menghancurkan hidupnya, tidak saat ia melihat sekilas sisi rapuh pria itu dan mengetahui seberapa besr cintanya pada Konoha. Hinata tak ingin menjadi alasan Sasuke kehilanngan satu-satunya hal yang benar-benar diinginkannya.

Sementara itu Sasuke sedang menikmati brendi bersama para sahabatnya, menertawakan keputusannya untuk menikah, Setengah jam kemudian ia beranjak menuju kamar pengantinnya, mengunjungi istri kecilnya yang sangat cantik, liar dan juga perawan membayangkannya saja sudah membuat Sasuke menyeringai menakutkan ..

-Cklekk ckleekk- 'terkunci' batin Sasuke , ia tak ambil pusing mengeluarkan kunci cadangan dalam saku celananya dan mulai memasuki kamar megah itu ..

Gelap, itulah kesan pertamanya ia tak menemukan gadis itu dimanapun tiba-tiba perasaan terhianati merasuki hatinya, lalu pandangannya menemukan seonggok pakaian di ujung ruangan yang dapat di pastikan itu adalah pakaian tidur Hinata, lalu dimana gadis itu ?

"Tooloonnggg ….." sebuah suara lirih terdengar dari jendela yang terbuka

Sasuke berjalan kearah jendela itu dan mendapati sesuatu yang menyulut emosinya, namun sesaat kemudian ia menyeringai kembali menikmati pemandangan yang membuatnya sangat terhibur. Disana ada Hinata, dengan pakaian berkuda hitam kebanggaan gadis itu, tengah berpegangan erat pada sebuah menara -bergelayut. Sasuke yakin pasti tangan gadis itu mulai kesemutan.

.

"Tooloonngg …." Hinata berteriak untuk yang kesekian kalinya, buliran keringat membasahi pinggiran wajah Hinata saat ia bergelayut dengan seluruh kekuatannyapada menara yang jaraknya tak lebih dari 4,5 meter dari balkon, tangannya mulai bergetar tak sanggup lebih lama lagi menahan berat badannya, dan disanalah ia melihat Sasuke, bersandar nyaman pada kusen jendela semula pandangannya teramat sangat marah, namun seketika pandangan itu berubah menjadi seringai menyebalkan.

"Apa yang sedang kau lakukan disana sayang?" tanya Sasuke lembut

"Oh, berhentilah bertingkah menyebalkan, aku tersangkut dan aku akan mati"

"Jangan ngawur Hinata, aku suamimu dan aku akan menyelamatkanmu" ucap sasuke lalu memulai aksinya menolong Hinata, ia melompat keluat dari balkon kamar itu dan mendarat pada pinggiran atap dengan .. sempoyongan. "Aku akan menceritakan pada anak-anak kita tentang kejadian malam ini"

"Bahkan" kata Sasuke sambil melompati celah curam "Aku akan menuliskannya dalam sejarah tahunan Konoha, lebih baik lagi aku akan menjadikannya hari besar. Hari memanjat atap bagaimana?"

"Kau mabuk?" tebak Hinata, ia takut bagaimana orang mabuk akan menolongnya

"Tidak aku tidak mabuk, itu bukan tindakan gentlemen kan? lalu bagaimana kau bisa ada diatas sana?"

"Kau gila aku tidak percaya kau mabuk, kau akan membunuh kita berdua"

"Tenang saja sayang, aku pernah melakukan hal yang lebih gila dari pada ini dan aku masih utuh. Kenapa kau memanjat ke atas menara itu? aku yakin arah yang kau tuju itu kebawah"

Hinata cemberut "Aku berusaha kembali"

"Benarkah?"

"Ku-kumohon Your Highness aku tak tau berapa lama lagi aku dapat bertahan"

Sasuke menyeringai "Apakah kau akan memelukkuseerat kau mencengkeram menara itu?"

Hinata memejamkan matanya rapat-rapat "Aku benci dia Kami-sama. Aku benci dia" Hinata mendengar tawa Sasuke, ia mebelalakan matanya "Ini tidak lucu"

"Ah benar ini yang akan kita lakukan" ia melompat kembali mengangkangi dua sisi atap yang ada disana dan menyamankan posisinya berada di bawah Hinata.

"Lepaskan pegangan tanganmu" perintah Sasuke

"Tidak" tidak Hinata tidak gila, Sasuke berdiri diantara dua atap berpijak pada kakinya, Hinata dapat melihat pria itu sempoyongan ia yakin Sasuke mabuk. dan apa katanya tadi melepaskan pegangannganya? tidak akan pernah.

"Percayalah padaku"

"Kita akan jatuh"

"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh" tegas Sasuke "Lepaskan tanganmu perlahan, aku akan menangkapmu"

"Ti-tidak …"

"Percayalah padaku Hinata, aku akan menangkapmu" Lalu Hinata perkahan melepaskan pegangannya, sesaat kemudia gravitasi menguasai tubuhnya dan ia mendarat pada sepasang tangan kokoh yang menangkapnya mantap.

.

Setelah melakukan aksi heroic bersama istri cantiknya Sasuke mendudukan pengantin barunya di balkon kamar mereka menikmati indahnya malam

"Aku bertanya-tanya apakah akau akan mendapat hadiah ciuman?" Hinata memandang Sasuke, matanya menyipit, Sasuke tersenyum jahil "Tidak?"

"Kita masih diluar"

"Jangan salahkan aku karna bersaha, pasti karna celana panjangmu yang ketat itu benar-benar menyiksa imaginasi seorang pria, kalau kau tak keberatan ku katakan" Ia berbaring terlentang di balkon, melipat tangannya di belakang kepala "Malam yang indah kau tau, kau adalah yang pertama sungguh-sungguh yang pertama, selama ini para wanita membahayakan hidup mereka untuk masuk kedalam kamarku, tapi kau malah membahayakan nyawamu untuk keluar dari kamarku"

"Maafkan aku Sasuke"

"Well, si bodohku yang mungil, kurasa kau sudah dimaafkan"

"Benarkah?"

"Sudah kubilang hanya satu hal yang bisa membuatku marah"

"Berbohong"

"Ya"

"Sasuke-kun"

"Ibuku memanggilku Sasuke-kun kau tau" cahaya bulan menyinari wajah Hinata saat Sasuke menatapnya "Kau memiliki mata yang indah" ia mengulurkan tangannya menagkup wajah Hinata "Aku bisa merasakan kau merona dibawah tanganku"

"Apa kau merayu semua wanitamu dengan cara seperti ini?"

"Well, aku tak harus selalu menyelamatkan mereka dari ketinggian tang berbahaya, tapi secara teknis, Ya"

"Berarti ini teknikmu ya?"

"Tidak, aku tidak punya teknik, karna rayuan itu kau tau bukanlah ilmu, rayuan adalah seni. Dan kau sayang, berada di tangan seorang Michelangelo"

"Apakah kau akan … well, lupakan saja, tentu saja kau akan melakukannya, betapa bodohnya aku .."

"Apa?"

"Lupakan saja"

"Apa Hinata? apakah aku akan merayumu?" bisik Sasuke parau

"Bukan, bukan itu pertanyaan ku" Hinata tercekat karna syok

"Apa yang kau pikirkan?"

Hinata menundukan wajahnya, sangat malu untuk mengatakannya namun ia harus memastikan bahwa Sasuke serius padanya "Kau … kau tentunya akan tetap berhubungan dengan wanita simpananmu Ms. Yamanaka?" Sasuke tak kunjung menjawab, Hinata cepat-cepat menambahkan "mungkin lebih baik jika kita masuk dan melupakannya …" ia akan beranjak saat lengan kekar Sasuke menahannya dan menghujani bibirnya dengan ciuman-ciuman.

"Kau menghindari pertanyaanku dengan keahlian bercumbumu"

"Aku tak menghindarinya, aku hanya ingin mencium istriku. Apa itu salah?"

"Jadi? apa jawabannya? atau kau tak mau memberitahuku?"

Sasuke menggeleng "Hanya saja aku tak suka melakukannya"

"Kau jatuh cinta padanya?"

"Sama sekali tidak, hanya masalah prinsip"

"Prinsip apa?"

"Well, jika aku harus mematuhimu dalam masalah ini, kemudian kau akan berfikir bahwa kau bisa menindasku seenaknya seperti para pemuda petani anak buahmu itu …"

"Aku yakin, aku tak pernah meninda siapapun"

"Disisi lain jika alasanmu menanyakannya untuk dirimu sendiri karna … kau cemburu, aku tak punya alasan untuk menolaknya" Sasuke menyeringai penuh kemenangan

"Apakah ada yang pernah memberitahumu kalau kau ini pria arogan tak berguna?"

"Aku?" ucap Sasuke dengan nada tidak percaya "Aku sudah memindahkannya dari istana, aku tak akan membuat istriku malu"

"Well, terima kasih karna memikirkanku"

"Yakin tidak menginginkanku untuk dirimu sendiri? sebaiknya kau bicara sekarang atau diam selamanya, aku serius kau lebih baik mengklaimku jika kau menginkanku" Sasuke kembali menggoda

"Apa untungnya bagiku?"

"Kau tak akan pernah tau"

'Sekalian saja aku meminta bulan' batin Hinata mencibir … "Sasuke-kun?"

"Ya Hinata"

"Apa kau kaget karna aku berusaha kabur?"

"Tidak"

"Apa kau terkejut karna aku kembali?"

"Tidak"

"Tidak?" beo Hinata, terkejut dengan jawaban Sasuke

"Kau sudah berjanji, ketakutan sementara itu wajar mengingat situasinya,tapi kau sudah berjanji aku tau kau bukan pengecut"

Hinata memalingkan wajahnya menyembunyikan kekalutannya "Sasuke-kun?" Hinata memanggil lebih pelan

"Ya Hinata"

"Maaf, aku sudah memukulmu dan menendangmu dua kali, walaupun kau pantas mendapatkannya"

"Maaf aku sudah menembakmu" timpal Sasuke murung

"Kau punya alasan tepat, aku memang merampokmu" ucap Hinata sedih

Sasuke berpaling menatap Hinata, sorot matanya bingung

"Apa?" tanya Hinata

Sasuke menggeleng, kemudian tawanya pecah, pelan dan parau

"Ada apa? aku tidak melihat ada yang lucu disini … apa kau mengejekku lagi?"

"Husss" Sasuke menunduk dan mencium bibir Hinata, masih tertawa pelan "Aku sungguh-sungguh yakin aku terpesona padamu Princess Uchiha Hinata"

"Simpan saja rayuanmu itu Suke" kata Hinata ketus sambil tersipu, tapi senyuman tipisnya memberitahukan Sasuke kalau ia senang.

Sasuke bangkit berdiri dan membungkuk mengulurkan tangannya 'Ayo masuk"

.

.

Dalam keremangan kamar itu Sasuke kembali meciun bibir lembut Hinata, ciuman basah itu berlanjut kearea wajah Hinata, ke lehernya kinI Sasuke tengah berusaha membuka baju Hinata, membuah gadis itu terlena dengan segala sensasi yang baru pertama kali di alaminya. Saat Hinata merasakan tangan Sasuke tengah menangkup mantap payudaranya saat itu ia tersadar, ia tak ingin menghancurkan lelaki di atas tubuhnya ini.

"Tidak tidak, aku tidak mau" teriak Hinata

"Apa yang kau katakan?" Sasuke masih dengan aksinya

"Lepaskan aku" Hinata mulai berontak bergerak menendang kesegala arah merasakan Sasuke sudah membuka pakaiannya dan kini pria itu tengah menekan pinggulnya diantara kedua paha Hinata

"Aku menginginkanmu sekarang" kemudian Sasuke mulai memasuki Hinata yang rapat dan panas, setiap waktu adalah rasa sakit yang menyiksa.

"Jangan .. jangan" Hinata mendesah saat Sasuke mendesak masuk di antara kedua pahanya dan membuainya

"Aku tidak mau menyakitimu, demi Kami-sama melawan hanya akan membuatmu sakit, aku tak ingin menyakitimu Sayang, biarkan aku masuk"

Ketakutan dan gairah Hinata berada dipuncaknya secara bersamaan, ia memejamkan matanya rapat-rapat dan meringis "Sasuke!"

Sata Sasuke menuntun dirinya dengan sebelah tangan yang bergetar, kesadaran menerobos dalam kabut gairah yang tebal bahwa Hinata mulai menangis, ia memandang ke bawah kearah Hinata nadinya berdebar bagaikan derap kaku kuda pacu. Gadis itu tak menangis ketika ia ditangkap, dipenjara, diintrogasi, dipaksa mengucapkan perpisahan dengan teman-teman yang bersamanya seumur hidupnya, bahkan ia juga tak menangis saat perdana mentri berteriak padanya. Ia bahkan tak menangis dihari pernikahannya, tapi sekarang ia menangis, gadisnya yang liar dan pelanggar hukum itu kini menangis dan mengigil di bawahnya.

Karena ketakutan pada dirinya. Sasuke menyingkir membiarkan Hinata terbebas dari kukuhannya.

.

"Keluar" kata Hinata dengan suara bergetar beberapa saat kemudian, dengan pakaian yang berantakan berdiri di dinding terjauh sambil mengacungkan pedang milik Sasuke. "Kubilang keluar" katanya sekali lagi

Sasuke menoleh kearah Hinata "Aku tidak akan kemana-mana"

"Aku serius! keluar dari sini"

"Apa yang akan kau lakukan Hinata? menusukku?"

Hinata sedikit bergetar "kurasa itu memang seharusnya yang aku lakukan. Aku seharusnya membunuhmu sekarang untuk membantu kerajaan ini dan wanita diseluruh dunia"

"Jangan bicara atas nama wanita di seluruh dunia sampai kau menjadi wanita, gadis kecil"

"Apa maksudmu?"

"Itu artinya kau hanya gadis kecil ketakutan dan tak tau apa yang kau lakukan, tapi jangan takut, aku belum membuatmu menjadi wanita seutuhnya. Beraninya kau menolakku setelah semua yang aku lakukan untukmu"

"Aku mencoba membantumu" bantah Hinata

"Membantuku? apa yang sebenarnya kau bicarakan?"

"Aku tau soal lima orang putri yang ditawarkan padamu, jika aku menolakmu pernikahan ini akan dibatalkan saat raja kembali, kau bisa menikahi salah seorang dari mereka dank au tak akan kehilangan takta! kau bisa kehilangan kerajaan karna aku Sasuke, aku tak akan membiarkan ini terjadi Konoha membutuhkanmu"

Sasuke memandang Hinata dalam kegelapan, kemarahannya menggelegak "Siapa yang mengatakan ini padamu?" tanyanya dengan nada siap membunuh

"Tak masalah siapa yang memberitahuku, aku benar-benar tak ingin menyulitkanmu. Yang penting adalah kau mengampuniku dan teman-temanku, dan kini menjadi tugasku, sebagai balasannya, hanya melindungimu!"

"Kewajibanmu ….? Sialan, Hyuuga Hinata kau ini istriku! mematuhiku … tidur bersamaku … adalah kewajibanmu!" Sasuke menggeram melangkah kearah Hinata tatapannya nyalang "untuk sekali saja dalam kehidupan sembronomu, kau akan melakukan apa yang akau katakana! sekarang aku memerintahkanmu sebagai pemimpin dari lordmu, beritahu aku siapa yang memberitahumu!"

"Sai" pekik Hinata, ketakutan akan aura hitam yang dikeluarkan Sasuke

Sasuke membeku "Sai …?"

"Dia telah memberitahuku segalanya, Sasuke aku tak ingin kau kehilangan semua ini"

"Tunggu dulu, kapan Sai memberitahumu?"

"Kemarin"

"Kemarin? dan apa yang akan kau lakukan … menolak menyerahkan dirimu padaku? kau tahu ini kemarin? bersekongkol dengan sepupuku mengatur rencana ini?" Hinata membisu mendengar tuduhan Sasuke

"Ayo Hinata, katakan segalanya. Kau mengatakan berjanji padaku … di gereja dan semua orang hari ini … kau berjanji padaku dan itu adalah kebohongan? apa kau juga sedang berbohong disana hari ini?"

"Kau tak mengerti" airmata Hinata kembali tumpah

"Kurasa aku mengerti"Sasuke memandang Hinata, mungkin gairah dan harga diri telah menutupiotak Sasuke, tapi yang dapat dipikirkannya dalah peristiwa Shion terulang lagi dan ia telah berjalan kearah perangkap yang dibuat oleh seorang wanita yang tidak berperasaan.

Gadis yang tampak begitu polos, begitu muda.

Sasuke benar-benar bodoh.

"Pembatalan pernikahan ya? kau berniat menipuku bahkan sebelum kau melangkahkan kaki ke gereja" katanya getir "mungkin kau sudah berdusta dari awal. Tentu saja, di penjara kau akan mengatakan apa saja untuk menyelamatkan leher indahmu kan? dan leher Gaara"

"Itu tidak benar, aku tulus! aku berusaha melindungimu Sasuke"

"Kau hanya perduli pada dirimu sendiri dasar maling pembohong! kau sudah berjanji padaku, semua orang memperingatiku untuk tidak percaya padamu"

"Aku perduli padamu"

"Benarkah?" Sasuke mengangkat alisnya "Kalau begitu naiklah keranjang itu, bukalah kakimu dan buktikan padaku kau bukan pembohong"

"Jangan pernah berkata seperti itu padaku, aku bukanlah pelacurmu dari teater"

"Sialan kau" bisik Sasuke, bahunya merosot "kau memanfaatkanku"

"Aku memanfaatkanmu?" ulang Hinata tak percaya "Kau yang memanfaatkanku, kau mengatakanya dengan jelas di depan wajahku menyembunyikan motif utamamu, dan sekarang aku sudah tau segalanya, kau melakukannya untu menyerang ayahmu"

"aku tidak memanfaatkanmu untuk menyerang ayahku, aku muak dan letih selalu dikendalikan, kau juga tak bisa mengendalikanku, sial kau, kau seharusnya mendukungku" Sasuke semakin mendekat

"Mundur!" bentak Hinata kembali mengacungkan pedangnya

"Aku tak akan menyentuhmu istriku, aku hanya menggunakan ujung pedang itu"

"Untuk apa?" Sasuke tak menjawab malah menggores ujung ibu jarinya "Untuk apa kau melakukan itu?"

Sasuke berjalan ke ranjang menyingkap selimutnya, memncet jarinya agar darah itu semakin banyak lalu mengoleskannya di seprai tersebut, Hinata menurunkan pedangnya, menatapnya dengan bingung.

"Apa ini cukup untukmu?" Hinata masih tak mengerti, hingga Sasuke membuka pintu di sebelah ruangan itu dan menyerahkan seprai bernoda itu pada pelayan

Terlambat menyadari apa yang dilakukan Ssuke, Hinata berteriak "Sasuke! Hentikan!"

Dengan cepat Sasuke menutup pintu, menahannya dengan badannya dan tersenyum sisnis penuh kemenangan pada Hinata "Dasar pria keras kepla sombong! apa yang sudah kau lakukan?" tuntut Hinata

"Tak aka nada pembatalan pernikahan cintaku, saat ini kau terebak bersamaku selamanya"

"Pria jahat dan arogan, kau benar-benar seperti anak kecil" Hinata menggelengkan kepalanya

"Aku memang mempunyai karisma seorang pemuda"

"Bukti yang kau bilanng tidak akan berpengaruh apa-apa saat mereka mengetahui aku masih perawan, dan aku tau kau tidak akan memasksaku untuk melakukan hal itu"

'Tidak akan' aku Sasuke dalam hati "aku tak perlu memaksamu Hinata, kita lihat seberapa lama kau akan bertahan"

TBC

Mind To Review ?

hiru neesan :: waduh maaf soal typonya yaaa … nani akan aku ungkap apa motif sebenarnya sai melakukan segalah hal tsbt .. dan untuk Hinata, kepribadiannya sebenarnya itu kuat dan tegas, soal jadi lemah karna Suke itu ya cos dia kan suka ditambah pesona Uchiha yang tak terelakkan #hahahaha semoga yang ii ga banyak typonya ya …

kensuchan :: sebenernya Suke suka sama Hina, tapi di amsih trauma karn apernah punya pengalaman buruk dulu hehehehe

hinatauchiha69 :: I hope too … sai …dia adalah tokoh kunci klimaks dalam fic ini hehehe

Cahya LavenderUchiha ELFishy :: dulu Suke cuma bilang 'untuk memenuhi perintah tou-sannya' padahal sebenarnya niatnya 'untuk melawan segala otoritas tousannya' itulah yng di kasih tau Sais ma Hina, makanya dia kaget bget di tambah 5 orang calon putri mahkota itu, begitu cantik hehehe

re :: hai … hehehe ga salah kan aku bilang dy Prince charming … hwehehehehe .. motif sebenarnya Sai, nanti aku kasih tau .. stay tone terus ya ..

Hinataholic :: wookkeee

Rini Andriani Uchiga :: maksudnya Sai masih aku rahasiain ya .. biar jadi klimaks nanti hhehehehe .. semua yang diomongin Sai benar ko .. kan udah ada d chap sebelumnya … oke ini sudah lanjuttt

yamanakavidi :: aduh maaf ya vidi-san baru bisa update sekarang hehehe .. gomen gomen ..