Hallo, Minna-san! HISASHIBURI NEE! /capsnya/
Gomenasai aku habis Long Hiatus, udah sekitar 3 bulan gak update fic.
But now, I'm back!
Aku gak tau apa masih ada yang inget cerita ini atau enggak? T^T
Hontouni gomenasai /bows/ Aku sekarang mulai aktif nulis fic lagi, terlebih setelah FT lanjut lagi xD
Ya sekian bacotnya, silahkan baca ceritanya dan jangan lupa di tunggu reviewnya! Arigatou!
Because I'm Stupid
Chapter 4 : He is Natsu Dragneel
Natsu tersiksa oleh banyaknya pertanyaan yang menggelayut di pikirannya, tersiksa karena sesuatu di hatinya terasa remuk bersamaan dengan menetesnya air mata Lucy. Genggaman tangannya masih melingkari tubuh Lucy yang gemetar. Tidak tahu harus berbuat apa, karena ia tahu, berkata-kata manis tidak akan merubah keadaannya saat ini. Lagipula Natsu tidak begitu mahir merangkai kata indah.
"Aku sudah... tidak apa-apa." Ungkap Lucy melepas pelukan. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena telah menangis di depan orang yang paling tidak boleh melihat kelemahannya.
Natsu tersenyum lega menatap Lucy, "Syukurlah, ... tapi kau yakin?" Tanyanya.
Ada jeda sesaat sebelum Lucy menjawabnya, "Y-Ya..." Ucapnya lirih masih menyisakan isak.
Tanpa ba bi bu, Natsu beranjak, berjalan beberapa meter dari tempat Lucy terduduk. Lucy melihat punggung Natsu yang menjauh. Hatinya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh seorang lelaki di hadapannya. Perasaan takut masih menyeruak namun ia menepisnya dengan gelengan keras, ditatapnya Natsu, perasaan takut itu sedikitnya tersapu.
"Pintu geser... Jika aku mendobraknya apa tidak masalah?" Gumam Natsu menimbang-nimbang dampak apa yang akan terjadi jika ia melakukannya.
Lucy mendengar gumaman itu dan berkata, "...Pintu itu sudah tua... kurasa tidak masalah." Tanggap nya.
Natsu hanya tersenyum tipis ketika suara Lucy terdengar ditelinganya, "Baiklah, aku tidak akan segan kali ini." Ia mundur beberapa langkah dari pintu, tak lama setelahnya, kakinya kanannya terangkat, menendang pintu kayu yang terpampang di hadapannya.
Pintu itu masih belum terbuka; Seakan kokoh tak membiarkan siapapun menjatuhkannya. Natsu belum menyerah – itu baru tendangan pertama, pikirinya. Ia memasang kuda-kuda bersiap hendak menghadiahkan tendangan selanjutnya, sebelum sesuatu menghentikannya. Lucy telah berdiri di sampingnya, menatap pintu itu. Ekspresi heran nampak nyata di wajah Natsu, memandangi Lucy yang tengah siap dengan kuda-kuda menendangnya. Natsu tersenyum tipis, kekuatannya serasa dapat meningkat 100 kali lipat ketika ia bisa berdiri berdampingan dengan Lucy seperti ini. Tidak banyak berpikir, mereka mengangguk, seolah merupakan isyarat untuk menendang pintu.
DUAKK!
Setelah mendapatkan sebuah tendangan ganda dari kekuatan Natsu dan Lucy, Pintu tua itu mendarat di lantai. Tanpa sepatah kata yang tercipta, Lucy dan Natsu tersenyum bangga, seolah mereka telah mengalahkan komplotan mafia bersenjata tajam.
Kegaduhan singkat itu disadari oleh seorang guru yang hendak menuju ke Lapangan. Dari jauh, Guru itu meninggikan suaranya, mencoba mencaritahu siapa dalang dari rubuhnya sebuah pintu di gedung tua. Tanpa ini itu, Natsu menarik tangan Lucy, membawanya berlari meninggalkan gudang itu. Lucy membatu sesaat, namun tidak melakukan penolakan atas apa yang Natsu lakukan.
Mereka membawa tas mereka yang tergeletak di bench, dan segera berlari meninggalkan Gedung Olahraga. Segala hal saat itu bagi Natsu dan Lucy seperti melambat, membuat mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tangan Natsu masih memegang pergelangan tangan Lucy, Lucy menatapnya dan tidak dapat mengelak senyum yang perlahan mengembang di wajah cantiknya.
Natsu seolah dapat memutar balikan keadaan, baru beberapa saat lalu Lucy merasa ketakutan yang tak berujung, namun kini, semua itu tersibak dengan kehadiran Natsu- yang entah mengapa selalu ada di saat yang tepat.
"Hahh... Hahh..." Helaan nafas tersengal mereka saling berpacu, Natsu dan Lucy masih dengan seragam olahraga mereka, terhenti di halaman belakang sekolah. Mereka berdiri bersandarkan tembok, yang menjadi penopang tubuh lelah mereka saat ini.
Natsu yang telah berhasil mengatur nafasnya perlahan melepas pegangannya, tidak mau mengambil resiko lebih - di hajar oleh Lucy, karena olahraga tambahan ini sudah cukup membuatnya lelah. "Hampir saja..." Ucap Natsu mengepak-ngepakan kerah jersey-nya. "Lucy, kau masih punya air?" Tambahnya mengipas-ngipaskan tangan ke wajahnya yang berkeringat.
Lucy membasuh pelan keringat yang mengucur di keningnya, kemudian menatap sebal kearahnya, "Sayang sekali seseorang sudah menghabiskannya tadi." Tukasnya.
Mulut Natsu terbuka sedikit menganga, hendak mengatakan pembelaan tapi ia tahu itu tidak akan berguna. Tidak, mengingat tatapan tajam mencekik yang ia dapatkan dari Lucy. "Ahaha... maaf..." Ungkapnya tertawa kaku.
Tak menggubris permintaan maaf Natsu, Lucy sibuk dengan pikirannya. Tiba-tiba goresan kemerahan timbul di pipi Lucy, ingatannya terlempar pada kenyataan masalah ciuman tidak langsung sebelumnya. Ia menyibaknya dengan menggeleng keras, mencoba tidak terlalu menghiraukannya, ia kini hanya bisa diam mengumpat dalam hati. Ekor mata Natsu menangkap gerak-gerik Lucy yang tiba-tiba berubah. Ia mungkin tahu alasan dari sikap Lucy itu.
Natsu berdeham, "Ekhemm... Walaupun tidak langsung... Aku sudah mencurinya." Ucap Natsu tersenyum jahil kearah Lucy yang otomatis membuat wajah Lucy memerah, lebih merah dari sebelumnya.
Ucapan Natsu itu seolah mencekiknya, Lucy terpekik. "A-A-Apa maksudmu?" Tanya Lucy terbata bukannya ia tidak tahu apa maksud Natsu, namun itu benar-benar tak terduga olehnya. Telapak tangan Natsu kini menempel di tembok tempat Lucy bersandar, tepat di samping pipinya. Natsu berdiri di depan Lucy.
Natsu menatap dalam mata coklat milik Lucy, "Bagaimana jika kita buat itu menjadi langsung dan nyata?" Goda Natsu masih dengan senyuman khasnya, yang mungkin terbumbui dengan kejahilan. Ditambah lagi sebenarnya senyuman itu membuat jantung Lucy berdetak tak karuan. Apalagi melihat wajah Natsu yang tampan -namun, selalu tidak di akui oleh Lucy, tapi gadis mana yang tidak terpikat dengan pesona seperti ini? Gadis mana yang tidak tersipu saat seorang Natsu Dragneel seperti ini?
Lucy tersudutkan, Lucy terpojokkan. Posisi yang kurang menguntungkan baginya. Ia bisa saja tinggal menendangnya atau memukulnya atau menginjak kakinya seperti hal yang biasa ia lakukan, namun entah mengapa tubuhnya seolah tidak mengikuti perintah dari otaknya. Lucy mengerahkan kekuatannya untuk menghindar, ia berbalik mencoba terbebas dari tatapan Natsu, namun langkahnya di halangi tangan kanan Natsu. Belum berakhir sampai disitu, Lucy berbalik arah lagi, mencoba menghindar, tapi tetap menemukan jalan buntu.
Lucy menunduk, tak kuasa menatap wajah Natsu apalagi bila bertemu mata onyxnya. "N-Natsu..." Ucap Lucy yang terdengar memohon ada nada ketakutan di dalamnya.
"Iya... Lucy?" Suara lembut mengalir dari pita suara Natsu. Lucy menelan ludahnya.
Tangan kiri Natsu memegang pelan dagu Lucy, seketika semua roh Lucy serasa tertarik keluar dari tubuhnya. Lucy memejamkan matanya. Tidak mau berhadapan langsung dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun ia tak tahu apa yang akan terjadi. Tangan Natsu tak lagi memegang dagu Lucy. Lucy sedikit lega, namun masih enggan membuka matanya. Natsu menyatukan jari tengah dan telunjuk tangan kirinya, kedua jari yang biasanya membentuk V-sign namun ia merapakannya, entah apa yang Natsu rencanakan, sedangkan tangan kanannya... kini menutupi kedua mata Lucy.
Kedua jari Natsu itu menyentuh bibir miliknya sendiri yang mengukir senyum, dan dengan perlahan kedua jari yang baru saja ia tempelkan di bibirnya, ia sentuhkan ke bibir tipis, lembut, berwana pink milik Lucy. Lucy tidak melihat apapun selalin merasakan kedua jari Natsu menyentuh bibirnya.
Natsu berbisik ke telinga Lucy, "Aku telah mendapatkannya." Ungkap Natsu menyeringai.
Hembusan nafas Natsu yang terdengar jelas—bukan, sangat jelas di telinga Lucy membuatnya merasa tersihir. Tetapi ia ingat, ia bertekad untuk tidak terlalu dekat dengan Natsu. Lucy yang telah mengumpulkan kembali keberaniannya akhirnya menghujamkan pukulan tepat ke perut Natsu.
"Uggghh...Itte..." Rintih Natsu.
Wajahnya memanas, Lucy mengutuk dirinya dalam hati. "A-Apa yang telah kau lakukan, bodooohhh!" Teriak Lucy menutup mulutnya. Natsu kemudian hanya terkekeh.
"Tidak ada, aku tidak melakukan apapun." Balas Natsu santai, ia menggeleng, mengangkat kedua bahunya. Ada ekspresi puas tersirat di wajahnya. "Wah, aku sudah terlambat. Maaf Lucy, aku harus segera pulang~ Jaa nee!" Pamitnya melambaikan tangan dan tak lupa menunjukan grin nya pada Lucy yang sedang mematung di tempatnya.
Deg. . deg... deg...
Jantung Lucy berdetak kencang, ia kemudian mengehela nafas panjang. "S-Sebenarnya apa yang dia lakukan? Membuatku terkejut saja." Ia memegang kedua pipinya, tak kuasa membayangkan hal yang Natsu lakukan.
Sudahlah! Lupakan, Lucy!
.
.
Natsu berjalan cepat menuju tempat dimana sepedanya di simpan. Ia mengayuhnya cukup cepat, hari ini ia harus menghandle pekerjaan Ayahnya untuk sementara oleh karena itu ia bergegas pulang. Sementara kakinya mengayuh sepeda itu, pikirannya menerawang, memikirkan siapa lagi jika bukan Lucy. Bibirnya mengukir senyum, mengingat apa yang baru ia perbuat. Mungkin tidak begitu berarti karena Lucy tidak mengetahuinya, tapi itu sangat berharga bagi Natsu.
Tak terasa - berkat lamunan panjangnya - Natsu akhirnya tiba di rumahnya. Seperti biasanya tak ada siapapun disana. Lelaki berambut merah muda itu berniat untuk mandi, menyegarkan tubuhnya yang penuh keringat karena sudah berolah raga di sekolah. Ia melepaskan jerseynya dan memasuki kamar mandi. Tetes-tetes air yang berasal dari shower itu perlahan membesar, membasahi sekujur tubuhnya yang bidang. Natsu menunduk di bawah guyuran shower, rambut merah mudanya menutupi mata kirinya. Diangkatnya tangan kanannya kemudian ia melepas perban yang membalutnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi ayah, apa yang kau sembunyikan dariku?" Gumam Natsu pelan dan mematikan showernya seraya mengambil handuk. Setibanya di kamarnya- masih dengan topless- ia membuka lemarinya, mengeluarkan kemeja biru dan tuxedo hitam dari sana. Ia mengenakannya, mata onyxnya menatap sekilas pantulan dirinya di cermin dan tersenyum.
"Yosh!" Ucap Natsu ketika mulai menghidupkan mobilnya dan melaju menuju perusahaan ayahnya.
.
.
03.35 PM – Unknown Place
"Lucy Heartfilia, uh?" Tanya seorang lelaki memangku dagunya.
"Ya. Aku melihat dia bersama Natsu Dragneel berboncengan mesra menaiki sebuah sepeda saat kau dirawat di rumah sakit." Jawab temannya yang kini sedang memutar mutar sebuah pistol di mejanya.
"Ho, pacarnya?" Ucap lelaki berambut pirang itu.
"Kemungkinan besar. Apa rencanamu?" Tanya lelaki berambut hitam di sampingnya.
"Sudah jelas. Bila untuk mendekati Dragneel dan Igneel memang sulit, kurasa aku tidak punya pilihan lain."
"Perlu kau ingat, Lucy Heartfilia juga merupakan anak dari Jude Heartfilia, orang terkaya yang ada di kota ini.
"Aku sangat mengetahui itu, Rogue." Ujarnya yang terdengar berintonasi pelan.
Lelaki bernama Rogue itu mengangkat alisnya, "Apa maksudmu? Aku yakin ini pertama kalinya aku menceritakan tentang Lucy Heartfilia." Ungkapnya sedikit tersentak.
Lelaki berambut pirang itu tersenyum – sebuah senyuman yang penuh arti namun terlihat kosong. "Itu tidak penting." Jawabnya singkat.
.
.
Lucy menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas kasur empuk miliknya. Diraihnya sebuah boneka yang menyerupai seekor anjing namun memiliki hidung yang serupa dengan alat bor, sekujur tubuhnya berwarna putih dan Lucy menamainya – Plue – yang sejak tadi terletak di samping tempat tidurnya. Gadis berambut pirang itu mengangkat boneka itu dan berguman pelan – seolah sedang berbicara dengan boneka itu. "Hey, dengar..." belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Lucy tiba tiba merasa seperti orang bodoh.
Apa yang aku lakukan? Tepatnya, ada apa denganku? Seperti orang bodoh saja.
Drrtt... Drrtttt...
Ponsel Lucy yang tergeletak di sampingnya bergetar, menghentikan umpatannya dalam hati. Mata coklatnya menatap layar ponsel yang menunjukan bahwa ayahnya sedang menelepon –jarang sekali.
- Ayah?
- Lucy, langsung saja, bisakah kau keruangan kerja dan mengambil sebuah file di atas meja kerja ayah?
- A-Ah, Ayah lupa membawanya? Baik aku sedang berjalan kesana.
- Ya, Ayah sedang menghadiri sebuah pertemuan dengan perusahaan penting. Suruh Kaby untuk mengantarkannya ke Perusahaan tempat ayah berada sekarang.
- Tentu Ayah. Umm- ah, Kaby-san sedang tidak ada, Ayah.
- Apa? Itu file yang penting dan akan kugunakan sekarang.
- Biar aku saja yang mengantarnya, Ayah.
- Oh, kau mau? Baiklah, Ayah akan mengirimkan alamat perusahaannya padamu, setelah ini.
- H-Hai'
- Terimakasih, Lucy.
- Ne, Otou-sama.
.
.
Natsu tengah berkutat dengan layar di depannya. Sebuah pemandangan yang tidak sering di jumpai – mata onyxnya terhalang sebuah kaca mata – membuatnya terlihat sangat jauh berbeda dengan Natsu Dragneel yang selama ini dikenal. Jari-jarinya dengan cermat mengetik runtutan kalimat di dalam sebuah dokumen. Lelaki muda itu melonggarkan dasi yang sejak tadi –seolah mencekiknya –terpasang di lehernya dan menghembuskan nafas pelan.
Pantas saja ayah lelah dan sempat berfikir untuk pensiun. Batinnya dalam hati.
Tok, Tok..
"Masuk..." Ucap Natsu ketika mendengar pintu di ruangannya terketuk.
"Hai..." Seorang pria paruh baya memasuki ruangan Natsu dan membungkuk sopan. "Tuan Muda Natsu, saya membawa beberapa dokumen mengenai laporan pengembangan saham perusahaan."
"Oh, sudah datang rupanya." Ucap Natsu melemparkan pandangan pada tumpukan dokumen yang di pegang oleh pria paruh baya itu.
"Saya harap anda memeriksa semuanya karena keputusan dari anda akan segera saya sampaikan kepada setiap pemilik saham. Serta... anda di harapkan dapat hadir di rapat koordinasi dengan kepala cabang perusahaan ini pada pukul 5 sore untuk menggantikan Tuan Igneel." Jelasnya panjang lebar –dan itu berarti pekerjaan Natsu bertambah.
Natsu tersenyum mengerti, "Pukul 5?" Ia melihat jam di layar laptopnya yang tertera "04.18 P.M" kemudian mengerutkan dahinya. "Jadi, Aku memiliki waktu kurang dari 1 jam untuk menyelesaikan ini semua? Tak masalah." Tambahnya santai.
Pria paruh baya yang berdiri sekitar 3 meter dari meja Natsu itu tersenyum. "Anda memang dapat di andalkan, Tuan Muda Natsu."
Natsu menggeleng, "Tidak, aku masih belajar. Ahaha..." Sahutnya.
"Terimakasih banyak atas kerja keras anda, tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu. Jika Tuan muda membutuhkan sesuatu, anda dapat menghubungi saya." Ucapnya seraya membungkuk dan meninggalkan ruangan itu.
Natsu menghembuskan nafas berat, "Fuhh... Sebaiknya aku segera menyelesaikan ini. Karena aku mulai merasakan lapar aku kurang berkonsentrasi." Lelaki berambut merah muda itu mengambil salah satu file dari tumpukan perkerjaannya dan mulai menganalisisnya. "Aku mulai bersemangat!" Ia tersenyum puas seraya menatap berkas di tangannya.
.
.
Lucy berlari-lari kecil setelah menuruni bus yang telah mengantarnya tepat di depan sebuah perusahaan berama Hokugin Financial Group, ia yakin itu adalah perusahaan yang telah ayahnya tunjukan. Gadis berambut pirang itu menatap bangungan yang menjulang tinggi seolah meraih langit sore yang terpampang di hadapannya.
Lucy menggumam, "Semoga masih sempat."
Hokugin merupakan perusahaan besar yang telah melahirkan para karyawan yang mahir dalam bidang keuangan, tak ayal ayahnya sangat tertarik bekerja sama dengan perusahaan yang berpengaruh di Magnolia itu. Tanpa menunda waktu lagi Lucy memasuki perusahaan tersebut, ia langsung menuju resepsionis untuk menanyakan tempat pertemuan ayahnya. Saat itu tentu Lucy mengenakan pakaian yang sesuai membuat dirinya – yang merupakan pewaris Heartfilia Group –begitu menawan dan elegan.
Penjaga resepsionis itu seketika berdiri dan membungkuk sopan, "Selamat sore, ada yang dapat saya bantu, Nona."
Lucy membalasnya, "Selamat sore, bisakah anda menunjukan ruangan pertemuan ayahku, Jude Heartfilia dengan pemilik perusahaan ini?"
Karyawan itu tersenyum, "Tentu nona, dapatkah anda menyebutkan nama anda?" pintanya sopan.
"Saya Lucy Heartfilia, membawakan sebuah dokumen untuk ayah." Jawab Lucy.
Setelah beberapa wanita yang ada di hadapan Lucy itu berbicara, "Tuan Jude berada di Lantai 18. Ruangan pertemuannya tepat di samping cafetaria, Nona Lucy. Perlukah saya mengantar anda?"
"Umm, tidak perlu. Terimakasih." Lucy tersenyum sekilas dan langsung menaiki lift menuju ruangan ayahnya.
Sasuga, perusahaan besar, pelayanannya benar-benar yang terbaik. Semuanya terlihat ramah. Lucy menatap layar ponselnya sesaat dan memasukannya lagi ke tas kecil yang ia kenakan. Hinga tak terasa lift sudah berhenti dan mengantarnya ke lantai 18. Iris coklatnya menatap kesekeliling, mencari ruangan itu, dan bingo! Iya menemukan cafetaria yang artinya tidak lama lagi ia akan tiba. Gadis berparas cantik itu melangkahkan kakinya da ternyata ayahnya telah menunggu tepat di ruang pertemuan.
Mata Lucy membulat, "A-Ayah..." Ucapnya seketika melihat sosok ayahnya.
Ayahnya tersenyum, "Lucy, terima kasih karena sudah repot-repot kesini untuk mengantarkan ini."
Lucy menyerahkan dokumen itu pada ayahnya, "Iie, Tidak apa-apa ayah."
Jude Heartfilia menepuk pelan pundak putri kesayangannya itu, "Ayah akan cukup lama bernegosiasi disini, ayah akan pulang setelah makan malam dengan Direktur perusahaan ini. Kau bisa pulang tanpa ayah."
Gadis pemilik mata indah berwarna coklat itu tersenyum tipis, "Baik ayah, kalau begitu aku pamit."
"Ya, Hati-hati..." Ucapnya kemudian memasuki ruangan itu.
Lucy berjalan menuju cafetaria, "Yokatta, ternyata tidak terlambat." Ucapnya. "Haah, aku cukup lelah, sebaiknya aku beristirahat sebentar..."
.
.
Natsu mengangkat pelan frame dari kacamata yang sedang ia gunakan, matanya tak terlepas dari lembar terakhir pekerjaannya. Fokusnya tidak dapat di ganggu saat ini, ia kemudian mengangguk pelan dan tersenyum. Ditulisnya pernyataan persetujuan dengan menandatanganinya. Itulah akhir dari tugasnya yang seakan tanpa henti. "Haaahh... Selesai!" Pemilik mata onyx itu meregangkan tangannya ke atas seraya melemparkan pandangannya ke jam dinding. "16.40 P.M? Aku masih punya wak-"
BRUKKK...
Ucapannya terhenti sesaat karena mendengar suara perutnya yang telah terdengar di seluruh ruangan. "Gawat, aku lapar sekali. Sebaiknya aku makan dulu selagi masih ada waktu." Ia memegangi perutnya dan melangkahkan kakinya keluar ruangannya.
Di depan kantornya ada seorang sekertaris bernama Mirajane Strauss yang membungkukan badannya ketika Natsu melewatinya. "Selamat Sore Tuan Natsu."
Natsu mengangguk pelan, "Selamat sore, Mira." Ia kemudian melanjutkan langkahnya. Seorang Natsu Dragneel begitu di hormati disini, ya, tidak salah lagi karena dia adalah wakil direktur perusahaan, meskipun lelaki berambut pink itu masih sangat muda ayahnya telah mempercayainya. Kinerjanya pun tidak bisa di anggap remeh. Tak ayal Natsu adalah satu-satunya pewaris perusahaan HFG.
Pemandangan serupa selalu ia temui ketika berjalan di setiap koridor kantor, para karyawan menyapanya ramah dan Natsupun membalasnya dengan senyuman khasnya. Siapa yang tidak mengenalnya disini? Tidak ada. Bahkan,wakil direktur muda tersebut, telah membuat banyak wanita di kantor terpikat padanya.
Mata onyxnya melebar seraya melihat tempat yang ia tuju ada di depan matanya. Ia bersiul pelan dan mulai memesan makanan. Setelahnya Natsu duduk di meja tepat di samping jendela yang menunjukan kota Magnolia dengan cahaya kejinggaan dari pancaran matahi yang murai meredup. Ia duduk memangku dagunya, memikirkan seorang gadis berambut pirang yang berkeliaran di benaknya, pewaris HFG itu tanpa sadar mulai terkekeh kecil –ya seperti orang idiot.
"N-Natsu... Dragneel?" Terdengar suara seseorang yang sangat ia kenal, suara yang tidak asing di telinganya. Suara seseorang yang selalu hinggap di pikirannya.
Tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar Natsu menoleh ke asal suara, "Lucy? Eh- Lu-Lucy?!" Matanya terbelalak; menatap gadis berambut pirang yang kini berdiri tepat di depan mejanya. Tidak mungkin, apa aku sedang berhalusinasi? Batin Natsu.
.
*Lucy Pov*
Apa maksud dari semua ini kami-sama? Mengapa lelaki ini selalu ada dimanapun aku berada? Tunggu, aku baru menyadarinya, apa dia memang Natsu yang ku kenal? Aku sedang tidak terkena gangguan otak kan? Dia terlihat sangat berbeda.
Dan ternyata pikiranku terbantah ketika ternyata lelaki yang baru saja beranjak dari tempat duduknya itu ternyata mengenaliku dan memanggil namaku dengan ekspresi bodohnya. Tidak salah lagi dia adalah Natsu.
"A-Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku padanya yang entah mengapa tidak berhenti menatapku, dasar menyebalkan.
Kulihat ia tersenyum padaku, "Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu, Lucy." Natsu menggaruk kepalanya ia terlihat gugup.
Aku mengarahkan pandanganku padanya, walaupun aku masih tak sanggup menatap langsung matanya, "A-Aku baru saja selesai makan. Aku mengantarkan dokumen ayahku yang sedang menghadiri rapat dengan direktur perusahaan ini. " Ungkapku panjang lebar.
Natsu tak melepaskan senyuman di wajahnya, "Duduklah Lucy." Ucapnya yang tentu saja membuatku tersentak.
"Untuk apa? Aku sudah selesai!" Aku mendengus, lebih tepatnya aku tidak kuasa berada dekat dengannya. Aku tidak mau merasakan perasaan aneh yang selalu saja datang ketika aku bersamanya. "Kau... Apa yang kau lakukan disini?"
Lelaki penghancur mood-ku itu menghela nafas, ada raut kecewa di wajahnya, "Ayolah Lucy." Nada suaranya lembut, seolah menyihirku untuk mengikuti apa yang ia pinta. Apa boleh buat, akupun duduk berhadapan dengannya.
Ku menatapnya sekilas, ia mengenakan kacamata... terlebih lagi tubuhnya di balut jas yang rapi, sangat berbeda sekali dengan penampilannya yang selalu berantakan di sekolah. Ada apa sebenarnya? Aku harap dia memiliki penjelasan yang bagus untuk ini. - Tu-Tunggu Lucy! Aku kenapa? Mengapa aku harus peduli. Hah... "B-Baiklah... Jadi sebenarnya kau sedang apa disini?" Tanyaku langsung pada intinya. "Siapa kau sebenarnya?" Tambahku.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Seorang waiter datang membawakan pesanannya. Natsu meneguk pelan minumannya, dan kembali menatapku, ugh, jantungku ... mengapa berdetak tak karuan seperti ini. "Lucy, aku ... aku adalah seorang pekerja paruh waktu disini. Aku adalah office boy! ahaha" Jawabnya seraya diiringi dengan tawa renyahnya.
Rasanya membuatku ingin menendangnya sampai jatuh dari lantai 18 ini, "Huh? Apakah ada office boy di dunia ini yang memakai jas serta berpenampilan rapi-"
"Uso... Aku hanya bercanda..." Ucapnya memotong pembicaraanku. Aku menatapnya tajam.
Anak ini benar-benar membuatku geram, "HUH!" ungkapku penuh penekanan.
"Selamat sore Natsu-sama..." Seorang wanita cantik baru saja lewat dan menyapanya, Natsu hanya mengangguk dan tersenyum. Mengapa mereka terlihat begitu akrab? Ah, sudahlah jangan di pedulikan.
"Kau heran ya Lucy? Ah... biar kuberi tahu... dia adalah mantan pacarku." Ucap Natsu santai yang membuatku menatapnya heran, sekaligus kaget bukan main.
"E-EEHHH?" Aku sedikit menaikkan intonasiku. "B-Bagaimana bisa, dia terlihat sudah tua. Cih, seleramu buruk. Natsu." Sahutku, mengapa aku merasa terganggu mendengar pernyataannya itu argh.
Kemudian aku mendengar kata menyebalkan itu lagi, "Uso... Kau mudah percaya ya, Lucy?" Ia terkekeh pelan, sial! Dia mempermainkanku!
"Aku tidak ingin beradu-argumen denganmu, dasar bodoh. Selamat tinggal!" Dia benar-benar membuatku kesal. Akupun beranjak dari tempat dudukku dan memalingkan wajah.
Baru satu langkah aku meninggalkan mejanya ia berkata, "Aku... adalah anak pemilik perusahaan ini, Lucy." Ucapnya terdengar serius tapi-
Aku menoleh, "Pasti kau berbohong lagi, kan? Kali ini aku tidak akan tertipu!" Sergahku. Terima itu Natsu Dragneel.
Kulihat ia tersenyum manis, "Ah, aku ketahuan ya? Ahaha..." Ia tertawa.
Huh, dasar penghancur mood. Aku membencinya! Aku meninggalkannya, lebih baik aku pulang daripada di permainkan olehnya.
*Lucy Pov End*
.
Natsu menatap punggung Lucy yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya, ia kemudian melahap makanan di hadapannya, walau kini terasa agak hambar.
"Lucy... yang penting aku sudah memberitahumu kan?" Gumam Natsu pelan.
"Tuan Muda Natsu... anda disini rupanya." Ucap seorang lelaki paruh baya.
"Ah, ini sudah jam 5 ya? Ayo kita pergi." Natsu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ruang rapat koordinasi kepala cabang, yang merupakan tugas terakhirnya untuk hari ini.
.
.
Lucy menghentakkan kakinya ke trotoar tak jauh dari perusahaan HFG, ia kesal karena ia telah di permainkan oleh Natsu namun tetap saja bayangan figur Natsu dengan penampilan 'berbeda'-nya masih melekat dalam ingatannya, rona merah terlihat di pipinya. Gadis pirang itu tidak menyadari, bahwa seorang lelaki menggunakan pakaian serba hitam plus helm di kepalanya perlahan mendekatinya. Tanpa ragu, Lelaki itu mencengkram tangan Lucy, membuat Lucy berteriak.
"KYAA! Lepaskan aku!" Lucy tidak tinggal diam ia melakukan perlawanan dengan menghadiahkan sebuah tendangan tepat mengenai perut pria misterius tersebut namun ia kalah kekuatan karena tangannya telah terkunci oleh cengkraman tangan pria itu. "A-Apa maumu? Lepaska-!"
Pria itu membekap mulut lucy dengan sebuah sarung tangan, membuat pandangan Lucy perlahan-lahan mengabur, keseimbangannya mulai rubuh, hanya ada satu kata yang terlintas sebelum kesadarannya terenggut, "Na... tsu..." Ucapnya lirih dan pandangannya kini gelap seketika.
-To Be Continued-
So gimana ceritanya? Aneh? Gaje? Banyak typo? Gomenne ;A;
Aku baru lagi nulis fic dan entah kenapa bisa dalam satu hari /?
Maaf ya mungkin banyak kesalah di chapter yang cukup panjang ini, tapi aku udah semangat lagi sekarang! hehe
Akhir kata, terimakasih banyak buat yang selalu review, fav, dan kasih masukan.
Semua itu sangat berharga buat author! /peluk readers satu-satu/
Di tunggu komentarnya silahkan isi di kota review. haha Arigatou gozaimasu!
OK, then... See you on next chapter!
Aku usahain update cepat! hehe
