DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

He is a God, and she is a beginner Goddess. KuroPika in mythology. Kuroro already got what he needed for Kurapika, but he decided to play around with her fate for a while.

WARNING :

AU, OOC, tidak mengikuti sebagian besar fakta yang ada dalam Mitologi Yunani.

.

Happy reading!


Pada siang hari, Kurapika menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak. Dia melihat pasangan suami istri yang waktu itu bertengkar hanya karena masalah keturunan tengah menghabiskan waktu bersama dengan bahagia. Kurapika pun tersenyum, tapi senyumnya langsung hilang saat melihat Kuroro yang mengisi waktu istirahatnya dengan menggoda seorang gadis.

Perasaan Kurapika semakin terasa aneh ketika melihat Kuroro mencium bibir gadis itu dengan mesra. Rasanya dia benar-benar ingin menangis sekarang. Tapi apakah itu pantas? Kuroro bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Perasaan apa ini?

Gadis bumi itu mendorong Kuroro saat menyadari ada yang melihat mereka, yang tak lain adalah Kurapika. Ia tersipu. Kuroro yang belum menyadarinya merasa aneh dan menoleh...melihat Kurapika ada di sana dan matanya yang berkaca-kaca karena tangis yang hampir tak terbendung lagi.

Dengan sigap Kuroro mengambil Neuralyzer dari dalam saku dan menggunakannya untuk menghilangkan memori gadis itu. Meninggalkan si gadis yang terbengong-bengong karena dibuat lupa atas peristiwa yang baru saja terjadi, Kuroro segera berlari mengejar Kurapika, "Hei! Ada apa denganmu? Berhenti!"

Kurapika segera terbang menghindari Kuroro. Dia tahu pemuda itu masih mengejarnya. Rasanya tak percaya...Kuroro baru saja menciumnya tadi pagi dan dengan mudahnya beberapa jam kemudian dia bisa langsung mencium gadis lain!

'Apa yang kuharapkan? Apa yang kupikirkan? Tapi...rasanya sakit sekali...' Seiring dengan hembusan lembut angin yang membawanya, air mata Kurapika pun jatuh.

Begitu Kuroro berhasil menyusul, dia langsung menarik tangan gadis itu agar menghadap kepadanya dan menatap wajahnya. Ia melihat gadis itu menangis.

"Kau kenapa?"

Kurapika segera memalingkan wajahnya. Sementara Kuroro merasa bersalah...apakah gadis itu menangis karena melihatnya mencium teman kencannya? Mereka berada di dekat pelangi sekarang. Hujan turun rintik-rintik.

Di bumi, sambil mendongak menatap langit seorang anak bertanya pada ibunya, "Ibu, kenapa tiba-tiba hujan?"

"Oh...itu tandanya seorang dewi sedang menangis...," jawab Sang Ibu lembut.

Kembali kepada Kuroro dan Kurapika, mereka masih saling diam dengan canggung dan enggan.

"Kau kenapa?" Tanya Kuroro sekali lagi, "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau mengatakannya."

"Kau melakukannya padaku tadi pagi...dan bisa-bisanya kau melakukannya pada gadis lain hanya dalam waktu beberapa jam saja!"

Rasanya Kurapika tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ingin sekali ia menariknya kembali dan membungkam mulutnya sendiri.

"Jadi kau tidak mau aku mencium gadis lain selain kau sendiri?" Tanya Kuroro sambil tersenyum penuh kemenangan. Takdir benar-benar sudah mempermainkan perasaan gadis itu.

"Bukan begitu! Tapi aku semakin tahu bahwa kau memang benar-benar dewa playboy!" Kurapika berkilah dengan pipi memerah, sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Kuroro. 'Aku memang bodoh, kenapa aku harus mengatakan itu?!' ia menggerutu dalam hati.

"Kau hanya cukup berkata 'ya' dan aku tidak akan mencium gadis lain selain dirimu," ujar Kuroro sambil terus mencengkeram tangan Kurapika, "Kau mencintaiku. Kau hanya tidak mau mengakui itu!"

"Aku hanya ingin kau lebih menghargai perempuan!" elak Kurapika. 'Cinta? Apa benar?' di dalam hati ia merasa bingung. "Lepaskan!"

Kuroro mencengkram tangan Kurapika lebih kuat, "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau mengaku kalau kau mencintaiku!"

"A-aku..." Kurapika tidak melanjutkan ucapannya, dia bingung sekali dan jantungnya semakin berdebar-debar. "Lalu kamu sendiri?! Kenapa hal itu penting bagimu? Kenapa kau ingin aku mengaku begitu?!" Kurapika balik bertanya.

"Karena kau menangis ketika melihat aku mencium gadis itu!"

"Dan kenapa kau ingin aku mengaku begitu?!"

Kuroro terdiam. Ia menatap wajah Kurapika yang basah oleh air mata, namun tetap terlihat begitu cantik di tengah rintik air hujan dan pelangi yang berkilauan.

"Kalau kau bilang seperti itu, aku tidak akan tega mencium gadis lain lagi."

"T-Terserah kau saja! Terus saja kau tindas aku!" bentak Kurapika.

Kuroro menarik gadis itu mendekat kemudian dengan segera mencium bibirnya. Ia merasakan gadis itu mulai meronta.

Kurapika berusaha melepaskan diri. Dadanya terasa sesak karena perasaan meluap-luap yang tak ia pahami. "Le...pas...," ucapnya di tengah ciuman pemuda itu. 'Jangan cium aku dengan bibirmu yang baru saja mencium gadis bumi itu!' pekiknya dalam hati. Air matanya kembali mengalir.

"Kau mencintaiku. Itu sudah pasti."

Kurapika segera mendorong Kuroro. Kuroro terlihat terkejut dengan sikapnya itu.

"Aku tidak suka kamu menciumku dengan bibirmu yang baru saja mencium gadis bumi itu!" bentaknya sambil menghapus jejak bibir Kuroro dengan punggung tangannya yang putih.

"Aku tidak akan mencium gadis bumi lagi kalau kau berkata bahwa kau mencintaiku!"

Perdebatan mereka terhenti saat mendengar suara tawa pasangan suami istri yang pernah Kurapika tolong dulu. Mereka baru saja keluar dari sebuah klinik.

"Anaknya laki-laki," kata suaminya. "Terima kasih..."

Kurapika terdiam seperti memikirkan sesuatu. Lalu ia menoleh ke arah Kuroro dan bertanya, "Kalau kau sudah menikah nanti...dan istrimu tidak bisa memberikan keturunan, apakah kau akan meninggalkannya?"

"Tentu saja tidak. Biar bagaimanapun suami istri harus bisa menjalani suka dan duka bersama-sama," jawab Kuroro. Pemuda itu benar-benar tidak menyangka Kurapika akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

Kurapika terpana mendengarnya. Dahi Kuroro mengernyit. "Kenapa? Kau tidak percaya? Lagipula itu pertanyaan yang aneh..."

Kurapika tersenyum. "Aku hanya tak menyangkanya...benarkah kau tipe laki-laki yang setia? Playboy seperti kamu..."

"Apa?"

"Rasanya tak mungkin saja kalau kau bisa jatuh cinta apalagi setia," jawab Kurapika sambil mengusap bekas air matanya.

"Mungkin bisa," Kuroro pelan-pelan mendekatkan gadis itu kembali ke tubuhnya kemudian memeluk Kurapika erat, "Kalau bersamamu."

Kurapika benar-benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ingin rasanya ia segera mendorong pemuda itu jauh-jauh. Namun, tubuhnya sama sekali tidak membiarkannya menjauhkan Kuroro. Ia benar-benar merasa nyaman.

Rasanya seolah dia terperangkap dalam tatapan dan pelukan Kuroro. Saat pemuda itu menciumnya lagi, Kurapika tidak meronta sama sekali.

"Hei," kata Kuroro beberapa saat kemudian. "Jangan diam saja..."

"Hah? Apa?" tanya Kurapika tak mengerti.

"Seharusnya kau membalas ciumanku...mengerti 'kan? Seperti ini..." Kuroro mengulanginya lagi.

Kurapika terdiam. Kuroro menunggu dengan sabar sambil terus melumat bibir gadis itu. Lama-kelamaan, tanpa sadar Kurapika membalasnya. Hujan pun berhenti, dan pelangi terlihat semakin berkilau.


Mata Kurapika sulit dipejamkan malam itu. Kata-kata Kuroro saat memeluknya terus terngiang di benaknya. Maksudnya apa? Apakah artinya Kuroro ingin bersamanya? Kurapika tak mengerti. Dia pun belum yakin apakah yang ia rasakan memang cinta namanya. Saat malam sudah larut, barulah Kurapika bisa tertidur. Kurapika tidak tahu bahwa Kuroro pun mengalami hal yang sama walau dengan suasana hati yang berbeda. Pemuda itu benar-benar merasa senang.


Kurapika terbangun pagi-pagi sekali. Sebenarnya dia masih sangat mengantuk, tapi sulit baginya untuk kembali tidur. Kurapika pun bersiap-siap dan pergi ke gedung kerjanya. Suasana masih sepi, bahkan matahari pun belum muncul. Kurapika tersenyum puas saat melihat ruang tengah gedung itu masih gelap.

'Akhirnya aku berhasil! Dia belum datang!' ucapnya dalam hati dengan gembira.

Tanpa menyalakan lampu, Kurapika duduk di sofa menunggu Kuroro. Namun tak lama kemudian gadis itu tertidur di sana.

Dua jam kemudian, Kuroro terkejut melihat matahari sudah tinggi. Pemuda itu langsung melompat dari tempat tidurnya kemudian segera bersiap-siap. Entah angin apa yang membuat pemuda berdisiplin tinggi itu terlambat. Benar-benar kejadian yang langka di dalam hidupnya. Setelah selesai bersiap-siap, Kuroro berjalan keluar dari kamarnya. Dia melihat Kurapika duduk tertidur di sofa.

Pemuda itu tersenyum sambil bergumam, "Hari ini aku terlambat dari si ceroboh itu."

Kuroro duduk di samping Kurapika kemudian melumat bibir gadis itu dengan lembut. Beberapa saat kemudian dengan ragu pemuda itu membelai wajah Kurapika dengan sebelah tangannya, membuat gadis itu bergerak pelan.

Perlahan Kurapika membuka matanya. Kuroro langsung berhenti menggerakkan tangannya tapi tangannya itu masih berada di wajah Kurapika. Kurapika pun terpaku, hingga akhirnya ia membuka mulutnya,

"KYAAA...! Apa yang kaulakukan!"

Kuroro tersenyum kemudian menjawab, "Mendapatkan hukuman yang pantas kudapatkan."

"Hah? Hukuman?" Kurapika mengernyit tak mengerti. Tapi kemudian dia segera mengetahui apa yang dilakukan Kuroro saat dia tertidur mengingat apa yang selalu didapatnya bila dia datang terlambat.

"K-kamu?! Ih tapi 'kan aku datang lebih awal!" lagi-lagi Kurapika protes.

"Makanya tadi aku bilang, itu hukuman untukku," jawab Kuroro sambil tersenyum. Ia pun menjauhkan wajahnya dan duduk tegak di sofa itu. "Memangnya kau mau, menciumku lebih dulu?"

Kuroro berusaha menahan tawanya begitu melihat ekspresi wajah Kurapika. Pemuda itu menatap lurus mata Kurapika untuk menunggu jawaban dari gadis itu. Mengganggu Kurapika setiap hari mulai menjadi prioritas utamanya.

"Tentu saja tidak!" tukas Kurapika segera. Ia baru saja akan beranjak saat tiba-tiba Kuroro mencondongkan badannya lagi lalu berkata, "Jangan bereaksi berlebihan seperti itu...kemarin saja kau membalas ciumanku. Apa susahnya naik ke level selanjutnya dengan menciumku lebih dulu?"

Pemuda itu kembali harus menahan tawanya melihat wajah Kurapika yang semakin memerah. Pemuda itu mendekatkan wajahnya kepada Kurapika, "Kau mencintaiku. Itu pasti."

"Oh ya? Lalu bagaimana denganmu?" Kurapika menantang Kuroro tanpa menanggapi komentarnya.

"Ya, sepertinya begitu."

"Hah? Apa?" tanya Kurapika ragu-ragu, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Kuroro menatap Kurapika lurus. Jantungnya berdebar cepat dan ia yakin wajahnya sudah memerah sekarang, "Ya, mungkin aku benar-benar mencintaimu."

Kurapika terdiam sesaat. Bayangkan, wajah Kuroro merona! Seharusnya Kurapika tertawa, tapi dia tak bisa dan malah tersipu namun tak mampu mengalihkan matanya dari Kuroro.

"Apa cinta bisa membuat jantung berdebar-debar?" ia bertanya.

"Sebenarnya, tanpa cinta pun jantungmu akan selalu berdebar," jawab Kuroro sambil berusaha menahan tawanya, "Karena kalau tidak berdebar namanya mati."

Mood Kurapika langsung jelek. Ia mengambil bantal kursi yang ada di belakangnya lalu memukulkannya ke wajah Kuroro. "Kamu menyebalkan! Aku menyesal sudah bertanya padamu," katanya sambil merengut.

Kuroro tertawa terbahak-bahak melihat ulah Kurapika yang sangat kekanak-kanakan. Tanpa sadar pemuda itu bergumam, "Bocah."

"Iya aku memang bocah!" Kurapika benar-benar kesal sekarang. "Maaf bocah ini telah mengganggu dan merepotkanmu!" ia mendorong Kuroro dan melangkah untuk mengambil buku pinknya.

"Benar sekali, bocah yang mengganggu hatiku," kata Kuroro santai sambil mengambil buku miliknya sendiri.

Kurapika mengernyitkan keningnya, "Apa katamu tadi?"

"Kamu bocah...yang mengganggu hatiku," ulang Kuroro sambil meraih sebelah tangan Kurapika dan menempelkannya ke dadanya. Setelah beberapa saat, ia melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. "Ayo, kita sudah sangat terlambat."


Hari itu Kurapika benar-benar sulit berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Pikirannya terus terganggu setiap kali dia mengingat kejadian tadi pagi, di mana Kuroro dengan tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berdebar-debar tidak menentu. Sulit rasanya melupakan perasaan asing itu. Perasaan yang menyesakkan sekaligus membahagiakan. Sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata. Apakah ini yang dinamakan cinta?

Saat hari mulai senja, seperti biasa Kurapika dan Kuroro bertemu kembali untuk membicarakan tugas yang telah mereka kerjakan selama seharian.

"Kalau memang ada kesulitan, kenapa kau tidak memanggilku?" tanya Kuroro kesal saat mengetahui hambatan yang dialami Kurapika siang tadi.

"Karena ponselku rusak," kata Kurapika berbohong. Otaknya betul-betul tidak dapat memilih alasan lain yang lebih logis dan pintar untuk mengelabui Kuroro.

Kuroro semakin kesal mendengarnya, dan ia khawatir. "Alasan apa itu? Itu alasan manusia...kau dengar dari mana?" Ia bertanya.

Kurapika hanya diam. Sebenarnya dia bisa saja memanggil pemuda itu tadi, tapi Kurapika merasa harus menjauh sejenak dari Kuroro untuk meredakan perasaannya. Tapi apa yang kemudian terjadi? Baru saja beberapa jam, sebenarnya Kurapika merindukan pemuda itu. Kurapika mengangkat wajahnya dan menatap Kuroro.

"Maaf...," hanya itu yang bisa dikatakan Kurapika.

Kuroro benar-benar bingung dengan sikap Kurapika. Dan sejujurnya dia sendiri tidak tahu hal apa yang membuat gadis itu meminta maaf kepadanya. Apakah dia meminta maaf karena sudah berbohong? Atau dia meminta maaf karena tidak memanggil Kuroro? Pemuda itu kemudian menepuk-nepuk pelan kepala Kurapika kemudian tersenyum, "Tidak usah dipikirkan."

Kurapika merona melihat senyuman itu. Kuroro sudah berubah...dia memperlakukannya dengan baik dan sangat lembut.

'Aku tidak mau menghindari ini...Biar saja...,' Kurapika memutuskan dalam hati.


Sesampainya mereka di khayangan, seorang utusan dari Istana Zeus datang menyampaikan sebuah berita,

"Akan diadakan pesta...semuanya diharapkan hadir sekarang juga."

Kuroro memandang Kurapika kemudian menarik tangannya, "Ayo kita pergi bersama-sama. Kali ini aku tidak akan terlambat seperti dulu lagi."

Kurapika pun membiarkan Kuroro membawanya. Kali ini, dia tidak menepiskan tangan pemuda itu. Berdua mereka pergi menghadiri pesta.


Sesampainya di Istana Zeus, suasana sudah ramai.

Dari kejauhan, Dewi Aphrodite tersenyum kemudian menepuk pelan pipinya. Anaknya memang sudah besar sekarang. Ia tidak bisa menutupi rasa haru ketika melihat anaknya memasuki aula bersama seorang gadis. Aphrodite pun sudah tidak heran lagi melihat siapa yang dibawa Kuroro. Dia sudah menduga hal itu sebelumnya.

"Kali ini, kita berdansa bersama," ajak Kuroro.

Pipi Kurapika sedikit merona mendengar itu. Ya, waktu itu Kuroro berdansa bersama Menchi. Andai saat ini Menchi berdansa dengan Kuroro, apakah dia akan merasa sedih? Ataukah dia akan membiarkannya saja?

Gadis itu tertunduk. Benarkah Kuroro begitu populer di kalangan para Dewi? Lalu, kenapa dia yang di pilih oleh Kuroro? Haruskah dia mensyukuri hal itu? Kurapika lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Kuroro.

"Apa yang kau lihat?" Tanya Kuroro dengan sinis.

"Ti-tidak ada apa-apa," jawab Kurapika. Gadis itu yakin wajahnya sudah benar-benar memerah.

"Kau kenapa?" tanya Kuroro heran melihat Kurapika seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Tidak...," jawab Kurapika sambil tersenyum. Sesekali ia melirik ke sekeliling mereka, melihat beberapa orang dewi menatap gemas seolah ingin berganti posisi dengan Kurapika.

Rasanya menyesakkan. Kurapika menghela napas...lalu melepaskan tangannya dari genggaman Kuroro.

"Aku mau ambil minum dulu sebentar," katanya sambil melangkah pergi. Belum juga sempat mengambil minuman, tanpa sengaja Kurapika menabrak seseorang. Ia akan terjatuh jika orang itu tidak segera menangkapnya.

"Kau tidak apa-apa?" ia bertanya, yang ternyata adalah seorang pria.

Pria itu terdiam melihat Kurapika yang terkejut. Matanya yang gelap menatap gadis itu.

Kurapika dengan segera berdiri kembali dan menatap pria itu, "Terima kasih."

"Aku baru pertama kali melihatmu...wahai gadis dengan rambut pirang seindah mentari," katanya sambil tersenyum.

"A-aku...aku Kurapika...," jawab Kurapika yang masih tampak terkjut.

"Ah...ya, aku pernah mendengar namamu. Perkenalkan, aku Morfeus...Dewa Mimpi," kata Morfeus sambil membungkuk dan mencium punggung tangan Kurapika dengan lembut.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, Kurapika mulai merasa tidak enak kemudian menjauhkan dirinya dari pria asing itu. Satu kata yang terlintas di benaknya—mesum.

Kurapika mengambil minum lalu melangkah ke luar. Melihat taman yang berada di sana, ia teringat saat pertemuannya yang pertama dengan Kuroro dulu, membuat seulas senyum terbentuk di wajah cantiknya.

"Indah sekali senyum itu. Untuk siapakah kautujukan senyummu, Cantik?" tiba-tiba Morfeus sudah berada di sampingnya.

Mulut Kurapika seakan terkunci dengan rapat. Dia bukan tipe gadis yang sombong ataupun benci untuk bersosialisasi, namun pria yang baru saja dikenalnya ini benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman.

"Untukku," tiba-tiba terdengar suara Kuroro.

Kurapika menatap Kuroro yang datang kemudian tersenyum kepada Morfeus. Pemuda itu menarik tangan Kurapika dan mengajaknya meninggalkan Morfeus, "Permisi sebentar, aku punya urusan dengan gadis ceroboh ini."

"Senang bertemu denganmu, kehadiranmu mencerahkan malam ini," kata Morfeus dengan tenang sambil membalas senyuman Kurapika namun tanpa menghiraukan Kuroro.

Saat gadis itu berbalik pergi bersama Kuroro, dia mendelikkan matanya dan senyumnya berubah menjadi sebuah senyum sinis.

'Anak Aphrodite...,' ucapnya dalam hati.


"K-Kuroro, pelan-pelan...," kata Kurapika pada Kuroro yang terus menariknya.

Kuroro terus berjalan dengan cepat tanpa mempedulikan kata-kata Kurapika. Pemuda itu berhenti di depan pintu aula kemudian berbalik menatap gadis pirang yang ada di belakangnya, "Jangan berbicara dengan lelaki lain yang tidak kau kenal."

"Ngg...katanya namanya Morpheus...," jawab Kurapika pelan. Sebenarnya ia ingin menjawab lebih panjang lagi, tapi raut wajah Kuroro saat itu terlihat berbeda.

Saat itu, tiba-tiba saja Kurapika merasa kesadarannya sedikit menghilang. Dari kejauhan, tampakl Morfeus memejamkan matanya sambil menggumamkan sesuatu.

Menyadari keadaan Kurapika, Kuroro mengecup lembut bibirnya kemudian berbisik, "Ayolah, jangan merepotkanku. Tetaplah terjaga sampai acara ini selesai."

Kurapika segera mengedipkan matanya. Pandangannya yang kabur kini fokus kembali, berganti dengan merahnya pipi gadis itu karena kecupan Kuroro.

Tadi itu kenapa? Apa yang terjadi? Ingin Kurapika menanyakannya, tapi rasanya tak sanggup. Akibat hal itu, alhasil sepanjang acara Kuroro tidak meninggalkannya sedetik pun.

"Biasanya kau langsung kabur sendiri di acara seperti ini," sindir Aphrodite pada putranya itu.

Kuroro tersenyum sinis kepada ibunya, "Tidak ada salahnya menjauhkan gadis menderita ini dari seorang pria mesum yang licik."

Aphrodite nampak terkejut mendengarnya, tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Wajah Kurapika merengut. Gadis itu menoleh dan berbisik pada Kuroro, "Aku tidak menderita kok! Kalau kau bilang begitu kesannya aku begitu menyedihkan...," protesnya tak setuju.

Kuroro tersenyum mendengar protes Kurapika, "Kau tidak usah banyak protes. Aku sudah menyelamatkanmu."

"Haruskah kau mengingatkanku tentang itu?" tanpa sadar Kurapika protes lagi.

Di pertengahan percakapan mereka, tiba-tiba datang seorang dewi berambut merah.

"Dewa Kuroro, maukah mau meluangkan waktumu untuk berdansa denganku?"

"Tentu saja," jawab Kuroro kepada Dewi itu. Pemuda itu memalingkan wajahnya dari Kurapika kemudian berbisik, "Jangan terpisah dari ibuku, atau kau akan tahu akibatnya."

Kurapika menyaksikan Kuroro pergi bersama dewi yang mengajaknya, dan ia merasa tak senang.

'Playboy!' gerutunya dalam hati.

Aphrodite mengajaknya mengobrol, hingga kemudian perhatian Dewi Kecantikan itu teralihkan dengan kedatangan Eros. Kurapika pun merasa bosan...apalagi Kuroro belum juga kembali.

Sementara itu, Kuroro berdansa bersama dewi berambut merah yang mengajaknya tadi tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dari Kurapika. Pemuda itu benar-benar curiga dengan pria mesum yang bersama Kurapika beberapa waktu yang lalu.

"Dewa? Tidak bisakah kau melihatku?" Dewi itu merasa terganggu. Kuroro pun menoleh sebentar dan tersenyum kikuk. Saat melihat ke arah di mana Kurapika berada sebelumnya, tak disangka gadis itu sudah tidak berada di sana.

Kuroro terkejut, dia langsung undur diri dan berlari keluar. Dia menoleh dan berusaha mencari sosok Kurapika di tengah kerumunan orang-orang yang ada di sana.

Begitu ia menemukannya, Kuroro melihatnya berjalan dengan cepat—pergi dari tempat itu. Sepertinya dia menuju ke rumahnya. Ternyata, apa yang dikhawatirkan pemuda itu benar terjadi. Dalam satu kedipan mata, Morfeus sudah ada di belakang Kurapika.

Kuroro mengikuti mereka dari kejauhan.

Kenapa Kurapika mau pergi bersama Morfeus? Bukankah dia sudah mengingatkan gadis itu tadi? Dan kenapa Kurapika mengajak pria itu ke rumahnya? Semua pertanyaan itu benar-benar tidak bisa ia jawab.

Tapi Kurapika terlihat sedikit aneh...sepertinya dia SANGAT mengantuk. Kenapa bisa tiba-tiba begitu? Kalau memang dia mengantuk, kenapa tadi dia bisa berjalan secepat itu? Dan Morfeus pun terus menatapnya.

Apakah Kurapika sedang berada di bawah pengaruh pria mesum itu? Ya! Sepertinya tidak ada penjelasan yang lebih logis lagi dari itu. Sebenarnya, apa yang akan mereka lakukan?

Kuroro tambah terkejut saat Kurapika membuka pintu dan Morfeus bersiap ikut masuk ke dalam. Melihatnya, Kuroro langsung menghampiri mereka.

"Kurapika! Maaf aku terlambat!" ia beralasan sambil berdiri di hadapan Morfeus.

"Kau menggangguku," kata Dewa Mimpi itu sambil tersenyum pahit.

"Maafkan aku," kata Kuroro sambil menarik pelan tangan Kurapika, "Jadi, bisakah aku mengambil kembali apa yang sudah sepantasnya menjadi milikku?"

"Kau berani sekali," kata Morfeus lagi sambil menatap Kuroro. "Milikmu? Kalau begitu aku menyukai seorang gadis yang ternyata milikmu?"

Sementara itu Kurapika hanya diam saat dirinya ditarik mendekat ke arah Kuroro. Dia memang belum sadar sepenuhnya...tapi dia merasa nyaman dan menyandarkan dagunya di bahu pemuda itu sambil tersenyum.

"Ya, milikku. Maaf sudah membuat anda kecewa," jawab Kuroro lagi.

Morfeus terdiam sebentar. "Baiklah...semoga Sang Malam dapat melindungi kalian," ucapnya. Lalu ia pun pergi.

Kuroro menatap kepergian Morfeus penuh kebencian. Dia yakin Morfeus sudah merencanakan hal yang buruk. Pemuda itu mengguncang tubuh Kurapika untuk menyadarkan gadis itu, "Hei ayo bangun!"

"Nghh...? Kuroro?" akhirnya Kurapika tersadar. "Bukannya tadi kau masih berdansa dengan dewi itu?!" Kurapika sedikit menjauh darinya lalu duduk di sofa.

"Kau berada di bawah pengaruh Morfeus," Kuroro kemudian duduk di samping Kurapika dan menatap gadis itu, "Kumohon, untuk sekali ini saja. Izinkan aku menemanimu di sini. Aku punya firasat buruk, bahkan sangat buruk."

"Mungkin Dewi itu saat ini mencarimu?" Kurapika balik bertanya sambil melirik Kuroro.

"Aku lebih memilih di sini dan menemanimu daripada kembali kepada Dewi itu."

Kurapika terdiam mendengarnya. Kelihatannya dia pun berpikir sebentar. 'Kenapa dia tiba-tiba khawatir?' Tp Kurapika segera menyadari bahwa selama ini Kuroro sebenarnya memang selalu peduli padanya.

"Baiklah...," kata Kurapika akhirnya. "Kau bisa tidur di kamar tamu."

"Jangan kunci kamarmu," kata Kuroro lagi, "Aku harus bisa memastikan bahwa kau selalu aman."

"Iya! Aku bukan anak kecil kok!" protes Kurapika sambil melangkah masuk ke kamarnya. Tapi kemudian dia keluar lagi. "Tapi kau tidak akan berbuat macam-macam, bukan?"

"Tentu saja tidak. Aku memang playboy, tapi aku tidak pernah mau mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini," balas Kuroro.

"Baiklah, Dewa Playboy, kamarnya di situ," kata Kurapika dengan sedikit merasa dongkol sambil menunjuk kamar tamu. "Selamat malam."

Kurapika pun berganti pakaian dan berbaring...jantungnya masih berdegup kencang. Berada satu atap dengan Kuroro, entah kenapa membuatnya begini. Tak lama, Kurapika tertidur. Namun ia tiba-tiba menjerit dalam tidurnya.

Mendengar hal itu, Kuroro segera berlari ke kamar Kurapika. Dia sendiri terkejut mendengar teriakan itu, "Ada apa?"

Mata Kurapika terbelalak ngeri. "Morfeus...aku harus menemuinya..." Tiba-tiba ia berkata sambil membuka selimut dan menjejakkan kakinya ke lantai.

"Ada apa denganmu? Kau kenapa? Apa ada yang salah? Kenapa kau harus menemui pria mesum itu?" Tanya Kuroro bertubi-tubi.

"Dia memanggilku...," kata Kurapika sambil tersenyum, bahkan ia tertawa pelan. Kurapika mulai melangkah dengan hanya mengenakan gaun tidurnya.

Kuroro mengikuti Kurapika dari belakang. Dia tidak benar-benar yakin dengan perkataan Kurapika, "Kenapa kau mau pergi ke sana?"

Kurapika tidak menjawab. Kuroro merasa aneh sambil mengikutinya. 'Sudah cukup,' batinnya saat Kurapika akan membuka pintu depan.

Kuroro segera menggendong gadis itu. Dia tidak peduli walaupun Kurapika meronta. Kuroro membawanya kembali ke kamar, mendudukkannya di tepi tempat tidur. Dia menatap mata Kurapika yang terlihat menerawang. Diperlakukan begitu, Kurapika malah tersenyum. Sinar rembulan yang masuk melalui celah tirai yang tak tertutup seluruhnya menyinari wajah gadis itu.

Kuroro benar-benar terpesona melihat wajah Kurapika. Sayang sekali tatapan menerawangnya itu mengurangi kecantikan gadis itu—walaupun hanya sedikit. Senyumnya benar-benar memukau. Refleks, pemuda itu langsung melumat bibir Kurapika.

Kurapika menyambut ciuman itu tanpa sadar dan membalasnya perlahan. 'Aku tahu...perasaan ini. Ini di mana...? Nyaman sekali...,' Kurapika bertanya-tanya dalam mimpinya yang awalnya begitu dipenuhi dengan panggilan Morfeus.

"Bangunlah..."

Kurapika mendengar sebuah suara memanggilnya. Perlahan gadis itu sadar kembali, dan melihat wajah Kuroro berada dekat sekali dengannya.

"Kau sudah sadar?" tanya Kuroro seraya memeluk Kurapika dengan erat, "Syukurlah. Aku hampir mati ketakutan karena kau ada di bawah pengaruh pria mesum itu."

"A-aku memangnya kenapa?" tanya Kurapika dengan pipi memerah.

Tak ada jawaban.

"Kuroro...?"

Kurapika mendorong Kuroro perlahan, melihat wajah pemuda itu yang tampak sangat khawatir.

"Si mesum itu melakukan sesuatu yang aneh terhadapmu. Sayang sekali aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan padamu," jawab Kuroro.

Kurapika tampak terkejut. "Tapi aku tidak melakukan hal-hal yang aneh 'kan?! Lalu bagaimana caranya aku bisa sadar lagi? Kau memakai mantra?" tanya Kurapika antusias.

"Tidak, kau selalu bisa disadarkan dengan ini," balas Kuroro sambil menunjuk bibirnya. Pemuda itu melihat semburat merah tipis di wajah Kurapika.

"Itu karena kau saja yang memang ingin menciumku!" Kurapika mengelak.

Kuroro memasang wajah polosnya. "Tapi kau membalasnya kok...jangan bicara seolah kau tak pernah membalas ciumanku dalam keadaan sadar..." Raut wajah polos itu kini berubah menjadi raut wajah jahil.

"Aku mau tidur lagi saja!" Kurapika berusaha menghindar dan bersiap untuk berbaring kembali.

"Kau mau aku menemanimu di sini?"

Kurapika menoleh ragu-ragu. "Apa pengaruh Morfeus itu berbahaya?"

"Ya, dia berbahaya. Jangan dekat-dekat dengannya. Lagipula kau juga belum tahu apa yang sebenarnya dia inginkan."

Kurapika terdiam sebentar, lalu memalingkan wajahnya. "Kalau begitu...kau di sini saja," katanya pelan.

Kuroro mulai tersenyum jahil, "Apa? Kau mau aku tidur bersamamu? Jangan bodoh! Lebih baik aku tidur di sofa saja."

"Tadi kau sendiri yang bilang begitu!" seru Kurapika marah sambil memukul Kuroro dengan bantal. "Pergi! Keluar dari kamarku!"

"Ah, jahat sekali. Padahal aku yang sudah menyelamatkanmu," cibir Kuroro kemudian meninggalkan kamar Kurapika, "Selamat malam."

"Kau lebih sadis!" seru Kurapika dari dalam kamarnya.

Kuroro tidak bisa menahan tawanya. Akhirnya pemuda itu duduk di sofa dan terus terjaga sepanjang malam.


Kurapika terbangun saat hari masih fajar, walau sebenarnya tidurnya pun tidak begitu nyenyak karena kekesalannya terhadap Kuroro. Saat keluar kamar, dia melihat pemuda itu sedang duduk sambil membaca buku.

"Kau bangun pagi-pagi sekali," komentar Kurapika dingin.

Kuroro tersenyum tanpa mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya. "Aku tidak tidur kok," jawabnya pendek. Hening sejenak, karena Kurapika tak menyangka Kuroro akan bertindak sejauh itu. Kuroro pun menoleh dan menatap Kurapika yang terdiam, "Ayo buat sarapan. Kau harus membalas jasa-jasaku."

Ugh, Kurapika benar-benar kesal. "Aku 'kan tidak memintamu untuk tidak tidur semalaman!" Ia menggerutu. Tapi walau bagaimanapun Kuroro memang telah menjaganya, hal itu tak terbantahkan lagi. Maka dengan ogah-ogahan Kurapika pergi ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.


"Sarapannya sudah siap," kata Kurapika sambil menghidangkan pancake di atas meja.

"Makanan apa ini? Memangnya kau bisa masak?," tanya Kuroro sambil memasukkan pancake itu ke dalam mulutnya, "Rasanya benar-benar buruk."

"Ya sudah, kalau begitu tidak usah dimakan!" jawab Kurapika segera sambil menuangkan jus.

"Kalau sedang lapar, makanan seburuk apapun pasti bisa masuk ke dalam lambung kecilku ini," balas Kuroro. Lalu dia meneguk jus yang dituang oleh Kurapika.

Kurapika menatap Kuroro dengan tajam, dia benar-benar tak suka. 'Aku jadi tak selera,' ucap Kurapika dalam hati. Ia pun berhenti makan saat makanannya masih ada setengahnya.

"Mau kemana kau? Selesaikan makanmu dulu," ujar Kuroro. Pemuda itu menarik Kurapika sehingga ia mendekat kemudian menyuapi gadis itu.

"Mmph...!" Kurapika terpaksa mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Pipinya merona. "H-Hentikan...," kata Kurapika dengan suara gemetar.

Belum juga Kurapika menelan pancake-nya, Kuroro menyuapkan sesendok pancake lagi kepadanya, "Nah, begitu. Kau harus makan biar kau sehat."

Kurapika segera menjauhkan tangan Kuroro. "Sebentar!" katanya dengan mulut yang penuh makanan. "Aku bukan anak kecil!"

Kuroro terus menyuapi gadis itu, "Bukan hanya anak kecil yang perlu disuapi." Pemuda itu terus menyuapi Kurapika hingga pancake-nya habis.

Kurapika segera menjauh. Dengan merengut ia membereskan peralatan makan. "Waktunya pergi," kata Kurapika beberapa saat kemudian.


Kuroro duduk diam sambil terus menuliskan takdir-takdir manusia pada buku takdirnya, "Buruk, mujur, buruk, mujur, buruk, mujur," gumamnya. Pemuda itu menyimpan kembali bukunya saat ia benar-benar merasa jenuh. Ia lalu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Kurapika.

"Ada apa?!" Tanya Kurapika dngan sedikit kasar. Hari masih siang, kenapa pemuda itu sudah memanggilnya?

"Kau sudah makan?" tanya Kuroro balik.

"Belum...," jawab Kurapika sambil mengernyit. Tidak biasanya Kuroro menanyakan hal itu.

"Kalau begitu cepat kemari."

"Memangnya kenapa? Kau punya makanan?" Kurapika bertanya lagi sambil menghampiri Kuroro.

"Restoran itu baru dibuka kemarin," jawabnya sambil menunjuk ke seberang jalan, "Ayo kita ke sana."

"Aku mau es krim juga!" Kurapika tiba-tiba ceria. Kuroro tersentak, ia teringat saat makan es krim bersama waktu gadis itu masih menjadi manusia.

Pemuda itu tersenyum lembut, "Es krim strawberry?"

"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Kurapika sambil mengikuti Kuroro ke restoran itu. Rasanya ia belum pernah makan es krim bersamanya.

"Feeling, mungkin?"

Jawaban Kuroro terdengar tidak memuaskan bagi Kurapika, tapi dia tak mau bertanya lebih jauh lagi. Setelah duduk di meja dekat jendela, mereka segera memesan makanan.

"Ada minuman dengan rasa jeruk juga...kau mau?" tanya Kurapika tanpa sadar.

Kuroro tersenyum puas. Ternyata gadis itu memang tidak sepenuhnya melupakan masa di mana ia menjadi seorang manusia.

"Ya," jawabnya.

Kurapika sangat menyukai makanannya, apalagi es krimnya. "Enak ya? Aku—" kata2nya terhenti saat melihat sesuatu di wajah Kuroro. Refleks ia mengambil serbet, bermaksud membersihkan bekas minuman di sudut bibir Kuroro. Tapi lagi-lagi dia tiba-tiba berhenti.

"Ada apa?" tanya Kuroro.

Terbayang adegan yang sepertinya mustahil di benak Kurapika. Sekilas tadi...ia melihat dirinya melakukan hal yang sama.

"Ini, ada bekas minuman di bibirmu," katanya sambil menyerahkan serbet itu.

Kuroro menerima serbet itu kemudian membersihkan mulutnya. Kuroro tersenyum melihat ekspresi Kurapika.

Gadis itu tampak kebingungan, "Kenapa? Ada yang salah?"

"Deja Vu," jawab Kurapika. "Sepertinya aku pernah mengalami hal yang sama...aku membersihkan bekas sesuatu di tempat yang sama," ia menunjuk ke bibir Kuroro.

"Kau memang pernah melakukannya," kata Kuroro, "Hanya saja mungkin caranya berbeda."

"Eh? Maksudmu?" tanya Kurapika tak mengerti.

Kuroro langsung melumat bibir gadis itu, "Mungkin seperti ini," jawab Kuroro setelah melepaskan pangutan bibirnya.

Kurapika terpaku. Tamu-tamu di sana seketika menoleh dan tersenyum dengan pipi memerah sama seperti Kurapika.

"B-bukan itu!" jawab Kurapika setelah kesadarannya kembali. Kenapa sekarang pemuda itu sering menciumnya?!

Kuroro tertawa geli.

"Aku ingat saat pertama kali menciummu," kata Kuroro tiba-tiba. Pemuda itu mengingat saat Kurapika menatapnya dengan tatapan penuh kebencian ketika pemuda itu mencuri ciuman pertamanya, "Sepertinya kau lebih menikmatinya sekarang."

Wajah Kurapika rasanya semakin memanas mengingat hal itu. Dia segera berdiri. "Aku sudah selesai," katanya sambil melangkah menuju pintu kluar. Dalam hati ia pun bertanya-tanya, apakah yang dikatakan Kuroro itu benar?

Kuroro membiarkan Kurapika meninggalkan restoran itu. Pemuda itu tersenyum. Gadis itu benar-benar tidak menyadari perasaannya sendiri.

Mendadak, di pertengahan jalan, Morfeus muncul di hadapannya. Lamunan Kurapika pun buyar.

"Apa yang mmbuat wajah cantikmu tampak begitu muram?" tanya Morfeus sambil tersenyum.

Kurapika mendongak dan terkejut melihatnya. "Dewa Morfeus...?"

"Katakanlah padaku...tidak apa-apa..."

Kurapika teringat akan kata-kata Kuroro. Sebaiknya dia memang menjaga jarak dari Dewa Morfeus. Kurapika berdehem kemudian menjawab Dewa itu, "Ti-tidak ada apa-apa."

Kurapika segera mohon diri, lalu berbalik pergi. Betapa terkejutnya Kurapika saat melihat Kuroro tengah mengobrol akrab dengan seorang gadis bumi. Dadanya terasa sangat sakit. Ada apa ini? Padahal Kuroro hanya berbicara dengan gadis bumi itu. Tapi kenapa dadanya terasa sakit seperti ini?

Kurapika pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat.

"Kemarilah," Morfeus muncul kembali entah dari mana. "Aku akan membawamu ke tempat yang indah...hingga kau tak akan bersedih lagi."

Morfeus mengulurkan tangannya. Kurapika menatapnya ragu, tapi kemudian ia menyambut uluran tangan itu. Morfeus tersenyum puas. Tentu saja ia melihat apa yang dilihat Kurapika tadi.

"Sebenarnya kita mau pergi ke mana?" Tanya Kurapika.

Morfeus tak menjawab, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah padang bunga yang luas.

"Indah sekali!" pekik Kurapika kagum. Ia senang sekali melihatnya.

"Ayo duduklah di sini, kita nikmati pemandangan ini," kata Morfeus sambil menarik Kurapika agar duduk di sampingnya.

Kurapika kembali mengingat pesan Kuroro. Namun, ia juga teringat akan Dewa Playboy yang selalu menggoda gadis-gadis itu. Lagi pula Morfeus tidak tampak jahat. Tidak ada salahnya untuk berteman dengan dewa yang satu ini. Gadis itu duduk di samping Morfeus kemudian menatap padang bunga yang terhampar di hadapannya, "Aku belum pernah ke tempat seperti ini sebelumnya."

Setelah beberapa lama dan Kurapika terlihat terbuai dengan semua itu, Morfeus memberanikan diri untuk merangkulnya. Gadis itu hanya diam. "Semua keindahan ini...begitu cocok untukmu," katanya. Ia mengangkat dagu Kurapika dengan sebelah tangannya lalu mulai mendekatkan wajahnya.

Kurapika memejamkan mata...tapi kemudian matanya terbuka lagi saat wajah Kuroro muncul di benaknya. Gadis itu tersentak kaget dan menjauhkan dirinya dari Morfeus. Dia merasa kebingungan. Kenapa malah wajah Kuroro yang muncul di benaknya?

"Kenapa? Kurapika...ayo, kembalilah padaku," Morfeus berkata sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya kembali. Tapi terlihat bahwa ia pun sedikit terkejut.

"Tidak...aku...," jawab Kurapika gugup. "Maaf! Aku harus segera kembali. Terima kasih telah mengajakku ke sini!"

Kurapika segera pergi dari situ dengan mata berkaca-kaca, meninggalkan Morfeus yang terlihat geram dan segera mencari-cari Kuroro.


Kuroro duduk di atas sebuah pohon besar sambil melanjutkan pekerjaannya. Dia masih tetap kebingungan. Kemana Kurapika sebenarnya? Gadis itu belum terlihat sejak tadi siang.

"Kuroro...!" tiba-tiba terdengar suara dari langit.

Kuroro mendongak dan melihat Kurapika menuju ke arahnya. Belum sempat berkata apa-apa, Kurapika segera memeluknya. Kuroro membalas pelukan itu. Ia masih tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi?

"Kau kemana saja?" Tanya Kuroro sambil membelai rambut Kurapika.

Kurapika merasa tenang setelah berada di pelukan Kuroro. Ia tidak menjawab pertanyaan Kuroro, tapi kemudian melonggarkan pelukannya dan menatap pemuda itu. Sepertinya ia sudah memahami semuanya sekarang.

"A-aku...aku mencintaimu...," ucapnya.

Kuroro terdiam. Ia tidak mampu membalas pernyataan Kurapika. Yang ia tahu, tangannya refleks memeluk gadis itu dengan erat. Pemuda itu pun mengecup keningnya.

Kurapika meresapi kecupan itu. Dia mengerti kenapa dirinya langsung menjauh saat Morfeus akan menciumnya tadi. Kurapika hanya ingin Kuroro yang melakukannya. Ia pun ingat Kuroro pernah mnyatakan hal yang sama. Tapi kenapa Kuroro tak mengatakannya lagi? Kurapika menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Kuroro. Belum juga Kurapika menjawab pertanyaan, tiba-tiba gadis itu melihat seorang anak lelaki dari kejauhan. Anak itu langsung berlari dan memeluk ibunya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ibu itu adalah orang yang sama yang berbicara dengan Kuroro tadi.

"Bocah bandel itu hilang sejak pagi," ujar Kuroro ketika menyadari bahwa Kurapika memperhatikan anak itu, "Ibunya meminta tolong padaku untuk mencari anaknya. Untunglah anaknya itu laki-laki." Kuroro tertawa geli, "Aku tidak akan menggoda gadis lain lagi. Seperti yang sudah aku katakan dulu."

Kurapika tersenyum, ia terlihat senang mendengarnya. Lalu gadis itu melepaskan pelukannya. "Sepertinya kita harus kembali bertugas..."

"Tidak perlu. Kita bisa kembali sekarang," kata Kuroro.

Kurapika benar-benar tidak mengerti. "Kenapa?"

Kuroro tersenyum kemudian menjawab, "Karena hari ini adalah tepat seratus hari kau bekerja di bumi. Kau bisa kembali sekarang kalau kau mau."

"Lalu bagaimana denganmu?" Kurapika balik bertanya.

"Aku bisa pulang bersamamu, Bocah," jawab Kuroro sambil menepuk-nepuk kepala Kurapika.

"Jangan panggil aku bocah!" Protes Kurapika sambil merengut. Mereka pun segera kembali ke khayangan, dan Kuroro mengantar Kurapika terlebih dahulu. Sesampainya di sana, mereka dikejutkan oleh banyaknya bunga di depan rumah Kurapika beserta sebuah kartu ucapan di dalamnya :

"Hanya untukmu...Morfeus."

Kuroro mengambil bunga-bunga itu kemudian membuangnya jauh-jauh. "Pria mesum itu memang menyebalkan, jangan terima apapun dari dia. Bisa-bisa kau kena sihirnya."

"Tadi siang aku bertemu dengannya, lalu—" Kurapika segera menghentikan ucapannya, lalu memarahi dirinya sendiri di dalam hati. 'Kenapa aku harus memberitahunya?!'

"Oh," balas Kuroro singkat. Pemuda itu menunggu Kurapika untuk melanjutkan ceritanya.

Kurapika segera membuka pintu rumahnya. "Kau mau masuk?" ia berusaha tersenyum.

"Tidak, terima kasih. Sebaiknya kau istiharat."

Kuroro langsung meninggalkan tempat itu. Ternyata Kurapika menghilang siang tadi karena bersama dengan Dewa itu. Bukankah dia sudah pernah memperingatkan gadis itu?

Kurapika agak terkejut melihat tanggapan Kuroro yang dingin...dan semakin menyesali ucapannya barusan.


Keesokan paginya, Kurapika kembali berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke gedung tempatnya bekerja bersama Kuroro. Sesampainya di sana, ia tidak melihat Kuroro. Pemuda itu sudah pergi. Tampaknya Kuroro benar-benar marah padanya. Tidak ada jawaban sama sekali dari Kuroro. Kurapika menghembuskan nafasnya dengan sebal. Sebegitu marahnyakah Kuroro sampai menjawab panggilannya pun ia enggan?

"Kuroro!" panggil Kurapika lagi dengan suara lebih keras.

Sekali lagi, tidak ada jawaban dari pemuda itu. Kurapika benar-benar merasa kecewa.

Kurapika sekarang diam dengan putus asa. Seorang gadis kecil menghampirinya.

"Ada apa? Kenapa kau sedih?" Tanyanya sambil mengamati Kurapika.

Kurapika tersenyum lemah...saat ini dia sedang tidak menampakkan wujudnya, tapi manusia suci seperti anak itu masih bisa melihatnya.

"Sepertinya seseorang marah padaku," jawab Kurapika.

"Kenapa?"

"Entahlah...mungkin karena aku tidak menurutinya."

Si Gadis Kecil menatapnya lagi.

"Kau malaikat? Atau siapa?"

Kurapika berpikir sejenak. Haruskah dia memberitahukan identitasnya yang sebenarnya?

"Sama sepertimu," dia menjawab pada akhirnya.

"Tapi kau terlihat begitu bercahaya...cantik," kata anak itu sambil menyentuh wajah Kurapika. "Tenanglah, dia yang marah padamu pasti akan segera kembali untukmu."

Kurapika tersenyum, "Terima kasih."

Kurapika merasa hatinya lebih tenang sekarang. Ia pun pergi dari tempat itu dan mencari Kuroro.


Hingga hari sudah senja, Kurapika sama sekali belum melihat Kuroro. Padahal dia sudah mencari seharian. Kemana perginya pemuda itu? Gadis itu mulai merasa khawatir. Apa terjadi sesuatu padanya?

Akhirnya Kurapika menunggu di gedung tempat kerja mereka, hingga malam tiba dan ia tertidur di sana. Kuroro pun baru datang ketika sudah menjelang tengah malam.

Kurapika sedikit bergerak saat Kuroro selesai membaringkannya di ranjang, tapi ia tidak terbangun sama sekali. Kuroro menghela napas berat. Ia benar-benar tidak suka Kurapika pergi dengan Morfeus...atau dengan pria manapun juga selain dirinya. Pemuda itu tersenyum saat menyadari ia menjadi protektif sekarang.

Kuroro naik ke ranjang dan ikut berbaring di samping Kurapika.

"Selamat tidur," bisiknya.


Kurapika terbangun saat mendengar suara memanggil namanya. Begitu dia membuka matanya, dia melihat Kuroro ada di sampingnya. Kurapika terlihat terkejut, tapi rasa terkejut itu terkalahkan oleh rasa gembira bisa melihat Kuroro.

"Kuroro...?" ucapnya dengan mata berbinar-binar.

"Ya?"

"Kamu kemarin ke mana saja? Apa kau tidak mendengar aku memanggilmu? Apa yang kaulakukan sebenarnya?" Tanya Kurapika beruntun sambil beranjak duduk.

"Ke bumi. Tidak, ponselku rusak," jawab Kuroro asal. Melihat wajah Kurapika yang langsung cemberut, dia mengulangi jawabannya, "Menemui teman lama," jawab Kuroro. Pemuda itu duduk kemudian tertawa, "Dasar bocah."

"Berhenti memanggilku bocah! Aku sudah tujuh belas tahun, untuk sekian kalinya kukatakan padamu! Kenapa kau terus memanggilku bocah?!" Tanya Kurapika emosi.

Kuroro terdiam kemudian meninggalkan Kurapika yang sedang marah sendirian. 'Jangan pernah mengusik bocah labil yang sedang emosi,' batin Kuroro.

Kurapika segera turun dari ranjang dan melangkah mengikuti Kuroro. "Kuroro! Jawab aku!" ia merengek.

"Tanyakan pada rumput yang bergoyang," balas Kuroro cuek. Pemuda itu berhenti kemudian berbalik untuk menatap Kurapika, "Dari pada membuang waktu untuk bertanya kepada rumput, kenapa kau tidak menggunakan waktumu untuk berjanji satu hal padaku?"

"Janji apa?" tanya Kurapika tak mengerti.

"Jangan terlalu dekat dengan Dewa mesum itu," jawab Kuroro, "Dan sebaiknya kau buat sarapan. Kau sama sekali belum melakukan apapun untuk membayar biaya sewa di kamarku."

"Biaya sewa?! Kamarmu?! Jadi sebenarnya kau tinggal di sini?!" tanya Kurapika terkejut.

Kuroro menggaruk-garuk pipinya yang sebenarnya tidak gatal, "Kau baru tahu?"

"Jadi sebenarnya itu alasanmu tidak pernah terlambat?! Dan kau selalu menghukumku..." Kurapika terdiam sebentar. "Kau mengerjai aku!"

Kuroro tertawa terbahak-bahak, "Tapi kau menyukainya."

Kurapika langsung terdiam dengan wajah yang memerah. "Lalu...kemarin...kau marah ya? Aku mencarimu. Aku mau diajak pergi Morfeus karena aku melihatmu mengobrol akrab sekali dengan wanita itu..."

"Aku tidak marah," kata Kuroro, "Hanya kesal saja."

"Maafkan aku...," kata Kurapika lagi.

Kuroro meliriknya. Rasanya sakit sekali membayangkan Kurapika bersama dewa itu. "Apa yang dia lakukan padamu?" tanyanya.

Kurapika berpikir sejenak. Haruskah dia memberitahu semuanya. Tapi, Kuroro pasti akan marah kalau mengetahui apa yang di perbuat Morfeus, "Dia mengajakku melihat padang bunga."

"Hanya itu?" Kuroro menyelidik.

"Iya," jawab Kurapika. 'Biarlah berbohong sedikit,' batinnya. "Kau juga harus berjanji padaku!"

"Apa itu?"

"Jangan menggoda perempuan lain lagi," jawab Kurapika pelan. "Apalagi menciumnya..."

Kuroro menepuk-nepuk kepala Kurapika, "Baiklah. Dasar kau bocah pecemburu."

"Kau juga sama saja!" balas Kurapika sambil mmalingkan wajahnya dengan kesal. Kuroro hanya tertawa mendengarnya.


Saat keduanya baru saja turun ke bumi, Kurapika mendengar suara lonceng dibunyikan berkali-kali. Kurapika menengok ke arah suara itu berasal dan melihat pasangan pengantin di sana. Gadis itu mengamati ekspresi pasangan itu. Begitu bahagia. Apakah dia juga bisa merasakan kebahagiaan seperti itu suatu saat nanti?

Terlihat sang pengantin wanita berdiri membelakangi para tamu dan mengangkat buket bunganya.

"Kuroro! Lihat! Indah sekali bunga itu! Aku mau!" kata Kurapika. Ia segera turun ke tempat itu.

"Hei! Kurapika! Jangan!" cegah Kuroro. "Itu artinya—"

Ucapan Kuroro terhenti karena sudah terlambat. Kurapika ikut masuk ke dalam kerumunan dan berhasil mendapatkan buket itu.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kuroro setelah Kurapika kembali ke tempat Kuroro, "Kau juga mau menikah seperti mereka?"

"Eh?" kata Kurapika tak mengerti.

Kuroro menghela napas. Rupanya Kurapika belum mengetahuinya. "Yang berhasil mendapatkan buket itu, dipercaya akan segera menikah juga. Sama saja kau menghilangkan kesempatan semua perempuan di sana itu..."

"Ma-maaf. Aku tidak tahu, sungguh," kata Kurapika terbata-bata. Perasaan bersalah langsung merasukinya.

"Yah, mungkin dalam waktu dekat kau juga akan menikah. Sayang sekali kesempatan gadis-gadis itu hilang," balas Kuroro.

Kurapika langsung tersipu. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Tiba-tiba datanglah seorang utusan, membuat Kuroro dan Kurapika menjadi heran.

"Dewi Kurapika, Dewa Morfeus tadi menemui Zeus...dia menyampaikan keinginannya untuk melamarmu," katanya.


~ KuroPika FOREVER ~