previously
Nethere memandang langit sekilas dan kembali memandangi Nesia yang kini menangis. Ada perasaan tak enak yang mulai muncul di dalam dadanya. Tak enak rasanya. Lalu ia menggerakkan tangan, telapak tangannya terbuka, lalu ia angkat. Ingin menyentuh surai hitam yang Nesia miliki. Namun sebelum tangan itu sampai, ada seorang wanita yang terlebih dulu menariknya. Dia adalah ibunya. Wanita yang masih cantik di usianya yang kepala empat itu menatap sinis Nesia dan berdesis pada putranya; menyuruhnya mengabaikan Nesia, lalu memaksa anak tunggalnya itu masuk ke mobil mereka yang ada di parkiran tanpa basa-basi lagi. Sedangkan Nethere yang sudah dari dulu terbiasa patuh cuma bisa menatap nanar ke Nesia yang masih menangis di tempat.
Nethere menghela nafas. Ia berbalik untuk mengikuti tarikan sang ibu.
Maaf—batinnya, parau.
.
.
South Batavia, 1848.
Dengan dasar ingin berbisnis, sudah dua tahun lamanya keluarga Van gaal beserta para pejabat Belanda lain menghabiskan waktunya di pinggiran wilayah Batavia Selatan. Dan itu tandanya juga sudah dua tahun lamanya Nesia menahan perasaannya ke seorang pemuda Belanda bernama Nethere Van Gaal.
Ya, Nesia yang saat ini sudah berusia delapan belas tahun itu sadar benar dengan perbedaan strata di antara mereka berdua. Kejadian tempo lalu, setelah pesta penyambutan para kompeni di desa lah yang menyadarkannya. Perasaan yang sejak kecil ia pelihara itu harus dia tahan mati-matian agar tak membesar—diusahakan harus layu kalau bisa. Dan Nesia tau itu bukan hal yang mudah, apalagi saat ia tau bahwa Nethere kerja di suatu tempat tak jauh dari rumahnya. Karena itu mereka sering berpapasan tanpa disengaja.
Oh, oke. Sedikit penjelasan, sudah bukan rahasia kalau orang-orang Belanda yang terhitung elit tak mau berbaur dengan rakyat pribumi yang sudah menghuni desa ini sejak lama. Mereka membuat kawasan baru. Jika lingkungan tempat tinggal Nesia dan lainnya berada di daerah sempit dengan ciri rumah berderet, tiang jemuran bisa di depan pintu masuk, dan alas jalan yang tersusun dari tanah padat, Nethere tinggal di perumahan khusus. Dengan rumah-rumah besar tertata, taman pribadi yang luas, aspal sebagai jalan, juga tempat parkir yang memadai. Nesia jadi tau untuk apa orang-orang desa disuruh membuat perumahan itu dalam waktu yang terhitung cepat. Ternyata bayarannya—yang terhitung besar—memang berasal dari kantung para priayi Belanda.
Satu-satunya hal yang membuat orang Belanda berbaur dengan rakyat, ialah saat mereka membeli beberapa rumah warga miskin di desa untuk merombaknya ulang menjadi ruko, tempat berbisnis. Itu karena letak ruko yang mereka gunakan lebih strategis dengan konsumen dan pasar. Orang-orang di desa sampai tertegun sendiri karena di tahun-tahun awal, pasti ada ruko baru yang dibangun tiap awal bulan.
Dan mungkin karena mereka juga seorang penjual, ada beberapa rakyat Belanda yang tau diri, tidak arogan. Buat Nesia mereka baik-baik semua (kecuali perilaku Nethere yang melupakannya—jika itu terhitung tindakan jahat). Sebagai makhluk sosial mereka cukup ramah dan tak terlalu arogan. Tapi untunglah di sini tak ada yang namanya peperangan tidak jelas yang hanya merugikan rakyat.
Kembali lagi ke fokus utama; seperti yang tadi dijelaskan, karena jarak rumahnya dan ruko tekstil Van Gaal berdekatan, tak jarang Nesia berpapasan dengan Nethere. Pria berkulit putih bersih itu terlihat tampan dengan karismanya, padahal saat itu ia hanya duduk di depan rukonya sendiri sambil menghisap cerutu. Dan bukannya menghindari atau melupakannya, terkadang Nesia malah curi-curi lihat ke sana, menikmati wajah tampannya diam-diam, tanpa pria itu tau tentunya.
Entahlah, Nesia sendiri tidak mengerti. Gadis bersurai hitam panjang itu hanya sudah jatuh cinta terlalu dalam padanya—bahkan sejak dulu. Mungkin butuh lima tahun lebih untuk membuatnya beralih ke manusia pribumi lain.
Dengan helaan nafas panjang, Nesia memalingkan wajahnya dari Nethere. Ia tatapi pena yang ia anggap sebagai cinderamata cinta untuknya, lalu menggenggamnya erat.
.
.
.
BATAVIA
Hetalia by Hidekazu Himaruya
AU—Alternate Universe
Pieree Present...
(Netherlands—FemIndonesia)
.
.
four of nine
-perbaikan-
.
.
Tepat ketika matahari di atas sigasananya, Nethere menurunkan surat kabar yang ia baca untuk melihat wajah sang ibu yang sedang berbicara. Kedua alis pirangnya bertautan.
"Apa katamu? Merekrut orang?"
"Ya. Tugasmu sekarang adalah merekrut orang dari desa ini untuk bekerja dengan kita. Jangan lupa ambil yang remaja, tidak usah yang dewasa—supaya bisa digaji murah."
Putra tunggal keluarga Van Gaal itu mendesah lelah. Ternyata itu alasan utama kenapa dia disuruh masuk kerja—Nethere mengurusi keuangan ruko—tak peduli ia sudah memohon dengan sangat agar bisa diizinkan libur hari ini.
"Oh, ayolah."
Ia taruh korannya di pangkuan paha dan melipat kedua tangan di dada. "Jadi aku harus mendatangi rumah warga satu-satu untuk membuat mereka mau mempekerjakan anaknya di sini?" Ia menimbang-nimbang, matanya menyipit. "Aku?"
"Semua bawahanku sedang sibuk. Sekali-sekali kau harus membahagiakan mama dong."
Dengan wajah yang sedikit merengut, pria berkemeja putih itu berdiri. Beatrise, nama wanita berambut ikal kecokelatan itu tersenyum dan mendorong punggung Nethere ke luar ruko. "Sabtu besok pokoknya sudah ada lima orang yang datang ke sini. Oke?"
Nethere mengusap rambutnya yang sengaja di-gel spike itu dan memandangi suasana desa yang tersedia di depannya. Rumah orang-orang yang sedikit kumuh berjejer. Sekalipun banyak orang daerah yang berlalu lalang di depannya, Nethere benar-benar mematung di tempat, tak tau harus berbuat apa. Selain karena sebelumnya ia sedikit dibatasi dalam hal pergaulan—keluarganya memang tak suka jika ia berbaur dengan rakyat pribumi—tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan sang ibu, Beatrise Van Gaal, malah menyuruhnya untuk mengambil lima orang dari desa untuk ia pekerjakan di ruko. Jangan salahkan Nethere kalau sekarang ia bingung dari mana ia harus memulai perekrutan ini.
Tapi karena ia tak bisa kembali tanpa alasan, Nethere mencoba berjalan. Pada awalnya ia yang jarang keluar atau beranjak dari teras rukonya itu sedikit mengejutkan orang-orang di desa. Bahkan ada yang memandangnya dengan tatapan tak percaya ia meninggalkan sarangnya di siang hari seolah ia adalah vampir. Tapi nyatanya, walau memiliki paras cuek dan angkuh, Nethere adalah orang baik. Saat disapa sama tukang bakso yang sedang mendorong gerobak saja Nethere menyempatkan diri untuk mengangguk sedikit dan membagi senyum sedetiknya. Tak ada suara sahutan memang, tapi jelas itu jauh lebih baik dibanding orang-orang Belanda lainnya yang kadang sok tuli jika diajak bicara kalau tidak tentang bisnis.
Nethere berhenti melangkah saat ia memasuki daerah taman. Awalnya agak menyesal karena telah ke sini—bukannya ke rumah orang-orang yang dekat dengan ruko—tapi saat ia mau berbalik, ada interaksi dua manusia yang tertangkap di ujung manik hijaunya.
Di sana, di bangku kayu rapuh ujung taman, ada sepasang lelaki dan perempuan yang sedang memunggunginya. Pertama-tama ia memandangi sang gadis. Surai hitam panjangnya yang terurai ia sampirkan ke bahu kiri. Sedangkan di sebelahnya, yang sedang memiringkan badan—menghadap ke si perempuan—adalah seorang pria dengan hidung agak mancung. Dapat di lihat dari kulit keduanya, mereka adalah orang pribumi. Sepasang kekasih yang sedang berkencan di taman, mungkin?
Inginnya sih lanjut pergi dari taman, tapi lagi-lagi langkahya harus terhenti karena ia mendengar suara penolakan dari sana.
"Sudahlah, Sya. Aku lagi malas." Remaja bersuara lembut itu mendorong tubuh Asya, pria melayu asal imigran Malaysia yang sedang menggodanya. Lihat saja tangannya yang gatal ingin merangkul pundak gadis tersebut.
Nethere yang saat itu jauh di belakang mereka memang tak bisa mendengar apa-apa. Satu kata pun tidak. Tapi saat ia mengamati, dapat ia lihat tiba-tiba gadis itu berdiri dan berniat kabur. Namun karena tangannya terlebih dulu dicegat, buku yang dari tadi ia pegang terjatuh. Dengan cemas ia mengambil buku tersebut agar tidak terlalu kotor dan berbalik menampilkan wajah merengut ke Asya.
Dan benar saja, seperti dugaan Nethere, itu memang benar-benar Nesia. Inesia Rahayu. Dari suara yang samar-samar ia ingat, juga dengan paras ayu serta jepit bunga putih yang terselip di poni miringnya. Jelas dia adalah gadis pribumi yang dua tahun lalu pernah mengaku mengenalinya.
"Sya, sudah dong main-mainnya. Kau baru saja menjatuhkan buku puisiku, tau..."
"Ya maaf, kan aku tidak sengaja. Abisnya kau tidak mau diajak main sih, Nes." Ucapnya tanpa ada rasa bersalah.
"Dari tadi aku sudah bilang tidak mau. Kau saja yang terlalu memaksa."
"Dibilangin coba saja dulu. Sekalii saja."
"Tidak."
"Coba dulu Nesia!"
Karena tangan Asya semakin kencang menariknya, Nesia berniat melepas paksanya dengan cakaran. Hanya saja sebelum ia lakukan perbuatan tadi, Nesia sudah terlebih dulu dibuat tersentak saat ia melihat ada seorang pria bertubuh besar yang berada tepat di sampingnya. Dengan raut wajah serius serta mata zambrud yang menatap lurus Asya, tangan putihnya menyentuh pelan tangan si Melayu agar ia bisa melepaskan Nesia.
Kikuk ada orang Belanda di tengah mereka, Asya mengerjap dan patuh tanpa suara. Hawa yang cukup kuat dari pria pirang itu membuat ia menelan ludah dan melirik Nesia beberapa kali, meminta penjelasan. Tapi karena Nesia juga sama kaget, akhirnya Asya memilih untuk tersenyum malu-malu dan kemudian pamit untuk pergi.
Jadilah Nethere dan Nesia ditinggal berdua di taman.
"A-Ah..." Nesia yang sempat memperhatikan wajah Nethere selama sepuluh detikan langsung tersadar saat Nethere meliriknya. "Kamu mau duduk di sini, ya? Ma-Maaf mengganggu..."
Nesia bersiap-siap pergi, menyembunyikan keterkejutannya yang bercampur dengan semburat malu, namun percuma karena ada Nethere yang masih menahannya. Nesia menoleh dan memandang tangan kecilnya yang digenggam oleh Nethere, lalu pemilik wajah manis itu mengadah bingung. Agak kikuk, Nethere melepas Nesia dan berdeham kecil. "Maaf."
"Tak apa." Nesia menyentuh pergelangan tangannya yang masih hangat. Kepalanya terus-terusan menunduk hingga Nethere bertanya dengan suara pelan.
"Tadi..." Ia agak ragu, tapi terlihat sekali bahwa ia ingin mengobrol dengan gadis berponi miring itu. "Kau diganggu olehnya? Apa dia memang kekasihmu?"
"Teman." Nesia memberanikan diri untuk santai sekalipun jantungnya berdegup kencang. "Dia Asya, salah satu temanku."
"Dia memaksamu?"
"Seperti itulah kelakuannya. Ia ingin melihatku menari."
Nethere jadi mengingat masa-masa terakhir ia berbicara dengan gadis itu. Kalau tidak salah Nesia memakai baju petunjukan. "Kau seorang penari?"
"Dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Karena itu aku menolak."
Nethere mengangguk. Ia sudah kehabisan basa-basi. Karenanya dengan perlahan ia duduk di bangku taman dan meletakkan kedua sikutnya ke masing-masing paha, agak membungkuk. Nesia yang masih berdiri di tempat jadi bingung sendiri juga. Ingin berbicara, tapi tak tau harus mengeluarkan kalimat apa. Atau paling tidak ingin pergi, tapi sedikit sungkan dan... enggan.
Pena dan buku yang ia bawa dipegangnya erat. Ah, tapi... soal pena, ini kan pena pemberian Nethere saat ia masih kecil? Nesia buru-buru memasukkan pena itu ke selipan buku. Tapi nyatanya mata berwarna Nethere sempat melihatnya dan membuat Nesia mati kutu.
Nethere kemudian memandang wajah gadis itu dari bawah. Pipinya tampak merona dan raut wajahnya diliputi kegugupan yang terpancar jelas. Ah, tapi daripada itu, lebih baik ia berbasa-basi agar mengisi suasana yang terasa hambar ini. "Tadi kau sedang menulis apa?"
"M-Mm... puisi." Tangannya merambat ke dada, seolah ingin meremas jantungnya sendiri yang berdentum kencang. "Tuan Nethere... tumben sekali keluar ruko..."
"Jangan pakai Tuan. Sekalipun badanku besar, umurku baru dua puluh tiga." Ia mendesah pelan dan menatap sekeliling. "Aku keluar buat cari angin saja. Suasana desa di sore hari lumayan menyenangkan."
"Iya..." Nesia malu-malu mengangguk setuju. Baru akan berbicara, menambah topik obrolan, ia duluan dibuat kaku oleh mata Nethere yang sudah menatapnya lurus-lurus.
"Apa kau lagi butuh pekerjaan?"
Ya, memang inilah tujuan utama Nethere menahan Nesia agar tetap di taman. Merekrutnya seperti apa yang diperintahkan oleh Beatrise, ibunya.
"Eh? Aku? Pekerjaan?"
"Iya. Semacam menjadi... penjahit, mungkin?"
"Menjahit? Aku suka menjahit." Mata bulat Nesia berbinar. "Tapi kenapa bertanya seperti itu?"
"Ibuku lagi butuh lima orang pekerja di ruko. Mungkin kalau kau mau, kau bisa mengajak empat temanmu lagi agar bisa ikutan. Tapi karena ibuku hanya mengambil pekerja remaja, ajak saja yang sepantaranmu." Jelas Nethere. "Bisa bantu aku?"
"Bisa. Terima kasih telah mengajakku."
Kemudian—untuk pertama kalinya Nethere melihat—Nesia berani menunjukan kurva indah di bibirnya. Satu senyuman bahagia. Lebar, teramat sangat lebar malah sampai deretan gigi putihnya terlihat.
Benar-benar cantik.
Pria Eropa itu hanya bisa melihatnya dengan tatapan kosong selama beberapa detik—terpana. Dan karena urusannya sudah selesai, lantas ia mengisi lagi pikirannya dan balas tersenyum. "Kalau begitu mohon kedatangannya di hari Sabtu besok. Sekarang aku pergi dulu."
Nesia mengangguk patuh walau sebenarnya tak rela. Ia masih terus menyimpan senyum selagi Nethere berdiri dan berjalan menjauh. Sedangkan Nethere sendiri malah lega sendiri karena seluruh beban di pundaknya terasa diangkat. Setidaknya ia berhasil menyelesaikan tugas dari ibunya lebih cepat daripada apa yang ia duga. Niatnya langsung pergi. Ia ingin kembali ke ruangan kerjanya di ruko dan bersantai. Tapi karena mendadak ada sebuah kilasan di bayangannya yang mengungkit kembali wajah Nesia saat menangis—ketika tidak ia akui pena hitam itu adalah pemberiannya—Nethere menghentikan gerakan tungkai kakinya.
Dia ingat, di hadapannya, gadis itu pernah menunjukkan sebuah ekspresi yang bagai goresan belati jika ia mengingatnya. Ini soal masa lalu yang sempat ia sesali beberapa kali semasa hidupnya. Menghela nafas, Nethere mungkin sadar dengan jelas bahwa gadis itu memiliki perasaan dengannya. Dan dulu, ia menghancurkannya begitu saja.
"Ah, ada yang mau kuomongi lagi."
Nethere secara mendadak berbalik dan Nesia yang berdiri di kejauhan sana. Karena Nethere tak berniat kembali ke sana, Nesia berjalan pelan sambil menatap bingung pria itu. Lalu saat ia akan bertanya kenapa, Nethere meneruskan kalimatnya.
"Dua tahun lalu... saat kau menunjukkan pena itu padaku..." Ia melihat buku tulis Nesia yang terdapat pena gendut di dalamnya. Lalu ia menatap mata hitam gadis tersebut. "Aku berbohong. Maaf."
Nesia mengadah dengan tatapan tak percaya. Nethere menatapnya, tak lupa dengan sedikit rona merah di pipi karena malu mengucapkan pengakuan tadi. Tapi karena Nesia agak kurang paham apa maksudnya, Nethere menambahkan.
"Aku sebenarnya mengingatmu, mengingatmu yang kuberikan pena itu saat kita masih kecil. Tapi saat kau menghampiriku beberapa tahun lalu, aku malah sengaja berkata bahwa aku lupa..." Ia memejamkan matanya sesaat dan kembali menatap Nesia. "Aku menyesal."
Detik itu kedua mata Nesia terbelalak. Mulutnya menganga. "Dengan wajah super memerah dia segera meremas bukunya sendiri. "J-Ja-Jadi... kau ingat denganku?"
Nether memalingkan wajah, agak malu. "Ya, bisa dibilang begitu. Tapi aku tak tau namamu."
Nesia lantas menahan nafas. Kalau saja ia berani mungkin ia akan memajukan telapak tangan kanannya ke depan Nethere, untuk berjabat. Tapi karena ia hanyalah seorang gadis berusia delapan belas tahun yang bisa dibilang lumayan pemalu, jadilah ia hanya menundukkan kepalanya dan berucap pelan dengan nada senang yang ditahan. "A-Aku Nesia. Inesia Rahayu. Salam kenal..."
Nethere tersenyum. Wajah pria dewasa yang terlihat tegas itu membuat Nesia semakin memuji paras tampannya dalam hati.
"Aku Nethere Van Gaal. Salam kenal."
.
.
ba-ta-vi-a—pi-e-ree
.
.
Mulai hari Sabtu, atau awal bulan Juli, Nesia bersama keempat teman sebayanya—termasuk Sarah dan Ade—mengikuti pelatihan jahit di ruko tekstil milik keluarga Van Gaal. Karena beberapa minggu terakhir ini ruko jadi terasa ramai, Nethere yang mengurusi keuangan pun sesekali keluar dari tempat kerjanya dan mengintip ke belakang, ke ruangan yang dihuni para remaja yang sedang duduk di depan meja persegi panjang kecil. Masing-masing orang mendapatkan satu meja lengkap dengan mesin jahit dan berbagai macam gulungan benang.
Biasanya di sana mereka diajarkan oleh seorang mentor, atau kalau ada waktu luang, Beatrise akan turun tangan mengatur pekerja-pekerja barunya. Dan kali ini saat Nethere mampir untuk melihat dari sela pintu, Nesia dengan yang lain sudah duduk rapi. Tangan mereka mencatat apa yang diperlukan di buku tulis, sedangkan mata mereka fokus memperhatikan ibunya yang tengah membicarakan jenis-jenis kain di atas papan tulis kapur. Hingga setelah tiga menit berselang, Beatrise menyudahi penjelasan teori dan duduk di mejanya untuk menulis sesuatu. Nesia yang kemudian menguap pelan dan merenggangkan badan. Nethere perhatikan dalam-dalam.
Tak disangka-sangka pria pirang yang sedang bersandar di pintu itu tersenyum. Refleks, Nesia yang merasa diperhatikan menoleh. Mata hitam bertemu mata hijau cerah. Gadis itu sontak berpaling malu dan sudut bibir Nethere malah semakin lebar. Karena itulah tak jarang ada debaran kecil di ruko berukuran besar itu.
"Nethere? Sedang apa di sana?"
Sang ibu yang melihatnya menyuruhnya mendekat, dan dengan patuh Nethere menurutinya. "Apa?" Pasti ada suruhan lain. Dan benar saja, ia diminta untuk mengambilkan dokumen ibunya yang tertinggal di rumah. Sangat merepotkan, memang. Tapi itu sudah wajib hukumnya—ia tidak bisa menolak. Baru akan pergi, Beatrise yang sedang melihat wajah anak tunggalnya mendadak beralih ke sosok di belakang Nethere; ada dua pekerja yang mau keluar ruangan. "Tunggu. Kalian, sini sebentar..." Panggilnya. Nethere menoleh dan mendapati Nesia dan temannya, Ade, menampilkan wajah bertanya. "Sebelum pulang isi dulu nama dan alamat kalian di kertas ini. Yang lengkap, ya."
Ade mendekat duluan dan mengisi kertas yang diberikan Beatrise. Nethere yang sempat memperhatikannya lantas teringat kembali perintah ibunya. Ingin langsung pergi, tapi ia terlebih dulu menyaksikan suatu momen yang cukup membuatnya terpaku. Itu ketika Ade selesai menulis alamat, ia memberikan pena standar Beatrise ke Nesia, tapi gadis berponi miring itu menolak lembut. Ia keluarkan pena tinta besar dari saku roknya dan menulis alamat di kertas tersebut. Beatrise memperhatikan.
Nethere yang senang Nesia masih membawa pena tersebut hingga detik ini baru saja ingin berbicara kepadanya, tapi Beatrise terlebih dulu memotong dengan pertanyaannya yang diselubungi keheranan.
"Itu penamu?"
Nesia kaku sesaat. Banyak yang sudah mempertanyakan kenapa orang sepertinya bisa memiliki pena yang terlihat mahal seperti itu. Tapi aneh rasanya kalau yang menanyakannya adalah orang Belanda langsung. "Mm... i-iya."
"Dapat dari mana?"
Skakmat. Nesia tak bisa menjawab lagi. Ade pun melirik Nesia, agak khawatir.
Oke, jawabannya memang mudah. Pena ini dari Nethere. Tapi dari pandangan dan intonasi yang dikeluarkan oleh wanita berbibir merah gelap itu seperti ada yang aneh. Seolah menuduhnya kalau ia telah mencuri barang orang. Kalaupun mau jujur agak sulit juga. Nethere kan dulu sempat mengelak bahwa ialah yang memberikan pena tersebut kepadanya. Malu punya teman pribumi, mungkin?
Jadi... bagaimana ini?
Apa dia bilang saja kalau ia memungut benda tersebut dari jalan—
"Dari aku."
Nethere menyela dengan suara tanpa beban. Nesia yang terkejut kemudian menaikkan salah satu alisnya. Beatrise yang mengerut lantas tak berbicara. Oleh karenanya Nethere melanjutkan. Kali ini dengan senyuman yang hanya ia tujukan ke Nesia seorang.
"Kenapa? Aku senang Nesia masih merawat pena itu."
Beatrise mencoba mengangguk tak acuh dan Nethere pun pergi. Nesia yang baru selesai menulis alamat melirik punggung pria itu yang kini menjauh. Permukaan bibir bawahnya ia gigit dan dan tak diduga, wajahnya memanas hebat.
Baru kali ini dan tak penah ia bayangkan; Nethere membelanya.
Nesia pun tersenyum lebar hingga kedua mata Asia-nya menyipit.
.
.
see you
.
.
my note
Tambah dua tahun lagi untuk chapter ini. Neth 23 dan Nesia 18 :)
.
.
warm regards,
Pieree...
